"Kalau boleh tahu," ujar Sasori setelah kondisi Hinata perlahan membaik. "Mengapa Nona mengambil tindakan gegabah dengan minum darah Namikaze-san?"

Sekitar satu menit Hinata hanya diam, dia seperti enggan menjawab atau justru dia sendiripun tidak habis pikir mengapa mengambil tindakan bodoh itu. Setelah agak lama terdiam, akhirnya Hinata menjawab.

"Aku pikir dengan melakukan hal itu, Naruto-kun semakin paham perbedaan kami sekarang. Dia tidak bisa lagi asal masuk ke dalam lingkaran hidupku, terlebih ikatan pertunangan sudah terputus, itu artinya kami kembali menjadi orang asing."

"Maaf kalau saya lancang, tetapi sepertinya alasan Nona melakukannya adalah untuk menjauhkan Namikaze-san dari radar manusia bulan. Agar dia tidak terseret dalam arus ini dan terluka atau lebih buruknya lagi...,"

"Tidak, kau salah!" Hinata menyanggah cepat.

Gadis itu berdiri dan Sasori mengikuti, "Aku ada kelas sampai jam satu siang. Kau bisa menunggu dimana saja."

"Baik, Nona Hinata."

Hinata beranjak pergi meninggalkan area kampus belakang. Sasori menatap punggung kecil itu hingga hilang dipersimpangan jalan. Maniknya mengerjap beberapa kali dan menghela napas pelan. Tuannya benar-benar mencintai mantan tunangannya, dan ketika laki-laki itu akhirnya menyadari perasaannya, sang tuan lebih dulu membalikkan punggung.

Seandainya pria yang dicintai tuannya adalah dirinya sendiri, Sasori menutup separuh wajahnya. Darahnya seakan berdesir pelan dengan gejolak di perutnya membuat wajah sang pemuda memerah hingga telinga. Apa yang baru saja dia pikirkan? dan debaran ini terasa nyaman walau menyakitkan. Sasori kembali menatap jalan setapak yang dilewati tuannya dengan sinar mata lembut penuh damba.

"Aku ingin kau bahagia, Nona Hinata, meski bukan denganku," bisiknya pelan yang hanya didengar oleh angin.

...

Kelas pagi ini diawali dengan kelas sastra, sebuah awal buruk bagi Hinata mengingat pertengkaran mereka berdua. Namun tidak hanya dirinya yang bersikap biasa, Narutopun demikian. Setidaknya hal itu membuat sang gadis bernapas lega.

"Sensei~" suara manja itu menyapu telinga Hinata, geli rasanya, membuat manik rembulan sontak melihat ke sumber suara.

"Aku kesulitan dengan pertanyaan ini, bisakah Sensei jelaskan?" nada manja itu berasal dari seorang gadis berambut merah muda dan bermata hijau zamrud, Haruno Sakura namanya.

"Yang mana?" tanya Naruto sambil mendekati meja Sakura.

Sakura tersenyum girang, dia lalu menunjuk soal yang tidak dia mengerti, sambil mendekatkan dirinya ke arah dosen muda yang -statusnya kini melajang-, berkat berita gosip dari beberapa mahasiswa-mahasiswi.

Hinata meniup poni ratanya, kesal, ingin mencakar wanita gatal itu. "Bukannya waktu itu dia mengincar Uchiha Sasuke, Putra ke-dua dari Uchiha Corps? bisa-bisanya dia banting stir setelah tahu aku putus dengan Naruto-kun."

Gadis bermata batu kecubung itu bergumam pelan, lalu membalik-balik lembaran kertas di meja. "Percuma kau melakukannya, Naruto-kun tidak akan suka padamu, dia sukanya sama aku-?!"

Hinata sontak menutup buku pelajarannya, maniknya melebar sempurna. Pernyataan Naruto sebelumnya baru dia sadari sepenuhnya.

Naruto-kun menyukaiku, batin Hinata.

Perlahan darahnya berdesir pelan, wajahnya memanas, membuat Hinata menoleh ke arah jendela, menutup mulut sambil menopang dagu. Ingin rasanya gadis itu menjerit kegirangan, karena pada akhirnya setelah sepuluh tahun bertepuk sebelah tangan, pria itu mengakui perasaannya padanya.

