Dua minggu telah berlalu dengan cepat, namun tidak bagi orang-orang yang baru saja ditinggalkan. Hari-hari dilalui Neji dengan bekerja, menggantikan posisi sang ayah sebagai kepala keluarga dan direktur utama Hyuuga Corps.
Jadwal padat sekaligus meeting yang panjang, mengharuskan pria berusia tiga puluh tahun itu menghabiskan hampir seluruh waktunya di kantor. Meski begitu, dia selalu menyempatkan waktu untuk sarapan dan makan malam bersama adiknya.
"Ini adalah list calon pengawal yang Anda minta, Neji-sama." Seorang seketaris muda memberikan map berwarna hitam.
Neji membaca cepat data tersebut, menganalisa kemampuan setiap calon kandidat. Dia memerhatikan dan memilih secara hati-hati, mengingat keselamatan adiknya ada di ujung tanduk.
Dari informasi yang dia dapatkan dari Hinata, juga Sasori. Pria asing yang membunuh Hikari dan Hiashi adalah manusia bulan. Tidak seperti dua vampir sebelumnya, lawan kali ini cukup berbahaya. Dia mampu menghabisi para penjaga veteran yang kemampuannya tidak diragukan.
Neji membutuhkan banyak penjaga berkualitas untuk melindungi Hinata. Dia tidak akan membiarkan tangan kotor vampir itu menyentuh adiknya sehelai rambutpun. Setelah memilih beberapa kandidat, map hitam dia kembalikan pada seketarisnya.
"Pastikan mereka dapat bekerja mulai besok."
Perempuan berambut hijau lumut bermata ametis mengangguk paham. "Baik, Neji-sama." setelahnya dia pamit undur diri.
Neji memutar kursi, menatap ke luar jendela di mana bulan sabit bersembunyi di balik awan. Sekejab dia teringat pembicaraannya dengan Sasori. Siang itu dia memanggil ninja Sunagakure untuk membahas perihal kontrak kerjanya.
.
"Terima kasih sudah melindungi dan menghentikan Hinata saat itu," ujar Neji tulus kepada pria berambut merah yang berdiri di depannya. "Dengan adanya kejadian ini, kau pasti sudah menyadari bahwa misi yang diberikan mendiang Hiashi-sama tidaklah mudah."
Neji menghela napas pelan, manik ametisnya menatap lurus pada sepasang mata sayu di depannya. "Langsung saja, aku ingin bertanya padamu Sasori-san. Apakah kau masih bersedia menjadi pengawal Hinata? karena lawan yang kami hadapi, bukanlah manusia biasa, melainkan bangsa vampir."
Jika Sasori berniat mengundurkan diri, maka Neji akan menghargai keputusannya.
Pada dasarnya ninja adalah seorang mata-mata, tugas mereka adalah menyusup dengan atau tanpa suara. Tugas mereka juga menjadi penjaga dibalik bayangan, bukan menjadi seorang pejuang di garda depan untuk melawan mahluk kelelawar jejadian.
Bisa dibilang ini adalah misi mustahil bagi seorang ninja.
"Saya ingin tetap melindungi, Hinata-sama."
Jawaban Sasori membuat Neji bernapas lega, sekaligus cemas. Dirinya sudah menaruh kepercayaan tanpa disadari pada pria di depannya. Tetapi juga khawatir, jika kemampuan ninja terkuat dari Sunagakure tidak mampu menandingi para vampir.
"Terima kasih atas keputusanmu, dan aku mohon, tolong jaga adikku baik-baik, Sasori-san."
.
Manik ametis memejamkan mata, menarik napas lalu menghembuskannya perlahan. Sebenarnya ada perasaan menyesal di sudut hati. Neji berharap adiknnya akan melakukan seperti yang disarankan sang ayah, sebelum kematian menjemput beliau.
Jika saja Hinata dan Naruto bersama, melakukan ritual sakral itu. Maka para manusia bulan mungkin akan menyerah untuk membawa adiknya ke bulan, jua tidak ada darah yang tumpah. Namun Neji tahu pasti, bahwa orang yang paling menyesal dan menyalahkan diri atas tragedi ini, adalah sang adik.
