Sepanjang hari itu, Hinata benar-benar tidak mengacuhkan Naruto. Dia lebih banyak berinteraksi dengan ketiga teman sebaya, bahkan cepat akrab dengan Yahiko, anak yang baru ditemui hari itu. Naruto tidak diam saja, berapa kali dia mencoba mengajak bicara, namun hanya dibalas sepatah dua kata. Lalu dia diabaikan begitu saja, bahkan sampai mereka pulang.
Bulan tengah beranjak naik ketika mobil silver menepi di depan gerbang keluarga Hyuuga. Hinata keluar dari kursi depan, tersenyum manis pada ketiga temannya.
"Wah, aku sudah tahu bahwa klan Hyuuga itu konglomerat," ucap Sai takjub begitu melihat pintu gerbang rumah bergaya tradisional di depan mata. "Tapi aku tidak menyangka gerbang rumahmu saja sebesar ini."
Hinata terkekeh pelan, dia melambaikan tangan pelan. "Terima kasih untuk hari ini, kalian semua hati-hati dijalan."
"Sampai besok Hinata!" gadis berambut pirang tersenyum lebar, Ino duduk paling dekat dengan pintu mobil. Sementara dua laki-laki di sampingnya ikut melambaikan tangan.
Di depan kursi pengemudi, Naruto tersenyum masam, merasa sia-sia dia ikut kumpul hari ini. Hinata bahkan tidak mengucapkan perpisahan padanya, menatap pun tidak. "Kita berangkat," ujarnya ketus memberi tahu lalu melajukan kembali kendaraannya.
Setelah melihat mobil silver menghilang dari jarak pandang, Hinata berbalik. Dia memasuki pekarangan rumahnya, berjalan santai dengan senyum di wajah. Namun saat kakinya sudah berada di teras rumah, gadis itu baru menyadari sesuatu.
Rumah besar Hyuuga tidak pernah sehening ini, juga dia belum melihat seorang pun menyambut kedatangannya. Hinata menoleh ke kanan ke kiri, tidak ada pelayan pengurus rumah, tidak ada penjaga.
Ketika angin malam berhembus pelan, bulu kuduk Hinata meremang bersama aroma manis tercium dari dalam rumah. Sekujur tubuhnya membeku, tekanan darahnya seakan turun drastis membuat kedua telapak tangannya dingin.
Tidak, apa yang dia pikirkan saat ini salah. Tidak.
Hinata tidak ingin apa yang dia khawatirkan terjadi, setelah berhasil memaksa otot tubuhnya bergerak. Gadis itu melesat masuk ke dalam rumah dengan kecepatan tidak biasa. Bahkan membuat Sasori yang menjaganya dari bayangan, terkejut sebelum segera menyusul.
"Ayah, Ibu!" Hinata berteriak histeris, memanggil nama orang-orang yang dia sayangi, "Kak Neji!"
Lorong rumah tampak sepi, sunyi, seakan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hinata berlari, mengikuti aroma semerbak yang sejak tadi menyentak indra penciumannya. Seperti seutas tali merah, membawanya ke tempat di mana asal wangi memabukan itu.
Ketika dia sampai di depan ruang keluarga, manik perak bergetar pelan. Apa yang menyambut Hinata bukanlah senyum hangat dari ibunya, atau tatapan dingin sang ayah, dan senyum menenangkan kakaknya. Tetapi sebuah corak merah memenuhi lantai dan dinding, serta sejumlah jasad tanpa raga menumpuk di tengah ruangan.
Seluruh tubuh Hinata bergetar hebat, "A-ah..., ti-tidak, tidak..., TIDAK!"
Suara teriakan histeris sang tuan membuat Sasori secepatnya menghampiri. "Hinata-sama, ada apa-?!"
Manik coklat madu terbelalak, terdiam, mengalami serangan syok beberapa detik saat melihat pembantaian di depan mata.
"Ayah, Ibu!"
Kesadaran Sasori kembali saat Hinata berteriak, berlari menghampiri tumpukan jenazah. Tangannya bergetar, mendorong beberapa tubuh untuk mencari dengan kalap sosok kedua orang tuanya.
Ketika akhirnya tubuh terakhir disingkirkan, kedua kaki sang gadis kehilangan tenaga. Di depan matanya, dua sosok orang paling dicintai terbujur kaku. Seluruh tubuh dipenuhi luka sayat, kulitnya mengering, seperti darahnya dihisap sampai tak bersisa.
