"Kau bukan sekadar pengawal pribadi, Hinata kan?"

Sasori mengerjap dua kali, melirik ke samping, bertemu pandang dengan Ino yang menatapnya penuh binar keingintahuan. Pemuda berambut merah itu memiringkan kepalanya sedikit, memasang raut heran.

"Aku mencium bau-bau cinta bertepuk sebelah tangan," sambung Ino ketika lawan bicaranya tidak mengerti pertanyaan sebelumnya.

"Anda salah paham, saya hanya pengawal pribadi, Nona Hinata."

"Kau tidak perlu menutupinya, jelas sekali aku melihat bagaimana kalian berdua saling tatap." Ino masih berusaha menyudutkan, dia sama sekali tidak keberatan jika tebakannya benar.

Sai maju selangkah, wajahnya masih memasang senyum penuh kepalsuan. "Ino benar, aku bisa mencium ada sesuatu yang istimewa dengan hubungan kalian berdua."

Sasori menggelengkan kepalanya, tidak mau membuang waktu percuma dengan permainan interogasi mereka berdua, sang pemuda pamit menyusul tuannya.

"Hei! Aku mendukungmu, wahai pengawal berkuda putih!" seru Ino sambil melambaikan tangan ketika Sasori berlalu pergi.

Sai menoleh, menatap perempuan cantik di sampingnya. "Bagaimana kau tahu kalau mereka ada sesuatu?"

Ino menyeringai jahil, "Intuisi perempuan itu tajam, loh!"

"Berarti kau juga sadar dengan sikapku padamu, kan?"

Ino terdiam, perlahan wajah putihnya berubah merah dan gadis cantik itu memilih melarikan diri, meninggalkan Sai yang akhirnya terkekeh melihatnya.

...

"Aku sudah muak..., Naruto-kun."

Hinata mengepalkan kedua tangan ketika berucap, dia mencoba mendorong, menutup pintu hati rasa bersalahnya. Dia harus pergi, jika terlalu lama di sini, mungkin isi hatinya akan menerobos keluar dan tidak bisa lagi dibendung.

Wanita muda itu berbalik, hendak meninggalkan tempat yang menjadi saksi bisu hubungan mereka selama hampir 3 tahun lamanya di universitas ini.

"Kau mau kemana, Hinata? Kita belum selesai bicara!" Naruto menahan tangan Hinata, memaksa gadis itu berbalik menatapnya.

"Aku bukan lagi laki-laki lemah yang tidak bisa apa-apa, aku bisa kau andalkan lebih dari pengawalmu. Cukup beri aku kesempatan dan akan aku buktikan, Hinata."

"Aku tidak minta pembuktian darimu, Naruto-kun!" gadis itu menepis kasar tangan yang dulu ingin digenggam selamanya. "Aku hanya memintamu berhenti melakukan ini semua."

Hinata maju selangkah, menarik kasar dasi Naruto agar pria itu menunduk, kemudian tanpa aba-aba gadis itu menancapkan taring di leher. Rasa sakit, nyeri dan terkejut membuat Naruto mengaduh dan tersentak pelan. Perlahan Naruto dapat merasakan darahnya mengalir keluar dari dalam tubuh. Kepalanya terasa pening, kedua lututnya melemas, dan keringat dingin turun dari pelipisnya.

Sekitar dua menit Hinata meminum darah Naruto sebelum dia melepaskan taring dari leher jenjang sang pemuda. Vampir muda itu mundur satu langkah, menyeka sisa darah di sudut bibir dengan ibu jari tanpa dia tahu bagaimana pesonanya di mata Naruto.

"Aku berbeda dari Hinata yang kau kenal, Naruto-kun. Kau hanya akan jadi beban dalam hidupku jika masih keras kepala."

Merasa tidak ada lagi yang harus dibicarakan, gadis itu berbalik, meninggalkan Naruto yang mematung sambil memegang leher dimana terdapat jejak gigitan Hinata.

...

Langkah kaki sempoyongan, lututnya lemas, tenggorokannya perih dan panas hingga membuat seluruh tubuh rasanya terpanggang di atas teriknya Matahari. Selama ini Hinata tidak pernah merasa perlu bersembunyi saat siang hari, karena dia bisa berjalan seperti manusia pada umumnya. Jelas dia berbeda dari vampir kebanyakan atau yang ada di film-film. Para manusia malam yang akan terbakar jika terkena sinar matahari langsung.

Namun kini dia mengalaminya, rasa sakit, perih di kerongkongan setelah memaksa meminum darah yang bukan dari pemilik kontrak 'perjanjian darah'.

"Nona Hinata!"

Sebelum gadis itu jatuh tersungkur, Sasori lebih dulu menangkap tubuhnya yang limbung. Dapat pria itu rasakan panasnya tubuh sang tuan, keringat dingin yang membuat wajahnya tampak pucat. Sasori mulai panik melihat kondisi tuannya.

"Sa-Sasori-san..., maaf, aku butuh darahmu... sekarang."

Tanpa perlu diberitahu dua kali, Sasori lebih dulu menggendong Hinata. Dia mencari tempat sunyi dan terhindar dari sinar matahari, dan pintu darurat menjadi pilihannya. Pemuda itu membuka kancing kemejanya, kemudian mengarahkannya pada Hinata.

