DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Ojamajo Doremi 16, 17, 18, 19 & 20's series (light novel) © Kodansha, 2011-2019. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.
Stay at Home
.
Collaboration from Home
"Keren sekali! Papa dan mama bisa berkolaborasi dengan musisi-musisi lain dari seluruh dunia tanpa harus meninggalkan rumah!" komentar seorang gadis kecil yang sedang menonton sebuah video kolaborasi musik yang direkam oleh musisi-musisi yang terlibat dari rumah mereka masing-masing, "Walaupun begitu, hasilnya tetap rapi. Seperti rekaman dari tempat yang sama."
"Yah, teknologi memang memudahkan kita semua untuk melakukan apa saja, meskipun sekarang kita disarankan untuk tetap di rumah saja," sahut sang ayah yang berprofesi sebagai trumpeter jazz profesional bernama Yada Masaru, "Karena itu juga, papa tidak merasa bosan tinggal di rumah saja bersamamu dan mama, Kirari."
"Aku senang mendengarnya," ujar Kirari sambil tersenyum. Ia lalu mengalihkan perhatiannya kepada sang ibu yang baru saja memasuki ruang santai tempat ia dan sang ayah berada, kemudian bertanya, "Ada apa, ma? Kelihatannya mama serius sekali."
"Oh, tidak apa-apa, Kirari. Mama hanya perlu melakukan sesuatu," menyadari apa yang sedang dilakukan oleh sang anak, Hazuki balik bertanya, "Ngomong-ngomong, Kirari, apa kau sudah selesai menonton video kolaborasinya? Ada sesuatu yang harus mama lihat di Karen Music Tube."
"Tenang saja, ma. Videonya akan selesai tiga menit lagi, setelah itu mama boleh melihat situs sekolah mama," jawab Kirari meyakinkan, "Pasti mama masih kebingungan menentukan siapa junior mama disana yang akan mama pilih untuk kolaborasi bareng mama, ya?"
Hazuki tertawa kecil sebelum berkata, "Justru mama ingin mengecek salah satu junior yang direkomendasikan oleh teman mama, dan kemungkinan besar sih, mama akan memilihnya."
"Kau dapat rekomendasi dari siapa?" tanya Masaru sambil mengernyitkan dahi, "Apa itu dari teman sekelasmu di Karen yang pernah bergosip tentangmu di Ura Site dulu?"
"Ayolah, sayangku, Riko-chan sekarang sudah berteman baik denganku. Aku kan sudah menjelaskan tentang alasannya melakukan hal itu padamu, dan toh setelah itu dia menyadari kesalahannya dan tidak pernah mengulanginya lagi," Hazuki menghela napas, "Bagaimanapun, dia baru saja merekomendasikan satu nama kepadaku, dan aku harus mengeceknya sekarang juga."
"Baiklah," sahut Masaru dengan agak enggan, "Aku tahu semakin lama dia semakin baik padamu."
Hazuki tersenyum, "Aku tahu kau akan mengerti."
Setelah Kirari selesai menonton video, Hazuki mengambil alih laptopnya dan membuka Karen Music Tube disana. Sang violinist profesional itupun mengetikkan sebuah nama di kolom pencarian, yang akhirnya mengarahkannya kepada sebuah akun yang hanya baru mengunggah lima video disana.
"Videonya sedikit sekali," komentar Masaru, "Kau yakin murid sekolahmu yang satu ini cukup kompeten untuk berkolaborasi denganmu?"
"Kita lihat videonya dulu. Riko-chan bilang sih, walaupun videonya hanya ada lima, tapi penampilannya cukup bagus, padahal anak ini baru masuk Karen di tingkat SMA, seperti Riko-chan dulu," sahut Hazuki sambil mengklik sebuah video, "Dia masuk Karen lewat jalur beasiswa, dan nilai-nilainya di kelas juga cukup menjanjikan."
Mereka pun menonton kelima video yang diunggah oleh akun tersebut.
