Dua minggu semenjak fenomena Super Blue Blood Moon dan puncaknya bunga sakura berakhir. Hari-hari berjalan seperti biasa, kegiatan belajar di Universitas UKAT pun berlangsung semestinya. Begitu juga dengan keseharian Namikaze Naruto, namun ada sesuatu yang berbeda.
"Hyuuga Hinata."
"..."
Mereka yang hadir saling lirik, lalu melontarkan atensi mereka pada sebuah bangku di samping jendela. Kursi itu kosong, tampak dingin tanpa pemilik yang biasa duduk di sana.
"Hari ini juga absen," Naruto mencatat ketidak hadiran Hinata di buku jurnal. "Apakah ada yang tahu kabar Hyuuga-san?"
Keheningan berlanjut, Naruto menghela napas pelan melihat murid-muridnya saling lirik. Tatapan yang diberikan seakan mereka ingin mengatakan sesuatu, namun enggan, dan menelan kembali apapun itu.
"Yamanaka-san."
Akhirnya ada yang mengangkat tangan. Jika Naruto tidak salah ingat, murid perempuan dengan rambut pirang pucat hingga punggung dan poni menutupi separuh mata adalah teman dekat Hinata.
"Tiga hari yang lalu Hinata mengabari saya, kalau dia sedang pergi berlibur dengan keluarganya." ungkap Ino tanpa ekspresi.
"Begitu, terima kasih untuk infonya, Yamanaka-san."
Sebelum Naruto memulai pelajarannya, Ino lebih dulu menyela. "Apakah Sensei benar-benar tidak tahu?"
Naruto terdiam, sesungguhnya dia memang tidak tahu. Jika bukan karena Asuma-Sensei ada keperluan dan meminta tolong dirinya untuk menjadi wali kelas sementara. Mungkin pemuda pirang bermata biru itu tidak akan tahu, bahwa tunangannya sudah tiga hari tidak masuk.
Tatapan menuntut yang dilayangkan Ino sedikit memberi tekanan pada Naruto. Dia tidak bisa menjawab tidak tahu, sementara satu kampus sudah tahu bahwa mereka berdua bertunangan. Sangat aneh jika tidak ada komunikasi di antara keduanya, dan ini bisa menjadi bahan gosip bila dibiarkan.
"Tentu saja saya tahu," Naruto menjawab dengan senyum bisnis. "Saya bertanya karena ingin tahu kedekatan murid-murid sekelas satu sama lain. Apakah ada komunikasi jika teman kalian tidak masuk selama tiga hari berturut-turut."
"Dan saya senang dengan jawaban yang saya dapatkan. Terima kasih Yamanaka-san." sebagai penutup dusta, Naruto memberi pujian dengan senyum hangat.
Namun sayangnya Ino tidak termakan pujian seperti teman-teman lainnya. Dia mengetahui hubungan Naruto dan Hinata seperti apa. Mendengar sang pria berkelit, keningnya mengerut samar, hilang sudah rasa hormatnya pada guru sastra satu ini.
...
Di sebuah ruang ganti dengan nuansa krem, seorang gadis berdiri di depan loker pakaian. Rambut panjang berwarna biru gelap dikuncir kuda tinggi-tinggi, memerlihatkan leher jenjangnya. Kemeja putih dia tanggalkan, berganti dengan sport bra dan celana running tight berwarna hitam.
Selesai berganti dia melangkah memasuki aula, berdiri di tengah-tengah, lalu membungkuk hormat. Ketika tubuhnya tegak kembali, manik perak berkilat sesaat. Hinata mengambil napas pelan, kemudian meletakan kedua tangan di pinggul.
Secara perlahan, Hinata memutar kepala searah jarum jam, mengulanginya sebanyak dua kali. Setelah itu, sebanyak tiga kali dia putar kepala pada arah yang berlawanan. Bahunya terangkat ketika menarik napas lalu melepaskannya perlahan sambil menurunkan pundak.
