Camp Asaka, Nerima, Tokyo.

Sekitar pukul tiga sore, Neji dan Hinata tiba di Lapangan Tembak Asaka. Semula Kamp Asaka adalah lapangan golf yang kemudian dijadikan Akademi Militer Junior Angkatan Kekaisaran Jepang. Beberapa tahun kemudian, Lapangan Tembak dibangun untuk menyelenggarakan Olimpiade Musim Panas.

Ada dua lokasi untuk latihan menembak, Lapangan Tembak Indoor dan Outdoor. Saat ini kakak beradik Hyuuga memilih untuk berlatih di Indoor. mereka memasuki gedung berukuran sedang. Dibagian sisi kanan terdapat meja panjang menghadap papan target dengan jarak sekitar enam sampai tujuh ratus meter.

"Hinata."

Panggilan itu menarik kembali atensi perak yang semula berbinar melihat papan target. Hinata menghampiri sang kakak yang sudah berdiri dengan sebuah kotak hitam berukuran sedang di tangan. Neji tersenyum tipis, lalu memberikannya pada sang adik.

"Kau siap unboxing hadiahmu?"

"Eung! Terima kasih Kak Neji!"

Dengan hati-hati, dia menerima kotak hitam, membawanya dan menaruhnya di atas meja. Hinata menatap sebentar bingkisan hitam berpita putih, lalu membukanya tidak sabar. Sebuah pistol tipe Handgun Smith & Wesson 500 Magnum menyambutnya.

Manik perak berbinar saat tahu bawah dia telah menerima sebuah senjata api yang luar biasa. Smith & Wesson 500 Magnum berbeda dari pistol kebanyakan, karena bagian moncongnya menjulang lebih panjang.

Daya tembak pistol ini amat mematikan, karena memiliki daya tembus dan ledakan layaknya pistol Desert Eagle. Moncongnya yang panjang membuat akurasi dari pistol ini lebih akurat, ditambah lagi kecepatan peluru saat melesat bisa mencapai 632 meter per detik.

Hinata tidak bisa menahan senyum lebarnya, dengan hati-hati dia meraba permukaan beda metal berwarna silver itu. Ada ukiran di permukaannya yang halus, corak seperti bunga anggrek dengan daun merambat. Tidak hanya itu, dia menemukan inisial namanya di bagian ganggang pistol.

"Kau suka?"

Hinata berbalik, melompat ke arah Neji, memeluk kakaknya. Neji terbahak, membalas pelukan sang adik yang tidak bisa berkata apa-apa sangking sukanya.

"Sejujurnya aku berharap, tidak ada kesempatan bagimu untuk menggunakannya." perkataan sendu itu membuat Hinata melepaskan pelukan. Manik ametis menatap sepasang rembulan di depannya. "Seharusnya bunga yang kau genggam, bukan senjata api."

Hinata adalah sosok perempuan manis dan lembut. Bagi Neji adiknya tidak pantas melihat lautan api maupun sungai merah. Jika bisa dia hanya ingin memperlihatkan taman bunga dengan langit cerah.

"Apa yang terjadi denganku, dengan keluarga kita, bukan salah siapa-siapa." Hinata menyentuh pelan pipi Neji, memintanya untuk berhenti menekuk wajah. "Anggap saja kesulitan ini adalah warna untuk membuat hidupku lebih menarik dan unik."

Hinata menyunggingkan senyum manis. "Tidak ada salahnya, hidup ini berubah genre jadi aksi dengan sedikit fantasi."

Melihat adiknya yang masih bisa melihat situasi dengan positif seperti ini, Neji mendengus pelan. Merasa kalah, pada dirinya, pada Hinata, karena sudah bersikap apatis pada situasi saat ini. Pria berambut coklat panjang itu menepuk pelan puncak kepala adiknya, lalu menariknya ke dalam pelukan hangat.

