Ketukan jemari di atas kap mobil terdengar tidak sabar. Manik biru laut kembali melirik pada gerbang mansion Hyuuga di depannya. Gerbang kayu besar itu, tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbuka dan menampilkan sosok yang sudah ia tunggu sejak tadi.

Naruto menghela napas pelan, ia melirik jam pada layar ponselnya. Sudah dua puluh menit ia berada di samping mobil, dan Hinata sama sekali tidak memberinya kabar. Sebenarnya bisa saja Naruto menyusul dan menunggunya di ruang tamu kediaman gadis itu. Namun niat itu ia urungkan, mengingat rasanya tidak pantas jika berkunjung dengan tangan kosong.

"Na-Naruto-kun..."

Suara kecil dengan napas tersengal terdengar, membuat atensi Naruto segera beralih. Pemuda pirang itu berniat menegur Hinata karena membuatnya menunggu lama. Namun kata-katanya terhenti di kerongkongannya ketika melihat penampilan tidak biasa teman masa kecilnya.

Sebuah flat shoes berwarna krem dengan celana jeans longgar berwarna biru muda, serta kaos berlengan panjang berwarna putih kusam, kotor dengan debu di beberapa tempat. Belum lagi rambut panjang Hinata terlihat kusut, bahkan ada beberapa daun dan ranting kecil, tersangkut di rambutnya.

Hinata menyisir rambut panjangnya dengan jemari. Seulas senyum malu ia berikan, "Terima kasih sudah menunggu."

Gelak tawa terdengar tak lama dari bibir Naruto. Pemuda pirang itu mencoba menahan rasa geli di perutnya ketika mendapati sosok Hinata yang biasanya anggun, begitu berantakan. Bahkan ketika Hinata sudah memandangnya penuh tanya, Naruto malah semakin tertawa saat melihat pipi putih gadis itu terdapat noda hitam.

"Astaga, sebenarnya apa yang kau lakukan?" rasa kesalnya kini surut tanpa sisa. Hanya meninggalkan rasa geli, hingga membuat Naruto terkekeh pelan. "Dua puluh menit aku menunggu, dan kau malah datang dengan penampilan seperti habis memanjat tebing."

Hinata dapat merasakan darahnya berdesir pelan hingga membuat wajahnya memanas. Setelah sekian lama, ia dapat melihat dan mendengar tawa renyah Naruto. Itu sebuah keberuntungan bagi Hinata. Terlebih ketika dengan santainya, Naruto mengusap pipinya untuk menghilangkan noda. Hinata harus menguatkan jantungnya dan memertahankan kesadarannya agar tidak pingsan ditempat.

"Baiklah, kita berangkat sekarang?" usai membantu membersihkan sedikit penampilan Hinata, ia membuka pintu mobil.

Gadis itu mengangguk sambil tersenyum cerah. Hinata segera menghampiri Naruto, dan mengucapkan terima kasih. Ketika ia berniat masuk ke dalam mobil, langkahnya terhenti oleh hembusan angin malam. Belaian angin seakan menarik wajah Hinata untuk mendongak, memaksanya untuk bersitatap dengan bulan purnama merah di langit malam.

Degh...,

Degh...,

Degh...,

Debaran jantung bertalu semakin cepat. Desiran aneh menjalar pada sekujur tubuh. kedua kaki Hinata terpaku di sana, dengan tubuh membeku serta tatapan tidak bisa lepas dari rembulan berwarna merah.

Kedua ametis perlahan berpendar lalu berubah warna menjadi perak dan bersinar. Sinar keperakan itu perlahan kembali menjadi warna violet.

Di lain tempat, seseorang laki-laki berkulit putih tengah menyeringai sembari menatap planet bumi. Sosok misterius itu mendengus pelan lalu berujar dengan nada rendah.

"Aku menemukanmu, wahai pengantinku."

...

Beberapa menit sebelum Naruto datang...

Suara pintu baru saja ditutup terdengar dari dalam kamar. Neji menghela napas pelan, usai memastikan Hinata tetap berada di kamarnya dan mengunci pintu kamar adiknya. Putra tunggal Hiashi segera menghubungi sang ayah. Setelah sekitar semenit mencoba menghubungi Kepala Keluarga, barulah sebuah sahutan terdengar.

"Aku sudah memastikan seluruh jendela di rumah tertutup rapat. Hinata juga berada di kamarnya saat ini," ujar Neji sembari menarik dasi agar tidak semakin mencekiknya.

Pria dengan kedua iris rembulan itu mendesah pelan, raut cemasnya begitu kentara. "Hinata, dia akan baik-baik saja selama tidak menatap gerhana bulan merah, benarkan?" suara Neji begitu pelan dengan nada menuntut kepastian.

