"Hinata, aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang."
Neji menghampiri sang adik yang tengah bersiap pergi sekolah. Hinata mengikuti sang kakak, pergi menuju halaman rumah. Di sana selain ada sebuah mobil hitam, berdiri seorang laki-laki berpakaian setelan jas dan celana hitam.
Rambut merahnya bergoyang pelan, dibelai angin pagi. Mata coklat dengan tatapan malas menyambut kakak beradik Hyuuga. Ketika jarak hanya terpisah dua langkah, pemuda misterius itu membungkuk dalam, memberi hormat.
"Perkenalkan, nama saya Akasuna no Sasori dari desa Sunagakure." Dia berdiri tegak, menaruh tangan di bagian dada kiri. "Suatu kehormatan bagi saya untuk melindungi Hinata-sama, atas perintah Kepala Keluarga Hyuuga."
"Peintah Ayah?!" Hinata sontak menoleh pada kakaknya.
Neji tersenyum tipis, "Akasuna no Sasori adalah ninja terbaik, dipilih langsung oleh Ayah untuk melindungimu, Hinata."
Manik perak mengerjap lucu, dia dibuat tercengang pagi ini. "Ninja? ternyata di Jepang masih ada ninja?"
Neji terkekeh pelan, begitu pula dengan Sasori yang tersenyum tipis. Pria berambut merah itu lalu berlutut satu kaki di depan Hinata. Sebuah sikap seorang ninja kepada tuannya. Sekali lagi, dia memberikan sikap hormat penuh kesetiaan.
"Saya bersumpah akan melindungi Hinata-sama, meski nyawa taruhannya."
Mendapatkan perlakuan seperti adegan di film-film, membuat wajah Hinata merah padam. Dia salah tingkah, segera meminta Sasori untuk berdiri. Putri tunggal Hyuuga tersenyum manis, mengulurkan tangan, berniat berjabat dengan pengawal barunya.
"Namaku Hyuuga Hinata, senang bertemu denganmu, Sasori-san. Aku harap kita bisa menjadi akrab dan tidak terlalu kaku dengan formalitas."
Sasori mengangguk, meski minim ekspresi, sinar matanya hangat. Hinata senang mendapatkan kenalan baru, terlebih seorang rekan yang siap menjaga punggungnya.
"Baiklah, mari kita berangkat!"
Hinata mengerutkan alis mendengarnya, "Kak Neji berangkat denganku?"
"Tentu saja, aku yang akan mengantarmu ke kampus setiap hari." Neji menyunggingkan senyum, melangkah menuju mobil dan membuat pintu kemudi. "Tunggu apa lagi? ayo berangkat!"
"Loh? di mana Kou-san?"
Neji yang hendak masuk, kembali menatap Hinata. "Dia aku pindahkan ke divisi lain, karena tidak becus."
"Kau serius, Kak?"
Sang kakak hanya bergumam, memilih masuk ke mobil, disusul Hinata. Sasori membungkuk, mengatakan bahwa dia akan mengikuti di belakang dan memersilahkan keduanya berangkat lebih dulu.
.
Mobil hitam menepi tidak jauh dari gerbang Universitas UKAT. Hinata melepas sabuk pengaman, bersiap membuka pintu. Namun dia berhenti, ketika Neji memanggilnya. Pria bermata ametis memberikan dua buah kotak jus strawberry pada adiknya.
"Makan siangmu hari ini," Neji menghela napas pelan melihat raut tidak mengerti adiknya. "Aku tidak mungkin terang-terangan memberimu dua kantung darah, kan?"
Begitu sadar, Hinata segera menyambar kotak jus dan menaruhnya ke dalam tas. "Tidak, ini lebih baik dari pada segelas wine merah seperti kemarin." dia meringis pelan, mengingat pertama kali dengan sadar meminum segelas darah.
"Aku pikir dengan memakai gelas wine, kau tidak akan kesulitan. Cukup bayangkan seperti menyesap koktail." Neji tersenyum miring, "dasar bocah."