"Benar, genre aksi lebih baik ketimbang cerita cinta bertepuk sebelah tangan."

Tidak menyadari bahwa kata-katanya sedikit menohok sang adik, Hinata mencubit pinggang Neji. Pria muda itu mengaduh, tidak paham mengapa Hinata kesal. Padahal menurutnya memang hidup lebih baik dipenuhi adrenalin daripada dimabuk cinta.

"Ck, pantas saja sampai sekarang, Kakak masih melajang!" Hinata mengerucutkan bibir, "Ternyata lebih milih hidup monoton tanpa cinta."

"Siapa bilang?" Neji masih mencoba mengelak, "Hidupku juga dipenuhi cinta, cinta pada adik kecilku ini."

"Astaga, Kak! kata-katamu menjijikan!"

...

Suara pintu masuk dibuka terdengar, disusul sosok pria berambut pirang memasuki ruang keluarga. Naruto melepaskan dasi, menghela napas pelan. Manik biru lautnya sontak melirik, ketika mendengar namanya dipanggil.

Kushina sedang duduk sambil menonton televisi. Dia menepuk sofa di sisi kanan, memberi gestur agar putranya menghampiri. Setelah Naruto duduk di sampingnya, manik hitam sang ibu memerhatikan lekat-lekat.

"Ada apa lagi, Bu?" Naruto berujar lemah.

Kushina berdecak pelan, "Mengapa hubunganmu dengan Hinata-chan semakin renggang, setelah acara piknik kemarin?"

"Renggang apanya? aku dan Hinata baik-baik saja."

"Jangan bohong," Kushina mendelik, dia menggenggam tangan putranya. "Ibu dengar dari Hikari-chan, kalau Hinata-chan tiba-tiba pergi berlibur sendirian sejak tiga hari yang lalu."

Sebelah alis Naruto sontak terangkat, bukankah kata Ino, Hinata pergi berlibur bersama keluarganya. Jadi mengapa kabar yang diterima Kushina berbeda?

"Sendirian?" Naruto bertanya memastikan.

Namun pukulan telak di bagian kepala dia dapatkan. Kushina berdecak beberapa kali, tidak menyangka putranya akan bersikap masa bodoh dengan tunangannya.

"Kenapa kau malah balik bertanya? jadi benar, Hinata-chan pergi sendiri dan bahkan tidak menghubungimu? kau juga tidak menelponnya?"

"Aku menelponnya, kok!" kilah Naruto cepat, "Tapi tidak diangkat."

"Kali ini kalian bertengkar karena masalah apa? bahkan sampai membuat Neji cemas."

Naruto menoleh, berhenti mengusap belakang kepalanya yang sakit. Dia terkejut, mendengar pria yang sudah dianggap sebagai kakak, mencemaskan Hinata. Memang apa yang sedang terjadi, apakah masalah tentang dia menolak Hinata sudah sampai ke telinga Neji? atau tentang kesehatan gadis itu, mengingat saat mereka pergi melihat bulan purnama, kondisinya tidak baik.

"Apa yang Neji-san cemaskan?"

Kushina menopang dagu, memikirkan kembali kejadian beberapa hari yang lalu. Saat dia sedang pergi ke rumah Hyuuga untuk minum teh bersama Hikari. Wanita paruh baya itu dengan semangat menceritakan kencan Naruto dan Hinata saat bulan purnama di bawah pohon sakura.

"Saat Neji mendengar kalau kalian pergi melihat fenomena bulan merah, wajahnya berubah pucat dan cemas." Ungkap Kushina sambil mencoba mengingat-ingat, "Dan sudah lama juga, Hinata-chan tidak main ke sini setelah acara piknik. Jadi sudah pasti kalian ada masalah, benarkan?"

Pelipis Naruto berkedut pelan, membuat kepalanya sedikit pening. Dia tidak tahu harus merespon apa. Ibunya terlalu ikut campur dengan hubungan percintaannya, ini juga alasan mengapa sang pemuda merasa terkekang pada status pertunangannya.