"Ya. Selama dia tidak melihatnya. Mereka tidak akan menyadari keberadaan Hinata."

Jawaban Hiashi cukup untuk menghilangkan kecemasan Neji. Ia lalu mematikan sambungan, menaruh ponsel di atas nakas. Sementara dirinya duduk di lantai kayu, mencoba menghela napas, mengenyahkan rasa takut dan panik dalam dirinya.

"Mereka tidak akan menyadarinya, tidak akan."

...

Hinata belum pernah merasakan darahnya seakan mendidih seperti saat ini. Begitu panas dengan desiran pelan terasa hingga keseluruh tubuh. Kedua atensinya masih terpaku pada purnama merah di langit malam. Guguran bunga sakura telah mekar sepenuhnya, seakan mempercantik pemandangan malam itu.

Saat Naruto akan membuka pintu kemudi, ia baru menyadari Hinata malah terpaku sembari melihat langit. Kedua iris biru laut itu mengikuti, memandang langit malam dengan dewi bulan tengah berwarna merah. Bibirnya mengulas senyum simpul, agak terpesona pada keindahan bulan merah.

"Mungkin, ini tidak buruk juga." gumam Naruto pelan sebelum ia menghampiri Hinata dan menyadarkan gadis itu dari lamunan. "Hei, kita bisa lebih puas melihatnya begitu sampai di taman."

Guncangan pelan di bahu mungilnya, menyadarkan Hinata. Kedua matanya mengerjap lugu, dan mengangguk menanggapi perkataan Naruto. Putri Hyuuga segera masuk ke dalam mobil, memakai sabuk pengaman. Mobil melaju pelan, membelah jalanan malam dengan pohon sakura di kedua sisi.

Taman kota letaknya tidak begitu jauh dari Mansion Hyuuga, sudah terlihat ramai. Pohon bunga sakura bermekaran, lampion-lampion berjajar rapi, semakin mempercantik taman kota dengan kolam buatan di tengahnya. Naruto dan Hinata turun dari mobil setelah memarkirkan kereta besi beroda empat. Mereka berdua berjalan beriringan, menikmati suasana yang tercipta dari guguran bunga sakura serta cahaya lampu lampion.

Dikarenakan kursi taman hampir semuanya penuh, keduanya memutuskan untuk melihat kolam dengan jembatan kecil serta pohon besar sakura. Hinata tidak melepaskan barang sedetikpun atensinya dari punggung kokoh Naruto. Menikmati setiap waktu untuk menatap lekat sosok pemuda cinta pertamanya.

Ketika mereka berada di atas jembatan kayu, keduanya memandang kolam ikan dengan pemandangan cahaya lampion, pepohonan sakura dan gerhana bulan di langit malam. Hinata mengerjap, baru menyadari bahwa ia telah melanggar janjinya pada Neji. Wajah gadis itu memucat, perasaan bersalah muncul kepermukaan.

"Aku melihat gerhana bulan, bagaimana ini?" Hinata bergumam pelan.

Selama ini ia selalu melihat Neji sebagai seorang kakak baik hati, tenang dan dewasa. Belum pernah sekalipun, pemuda itu menegang hingga urat di pelipisnya terlihat. Hari ini adalah kali pertama Hinata melihat kakaknya seperti itu, pucat, cemas dan takut. Entah apa yang ditakutkan Neji sampai ia seakan siap mengurung sang adik agar tidak melihat purnama merah.

"Kau tahu," suara berat Naruto seketika mengaburkan lamunan Hinata. Gadis itu segera menoleh, melihat pemuda di sampingnya memandang lurus pada langit malam. "Kapan terakhir kali kita ke taman ini? dulu rasanya, hampir setiap hari kita menghabiskan waktu di sini."

"Mu-mungkin, sepuluh tahun yang lalu? saat itu, Naruto-kun sedang belajar keras untuk ujian akhir Sekolah Menengah Pertama. Umur kita berbeda lima tahun, jadi semakin kita tumbuh, kegiatan yang kita lalui semakin berbeda."

Dulu, ketika mereka masih sama-sama seorang anak kecil. Dunia mereka terasa begitu menyenangkan dan berwarna. Bermain bersama, tertawa bersama, maupun menangis bersama. Namun ketika mereka tumbuh dewasa, ketika Naruto menjadi seorang pelajar dan Hinata masih lah seorang anak kecil. Bagi Hinata kecil, ia seakan di hadapkan oleh sebuah dinding besar tak terlihat. Sebuah halangan untuk dirinya melangkah mengejar punggung Naruto.

