Siang ini Hinata memilih untuk makan siang bersama teman kuliahnya. Ia baru saja kembali setelah membeli beberapa makanan. Gadis itu menaruh hampir satu bungkus plastik penuh berisikan roti, nasi kepal, dan segala macam jenis makanan berkabohidrat di atas meja.
Yamanaka Ino, gadis cantik berstatus super model, memandang tumpukan makanan dengan raut ngeri. Dirinya sudah membayangkan, harus berolahraga mati-matian demi membakar semua kalori itu. Iris berwarna biru toska memandang Hinata yang sudah sibuk mengunyah.
"Kau tidak membuat bekal hari ini?"
Hinata menggeleng cepat, tanpa melepaskan kunyahan pada roti yakisoba. Ia tidak berniat membuat bekal karena kelas berakhir sebelum jam makan siang. Namun terima kasih berkat rasa lapar, haus dan mood yang hancur membuatnya ingin makan banyak saat ini.
"Hinata, Hinata! lihat tunanganmu datang!" Ino menyikut lengan temannya sambil menunjuk seseorang dengan dagunya. "Hari ini pun dia terlihat tampan."
Kedua iris lavendel diam-diam melirik, mengikuti sosok Naruto tengah membawa nampan berisi semangkuk ramen. Gadis itu tersenyum miris, agak menyesal karena tidak membuatkan laki-laki itu makanan sehat seperti biasanya. Namun saat ia kembali teringat dengan kata-kata Naruto tadi pagi, rasa kesal kembali membuncah di dada.
Ino memerhatikan sejak tadi, kini tidak bisa membendung rasa penasarannya. Gadis dengan bentuk tubuh hampir mendekati sempurna itu mendekatkan diri. Ia memasang wajah serius dan menahan tangan Hinata agar berhenti makan sejenak.
"Sebenarnya kalian kenapa? sampai membuatmu melampiaskan amarah lewat makanan seperti ini."
Putri Hyuuga mendengus pelan, ia menaruh nasi kepal dan menyeka sudut bibir. Tatapan matanya sudah seperti akan menangis saat itu juga. Hinata memandang lekat-lekat punggung Naruto sebelum tatapannya mulai menerawang jauh, memikirkan hubungan mereka berdua.
"Kalau perjodohan ini dibatalkan, apa kami berdua akan bahagia? aku lelah dengan status kami."
Sebelum Hinata melanjutkan ceritanya, Ino sebagai teman menyebalkan tidak lupa untuk menjahilinya dengan berkata. "Status yang mana? Teman masa kecil? Kakak dan adik, atau mahasiwi dan dosen? Status kalian terlalu banyak jika harus aku jabarkan, Hinata."
"Ino-chan!" sahutan gemas dari Hinata membuat tawa sahabatnya berderai.
Setelah agak puas tertawa, juga tidak enak melihat raut Hinata semakin keruh, Ino berdehem pelan. Ia mulai serius dan siap memberikan satu dua solusi demi sahabatnya. "Bagaimana dengan mencoba membuat jarak diantara kalian berdua?"
Mendapati raut tak mengerti dari Hinata, Ino mencoba memperjelas. "Kau tahu, mungkin karena kalian selalu bersama. Membuat rasa cinta itu tersamarkan oleh perasaan sayang yang sudah ada sejak dulu. Mungkin saja Naruto-sensei sudah mencintaimu, namun ia tidak menyadari karena ia sudah terbiasa dengan kehadiranmu. Jadi, cobalah memberi jarak dan biarkan dia menyadari perasaannya."
"Kau sudah ku anggap adik sendiri, Hinata."
Perkataan Naruto tiba-tiba terngiang di kepalanya. Sudah lima belas tahun mereka bersama, status teman masa kecil melekat kuat di antara mereka berdua. Terlebih hubungan keluarga Hyuuga dan Namikaze sudah seperti saudara. Tidak aneh jika Naruto tidak bisa memandangnya sebagai seorang wanita. Selamanya di mata biru langit itu, mungkin Hinata hanya terlihat sebagai seorang adik.
