Dua bulan kemudian...
Universitas Kajian Asing Tokyo pagi ini sudah mulai ramai, sepertinya Sebagian murid hari ini memiliki kelas pagi. Dedaunan di sepanjang jalan menuju lobi bangunan luas itu mulai menguning, tanda musim panas sudah di penghujung, siap berganti menjadi musim gugur.
Sebuah mobil sedan hitam memasuki area universitas. Setiap mata memandang terbelalak, mereka sudah hapal diluar kepala milik siapa kendaraan besi itu. Beberapa diantara mereka bahkan sudah berlari mengejar, berniat memuaskan rasa penasaran dan tebakan mereka.
Setelah kendaraan menepi, pintu di samping kemudi terbuka. Seorang pria muda berambut merah, bermata coklat dan berpakaian serba hitam terlihat. Penampilannya berhasil menjatuhkan hati beberapa mahasiswi yang melihatnya. Kemudian dia membuka pintu belakang, mengulurkan tangan untuk membantu seorang gadis keluar dari dalam mobil.
"Astaga! Apa benar itu Hyuuga Hinata?" pekik salah satu murid perempuan yang melihat.
Hyuuga Hinata yang mereka tahu, adalah sosok perempuan manis, anggun, lemah lembut seperti putri dongeng. Namun gadis yang berdiri bersampingan dengan pria berambut merah itu ...
"Cantik sekali...,"
Semua mengangguk setuju pada suara yang berhasil mewakili perasaan mereka. Hyuuga Hinata dengan rambut panjangnya yang tergerai hingga punggung, mengenakan celana bahan dan blazer berwarna hitam dengan bluise violet. Penampilannya sekilas seperti Wanita karir, penuh karisma, namun semakin dilihat dia terlihat seperti seorang ratu.
Ya, mereka yang melihat Hinata memiliki kesan serupa, Wanita muda di depan mereka bukan lagi putri dongeng dalam cerita.
Dia adalah ratu.
...
"Hinata!"
Seruan lantang terdengar di kejauhan sebelum seseorang melompat dan memeluknya. Yamanaka Ino hampir menangis, dia meluapkan perasaan sesak yang sudah dia tahan hampir dua bulan lamanya. Rasa cemas, takut, Ketika sahabatnya tidak ada kabar apapun.
Hinata menepuk pelan punggung yang bergetar, merasa terharu dan bersalah karena membuat Ino mencemaskannya. Dia berbisik pelan, mencoba menenangkan sahabat karibnya. Tak lama manik ametis bertemu pandang dengan sepasang mata sekelam arang.
Sai tersenyum hingga matanya menyipit, senyumnya masih sama seperti dulu, seperti sebuah kepalsuan. Namun kata-kata yang dia ucapkan setidaknya terdengar tulus.
"Senang melihatmu Kembali, Hyuuga-san."
"Terima kasih sudah menemani Ino selama aku tidak ada, Sai-san." Hinata menyeringai tipis, "Jadi selama aku tidak ada, bagaimana pendekatan kalian berdua?"
Mendengar perkataan Hinata sontak membuat Ino melepaskan pelukannya. Dia mengusap air mata dengan lengan baju, namun ditahan oleh Sai, kemudian pria berkulit pucat itu memberikannya sapu tangan. Wajah Ino berubah merah, lalu menerimanya dengan tergagap. Hinata tersenyum lebar melihatnya.
"Lupakan soal kami, aku ingin tahu kemana saja kau selama ini, Hinata?"
"Ah~ ada banyak hal yang terjadi," ungkap Hinata sambil melirik Sasori yang sejak tadi ada di sampingnya, diam memerhatikan.
Wajahnya tanpa ekspresi, namun Ketika dilirik Hinata, wajah pria itu berubah semerah rambutnya. Dia pun berpaling karena tidak kuat ditatap lama-lama.
Hinata terkekeh pelan, lalu fokusnya Kembali pada sang sahabat. "Aku membantu Kak Neji mengurus pekerjaan di kantor cabang. Sibuk sana-sini sampai lupa memberi kabar padamu, kalau pertunanganku dengan Namikaze-san dibatalkan."
