Tabrakan keras terjadi, ketika tubuh kurus terayun dan menabrak dinding separuh retak. Momoshiki memuntahkan darah pekat, tersengal, menahan nyeri di punggung. Mata ametis khas manusia bulan melirik pada sosok di depan, wanita cantik bermandikan cahaya bulan.

Sang ratu akhirnya bertindak seperti ratu.

Momoshiki menarik senyuman lebar, merasa terhormat dapat melihat sosok agung dari calon pendamping raja-nya. Pria pucat itu berdiri sempoyongan, dapat dia rasakan tubuhnya remuk akibat satu serangan tadi. Kekuatan darah putri bulan tidak main-main.

"Ayo kita kembali ke bulan, Yang Mulia! Pangeran Mahkota juga rakyat tidak sabar menyambut Anda!" Momoshiki berteriak, dia dipenuhi semangat ketika membayangkan para bangsa bulan bersorak menyambut pernikahan yang telah mereka nantikan ratusan tahun lamanya.

Ajakan itu disambut Hinata dengan menghujam dada Momoshiki bagian kiri. Pria itu membulatkan mata, merasakan jantungnya dicengkram, dan hendak dicabut paksa. Raungan amarah membelah langit malam, dengan kedua tangan, dia berusaha menahan tangan Hinata. Dia tidak boleh mati sebelum membawa pulang Sang ratu.

Manik ametis bersinar terang, Hinata menjilat bibir atasnya. "Bumi adalah tempatku, enyah kau!"

Dalam sekali tarikan, jantung itu tercabut dari akarnya, bersama darah segar menyembur keluar. Hinata menatap benda sebesar kepalan tangan yang bedetak pelan, lalu menghancurkannya. Dan teriakan penuh kesakitan itu menjadi suara terakhir di malam ini, usai kepalanya ditebas oleh sang dewi malam.

Hinata menatap jasad Momoshiki perlahan berubah menjadi abu. Manik ametisnya kini berwarna perak dan bersinar itu tampak kosong. Tidak menyangka semudah ini dia membunuhnya, padahal menit lalu setengah mati dia berusaha menggoreskan luka di wajah pria sialan ini.

Hinata menatap kedua tangannya yang telah kotor oleh darah, bukan darahnya, namun darah Sasori dan Momoshiki. Ketika mendengar suara seperti benda jatuh, dia melirik. Sosok Naruto jatuh terduduk dengan wajah pucat pasi. Tubuhnya bergetar, sepertinya mengalami syok hebat dan tatapan mata biru laut itu...

Pemilik darah putri bulan membuang muka, berjalan menghampiri Sasori. Dia memeriksa denyut nadi sebelum menggendong sang pemuda. Hinata tidak memberi sepatah kata perpisahan pada Naruto yang masih membeku, dan pergi begitu saja, menghilang bersama desau angin malam.

Setelah kepergian Hinata, barulah pemuda pirang tersadar dan tersentak pelan. Dia memukul keras lantai, mengepalkan kedua tangannya erat hingga buku-buku jari memutih. Naruto frustasi, memikirkan dia yang terlambat bertindak, dan juga merasakan takut ketika bersitatap dengan Hinata.

"Sialan!"

Sekali lagi dia memukul keras lantai yang dingin.

...

"Hinata! dengarkan penjelasanku, aku mohon!"

Langkah berat seperti berjalan di atas air, tangan terulur hendak menggapai. Sosok cantik perempuan berambut biru gelap di bawah sinar rembulan. Dia berbalik, menatap dingin, mulutnya terbuka, seperti mengatakan sesuatu.

Riing~ Riing~

Kedua mata biru laut terbuka lebar, napasnya berderu seperti habis berlari, tubuhnya basah oleh keringat. Naruto mengerang pelan, menutup wajah dengan kedua tangan sebelum beranjak dari kasur dan mematikan alarm pada ponsel di atas nakas.

