"Bodoh?! Kau tak berhak mengataiku bodoh!" Marah, Sakura menepis tangan Shikamaru. Dia berlari di sebelahnya mengekori Naruto.
"Kalau begitu jangan bersikap bodoh!" geram Shikamaru. "Kau berencana mencari Hinata tapi malah mematung sendiri."
"Hei, hentikan perdebatan kalian. Fokus, musuh bisa muncul dari mana saja." Naruto meraih tongkat baseball dari samping ransel di punggungnya. Dia mengengam erat pegangan baseball itu ketika mendekati simpang jalan.
DEG
Tebakannya tidaklah salah. Lelaki berlemak muncul dari belokan yang telah dia awasi.
Braacck.
Naruto tersentak. Baseball kayu yang dia ayunkan patah ketika menghantam lengan penuh lemak tadi sontak membekukannya.
"Haaaa!" Sumo di depan Naruto menyerang, untung berhasil mereka hindari dengan menunduk dan segera berlari melewatinya.
"Sekarang apa?!" Shikamaru memekik frustasi. Selain takut, dia mulai kelelahan.
"Rumah Hinata sudah dekat. Tinggal sekali belok saja."
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.
202DIE
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
202DIE by Authors03
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 5
.
.
.
"Bagaimana caranya keluar dari sini?" Hinata membatin. Matanya mengamati keadaan dan dia tidak melihat ada Sumo di dekatnya. Namun, beberapa berada di seberang jalan.
Apakah ide yang buruk untuk keluar dari sini? Hinata berpikir keras hingga akhirnya dia memutuskan untuk beranjak keluar dengan sangat senyap.
"Aduh!" Hinata spontan meringis karena pendaratan yang tidak sempurna menyebabkannya tersungkur.
"Jangan lagi!" Hinata mengeluh. Tubuhnya lemah seketika. Kepalanya terangkat dan Sumo-sumo dari seberang jalan tadi sudah berlari ke arahnya. "Jangan mengejarku!" Hinata bangkit dan berlari ke sembarang arah tapi sialnya dia malah tersungkur di langkah kelima karena sampah plastik yang tak sengaja dia pijak.
"Akh!" Hinata meringis kesakitan. Sial sekali kakinya terasa sakit hingga membuat bokongnya memilih untuk menyentuh tanah. "Ittaii…" Sekali lagi kesialan menimpa, Hinata mendapati mata kakinya memerah dan kemudian wajah Hinata menoleh. Tangannya bergetar di saat itu juga. Dia kesulitan menelan ludah karena melihat dua Sumo yang mengejar semakin mendekat.
"Hiaaaaattt menunduk!"
DEG
Perintah yang entah berasal dari mana membuat Hinata menunduk, dia memeluk erat kepalanya dengan cepat.
BRAACKKK
Suara tumbangan membuat Hinata mengangkat kepala, betapa terkejut dia ketika melihat dua Sumo tadi telah tumbang.
"Pfftt hahaha" Tanpa sadar Hinata tertawa karena menyaksikan betapa lucu dua Sumo tadi bak kura-kura terbalik, mereka kesusahan untuk bangkit karena lemak yang tebal.
"Kamu masih bisa tertawa?" Hinata menoleh, dua lelaki yang menumbangkan dua Sumo tadi dengan sebatang tiang panjang menghampirinya.
"Ayo pergi. Aku akan membantumu." Dia, lelaki bersurai perak yang peka akan sakit di kaki Hinata segera membantu Hinata berdiri dengan cara memapah.
"Terima kasih." ucap Hinata. Dengan bantuan lelaki tadi, Hinata berjalan dengan sedikit meloncat.
"Sttt" Lelaki bersurai merah tadi memberi isyarat diam. "Kita tidak boleh membuat suara keras." bisiknya yang kemudian membuka pintu mini market tak lupa memberi beberapa tumpukan untuk menghalang pintu setelah masuk.
"Aku kira aku akan mati." Punggung Hinata melemah ketika dia mengambil duduk di lantai bersandar di meja kasir.
Lelaki bersurai perak itu tersenyum. "Kalau begitu kamu beruntung kami melihatmu."
"Tidak, sebenarnya kami sudah melihatmu dari awal kamu masuk ke dalam tong sampah." Jelas lelaki bersurai merah melangkah menghampiri, dia mengambil duduk di depan Hinata dan di sebelah temannya.
Hinata mengangguk mengerti, bagian depan market ini sepenuhnya kaca, jelas mereka bisa melihat Hinata bersembunyi karena jaraknya tidak terlalu jauh. "Apakah kalian tahu apa yang sedang terjadi?" tanya Hinata mengalihkan topik pembicaraan dan mereka menggeleng kecil.
"Aku dan Gaara sedang dalam perjalanan tapi tiba-tiba saja." Lelaki itu sepertinya binggung cara menjelaskan karena dia juga tidak paham pada apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Apa yang terjadi tidak penting, yang penting kita harus tahu cara menghadapinya."
…
"Aakkkhh aku akan membunuhmu!" Pita suara Shikamaru sepertinya akan terputus. Dia memikik histeris ketika kepalanya berhasil menghindari tinju yang mendarat. Punggungnya mengesot menjauh dengan bantuan Sakura dan Naruto menarik rambutnya dengan niat membantunya berdiri.
"SIAL! Aku akan membunuhmu, Naruto!" Shikamaru segera bangkit dan berlari, mengabaikan rasa sakit di kulit kepalanya.
"Jangan membuat suara atau mereka akan mengejar!"
"BAGAIMANA BISA TAK MEMBUAT SUARA KETIKA SEDANG BERLARI?!"
