Acara kemah selalu menjadi aktivitas yang tidak pernah terlewatkan selama bersekolah di Jepang. Termasuk di Universitas UKAT, mereka melakukannya setiap angkatan baru di pertengahan semester. Kali ini rombongan Hinata akan berkemah di dekat pegunungan selama dua hari satu malam.

Sekitar jam enam pagi, rombongan Hinata sudah berbaris rapi di lahan parkir perkemahan. Kelompoknya terdiri dari, Sai sebagai ketua kelompok, Ino, Hinata, dan terakhir Sasori sebagai tamu yang diundang. Jangan tanya mengapa seorang bodyguard bisa ikut ke acara universitas, kalian cukup tahu dia adalah penjaga Nona Hinata, maka seluruh kepala akan mengangguk paham.

"Ini seperti permainan untuk menyatukan seisi kelas," ujar Naruto yang berdiri di depan dengan suara keras. Hari ini dia memakai baju traning hitam dengan garis oranye terang di sisi celana dan di bagian atas pundak hingga dada.

"Peraturannya mudah, masuk gunung, andalkan peta, dan mendapatkan bahan makanan yang ada di titik tertentu." Naruto menyerahkan gulungan peta ke tiap-tiap barisan paling depan. "Batas waktunya sampai jam 4 sore, dan saat kalian kembali ke tempat kemah, kalian akan membuat makanan dengan bahan-bahan tersebut."

"Uwa~ ini seperti survival game, kah?" bisik Ino pada Hinata yang dibalas anggukan kecil.

"Maaf, izinkan saya bertanya!" seruan itu terdengar dari barisan paling kanan. Seorang gadis manis dengan kacamata bingkai merah. "Bagaimana kalau kami tidak bisa membawa bahan makanan?"

"Lakukan sesuka kalian, itu hanya artinya kalian tidak punya makanan cukup. Sekian."

"Eh?"

Ino menggelengkan kepalanya, "Ini bahkan lebih buruk dari pada waktu kita sekolah menengah atas dulu, benarkan Hinata?"

"Um, apa tema mereka kali ini adalah spartan?" Hinata menggelengkan kepalanya lesu, "Sudah tidak zamannya lagi padahal."

"Tenang saja," kali ini Sai bersuara dengan senyum lebar. "Kita tidak akan kekurangan bahan apapun, kalian bisa mempercayakan aku dan Sasori untuk mendapatkan bahan makanan."

Sasori mengangguk menyetujui, dia lalu maju selangkah. "Saya pasti akan mendapatkan bahan makanan agar Nona Hinata tidak kelaparan, kalau perlu biar tugas memasak saya lakukan juga."

"Tidak, tidak perlu sampai seperti itu!" Hinata tidak suka ide itu, "ini adalah permainan menyatukan kelas, jika semua kalian berdua yang melakukannya, itu sangat tidak adil, benarkan Ino-chan?"

Ino mengangguk, walau sebenarnya dia tidak masalah, tetapi dia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri di depan Sai. Maka jadilah dia menyetujui perkataan Hinata, dia bahkan sudah melangkah mendekat ke arah pria berkulit pucat itu.

"Ayo kita lakukan bersama-sama, Sai!"

"Baiklah, Nona Cantik."

Hinata terkekeh pelan melihat Ino yang sudah bersemu merah seperti kepiting rebus. Omong-omong gadis itu sejak tadi sedikit merasa gemas, karena dia dapat merasakan pandangan lekat-lekat dari mantan tunangannya. Sejak selesai berbicara di depan, manik biru laut itu terus menatap ke arah Hinata.

"Aish~ sebenarnya apa yang dia mau?" gumam Hinata saat dia tengah sibuk mencari bahan makanan bersama Ino.

"Apanya?" Ino menyahut sambil memperhatikan peta, kebetulan saat ini mereka membagi kelompok menjadi dua tim, agar lebih cepat menemukan bahan makanan. "Apa yang kau gumamkan sejak tadi?"

"Naruto-kun," belum sempat Hinata selesai bicara, Ino sudah berkacak pinggang duluan.

"Apa lagi yang dia perbuat? dasar pria tidak tahu diri, tidak tahu malu, aku kesal sekali kalau ingat kelakuan dia selama kau tidak masuk!"