Kirari takjub menyaksikan video-video tersebut. Iapun ikut berkomentar, "Wah, penampilan kakak yang satu ini hebat sekali! Mama, kalau tidak salah empat dari lima lagu ini tingkat kesulitannya tinggi sekali, kan?"
Hazuki mengangguk, "Padahal anak ini baru masuk SMA Karen tahun ini, tapi penampilannya sudah sangat mengesankan begini."
"Bagaimana dengan latar belakangnya? Mungkin saja sebelum bersekolah di Karen, anak ini berlatih di sekolah musik yang sudah terkenal," tanya Masaru, "Meski begitu, kelihatannya dia bukan anak yang sombong."
"Aku sudah membaca biodata anak ini, yang kudapatkan dari pihak sekolah, dan dari apa yang kubaca disana, dia berasal dari keluarga yang biasa saja. Tadinya, mereka bahkan tinggal di pinggiran kota," jelas Hazuki, "Meski begitu, keluarganya sangat mendukung bakatnya bermain biola, jadi mereka berusaha keras supaya bisa pindah ke pusat kota Misora, supaya dia tidak harus berjalan terlalu jauh ke Karen."
"Hebat sekali junior mama yang satu ini," puji Kirari sambil mengecek nama lengkap dari pemilik akun yang dimaksud, "Namanya Hanazawa Yani."
"Rasanya aku sudah bisa memutuskannya. Dari sekian banyak video yang sudah kulihat selama seminggu ini, hanya lima video ini yang membuatku sangat terkesan," ujar Hazuki sambil mulai mengklik beberapa pilihan begitu video terakhir selesai diputar. Wanita muda berkacamata itupun mengetikkan sesuatu sambil menambahkan, "Aku akan memintanya untuk berkolaborasi denganku."
.O.
Malam harinya…
"Akhirnya selesai juga," Hazuki menghela napas lega saat ia berjalan memasuki ruang makan dan duduk di kursinya, "Maaf ya, Kirari. Mama jadi tidak bisa menyiapkan makan malam bersamamu dan papa hanya karena mama langsung membuat video kolaborasi hari ini juga."
"Tidak apa-apa, ma. Aku senang bisa memasak makan malam bersama papa," Kirari tersenyum, "Yang penting sekarang, kita bisa makan malam sama-sama, kan?"
"Terima kasih, Kirari," Hazuki membalas senyuman sang putri, "Ngomong-ngomong, apa yang kalian masak untuk makan malam hari ini?"
"Tom Yum Goong," jawab Masaru singkat sambil menyajikan masakan yang masih hangat tersebut dalam tiga buah mangkuk diatas meja, "dan aku mengetahui resepnya dari Hasebe."
Hazuki tertawa kecil, "Jadi sekarang kau tidak segan-segan untuk menanyakan beberapa resep masakan kepadanya?"
"Memangnya kenapa? Kita semua sama-sama berada di rumah saja sekarang, jadi tidak masalah kan, kalau sesekali… aku ingin memasakkan sesuatu yang membuat kita merasa seperti sedang berada di negara lain?" sahut Masaru santai, "Setidaknya, kita tidak akan merasa bosan walaupun tidak bisa makan diluar."
"Kau perhatian sekali, Masaru-kun. Terima kasih banyak," puji Hazuki dengan tulus, "Kau benar-benar suami yang baik untukku."
"Tentu saja, aku akan melakukan apapun untukmu… Hazuki," balas Masaru, "Bagaimanapun, kita harus bisa bekerja sama dengan baik di rumah kita sendiri."
"Iya."
"Ehm, apa kita bisa mulai makan sekarang? Aku sudah lapar," ujar Kirari mengingatkan, "Akan tidak enak kalau supnya sudah dingin."
"Oh… iya, Kirari. Ayo kita makan," sahut Hazuki, "Mama juga sudah tidak sabar ingin mencicipi Tom Yum Goong yang kalian buat ini."
Mereka pun mulai menyantap Tom Yum Goong itu dengan lahap.
