Setelah Hinata diantar pulang oleh Naruto. Gadis itu kembali memanjat kamarnya yang terletak di lantai dua. Menaiki pohon cukup rindang, dengan dahan sedikit menjuntai di dekat jendela kamar. Hinata berhasil memasuki kamarnya tanpa menimbulkan suara. Setelah berganti baju, Hinata segera berbaring dan tak butuh waktu lama baginya untuk terlelap.

Keesokan harinya, Hinata bangun seperti biasa. Gadis itu segera membersihkan diri dan turun menuju dapur untuk membuat bekal. Selama ia memasak, entah sudah keberapa kalinya Hinata menegak air putih. Rasa haus sejak semalam ia rasakan, dan meski sudah hampir lima gelas diminumnya, dahaga itu masih Hinata terasa.

"Selamat pagi, adik kecil!" Neji muncul dari balik pintu dengan pakaian formal."Apa yang kau masak pagi ini?" tanyanya setelah sempat mencium puncak kepala adiknya.

"Hanya sarapan simpel seperti biasanya, roti bakar dan telur mata sapi." Hinata memberikan sepiring pada Neji dan membalik roti yang tengah di bakar. "Apa hari ini, Kak Neji akan menyusul ayah ke Hokkaido?"

"Begitulah, beliau ingin mengenalkan mu dengan keluarga mitra bisnisnya." Neji meneguk segelas teh dan kembali menikmati sarapan. "Perjalanan ini pasti akan sangat membosankan."

Hinata baru saja duduk di depan Neji, terkekeh pelan. Ia paham betul maksud dari ayah mereka pada sang kakak. "Jangan begitu, mungkin saja putri mereka ternyata adalah gadis idaman mu. Umurmu sudah matang untuk membangun keluarga, tentu ayah dan ibu sudah mengharapkan diri mereka menimang cucu."

Neji tersedak mendengar penuturan adiknya. Wajahnya memerah membuat gelak tawa dari Hinata terdengar. Gadis itu menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan sikap workholic Neji. Pria itu terlalu mendedikasikan hidupnya demi pekerjaan, hingga tidak sempat maupun berniat melirik satu atau beberapa gadis untuk menjadi pendamping hidupnya.

"Cobalah mengambil jeda sejenak dari pekerjaanmu. Kalau kau memang malas mencari pasangan, setidaknya berilah perhatian lebih pada Tenten-san."

Gerak tangan pria itu yang tengah memotong roti terhenti. Keningnya berkerut dengan tatapan tidak mengerti. "Apa hubungannya mencari pasangan hidup dengan memberi perhatian lebih pada Tenten? Dan setahuku, dia sedang berada di puncak karirnya sebagai arsitek. Jelas dia tidak membutuhkan perhatianku."

Hinata tidak tahu harus merespon seperti apa. Haruskah dirinya mengumpat akan ketidak pekaan sang kakak? Karena dari sudut manapun, siapapun yang melihat perlakuan Tenten pada Neji akan menyadari, bahwa gadis itu mengistimewakan kakaknya. Hinata menghembuskan napasnya kasar, ia memilih beranjak dan bersiap-siap menuju kampus.

Namun sebelum ia meninggalkan Neji, ia kembali berucap. "Sebelum kau pergi, telpon Tenten-san. Ajak dia bicara, terserah apapun itu, bahkan meskipun kalian hanya membicarakan rumput yang bergoyang sekalipun."

Hinata lalu mendaratkan sebuah kecupan di pipi Neji dan pamit pergi sekolah. Gadis itu berlari kecil, meninggalkan Neji yang mencoba mencerna perkataan adiknya. Pemuda itu memiringkan kepalanya sedikit sambil kembali mengunyah makanannya.

"Apa menariknya rumput bergoyang?"

...

Hinata membuka gerbang rumah, dan ia berdiri di samping gerbang. Gadis itu tengah menunggu Kou yang sedang mengeluarkan mobil. Namun dirinya dikejutkan dengan sebuah mobil berwarna oranye. Mobil sport menepi di depannya lalu kaca hitam turun perlahan.

