"Tidak ada hubungannya denganmu! Ugh..." Tangan kecil Hinata terasa sakit karena terus memaksa ingin lepas dari cengkeraman yang semakin mengerat. "Lebih baik mati daripada ditolong oleh orang sepertimu!"
BRACKKK
DEG
Hinata membekap mulutnya sendiri agar pekikan tidak lolos dari mulutnya. Salah satu makhluk aneh tadi mendobrak pagar besi besar menyentaknya dan Naruto.
"Sttt!" Naruto memberi isyarat diam dengan meletakkan jari telunjuk ke depan bibir.
Makhluk tanpa bola mata tadi berhenti mendobrak. Dia tampak seperti tengah menggunakan indera pendengarnya sebagai pengganti mata.
Naruto perlahan melangkah mundur, dia menarik tangan Hinata tapi Hinata dengan cepat menepis tangannya.
"Dia akan mendobrak masuk kalau mendengar kita." Naruto berbisik, matanya menatap lantang mata Hinata tapi Hinata benar-benar keras kepala.
"Sial" Naruto kehabisan kesabaran. Bukannya menjawab, Hinata malah membuang wajah. "Mhhp!" Naruto menarik paksa Hinata, tak lupa membekap mulutnya menggunakan telapak tangan agar dia tidak bisa berteriak.
"Hinata!" Pintu rumah tertutup dan Hinata mengambil beberapa langkah mundur menjauh dari Naruto yang tengah meringis kesakitan atas perbuatannya mengigit tangan Naruto. "Kau benar-benar memancing emosiku!" Suaranya meninggi membuat Sakura dan Shikamaru muncul.
"Aku tidak perlu bantuanmu!" Hinata turut menaikan suara, menatap marah Naruto.
"Apakah perasaanmu jauh lebih penting sekarang?! Kita bisa mati karena perasaan bodohmu itu!" Hinata tersentak. Dia terdiam karena perkataan kasar Naruto.
"Bodoh?" Butuh beberapa menit hingga suara Hinata bisa keluar. Dia mencoba bersikap biasa-biasa saja. Namun, hatinya berdenyut kesakitan membuatnya kembali terdiam.
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.
202DIE
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
202DIE by Authors03
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 3
.
.
.
"…" Shikamaru dan Sakura masih mamatung menyaksikan keributan sepasang mantan kekasih tak jauh di depan mereka.
"Naruto menyebalkan." Tangan Sakura perlahan terkepal erat, matanya membara layaknya api.
"Kita tidak bisa ikut campur." Shikamaru berucap membuat Sakura menatap.
"Temanmu keterlaluan."
"Kita tak dalam kondisi untuk bisa mengkhawatirkan perasaan pribadi." Komentar itu membuat tangan Sakura semakin mengepal erat. Shikamaru melihat tangan kecil itu sebelum kembali menatap Sakura. "Begitulah perempuan… apa yang mereka perdulikan hanyalah perasaan tanpa tahu tempat dan keadaan." Tidak Hinata dan sekarang Sakura, mereka berdua membuat Shikamaru menghela nafas tapi kemudian dia tersenyum lucu. "Itu benar-benar membuat seorang perempuan terlihat manis dan menyebalkan."
"Kami punya hati, bukan hal yang salah mengedepankan perasaan." Sakura menjawab dengan nada sedikit kesal, seolah tidak suka pada komentar Shikamaru tapi jawabannya malah membuat Shikamaru terkekeh.
"Lalu, kami lelaki tidak memiliki hati?" Shikamaru melipatkan kedua tangan di depan dada ketika Sakura tidak menjawab. "Kami hanya lebih mengedepankan otak daripada hati."
…
Hinata menarik kedua sudut bibirnya memamerkan sebuah senyuman. Dia mencoba menghentikan denyutan menyakitkan di dalam dadanya tapi tak berhasil. "Aku akan pergi setelah matahari terbit." ucapnya yang kemudian langsung berlalu pergi meninggalkan Naruto.
"…" Naruto tidak merespon. Dia hanya terus menatap kepergian Hinata hingga dia menghilang ke arah dapur.
...
"Biarkan dia." Sakura ingin menyusul tapi Shikamaru menahan tangannya membuat Sakura menoleh.
"Me"
"Dia mungkin ingin sendiri." sela Shikamaru sebelum Sakura sempat bertanya.
…
"Mengapa aku harus bertemu dengannya?" Hinata bertanya entah pada siapa. Dia mengambil duduk di salah satu meja makan. Dadanya naik turun menahan emosi yang ada di dalam hati tapi matanya tidak bisa berbohong. Air mata memenuhi pelupuk mata dan wajahnya perlahan memerah.
"Aku benci dia." Bibir Hinata bergetar karena isakan yang ditahan. Jari lentik Hinata mencoba menghentikan getaran itu tapi tangannya malah ikut bergetar. Menggigit kuat jari jempolnya pun percuma, air mata berhasil lolos dari kedua matanya.
"Aku benci Naruto…."
…
"Kamu masih belum mau cerita mengapa kalian putus?" Pergelangan Shikamaru terasa sedikit sakit karena terus menopang kepalanya sendiri sedari tadi bahkan bokongnya di atas sofa empuk mulai terasa sakit tapi lelaki di depannya masih saja tidak mau berbicara sepatah katapun. Apa yang Naruto lakukan hanyalah menoleh padanya setiap kali ia bersuara dan kemudian kembali menoleh ke layar TV untuk mengecek keadaan sekitar rumah.
