"Lihatlah gara-gara suaramu, mereka tahu keberadaan kita!"
"Kau masih punya hati untuk ribut?!" Tatapan membunuh Gaara berikan untuk Shikamaru. "Tunggu apa lagi? Lari!" Seruan itu membuat semua yang ada bangkit.
"Pintu belakang." kata Toneri dan langsung saja semua berlari mengekori Gaara.
"Kyaaaaaaaaaaahhh cepat!" Sakura memekik histeris karena beberapa Sumo yang mengejar semakin mendekat tapi pintu keluar masih terhalang kotak-kotak kosong.
"Sial, mengapa menghalang pintu ini?!" Shikamaru mengeluh. Dia dan Gaara kesulitan memindahkan tumpukan kotak-kotak.
"Cepat! Cepat!" Air mata Sakura mulai mengenang. Dia mencoba menerobos ke depan tapi Shikamaru tidak membiarkannya lewat hingga akhirnya pintu terbuka dan mereka berhamburan keluar.
"Kita berpisah saja." kata Gaara. Dia menarik Toneri pergi ke sisi kiri.
"Hati-hati, Hinata." Hinata hanya menurut karena Toneri memapahnya.
"Ke sini, Hinata." Hinata menoleh karena Naruto menarik tangan kanannya.
"Ini bukan saatnya saling menarik!" Shikamaru memutar arah kembali ke arah Naruto untuk membawanya lari tapi lelaki itu tidak mau melepaskan Hinata.
"Menunduk bodohhh!" Sakura memekik histeris. Untung saja keempat manusia itu langsung menurut hingga kepala mereka berhasil terselamatkan dari tinjuan raksasa yang menghampiri punggung mereka.
"Kita harus ke apartemen itu." Telunjuk Gaara menunjuk gedung aparteman pinggir jalan di bagian kiri.
"Tidak aman!" tolak Naruto.
"Mereka tidak akan bisa menaiki tangga itu."
"Oke, bye." Shikamaru menghampiri Sakura. Dia menarik gadis itu berlari menyusuri tangga kecil di samping gedung.
...
"Hahaha sial! Rasakan kau!" Mereka yang menonton dari balkon tertawa puas. Tangga kecil itu runtuh dikarenakan tidak bisa menahan berat badan para sumo.
"Tapi tunggu, bagaimana caranya turun?" Pertanyaan Shikamaru membuat Gaara mendelik tajam.
"Tidak adakah hal lain yang lebih penting dalam otakmu selain nama dan tangga?" geramnya tapi Shikamaru malah membalas menatapnya kesal.
"Itu penting! Bagaimana caranya turun sekarang?"
"Yang penting sekarang kita sudah aman." Rahang Gaara semakin mengeras, sungguh sangat tidak tahan lagi dengan Shikamaru yang benar-benar menyebalkan atau haruskah ia panggil bodoh?
"Gaara..." Toneri menepuk pundak Gaara seolah memintanya untuk bersabar. Gaara yang paham pun langsung menghela panjang nafasnya berkali- kali hingga dia merasa tenang.
"Aku dan Gaara akan pergi ke hutan itu, besok pagi." kata Toneri.
"Tid-"
"Aku tidak memaksa kalian ikut. Tempat ini cukup aman untuk kalian yang ingin tinggal." selanya sebelum Naruto sempat berkata.
"Aku akan ikut." ucap Hinata.
"Aku juga!" Sakura menambahkan.
"Kalian meninggalkan kami?" Raut wajah Shikamaru cemberut dan juga kesal.
"Kami tidak meninggalkan kalian, kalian yang tidak mau ikut." Tidak ada jawaban dari Naruto dan juga Shikamaru.
"Aku punya ide yang bagus. Bagaimana jika orang yang sakit tetap tinggal agar tidak menyusahkan?" Perkataan dari lelaki bersurai kuning itu menyentak Hinata.
"Tidak, terima kasih. Aku baik-baik saja."
"Jangan membuat dirimu menyusahkan." Sindirannya membuat darah Hinata memanas tapi Gaara mengubah topik pembicaraan sebelum Hinata masuk ke dalam keributan.
"Sejujurnya aku sudah mendapatkan ide yang sangat bagus. Namun, kalian tidak mau bekerja sama." kata Gaara membuat semua mata tertuju padanya.
"Aku akan mendengarkan." jawab Naruto dan dengan berat hati Shikamaru mengangguk.
...
