Dua bulan sebelumnya...
"Aku pulang..."
Suara pintu tertutup rapat dan langkah kaki yang diseret paksa, membuat Kushina menghampiri ruang tengah, hanya untuk menemukan sosok putranya dalam keadaan mabuk. Wanita paruh baya itu menghela napas pelan, prihatin melihat kondisi anak semata wayangnya. Kondisi Naruto buruk semenjak Hinata tidak ada kabar, dan dirinya ditolak mentah-mentah oleh keluarga Hyuuga.
"Naruto, tidurlah di kamar. Kau bisa sakit jika tidur di sini!"
"Ung! Tidak! aku mau di sini..., aku mau menunggu Hinata!"
Kushina kembali menghela napas pelan, manik hitamnya memerhatikan lekat-lekat putra tunggalnya. Dia juga sedih, setelah berita batalnya pertunangan. Mereka berpisah dengan tiba-tiba. Semenjak kejadian insiden gas bocor di hotel tempat mereka makan bersama. Setelah itu keluarga Hyuuga seakan menutup pintu rapat-rapat bagi semua orang selain keluarga mereka.
"Naruto," Kushina memanggil lembut putranya.
Manik samudra itu terbuka setengah, entah dia mendengarkan atau tidak. Kushina mengelus pelan rambut pirang anak lelakinya. Berujar pelan dan lamat-lamat, berharap sang anak mendengarkan dan memikirkan tiap ucapannya. Harapan bodoh memang, mengingat kondisi putranya sedang mabuk berat. Namun terkadang kondisi inilah yang mampu menarik keluar isi hati seseorang.
"Sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadap Hinata?"
Lengang sejenak, detik berikutnya isak tangis terdengar. Naruto menaruh kedua lengan di atas wajah, berusaha menutupinya. Namun air mata jelas turun dari sela-sela.
"Aku tidak ingin dicampakan Hinata," ungkap Naruto pada akhirnya. "Aku menyesal. Aku menyesal baru menyadari perasaanku sekarang. Semua sudah terlambat, sekarang Hinata telah pergi. Dia tidak menginginkanku lagi, dia sudah menemukan penggantiku."
"Belum terlambat, nak." Kushina berbisik pelan, "Kau masih bisa mengejarnya, seperti Hinata yang tidak pernah lelah mengejarmu."
Naruto menurunkan lengan, mata sembabnya menatap lurus pada manik hitam sang ibu. Dia bertanya dengan suara serak. "Benarkah?"
Kushina mengangguk.
"Apa aku masih boleh mengejarnya?"
Kushina kembali mengangguk.
"Meski sudah ada Sasori di sampingnya yang lebih bisa diandalkan?"
"Siapa yang lebih bisa diandalkan adalah tugas Hinata untuk menilai. Tugasmu adalah berusaha sekuat tenaga, melakukannya dengan ikhlas demi Hinata. Ibu yakin, Hinata tidak mungkin buta akan perjuanganmu, Naruto."
Selang beberapa detik saling bertatapan, Naruto beranjak duduk, mengusap wajahnya kasar. Kushina tersenyum hangat, yakin bahwa putranya telah mendapatkan kembali semangatnya. Benar saja, Naruto menyeringai lebar, cengiran seperti anak kecil yang keras kepala terlihat diwajahnya.
"Terima kasih, Ibu!" Naruto memeluk dan Kushina membalasnya.
Semenjak malam itu, Naruto merasa kepalanya jernih. Rasa sesak di dada seakan lenyap tanpa bekas. Dirinya mulai fokus mengikuti kelas bela diri, belajar taekwondo, juga belajar menembak. Dia tetap mengajar, hanya saja selalu berlatih disetiap kesempatan. Sampai pada akhirnya dua bulan berlalu begitu cepat. Suatu malam, sang ayah memberi kabar, kalau Hyuuga Neji terlihat di bandara, turun dan menuju ke kantor pusat.
Naruto tidak membuang waktu, dia segera menyambar kunci mobil dan memelesat menuju bangunan megah di Tokyo. Dia datang saat malam hari, hampir tengah malam. Melihat ada beberapa orang berpakaian hitam berjaga membuat Naruto yakin, kalau Neji masih di kantor. Dia segera masuk, lebih tepatnya menerobos masuk. Dengan kemampuan bela diri yang dia pelajari mati-matian, membuat Naruto berhasil menumbangkan para penjaga.
