"Shikamaru." panggilan itu menjeda kalimat Shikamaru membuatnya dan Sakura menoleh. "Sakura…" panggil Naruto yang kemudian menggeleng singkat. "Kita harus pergi."

"HAH?!" Mata Shikamaru hampir meloncat keluar karena melototi wajah datar Naruto.

"Iya Naruto, kita harus menyelamatkan Hinata." ucap Sakura berharap Naruto membulatkan niatnya.

"Kalian gila!" Shikamaru memekik. "Kau lihat bagaimana Sumo-sumo aneh itu menghancurkan wajah dan mencabut bola matanya?! Aku tidak mau!" Shikamaru memutar badan memunggungi Naruto dan Sakura. "Silahkan pergi, jika kalian mau." lajutnya final, tidak akan berubah pikiran sama sekali.

"Shikamaru." Naruto menghampiri, dia berdiri di belakang Shikamaru dengan mendekatkan bibirnya ke daun telinga Shikamaru.

"…" Alis Sakura berkerut, dia mencondongkan kuping untuk menguping tapi tidak berhasil menangkap suara kecil Naruto.

"Kau tidak bisa melakukan hal itu padaku!" Shikamaru memutar badan menatap kesal Naruto yang malah memamerkan senyuman manis.

"Aku bisa."

"Mengapa kau perduli?! Bagaimana jika kita mati? Kau mau mengorbankan nyawamu hanya untuk Hinata?!" Shikamaru bersikeras untuk tidak meninggalkan rumah tapi Naruto tampak sangat yakin pada keputusannya.

"Aku bosan, aku ingin keluar." Jelas sekali Naruto berbohong, Shikamaru tahu itu! Dia hanya mencari alasan untuk pergi mencari Hinata. "Tentukan pilihanmu dalam hitungan ketiga."

"Naruto!" Shikamaru menatap syok. Naruto benar-benar tidak akan berubah pikiran.

"Dua."

"Kau bahkan belum menghitung satu!"

"Ti"

"Baik! Baik! Aku akan ikut." Naruto tersenyum puas pada jawaban yang diterima.

"Baiklah, kalau kau memaksa."

"NARUTO SIAL!"

.

.

.

Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.

202DIE

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

202DIE by Authors03

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 4

.

.

.

CRREEEK

Hinata membekap mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan. Matanya melirik Sumo yang baru saja dia lewati. Sumo yang sedang menghancurkan wajah seorang perempuan setelah mengambil matanya.

Glek

Hinata menelan ludah sebelum kembali berjinjit-jinjit di tepi jalan. Kakinya bergetar karena melewati darah dan juga daging manusia yang berceceran tapi apa yang lebih mengerikan dari semua yang dia lihat adalah beberapa Sumo tengah mencari mangsa.

SREK

Mata Hinata membelak sempurna. Kakinya menginjak botol plastik hingga menciptakan suara yang memancing perhatian beberapa Sumo di dekatnya.

Hinata memutar kepala, dia menatap Sumo tadi memutar badan menghadapnya dengan mata yang sebelumnya dia ambil tapi kemudian bola mata kiri itu jatuh ke atas aspal menggelinding ke arahnya dan berhenti karena menabrak sepatu putih yang dia kenakan.

Keringat menetes dari dahi Hinata. Bola mata tadi seolah menatapnya.

"Kyaaaaaaaahhh!"

"Perkiraan, tempat mana yang mungkin Hinata singgahi?" Sakura berpikir extra keras. Namun, Shikamaru malah menjawab asal.

"Dia mungkin menuju ke sini." Sakura memberinya tatapan mematikan.

"Pengecut." Hinaan itu menyentak Shikamaru.

"Lihat badan Sumo-sumo itu, kau akan jadi Sakura geprek jika tertindih!" Sakura meletak kasar ponsel di tangannya tanpa memutuskan kontak mata dengan Shikamaru.

"Kita tidak bisa selamanya di sini."

"Kita bisa! Rumah ini dipenuhi banyak makanan." jawab Shikamaru cepat.

"Berapa lama hah?! Untuk berapa lama?!" Suara Sakura meninggi, tidak mau kalah.

"Bisa untuk waktu yang sangat lama! Naruto selalu menyetok beras di gudang dan kulkas kami sangat besar untuk bisa menampung satu ekor sapi raksa"

Perkataan Shikamaru terjeda karena lampu ruang tamu yang tiba-tiba padam.

"Mati lampu?" Sakura berharap tebakannya salah tapi dia harus menelan pil pahit karena tidak hanya lampu rumah ini yang padam tapi satu kawasan.

Shikamaru mengacak surai hitamnya, frustasi. Tubuhnya merosot ke bawah dalam posisi berjongkok. Ingin rasanya memekik kuat. Namun, dia tahan.

Sakura melipat kedua tangan di depan dada, matanya menatap sinis Shikamaru yang masih tak mengangkat kepala. "Sekarang untuk berapa lama sapi raksasamu, hm?"