"Apapun keputusanmu, Hinata. Aku akan mendukungmu, selama kau aman dan bahagia nantinya."
...
Akibat jendela terbuka tanpa suara, membuat tirai berwarna lilac melambai pelan terhembus angin malam. Sasori dengan jaket hitam serta celana coklat seperempat berdiri di samping ranjang. Manik coklat madu memerhatikan dalam diam sosok perempuan cantik berkulit putih gading yang tengah tertidur.
Rambut panjang serupa langit malam tergerai, sedikit menutupi wajah saat Hinata bergerak gelisah dalam tidurnya. Dia memiringkan badan, menghadap Sasori. Sesekali bibir tipis itu bergumam, lalu setetes air mata jatuh.
Sasori melangkah tanpa suara, duduk di tepi ranjang, tanpa melepaskan tatapannya. Dengan hati-hati, jemari pria itu merapikan anak-anak rambut yang menutupi pipi putih sang gadis. Lalu dia juga menyeka butiran air mata dan jejak hujan pada pipi Hinata dengan ibu jarinya.
Sang tuan selalu bersedih dan menangis dalam tidurnya. Lalu menjalani hari dengan menutup luka rapat-rapat. Enggan menerima uluran tangan, maupun menyeruakan isi hati.
Semula Sasori menerima misi atas perintah Kazekage, menganggap dirinya hanya menjaga seorang gadis biasa. Tidak pernah mengira, bahwa apa yang dia hadapi kini menjadi pelik. Dan juga terkejut akan keputusannya sendiri untuk tetap melindungi Hinata.
Sebenarnya mengapa dia melakukan ini, apa alasan Sasori enggan menjauh dari Hinata?
...
Seperti biasa Neji masih tetap mengantar Hinata ke kampus. Saling melempar candaan satu sama lain, sebelum berpisah dan menjalani rutinitas masing-masing. Di kejauhan Naruto muncul dari parkiran mobil, menatap dari jauh kakak beradik Hyuuga.
Setelah mobil sedan hitam pergi menjauh dan Hinata memasuki area kampus, Naruto segera menghampiri.
"Hinata!"
Gadis itu berbalik, tatapan mata dan gestur tubuh Hinata terlihat begitu elegan di mata Naruto. Apakah selama ini teman masa kecilnya memang seperti itu? Ataukah karena banyaknya hal yang terjadi membuatnya berubah drastis.
"Selamat pagi, Naruto-sensei." sapaan sopan Hinata menusuk sudut hati sang pria. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Ti-tidak biasanya kau bersikap formal padaku," buyar sudah apa yang ingin Naruto katakan. Panik menyerang membuatnya salah tingkah.
"Ah! apa kau membawa bekal untukku? sudah lama sekali terakhir kali aku menerima makan siang darimu-"
"-Naruto-kun," Hinata memotong cepat, manik perak menatap lurus, datar dan dingin. "Bukankah dulu kau pernah bilang untuk tidak mengharapkanmu? karena Naruto-kun hanya menganggapku adik?"
Pria pirang itu tidak bisa membantah, dia menggaruk tengkuknya tanpa sadar. "I-itu...,"
"Setelah aku memikirkannya beberapa hari ini, aku setuju dengan perkataanmu." Hinata menghela napas pelan, "Sekarang aku hanya punya Kak Neji, mengejar pria yang tidak mencintaiku hanya akan membawa luka. Dan juga membuatku tidak bisa melihat orang-orang yang menyayangiku secara tulus. Aku tidak ingin menyesal, dan baru sadar setelah kehilangan."
"Karena itu mulai sekarang, aku akan hidup untuk orang-orang yang peduli padaku."
Pria pirang itu tertegun sesaat, "Apa alasanmu menghindariku karena itu?"
"Tidak, aku pikir lebih baik menjaga jarak adalah pilihan terbaik saat ini."
Naruto mendesah pelan, pelipisnya berkedut pelan. "Pilihan terbaik buat siapa? tiba-tiba menghindar dan mendiamkan ku, memang kau pikir enak diperlakukan seperti itu?"