Dia naik ke lantai teratas, berdiri terengah-engah tepat di depan pintu megah berwarna hitam. Dua penjaga bertubuh tinggi besar menahannya, perkelahian pun terjadi. Namun kali ini Naruto kalah, berhasil ditumbangkan. Naruto tidak ingin semua berakhir percuma, dia berteriak, memanggil Neji dari depan pintu.
"Nii-san! aku tahu kau di dalam, keluar! aku ingin bicara. Berikan aku kesempatan kedua, Neji-nii-san!"
Naruto kembali memberontak, mencoba menendang dengan kakinya yang bebas. Namun berhasil ditahan, dia menggeram marah.
"Aku tahu aku bodoh! sangat bodoh karena menyia-nyiakan Hinata. Baru sekarang aku sadar akan perasaanku. Aku berjanji akan melindungi Hinata, meski nyawa taruhannya!"
Pintu masih bergeming, tidak ada tanda-tanda akan dibuka. Naruto menggigit bibirnya, hampir putus asa. Sedetik kemudian suara pintu dibuka terdengar, membuat kepalanya segera terangkat. Neji berdiri di depannya dengan jarak 1 meter, manik ametisnya menatap dingin. Tatapan yang baru kali ini Naruto lihat.
"Apa kau bersungguh-sungguh?" tanya Neji dengan suara pelan dan berat.
Naruto mengangguk, menatap lawan bicaranya dengan tatapan tegas dan penuh tekad. "Aku bersumpah. Aku akan menjaganya dengan segenap raga dan jiwaku."
"Meskipun Hinata tidak mencintaimu lagi?"
"Meski Hinata tidak mencintaiku lagi."
Neji mengangguk, kemudian melemparkan satu buah senjata api dengan sekotak peluru perak. Naruto yang sudah dibebaskan dari para penjaga segera menyambarnya. Mata birunya kembali melihat ke arah Neji.
"Pakai senjata itu untuk melawan mereka. Para vampir hanya bisa dibunuh jika ditembak mati tepat di jantung atau kepalanya dipenggal."
Naruto mengangguk paham.
"Tugasmu adalah menjaga Hinata dari belakang. Segera memback up ketika Sasori tidak bisa melindunginya. Karena saat ini orang yang mampu mengimbangi dan mendukung Hinata dari para manusia bulan adalah Sasori."
Sekali lagi Naruto mengangguk paham. Kali ini dia tidak akan lari, dari perasaannya maupun dari pertempuran di depan mata. Selama dia bisa berada di sisi Hinata, Naruto tidak peduli. Dia akan melakukan apapun demi Hinata, seperti Hinata melakukan apapun demi dirinya.
Kembali ke waktu sekarang...
Para murid berusaha melarikan diri, tidak hanya satu, beberapa murid telah tumbang terkena serangan manusia bulan. Dua di depan, tiga di belakang, berusaha menyerang Hinata dan Sasori. Ino berada di tengah-tengah, berjongkok, gemetar ketakutan. Suara letupan senjata api terdengar, mengalihkan sesaat atensi Ametis dan batu coklat. Mereka melihat sosok Naruto, tiga meter dari mereka, menembaki salah satu vampir yang hendak melukai murid.
"Kalian cepat bantu yang lain!" seru Naruto pada murid-murid agar membantu yang terluka.
Guru-guru lain berusaha mengevakuasi murid yang menjadi korban. Naruto berdiri di depan mereka, menghalangi para vampir mendekat ke murid maupun ke Hinata. Gadis rembulan itu sempat mengerjap, kaget melihat Naruto dengan pistol di tangan. Sejak kapan pemuda itu pandai menembak?
Seruan dari vampir segera menarik atensinya kembali. Saat ini bukan waktunya memikirkan hal lain. Hinata menembak, menggunakan Sasori sebagai pusatnya dan melakukan tendangan berputar. Sasori melemparkan kunai perak, mengenai salah satu vampir, ketika sang tuan merunduk, mereka melakukan kerjasama tim yang kompak. Salah satu vampir terluka, hendak menyerang namun terkena tembakan di kening oleh Naruto dan mati seketika.
Setelah memastikan para murid sudah dievakuasi, Naruto maju, hendak membantu. Tiba-tiba suara teriakan nyaring terdengar, dan berasal dari Ino. Ketika gadis itu hendak merangkak hati-hati, mencoba pergi ke arah Naruto untuk menyelamatkan diri. Seseorang menarik rambutnya, memaksa dia berdiri.
"Ino-chan!" Hinata berteriak, namun sontak terkejut melihat siapa yang menyandera sahabatnya.
"Sai?!"
