"Arghhh!!"

Jeritan pria terdengar dari gang kecil, membuat sepasang mata coklat bergetar ketakutan. Pria berbadan kecil mundur selangkah, hampir jatuh, sebelum ia berbalik dan lari terbirit-birit. Meninggalkan temannya yang sudah terkulai lemas di tanah.

Manik perak bersinar di kegelapan, decapan terdengar, bersama darah meninggalkan tubuh sang korban. Ketika kesadaran mulai kembali, matanya mengerjap. Hinata tersentak, mendorong jatuh tubuh pria dalam pelukannya.

Sinar mata sang gadis tersirat kebingungan dan ketakutan. Jemari menyentuh cairan lengket di sudut bibir. Darah segar membuat pupil melebar, bersama aroma anyir bercampur manis tercium jelas. Jantung Hinata berdebar keras, kepalanya sakit, membuat ia menekan kuat kening yang berkedut menyakitkan.

"He-hei! kau bisa mendengarku?" tanyanya ragu pada sosok pria, pelaku penyerangan yang malah kini terbujur lemas di depannya.

Hinata mendekat, memeriksa denyut nadi. Untunglah pria itu masih hidup, walau denyutnya mulai melemah. Namun ketika manik perak melihat dua tusukan di leher, wajahnya berubah pucat. Bekas luka sama persis seperti yang ditemukan ditubuh korban pembunuhan hari ini.

"Tidak!" suaranya bergetar, ia memandang kedua tangannya. "A-apa a-aku yang melakukannya?!" Hinata menggeleng kepalanya kuat-kuat.

"TIDAK!"

"Tidak ada yang perlu Anda takutkan, Tuan Putri."

Suara perempuan terdengar dari atas, menarik perhatian Hinata. Kin Tsuchi dan Kisame Hoshigaki melompat turun dari atap ruko berlantai dua. Wanita berambut hitam menendang pelan tubuh lemas pria yang telah menjadi korban sang putri. Ia tersenyum puas, seakan bangga dengan hasil kerja calon istri tuannya.

"Anda menghisap darahnya dengan bersih. Sudah selayaknya seorang bangsawan tidak meninggalkan jejak." Kin menepuk tangan beberapa kali.

Kisame maju selangkah, sudah tidak sabar untuk segera menyelesaikan misi dari sang tuan. "Sudah cukup main-mainnya. Tuan Putri, maaf atas ketidaksopanan kami."

"Eh?"

Pria bertubuh kekar melesat cepat ke belakang Hinata, siap memukul titik buta sang putri agar membuatnya pingsan. Namun insting putri Hyuuga bekerja lebih cepat beberapa detik. Menggunakan salah satu tangan, dia menepis Kisame, membuat dua pengawal itu terkejut.

Kin bersiul nyaring, suka melihat keberanian yang ditunjukan sang putri. Berbeda jauh dari Kisame yang berdecak pelan, merasa pekerjaannya jadi terhambat. Mata peraknya bersinar di kegelapan, menampilkan wajah geram.

"Anda harus ikut dengan kami, Putri."

"Menjauh dariku!" Hinata berteriak, darahnya berdesir cepat dan terasa mendidih. Seakan ada sebuah kekuatan entah dari mana muncul dalam dirinya. "Aku tidak ingat memberi izin kalian untuk menyentuhku." suara dingin penuh intimidasi membuat kedua sosok berjubah bergeming.

Kin Tsuchi malah terkekeh pelan, mata hitam berubah perak dan berkilat tajam. "Dia benar-benar calon ratu,"

Tidak ingin banyak bicara lagi, kali ini Kin dan Kisame serius menghadapi Hinata. Mereka berdua bersiap menyerang, sampai suara tembakan terdengar. Selang beberapa detik, pria bertubuh tinggi itu jatuh berlutut, memegang dada bagian kiri.

"Jangan menyentuh adikku!" suara tegas dari pewaris klan Hyuuga terdengar.