"Aku akan mencobanya." ujar Hinata membuat keputusan.
Ino mengangguk setuju, ia menepuk pundak Hinata untuk memberinya kekuatan. Lalu ia kembali memberikan roti kepal untuk dimakan sahabatnya kembali.
...
Hinata mendesah pelan saat mendapati dirinya berdiri di halte bus hampir satu jam lebih. Langit sudah mulai gelap dan dirinya masih menunggu kedatangan Kou. Sepulang kuliah, Hinata memutuskan untuk pergi sebentar ke daerah distrik pembelanjaan. Berniat menghilangkan penat sekalian menghabiskan waktu sebelum pulang ke rumah.
Namun namanya juga perempuan, ketika sampai di tempat belanja. Manik ametisnya serasa lapar melihat banyaknya barang-barang lucu terpajang di stand pertokoan. Pada akhirnya, Hinata menghabiskan waktunya berkeliling dan berbelanja hingga tidak ingat waktu.
Hinata menaruh kantung belanjaannya di kursi panjang halte bus. Ia kembali mencoba menghubungi Kou, dan menanyakan keberadaan pria paruh baya itu. Namun tiba-tiba saja kepalanya berdenyut menyakitkan dan jantungnya berdebar keras.
Aroma manis kembali tercium indra penciumannya. Gadis itu menoleh dan mendapati seorang pemuda berjalan terhuyung ke arahnya. Pria dengan hoodie merah menjatuhkan diri serta punggungnya di sudut kursi halte. Deru napasnya tidak beraturan dan lelaki asing itu menunduk, setetes darah jatuh dari kepalanya ke tanah.
Degh!
Hinata mencengkram kuat dada bagian kiri, jantungnya berdetak lebih cepat dan darahnya seakan mendidih. Pikirannya berkabut, tidak bisa fokus, terlebih dengan aroma manis menggiurkan yang ia cium dari tubuh pria di sampingnya. Tubuhnya terhuyung, bersandar pada tiang halte, manik ametis tanpa sadar mengarah ke langit, bersitatap dengan rembulan.
Detik itu juga Hinata tidak lagi mengingat apa-apa.
...
Suara barang jatuh menarik atensi hijau toska, sorot matanya sudah mengabur akibat pemiliknya terluka di bagian kepala. Gaara mencoba mengatur napas, melirik pada sosok perempuan tidak jauh darinya. Gadis itu terlihat tidak baik, tapi keadaan dirinya lebih buruk. Sudut bibirnya tertarik, menertawakan situasi konyol saat ini.
Batinnya mengumpat pada pria asing yang telah memukulnya dari belakang. Untunglah ia berhasil melarikan diri, namun apa yang akan terjadi dengan dirinya sekarang. Ketika suara langkah terdengar, Gaara kembali melirik gadis di sampingnya. Pupilnya membesar ketika bersitatap dengan sepasang manik keperakan bersinar di bawah langit malam.
Gaara mengerjap beberapa kali, apakah dirinya berhalusinasi akibat kepalanya dipukul besi? seorang wanita cantik di malam hari dengan kedua mata bersinar perak. Apakah dia hantu? tidak, perempuan misterius itu bukanlah sosok gaib, karena saat pemuda berambut merah itu dapat merasakan rasa dingin dari tangan yang menyentuh keningnya.
Wanita itu mendekat, sangat dekat hingga sapuan napas panas bisa Gaara rasakan di kulit wajah. Bibir sewarna buah plum tersenyum menggoda, lalu menjulurkan lidah dan menjilat darah segar di pelipisnya.
Gaara tersentak, kaget setengah mati. "A-apa?! ka-kau!"
"Sst...," Hinata menaruh telunjuk di bibir Gaara, menyuruhnya diam.
