Bulan penuh sudah berada tepat di atas kepala. Malam semakin larut, sebagian penghuni bumi telah terlelap. Segelitir bayangan hitam terlihat disela-sela dahan pepohonan dan atap rumah. Melintas di keheningan malam tanpa suara, berbaur dengan kegelapan. Tujuan dari sosok misterius itu adalah sebuah gudang tua tidak terpakai di sudut area permukiman penduduk.

Dua sosok hitam memasuki gedung melalui jendela dan pintu yang terbuka. Berkumpul disatu titik di tengah ruangan bermandikan cahaya bulan. Penampilan mereka serupa, memakai jubah bertudung hitam polos, panjang hingga menutupi mata kaki.

Sosok paling tinggi di antara mereka membuka tudung, menampilkan wajah pucat bermata perak. Dia mengendus, mencium bau sekitar gedung, memastikan tidak ada bau asing mencurigakan.

Setelah yakin tidak ada orang di sekitar mereka, dia berujar, "Aku berhasil menemukan calon ratu."

Suara siulan menanggapi, dari nada suaranya dapat dipastikan dia perempuan. "Kerjamu cepat sekali, Kisame."dia ikut melepaskan tudung kepala, mata hitam jelaga berkilat sesaat. "Dengan begini kita bisa pulang lebih cepat. Jadi, di mana dia?"

Kisame menggeleng, memilih duduk di atas salah satu kotak kayu. "Aku baru memastikan identitas, dan dari sikapnya, sang putri belum sadar sepenuhnya."

"kabar baik jika dia belum sadar," Kin menyeringai tipis mendengarnya.

"Kita tidak perlu repot memakai tenaga untuk membawanya pulang. Kudengar, sang putri memiliki kekuatan besar, auranya mengerikan, membuat siapapun akan langsung berlutut di hadapannya."

Pria bertubuh kekar dengan gigi taring di sudut bibir mengangguk setuju. "Aku sudah hapal dengan aroma tubuhnya. Secepatnya kita akan membawanya ke hadapan Yang Mulia Putra Mahkota."

"Hm, agak disayangkan kita pulang cepat." Kin menjilat bibir bawahnya, mata hitam berubah perak perlahan. "Aku belum puas menikmati darah manusia bumi."

"Jangan terlalu mencolok," Kisame mengingatkan.

Kin tertawa remeh, "Ya, ya, aku tahu."

...

Universitas UKAT cukup ramai pagi ini, para pelajar sibuk dengan layar ponsel mereka. Berkumpul membentuk kelompok untuk menonton berita pagi ini. Sebuah kasus pembunuhan menjadi topik hangat, mengenai ditemukannya sesosok mayat laki-laki di halte bus pukul lima pagi.

Hinata baru tiba di kampus beberapa menit yang lalu. Dirinya dibuat bingung dengan kegaduhan anak-anak. Saat sampai di kelas, dia menyapa Ino sebelum duduk di samping super model, Putri Hyuuga menyikut lengan sahabatnya.

"Apa yang kulewatkan?" bisiknya.

Ino melepaskan salah satu headset, memberikannya pada Hinata, lalu mengetuk layar ponsel. Mata biru toska terlihat gemas, tidak percaya. "Pagi ini di halte dekat rumahmu, ada mayat laki-laki ditemukan di sana."

Mata ametis sempat membulat kaget, dia ikut menonton berita lewat ponsel Ino. "Semalam aku baru dari sana, menunggu Kou-san menjemputku pulang dari belanja." Hinata tidak percaya dia ada di lokasi sebelum kejadian pembunuhan terjadi.

"Benarkah?" Ino tidak kalah terkejut, ia lalu memeluk sahabatnya. "Untunglah kau baik-baik saja, Hinata! aku belum siap ditinggal sahabat sehidup semati!"

