"Terima kasih sudah menunggu, Hinata." seorang wanita paruh baya dengan wajah seperti pertengahan dua puluh tahun, keluar dari ruang kerja menuju ruang tunggu.
Hinata berdiri dari tempat duduk untuk menyambut saudara jauh keluarga Namikaze. Senju Tsunade adalah kakak sepupu Uzumaki Kushina, bibi dari Naruto, tunangannya.
Gadis cantik berambut hitam malam tersenyum manis, "maaf sudah membuat Tsunade-san terpaksa mengosongkan jadwal hari ini. Terima kasih sudah mau mendengarkan permintaan egoisku."
Sepulang kuliah Hinata langsung pergi menuju klinik pribadi yang didirikan Tsunade di daerah perbatasan kota Tokyo. Sampai di sana Hinata langsung melakukan cek fisik, tekanan darah, dan beberapa medical check up lainnya.
Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit sampai satu jam, Tsunade akhirnya datang dengan membawa hasil pengecekan. Mereka berdua duduk di ruang tunggu, saling berhadapan ditemani dua cangkir teh hangat.
"Apapun untuk keponakanku," Tsunade terkekeh pelan. "Selama pemeriksaan, aku tidak menemukan ada yang aneh, semua normal," lanjutnya sembari membaca kembali hasil tes.
"Napsu makan yang meningkat, sakit kepala, sampai rasa mual saat mencium suatu makanan." Dokter spesialis itu mengulang kembali keluhan Hinata. "Aku rasa ini lebih mirip gejala datang bulan. Jadi seharusnya tidak ada yang perlu kau khawatirkan."
"Lalu bagaimana dengan gigi taringku yang lebih runcing dari seharusnya?"
Sejenak Tsunade terdiam, dia juga baru kali ini menemukan kondisi dimana gigi taring lebih panjang dari ukuran seharusnya. "Bagaimana kalau aku buatkan rujukan ke spesialis dokter gigi untukmu?"
"Pernah ada kasus tentang gigi taring yang lebih panjang dari ukuran normalnya. Tetapi hanya itu, tidak ada hal aneh yang perlu kau takutkan." Sambung Tsunade mencoba menenangkan Hinata.
"Sebenarnya aku lebih terkejut dengan perubahan penampilanmu, Hinata. Kau membuatku pangling."
"Eh?" manik ametis mengerjap beberapa kali.
Tsunade mengulas senyum hangat, manik coklatnya melembut. "Kau telah tumbuh menjadi wanita cantik, Hinata."
Hinata tersipu malu mendapatkan pujian tiba-tiba, "te-terima kasih, Tsunade-san."
Wanita klan senju tertawa, duduk dengan kaki bersilang. "Naruto beruntung memilikmu sebagai tunangannya, dan akupun senang punya keponakan sepertimu yang bisa aku banggakan."
Pujian satu demi satu yang diberikan Tsunade membuat kedua pipi putih sang gadis merona. Seperti bunga mawar mekar, sehingga kecantikan Hinata berhasil memukau mata coklat pewaris klan senju.
Setelah mengobrol beberapa lama, dan meyakini bahwa Hinata dalam kondisi baik. Tsunade mengantar sang gadis sampai ke pintu klinik. "Sebaiknya kau menunggu Naruto menjemputmu."
"Tidak perlu, aku sudah meminta Kou-san untuk menjemput di halte dekat sini."
Wanita dengan rambut dikuncir dua rendah itu, menghela napas. Sedikit menyayangkan sikap pasif Hinata. Seandainya gadis manis di depannya mau bersikap sedikit agresif, atau menunjukan sifat manjanya secara terang-terangan. Dia ingin sekali melihat keharmonisan dari dua ponakan kesayangannya.
"Baiklah, hati-hati dijalan, sayang, kabari begitu kau sampai di rumah."
"Um, tentu, Tsunade-san."
.
Jalanan sudah mulai sepi, bulan beranjak naik, dan udara dingin sedikit menusuk dari biasanya. Hinata berjalan santai, memainkan ponsel, sibuk berkirim pesan dengan Ino. Ketika gendang telinganya menangkap suara di belakang, mata ametis itu mengerjap waspada.