Astaga, lihat temannya ini, Hinata sampai tertegun melihat Ino marah-marah dengan makian kasar keluar dari bibir cantiknya. Sejak kapan sahabatnya ini berubah menjadi tukang marah-marah sambil mengeluarkan cacian?

"Sst!" sebelum Ino kembali mengeluarkan sumpah serapahnya, Hinata lebih dulu menaruh jari telunjuk di bibir ranum itu. "Kau tidak lihat bagaimana dia memperhatikanku terus dari jauh?"

Manik toska itu membulat lucu, "Apa cara tarik ulur kita berhasil?"

"Berhasilpun percuma ketika pertunangan kami sudah dibatalkan!"

Ino berdecak pelan, sejujurnya dia tidak menyangka Hinata akan benar-benar membatalkan pertunangan mereka, mengingat secinta apa sahabatnya ini terhadap dosen muda itu. Dan setiap kali dia bertanya alasan pastinya, Hinata selalu berkelit, tidak menjawab, membenarkan maupun membantah tiap pertanyaannya.

"Jadi bagaimana ke depannya? kau pasti sudah tahu kalau aku akan selalu mendukung keputusanmu, Hinata."

Hinata tersenyum manis, memeluk sahabatnya hingga membuatnya hampir terjungkal karena tanah yang licin. Kedua gadis itu sempat berteriak histeris sebelum berganti dengan tawa renyah.

"Terima kasih, Ino-chan!"

...

Pukul empat sore, seluruh mahasiswa dan mahasiswi berkumpul di lapangan dengan membawa bahan makanan yang berhasil mereka dapatkan. Sungguh disayangkan ada beberapa kelompok yang tidak berhasil mendapatkan seluruh bahan makanan. Salah satu tim hanya mendapatkan dua buah kentang, tim lain mendapatkan sekilo beras, dan beberapa tim lainpun hanya mengantungi dua tiga bahan makanan.

Hinata menggigit bibir bawahnya sambil melihat bahan makanan milik timnya, kemudian dia berbalik meminta izin pada teman satu kelompok.

"Hei, apa aku boleh membagi sedikit makanan kita nanti untuk mereka yang gagal mendapatkan bahan makanan?"

Belum juga dijawab oleh teman-temannya, tiba-tiba Naruto sudah hadir di samping Hinata sambil berdehem keras, sengaja sekali ingin memberitahukan keberadaannya. Hinata mendelik kesal, membuat sang pemuda kali ini berdehem kikuk.

"Sedang apa kalian? bukannya cepat memasak malah banyak bicara!" Naruto bersuara keras, seperti hendak bersikap galak. "Kalau kau kesulitan memotong bawang bombay, biar aku bantu Hinata." katanya lagi kali ini dengan nada lembut saat bicara pada mantan tunangannya.

Ino mencibir pelan, lalu bersenandung sambil mengupas kulit kentang. "Lelaki modus, lelaki modus~"

Tidak mau memusingkan sindiran halus Ino, dosen muda itu segera mengulurkan tangannya hendak mengambil bawang bombay dari tangan Hinata. Namun sayangnya gadis itu lebih dulu menjauhkan tangannya, maniknya menatap tajam tidak suka.

"Jangan dekat-dekat sensei, aku pegang pisau tajam. Mundur, sebelum aku tidak sengaja menikam perutmu."

Naruto menelan ludah kasar, dia mundur satu langkah sambil mengangkat tangan di depan dada. "Baiklah, baiklah, beritahu aku jika kau butuh sesuatu." dan dia pun berlalu menuju kelompok lain.

Sambil menatap punggung Naruto yang menjauh, Hinata berdecih pelan. Dia memotong bawang bombay dengan kasar, keras, dan memaki, membuat Ino dan Sai dibuat ngeri melihatnya. Sementara itu Sasori tanpa takut menyentuh tangan Hinata, menghentikan gadis itu yang tengah sibuk mengiris.

"Saya tahu, Nona sedang kesal. Tapi sayang kalau tangan cantik, Nona terluka nanti, jika marah-marah seperti ini." usai mengatakan hal itu, Sasori segera mengambil alih pisau dan menggantikan Hinata mengiris bawang bombay.

Ino menutup mulutnya, terlihat kagum dengan gerakan luwes Sasori yang mengambil alih sambil menggoda Hinata dengan kata-katanya. Ketika Ino dan Hinata bersitatap, gadis cantik dengan rambut pirang itu memberikannya gestur panah yang menancap di jantungnya lalu menunjuk Sasori yang sibuk memotong sayur-sayuran.