Hinata tertawa mendengarnya, ia menepuk punggung Ino, menenangkan sahabat sejak sekolah dasar. Gadis berambut pirang muda melepaskan pelukannya. Bibirnya maju beberapa senti, antara sedih dan juga tidak terima.

"Untunglah pelaku ternyata tidak menargetkan orang-orang good looking," Sebelah alis Hinata terangkat mendengarnya. "Pria yang tewas itu berwajah tampan, aku sempat mengira pelaku memiliki dendam dengan orang-orang tampan dan cantik."

"Tapi karena kau ada di tempat kejadian baik-baik saja," Ino mengepalkan tangan dan memukul meja. "Itu artinya ia membunuh secara acak dan kebetulan pria tampan ada di sana. Aku tidak terima, mengapa harus pria tampan yang menjadi korban?!"

Ino mulai menggigit saputangan, menahan teriakan kesal. "Tidak tahu dia kalau wanita cantik yang melajang itu banyak!"

Sebutir keringat sebesar biji jagung turun di pelipis Hinata. Dia tertawa tanpa suara, mengerjap bingung, tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Alhasil manik ametis serupa batu kecubung menatap layar ponsel, mendengarkan kembali berita pembunuhan pagi ini.

Ada sesuatu yang terasa mengganjal di hati Hinata ketika mendengar pembunuhan itu. Penyebab kematian adalah kehabisan darah, terdapat dua luka tusuk di leher korban. Penampilan pemuda malang terlihat mengerikan, kulitnya mengering, seperti seluruh cairan dihisap tanpa sisa.

Pria berhoodie merah, Hinata merasa tidak asing dengan penampilan korban. Seakan dia pernah bertemu dengannya, namun ingatannya samar, tidak mampu mengingat jelas, malah rasa sakit seperti dipukul palu yang dia rasakan.

Hinata mengerang pelan, memijat kening ketika rasa sakit ia rasakan. Ino memegang pundak, dengan sigap menanyakan keadaannya. Putri Hyuuga menggeleng dan memberi senyum tipis, mengatakan dirinya baik-baik saja.

Mungkin sesampainya di rumah, Hinata akan mencari Kou, mencoba memastikan apakah kemarin dia pulang sendiri, ataukah dijemput oleh Ajudan sang Ayah.

...

Jam makan siang sudah berdentang beberapa menit yang lalu. Area spot kampus yang nyaman untuk makan bersama maupun sekadar bekumpul sudah penuh. Hinata dan Ino pergi menuju kantin universitas, mereka tengah mengantri untuk memesan makanan.

Setibanya giliran mereka berdua, mata ametis Hinata memerhatikan baik-baik, mencoba mencari menu yang terlihat menggugah selera. Namun samar-samar hidungnya mencium aroma menyengat. Reflek putri Hyuuga menutup hidung dan mendapat tatapan tajam dari bibi penjual.

Adik dari Neji Hyuuga meringis pelan, tertawa kecil, menahan malu. Ia segera memilih sandwich dengan segelas teh manis dingin. Setelah mendapatkan makanannya, Hinata menyusul Ino yang lebih dulu pergi mencari tempat duduk.

"Kita ada kelas sampai sore, kau tidak lapar hanya makan itu?" tanya Ino begitu melihat Hinata hanya membawa dua buah sandwich. "Apa kau sakit?"

Hinata menggeleng, tapi juga terlihat ragu. "Kau tidak mencium bau menyengat tadi?"

"Bau menyengat?" Ino mengulang tidak paham. "Kayaknya tidak ada menu makanan pedas, maupun masakan dengan bumbu rempah-rempah."

Ino mengedik bahu, ia mengaduk makan siangnya. Aroma makanan seketika menguar bersama uap panas. Saat Hinata mencium wangi makanan sahabatnya, detik itu juga sang putri Hyuuga menutup hidung dan mulut. Perutnya bergejolak, rasa mual naik hingga ke ujung lidah.

"Astaga, bau!" celetuk Hinata tiba-tiba.