Hinata mulai mengangkat kedua tangan sampai setinggi perut, mengibas telapak tangan seolah sedang mengeringkan tangan dari butiran air. Dia melakukannya sambil menarik dan membuang napas sebanyak tiga kali.
Tangannya perlahan bergerak seperti menyapu dinding di hadapannya. Saat mengangkat tangan, jari-hari Hinata menghadap ke bawah, saat sudah setinggi kepala, dia menurunkannya perlahan dengan posisi jemari lurus menghadap ke atas.
Kedua lengan diangkat ke depan sampai tegak lurus di samping tubuh, kemudian Hinata menurunkan ke belakang sampai posisi tangan kembali ke sisi tubuh dan membentuk lingkaran purnama yang sempurna. Setelah itu Hinata mengakhiri dengan posisi tangan di sisi tubuh masing-masing.
Ini adalah gerakan sederhana dari latihan kebugaran yang telah dikenal berabad-abad yang lalu, yaitu; Tai Chi.
"Kau sudah selesai Hinata?" suara berat memecah konsentrasi Hinata.
Hinata berbalik, menyambut Neji yang baru saja datang dengan pakaian judonya. Hinata mengangguk, dia membungkuk memberi hormat yang segera dibalas sang kakak.
"Sudah. Apa kita langsung mulai sparing?"
"Ya, setelah itu kita akan lanjut latihan menembak." Neji tersenyum miring, sudah tidak sabar melihat reaksi adiknya. "Hari ini barang yang kau tunggu akhirnya datang."
Manik perak membulat sempurna, Hinata bahkan sudah melompat kegirangan. Neji terbahak, suka dengan kenyataan yang sesuai dengan ekspetasinya.
"Beneran hari ini datang, Kak Neji? aku bisa unboxing saat latihan menembak?" Mata serupa bulan itu berbinar indah. "Aku bisa langsung latihan dengan senjataku?"
"Kau bisa langsung mencoba saat latihan nanti." Neji mengacak pelan rambut adiknya. "Astaga, padahal baru tiga hari kau latihan bela diri dan menembak. Siapa sangka ternyata kau jatuh cinta dengan senjata api."
Hinata menyunggingkan senyum lebar, tidak menyangka juga dia akan begitu tertarik. Padahal mendengar suara ledakan, atau suara tinggi tiba-tiba, selalu membuat dirinya tersentak kaget, dan takut.
Namun saat pertama kali dia menyentuh dinginnya benda metal dan menggenggamnya di tangan. Serta ketika letupan peluru pertama kali ditarik, Hinata merasa senjata api ada untuknya. Jantungnya berdegup kencang, darahnya berdesir kencang, dan adrenalin terpacu begitu saja.
"Kita mulai latihan sekarang," Neji berujar, menarik kembali atensi Hinata.
Keduanya berdiri berhadapan, membungkuk dalam, lalu memulai sikap. Saling menjaga jarak, kedua tangan mereka berada di depan dada. Hinata dan Neji saling tatap, memasang raut serius, dan mencoba memikirkan cara untuk mengalahkan satu sama lain.
Neji maju lebih dulu, mencari celah untuk membanting Hinata. Namun adik perempuannya tidak membiarkan, dia tidak memberi cela bagi sang kakak. Bahkan berhasil menepis beberapa kali tangan yang hendak mencengkram.
Semenjak sisi lain Hinata bangkit dan menyadari bahwa dirinya sudah bukan lagi manusia sepenuhnya. Seluruh panca indra menjadi lebih tajam, sensitif, dan lebih kuat. Karena itu mata peraknya dapat melihat gerakan Neji seperti gerakan lambat.
Hinata menyipitkan mata saat melihat cela, dia segera memegang bagian dada Neji, mendekat lalu kaki kanannya bergerak ke belakang kaki kanan Neji. Hal itu membuat tekukan lutut belakang pria di depannya terkunci.
Dengan kekuatan penuh, Hinata membanting Neji, menjatuhkan pria yang lebih besar darinya. Akibat lemparan kuat, pria berusia tiga puluh tahun itu terbatuk, lalu mengerang pelan.
