"Kyaaaahh-sial!" Sakura mengumpat tanpa sadar karena terkejut. Dia berlari menjauh dari jendela ketika kaca jendela pecah atas ulah bintang jatuh tadi.
Deg
Deg
Badan Hinata sedikit bergetar. Dia menatap atap-atap rumah, asal suara bising karena hantaman yang sangat banyak. "Atapnya tidak akan bolong, bukan?" Sakura bertanya membuat Hinata menatapnya. Pertanyaan itu membuat Hinata merasa khawatir.
"Seperti ada suara pecahan…"
"..."
•••
"Jangan khawatir. Atap rumah ini sangat kokoh." Meski begitu katanya, tetap saja Shikamaru merasa khawatir. Dia tidak bisa duduk nyaman di atas sofa empuk.
Naruto masih mengamati layar televisi yang menampilkan rekaman CCTV. Syukur selang air di halaman depan dan belakang menyala jadi api tidak bisa menyebar.
"Benar-benar sial! AKU BENCI TAHUN INI!" Shikamaru memekik karena merasa frustasi. "Apa lagi yang akan terjadi setelah ini?!"
•••
"Huaaaaa Hinata!" Di bawah meja makan mereka berdua bersembunyi. Sakura memeluk erat Hinata, berharap rasa takutnya bisa menghilang. "Aku takut."
"Jangan khawatir, Sakura. Atapnya tidak akan tembus." ucap Hinata. Namun, meski begitu dia tetap memilih mengamankan diri di bawah meja makan yang ada di dalam dapur.
"..." Mata Sakura menatap ke segala arah ketika tidak ada lagi suara hantaman yang terdengar.
"Seper"
BRAAAACKK
"Kyaaaaaahh!" Rasanya jantung mereka berdua seperti meloncat keluar. Tanpa panas tanpa hujan, dinding rumah dekat pintu belakang tiba-tiba saja runtuh dalam ukuran cukup besar.
"A-ap"
"Sssttt!" Hinata membekap bibir Sakura menggunakan telapak tangan. Matanya tanpa sengaja menangkap bayangan hitam membuatnya siaga.
Deg
Hinata menelan ludah ketika sebutir keringat mengalir turun dari dahi. Rasanya seperti ada yang mendekat.
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.
202DIE
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
202DIE by Authors03
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 2
.
.
.
"Ada apa itu?" Shikamaru turut mengamati layar televisi. CCTV yang menghadap perkarangan rumah hingga jalanan mendapati orang-orang berlari seolah menjauhi sesuatu.
Mata Naruto memicing, menanti apa yang akan muncul di belakang orang-orang di jalanan itu.
"Apa itu?"
Deg
Mata Naruto terbelak. Dia melihat sosok bertubuh besar seperti sumo mengejar dengan langkah lamban tapi ketika mereka berhasil menangkap manusia. Mereka membunuhnya, menghancurkan wajah manusia dengan kedua tinju besar mereka.
Mulut Shikamaru membentuk huruf O. Orang-orang sumo itu dengan mudah menghancurkan wajah manusia dan kemudian mereka mengambil kedua mata manusia untuk dipasangkan ke matanya.
"Siapa mereka?"
•••
"Hiks Hinataaaa!" Sakura berlari sekuat tenaga. Mulutnya memekik karena rasa takut yang membuat tubuhnya bergetar. Beberapa orang berbadan besar dengan wajah seolah terbakar yang mengerikan terus mengejar tapi apa yang lebih mengerikan adalah matanya yang tidak memiliki bola mata.
"Sakura, jangan melihatnya." Hinata sedikit ngos-ngosan. Dia menggenggam tangan Sakura semakin erat karena takut akan berpisah darinya.
Ingin Sakura tanyakan apa yang sedang terjadi tapi tidak ada waktu untuk itu. Kaki mereka berlari sembarang arah, ke mana saja yang menurut mereka aman tapi ternyata tidak hanya mereka. Komplek rumah ini kacau. Ada darah di mana-mana dan orang-orang berlari berhamburan.
Craaaakkk
Langkah Hinata dan Sakura terhenti. Mata mereka membelak sempurna menyaksikan seorang manusia yang terjatuh ke tanah karena tarikan salah satu orang berbadan besar tadi.
Craaakk
Bibir mereka bergetar begitu juga dengan pupil mata. Tinju gemuk itu menghancurkan wajah lelaki tadi, tapi kedua tangan itu tidak mau berhenti meninju. Tinjuan demi tinjuan terus dilayangkan hingga wajah dan kepala itu hancur tak berbentuk.