…
"Shikamaru." Hinata tersentak. Indera pendengarnya menangkap suara yang terasa tak asing. Dengan segera dia beranjak menunju kaca bening dengan menyeret satu kaki.
"Sakura!" Gaara menghampiri Hinata dan melihat apa yang Hinata lihat.
"Tolong bantu aku! Kita harus menyelamatkan mereka."
…
"Hiaaaaaattt! Tarik!" Shikamaru dan Naruto menarik penutup besi selokan sekuat tenaga sebelum kembali berlari. Jebakan mereka berhasil, salah satu Sumo yang mengejar terkena jebakan. Memang tidak cukup untuk menjatuhkan seluruh badan besarnya tapi cukup untuk menghentikan langkahnya.
"Hiaaaat pukul dia sial!" Shikamaru memunggut besi papan rambu-rambu lalu lintas yang tumbang tapi dia tidak berhasil mengangkatnya membuat Naruto menyeretnya pergi.
"Kau gila?! Kau akan mati!"
"Kita akan mati jika terus berlari!"
Puuu
Puuu
Puuuu
Suara terompet yang entah berasal dari mana mencuri perhatian tiga orang yang masih sibuk berlari. Langkah mereka berhenti ketika menyadari tidak ada lagi yang mengejar. "Ada orang di sana." Sakura menunjuk lelaki bersurai perak yang ada di balik tiang listrik. Lelaki itu membuat suara dengan menggunakan selang besar ke arah lain.
"Ssttt" Belum sempat tersentak, Gaara muncul dengan memberi isyarat untuk diam. "Ayo ikut aku."
…
"Hinata!"
"Sakura!" Baru saja melangkah masuk, kedua sahabat itu langsung saling menghampiri dengan sebuah pelukan erat.
"Kau terluka, Hinata?" tanya Sakura khawatir. Dia melihat Hinata berlari tertatih-tatih padanya barusan.
"Terima kasih padamu, Hinata. Aku hampir mati." Suara sinis Shikamaru membuat Hinata menoleh.
"Aku tidak pernah meminta kalian menyusulku." Hanya dengan melihat lelaki bersurai kuning di belakang Shikamaru sudah membuat perasaannya kacau tapi dia berusaha untuk menyembunyikannya.
"Aku juga tidak mau, aku terpaksa." Shikamaru menjawab sinis.
"Hei, hentikan. Suara kalian akan memancing mereka yang ada di dekat sini." ucap Gaara menghentikan perdebatan yang mungkin akan terjadi. "Kau baik-baik saja, Toneri?" tanya Gaara ketika Toneri kembali ke dalam mini market.
"Hah~ Sekarang jadi ramai. Aku merasa senang." kata Toneri seolah tidak mendengarkan kekhawatiran Gaara.
"Kalian hanya berdua di sini?" tanya Hinata.
"Kami bertiga sebelumnya."
Tidak ada lagi pertanyaan, mereka seolah paham pada apa maksud dari jawaban Toneri.
"Duduklah, kita harus berbagi info yang kita tahu." Gaara duduk, diikuti oleh yang lainnya dalam posisi lingkaran.
"Kami tidak punya info apapun selain mereka aneh, membunuh dan mengambil mata, sepertinya mereka buta." jelas Shikamaru. "Apakah mereka muncul hanya untuk mencuri mata agar bisa melihat?"
"Tidak." Hinata menjawab. "Mereka hanya terobsesi pada mata karena buta. Namun, mengambil mata orang lain tidak membuat mereka bisa melihat." Jelas Hinata pada apa yang dia lihat.
"Kamu memperhatikan hal itu?" tanya Toneri sedikit tersentak dan Hinata hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Mereka hanya mengandalkan indera pendengar." Naruto menambahkan tapi malah dijawab sinis oleh Sakura.
"Kita bisa tahu hal itu tanpa melihatnya langsung." Naruto mendelik tajam, tidak senang akan Sakura yang membuatnya tampak seperti orang bodoh.
"Ah, aku lupa hal penting. Sebelum itu, Hinata apakah kakimu sudah lebih baik?" Toneri, lelaki itu menatap Hinata di sebelahnya dengan raut wajah yang menunjukkan kekhawatiran.
"Tidak begitu sakit lagi." Hinata menjawab jujur.
"Boleh aku memeriksanya?"
"…" Hinata tak menjawab, dia menatap Toneri dengan keraguan di wajahnya.
"Jangan khawatir, Toneri adalah dokter." ucap Gaara. Namun, bukan hal itu yang Hinata permasalahkan tapi dia memilih mengganguk kecil.
"Jauhkan tanganmu." Belum sempat tangan Toneri menyentuh sepatu putih Hinata, Naruto tiba-tiba bersuara, membuat semua mata menoleh, memberinya tatapan heran. "Hinata tidak suka berdekatakan dengan orang asing." Entah apa maksud pernyataan Naruto. Kalimatnya keluar begitu saja tanpa aba-aba karena ada api yang mulai menyala di dalam hatinya.
"Toneri bukan orang asing, dia menyelamatkan nyawaku." Hinata membantah cepat.
"Dia bukan orang asing hanya karena menyelamatkanmu? Oh, apakah itu sejenis cara perkenalan baru?" Naruto menjawab sinis dengan sedikit bumbu mengejek membuat alis Hinata berkerut, menatapnya kesal.
"Terserah padaku ingin menggangapnya orang asing atau teman, apa hubungannya denganmu?!"
.
.
.
TO BE CONTINUE
.
.
.
Bye byee semoga suka
Duhhh gimana ya aowkwkw maapkan author sekali lg cukup lama hilang, tidak bisa author jelaskan tapi akan author selesaikan ini
