"Dia bukan orang asing hanya karena menyelamatkanmu? Oh, apakah itu sejenis cara perkenalan baru?" Naruto menjawab sinis dengan sedikit bumbu mengejek membuat alis Hinata berkerut, matanya menatap kesal.

"Terserah padaku ingin menggangapnya orang asing atau teman, apa hubungannya denganmu?!"

"Hentikan." Gaara menjeda dengan cepat, dia mengambil duduk di antara Naruto dan Hinata untuk memutuskan listrik yang saling beradu dari mata mereka. "Suara kalian akan membahayakan kita." Tambahnya. Naruto membuang wajah dikala Gaara menatapnya.

"Toneri, bukankah kau ingin memeriksa kakinya?" Toneri mengangguk singkat ketika Gaara menatapnya.

"Iitaii…" Hinata meringis pelan karena rasa sakit yang muncul ketika Toneri sedikit memutar perggelangan kakinya.

"Sakit?"

"Hanya sedikit tapi aku sudah tidak apa-apa."

Tiga jari Naruto mengetuk pahanya sendiri. Dia masih menoleh ke arah lain tapi matanya mencoba melirik ke arah Hinata.

.

.

.

Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.

202DIE

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

202DIE by Authors03

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 6

.

.

.

"Meski jumlah mereka banyak tapi kemungkinan besar kita dalam keadaan yang aman karena kita tahu mereka tidak bisa melihat. Apa yang harus kita lakukan hanyalah tetap senyap."

"Tapi jumlah mereka banyak dan badan mereka sangat besar. Tanpa sengaja membuat suara, kita akan mati." ucap Shikamaru tidak menerima kalimat yang terdiri dari kata aman.

"Tidak hanya buta, mereka juga bodoh."

"Seperti dirimu?" Sakura, Hinata, Toneri dan Gaara menoleh ke asal suara.

"Hah~" Gaara menghela nafas, frustasi. "Aku lihat kau sepertinya tidak menyukai kami?"

"Tentu saja aku suka kalian!" Naruto membantah cepat. "Aku hanya alergi sama si rambut perak sok pandai di sebelahmu itu."

"Hei, lalu jika kau pandai, mengapa tidak membuat dirimu berguna?" timpal Hinata kesal.

"Mengapa juga kau membelanya? Pfft memangnya dia banci, bersembunyi di balik punggung perempuan?" Toneri masih memilih diam tidak mau menanggapi tapi kalimat Naruto sungguh memancing amarah Hinata hingga menghadirkan perempatan siku di dahi.

"Kalau kau tak senang mengapa kau tidak keluar dari sini?"

"Siapa juga yang mau datang ke sini? Gaara yang meminta kami ke sini."

"Aku hanya berniat menolong Sakura bukan kau!" Hinata menjawab cepat. "Jika aku tahu ada kau, aku akan membiarkanmu mati di luar sana."

"Hah~" Gaara menepuk jidat putihnya. Entah sudah berapa kali dalam waktu kurang dari tiga jam mereka berdebat.

"Jika aku tahu kamu ada di sini, aku lebih baik tidak kemari."

"Kalau begitu keluar!" Jengkel, Hinata menaikan suaranya satu oktaf.

"Stttt hentikan." Toneri membekap bibir Hinata dengan telapak tangannya karena kaget akan suara kuat Hinata.

"Jauhkan tanganmu darinya!" Naruto menghampiri, menepis tangan Toneri sontak saja menghadirkan tatapan tajam dari Hinata.

"Kau kenapa sih?" Hinata mendorong Naruto membuatnya kembali terduduk. "Mengapa bersikap seperti orang yang sedang cemburu?"

"Cemburu?" Naruto tersenyum kesal sampai-sampai bibirnya berkedut. "Untuk apa aku cemburu? Jangan kegeeran!"

"Kalau begitu, biasa saja!"

"Sudah. Tolong hentikan." Lagi-lagi Gaara harus menghentikan perdebatan. "Sebaiknya kita kembali saja ke dalam topik soal keadaan sekarang."

"Nama, jujur aku agak risih memanggil mereka Sumo. Itu seperti pencemaran nama baik." Meski tidak salah apa yang Shikamaru katakan tapi kata-katanya membuat semua mata yang ada menatap heran. Sekarang bukan waktunya untuk memikirkan kasus pencemaran nama, bukan?

"Kita harus buat nama untuk mereka?" Naruto masuk ke dalam topik.

"Hei, aku tidak merasa nama itu penting. Yang terpenting adalah melindungi diri sendiri dan jika memungkinkan menghilangkan mereka." Delikan mata tajam dari Shikamaru dan Naruto hadir untuk Toneri tapi kemudian mereka kompak mengabaikannya.

"Uhm apa nama yang bagus. The Fat Fat?" Shikamaru berpikir keras untuk menemukan nama yang bagus.

"Itu bukan nama!" jawab Naruto. "Gordem, gimana? Namanya terbuat dari badan besar dan sekeras batu."

"Ah! Mima?"

"Ini bukan saatnya mencari nama untuk mereka!" Geram Sakura yang sudah sangat frustasi melihat dua temannya.

"Bising!"

"Gaara, apa yang sedang kamu pikirkan?" Perhatian Gaara pecah karena suara Hinata. Lelaki itu menatap Toneri dengan raut wajah berpikir keras.