"Aku hanya bersikap seperti yang kau inginkan," Hinata mengerutkan kening, tidak mengerti. "Memberimu jarak, tidak membuatkan bekal seperti yang kau minta, dan aku sudah janji tidak akan merepotkanmu lagi. Seharusnya Naruto-kun senang, mengapa malah marah?"
"AKU TIDAK MARAH!" suaranya meninggi, lalu tersadar saat mendapat tatapan dari beberapa murid. "Pulang nanti biar aku antar, kita perlu bicara."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan,"
"Ada!" timpal Naruto dan memberi penekanan pada kata-katanya. "Tentang hubungan kita, tentang perjodohan kita, dan perasaan kita."
Dua pasang manik berbeda warna itu bersitatap, Hinata menatap dalam sebelum dia menghela napas pelan. "Baiklah, aku akan menunggu di tempat biasa."
"Tempat biasa?" Naruto berusaha memutar otak, mengingat kembali. "Ah, bangku taman belakang."
Setelahnya Hinata mengangguk kecil, lalu pamit undur diri. Naruto masih bergeming, menatap punggung mungil yang masuk ke dalam gedung bertingkat tiga. Getaran di saku celana dia rasakan, tangannya merogoh ponsel, membaca sebuah pesan singkat.
'Ada yang ingin kubicarakan, apa besok kau sibuk?'
Naruto menghela napas, sepertinya dirinya pun bisa menebak apa yang ingin dibicarakan Neji. Dia lalu mengetik balasan, lalu menaruh kembali ponsel dan memasuki kampus.
...
Suara percikan dan genangan air terdengar di sebuah ruangan minim cahaya. Seorang laki-laki berjubah hitam membuka pintu, menghampiri seorang pria di ujung ruangan, dan berlutut satu kaki. Tudung kepala dilepas, memerlihatkan rambut panjang berwarna abu-abu.
"Apa kau sudah membawa obatnya?"
Pria itu mengangguk, mengeluarkan botol kaca kecil berisi cairan kental berwarna perak. Dia memberikannya pada sang tuan yang duduk di depannya. Sosok pemuda dengan kemeja dan celana hitam, separuh wajahnya tidak kelihatan akibat minimnya penerangan.
Kulit tubuhnya putih pucat, dia tersenyum tipis saat menerima botol tersebut. Setelah membukanya, dia menegak sampai tandas isi cairan.
"Misi kali ini benar-benar menyusahkan," keluhnya usai membuang sembarang botol kaca. "Seharusnya kita membawanya secara paksa, dengan begitu aku tidak perlu menderita setiap hari dibawah sinar matahari."
"Putra Mahkota meminta kita untuk memberikan pelajaran bagi calon ratu. Supaya kelak, beliau tidak melakukan pemberontakan di bulan."
"Aku tahu, Momoshiki!" herdik pria tersebut, dia memijat pelan pelipisnya. "Kapan bulan purnama selanjutnya?"
"Tujuh hari dari sekarang, Tuan," jawab Momoshiki. "Jika sampai hari itu belum ada jawaban juga, maka saya akan melakukan sesuai perintah."
Pria itu mengangguk paham, maniknya menatap ke arah luar jendela. Malam semakin larut dan bulan bersinar terang. Dia berharap tugasnya bisa cepat selesai, berada di bumi sama halnya seperti di neraka.
"Tidakkah kau penasaran, bagaimana rasanya hidup di bumi?"
Matanya terpejam ketika mengingat kembali saat Toneri memandang bumi penuh damba. Setelah pulang nanti, dia akan berkata tegas pada sahabatnya itu, bahwa hidup di bumi sama halnya berada di neraka.
Langit di sini memang lebih indah, namun tidak dengan udaranya. Setiap tarikan napas dirinya seakan tenggelam, paru-parunya berat dan sesak. Terlalu banyak suara, kebisingan itu hampir membuat dirinya gila saat pertama kali turun ke bumi.
Hidup di bumi sama sekali tidak ada baiknya. Namun sebersit sosok perempuan bermata hijau toska menyadarkannya. Bahwa setidaknya ada satu hal baik yang dia temui.
.
.
.
Continue...
Review Favorite dan Follow
Spam next di sini yah 👉
See you guys