"Aku dan Hinata benar tidak ada masalah apapun." Naruto berujar, "Mungkin dia memang ingin berlibur sejenak. Nanti aku akan coba menelponnya lagi, Ibu tidak perlu khawatir."

Setelah merasa cukup dengan obrolan mereka, Naruto beranjak dari duduknya. Dia melangkah ke kamar untuk beristirahat. Setelah membersihkan diri, sambil mengeringkan rambut, Naruto berjalan ke tempat tidur dan duduk di tepi ranjang.

Dia mengeluarkan ponsel pintar, menekan tombol satu, dan membuat panggilan keluar. Nada sambung terdengar, setelah menunggu sekitar tiga nada, barulah telpon tersambung.

"Halo, Naruto-kun?"

...

Malam tiba dengan rembulan beranjak naik. Hinata akhirnya kembali ke rumahnya, dia segera membersihkan diri, dan mengeringkan rambut begitu keluar dari kamar mandi. Tiba-tiba ponselnya berdering, dia menghampiri nakas di samping ranjang, meraih ponsel, kemudian terdiam.

Nama Naruto berkedip di layar ponsel, rasa bimbang datang detik itu juga. Sejujurnya Hinata belum sanggup untuk bertemu ataupun berbicara dengan pemuda pirang itu. Pikirannya masih kusut dengan informasi yang didapatnya dari sang ayah.

"Halo, Naruto-kun?"

Suara di seberang sana masih sama, datar dan tenang. "Akhirnya kau jawab teleponku,"

"Maaf, Naruto-kun. Aku sedikit sibuk," Hinata tidak sepenuhnya berbohong. Dia memang sibuk latihan bela diri untuk menjaga dirinya dari Manusia bulan.

"Ada apa?"

Agak lama Naruto terdiam, sepertinya sedang memikirkan kata-kata yang tepat. "Kau benar sibuk, atau sedang liburan?" dan sayangnya sepertinya emosi sang pemuda lebih dulu dari kinerja otaknya. "Statusmu itu pelajar, Hinata. Bagaimana bisa kau absen selama tiga hari tanpa kabar?"

"Maaf, aku tidak sempat memberi kabar karena ada beberapa hal yang terjadi tiba-tiba."

Helaan napas di ujung telpon berhasil membuat Hinata sedikit tersentak. Entah sampai kapan gadis manis ini akan terbiasa dengan nada kecewa yang Naruto suarakan.

"Besok aku sudah bisa masuk sekolah lagi," Hinata kembali berkata, dengan nada tergesa. "Terima kasih sudah mengingatkanku, Naruto-kun."

Tidak tahu apa lagi yang ingin dibicarakan, Naruto akhirnya memutuskan sambungan setelah mengucap selamat malam. Hinata menaruh kembali ponsel pintarnya di atas nakas, berjalan mendekati jendela dan membuka kaca.

Manik perak bersitatap dengan rembulan di langit malam. Bayangan manusia bulan turun ke bumi untuk menjemputnya membuat bulu kuduknya meremang. Hinata menghela napas pelan, meski dirinya mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja seperti mantra. Nyatanya dirinya cemas, selalu was-was, karena tidak ada yang tahu kapan manusia bulan akan datang.

Jika mereka datang baik-baik dan bisa diajak komunikasi. Itu lebih baik, namun melihat kejadian beberapa hari yang lalu, Hinata tidak yakin. Tidak ada yang tahu, apa yang bisa diperbuat para manusia bulan demi mendapatkannya.

Karena itu, masalah ini bukan lagi tentang dirinya, tetapi mencangkup keluarga, dan orang-orang sekitarnya.

"Apa aku masih bisa tetap di sini? hidup sebagai Hyuuga Hinata."

.

.

.

Continue...

Revie Favorite dan Follow

See you guys~