Ino juga tidak kalah terkejut, manik hijau toska itu sudah membulat sempurna, sebelum berkilat penuh kekecewaan. Sai memandang dingin ke mereka yang sudah bisa dibilang dekat dengannya. Terutama gadis pirang dalam dekapannya. Sai menyeringai lebar, kuku-kuku tangannya memanjam seperti pedang, kemudian mengusap pelan pipi putih Ino. Meski pelan, tetap saja kuku tajam itu menggores luka, mengeluarkan darah segar. Tubuh Ino bergetar, dia mulai menangis karena takut.
"Serahkan dirimu pada Yang Mulia Toneri-sama. Maka gadis ini akan aku lepaskan." Ancam Sai.
"Kau tidak akan benar-benar melakukannya, kan? Kami ini temanmu, Sai!"
"Aku tidak peduli, dari awal aku mendekati kalian bukan untuk berteman. Melainkan menjalankan misi mulia dari Putra Mahkota." Sai berdesis pelan, mata hitamnya terlihat berkilat tajam. "Jatuhkan senjata kalian dan menyerahlah!"
"Sai, aku mohon jangan lakukan ini." Ino terisak pelan, menatap Sai penuh kesedihan.
Pemuda berkulit pucat itu mendekatkan dirinya, menatap lamat-lamat wajah Ino. Dia lalu mencengkram lebih kuat rambut sang gadis, membuatnya memekik pelan. Tatapan yang Sai berikan begitu mengerikan, penuh intimidasi.
"Diam! seharusnya kau memelas meminta sahabatmu itu menyerah. Kalau Hinata benar-benar sahabatmu, seharusnya dia menyerahkan dirinya. Bukannya keras kepala dan membiarkanmu dalam bahaya, Nona cantik."
Ino menggeleng kuat, tangisnya kian pecah, namun dia berusaha meredamnya dengan menggigit bibir. Ino tidak mau menjadi beban, dia tidak tahu mengapa Sai meminta Hinata menyerah, dia tidak tahu misi apa yang Sai emban hingga melibatkan sahabatnya. Namun satu hal yang pasti, Ino tidak ingin gara-gara dia, Hinata harus menyerah pada segala kemungkinan yang ada.
"Hinata! Aku tidak akan memaafkanmu jika kau menyerah gara-gara aku!" Ino berteriak.
"DIAM!" Bentak Sai dan menutup mulut Ino dengan tangannya.
Sai kembali mendekatkan dirinya, bibir pucatnya tepat di samping telinga Ino, berbisik pelan. "Diamlah, Nona cantik. Biarkan Hinata menyerah, agar kau aman dari Toneri-sama. Aku tidak ingin kehilanganmu."
Ino memelototkan matanya, menoleh menatap sepasang mata hitam yang bersinar lembut untuk sesaat. Air mata kembali jatuh, mereka seakan saling berbicara lewat tatapan. Lalu detik berikutnya, sebuah peluru mengarah tepat ke pelipis Sai. Sayangnya pemuda itu berhasil menghindar, peluru perak tertancap di dinding kayu. Sai menggeram, menyuruh para vampir kembali menyerang mereka. Sementara itu, Sai memeluk Ino, membawa kabur sang gadis.
"Ino-chan!"
Hinata menyerang membabi buta, menendang, memukul dan menembaki para vampir yang menyerangnya. Saat dia hendak mengejar, sesuatu datang, memelesat cepat dan menciptakan kawah kecil di tanah berjarak dua meter dari Hinata.
"Akhirnya kita bertemu, Ratuku." Ucap seseorang dengan jubah putih berkelir emas.
Seorang pemuda berambut putih, dengan mata biru keabu-abuan dengan pupil bercorak bunga putih. Dia adalah Otsutsuki Toneri, sang Putra Mahkota dari Klan Bulan. Dialah otak dari pembantaian keluarga Hyuuga, dan penyerangan di hotel bintang lima, serta dia pula alasan mengapa Hinata harus berhadapan dengan para manusia bulan.
"Ternyata bumi tidak sedingin bulan. Kita harus secepatnya kembali, Hinata. Aku jamin, kau akan lebih suka di bulan ketimbang di sini." katanya lagi sambil mengulurkan tangan, seakan yakin kalau Hinata akan menurut dan menerima tangannya.
"Persetan denganmu, Toneri! Kau datang ke bumi hanya untuk mati di tanganku!" desis Hinata tajam sambil menodongkan moncong pistol peraknya.
"Astaga, ratuku ternyata seorang pemarah."
"AKU BUKAN RATUMU!"
Detik berikutnya perkelahian pun pecah antara kubu Hinata dan Toneri.
.
.
.
Continue...