Manik perak mengerjap, mulai berkilat dengan setetes air mata di ujung pelupuk mata. Hinata hampir menangis melihat sosok Hyuuga Neji dengan pistol ditangan.

Suara Hinata bergetar, ketika memanggilnya. "Kak Neji!"

"Aku di sini, Hinata!"

Senyum lembut dan nada menenangkan Neji membuat Hinata menangis. Akhirnya dia selamat, hatinya berteriak lega, hampir pingsan ketika Kou menghampirinya sambil meminta maaf.

"Maafkan aku, Nona. Sudah dua kali aku teledor! aku pantas dihukum, Nona." Pria paruh baya dengan mata ametis berdiri di samping Neji. Merasa bersalah melihat kondisi putri majikan yang diasuhnya teramat besar.

"Kou, cepat bawa pergi Hinata." perintah Neji tanpa melepaskan pandangan dari dua target bidikannya. "Sisanya jangan biarkan para kelelawar pergi dalam keadaan hidup."

"Baik, Tuan Muda!"

Situasi bagi dua manusia bulan jelas tersudut, Kisame terluka di bagian dada kiri. Jika dia manusia pasti sudah tewas ditempat akibat jantungnya bocor. Kin segera menyodorkan tangannya pada rekannya yang terluka.

"Cepat minum darahku!"

Kisame membuka mulut, menampilkan dua taring panjang, siap menusuk lengan Kin. Tetapi Neji tidak membiarkannya, dia kembali menembak peluru perak —senjata mematikan bagi para vampir— dan berhasil menggores pipi Kin.

Pertarungan antara manusia dan bangsa vampir pecah, suara tembakan disusul desisan seperti hewan buas terdengar. Di gang sempit dengan cahaya remang-remang, perkelahian itu terjadi hampir satu jam. Puluhan peluru berserakan di tanah becek, bercampur dengan darah.

...

Dua buah mobil sedan hitam berhenti di depan hotel bintang lima. Pintu terbuka, Hinata keluar dengan jas hitam menutupi penampilannya yang berantakan. Disamping sudah ada Neji, pria muda itu mendampingi adiknya memasuki gedung mewah. Mereka berdua pergi ke lantari lima menggunakan lift, lalu memasuki kamar nomor 521.

Di ruang tamu kamar hotel, duduk Kepala Keluarga Hyuuga, manik ametis yang sudah mengabu termakan usia perlahan menoleh. Dia menatap dua anaknya dengan perasaan campur aduk yang berusaha ditutup.

"Kemarilah, Hinata." suara tegas dan dingin tidak lagi terdengar, berganti nada hangat saat Hiashi memanggil putrinya. "Kau pasti sangat terkejut."

Putri tunggal Hyuuga terisak pelan, menghampiri sang ayah, memeluk tubuh yang dulu gagah. Hinata membenamkan wajahnya pada dada bidang pahlawan pertamanya. Sisi anak-anaknya perlahan keluar, sambil sedikit sesegukan ia mulai mencurahkan apa yang telah terjadi pada dirinya.

"Begitu, ya. Kau sudah mengalami banyak kejadian ternyata." tangan keriput menepuk pelan punggung anak. Setelah merasa Hinata lebih tenang, Hiashi melepaskan pelukannya, mengusap pelan pipi yang dulu gembil. "Sudah saatnya Ayah menceritakan sebuah rahasia kecil keluarga Hyuuga padamu, Hinata."

"Rahasia?" suara Hinata serak ketika bertanya.

Hiashi mengangguk, ada sirat kesedihan di mata ametis yang kini bersitatap dengan sepasang mata yang dulu serupa. Mata perak Hinata terlihat indah, seperti bulan, namun juga menyimpan sebuah misteri ratusan tahun.

"Kau tahu cerita tentang Putri Kaguya?"

Hinata agak terkejut dengan topik melenceng dari sang ayah, "Putri Kaguya dari cerita rakyat, yang lahir dari pohon bambu dan kembali ke bulan?"