"Aku mengingat sesuatu." katanya masih mencoba mengingat. "Toneri, dalam perjalanan dari Suna ke Konoha, apakah kamu ingat hutan yang kita lewati?"

"Hutan?" Alis Toneri naik sebelah.

"Hutan yang terhalang oleh pagar sampai kita masuk ke dalam wilayah Konoha?"

"Ah!" Toneri tersentak. "Aku ingat." ucapnya terkejut membuat semua mata menoleh. "Aku ingat dalam perjalanan ke sini, samar-samar kami melihat orang-orang aneh di hutan itu tapi badan mereka kecil tidak seperti yang kita lihat sekarang." Toneri segera mengingat hal itu karena memang tampak sangat aneh.

"Jika begitu, jelas mereka bukan orang yang sama. Jadi, ada apa?" kata Sakura ragu.

"Mereka seperti masuk ke dalam gua dan keluar tapi dalam bentuk tubuh yang berbeda." Gaara melanjutkan.

"Apa maksudnya?" tanya Hinata tak paham. "Tunggu, tidak mungkin maksudmu tubuh mereka bertambah besar setiap kali mereka anggap saja kembali ke markas mereka?"

"Aku tidak yakin." Jawab Gaara yang sudah ragu. "Tapi jika itu mencurigakan, bisa saja."

"Omong kosong!" Naruto menyela. "Maksudmu mereka kembali ke markas untuk disuntik agar tubuh mereka semakin membesar, hah?" Naruto tersenyum sinis tidak percaya pada apa yang ia dengar.

"Pikirkan baik-baik. Apakah semua yang sedang terjadi sekarang cukup masuk akal di dalam pikiranmu?" Naruto terbungkam untuk sesaat tapi dia memberikan pembelaan karena tidak ingin kalah.

"Memang tidak masuk akal tapi perkiraanmu sudah melampau tak masuk akal."

"Aku tidak yakin apa yang mereka lakukan untuk merubah ukuran mereka tapi bagaimana jika kita pergi ke hutan itu untuk memastikan?" Tantang Gaara yang lagi-lagi membungkam Naruto.

"Ahahaha kau gila." Shikamaru tertawa bak robot. Pastinya ide Gaara adalah ide yang buruk.

"Hei, aku kepikiran." Toneri terdiam cukup lama hingga akhirnya dia melanjutkan. "Jika saja mereka bolak-balik ke markas, bukankah berarti markas itu cukup penting?"

"Bagaimana jika markas itu hancur?" Semua mata menoleh pada Hinata yang berucap. Sesaat seperti disinari oleh secarik harapan.

"Kalian gila. Anggap saja kalian salah, apa yang akan terjadi dengan kita?"

"Kita tidak bisa diam di sini selamanya. Kita akan mati kelaparan."

"Aku akan menjadi kanibal jika tidak ada lagi makanan di super market ini." jawab Shikamaru cepat dan tanpa ragu sedikitpun.

"Toneri, saranku bagaimana jika kita pisah saja dengan mereka?"

DEG

Hinata, Naruto, Shikamaru dan Sakura tersentak mendengar kata Gaara. Apa maksudnya?

"Lihatlah mereka, tidak bekerja sama sekali. Kita akan dalam masalah jika terus bersama." Sekali lagi mereka membuat segala sesuatu berakhir dengan perdebatan. Sungguh Gaara sampai lelah menghela nafas.

"Aku akan bekerja sama." Sakura berdiri, dia mengambil tempat duduk di belakang Hinata. "Aku bukan pecundang."

"Hei, kau menyindirku, dasar pengkhianat!"

"Aku tak menyindir! Memang kamu pengecut."

"Pengecut? Aku sudah sampai di sini dan hampir mati hanya karena kau ingin mencari Hinata tapi kau malah membela mereka?!"

"Naruto yang memaksamu ikut, mengapa menyalahkanku?!"

"Hei, hentikan tolong." Toneri, Gaara dan Hinata mencoba menghentikan suara yang semakin kuat tapi suara itu malah semakin saling mengalahkan.

"Itu karena kawanmu! Karena dia, Naruto keluar dari rumah dan aku hampir mati!"

"Mengapa kamu malah menyalahkan Hinata?" geram Naruto.

"Hentikan. suara kalian sudah terlalu kuat."

"Kau yang harusnya diam!"

BRAAAACKKKK

PRIAANGG

"Kyaaahh!" Semua orang menunduk dengan memeluk kepala masing-masing karena suara kaca pecah.

TO BE CONTINUE

.

.

.

Guys maaf baru update, author agak ga sehat dua hari ini.

Review

Hanabi : ehe mungkin ya soalnya ga ingat juga udh ada ide ini mayan lama

HAnabi : pengen bangat sebenarnya kek dlu up teratur :" Cuma sayang sekarang tidak memungkinkan hiks ah dan makasih tipsnya! Sangat membantu!

Habaib : ehe ya begitulah

Yappp ehmmm author ga tahu ya emang ga bisa berhenti nulis aja. Author juga berusaha up ga bolong2 jauh tapi skrzang memang masih sulit. Ya sering author katakan juga mengapa kan.

Yap, sekali lagi tidak ada yang author harapkan selain kalian menikmati

Bye bye