"Na-Naruto-kun?"

"Masuklah, kita berangkat bersama," ujar Naruto sembari membuka pintu depan.

Tanpa pikir panjang, Hinata segera naik dan menatap pemuda pirang itu tak mengerti. Tidak biasanya Naruto menjemput dan menawarkan diri untuk berangkat bersama. Semenjak acara keluarga yang memberitahukan soal pertunangan mereka setengah tahun yang lalu, Naruto lebih menjaga jarak, menghindarinya.

Hinata terdiam, ia bahkan diam-diam memainkan jemari telunjuknya dengan gelisah. Tidak tahu harus berkata apa, terlebih sikap Naruto agak berbeda. Ia bahkan sempat mengira jantungnya berhenti berdetak saat pemuda itu mendekat. Hinata menahan napasnya reflek, ketika pemuda itu menarik sabuk pengaman dan memasangkannya. Jarak mereka begitu dekat, hingga Hinata bisa mencium aroma shampo dari rambut pirang Naruto saat hendak menahan napasnya.

"Manja, sabuk saja harus dipasangin."

Cibiran itu membuat Hinata menoleh dan kedua iris violetnya membulat, ketika mendapati Naruto tersenyum kecil. Darahnya terasa berdesir pelan, membawa rasa panas. Hinata memilih mengalihkan atensinya pada jendela di samping kiri, ia tidak mau memerlihatkan pipi meronanya.

Selalu seperti ini, meski sudah bertahun-tahun ia memendam perasaan ini. Hinata tidak akan pernah bisa terbiasa, debaran jantung yang menggila tiap kali Naruto tersenyum padanya. Bukankah ini sungguh konyol? Mereka sudah bersama sejak kecil, dan Naruto adalah orang yang selalu ceria dengan sejuta senyuman di wajahnya. Seharusnya Hinata sudah terbiasa dan tidak akan terkena sindrom 'remaja sedang kasmaran!'

"Bagaimana keadaanmu?"

Suara lembut Naruto terdengar memecah keheningan. Pemuda pirang itu sesekali melirik ke samping sebelum kembali fokus menyetir. "Wajahmu masih sedikit pucat, apa kau bisa tidur semalam?"

"Ah, aku tidur pulas semalam. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."

"Tidak masalah. Kita ini teman sejak kecil, dan aku sudah pernah bilang bukan? Kau sudah ku anggap adik sendiri."

Luar biasa pagi ini, setelah hatinya dibuat melayang ke langit ke-tujuh. Naruto menghempaskannya tanpa ampun. Tidak, seharusnya Hinata menahan diri, menahan perasaannya agar tidak melambung tinggi dengan sikap manisnya, perhatiannya, karena semua itu semata-mata karena dirinya hanya dianggap adik.

Padahal Hinata hanya memiliki satu hati, mengapa begitu bodoh dirinya memertahankan perasaan ini. Setelah semua penolakan Naruto terhadapnya, mengapa hatinya masih mengemis cinta?

'Sadarlah, Hinata.'

Setibanya di area parkir kampus, Hinata segera turun dari mobil. Gadis itu tidak berniat berlama-lama dengan suasana hati kian memburuk. Setelah mengucapkan terima kasih atas tumpangannya, Hinata segera berlari kecil. Meninggalkan Naruto walau berulang kali memanggil namanya.

"Hinata!" panggilan Naruto kesekian kalinya terdengar bersamaan cekalan di lengan Hinata. "Jangan berlari seperti itu! kau masih pucat. Bagaimana kalau kau sampai pingsan?"

Tidak kunjung mendapat sahutan dari Hinata, kening Naruto mengerut samar. Putri Hyuuga bahkan tidak mau melihat wajahnya, sebenarnya ada apa? Mengapa tiba-tiba suasana hati teman masa kecilnya berubah begitu saja, membuatnya tidak mengerti.

