DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Ojamajo Doremi 16, 17, 18, 19 & 20's series (light novel) © Kodansha, 2011-2019. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.


Stay at Home

.

Home Workout


"Hari pertama treadmill, hari kedua sepeda statis, hari ketiga senam, lalu hari keempat yoga, jadi untuk hari kelima mungkin aku akan lompat tali saja."

Seorang wanita muda berambut biru pendek sedang mengutak-atik smartwatch yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, memilih latihan apa yang akan dilakukannya hari ini. Sejak semua orang dihimbau untuk berada di rumah saja karena pandemi, wanita itu, yang adalah seorang atlet lari, memutuskan untuk melakukan bermacam-macam latihan olahraga yang tidak menuntutnya untuk pergi keluar rumah setiap hari.

"Ai-chan, kau yakin tidak mau coba angkat ini?" tanya suami wanita itu sambil menyodorkan sepasang dumbbell kepada sang istri, "Yang kubawa ini adalah yang paling ringan, jadi tidak akan sulit buatmu."

"Leon-kun, aku berolahraga bukan untuk membentuk ototku. Aku hanya ingin menjalani gaya hidup sehat, walaupun sekarang tidak ada pertandingan, dan aku tidak terlalu tertarik dengan olahraga angkat berat," jawab Aiko mantap sambil mengeluarkan seutas tali dari dalam sebuah laci di ruang olahraga tempat mereka berada sekarang, "Lebih baik kau saja yang melatih ototmu dengan menggunakan dumbbell itu. Kalau itu kurang berat buatmu, kau juga boleh menukarnya dengan barbel yang biasa kaugunakan."

"Begitu ya? Baiklah," Leon menghela napas lalu meletakkan sepasang dumbbell yang digenggamnya diatas meja sebelum mengambil sebuah smartwatch hitam miliknya dan mengenakannya di pergelangan tangannya, "tapi, sebelum aku menukar dumbbell ini dengan barbel itu, aku akan mengukur kadar oksigen dalam darahku dulu. Aku ingin memastikan kalau aku masih sehat-sehat saja sekarang."

"Terserah kaulah," Aiko pun mulai mengayunkan tali yang diambilnya dan melompatinya dengan konstan, setelah ia menekan tombol mulai di smartwatch birunya, "Hari ini aku hanya ingin lompat tali."

Tak lama kemudian, seorang anak lelaki berjalan memasuki ruang olahraga itu dan bertanya kepada Leon dan Aiko, "Ayah, ibu, kenapa kita tidak boleh keluar rumah sama sekali? Padahal cuacanya sedang bagus diluar sana."

"Apa boleh buat, Alex. Cuacanya memang sedang bagus-bagusnya, tapi udara diluar sana sedang tidak bagus. Masih ada banyak virus," jawab Aiko sambil terus berkonsentrasi melompati tali yang diayunnya, "Kalaupun kau mau keluar rumah, kau harus pakai masker, tapi yang ibu tahu, kau tidak pernah betah memakainya."

"Aduuuh, aku bosan sekali!" keluh Alex, "Kenapa sih harus ada virus? Padahal aku ingin sekali main basket di lapangan dekat rumah."

"Mau bagaimana lagi? Kalau kita semua masih ingin sehat, mau tidak mau kita harus membatasi kegiatan kita diluar rumah," Leon mengangkat bahu, "Kalau tidak begitu, bisa-bisa virus itu menyerang kita semua."

"Bahkan sampai sekarang kita tidak boleh bertemu dengan kakek dan nenek," Alex menghela napas, "Aku juga kangen sama kakek dan nenek."

"Ibu juga kangen sama kakek dan nenekmu, Alex, tapi dalam keadaan seperti ini, justru akan sangat berbahaya kalau kita nekat keluar sana dan menemui mereka," Aiko mencoba menenangkan sang putra sambil melompat-lompat dengan hati-hati, "Akan sangat berbahaya kalau kita pergi. Bisa-bisa, tanpa kita sadari, kita terpapar virus itu di tengah perjalanan, dan kalau sampai kita memaparkan virus itu kepada kakek dan nenek, ibu akan merasa sangat bersalah."