Hinata jelas tahu maksud temannya itu, dan dia membalasnya dengan mata melotot.

Ketika mereka kembali sibuk memasak, Hinata tanpa sengaja melirik ke arah Sai. Pemuda itu harusnya mencuci beras, namun tangannya tidak bergerak, dia seperti termenung, dan saat Hinata hendak menyadarkannya, suara keras tiba-tiba terdengar dari arah lapangan di samping area memasak.

BUM!

...

Di atas dahan pepohonan lebat, terlihat sosok jangkung berjubah putih gading tengah menatap kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang sibuk memasak. Maniknya berkilat, bersinar tajam dan berbahaya. Dia menekan pelipis dengan ujung jari telunjuk, lalu sebuah suara lain memasuki pikirannya.

Sosok itu tengah melakukan telepati dengan rekannya.

"Bagaimana kondisinya?"

"Lima penjaga di barat, dan lima di timur, sementara satu berada di samping target."

"Heh, sedikit sekali yang menjaga calon ratuku, apakah mereka mengira kita sudah menyerah untuk membawanya ke bulan?"

"Yang Mulia, ini sangat beresiko jika Anda berniat menyerang dikeramaian manusia, saya sarankan untuk memilih tengah malam saja ketika banyak dari mereka sudah tertidur pulas."

Bibir pucat itu tertarik membentuk seringaian, maniknya berkilat dengan pupil bunga putih bersinar terang.

"Aku tidak peduli jika manusia tahu akan keberadaan kita, justru seharusnya mereka tahu, supaya mereka takut dan tunduk pada manusia bulan. Mereka tidak lebih dari ternah pakan bagi kaum kita. "

"Tetapi Yang Mulia-"

Tidak mau lagi mendengar celoteh rekannya, pria jangkung itu mengayunkan tangan dan dari balik punggungnya muncul lima sosok berjubah dengan warna serupa dengannya melayang di udara.

"SEMUANYA SERANG!"

Suara di kepala sang pemuda terdengar panik dan dia berseru lantang. "Yang Mulia Toneri!"

BUM!

Lima orang berjubah misterius turun kelapangan dengan penuh drama, mereka membuat suara bedebum besar serta retakan tanah yang membentuk kawah kecil. Hinata mengerjap beberapa kali, namun tidak bagi Sasori yang sudah lebih dulu bersikap awas dan berdiri di depan Hinata, melindungi sang tuan.

Sedetik kemudian, lima orang itu melesat cepat ke area memasak, menyerang murid-murid di sana, dengan kuku tajam menyayat mereka hingga darah dengan cepat membasahi rerumputan. Teriakan histeris terdengar, guru-guru segera keluar ruangan hendak memeriksa apa yang terjadi.

"Hinata!" Naruto berseru setelah menyadari apa yang terjadi. Dia berlari, mengeluarkan sebuah pistol yang dia sembunyikan dari balik jaket trainingnya. Langkahnya lebar, bergegas menuju sang gadis dengan harapan dirinya belum terlambat.

Setibanya di lokasi, manik samudra menyisir cepat dan menemukan Sasori yang tengah bertarung dengan salah satu sosok berjubah misterius. Di belakangnya ada Hinata yang sedang menembaki tiga musuh lainnya sambil melindungi Ino. Gadis malang itu terlihat pucat, ketakutan dan linglung.

Naruto mengeraskan rahangnya, maniknya berkilat marah dan segera menekan tombol kecil pada jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Tombol itu adalah tanda darurat yang akan segera menyambung ke kantor pusat Hyuuga Neji.

"Butuh waktu lima menit hingga bantuan tiba setelah kau menekan tombol itu, selama itu tolong tahan dan lindungi Hinata, Naruto."

Naruto berseru keras, dia menendang para manusia bulan, menembakinya dan berlari ke arah Hinata. Bagaimanapun caranya dalam waktu lima menit ini dia harus berada di sisi Hinata, melindunginya seperti janjinya pada Neji setelah pria itu memberinya kesempatan kedua.

"Kali ini aku pasti akan melindungimu, Hinata!"

.

.

.

Continue...

Maaf ya kemarin sempat ada kesalahan dalam publish hehe