Pagi datang seperti biasa, Naruto melakukan aktivitasnya seperti biasa, datang ke sekolah, mengajar, membuat materi, lalu kembali pulang. Semua tetap sama, kecuali bangku ke tiga dibarisan pertama ruang kelas, sudah tiga hari ini kosong. Pemiliknya absen tanpa keterangan apapun, tanpa penjelasan apapun, menghilang seperti ditelan bumi.

Naruto sudah mencoba menghubungi Hinata, mengirim pesan, menelpon, dan suara operator selalu menjawabnya. Sepulang sekolah pria itu segera berlari menghampiri Yamana Ino di tengah lorong kampus.

"Yamanaka-san, maaf menghentikanmu, tapi..., ada yang ingin aku tanyakan."

Ino menatapnya datar, seakan tahu apa yang ingin ditanyakan dosen muda ini. Tiba-tiba perasaan takut menghinggap, Naruto takut kecewa mendengar jawaban muridnya ini.

"Sensei?"

ini suara Sai, pria berambut hitam dan berkulit pucat itu ternyata sejak awal ada di samping Ino. Naruto sama sekali tidak menyadari karena fokusnya terarah pada gadis berambut pirang muda. Pria itu berdehem, mencoba mencairkan rasa gelisahnya.

"A-apa kau tahu di mana Hi-"

"Tidak tahu!" Ino menyahut cepat tanpa menunggu Naruto menyelesaikan pertanyaannya.

Manik hijau toska menatap galak, bibirnya terkatup rapat bersama kepalan tangan seakan siap meninju wajah Naruto. Dia mengambil satu langkah, lucunya sang dosen mundur dua langkah.

"Harusnya aku yang tanya, di mana Hinata? kenapa dia tidak menjawab pesan dan telponku?" Ino mulai mencerca sambil menusuk pundak Naruto. "Kau itu tunangannya, kenapa setiap Hinata tidak ada kabar, kau malah tanya sana sini seperti anak hilang."

Naruto bungkam, mata birunya melirik ke arah lain, tidak berani beradu tatap dengan Ino. Gadis cantik itu menghela napas pelan, bersedekap, memandang tajam.

"kalau Hinata membatalkan perjodohan kalian, aku tidak akan kaget. Buat apa dia berjuang sendirian, lebih baik cari pria lain."

Perkataan Ino menohok tepat sasaran, semua seperti batu besar yang menghantamnya tanpa ampun. Rahang pria itu mengeras, darahnya berdesir ke kepala, antara marah dan malu campur jadi satu.

"Sudah?" Naruto bertanya dengan suara rendah. "Kalau kau tidak tahu di mana Hinata, cukup diam. Tidak usah banyak bicara, ini masalah antara aku dan Hinata, kau itu orang luar, Yamanaka-san."

"Iya, aku ini orang luar, jadi kenapa tanya ke aku?!"

Sai segera mendekat, menahan lengan Ino ketika gadis itu meninggikan suaranya. Mereka berdua sontak menjadi pusat perhatian.

"Sst! sudah, ayo kita pulang, Nona cantik." Sai berusaha merayu, berharap menghentikan pertengkaran ini.

Ino masih ingin meluapkan amarahnya, namun lengan Sai yang merangkulnya dari belakang berhasil menahannya. Akhirnya untuk terakhir kalinya, gadis itu berucap lambat-lambat, "Daripada nyakitin sahabatku terus, jauh-jauh kau dari Hinata!"

Ino berbalik, berjalan cepat meninggalkan Naruto. Sebelum menyusul gadis itu, Sai sempat menatapnya dan berkata dengan senyum lebar.

"Kenapa Anda tidak menyerah saja?"

Manik biru laut membulat, sontak melihat Sai yang telah pergi menyusul Ino.

Menyerah?

Haruskah Naruto menyerah mengejar Hinata? menyerah untuk mengembalikan hubungan yang sudah retak? menyerah pada segalanya?

.