"Sekalipun kita tidak menyadarinya?"

"Ya," sang ibu pun berhenti melompat, "Karena bagi kakek dan nenek, resiko terpapar virusnya lebih besar. Ibu khawatir kalau kita malah membuat mereka sakit parah hanya karena kita nekat menengok mereka kesana, apalagi sekarang, kakekmu mulai sering pegal-pegal."

"Ya ampun, virus itu benar-benar menyebalkan," gerutu Alex, "Makhluk menyebalkan itu beruntung karena ukuran mereka terlalu kecil untuk dilihat. Kalau saja aku bisa melihat virus-virus itu, aku benar-benar ingin memusnahkan semua makhluk jelek itu dari muka bumi ini! Rasanya aku ingin menghajar mereka dan mengirim mereka ke planet lain!"

"Alex, kau jangan berlebihan begitu. Biasanya pandemi seperti ini bisa berakhir kalau para peneliti sudah bisa menyempurnakan vaksin yang mereka buat, supaya jumlah orang yang terpapar virus itu bisa dikendalikan dan berkurang secara perlahan, bukan dengan cara mengirimkan virusnya ke planet lain," Aiko tertawa lalu melanjutkan lompatannya, "Hanya para peneliti obat dan dokter yang bisa membantu mengakhiri pandemi ini, bukan para astronot."

"Terserah ibulah," Alex kembali menghela napas, "Rasanya aku bosan sekali sekarang."

"Syukurlah, kadar oksigenku masih 98% sekarang. Aku masih aman dari virus itu," ujar Leon lega sebelum ia memasukkan sepasang dumbbell yang tadi ditaruhnya diatas meja kedalam sebuah lemari di pojok ruangan dan menukarnya dengan sepasang barbel berbobot lima kilogram. Iapun duduk disebuah kursi dan mulai mengayunkan sepasang barbel yang digenggamnya, dengan bertumpu kepada kedua sikunya diatas meja, "Melatih otot dengan barbel memang yang terbaik. Aku bisa merasakan otot lenganku menguat setiap kali aku mengayunkan barbelku ini."

"Otot?" tiba-tiba sebuah ide muncul di benak Alex, "Ayah, mau adu panco denganku?"

"Alex, ayah sedang latihan otot. Nanti saja adu panconya, setelah latihan ayah."

"Tidak bisa begitu, ayah. Aku ingin adu panco dengan ayah sekarang juga," desak Alex, "Lagipula, ayah juga bisa melatih otot ayah dengan adu panco."

"Setengah jam lagi ya, Alex. Ayah sedang semangat-semangatnya berlatih dengan barbel," tolak Leon dengan halus, "Ini latihan favorit ayah sejak dulu."

"Ya, sampai-sampai dulu ayah sering membawanya ke restoran saat ayah bertemu dengan ibu atau dengan teman-temannya disana," tambah Aiko dengan nada mengejek, "Hampir semua pengunjung restoran memandangi ayah dengan heran."

"Ai-chan…" protes Leon, "Kau tidak perlu meledekku begitu."

"Habisnya, dulu gayamu itu memang agak aneh, Leon-kun," sahut Aiko, "Jarang sekali ada orang normal yang membawa barbel ke restoran, apalagi ke restoran cepat saji."

"Apanya yang aneh? Memangnya salah kalau aku ingin melatih otot lenganku saat aku menunggu pesanan makananku?" Leon membela diri, "Atau, memangnya salah kalau aku ingin melatih otot lenganku setelah makan siang? Lagipula, aku hanya membawa barbel kecil…"

"Sekecil apapun ukurannya, barbel tetaplah barbel. Jarang ada orang yang memakainya diluar gym atau tempat fitnes," Aiko kembali menyahut, "Apa yang kaulakukan dulu lebih seperti ingin memamerkan otot lenganmu dihadapan orang banyak."

"Memangnya kenapa? Apa itu salah?"

"Tentu saja. Kalau kau hanya bermaksud pamer, itu artinya kau sombong," Aiko mengutarakan pendapatnya dengan sejujur-jujurnya sambil terus melompat dengan lincah, "Padahal, sebagai seorang atlet, tidak sepantasnya kau menyombongkan diri seperti itu."

