Dua menit semenjak Naruto menekan tombol darurat. Selama dua menit pula pertarungan sengit antara manusia dengan vampir terjadi. Area memasak sudah kosong sejak tadi, meninggalkan tiga manusia dan tiga bangsa vampir yang tersisa. Di ujungnya, Toneri sedang menahan diri untuk tidak mengamuk, melihat bawahannya kewalahan.
"Apa yang kalian lakukan? berhenti bermain-main dan bawa ratuku kemari!" Toneri berseru keras penuh amarah.
Salah satu vampir kembali menyerang, mengayunkan tangan dengan kuku-kuku panjang dan tajam. Serangan itu berhasil dihentikan Naruto, dia menggunakan kemampuan aikido untuk membanting lawannya. Setelah terkapar di lantai, dia menarik pelatuk. Bang! kepala pecahsementara tubuhnya berubah menjadi abu.
Hinata menelan ludah gugup ketika melihat Naruto. Pemuda itu menarik pelatuknya dan membunuh manusia bulan tanpa ragu sedikitpun. Apakah pemuda itu benar teman masa kecilnya dulu? Dilain sisi, Sasori juga tidak kalah mengejutkan. Setelah menjadi partner Hinata, kemampuan pemuda berambut merah itu meningkat. Tubuhnya bergerak lebih cepat, lebih ringan, dan lebih kuat.
Dua manusia bulan kembali tumbang di tangan Sasori. Hal itu membuat Toneri naik pitam, dia bersiul keras, dan tidak lama muncul sosok pria berambut hitam yang amat Hinata kenali.
"Sai?!"
Toneri melirik ke arah Sai, "Aku akan membunuh manusia kotor itu! kau urus sisanya, Sai!"
"Baik, Yang Mulia Toneri."
Sai lebih dulu melompat menyerang Naruto dan Hinata. Kuku tajam yang terhunus bertemu dan tertancap di bangku kayu. Naruto berhasil melindungi sang gadis, tanpa membiarkan Sai melepaskan diri. Naruto memberikan tendangan berputar hingga mengenai perut vampir muda. Sai terjungkal beberapa meter bersama kursi kayu. Hinata bergeming di belakang punggung lebar mantan tunangannya.
Sai membanting kursi kayu hingga tercerai berai, dia mendengus pelan.
"Sudah aku bilang, seharusnya kau menyerah saja, Sensei! Biarkan Hyuuga menikah dengan Yang Mulia Toneri. Toh, kau tidak mencintainya!" Sai berseru ketus.
"Siapa bilang aku tidak mencintainya?" Naruto membalas tegas.
Manik hitam itu membulat seperkian detik, sebelum pemiliknya tertawa sinis. Dia berdiri, kembali menyerang, menghunuskan kuku tajam bagai ujung tombak. Naruto berkelit, Hinata menghindar, mereka berdua melakukan kerjasama tim dengan menyerang secara bergantian, saling mengisi. Naruto menyerang, Hinata menembak di belakang. Ketika giliran Hinata yang menyerang, Naruto menembak. Mereka berdua saling percaya bahwa peluru perak tidak akan menggores kulit mereka walau sesentipun.
"Aku sudah bersabar demi menunggu hari ini!" Sai berujar, sambil menargetkan kaki kanan Naruto. "Setiap hari, aku minum obat sialan itu, berbotol-botol, demi berdiri di bawah matahari! demi mendekati calon ratu, demi menyelesaikan misi menyebalkan ini!"
Naruto berhasil berkelit, dan sebutir peluru melesat mengenai bahu Sai. Vampir itu mendesis, rasa panas dia rasakan di bahu bagian kanan. Matanya hitam menyala, perlahan berubah perak. Gigi taringnya menyembul dari sudut bibir, semakin memanjang.
"Harusnya Anda menurut saat kami jemput! apa tidak cukup peringatan yang kami berikan?! apa Anda akan terus mengorbankan orang-orang terdekat Anda?!"
Hinata menggenggam erat ganggang pistol, darahnya berdesir keras, bersama amarah di dada. Bukannya tidak tahu, ataupun bersikap keras kepala. Tentu saja berulang kali dia selalu berpikir, kematian orang tuanya adalah kesalahannya. Malam itu, bukan hanya Hinata dan Neji yang kehilangan orang yang mereka sayangi. Tentu saja keluarga dari para bodyguard yang menjaga kediaman Hyuuga mengalami kehilangan. Tidak hanya keluarga utama yang bersedih, semua keluarga. Dan itu semua karena Hinata yang tidak cukup kuat.
"Mereka berkorban demi Hinata."
Suara Naruto bagai tajamnya pedang membelah kemelut di benak Hinata. Gadis itu menatap Naruto, memandangnya lekat-lekat.