Satu kalimat kemudian.
"KAU PASTI SUDAH GILA!" pekik Shikamaru syok. "Kau menjadikan kami umpan?!"
"Demi Tuhan! Tidak bisakah kau dengarkan dulu aku sampai selesai?!"
"Ya ya ya baiklah."
…
Beberapa saat kemudian.
"Pikirkan sampai besok pagi, setelah matahari muncul kami akan pergi dengan atau tanpa kalian."
Tidak ada jawaban. Shikamaru dan Naruto tidak mengeluarkan suara sama sekali.
"Hari sudah mulai gelap. Sebaiknya kita istirahat. Banyak kamar di sini, dobrak saja kalau terkunci dan cari tempat yang nyaman."
"Hinata, kau baik-baik saja?" Hinata mengangguk sebagai jawaban.
"Aku baik-baik saja, Toneri. Kau bisa meninggalkanku bersama Sakura." Sedikit senyuman Hinata berikan dan tak lama kemudian Toneri berlalu pergi dengan Gaara.
"Ayo, Shikamaru." Ajak Naruto. "Aku lelah." tambahnya yang langsung berlalu pergi melewati Hinata, untuk beberapa detik matanya bertemu dengan mata Hinata sebelum dia benar-benar melewatinya.
"…"
"Kau yakin kakimu tidak apa-apa?" Sakura menghampiri Hinata untuk mengecek kakinya setelah punggung Naruto menghilang di balik dinding.
"Aku benar-benar tidak apa-apa." Hinata menahan pundak Sakura melarangnya untuk menunduk. "Seperti kata Gaara, sebaiknya kita cari tempat untuk beristirahat."
"Uhm..."
...
21.21
"Aku masih saja kesal! Berhenti menyusahkan hidupmu dan aku karena Hinata, kalian sudah putus." Ruangan yang Naruto dan Shikamaru tempati cukup gelap, hanya di terangi oleh senter dengan cahaya bulan dari jendela dan kamar pintu yang tak tertutup.
"Kau mau tahu mengapa kami putus? Itu salahku. Aku penyebabnya."
"Apa ini?" Shikamaru tersentak karena pengakuan yang tiba-tiba muncul setelah tidak pernah mau dia keluarkan. "Mengapa tiba-tiba? Apakah kau cemburu Hinata mungkin akan menyukai Toneri?" tanya Shikamaru asal.
"Tidak," Naruto merubah posisi baring di atas kasur menjadi duduk dengan melipat kedua kaki. Dia menoleh menatap Shikamaru dalam kegelapan. "Aku hanya memikirkan betapa benci Hinata padaku sampai dia dengan sadar membela orang asing itu."
"Ke mana?" Alis Shikamaru terangkat ketika Naruto beranjak pergi.
"Mencari udara."
"Hanya ada udara kotor sekarang. Darah dan mayat di mana-mana." Shikamaru mengingatkan tapi lelaki itu tidak mendengarkan sama sekali. Dia keluar begitu saja meninggalkannya.
"Dia pasti menemui Hinata." Tebak Shikamaru malas.
...
"Naruto?" Sakura memutar badan dari arah balkon menghadap Naruto yang sudah berada di sampingnya. "Ada apa?" tanyanya penasaran. Naruto jelas sekali tidak datang untuk menemuinya karena lelaki itu terus mencuri pandang pintu di belakangnya yang tak tertutup.
"Hinata di sana? Apa dia sudah tidur?" tanya Naruto to the point.
"Dia di dalam tapi sepertinya belum tidur." Sakura menjawab jujur. "Mengapa kau mencarinya?"
"Tidak ada," Tanpa sadar Naruto menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Aku hanya ingin berbicara dengannya sebentar."
"Ah..." Raut wajah Sakura khawatir. Jelas sekali Hinata tidak akan menyukainya. "Aku tak mera-"
"Ssttt jangan menguping, oke?" Mengabaikan perkataan Sakura, Naruto meninggalkannya menuju kamar tempat Hinata berada.
Takut dan khawatir Sakura rasakan ketika Naruto menutup pintu kayu itu tapi entah mengapa Sakura tidak melakukan apapun.
"..."
"..."
"..."
"Kyaaaaaaaahh! Pergi kau! Pergi!" Sakura tersentak dan kemudian raut wajahnya panik. Seharusnya tak ia izinkan Naruto masuk, itulah yang langsung hadir di dalam benaknya.
...