Ino mengangguk berulang kali, mencerna informasi yang diberikan Hinata. Tidak lama kemudian maniknya terbelalak.
"KALIAN BATAL TUNANGAN?!"
Ino sontak menutup mulutnya Ketika tanpa sadar suaranya naik beberapa oktaf. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang berada di Lorong universitas menoleh Ketika mendengar suara besar Ino. Lalu tanpa bisa dicegah berita ini pasti akan menyebar luas dalam waktu singkat.
Hinata meringis pelan, belum sejam dia berada di area sekolah sudah membuat kepalanya pusing. Ino ikut meringis, wajahnya memelas merasa tidak enak karena dia menjadi penyebabnya.
"Sudahlah, aku juga tidak ada niatan untuk menutupnya. Aku hanya berharap tidak ada masalah yang datang setelahnya."
"Benar, masalah apa yang akan datang ketika satu universitas tahu bahwa pertunangan kalian dibatalkan?" Ino mengangguk sambil mencoba memberikan pikiran positif.
"Omong-omong aku baru lihat wajah baru ini, kau siapanya Hinata?"
Sasori segera memberikan gestur sapaan formal pada Ino ketika mata toska itu melihatnya penasaran.
"Perkenalkan saya Sasori, pengawal pribadi Nona Hinata."
Manik toska Ino berbinar tanpa melepaskan pandangannya terhadap Sasori. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu yang pastinya hanya imajinasi sang gadis. Sebelum pikirannya terlalu jauh melalang buana, Hinata hendak menyadarkan sahabatnya itu, namun suara lain mendahuluinya.
"Hi-Hinata!"
Suara berat dan sedikit serak, suara yang sudah tidak asing ditelinga mereka berempat. Siapa lagi jika bukan mantan tunangan putri tunggal Hyuuga, yakni Namikaze Naruto.
Manik biru itu bergetar bersama napas tersengal, sepertinya dia habis berlari setelah mendengar kedatangan Hinata dari mulut murid-murid. Pemuda pirang itu melangkah menghampiri, namun seseorang lebih dulu menghadangnya.
Sasori maju selangkah, menutupi pandangan Naruto dari Hinata. Begitu pula dengan Ino, gadis itu berdiri di depan Sasori dengan tingginya yang hanya sepundak sang pria.
"Kau mau apa lagi?" Ino bertanya dengan nada sewot.
"Aku perlu bicara dengan Hinata," jawab Naruto tegas dan hendak melangkah.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, bukannya kalian sudah tidak ada hubungan lagi?" Ino tidak dengan mudah bisa dilewati, dia masih menghadang dengan tubuh kecilnya.
Naruto mendesah pelan, dia hendak mendorong pelan pundak Ino agar gadis itu menjauh. Namun belum sempat tangannya mendarat, seseorang sudah menepisnya kuat. Manik biru laut mengerjap beberapa kali, menatap sosok pria berambut hitam sang pelaku penepisan tangan.
"Tidak pantas rasanya, seorang dosen menyentuh muridnya sendiri."
Perkataan itu membuat Naruto tergagap, merasa telah melanggar norma dan hal itu membuatnya mundur dua Langkah.
Hinata yang berada paling belakang menghela napas pelan. Dia tersenyum senang melihat usaha teman-temannya, namun ini adalah masalah antara dirinya dengan Naruto. Maka itu, dia menarik pelan ujung jas Sasori, meminta pengawalnya untuk mundur.
Dari tatapan mata Sasori terlihat jelas dia enggan melakukannya, namun dia tetap menurut. Pria itu mengambil langkah mundur, tanpa lupa memberikan tatapan mematikan pada pemuda pirang.
Hinata tersenyum kecil pada Ino, meminta temannya untuk mundur sebelum ia berdiri di depan Naruto, saling tatap.
"Baiklah, ayo kita bicara, empat mata, dan ini akan jadi yang terakhir kalinya."
...