"Menurutmu begitu?"

Aiko mengangguk, "Ditambah lagi dengan caramu menghitung jumlah ayunan barbelmu. Dulu kau memang setengah hati saja dalam berbicara menggunakan Bahasa Inggris."

"Ya ya. Sekarang aku tahu kalau 'Me wa number one' itu salah. Yang benar itu 'I'm number one'," kali ini Leon yang menghela napas, "Setidaknya, pengucapanku benar di kalimat 'You're number two'."

"Baiklah, aku kembali ke kamar saja sekarang," sahut Alex yang akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan olahraga di rumahnya tersebut, "Kalau ayah sudah selesai latihan dengan barbel ayah, panggil aku di kamarku ya?"

"Okay, Alex. Nanti ayah panggil begitu ayah selesai," Leon berjanji kepada putra sulungnya, "Kau tunggu saja di kamarmu."

.O.

Siang harinya…

"Alex, Alice, ayo kita makan siang. Bibimbap buatan ibu sudah siap!" seru Aiko memanggil kedua anak kembarnya, "Jangan lupa cuci tangan dulu, ya? Setelah itu baru ke ruang makan. Kita makan sama-sama."

"Okay, mommy!" sahut kedua anak itu sebelum bergegas memasuki kamar mandi untuk mencuci tangan, kemudian menghampiri kedua orangtua mereka ke ruang makan setelah mereka yakin bahwa tangan mereka sudah bersih.

"Asyik, ada Bibimbap!" seru Alice riang, "Ibu pasti mengetahui resepnya dari Tante Nobuko, ya?"

"Ya, untung saja ibu sempat mencatat resepnya waktu terakhir kali kita berkunjung ke rumahnya. Habisnya saat itu, kelihatannya kau suka sekali dengan Bibimbap buatan Tante Nobu, jadi tidak ada salahnya kan, kalau ibu juga mau sekali-sekali membuatkannya untukmu?" Aiko tersenyum, "Mudah-mudahan kau juga suka Bibimbap buatan ibu."

"Kurasa aku akan menyukainya juga. Masakan buatan ibu kan selalu enak," ujar Alice sebelum ia mulai makan, "Itadakimasu!"

Mereka pun mulai menyantap makan siang mereka dengan lahapnya, dan dalam sekejap, nasi campur ala Korea buatan Aiko itupun habis tak bersisa.

"Aku bilang juga apa. Masakan ibu akan selalu jadi yang terbaik," puji Alice, "Dari menu lokal sampai menu internasional, ibu selalu bisa memasaknya dengan baik."

"Terima kasih atas pujiannya, Alice," sahut Aiko, "Ibu senang kalau kau menyukainya."

"Nah, karena sekarang kita sudah selesai makan siang, bagaimana kalau kita adu panco lagi?" tawar Leon kepada Alex, "Yang tadi kan hasilnya masih seri."

"Boleh saja," Alex menerima tantangan dari sang ayah, "tapi sebelum itu, ayah harus membantuku melatih ototku. Ayah tahu latihan otot yang cocok untukku, kan?"

"Tentu saja," Leon pun mengajak Alex ke ruang olahraga tempat ia melatih ototnya dengan barbel tadi pagi, "Ayo kita latih ototmu supaya jadi lebih kuat."

"Oh iya, Alice, tadi pagi kamu ngapain? Seingat ibu, tadi pagi kamu sempet di kamar lama banget, setelah itu baru kamu ke ruang keluarga buat nonton TV," tanya Aiko, "Kamu beres-beres kamar?"

"Iya bu, habisnya kamarku berantakan sekali," sahut Alice malu-malu, "Ibu kan pernah bilang, kalau aku mau nonton TV, kamarku harus rapi dulu."

"Anak pintar," puji Aiko sambil mencuci peralatan makan yang mereka gunakan saat makan siang tadi, "Kalau begitu, apa sekarang, kau mau membantu ibu beres-beres rumah?"

"Tentu saja," jawab Alice yang kemudian menyusul sang ibu ke area dapur, "Aku akan membantu ibu dengan senang hati."