DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Ojamajo Doremi 16, 17, 18, 19 & 20's series (light novel) © Kodansha, 2011-2019. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.


Stay at Home

.

Teach from Home


"Papa, mama ketiduran di depan laptop lagi…"

Seorang gadis kecil berambut biru menghampiri ayahnya di dapur dan melaporkan apa yang dilihatnya di ruang keluarga, sementara sang ayah sedang menyiapkan makan malam mereka.

"Biarkan saja, Tsubomi. Mama pasti sudah terlalu capek bekerja, jadi biar papa saja yang menyiapkan semua ini. Jangan ganggu mama," sahut sang ayah yang berprofesi sebagai seorang atlet sepak bola terkenal di timnas Jepang bernama Kotake Tetsuya, "Nanti saja kalau makan malam kita sudah jadi."

"Tapi kan…"

"Tsubomi, papa tahu kalau kamu kangen masakan mama, tapi bukan berarti kamu harus paksa mama masak makan malam saat mama kelelahan begini. Biarkan saja mama beristirahat dulu," potong Kotake, "Wajar kalau mama sibuk kerja disaat seperti ini."

"Dasar virus nakal, virus jahat!" seru Tsubomi, "Gara-gara ada virus mama jadi sering kecapekan. Sekarang mama cuma bisa masak makan malam di hari Sabtu dan Minggu, padahal biasanya mama masih bisa masak makan malam setiap hari, walaupun mama kerja di sekolah dari Senin sampai Jumat."

"Memangnya kenapa? Masakan papa juga nggak kalah enak kan, dari masakan mama?" tanya Kotake, "Bukannya kamu suka semur daging buatan papa? Kadang-kadang kan, papa juga masak steak untuk kita semua."

"Iya sih, tapi… aku kan juga mau ngobrol sama mama. Biasanya kan, waktu mama masak aku ikut lihat-lihat ke dapur, atau nggak duduk di kursi di ruang makan, terus mama ajak aku ngobrol. Kadang suka bacain cerita juga," jawab Tsubomi polos, "Makanya hari ini, ada hal yang mau aku tanyain tentang cerita yang biasa mama baca."

"Sabar ya, Tsubomi. Kamu kan bisa tanya ke mama lain kali saja. Untuk sekarang, biarkan mama istirahat sebentar, ya?" bujuk Kotake, "Mendingan sekarang, kamu siap-siap di depan meja makan. Nih, sebentar lagi masakan papa mateng, siap buat makan malam kita."

"Papa udah ngelap meja makan?"

"Sudah dong, anak papa yang paling cantik," Kotake mengecup kening sang putri sebelum menambahkan, "tapi sebelum ke ruang makan, kamu cuci tangan dulu ya, biar virusnya takut sama kamu."

"Oke pa," jawab Tsubomi sambil mengedipkan matanya. Iapun bergegas menuju ke kamar mandi untuk mencuci tangan sementara sang ayah meneruskan kegiatannya menyiapkan makan malam.

'Doremi kelelahan lagi hari ini,' pikir Kotake sambil memasak, 'Pasti waktu rapat virtual tadi, wakil kepala sekolah marah-marah lagi… Aku heran kenapa beliau masih bekerja di SD Misora. Harusnya kan, beliau sudah pensiun dan digantikan oleh orang lain.'

'Yah, lebih baik aku fokus ke masakanku saja, daripada memikirkan beliau,' Kotake mengaduk semur daging buatannya sebelum mencicipinya sedikit, 'Setidaknya, sekarang aku bisa mengasah kemampuan memasakku, walaupun aku tidak memasaknya setiap hari.'

"Hmm, rasanya sudah pas," komentarnya puas, "Aku tahu masakanku pasti enak."

Setelah Kotake yakin bahwa masakannya sudah matang, ia lalu mematikan kompor dan menyiapkan masakannya itu, membaginya menjadi dua porsi sedang dan dua porsi kecil juga melengkapinya dengan nasi sebelum menaruhnya di meja makan tempat Tsubomi menunggu.

"Oh iya, Tsubomi, mana kakakmu, Tsuchiya?" tanya Kotake, "Belum keluar kamar?"

"Zucchini lagi cuci tangan di kamar mandi," jawab Tsubomi, "Sebentar lagi juga kesini."

