Pukul tiga sore, semua kelas yang dihadiri Hinata hari ini selesai. Seperti janji tadi pagi, mereka berkumpul di depan gerbang Universitas. Sai bersama dengan satu laki-laki dari klub berkebun sudah menunggu.

Pria bermata hitam dengan kaos putih dibalut jaket kulit hitam itu mengangkat tangan, menyapa Ino dan Hinata yang baru tiba. Di sampingnya pria berambut oren bermata coklat tersenyum, memperkenalkan diri pada dua perempuan dalam kelompok.

Menyadari isi kelompok terdiri dari dua pria dan dua wanita, Hinata menyikut Ino, berbisik dengan suara pelan. "Apa kau yang mengaturnya? ini terlihat seperti kencan ganda."

Seringaian tipis di wajah cantik Ino sudah menjawab pertanyaan Hinata. Manik peraknya mengerjap, menghela napas pelan. Sebenarnya apa yang dipikirkan sahabatnya, membuat kencan buta sementara tahu betul bahwa Hinata memiliki tunangan yang bekerja sebagai dosen di tempatnya belajar.

"Kau masih ingat dengan rencana kita, bukan?" Ino berkedip, ibu jarinya tiba-tiba menunjuk seseorang yang baru saja keluar dari bangunan megah di belakang mereka. "Jaga jarak, buat dia cemburu, dan pastikan Naruto-san menyadari perasaannya."

Melihat pria pirang itu mulai menghampiri mereka, Hinata menghela napas pelan. Benar juga, mereka sempat membahas tentang dirinya akan menjaga jarak. Karena banyaknya kejadian beberapa hari ini, membuat gadis bermata perak itu lupa tentang masalah percintaannya.

"kalian sudah mau pulang?" tanya Naruto begitu tiba di hadapan empat muridnya.

Ino menyeringai tipis, dia berdiri di samping Hinata, mendorong pelan agar pundak sahabatnya mengenai pria bermata coklat. "Tidak, Sensei. Kami mau pergi main ke pusat kota."

"I-Ino-chan, kau terlalu dekat." keluh Hinata lalu menoleh pada pria di sampingnya. "Maaf, Yahiko-san, bisakah kau bergeser sedikit?"

Pemuda itu tersenyum tipis, ada semburat merah di pipi. "Tidak masalah Hyuuga-san."

Setelah Hinata akhirnya memilik jarak dengan Yahiko dan Ino, dia menghela napas pelan. Tiba-tiba aroma segar dan manis tercium, saat dirinya menarik napas. Sontak manik perak bergetar pelan, mencari asal dari wangi menyenangkan itu.

Saat kedua pasang mata berbeda warna itu bertemu, Hinata spontan mengalihkan wajah. Dia baru menyadari kalau aroma mint bercampur madu itu berasal dari Naruto. Terlebih seperti magnet, jika dia tidak menjauh, mungkin tanpa sadar gadis itu akan menerjang sang pemuda seperti tadi pagi.

Perilaku Hinata yang memutuskan kontak mata, dan beringsut ke belakang Ino membuat pelipis Naruto berkedut kesal. Setelah mengabaikannya tadi pagi, sekarang perempuan itu berniat pergi main dengan kelompok seperti kencan ganda.

"Hinata, apa kau ada waktu untuk bermain?" Naruto berusaha mengatur suara dan tetap tersenyum. "Bukankah tugasmu menumpuk karena berlibur selama tiga hari?"

"Deadline-ku minggu depan, Sensei." Jawab gadis itu tanpa melihat ke arah Naruto. "Hei, bisa kita pergi sekarang? aku sudah janji tidak pulang telat hari ini." Sambungnya tanpa menyadari urat di pelipis Naruto berkedut saat Hinata menyentuh lengan Yahiko.

Gadis itu sekarang benar-benar menjaga jarak, menghindari Naruto. Namun kali ini dengan alasan yang berbeda, bukan tentang menarik ulur perasaan sang pemuda. Tetapi lebih pada ketidak percayaan dirinya untuk menahan diri tidak menggigit leher mulus tunangannya.