"Hah! Hah!" Bibir Hinata berniat terisak tapi kegiatan bernafas melalui mulut tidak memberinya kesempatan. Air mata sudah memenuhi pelupuk matanya bahkan sudah beberapa kali mengalir. Dia berlari sekuat tenaga untuk menghindari beberapa Sumo yang sedang mengejarnya, disaat yang bersamaan Hinata berusaha untuk tidak menimbulkan terlalu banyak suara agar tidak memancing lebih banyak Sumo.

Matanya menoleh ke segala arah, mencoba mencari tempat yang aman untuk bersembunyi tapi semua rumah tertutup pintunya.

"Sial! Aku benar-benar mati." Hinata kehabisan akal. Dia mengambil satu tongkat besi di aspal yang hampir dia lewati.

"Bodoh!" Tidak ada waktu lagi untuk berpikir. Hinata melompat masuk ke dalam tong sampah hijau besar dan kemudian melemparkan tongkat besi tadi ke arah lain. Dengan cepat dia membekap mulut dan hidungnya sendiri.

Pringg

Tongkat besi yang Hinata lempar tadi mengenai tiang listrik hingga menciptakan suara yang cukup kuat untuk memancing Sumo-sumo yang sudah berdiri di depan tong sampah tempat Hinata bersembunyi.

Tubuh Hinata bergetar. Dia memejamkan mata dengan sangat erat berharap Sumo-sumo di depannya segera pergi mengambil umpan yang dia buat.

"…"

Priaanggg

Perlahan Hinata membuka mata dan betapa lega dia karena tidak ada lagi Sumo di depannya. Hinata memberanikan diri untuk sedikit mengangkat tubuhnya dan mengintip keadaan.

Priaanggg

Sumo-sumo tadi meninju tiang yang mengeluarkan suara tadi. Tiang itu rubuh tapi tangan mereka berdarah. Namun, dihiraukan. Tangan besar mereka meraba-raba tiang tadi dan berlalu pergi begitu saja ketika tidak menemukan apa yang mereka cari.

"Hah~ Hah~" Bokong Hinata menghempas sampah-sampah plastik di bawahnya. Tidak ada waktu bahkan hanya untuk sekedar mengeluh bau menyengat yang ada. "Hah~ Hah~" Hinata mengatur detak jantungnya agar kembali normal. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

"Ingat rencana kita. Lari saja sekuat tenaga sampai ke rumah Hinata. Tutup semua pintu." Ingin rasanya Shikamaru menangis. Tidak ada ide yang lebih buruk dan bodoh daripada ide Naruto. "Shikamaru jangan lupa menutup kembali pagar setelah kita keluar." Shikamaru mengangguk pasrah sambil memamerkan remot pagar di tangannya.

"Tunggu apa lagi?" Shikamaru putus asa. Sakura benar-benar membuka pintu rumah dan melangkah keluar. Siang hari memang pilihan yang tepat untuk bertindak tapi tetap saja, tidak!

"Tutup pintunya." Sekali lagi Shikamaru hanya bisa pasrah. Dia menekan tombol buka pada remot kecil di tangannya sebelum menutup pintu rumah.

"Baik baik." Sakura berlalu keluar dari pagar yang sudah sedikit terbuka diikuti oleh Naruto dan Shikamaru yang langsung menekan tombol tutup.

"Aa jatuh!" Sedikitnya pagar yang terbuka membuat lengan Shikamaru menabrak pagar yang perlahan tertutup.

"Ambil!" Shikamaru mencoba menyelip masuk melalui pagar yang semakin menutup tapi gagal. Remot tergeletak jauh dari pagar.

"Shikamaru bodoh!" Sakura memekik kesal.

"Aku cowok! Badanku tak sekecil kau!" Pekik Shikamaru tidak terima dikatai bodoh.

"Itu karena kau ceroboh!" balas Sakura tak terima pada alasan Shikamaru. "Jika saja kau lebih serius, hal ini takkan terjadi!"

"Hoi lari!" Tidakkah mereka yang sedang sibuk berdebat tidak merasakan lantai bergetar?

DEG

Lebih dari enam Sumo berlari dengan sangat kencang ke arah mereka. Lemak perut mereka bergetar.

"Lari!" Shikamaru dan Naruto mengambil langkah seribu ke arah kanan tapi Sakura malah mematung di tempatnya, matanya tidak bisa lepas dari bahaya yang semakin mendekat.

"Lari bodoh!" Sakura tersadar ketika Shikamaru kembali menghampiri, menarik tangannya dan membawanya lari.

"Apakah kau bodoh?!"

.

.

.

TO BE CONTINUE

.

.

.

Ini sama sekali tidak menyenangkan "Huft" tapi

BYE BYEEEEEEEEE

Sori guys baru sadar lupa edit tanpa misahnya