Hinata mengerucutkan bibir, kesal, dia keluar dan membanting pintu mobil. Meninggalkan sang kakak yang tertawa puas berhasil menjahilinya.
...
Sepanjang perjalanan menuju kelas, Hinata mendumel pelan. Ada alasan mengapa dia lebih memilih minum darah di dalam kotak jus, ketimbang di gelas. Aroma cairan merah pekat yang selama ini dia minum, tidak enak.
Neji bilang bahwa darah yang dia minum adalah darah binatang, bukan manusia. Mengapa rasanya berbeda sekali dengan yang pernah Hinata minum. Apakah memang darah manusia dan binatang berbeda, baik dari rasa maupun baunya?
"HYUUGA HINATA-SAN!"
Suara teriakan itu mengejutkannya, namun begitu menyadari siapa pemilik suara nyaring itu, Hinata terkekeh pelan. Dia malah berbalik badan, merentangkan kedua tangan, bersiap menerima pelukan hangat sahabatnya.
Benar saja, Yamanaka Ino langsung memeluk erat, melompat ringan, sebelum melepaskan pelukannya. Manik hijau toska berbinar, ada raut khawatir, juga penasaran.
"Bagaimana liburanmu? mengapa tiba-tiba sekali, tidak terjadi sesuatu, kan?"
Rentetan pertanyaan dari Ino membuat Hinata merasa tersudut. Dia harus segera menenangkan sahabatnya atau energinya akan habis, tenggelam oleh seluruh pertanyaan itu. Untungnya seseorang membantu, menarik dirinya dari serangan sang sahabat.
"Yamanaka-san, kau membuat temanmu kesulitan, jika memburunya dengan banyak pertanyaan sekaligus." suara seorang laki-laki terdengar.
Ino dan Hinata menoleh ke belakang, bertemu dengan seorang pemuda berambut hitam berkulit pucat dengan senyum tipis. Gadis berambut pirang pucat seketika merona, dia salah tingkah, malu, lalu mundur selangkah, akhirnya memberi Hinata ruang.
Manik peraknya kini beralih pada sosok asing di samping Ino. Pria bermata hitam ini belum pernah dia lihat sebelumnya. Menyadari tatapan penasaran Hinata, laki-laki itu memperkenalkan diri.
"Shimura Sai, anak jurusan teknik dan teman eskul Yamanaka-san di klub kebun." segaris senyum tipis dibuatnya. "Senang bertemu denganmu, Hyuuga-san."
Ino tertawa pendek, tersenyum bangga dengan sinar mata berkilat sesaat. "Selama kau absen tiga hari, teman dekatku adalah Shimura Sai."
Setetes keringat sebesar biji jagung jatuh perlahan di pelipis. Hinata dapat melihat jelas ekspresi songong sahabatnya. Tatapan yang seakan mengatakan, 'Lihatlah! aku berteman dengan pria tampan selama kau tidak ada.'
Hal itu membuat Hinata terkekeh pelan, diam-diam mengucapkan selamat pada Ino. Siapa tahu, pria ini malah akan menjadi kekasih masa depan sahabatnya. Jadi dia harus mulai baik-baik dan meneliti latar belakang Sai, memastikan bahwa dia pantas untuk sang sahabat.
"Hyuuga Hinata-san."
Lagi-lagi namanya dipanggil, hari ini sepertinya banyak orang yang mencarinya. Putri Hyuuga membalik badan, membeku seketika, saat manik perak bertemu dengan sepasang samudra. Naruto melangkah mendekatinya, dengan penampilan rupawan seperti biasa.
"Hari ini kau benar datang, baguslah." Naruto tersenyum tipis, melipat kedua tangan di dada. "Ada banyak tugas menumpuk selama kau absen untuk ber-li-bur." sambil memberikan penekanan, pria muda itu kembali siap untuk berceramah.
Namun entah mengapa tatapan gadis di depannya tidak fokus, malah perlahan wajahnya semakin dekat. Naruto tidak tahu, bahwa Hinata saat ini sedang terbuai pada aroma manis yang menguar dari tubuhnya.