Naruto berjalan dan berdiri di antara Yahiko dan Hinata, "Kau sudah janji dengan Neji-san, rupanya. Kalau begitu, tidak keberatan jika aku bergabung?" mata biru lautnya beradu tatap dengan sepasang rembulan.

Kening pemuda pirang berkerut samar, sejak kapan mata ametis berubah perak?

"Keberadaan Sensei malah membuat canggung," celetuk Ino tidak setuju.

Sai yang sejak tadi diam, ikut menimpali. "Kami akan menjaga tunangan Sensei dengan baik, jadi silahkan pulang duluan."

Percikan perseteruan kasat mata terjadi antara Naruto, Ino dan Sai. Pemuda pirang tidak mundur begitu saja. Tidak saat perasaan ganjal masih di hati. Dia lalu merangkul pundak Hinata, memberi senyum paling ramah dan bersikap seperti layaknya orang dewasa.

"Sudah kewajibanku juga sebagai tunangan Hinata, untuk memastikan dia pulang ke rumah tepat waktu." kata-kata itu tidak sepenuhnya dusta, namun Naruto lebih ingin menunjukkan statusnya di depan para murid, terutama laki-laki berambut oren di sampingnya.

Pada akhirnya perseteruan ini dimenangkan oleh Namikaze Naruto.

...

Sebuah kotak jus bergambar buah strawberry, ditusuk Hinata lalu meminum isinya sampai tandas. Gadis itu sudah menahan diri setengah mati, ketika tiba-tiba saja Naruto berdiri di samping, dan merangkulnya.

Hinata tidak pernah merasa bersyukur seperti ini, ketika Naruto pergi untuk mengambil mobil di parkiran. Setidaknya memberi waktu untuk meredakan desiran jantungnya yang menggila. Juga menahan rasa laparnya dengan sekotak darah binatang pemberian sang kakak.

Sekitar lima menit, mobil sport silver berhenti di depan empat remaja. Kaca hitam turun perlahan, memerlihatkan Naruto di bangku kemudi, kemudian menyuruh mereka masuk. Butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai di pusat kota Tokyo dengan mobil pribadi.

.

Di depan sebuah kafe dengan nuansa asri, mobil berwarna silver menepi, masuk perlahan dan berhenti di tempat parkir. Mereka berlima segera memasuki bangunan dengan desain batu bata merah setinggi pinggang.

Empat orang remaja dengan satu pria muda duduk di sudut ruangan, dengan jendela tinggi besar di sisi kanan. Setelah sempat mengecek buku menu, sepuluh menit kemudian mereka memberikan pesanan pada pelayan perempuan.

Selama menunggu, Ino membahas mengenai kegiatan klub berkebun pada Sai dan Yahiko. Sementara Hinata yang duduk di samping sahabatnya, memerhatikan keluar jendela. Dia tidak berniat memesan apa-apa, mengingat makanan manusia sudah tidak lagi memenuhi rasa laparnya.

Perasaan menusuk dapat Hinata rasakan dari tatapan Naruto. Pria pirang dengan kemeja hitam berlengan panjang, seakan ingin melubangi kepala sang gadis. Semua itu untuk mencari tahu, mengapa tunangannya bersikap aneh.

"Aku keluar sebentar," Hinata beranjak berdiri, dia baru ingat Sasori mengawalnya dari jauh. Selain ingin kabur dari tatapan menusuk Naruto, dirinya juga ingin tahu keadaan ninja pribadinya.

Sebelum menemui Sasori, dia lebih dulu pergi ke kasir, memesan satu porsi roti lapis dan segelas minuman. Setelah membayar dan menerima pesanannya, Kaki jenjang berbalut weadges coklat bertalu menuju teras kafe.

"Sasori-san?" panggilnya.

Dari sebuah pohon berjarak sekitar tiga meter darinya, sebuah bayangan melompat. Sosok Sasori muncul di hadapan Hinata tiba-tiba, namun tidak mengejutkan sang tuan yang kini memiliki ketajaman indra. Putri Hyuuga tersenyum hangat, menyodorkan makanan yang dibelinya pada sang pengawal.