Tidak butuh waktu lama, gadis itu sudah menancapkan taringnya untuk yang kedua kali hari ini. Darah segar mengalir masuk lewat mulut, seperti air dingin yang membasuh dahaga. Itulah rasa dari darah hasil pernjanjian darah yang dilakukan pasangan vampir-manusia.

Dua menit adalah aturan yang Hinata tetapkan ketika meminum darah dari manusia langsung. Setelah waktu yang ditentukan berakhir, gadis itu melepaskan taringnya dan menjilat pelan luka gigitan di leher. Tidak lama kemudian bekas gigitan itu menghilang, ini adalah salah satu kemampuan yang Hinata ketahui setelah dia melakukan kontrak darah sebulan yang lalu.

"Terima kasih, Sasori-san, dan maaf sudah merepotkanmu."

Sasori menggelengkan kepalanya, dia tersenyum lembut, sebuah senyuman yang hanya bisa dilihat oleh Hinata seorang.

"Aku senang bisa berguna bagi, Nona Hinata."

Hinata tersenyum tipis, kondisinya perlahan membaik, dia menyeka sisa-sisa darah di sudut bibir sebelum beranjak berdiri. Dirinya baru sadar bahwa sejak tadi Sasori mendekapnya erat dan itu membuatnya salah tingkah.

Mendadak suasana berubah canggung, kemudian akhirnya Sasori mencoba mematahkan kesunyian ini dengan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

"Aku meminum darah Naruto-kun."

"Jadi barusan adalah efek samping dari 'perjanjian darah'?" tanya Sasori memastikan.

Hinata mengangguk membenarkan, dia menghela napas pelan, tidak menyangka akan semenyakitkan itu ketika dia melanggar kontrak.

,,,

Sebulan yang lalu...

Pemulihan Sasori berjalan lumayan cepat tanpa adanya efek samping. Kini pria berambut merah sudah bisa duduk dan bersandar di ranjangnya sendiri, tanpa perlu bantuan seseorang. Hinata masih setia menemani pengawal pribadinya, sementara Neji sibuk mengurusi pekerjaan dan datang seminggu dua kali.

"Nona Hinata," panggil Sasori menarik atensi batu kecubung dari apel di tangan. "Terima kasih sudah menjaga saya, tapi Nona butuh istirahat, jadi pulanglah."

"Aku sudah istirahat, saat Sasori-san tidur, aku juga tidur."

Sasori membuka mulut, hendak meminta tuannya pulang, namun sebuah apel yang sudah dikupas menyerupai kelinci masuk ke dalam mulut. Hinata terkekeh pelan melihat pemuda merah yang mengerjap beberapa kali.

"Kau tidak usah mencemaskanku, apa kau lupa fisik ku sekarang berbeda dengan manusia biasa?"

Sasori diam, memilih mengunyah apel pemberian Hinata. Isi kepalanya penuh dengan adegan pertarungan terakhir. Sasori kesal pada dirinya sendiri yang lemah, apanya yang ninja terbaik di desa, ketika dia malah menjadi beban bagi tuannya. Apakah tidak ada yang bisa dia lakukan untuk membantu Hinata?

"Sebenarnya, Sasori-san...," suara Hinata menarik atensi Sasori. "Aku ingin minta tolong, dan aku merasa hanya Sasori-san yang bisa membantuku."

"Apapun itu, saya bersedia, Nona Hinata."

Gadis cantik itu agak terkejut dengan jawaban cepat yang diberikan Sasori, keningnya mengerut samar. Tidak mengerti bagaimana pria di depannya bisa mengatakannya sebelum dia memberi tahu.

"Sasori-san, kau...,"

"Seorang ninja tidak akan menarik kesetiaannya," sebelum Hinata bisa mengatakan apapun, Sasori lebih dulu menyela. "Sejak pertama kali kita bertemu, saya sudah menyerahkan kesetiaan saya pada Nona, karena itu jangankan permintaan, perintah tidak masuk akalpun akan saya sanggupi jika itu dari Nona Hinata."

Pernyataan Sasori membuat sang tuan bungkam, sebelum dia tersenyum hangat. Setitik air mata jatuh karena merasa lega sekaligus terharu dengan kesetiaan yang Sasori tunjukan.

"Aku ingin kau melakukan kontrak denganku, kontrak 'perjanjian darah' antara vampir dan manusia. Vampir yang melakukan kontrak, tidak akan bisa meminum darah siapapun kecuali manusia yang melakukan perjanjian dengannya. Sementara rekan manusianya akan mendapatkan sekitar 40% kekuatan vampir kontraknya. Dengan begitu Sasori-san akan bertambah kuat untuk membantuku melawan manusia bulan jika mereka masih keras kepala datang ke bumi." Hinata menjelaskan pelan-pelan.

Manik coklat itu membulat, dia tidak tahu ternyata ada cara seperti itu, tanpa pikir panjang dia mengangguk, menyetujui.

"Saya bersedia, jika itu adalah jalan terbaik untuk Nona."

Hinata menarik napas, mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan Sasori. Gadis itu tersenyum manis, masih dengan air mata yang sesekali jatuh.

"Terima kasih, Sasori-san."

.

.

.

Continue...

Terima kasih untuk kalian yang setia komen dan baca :)