"Aku sudah bertanya untuk kedua belas kalinya." Shikamaru cemberut, sedikit kesal dikala Naruto kembali menoleh ke layar TV.
"Itu bukan hal yang harus kamu tahu." Shikamaru menghela nafas panjang karena jawaban yang diterima.
"Aku tahu." jawabnya. "Tapi aku penasaran." ucapnya jujur. "Kamu tampak masih sangat perduli padanya. Namun, dia membencimu hm." Tatapan curiga Shikamaru berikan untuk pemuda bersurai kuning itu. "Dalam kasus ini jelas perpisahan ini, kamu penyebabnya."
Satu sudut bibir Naruto tertarik. Dia sedikit menyeringai karena siasat Shikamaru.
"Hinata tidak ada di dalam kamar!" Suara Sakura yang tiba-tiba mengema membuat Shikamaru dan Naruto menoleh.
"Hinata tidak ada di manapun, aku sudah mencarinya." Raut wajah Sakura khawatir. Nafasnya sedikit berat karena lelah terus berlarian kemana-mana.
"Sejak kapan dia tidak ada?" tanya Naruto.
"Aku tidak tahu. Aku bangun jam enam pagi dan dia masih ada, dia bilang ingin ke kamar mandi dan dan" Sakura terdiam untuk sesaat karena teringat akan apa yang Hinata katakan sebelum berlari ke dapur semalam. "Hi-Hinata ti-tidak mungkin sungguh pergi, bukan?" Perasaan takut hadir membuat tangannya sedikit bergetar. "Dia tidak mungkin pergi dari sini'kan?" tanyanya mengulang berharap bahwa tebakannya salah.
"Tidak mungkin!" jawab Shikamaru cepat. "Naruto, kau mengawasi CCTV semalaman'kan? Jika Hinata keluar, kau akan melihatnya."
"Apa maksudmu aku mengawasi CCTV, jam dua belas malam sampai dua belas siang itu'kan kau."
"Apa maksudmu!" Shikamaru tersentak. "Kau duduk melihat TV semalaman! Aku kira kau mengawasi."
"Aku tidak!" Naruto membantah. Naruto memang tampak mengawasi tapi faktanya dia tenggelam dalam pikirannya. "Tetap saja itu kerjaanmu."
"Tapi aku liha"
"Hentikan!" Sakura menyela. "Hentikan, jangan ribut. Sekarang bagaimana dengan Hinata?! Dia bisa dalam bahaya di luar sana."
"Apa yang bisa kita lakukan?" Shikamaru balik bertanya. "Hinata pergi di saat kita sudah melarang dan dia entah ke mana. Hal yang paling tidak logis dilakukan adalah mencarinya." Shikamaru tersenyum. Senyumannya tampak palsu, dia berusaha menyembunyikan rasa takut dan rasa khawatir yang ada. "Kita tidak bisa membahayakan diri kita sendiri dengan mencarinya."
"Tapi Hinata!" Sakura menatap tak percaya. "Kita tak bisa membiarkannya."
"Kita tidak bisa mengejarnya! Kita akan mati jika keluar dari dalam rumah ini." Shikamaru mengingatkan. "Aku tak mau wajahku dihancurkan dan bola mataku di ambil." tambahnya serius. "Katakan sesuatu, Naruto." Shikamaru menatap Naruto yang masih saja terdiam. "Kita tidak boleh keluar dari rumah ini, bukan? Jelas sekali kita tidak mau wajah kita dihancurkan, bukan?"
"Bagaimana bisa kau begitu tega mengatakannya?!" Sakura berlari menggelilingi sofa panjang menghampiri Shikamaru dan menguncang lengannya.
"Lalu, jika kau mau mengapa tidak pergi sendiri?" Sakura tersentak. Dia tidak akan berbohong bahwa dia juga merasa takut tapi dia menghawatirkan keadaan Hinata, teman baiknya. Sakura tidak sanggup membayangkan Hinata tergeletak tak bernyawa di atas jalanan.
"Naruto!" Sakura menatap Naruto dengan tatapan lirih. "Apa yang harus kita lakukan…?"
"Percuma bertanya, Naruto tidak akan luluh hanya karena Hinata." Bukan berniat bersikap jahat. Namun, tiga nyawa terlalu banyak dibandingkan satu! "Katakan padanya untuk tetap tinggal atau pergi sendiri."
"Naruto…" Sakura mengigit kuat bibir bawahnya. Dia kemudian kembali menguncang lengan Shikamaru. "Itu salahmu karena membawanya kemari! Kau harus bertanggung jawab." Shikamaru menatap syok.
"Aku membantu kalian dan ini balasannya?!" tanyanya tak percaya. "Sudah kukatakan pada Naruto kalau perempuan akan merepotkan tapi dia memaksaku mem"
"Shikamaru." Panggilan itu menjeda kalimat Shikamaru membuat Shikamaru dan Sakura menoleh. "Sakura…" panggilnya yang kemudian menggeleng singkat.
To be continue
Halo guys
Aku merasa sedikit gimana ya sebutnya kek ga teratur upnya hehe tapi ya begitulah
Selalu saja, tidak ada yang aku harapkan selain kalian menikmati,
Byebye