Ketika pria itu datang menghampirinya, Hinata berniat mencari alasan untuk kabur. Tetapi setibanya Naruto di hadapannya, hidungnya langsung mencium aroma manis dan segar. Aroma yang menggiurkan bagi sang vampir muda. Sampai membuatnya tidak sadar sudah melangkah mendekat, wajahnya tinggal beberapa senti dari leher jenjang sang pemuda.
"HINATA!" sentakan serta dorongan di kening berhasil menyadarkan sang gadis. Naruto melotot, kesal merasa tidak diperhatikan. "Apa kau tidak mendengarku?"
Telunjuknya masih setia di kening Hinata, semakin mendorong pelan tubuh sang tunangan untuk menjauh darinya. Sementara manik perak itu mengerjap bingung, lalu wajah pemiliknya berubah merah.
"Ma-maafkan aku, Na-Naruto-kun." Hinata menunduk, menutup mulut dengan kedua tangan dan berbisik pelan pada dirinya sendiri. "Apa yang baru saja mau aku lakukan?"
Panik menyerang Hinata, gadis itu segera berlari melewati Naruto. Padahal sang pemuda belum selesai bicara, dan sudah meneriaki namanya. Meski begitu, dia tidak ada niat untuk mengerjar sang gadis.
Yamanaka Ino dan Shimura Sai masih berdiri di sana, melihat interaksi mereka berdua. Perempuan dengan blouse violet berdecak pelan, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kaki jenjang melangkah, mendekati dosen muda yang masih bergeming.
Tepat di samping telinga Naruto, dia berujar dengan suara lantang. "DIKEJAR SENSEI, BUKAN DILIHAT!"
"Astaga, Yamanaka-san!" Naruto berjengit kaget, mundur selangkah sambil mengusap telinganya. "Kau bisa bicara dengan biasa saja. Tidak perlu di kuping dan keras seperti itu."
Ino mengibaskan rambut panjangnya, "Sengaja, sekalian menyadarkan Sensei." katanya lalu melenggang pergi.
"Saya permisi dulu, Sensei." Sai di belakang tersenyum tipis, lalu menyusul Ino.
Mereka meninggalkan Naruto yang masih bergeming di lorong kampus.
.
"Hinata, hari ini sepulang kuliah mau pergi main?" Ino menyikut sahabat yang tengah menyiapkan buku. "Aku, kau, dan anak dari klub berkebun."
Gadis dengan rambut biru gelap tampak berpikir sejenak. Apakah keadaan sudah aman untuknya pergi main. Meski dia tidak sendirian, mereka berlima dengan Sasori mengikuti diam-diam. Tetapi Hinata tidak bisa mengambil resiko, sekecil apapun.
"Aku harus tanya Kak Neji dulu," lalu mengeluarkan ponsel, mengetik pesan singkat.
Ino mengerutkan kening, "Tidak biasanya kau meminta izin."
"Aku selalu meminta izin, kok!" kilah Hinata, "Hanya saja kali ini minta izinnya di depanmu."
Saat ponselnya bergetar pelan, Hinata segera mengecek pesan masuk. Neji memberinya izin, dengan syarat dirinya tidak jauh dari jarak pandang Sasori dan tidak pulang terlambat.
"Nice," cetus Hinata senang. "Aku bisa ikut main hari ini, jadi kita mau kemana?"
Manik hijau toska berbinar senang, "Ada kafe baru dan juga toko bunga lucu di dekat sini."
"Baiklah, tukang kebun memang tertarik dengan bunga."
Pukulan pelan diterima Hinata di kepala, dia terkekeh pelan melihat sahabatnya mengerucutkan bibir. "Jangan remehkan tukang bunga, profesi mereka sebagai florist tidak bisa dipandang sebelah mata."
"Baik-baik, karena tujuan florist adalah menyebarkan kebahagiaan lewat bunga." Hinata lebih dulu mengatakan apa yang selalu Ino ucapkan.
Sekali lagi membuat Hinata menerima lirikan tajam dan jitakan di kening.
.
.
.
Continue...
Review Favorite Follow
See you guys~