Ketika manik rembulannya melihat ke langit biru, dia kembali teringat dengan para manusia bulan. Sontak saja raut wajahnya berubah sendu, semua seperti terlambat, perasaan yang diutarakan Naruto padanya terasa percuma. Hinata sudah memutuskan untuk melawan para vampir itu bersama dengan Sasori, pasangan kontraknya. Dia juga telah memutuskan untuk tidak sering-sering datang ke kampus, memilih membantu pekerjaan sang kakak, sekaligus berpindah-pindah tempat agar kelompok manusia beruban itu tidak tahu jelas letak keberadaannya.

Hinata yang menghela napas pelan tidak luput dari pandangan Naruto. Sebenarnya sejak awal pelajaran, manik samudra itu sering kali curi pandang ke arah mantan tunangannya. Mengapa dia baru menyadari pesona Hinata sekarang, gadis itu cantik, anggun, dan juga... terlihat kuat dan mandiri.

Atensi Naruto kembali ke buku pelajaran ketika salah satu muridnya bertanya, dia menjelaskan meski sesekali melirik kembali ke arah Hinata. Ketika jam istirahat berbunyi, Naruto mencoba untuk menghampiri Hinata, hendak mengajak makan siang bersama.

"Hinata!" panggil Naruto.

Namun sekelompok pemuda menghampiri Hinata, "ano! ini untuk Hyuuga-san, terimalah!"

Mereka semua memberikan berbagai macam hadiah, mulai dari kotak kecil hingga kotak besar. pemuda-pemuda itu berusaha menyenangkan hati sang pujaan, namun sedikit bergidik ngeri ketika ditatap tajam Sasori yang berdiri di belakang Hinata.

"Apa dulu Hinata memang sepopuler ini?" tanya Naruto pada dirinya sendiri.

Seandainya saja dulu Naruto mau memperhatikan sekeliling Hinata, maka dia akan menyadari hampir sebagian mahasiswa menatap sang gadis penuh damba, mengaguminya dan menyukainya. Namun tidak ada yang berani mendekatkan diri ketika di samping primadona berdiri seorang laki-laki sekelas Namikaze Naruto.

...

Kantin sekolah penuh sesak, ramai dengan para murid dan staf sekolah berkumpul untuk makan siang. Untunglah Ino sudah lebih dulu menyelamatkan tempat untuk mereka makan siang. Hinata duduk sambil tersenyum riang, Sasori menaruh makan siang Hinata dan dirinya di meja, kemudian menyerahkan makanan yang masih panas itu ke depan sang tuan. Ino yang melihat tersenyum lebar, suka dengan sikap pemuda terhadap sahabatnya.

"Terima kasih, Sasori-san," ucap Hinata tulus sambil tersenyum manis.

Sasori mengangguk singkat, diam tanpa kata, namun ujung telinganya memerah.

"Oh Tuhan! dari mana kau mendapatkan pengawal semanis dan seimut Sasori-san, Hinata?!"

Kening gadis bermata kecubung itu mengerut samar, lalu menoleh ke arah Sasori yang juga menatapnya tidak mengerti. Di samping Ino, pemuda berkulit pucat yang entah sejak kapan menjadi member baru di circle Hinata-Ino duduk dengan senyum manis.

"Apa kau suka dengan tipe tsundere?" tanya Sai pada Ino.

Ino yang sedang minum pun tersedak kaget, wajahnya terlihat lucu dimata Sai. Pria itu kemudian berkata lagi sambil menyeka sisa-sisa es jeruk di sudut bibir Ino dengan lengan bajunya. "Aku tidak banyak tahu tentang tsundere, tapi aku yakin perpustakaan kota memiliki jawabannya. Aku harap kau mau menunggu selama aku belajar menjadi tipe tsundere."

Hinata tidak kuat lagi menahan tawa, gadis itu terkekeh pelan. Sementara itu perempuan berambut pirang mulai salah tingkah, kulitnya yang putih berubah merah. Ino berdehem pelan, berusaha tenang sebelum menanggapi perkataan Sai.