"Ngomong-ngomong, kamu cuci tangannya kok cepet banget?" Kotake bertanya lagi, "Tanganmu sudah benar-benar bersih belum?"

"Udah dong, pa. Kan aku udah tahu tata cara cuci tangan yang baik dan benar dari papa sama mama," Tsubomi tersenyum, "Aku udah hafal caranya."

"Anak pintar," puji Kotake, "Papa bangga sama kamu, Tsubomi."

"Jadi, aku udah boleh bangunin mama?" kali ini giliran Tsubomi yang bertanya, "Kan udah mau makan malam."

"Biar papa saja yang membangunkan mama. Kamu tunggu Tsuchiya disini saja, ya?" jawab Kotake yang mulai berjalan kearah ruang keluarga, "Jangan mulai makan sebelum papa kembali bersama mama, ya?"

"Oke!"

Kotake kemudian memasuki ruang keluarga, dimana seorang wanita muda berambut merah tertidur di depan sebuah laptop yang layarnya terkunci dan belum dimatikan. Sang atlet sepak bola lalu mencoba membangunkan sang istri dengan lembut, "Doremi, sudah waktunya makan malam. Ayo kita ke ruang makan. Tsuchiya dan Tsubomi sudah menunggu."

Istri Kotake, Doremi, secara perlahan membuka kedua matanya dan menguap sebentar, sebelum menyahut perkataan suaminya, "Oh, Tetsuya, maafkan aku karena tidak bisa menyiapkan makan malam kita lagi hari ini. Rapat virtual hari ini berlangsung lama sekali, bahkan lebih lama dari biasanya. Belum lagi aku harus menyiapkan materi untuk mengajar daring besok."

"Sudah, tidak apa-apa. Aku kan juga bisa menyiapkannya, seperti biasanya. Kaupikir siapa yang menyiapkan makan malam sejak Senin kemarin?" Kotake menepuk bahu Doremi, "Lebih baik sekarang kau matikan laptopmu, jadi kita bisa makan malam dengan tenang."

"Apa yang kaumasak hari ini? Kelihatannya kau bangga sekali," tanya Doremi ingin tahu sambil mematikan laptopnya, "Yang pasti bukan steak, kan? Di kulkas kan hanya ada daging semur."

"Ya, aku hanya memasak semur daging, tapi aku jamin kau pasti akan menyukainya," jawab Kotake dengan bangga.

"Tetsuya, sejak kapan aku tidak menyukai semur daging buatanmu?"

"Papa, mama, ayo makan malam. Aku udah laper nih," tiba-tiba terdengar suara Tsubomi mengeluh dari ruang makan, "Dari tadi aku nggak sabar mau makan semur buatan papa."

"Baik, Tsubomi, kami ke ruang makan sekarang," sahut Doremi sebelum ia bergegas menuju ke ruang makan bersama Kotake.

Tsuchiya, kakak kembar Tsubomi, baru saja duduk di kursinya saat kedua orangtuanya memasuki ruang makan.

"Jadi benar, papa masak semur daging…" ujar Tsuchiya sambil menatap hidangan makan malam yang tersedia di meja, "Pantas saja, aromanya tercium sampai ke kamarku tadi."

"Nah, kalau begitu, ayo kita makan sekarang!" sahut Kotake sebelum mereka berseru, "Itadakimasu!"

.O.

Beberapa jam kemudian…

"Apa yang sedang kaupikirkan?" tanya Kotake kepada Doremi yang sekarang sudah mengganti bajunya dengan piyama dan sedang duduk termenung di tempat tidur, "Kupikir kau sudah tidur lagi."

Doremi menghela napas sebelum menjawab, "Aku sedang memikirkan Hana-chan. Dia pasti sedang sibuk sekali sekarang."

"Kau mengkhawatirkannya, kan?" tebak Kotake sambil duduk disebelah sang istri, "Kau khawatir kalau-kalau sampai terjadi sesuatu padanya?"

"Tentu saja, apalagi… sekarang dia sedang merawat pasien-pasien itu… Orang-orang yang terinfeksi virus corona sejak awal tahun ini," Doremi merenung, "Memang sih, belum ada bukti kalau virus itu juga bisa menyerang penyihir seperti Hana-chan, tapi… tetap saja aku merasa was-was. Kalau virus itu menyerangnya, bisa-bisa identitasnya sebagai penyihir akan ketahuan."