Dia melangkah, memasang telinga baik-baik, tidak ada langkah yang mengikuti. Namun perasaan aneh seperti diawasi membuat bulu kuduk meremang. Ingatannya kembali pada berita tadi pagi, mengenai pembunuhan di dekat rumahnya.
Perasaan takut naik kepermukaan, Hinata mempercepat langkah. Sialnya, seakan mengetahui bahwa sang korban berniat kabur. Sosok yang mengikuti akhirnya menunjukan batang hidungnya. Dua sosok berjubah hitam melompat, menghadang sang putri Hyuuga tiba-tiba.
"Mengapa terburu-buru, Putri?" tanya salah satu dari mereka. Suara perempuan dengan nada riang itu tidak menurunkan ketakutan Hinata sedikitpun. "Mau kami antar pulang?"
"Ti-tidak perlu," jawab Hinata berusaha tenang.
Dia kembali melangkah, bergeser ke kanan, mencoba menghindar dari dua sosok misterius. Hatinya sudah kalut, sementara ibu jari sudah menekan tombol panggilan dengan nama kontak sang ajudan. Mata ametis itu bergerak cepat, mencari tempat ramai untuk berlindung.
"Baiklah, kami akan jujur!" suara perempuan tadi berujar keras. "kami datang untuk menjemput Anda pulang, Yang Mulia."
Hinata menoleh, melihat dua sosok berjubah masih berdiam diri memerhatikannya dari jauh. Saat dia memutar kembali kepalanya, tiba-tiba saja mereka sudah berdiri di depannya. Putri Hyuuga jatuh terduduk, terkejut, dan menatap ngeri.
Kin membuka tudung kepala, memberi senyum paling ramah menurutnya. Mencoba membawa sang putri tanpa melukainya. Dia berjongkok, mereka saling bersitatap, menyapa dengan tawa.
"Jangan ketakutan seperti itu, kami tidak akan melukaimu selama Anda ikut dengan tenang."
"Kalian siapa?"
Kin Tsuchi menoleh pada rekannya, kedua mata berbeda warna saling bersitatap. Mereka berdua kemudian menaruh tangan di dada, membungkuk hormat pada Hinata.
"Salam Yang Mulia Putri Mahkota, kami datang atas perintah Yang Mulia Pangeran Mahkota Toneri-sama." ujar keduanya bersamaan.
Kisame melanjutkan dengan suara serak, " Tuan kami memerintahkan untuk menjemput Anda, pulang ke bulan. Pesta pernikahan sedang dipersiapkan, Putri."
"Pulang ke bulan? pesta pernikahan?" Kening Hinata mengerut samar, sama sekali tidak mengerti dengan perkataan mereka. Sepertinya orang-orang ini memiliki penyakit kejiwaan.
Hinata mengepalkan kedua tangan, dia tidak mau berurusan dengan orang gila. Dia segera berdiri, menarik perhatian Kisame dan Kin, mengira sang putri sudah paham situasi dan akan ikut pulang.
"Kalian bisa pulang sendiri, aku tidak mau ikut!" Hinata berseru tegas, ia lalu membalik badan, berusaha berlari cepat meninggalkan dua orang klan bulan.
"Ara~ sang putri melarikan diri lagi." Suara Kin jelas tidak sesuai dengan raut kecewanya.
Kisame menghela napas pelan, "Sudah kubilang, cara baik-baik tidak akan ampuh. Lebih baik kita buat dia pingsan, agar mudah membawanya."
"Baiklah, kita kejar sang putri lalu membuatnya pingsan!" Kin berseru girang, seakan siap memulai permainan kejar-kejaran.
...
Getaran pada ponsel hitam di atas meja menarik perhatian. Tangan besar berurat itu mengambil dan mengangkat telpon tanpa melihat layar Id. Suara serak dengan napas tersengal terdengar menyapa gendang telinga. Naruto mengerutkan kening, menjauhkan ponsel untuk melihat siapa yang menelpon. Nama Hinata berkedip di layar, membuat sang pemuda mendekatkan kembali ponsel pintarnya ke telinga.