"Ka-kau tidak perlu bersikap tsundere, karena..., aku..., suka kamu apa adanya...," semakin Ino bicara semakin kecil suaranya dan dia mulai memainkan rambut panjangnya sambil menoleh ke arah lain.

"Aku juga suka Nona cantik apa adanya!" balas Sai dengan senyum yang di mata Ino terlihat menawan.

Gadis itu akhirnya tidak kuat lagi, dia menutup wajahnya, menyembunyikan wajahnya yang merah seperti kepiting rebus. Dia ingin memukul sahabatnya yang sejak tadi tidak berhenti tertawa, bahkan Sasori ikut tersenyum kecil menahan tawa.

"Sudahlah! lebih baik kita bicarakan soal acara kemah minggu depan! kau akan datang kan, Hinata?" Ino yang sudah kembali normal segera bertanya pada sahabatnya yang hendak menyuap makan siangnya.

Hinata mengangguk, "Minggu depan sepertinya aku bisa ikut. Tidak ada jadwal pergi ke luar kota bersama Kak Neji."

"Baguslah! kalau begitu kita satu kelompok saja, kau, aku, dan juga Sai!"

Hinata kembali mengangguk, dia lalu menoleh ke arah Sasori. "Kalau kau mau, aku bisa meminta guru pembimbing untuk membuatmu ikut acara dan sekelompok denganku. Bagaimana menurutmu, Sasori-san?"

"Saya ikut Nona saja, selama saya bisa melindungi Anda, dari jarak dekat maupun jauh itu tidak masalah."

"Kalau begitu ikut saja, satu kelompok dengan kami." Ini suara Sai, dia menatap Sasori sambil tersenyum.

Sejenak Sasori dan Sai saling pandang, ada segelitik perasaan aneh tiap kali Sasori bersitatap dengan Sai. Dia kesulitan untuk membaca atau mengetahui apa yang laki-laki ini pikirkan dan rencanakan. Namun melihat dia cukup dekat dengan ino, sahabat tuannya, membuat Sai membuang jauh prasangkanya.

"Iya, tidak masalah," balas Sasori kemudian melanjutkan makan siangnya.

...

Suara gaduh dari benda yang dibanting memekakan telinga. Para vampir menunduk tidak berani mengangkat wajah demi melihat amarah sang raja di depan mata. Sekitar tiga orang petua mencoba menenangkan penguasa bulan dari amarahnya setelah menerima laporan bahwa sang jendral Momoshiki telah gugur di tangan calon ratu.

"MENGAPA TIDAK ADA SATUPUN YANG BECUS DENGAN TUGAS YANG AKU BERIKAN?!" teriak seorang pemuda berambut putih dengan mata berpupil biru bercorak bunga putih. Dia kembali melempar patung-patung hingga hancur lebur.

"Mohon ampuni kami, Yang Mulia...," sontak para pengikut bersujud dengan tubuh bergetar ketakutan.

"Jika kalian ingin aku ampuni, bawa dia kehadapanku! bagaimana bisa kalian gagal berulang kali, sampai dititik calon ratuku melakukan perjanjian darah dengan manusia hina dari bumi!" Toneri meraung marah, menjambak rambut putihnya yang berantakan.

Kulit putih pucatnya perlahan memerah, kepalanya panas akibat menahan emosi, dan urat di lehernya terlihat jelas. "Sekarang bagaimana caranya kita tahu posisi calon ratuku, jika aroma manisnya sudah tercampur dengan lumpur?" ujarnya dengan suara rendah penuh amarah.

"Yang Mulia Pangeran Mahkota, ada panggilan dari bumi," ucap sebuah boneka perempuan setinggi lutut Toneri, dia menghampiri sambil membawa cawan kuning keemasan berbentuk pipih dengan air bening di dalamnya.

Toneri menarik napas guna menenangkan emosinya, kemudian mengetuk permukaan air sebanyak tiga kali. Gelombang tercipta dan perlahan memperlihatkan sosok pemuda berambut dan mata sehitam arang, sangat kontras dengan kulitnya yang putih pucat.

"Aku harap kau membawakan kabar baik, tidak seperti sebelumnya, Sai."

Sai memberi hormat pada tuannya, kemudian tersenyum tipis. "Tentu saja kabar baik, Yang Mulia."

.

.

.

Continue...