Gaara menautkan kedua alisnya tidak mengerti. Terlebih ketika perempuan misterius kembali menjilat darah segar di kening, lalu turun ke bagian matanya, sampai ke leher. Sensasi panas dari bibir Hinata membuat bulu kuduk sang pemuda meremang.
Tidak tahu lagi dengan apa yang terjadi, Gaara memejamkan matanya, mengepalkan tangannya kuat. Sebelum ia merasakan sesuatu menusuk lehernya, disusul rasa nyeri dan pening seakan darah meninggalkan tubuhnya.
Ditengah kesadaran semakin menipis, Gaara melihat sosok laki-laki berambut hitam tengah menatap mereka, seakan mengawasi. Di salah satu tangan pria misterius itu, terdapat sebuah kayu dengan bercak merah. Mungkinkah, laki-laki itu adalah pria asing yang menyerangnya tadi?
Semakin lama pandangannya semakin kabur. Ini tidak bisa dibiarkan, jika terus seperti ini ia mungkin akan mati kehabisan darah. Gaara memaksa otot tangannya bergerak, mencoba melawan dan melepaskan diri dari taring di leher.
Suara deru mesin terdengar di kejauhan, sinar lampu dari bus terlihat membuat Hinata menyipitkan matanya. Gadis itu berdecak pelan, acara makan malamnya terganggu. Tanpa membuang waktu, ketika laju bus semakin dekat dengan halte. Hinata segera melepaskan mangsanya yang telah terbujur kaku.
Manik peraknya bersinar di kegelapan, mulutnya terbuka sedikit saat lidahnya menjilat sisa darah menempel di sudut bibir. Hinata meraih beberapa kantung belanjaannya, dan ketika bus berwarna putih itu akhirnya berhenti di depan halte sebelum melaju kembali, sosok Hinata sudah menghilang, meninggalkan Gaara di sudut kursi.
...
Bias mentari menerobos masuk ke dalam kamar di lantai dua. Menyinari seorang gadis yang masih tertidur pulas, memaksanya untuk bangun. Manik ametis perlahan terbuka, mengerjap pelan sebelum pemiliknya beranjak dari tidur. Ia menguap, mengusap kedua mata sebelum menyibak selimut.
Hinata beranjak dari kasur, namun terdiam ketika menyadari ia masih memakai sepatunya. Tidak mau ambil pusing, ia melepaskan kedua sepatunya asal, lalu bersiap memulai hari. Setelah selesai mandi, sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk, matanya menangkap beberapa tas belanjaan yang tersampir di sisi ranjang.
Keningnya mengerut samar, seperti mencoba mengingat sesuatu. Rasanya ada hal yang ia lewatkan. Namun sialnya, Hinata tidak dapat tahu apa itu.
.
"Kau terlihat segar hari ini."
Perkataan Neji di meja makan pagi itu membuat Hinata menyentuh wajahnya. Memandang heran pada kakak tertua, karena ia merasa baik-baik saja.
"Kau terlihat pucat beberapa hari ini, tapi napsu makanmu banyak." Neji menegak segelas jus jeruk sebelum tersenyum simpul. "Untunglah hari ini air mukamu lebih baik, tampak segar, dan porsi makanmu kembali seperti biasa."
Pipi Hinata seketika merona, senang dengan perhatian Neji. Ia sendiri bahkan tidak sadar bahwa wajahnya akhir-akhir ini pucat, selain memang napsu makannya lebih meningkat. Manik ametisnya berbinar cerah dengan bibir mengulum senyum.
"Aku merasa sangat baik hari ini, Kak. Belanja memang adalah obat paling mujarab." katanya dengan tawa renyah.
Neji ikut tersenyum dan mengacak pelan rambut adiknya. "Cepat habiskan makananmu, sebentar lagi Kou-san siap mengantarmu."
Hinata mengangguk patuh, lalu kembali menghabiskan sarapannya.
.
.
.
Continue...
Review, Favorite, Follow
See you guys~