"Pfft sudah kuduga." Shikamaru tersenyum puas. Suara Hinata sangat nyaring hingga terdengar sampai lantai atas. "Hoaaaamm … Biarkan mereka kelahi." gumamnya sembari menyamankan posisi baring.
...
Braackk!
"Aku tidak mau bicara!"
Suara hantaman mengejutkan Sakura tapi gadis itu masih tidak berani mencari tahu apa yang terjadi di dalam sana.
"Sakura, aku seperti mendengar suara Hinata?" Dua lelaki dari lantai atas muncul dengan cepat tapi apa yang Sakura lakukan adalah menghalang jalan mereka.
"Ano bukan apa-apa. Naruto hanya ingin berbicara pada Hinata." jelasnya jujur.
"Tapi"
"Toneri, tolong biarkan saja mereka." Toneri mencoba melewati tangan kecil Sakura tapi Sakura tidak membiarkannya.
...
"Oke oke aku akan bicara jauh dari sini. Jangan melempariku lagi." Naruto mengambil sudut paling jauh dari kasur tempat Hinata berada, berdiri di sana seolah sedang menjalani hukuman.
"..." Hinata tak merespon, gadis itu sibuk mengatur nafasnya yang cukup kasar. Dari jarak ini dia tidak dapat melihat wajah Naruto dengan jelas.
"Aku hanya ingin mengatakan kau tidak boleh dengan sengaja bersikap seperti itu pada Toneri hanya karena kau membenciku, lelaki itu bisa saja salah paham." Naruto tidak yakin sungguhkah topik ini adalah yang ingin dia bahas tapi tidak masalah karena hal itu termaksud salah satu yang mengusiknya.
"Kalau begitu aku juga ingin menjelaskan agar kau tidak salah paham."
"Hum, katakan." jawab Naruto cepat dan tidak diperlukan waktu lama dia sudah tahu apa yang ingin Hinata katakan. Gadis itu tidak membuang satu detikpun waktunya untuk memikirkan apa yang keluar dari bibirnya.
"Jangan ikut kami besok." Naruto tersentak. Kalimat Hinata membuatnya mematung. "Tolong, menjauh dariku. Gaara sudah mengatakan bahwa tidak masalah kalian ikut atau tidak tapi yang jelas aku akan bersama mereka. Jadi, aku mohon jangan pergi bersama kami atau-
-sekali lagi aku yang akan kabur dari kalian."
"…" Hal pertama yang hadir di dalam pikiran Naruto adalah kekhawatiran tapi lelaki itu masih sibuk terdiam hingga beberapa menit kemudian, suaranya memecahkan keheningan.
"Apakah kau harus bersikap sampai seperti itu…?" tanyanya entah dengan nada apa. Hinata tidak tahu dan juga tidak bisa membaca raut wajahnya dikarenakan gelap. "Lihat keadaan di luar sana, kau tidak harus sampai seperti itu." Perasaan kesal hinggap di hati Naruto tapi dia tidak bisa melakukan apapun dengan rasa kesal itu.
"Aku benci kau … Aku benar-benar membencimu. Sudah kukatakan aku tidak akan menarik kembali kata-kataku. Jangan sok dekat denganku!"
"Kau bukan Boruto's dad dari anime Boruto, kau tak harus segigih itu." Geram Naruto. "Benci aku, silahkan tapi jangan membahayakan dirimu sendiri."
"Aku tak perduli!" Tangan Hinata mulai terkepal erat. Lelaki itu, Naruto tidak tahu betapa sakit hati Hinata sekarang. Betapa sulit kata-kata keluar dari mulutnya hanya karena ia sangat merindukannya. Betapa Hinata membenci dirinya sendiri karena telah membenci lelaki itu. "Aku tak bercanda. Jika aku melihatmu besok pagi, aku akan pergi."
To be continue.
.
.
.
Ehe halo guys
Dpt clue ga neh mengapa mereka putus hehe
Author nulis ini malam sebelum Tidur jadinya bisa post hari ini.
Auhor harap kalian suka setidaknya bisa mengisi waktu luang kalian ah! Tadi author ingin bilang tapi lupa tapi kalian tolong jaga kesehatan. Skrang zbenar-benar musim sakit bangat. Banyak banyak minum air hangat dan mandi air hangat. Pastikan juga untuk pakai topi dan jaket saat diluar karena cuaca benar-benar panas. Jangan lupa setidaknya makan vitamin
Bye bye