"Ada apa, Hinata?" tanyanya tanpa melepas konsentrasi dari pekerjaan yang tengah ia kerjakan. "Aku sedang sibuk, kalau tidak penting aku matikan, ya."
"Tu-tunggu dulu, Naruto-kun!" Setelah menelan ludah kering, akibat lelah berlari, Hinata berujar setengah memohon. "Bi-bisakah kau menjemputku di daerah dekat klinik Tsunade-san?"
"Aku sibuk, Hinata," nadanya datar, Naruto kembali berujar tanpa melepaskan atensi pada kertas-kertas di meja. "Kau bisa menelpon Kou-san untuk menjemputmu, atau minta Bibi Tsunade mengantarmu, aku yakin dia tidak keberatan."
"Tapi aku sudah cukup jauh dari kliniknya, dan aku tidak mau mengganggu Tsunade-san."
Naruto menaruh pena di atas meja, menghela napas pelan. "Aku harus menyiapkan materi ujian, aku tidak bisa menjemputmu. Kau seharusnya tidak egois seperti ini, Hinata."
"..."
"Telpon, Kou-san, atau Bibi Tsunade, mengerti?"
"Aku mengerti, Naruto-kun."
...
Setelah menutup sambungan telepon, Hinata menarik napas panjang. Namun tubuhnya kembali tersentak ketika sebuah suara mengejutkannya. Dua orang pria berdiri tidak jauh darinya, menatapnya bingung.
"Anda baik-baik saja, Nona?" tanya salah satu dari mereka.
Hinata mencoba bersuara, berdehem pelan. "Ya-ya, aku baik-baik saja." sambil menunduk, ia mencoba melewati dua pria asing yang menutupi jalan keluar dari gang kecil.
"Anda benar baik-baik saja? wajahmu pucat." Salah satu pria berambut pendek memegang pundak Hinata.
Putri Hyuuga menepis pelan tangan di pundak, bersikap tegas sambil menatap kedua pria itu. "Aku baik-baik saja, terima kasih sudah mencemaskanku. Permisi-"
"Tidak, bukan seperti itu sikapmu seharusnya, Nona." Pria lain mendorong bahu Hinata hingga punggung membentur dinding. "Katakan kau tidak enak badan, minta tolong pada kami untuk mengantarmu. Dengan senang hati kita akan mengantarmu pulang, Nona."
Sial, belum cukup baru saja dia dikejar dua orang gila. Sekarang Hinata harus berurusan dengan dua lelaki hidung belang. Jelek sekali nasibnya hari ini. Adik dari Neji Hyuuga menatap keduanya, lalu hitungan ke-tiga, dia memukul selangkangan sang pria yang mendorongnya ke tembok. Berhasil merubuhkan satu pria, dia lalu berlari, berniat kabur.
"Brengsek! jangan main-main kau!"
"KYA!"
Tubuh mungil sang gadis di banting ke tanah, cukup kuat dan bahunya sempat terkena ujung tong sampah. Hinata meringis pelan, rasa nyeri perlahan menjalar mulai dari pundak, membuatnya mati rasa.
Pria yang ditendang, berhasil mengatasi rasa sakit, namun tidak dengan amarahnya. Ia lalu duduk di atas tubuh Hinata, menampar pipi putih itu kuat, hingga berdarah. Terus berulang kali memukul wajah cantik sang putri tunggal.
Sampai aroma manis darah menguar, menerobos masuk ke dalam indra penciuman. Jantung Hinata berdebar kuat, rasa sakit kembali menyerang kepalanya, membuat pikirannya berkabut.
Setelah tidak adanya perlawanan dari Hinata, pria yang masih duduk di atas tubuhnya itu mulai membuka celana. Mereka berdua berniat jahat, hendak menyetubuhi wanita cantik tidak berdaya. Sampai ketika sepasang manik perak bersinar di bawah langit malam, tersenyum lebar, memerlihatkan sepasang taring panjang.
.
.
.
Continue...
Riveiw Favorite Follow
Spam next di sini yah 👉
See you guys~