"Aku belum tahu apa kesukaanmu, semoga ini sesuai selera Sasori-san."

Pria berambut merah menerimanya dengan anggukan kecil, "Hinata-sama tidak perlu repot-repot." masih seperti biasa, dia berbicara tanpa ekspresi.

"Ini tidak merepotkan, sudah sewajarnya aku memastikan pengawalku tidak telat makan. Dengan begitu Sasori-san bisa melindungiku setiap saat." Dia mengedipkan sebelah mata, tersenyum seperti anak kecil.

Meski Sasori menanggapinya dengan raut datar, sinar mata coklat madunya sedikit melembut. Sebelum dia tiba-tiba menegang, "Terima kasih, Hinata-sama. Saya pamit undur diri." tanpa menunggu balasan tuannya, dia sudah lebih dulu menghilang dari hadapan Hinata.

"Ah, Tunggu-!"

"-Hinata!"

Baru saja dia bertanya-tanya mengapa Sasori menghilang begitu saja. Suara yang memanggilnya segera menjawab pertanyaan Hinata. Dia berbalik, melihat Naruto berjalan ke arahnya. Ada apa dengan tunangannya hari ini. Sudah berapa kali dia menghampirinya, dengan wajah di tekuk. Apakah kemarin belum puas menceramahinya karena absen tiga hari?

"Ada apa, Naruto-kun?"

Manik biru laut mengerjap, kali ini Hinata tidak menghindarinya. Baguslah, melihat gadis yang merupakan teman kecilnya ini menghindar seperti kucing membuatnya jengah.

"Apa kau marah karena aku tidak menjemputmu kemarin?" dia langsung saja bertanya, tidak mau lagi berbasa-basi. "Kau mengabaikan telponku, tidak memberi kabar kalau kau berlibur, dan seharian ini menghindariku karena kau marah tidak aku jemput kemarin?"

Sebelah alis Hinata terangkat, butuh seperkian detik untuknya mengingat bahwa dia pernah meminta Naruto menjemputnya. Sudut bibirnya terangkat, tetawa pelan, menarik atensi sang pemuda hingga mengerutkan kening.

"Kau tertawa? apa kau pikir ini lucu?"

Sebenarnya jika Hinata harus jujur, memang sedikit lucu. Sekali lagi karena banyaknya hal yang terjadi, membuat dirinya hampir melupakan sebagian tentang pria di depannya saat ini. Tentang rencananya untuk tarik ulur perasaan, dan tentang dirinya mengharapkan Naruto datang menyelamatkannya saat itu.

"Aku tidak marah, mengapa harus marah dengan sikap bodohku?" Hinata merasa penat yang selama ini menumpuk di sudut hati, perlahan menghilang.

Sementara itu Naruto mengerjap tidak mengerti, "Apa maksudmu?"

"Seharusnya aku tidak bersikap manja, ada banyak cara untuk pulang tanpa meminta bantuanmu." Hinata melangkah mendekat, melipat tangan di depan dada. Manik perak tanpa gentar menatap lurus pada sepasang permata biru di depannya. "Naruto-kun tidak perlu khawatir, kedepannya aku tidak akan merepotkanmu lagi."

Embusan angin senja menyapu pelan anak rambut berwarna biru gelap. Memaksa Hinata menaruh helaiannya ke belakang kuping. Merasa tidak ada yang perlu dia ucapkan lagi, gadis itu melewati Naruto.

Pria itu berbalik, menatap punggung tegap Hinata yang kian menjauh. Sejak kapan mata ametis berubah menjadi perak seperti bulan di langit malam. Kemana perginya sosok anak perempuan cengeng, selalu berlari menghampirinya, dan mengikuti seperti anak ayam? Apa yang membuat sang gadis berubah setelah beberapa hari tidak bertemu?

.

.

.

Continue...

Favorite, Review, and Follow

Spam next di sini yah 👉

See you guys and Happy New Year 2022~