Di taman belakang kampus, tempat dimana mereka selalu bertemu untuk memberi dan menerima makan siang buatan Hinata. Mereka berdiri di depan kursi panjang berwarna putih, tempat biasa mereka duduk dan makan siang bersama. Tidak ada yang berubah, semua tetap sama, kecuali status dan perasaan mereka sekarang.
"Selama dua bulan terakhir kau dimana? Aku tidak bisa menghubungimu, aku tidak bisa bertemu dengan Neji-san, kalian hilang seperti ditelan bumi."
Naruto memulainya dengan deretan pertanyaan yang sudah memenuhi isi kepalanya beberapa minggu lalu.
"Kami ada di rumah sakit keluarga inti Hyuuga. Kau sendiri ada di sana, menjadi saksi bagaimana malam itu berubah kacau saat pria asing berambut putih menyerang. Tentu kau tidak berpikir kalau kami baik-baik saja, bukan?"
Naruto mengepalkan ke dua tangan, dia sama sekali tidak bisa melupakan kejadian malam itu. Karena itu dia mencoba mencari Hinata, mengkhawatirkan kondisinya meski terakhir kali yang dia ingat, Hinata baik-baik saja.
"Benar, kalian pasti tidak baik-baik saja. Tapi karena itu, aku mencemaskanmu! Setidaknya kau bisa menjawab pesanku, atau meneleponku!"
Kening Hinata mengerut samar, dia bersedekap dada. "Untuk apa?"
"Eh?"
"Untuk apa aku menghubungimu? Ino yang merupakan teman dekatku saja tidak ku beritahu."
Hening sejenak, Hinata masih menunggu, apa lagi pembelaan yang akan pria itu berikan. Sampai tiba-tiba kalimat yang tidak pernah dia dengar sebelumnya keluar dari mulut mantan tunangannya.
"Karena aku menyukaimu! Aku sayang padamu! Aku sangat menyesal karena aku telat menyadarinya, Hinata!"
Hinata tertawa pendek, tubuhnya perlahan gemetar akibat mencoba menahan emosi.
"Kau menyukaiku? Setelah lima belas tahun dan baru sekarang?" Hinata bertanya bertubi-tubi, manik ametisnya berkilat sesaat. "Itu bukan cinta, tapi kesalahpahaman. Naruto-kun tidak mencintaiku, kau sendiri yang bilang pria yang bisa membahagiakan aku bukan dirimu."
Hinata kembali tertawa pendek, sialan, air matanya hampir tumpah.
"Kau berpikir aku akan terus menyukaimu selamanya? Kau tidak menerimaku, tapi kau juga cemburu pada Sasori-san."
"Jangan bicara sembarangan, aku jelas tahu bagaimana perasaanku!" Naruto menyela tiba-tiba.
Hinata menghela napas pelan, dia lelah, lelah menghadapi ketidak dewasaan Naruto terhadap hubungan mereka.
"Lalu aku harus bagaimana? Aku menyukaimu sudah 15 tahun, tapi kenapa baru sekarang? Kenapa saat aku sudah memutuskan Bersama Sasori-san?!"
Manik biru laut melebar sempurna ketika mendengarnya. "Ini tentang kita, tidak usah membicarakan orang lain. Sasori hanya pengawal pribadimu!"
"Justru sekarang kaulah orang lain disini!"
Lagi Naruto bungkam, dan membiarkan Hinata kembali menikamnya dengan fakta yang berusaha dia tolak.
"Kau sudah tahu aku ini bukan manusia biasa, kau ada disisiku pun apa yang bisa kau lakukan, Naruto-kun? Sekarang kata 'kita' adalah aku dan Sasori-san. Dia lebih bisa diandalkan daripada dirimu dan lebih baik menjagaku yang selalu dikejar manusia bulan."
Hinata menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Terima saja, Naruto-kun. Hubungan kita sudah selesai, jadi aku mohon... berhentilah."
"Aku sudah muak, Naruto-kun."
.
.
.
Continue...
Bab ini Naruhina nge-drama dulu
Jangan lupa Vote dan Komen yah, Terima kasih :)