"Lepaskan aku." Hinata berujar pelan, namun entah mengapa berhasil menohok Naruto yang mendengarnya. Terlebih dengan tangannya ditepis. "Aku tidak akan berlari lagi, jadi Naruto-kun tidak perlu cemas."

"Apa aku melakukan kesalahan?" Naruto kembali bertanya, kali ini dengan raut bersalah dan mencoba memikirkan tindakannya yang mungkin menyinggung gadis itu.

Hinata menggeleng pelan, wajahnya tetap tertunduk ketika ia menjawab. "Tidak, Naruto-kun tidak salah—?!"

Semilir aroma begitu harum tiba-tiba tertangkap penciuman Hinata. Membuatnya tanpa sadar mencari dari mana asal aroma manis itu. Kedua irisnya mengerjap, ketika mendapati sebuah luka melintang dengan sedikit darah terlihat di punggung tangan Naruto. Pemuda pirang itu mengikuti arah atensi Hinata, dan ia juga terkejut saat melihat tangannya terluka. Sepertinya luka akibat gesekan kuku ketika menepis tangannya.

"Oh, lukanya seperti terkena cakaran kucing, ha ha ha." Naruto tertawa kecil dan pemuda pirang itu menatap Hinata. Berharap candaannya berhasil membuat hati sang gadis sedikit melunak.

Namun nyatanya, Hinata tetap diam bahkan seakan tidak mendengar kata-katanya. Ia memerhatikan luka lekat-lekat, sebelum perlahan menyentuh tangan kanan yang terluka. Naruto tersentak pelan, ketika tangannya disentuh. Seperti ada percikan listrik dengan rasa dingin ketika ujung jari Hinata menyentuh punggung tangannya.

Pemuda pirang itu terdiam melihat raut Hinata. Teman masa kecilnya saat ini entah mengapa terlihat cantik. Tidak seperti biasanya, auranya berbeda, agak misterius, indah dan asing diwaktu bersamaan. Semakin mata biru itu menatap lekat-lekat, jantungnya kian berdebar keras. Seperti hantaman palu di jantungnya, sesak, sulit mengambil napas, sekaligus seakan terhipnotis untuk terus memandangi wajah cantik di depannya.

"Hng?!"

Naruto tersentak pelan, ketika tiba-tiba saja Hinata menjilat lukanya. Tidak hanya itu, Putri Hyuuga bahkan menghisapnya pelan, memainkan lidahnya di atas permukaan punggung tangan sang pria. Apa ini? jenis pendekatan baru? tindakan ini terlalu ekstrem dan tidak seperti Hinata, teman masa kecilnya.

"Hi-Hinata?" ia tidak bisa untuk tidak kebingungan. "A-apa yang kau lakukan?"

Hinata tidak menyahut, masih setia dengan tindakannya yang tengah mengecup dan sesekali menjilati luka Naruto. Ia memejamkan kedua matanya, seakan menikmati darah dan rasa dari kulit pemuda pirang itu. Saat putri tunggal Hiashi membuka mulut, menggigit tangan sang pria hingga membuatnya meringis. Barulah kesadarannya pulih, Hinata mundur selangkah, menutup mulut dengan tangan.

Ia mengerjap dan memandang tangan Naruto sebelum menatap manik biru di depannya. Wajah pemuda pirang itu sudah memerah, keringat dingin di pelipisnya. Menyadari apa yang telah Hinata lakukan, raut wajahnya berubah pucat dengan sedikit rona merah di pipi.

"Ma-maafkan aku, Naruto-kun!" tanpa menunggu respon pemuda pirang itu, Hinata segera pergi meninggalkannya.

Membiarkan pemuda itu termangu sendiri di sana. Naruto mengangkat tangan kanannya, memerhatikan luka di atas punggung tangan yang kini masih basah akan saliva Hinata. Raut wajah pemuda itu kembali merona, ia menggelengkan kepalanya. Mencoba mengenyahkan pikiran liar yang hinggap dikepalanya tiba-tiba.

.

.

.

Continue...

Review Comment Favorite Follow

See you guys~