Melihat keadaan Hikari dan Hiashi di depan mata, membuat Hinata hampir gila. Dia mencengkram kepala, menarik rambutnya sendiri dengan air mata mengalir deras. Suaranya tertahan, seakan tidak sanggup untuk berteriak, hatinya sakit dan remuk.
Tubuhnya oleng, jatuh di depan mayat kedua orang tuanya. Perasaannya membuncah, kalut, membuat dirinya mengepalkan kedua tangan dan memukul lantai sekuat tenaga. Kekuatan pukulan Hinata membuat retakan besar, menghancurkan keramik berkeping-keping.
"Tuan Putri," sebuah suara seketika menarik perhatian dua orang di ruang keluarga. Sesosok laki-laki berjubah hitam berdiri di ambang pintu menuju taman belakang.
Sasori terhenyak, sama sekali tidak menyadari aura dari tamu misterius itu. Pria asing itu membuka tudung, memerlihatkan mata perak dengan rambut abu-abu panjang.
"Saya datang menyampaikan pesan dari Yang Mulia Putra Mahkota."
Dua pasang manik rembulan saling bersitatap, dengan dua sinar kehidupan berbeda. Pria itu menatap batu perak sang calon ratu yang kian menggelap tanpa ekspresi. Angin malam berhembus pelan menambah suasana mencekam.
"Akan kutunggu kedatanganmu, wahai pengantinku." ucapnya mengulang kembali apa yang dikatakan sang tuan. "Setiap purnama datang, cawan berisi darah akan terisi, menggantikan dirimu yang tidak jua kembali kedalam pelukanku."
Dari balik jubah panjang, tangan pucat berbalut kain berwarna krem menjulur keluar. Menunjuk tumpukan mayat di depannya. Pria asing itu kembali berujar untuk terakhir kali. "Cawan pertama telah terisi, jangan membuatku menunggu terlalu lama, wahai pengantinku."
Setelah selesai menyampaikan kata-kata tuannya, pria itu membungkuk hormat. Lalu dia tiba-tiba menghindar saat sebuah peluru yang hampir menembus keningnya. Mata perak itu menoleh, menatap perempuan berambut biru gelap, pelaku penembakan.
Moncong pistol perak mengeluarkan asap, poni yang menutupi mata kini terlihat, memerlihatkan kilatan amarah dari sepasang rembulan. Hinata menggeretakan gigi, beranjak berdiri, membiarkan darah keluarganya menodai lutut dan tangan.
"Dasar bedebah!" teriaknya nyaring, memancarkan aura mengerikan tanpa dia sadari.
Sasori jatuh berlutut satu kaki, tidak mampu berdiri akibat tekanan yang diberikan Hinata. Manik coklat madu menatap sang tuan yang tengah berdiri sambil menodongkan senjata api pada pria misterius.
"Katakan pada Tuanmu, seharusnya cukup mengincarku saja, tidak perlu menyentuh orang tuaku. Dasar pengecut!" tanpa rasa takut, Hinata mengatakannya lantang.
Meski sayangnya provokasi itu tidak berpengaruh, pria itu hanya menatap Hinata dalam diam. Namun berusaha keras tidak jatuh seperti Sasori. Aura yang dikeluarkan sang vampir perempuan cukup membuat tubuhnya bergetar pelan.
"Malam dibawah bulan purnama selanjutnya, saya akan menjemput anda lagi." katanya lalu melompat, meninggalkan kediaman Hyuuga.
Hinata yang masih emosi, tidak berniat membiarkan pria itu pergi begitu saja. Dia berlari hendak mengejar dengan dua pistol perak sudah di genggaman. Sasori tersentak, memaksa otot tubuhnya bergerak untuk mengejar.
"Hinata-sama! jangan dikejar!" ucapnya setelah berhasil menahan lengan sang tuan.
Gadis itu menoleh, mengherdik pengawalnya. "Lepaskan aku, Sasori-san!" Aura intimidasi menusuk sang pria tanpa ampun. "Dia pantas mati, aku akan melubangi seluruh tubuhnya, mengoyak kedua tangannya, menusuk jantung dan memenggal kepalanya!"
Butuh seluruh tenaga bagi Sasori untuk melawan aura yang dipancarkan Hinata. Dia tidak pernah mengira, tuannya yang terlihat ramah, lembut, akan seperti ini. Namun siapa yang bisa dia salahkan, kecuali pelaku pembantaian yang telah kabur. Sasori tahu benar bagaimana perasaan Hinata, dia juga sama, telah kehilangan orang yang dia kasihi.