Sepasang mata biru toska mengerjap dengan raut dungu. "Apa maksudmu bau? ini enak tahu, katsudon dengan irisan bawang putih, bikin sehat!"

Hinata masih menutup mulut, menggunakan tangan satunya untuk menolak keras. "Aku tidak kuat dengan baunya, Ino-chan! singkirkan makananmu!"

"Lalu aku makan apa, kalau ini dibuang?!"

"Apapun selain itu!"

"Tidak mau!"

Hinata mulai meneteskan air mata, merengek seperti anak bayi. "Ino-chan..., mau mati rasanya. BAU SEKALI!"

.

Sebelum pergi menyusul Ino yang sudah kembali ke kelas. Hinata pergi ke kamar kecil. Setelah selesai makan siang, ia merasa ada sesuatu mengganjal di gigi. Seperti benda tajam, menusuk pelan gusi dan bibir bawahnya, sangat tidak nyaman.

Mengambil sebuah kaca kecil berbentuk bulat, bibir mungil mulai membuka mulut lebar-lebar. Jika ada yang melihat tingkah primadona sekolah saat ini, Hinata sudah pasti ingin menceburkan diri atau masuk ke dalam tanah.

Sedikit ragu dia mengarahkan ibu jari ke dalam mulut, mencoba menekan gigi bagian atas. Ketika Hinata menyentuh gigi taring, dirinya terkejut, mengaduh sambil menarik jarinya keluar. Manik ametis mengerjap melihat setetes darah, dia tertusuk oleh gigi taringnya sendiri.

Kedua alis menyatu, mengerutkan kening, apakah gigi taring memang setajam ini sampai mampu menusuk dalam ibu jarinya?

Hinata menutup kaca kecil, beralih pada kaca besar di depan mata. Sekali lagi dia membuka mulut, memerhatikan setiap gigi putih bersih dan rapi. Ketika atensinya tertuju pada gigi taring, dan menarik otot sudut bibir, matanya membulat sempurna.

"A-apa itu?!"

Putri Hyuuga menutup mulut dengan kedua tangan, raut wajah perlahan memucat. Dia baru saja melihat gigi taring menyembul keluar. Cukup panjang hingga terlihat aneh juga menakutkan.

"Apa dulu gigi taringku seperti itu?" gumamnya pelan.

Hinata menggeleng kuat, sudah sejak kemarin ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya. Rasa haus serta napsu makan yang meningkat karena terus merasa lapar. Debaran jantung diiringi sakit kepala, dan sekarang dia memiliki taring.

"Mungkin sebaiknya aku mampir ke klinik Tsunade-san." Hinata merogoh ponsel, mengetik nomor yang sudah hapal di luar kepala.

"Halo, Tsunade-san, ini aku Hinata." Ujarnya begitu telpon terhubung. "Bisakah sore ini Tsunade-san mengecek kondisiku?"

"Kau sakit, Hinata?" suara Tsunade terdengar cemas.

Hinata menggeleng pelan, "Aku merasa baik-baik saja, hanya ingin mengecek sesuatu."

"Baiklah, kau bisa datang sore ini. Akan aku kosongkan jadwalku untukmu."

"Terima kasih, Tsunade-san."

Setelah membuat janji, Hinata mematikan sambungan. Ia menggenggam erat ponsel pintar, memandangi wajahnya di cermin. Setelah ia perhatikan baik-baik, ada sedikit perubahaan pada penampilannya.

Jemari seputih susu menyentuh pelan rambut panjangnya, lalu beralih pada kedua pipi. Sejak kapan rambut biru gelapnya lebih panjang dari sebelumnya? pipi gembil dengan semburat merah kini tidak ada, berganti dengan pipi tirus dan wajah kecil.

Apakah ini perubahan karena ia sudah beranjak dewasa?

.

.

.

Continue...

Rivew Follow and Favorite

See you guys~