"Yah, semoga saja dia punya sistem imun yang bagus, jadi dia tidak akan tertular virus itu," harap Kotake, "Setidaknya, Makihatayama mengenakan alat pelindung diri saat merawat pasien-pasien itu."

"Bicara tentang alat pelindung diri, Hana-chan sempat mengabariku kalau dia akan mengenakan alat pelindung diri khusus yang diterimanya dari Majokai, jadi dia tidak akan mengenakan alat pelindung diri yang disediakan di Rumah Sakit," jelas Doremi, "Mudah-mudahan alat pelindung diri yang dikenakannya bisa melindunginya dari virus corona…"

"Aku yakin dia bisa bertahan," sahut Kotake sambil menganggukan kepalanya, sebelum mengalihkan pembicaraan, "Jadi, lebih baik kita bicarakan hal lain saja sekarang. Aku tidak ingin melihatmu khawatir terus."

"Baiklah…" Doremi kembali menghela napas, "Memangnya apa yang ingin kaubicarakan?"

"Ini tentang kakekku," Kotake mulai menjelaskan, "Tadi sore beliau menghubungiku lewat camphone dan katanya, beliau berharap supaya kita bisa mengunjunginya ke rumahnya di Belanda begitu pandemi berakhir nanti."

"Syukurlah kalau begitu," kali ini, Doremi menghela napas lega, "Setidaknya kakekmu sudah tidak di Amerika lagi. Kau tahu sendiri kan, kalau keadaan di Amerika parah sekali."

"Ya, aku mengikuti berita terbaru di TV, dan kabarnya, keadaan di Amerika bahkan lebih parah dari yang terjadi di Italia," Kotake menyetujui perkataan sang istri, "Untung saja kakekku masih sempat menyelamatkan diri ke Belanda."

"Aku juga bersyukur karena Momo-chan tinggal di Misora lagi sekarang," tambah Doremi, "Jadi, kakekmu akan menetap di Belanda sampai pandemi corona berakhir? Dan kalau keadaannya sudah aman, kakekmu ingin supaya kita bisa menengoknya disana?"

"Iya. Katanya, beliau ingin sekali bertemu denganku, kau, dan juga… cicit-cicitnya, Tsuchiya dan Tsubomi," jawab Kotake, "Kau setuju kan?"

"Ya, tergantung. Kita harus lihat dulu pandeminya akan berakhir kapan. Kalau pandemi berakhir bukan di musim libur, aku tidak bisa ikut kesana. Aku kan harus mengajar di sekolah."

"Memangnya kau tidak bisa minta libur? Aku kan juga ingin mengunjungi kakek bersamamu," Kotake mengernyitkan dahi, "Masih ada pandemi saja, kau sudah sibuk sekali."

"Tetsuya, kau kan tahu sendiri kalau aku ini wali kelas. Aku tidak bisa seenaknya mengambil cuti seperti itu," Doremi menggeleng, "Bagaimanapun, kita masih belum bisa memastikan kapan pandemi ini akan berakhir, jadi ya… mudah-mudahan saja pandemi akan berakhir di libur musim panas, kalau kita mau cepat kesana."

"Mudah-mudahan saja," kali ini, giliran Kotake yang menghela napas, tapi kemudian ia menyadari sesuatu, "Kalau bisa sih, pandemi berakhir di bulan Juli, jadi kita bisa merayakan ulang tahunmu sekaligus hari jadi pernikahan kita di Belanda."

"Aku setuju dengan pendapatmu."

"Kemudian setelah itu, kita bisa… fokus berusaha mewujudkan keinginan Tsuchiya dan Tsubomi supaya mereka bisa punya adik," tambah Kotake, "Kurasa, tidak ada salahnya kalau kita sering jalan-jalan berdua saja sepulangnya dari Belanda."

"Tetsuya…" Doremi tersipu, "Bagaimana dengan Tsuchiya dan Tsubomi? Mereka juga pasti ingin sekali diajak jalan-jalan."

"Tenang saja, Doremi. Biar aku yang mengurus semuanya," Kotake tersenyum, "Yang penting semuanya harus kembali normal dulu."