"Mohon maaf, Namikaze-sama. Saat ini Neji-sama dan Hinata-sama sedang pergi ke luar kota." Pria paruh baya selaku seketaris Hyuuga Neji menjawab, ketika pria pirang itu datang ke perusahaan Hyuuga.

"Bisa kau katakan padaku, dimana mereka menginap? aku akan menyusul mereka."

Pria itu menggeleng, dan kembali berkata sopan. "Mohon maaf, Namikaze-sama. Tetapi Tuan Muda sudah memerintahkan kalau beliau tidak ingin diganggu siapapun."

"Aku bukan siapapun! aku ini Namikaze Naruto! tunangan dari Hyuuga Hinata, jadi cepat beritahu aku!" Naruto yang tidak bisa menahan amarahnya, kini menghentak pria paruh baya itu.

Namun jawaban sang seketaris tetap sama. "Silahkan kembali, Namikaze-sama."

Naruto kembali dengan penolakan ketiga kalinya. Pria itu memandang gedung pencakar langit di depan. Perusahaan besar yang sudah seperti tempat bermainnya sewaktu kecil. Dia tidak menyangka akan tiba saat dimana dia menerima sambutan dingin, dan tembok besar penghalang seperti ini.

"Brengsek!" Naruto mengebrak kap mobil sportnya, giginya bergemeletuk menahan kesal.

"Kau di mana, Hinata?"

...

Embusan angin menyelinap masuk lewat celah jendela yang terbuka. Anak-anak rambut jatuh di kening sang gadis yang menunduk. Manik matanya menatap lurus pada sosok pria berambut merah tengah tertidur lelap. Sudah beberapa hari berlalu semenjak Sasori berhasil melewati masa kritisnya, namun pria itu belum juga membuka mata.

"Hinata, kau harus makan."

Neji menyodorkan sepiring sandwich dan juga sekotak darah binatang berlabel susu rasa strawberry. Kepala keluarga muda tidak tahu, apa yang adiknya inginkan. Jadilah dia menyodorkan dua jenis makanan itu dengan harapan Hinata makan walau sedikit.

Masih jelas dalam ingatannya, ketika Hinata tiba-tiba muncul di depannya dengan penampilan berantakan. Belum cukup keterkejutannya, Neji dibuat panik dengan kondisi Sasori dalam gendongan adiknya. Malam itu mereka pergi ke rumah sakit langganan keluarga Hyuuga yang tidak diketahui pihak manapun kecuali keluarga inti.

Hinata melirik sekilas saat Neji duduk di sampingnya, ikut menatap Sasori.

"Kau tidak sedang menyalahkan dirimu sendiri, kan adikku?"

Gadis itu menggeleng pelan, menghela napas pelan. "Sasori-san pasti tidak akan suka, aku seperti itu."

Neji mengangguk setuju, "Baguslah, kalau begitu dimakan dong, atau mau Kak Neji suapi?"

"Merugikan orang lain, atau merugikan keluarga sendiri." Hinata tiba-tiba berkata sambil menatap kakaknya yang tengah memotong sandwich, "kak Neji akan pilih yang mana?"

"Merugikan orang lain," Neji menjawab cepat tanpa perlu berpikir lama. "Bagiku, keluarga adalah yang utama, aku tidak peduli jika dicap kejam selama keluargaku baik-baik saja."

Sejenak Hinata terdiam memandangi kakaknya, lalu beralih pada Sasori. "Bertarung dengan Momoshiki menyadarkanku pada satu hal, bahwa selama ini aku belum mengerahkan kekuatanku sepenuhnya. Aku adalah vampir, dan aku butuh darah manusia bukan hanya untuk bertahan hidup."

Manik rembulan perlahan berubah perak dan bersinar pelan, Hinata telah membulatkan tekadnya. "Aku akan melakukannya, perjanjian darah."

.

.

.

Continue..
Jangan lupa review yah, Terima kasih :)