"Kau benar," Naruto menyahut sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Ketika kita tumbuh dewasa, tanpa sadar kita jadi lebih memikirkan jalan kita masing-masing. Padahal, aku masih ingat betul. Bagaimana dulu kau selalu berlari dibelakangku, mengikuti seperti seekor anak ayam."

Naruto terkekeh pelan ketika ia melihat pipi putih Hinata memerah. Gadis itu mulai memainkan kedua telunjuknya, kebiasaannya ketika perasaan gugup melanda. "I-itu masa lalu! la-lagi pula aku juga mengingat, saat Naruto-kun kecil dulu, pernah mencoba berjalan di atas air. Meniru aksi ninja dan malah membuatmu sakit karena bermain air terlalu lama."

"Apa kau juga ingat, ketika dulu kau mengira menemukan kotak harta karun, tapi ternyata isinya malah majalah porno?"

"Argh! Tolong lupakan untuk yang satu itu!" Hinata menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tingkahnya berhasil menimbulkan gelak tawa Naruto yang melihat.

Hinata mendengus pelan, gemas melihat Naruto masih saja terbahak. Ia lalu mencubit pelan perut pemuda itu hingga tawanya berganti dengan ringisan. Gadis itu mengulas senyum manis dengan tangan masih mencubit perut.

"Masih mau tertawa?"

Naruto menggeleng dengan cengiran lebar, "Ampuni aku Hime-sama."

Hinata tertawa tanpa suara, kemudian mendengus geli melihat tatapan memelas dari Naruto. Gadis manis itu melepaskan cubitannya. Keduanya larut dalam keheningan malam. Hembusan angin sepoi serta taburan bintang di langit malam dan ramainya suasana Hanami. Hinata menyukainya, ia tidak menyesal walau harus melarikan diri dari kakaknya. Karena semua yang tengah ia lalui sekarang, adalah kepingan kenangan berharga baginya.

Nyut...

Hinata menyerengit, ketika tiba-tiba saja dadanya terasa sakit. Gadis manis itu bahkan juga merasa pusing dengan rasa haus tiba-tiba mendera. Ia lalu menarik pelan ujung kemeja Naruto, menarik perhatian pemuda itu.

"Aku haus, Naruto-kun, bisa kita membeli minum?"

Naruto mengedarkan pandangannya, mencoba mencari sebuah stand minuman. Kemudian ia mengangguk dan mengajak Hinata untuk pergi. Namun saat melangkah, kepala Hinata berkedut menyakitkan, membuatnya pening hingga tanpa sengaja kakinya terantuk batu. Tubuh gadis itu limbung dan hampir terjatuh, kalau saja Naruto tidak dengan sigap menangkapnya.

"Terima kasih, Naruto-kun." ujar Hinata lemah.

Mata biru laut memerhatikan seksama, "Wajahmu pucat sekali Hinata, lebih baik kita pulang."

Hinata hanya mampu mengangguk lemah. Kedua matanya terpejam dengan raut menahan perih. kepalanya semakin sakit dan tenggorokannya panas. Tanpa sadar ia mengerang pelan. Naruto melihat wajah putih Hinata semakin pucat, tanpa buang waktu segera mengendongnya. Ia segera berlari kecil agar tidak menjatuhkan Hinata dan menuju tempat parkir mobil.

Naruto mendudukkan Hinata di bangku mobil dengan hati-hati. Ia kemudian segera menutup pintu lalu berlari ke bangku kemudi. Manik biru lautnya menatap cemas teman masa kecilnya. Ia terlihat sangat sakit hingga wajahnya pucat.

"Mungkin sebaiknya kita ke rumah sakit," gumam Naruto sambil menghidupkan mesin mobil. "Aku akan menelpon Paman Hiashi begitu kita sampai di rumah sakit."

"Ti-tidak usah, Naruto-kun." suara pelan Hinata terdengar, gadis itu membuka kedua matanya dan tersenyum tipis. "Sepertinya aku hanya sedikit kelelahan. Aku yakin, setelah beristirahat keadaanku akan lebih baik. Jadi, bisa kau antarkan aku pulang?"

Naruto sudah membuka mulutnya, hendak protes dan mengatakan bahwa gadis itu pasti tidak baik-baik saja. Namun mendapati tatapan memohon dari kedua iris rembulan itu, membuatnya mengalah dan menurut.

"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang."

Hinata tersenyum kecil, merasa lega sekaligus senang karena Naruto mau mendengarnya. Ia tidak ingin sampai membuat Neji mencemaskannya jika sang kakak melihat kondisinya. Terlebih ini semua karena keegoisan dan ia telah melanggar janjinya. Hinata tidak yakin mampu melihat raut kecewa sang kakak.

.

.

.

Continue...

Vote Comment Follow

See you guys~