Karena itu, pria berambut merah itu jelas tahu, bagaimana harus menenangkan amarah tuannya. Dia berbisik pelan, "Maaf ketidaksopananku, Hinata-sama." lalu memeluk sang gadis, mengunci perempuan itu dalam dekapannya.
"Tenanglah, Hinata-sama. Tenanglah. Masih ada Neji-sama di sisimu, kita perlu mengabarinya."Sambil menepuk pelan punggung tuannya, Sasori berbisik pelan. "Kalau kau pergi mengejarnya, bagaimana dengan Neji-sama, kau akan membuatnya khawatir. Pikirkan perasaannya ketika tahu orang tuanya meninggal dan adiknya entah di mana."
Perlahan Hinata berhenti memberontak, dia bergeming, menjatuhkan keningnya di dada Sasori. Amarahnya mulai padam, namun berganti dengan rasa pedih, membuat kedua matanya kembali panas.
Isak tangis mulai terdengar, pria itu dapat merasakan bajunya basah. Sasori membiarkan Hinata mencengkram baju bagian punggung, menangis keras dalam pelukannya. Dan dia tetap setia, menepuk pelan punggung mungil dalam dekapan, mencoba menenangkan.
Di hari itu, tepat di bawah bulan purnama dan bintang di langit malam. Tidak hanya keluarga Hyuuga yang mendapatkan kabar buruk. Keesokan harinya, dunia diguncangkan atas berita pembantaian Keluarga Hyuuga Corps, termasuk kematian salah satu Direktur kerajaan bisnis di Jepang.
...
Sejak pagi tamu terus berdatangan, mereka mengunjungi rumah duka keluarga Hyuuga. Semua orang memakai pakaian serba hitam, berwajah muram, dan menangis. Satu persatu mengucap salam perpisahan pada sepasang suami istri yang meninggal secara tragis. Meninggalkan kedua anak mereka yang telah beranjak dewasa.
Neji tidak henti-hentinya menyambut setiap tamu yang datang berkunjung. Raut wajahnya letih, pucat, namun masih berusaha tersenyum dan manyapa ramah. Hinata berada di ruangan dengan dua figura orang tuanya. Memakai Kimono hitam, duduk berlutut, memerhatikan dalam diam setiap orang yang melakukan perpisahan terakhir, lalu menaruh bunga putih di depan foto Hikari dan Hiashi.
"Sunggung malang mereka."
"Kabarnya malam itu terjadi perampokan."
"Mereka sudah mengincar keluarga Hyuuga, tentu saja, dengan harta sebanyak itu."
Hinata menutup mata, mengepalkan kedua tangan, mencoba tidak mengacuhkan rumor yang beredar. Ini adalah keputusan mereka berdua. Malam itu, demi mencegah kebenaran terkuak publik, Neji memutuskan untuk menutupi kematian Hikari dan Hiashi dengan kasus perampokan.
Ini adalah jalan terbaik, namun sudut hatinya tercubit. Karena pelaku dari pembantaian ini malah dialihkan pada orang tidak bersalah, sementara yang asli masih berkeliaran. Menunggu keputusannya di bulan purnama selanjutnya.
"Hinata-chan," suara lembut yang Hinata kenali terdengar serak, Kushina duduk di depan anak dari sahabatnya. Dia memeluk gadis itu, mengusap pelan punggung tunangan anaknya. "Bibi, Paman dan Naruto akan selalu ada disisimu."
Rasa hangat ini terasa nyata, benar, Hinata tidak sendiri. Namun setiap ingatannya kembali teringat pada peringatan pria asing itu.
'Setiap purnama datang, cawan berisi darah akan terisi, menggantikan dirimu yang tidak jua kembali kedalam pelukanku.'
Maka Hinata kembali menarik tangan yang hendak membalas pelukan Kushina. Dia tidak berani menggapai tangan orang-orang disekitarnya. Dirinya terlalu takut, apa yang akan ditemuinya jika dia mengabaikan peringatan itu.
Bayang-bayang Neji, Kushina, Minato, dan Naruto yang terluka menghantuinya.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih," ucapnya tulus walau kini senyum tidak lagi menghiasi wajah cantik Hinata.
.
.
.
Continue...
Favorite Review and Follow
See you guys