"Ka-Kakak? ma-maafkan aku!" Hinata berubah panik, dia tidak menyangka kekuatan bantingannya mampu membuat Neji kesakitan.
"Ra-rasanya seperti jatuh dari lantai lima." keluh Neji, bahkan suaranya tertahan akibat rasa sakit saat menarik napas. "Argh..., mau mati rasanya."
"Jangan mati dulu, Kak!" Hinata mengguncang pelan badan Neji. "Kau belum kasih senjataku!"
"Itukah yang kau khawatirkan?!"
...
Mobil hitam melaju sedang, membelah jalanan kota yang tidak terlalu ramai. Selesai latihan judo seperti yang direncanakan, Hinata dan Neji pergi menuju lapangan tembak Indoor. Selama perjalanan gadis berusia dua puluh tahun itu tidak juga berhenti tersenyum.
"Sampai segitunya yang mau dapat senjata sendiri."
Hinata terkekeh pelan, "Rasanya seperti pemain filem aksi, belajar bela diri, dan bahkan sekarang membawa senjata untuk pertahanan diri."
"Padahal tiga hari yang lalu, kau nangis sampai ingusmu berceceran."
" Ish!apa sih, Kak?!" Hinata menyikut pelan, kesal dengan ledekan sang kakak. "Kak Neji, ada yang mau aku tanyakan, karena beberapa hari ini banyak kejadian sampai lupa."
"Mau tanya apa?" tanpa melepaskan pandangan dari jalan raya, Neji mendengarkan.
"Apa yang terjadi dengan dua orang yang mengejarku waktu itu?"
Dua orang yang dimaksudkan Hinata adalah manusia bumi yang berniat menculiknya. Vampir dengan kemampuan di atas rata-rata manusia. Malam itu, setelah memastikan keselamatan sang adik, Neji bertarung dengan mereka.
' Kau tidak akan bisa menyembunyikan sang ratu! Takdirnya adalah menjadi pasangan Pangeran Mahkota!'
Perempuan sekarat itu masih saja tersenyum penuh percaya diri. Di depan Neji yang menodongkan moncong pistol, siap menembak mati. Kin Tsuchi dengan lantang memprovokasi laki-laki di depannya.
' Percuma saja kalian melawan, karena hanya kematian yang menyambut. Tuan Toneri pasti akan membawa sang ratu kembali ke bulan--"
Tembakan dilepas, menghancurkan separuh kepala dan darah berceceran. Neji menatap dingin pada mayat di bawah kakinya. Tidak memedulikan bercak darah yang terciprat ke pipi kanan. Dia hanya berdiri mematung selama beberapa detik.
' Aku tidak akan membiarkannya, walau harus bangkit dari kematian sekalipun.'
Neji mengerjap, mengenyahkan ingatan malam itu. Dia lalu menjawab, memberi jawaban palsu demi tidak membuat Hinata khawatir, maupun takut.
"Mereka sudah diringkus, dan tidak akan bisa menyakitimu, tenang saja." Mendapat anggukan dari Hinata, pria berambut coklat panjang itu tersenyum tipis. "Setelah latihan hari ini, kau bisa kembali ke kampus."
"Benarkah?" manik perak itu berbinar, Hinata senang mendengarnya. "Akhirnya aku bisa mengejar ketinggalanku selama absen!"
Neji terkekeh pelan, "Dan juga bisa lihat Naruto lagi, benarkan?"
Niatnya ingin meledek sang adik, namun malah tidak ada tanggapan sedikitpun. Manik ametisnya melirik sekilas, melihat raut wajah Hinata berubah sendu.
"Apa kau masih kepikiran dengan apa yang ayah katakan?" tidak mendapat jawaban, Neji kembali berujar. "Itu adalah jalan terakhir dan satu-satunya, agar manusia bulan menyerah membawamu, Hinata."
"Dengan pemikiran itulah, ayah menjodohkan kalian berdua." Neji kembali melirik sekilas adiknya yang tengah menunduk. "Jadi, apa kalian berdua saling mencintai?"
.
,
.
Continue...
Revie Favorite Follow
See you guys~