Nafas Hinata tercekat dan kaki Sakura bak tak bertulang. Mereka kesulitan bernafas. Tubuh mereka mematung ketika pembunuh tadi menatap ke arah mereka dengan mata yang sebelumnya dia ambil dari perempuan tadi.
Badan besar itu melangkah mendekat membuat nafas Hinata terputus-putus. Mereka lupa akan cara berlari. Tubuh mereka yang bergetar hebat tak bisa digerakkan. Hanya bisa mematung menyaksikan tangan gemuk tadi mendekat mencoba mencapai wajah mereka.
Creeeckk
Deg
Tubuh Hinata dan Sakura terjatuh ke tanah ketika anak panah muncul dan mendarat sempurna di wajah pembunuh tadi membuatnya melangkah mundur beberapa langkah.
"Lari!"
"Shikamaru?!" Lelaki berambut nanas itu muncul entah dari mana dengan membantu Hinata dan Sakura berdiri.
"Shikamaru!" Sakura terpleset hampir saja terjatuh tapi Shikamaru menahan tubuhnya dengan mudah dan tanpa basa-basi membawanya lari.
Drrrzzt
Drrzzt
Baamm
Pagar besi tinggi secara otomatis tertutup setelah mereka bertiga masuk ke dalamnya.
"Shika, kamu ada di sini?" Sakura bertanya dan Hinata hanya diam, raut wajahnya tak nyaman.
"Aku tinggal di sini sejak beberapa bulan lalu." jawab Shikamaru apa adanya. "Tapi sebelum itu, sebaiknya kita masuk." Semakin ramai di luar, yang dikejar atau mengejar. Akan buruk jika ada yang mendobrak masuk.
"Aku tidak mau." Kedua pasang mata itu sontak menoleh dan Hinata membuang wajahnya. Kedua tangan Hinata terkepal erat. Dia tahu pasti di mana posisinya sekarang, rumah siapa ini. Hinata menolak untuk masuk apalagi sampai bertemu dengan sang pemilik rumah.
"Hei, ini bukan waktunya untuk keras kepala." Bujuk Shikamaru dengan raut wajah sedikit kesal.
"Aku tetap tidak mau. Masuk jika kalian ingin masuk."
"Hinata..." Sakura menatap lirih. Dia tidak yakin seperti apa perasaan Hinata sekarang tapi Sakura jelas tahu bahwa Hinata kesulitan untuk bisa menatap Naruto. Hatinya pasti sakit.
"Masuk."
Deg
Suara itu datang menyentak Hinata. Wajah Hinata menoleh tapi dengan cepat kembali dia tolehkan ke arah lain. Tidak mau melihat lelaki yang baru saja mendekat.
Tidak ada jawaban.
Hinata diam dengan menatap ke arah lain dan Sakura beserta Shikamaru menatapnya.
"Ini bukan saatnya keras kepala."
"Lepaskan aku!" Hinata menepis tangan Naruto yang menarik lengannya.
"Kau lihat di luar sana! Kau yakin ada waktu untuk menjadi seperti itu?" Raut wajah Naruto murka. Diam-diam Hinata melirik ke luar pagar. Orang-orang berlari dan berteriak ketakutan tapi Hinata tidak luluh atas apa yang dia lihat. Rasa sakitnya terlalu banyak dibandingkan rasa takut yang dia lihat.
"Shikamaru, bawa Sakura masuk. Sebaiknya tidak memancing keributan yang akan mendatangkan orang-orang aneh itu." Pinta Naruto dan Shikamaru mengangguk. Sakura menurut dengan berjalan pergi ketika Shikamaru membawanya meninggalkan Naruto dan Hinata.
"Masuk."
"Tidak." Tanpa ragu sedikitpun Hinata menolak. "Masuk saja jika kau ingin."
"Lalu, jika kau tak ingin masuk, mengapa tidak keluar saja?" Hinata menoleh hingga mempertemukan kontak mata. Datar dan marah.
"Aku tidak pernah berniat masuk ke sini." jawab Hinata. Dia memutar badan dan melangkah pergi tapi Naruto menarik tangannya. "Aku bilang lepas!" Hinata memberontak. Naruto mencengkram erat lengannya dan menariknya menjauh dari pagar.
"Apa kau sudah gila?!" Emosi Naruto terpancing. Tanpa mau berbicara lebih banyak lagi, dia menarik Hinata masuk ke dalam rumah tanpa perduli pada penolakannya.
"Tidak ada hubungannya denganmu! Ugh..." Tangan kecil Hinata terasa sakit karena terus memaksa ingin lepas dari cengkeraman yang semakin mengerat. "Lebih baik mati daripada ditolong oleh orang sepertimu!"
.
.
.
TO BE CONTINUE
Heho maapkan lama up hehe