"karena Hinata berharga, karena dia pantas dilindungi, makanya semua orang rela berkorban demi dirinya." Naruto dan Sai saling bersitatap. "Kalian hanyalah sekelompok mahluk tidak tahu diri dan egois. Kalian tidak pantas memilik Hinata! dan kami tidak akan membiarkan kalian membawa Hinata!"
Suara tawa terdengar menggema keras, menarik atensi Naruto, Hinata dan Sai. Manik rembulan membulat sempurna, dia menutup mulut, tidak percaya dengan pemandangan yang dia lihat. Sekitar lima meter, Toneri berdiri dengan tangan mencekik leher Sasori, pemuda itu bahkan sudah tidak menapak, berusaha melepaskan diri. Tubuhnya penuh luka sayatan, darah merembes dari salah satu lengannya.
"Sasori-san!" Hinata menjerit, segera berlari hendak menolong.
Namun Hinata bukanlah tandingan Toneri. Dengan sekali pukulan, gadis itu terbanting hingga beberapa meter dan menabrak meja-meja. Naruto berseru, berlari menghampiri Hinata. Sementara itu Toneri merobek pakaian hitam Sasori, memerlihatkan separuh badannya yang telah terluka.
Toneri mengelus pelan leher bagian kanan Sasori. DI sana terdapat sebuah lambang pusaran merah. Lambang yang sangat Toneri pahami artinya.
"Kau manusia hina, berani-beraninya melakukan perjanjian darah dengan keturunan Putri Kayuga." Toneri berdesis mengerikan.
Manik dengan sorak bunga putih itu beralih pada Hinata, dia tersenyum tipis. "Wahai ratuku, tidak seharusnya kau mengambil pasangan dari mahluk hina ini. Dia seharusnya menjadi makan malammu, bukan teman hidup. Karena itu izinkanlah aku membenarkan simpul tadir yang kusut."
"Jauhkan tanganmu dari Sasori-san, Toneri!" Hinata membentak.
"Tentu ratuku, setelah aku membunuhnya."
Kejadian itu bagaikan gerakan slow motion, ketika Hinata berlari sekuat tenaga, dan gerakan tangan Toneri yang bergerak lurus. Maupun Sasori yang menolehkan kepalanya, menatap lurus pada Hinata sambil tersenyum tipis. Bibir itu bergerak, berbisik, tidak sampai selesai kata-katanya ketika sang pemilik tidak kehilangan jiwanya.
"Ini bukan salah-"
Crash!
"SASORI-SAN!"
Sebuah kepala baru saja jatuh dan bergelinding pelan, darah segar membasahi lantai semen dan bau anyir tercium pekat. Hinata mematung, berdiri tiga langkah dari Toneri dan Sasori yang sudah tidak bernyawa. Sedetik kemudian tubuh gadis itu limbung, jatuh ke lantai. Naruto berteriak memanggil Hinata dan berusaha menghampirinya. Namun Sai menghalangi, menyerangnya, membuat Naruto tertahan.
Toneri melirik dengan tatapan datar dan dingin ke arah Hinata yang pingsan. Dia berdecak pelan dan melemparkan tubuh Sasori ke sembarang.
"Sungguh malang ratuku, merasakan ikatan yang terputus secara tiba-tiba." Toneri berlutut satu kaki, mengelus pelan pipi mulus Hinata dengan tangannya yang basah oleh darah. "Tapi tenang saja, kau akan merasakan kenikmatan tiada tara ketika kita menikah, ratuku."
"Menjauh kau dari Hinata!" seruan baru terdengar bersamaan sebutir peluru perak.
Toneri menghindar, kemudian menatap tajam kemunculan orang baru. Itu adalah Neji, bersama puluhan laki-laki berjas hitam dengan moncong pistol mengarah pada Toneri dan Sai. Neji menggeram marah, melihat adik perempuannya yang tergeletak di lantai. Dengan sekali perintah darinya, tembakan puluhan peluru berhasil memukul mundur manusia bulan.
"Naruto, cepat bawa pergi Hinata!" perintahnya.
Naruto yang berhasil melepaskan diri dari Sai karena bantuan bodyguard Neji, segera menghampiri Hinata. Dia segera membopong Hinata, berlari menuju ke arah pewaris Hyuuga.
"Masuk ke mobil, pergi sejauh mungkin. Aku akan menyusul dengan melihat posisimu lewat alat pelacak di jam tanganmu." Neji menjelaskan tanpa melepaskan tatapannya dari Toneri dan Sai yang sibuk menghindar.
"Baik, Neji."
"Ini kuncinya, sekarang pergilah!"
Naruto mengangguk, "Jaga dirimu!" sambungnya sebelum berlari pergi menuju mobil yang tidak jauh dari tempat mereka berada.
Remaja pirang itu membuka pintu mobil hitam, mendudukkan Hinata dan memasang sabuk pengaman sebelum dia duduk di kursi pengemudi. Tidak buang waktu, Naruto segera tancap gas, dan mobil melaju cepat membelah jalanan sepi.
.
.
.
Continue...