"Benar, setidaknya itulah cerita tentang Putri Kaguya yang kebanyakan diketahui orang-orang." Hiashi mengangguk, manik ametis abu-abunya mulai menatap bulan lewat jendela besar kamar hotel. "Klan Hyuuga adalah keturunan dari Putri Kaguya dan Kaisar Tenji."

Hinata mengerjapkan kedua mata, terkejut dengan fakta yang baru ia dengar. Manik peraknya melirik penuh tanya pada Neji, apakah sang kakak juga mengetahuinya. Ketika mendapatkan anggukan sebagai balasan, sang gadis menelan ludah kering. Ia kembali mendengarkan penuturan sang ayah.

"Cerita Putri Kaguya tidak beda jauh dengan cerita-cerita yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Hanya saja ada kelanjutan yang tidak diceritakan." Hiashi mengeluarkan sebuah gulungan perkamen tua dan menaruhnya di atas meja.

"Sebelum Putri Kaguya kembali ke bulan, beliau sempat mengandung dan melahirkan satu-satunya putra antara dirinya dengan Kaisar Tenji, yaitu; Otsutsuki Hagoromo." Sambil melanjutkan cerita, Hiashi membuka gulungan perkamen tua, memerlihatkan sebuah tulisan aksara kuno. "Putri Kaguya terpaksa kembali ke bulan demi melaksanakan tugasnya untuk menjadi Ratu Negeri bulan dan menikah dengan Otsutsuki Hamura."

"Orang-orang yang menyerangmu adalah keturunan dari Otsutsuki Hamura. Manusia bulan marah begitu tahu Putri Kaguya telah menikah dengan orang lain, memaksa mereka untuk menghentikan pernikahan, lalu mengasingkan Putri hingga membiarkannya mati membusuk."

Hiashi menghela napas pendek, dia akan menceritakan inti dari rahasia yang selama ini dipendam. Hal yang ia takutkan semenjak kelahiran Hinata. "Isi perkamen ini adalah sebuah peringatan dari Otsutsuki Hagoromo untuk para keturunannya."

" Saat seorang anak perempuan bermata kecubung, bertemu batu merah di langit malam. Darah mereka akan berdesir, mendidih, dan menarik keluar jati diri yang terkubur dalam. Saat bulan perak berubah merah, pewaris darah bulan akan datang menjemput ratu mereka."

Usai membacakan isi perkamen, Hiashi menggenggam tangan Hinata. Mereka berdua bersitatap, sinar kesedihan tercetak jelas di mata Kepala Keluarga Hyuuga. "Ayah tahu ini berat untukmu, tapi terimalah jati dirimu, Hinata. Sosok dirimu yang sesungguhnya adalah separuh manusia bulan, seorang vampir."

Manik perak mengerjap, menjatuhkan setetes air mata. "Aku bukan manusia lagi? Hinata bukan anak ayah dan ibu lagi?"

"Tidak, tentu saja tidak. Kau masih putri ayah dan ibu yang berharga. Kau masih adik Neji dan putri tunggal Hyuuga." Hiashi memeluk erat putri semata wayangnya.

Neji di samping Hinata menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan emosi dalam benaknya. Dia dengan penuh kasih mengusap puncak kepala adiknya.

"Kau masih adik kecilku, Hinata. Tidak akan berubah."

Hiashi menepuk pelan punggung anaknya, berusaha menenangkan Hinata yang kembali menangis. "Kau hanya menemukan jati dirimu, dan tugas kami yang akan menjagamu dari para manusia bulan."

Neji mengepalkan kedua tangannya, sinar mata ametis terlihat penuh tekad. "Klan Hyuuga tidak akan membiarkan manusia bulan membawamu pergi seperti yang mereka lakukan pada Putri Kaguya."

"Ya, kami tidak akan membiarkan mereka memisahkan kita."

.

.

.

Continue...

Review Favorite and Follow

Spam next di sini yah

See you guys~