"Begitu...?" Naruto tersenyum tanpa mengharapkan Hinata melihat senyumannya. "Baiklah. Jika itu maumu."
Masih tanpa suara, Hinata mengamati kepergian Naruto. Jangan tanyakan seperti apa hatinya sekarang karena Hinata tak berniat menjelaskan.
...
"Kau baik-baik saja, Naruto?" Sakura bertanya dengan raut wajah khawatir ketika Naruto keluar dari kamar dan berjalan mendekat tapi apa yang lelaki itu lakukan hanyalah menatap Toneri dan kemudian pergi begitu saja menuju lantai atas.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Gaara penasaran entah pada siapa.
"Mereka berpacaran sebelumnya."
"Hah?" jawaban Sakura menyentak Toneri dan juga pastinya Gaara.
"Mereka tidak terlihat seperti itu?" tanya Gaara tak percaya.
"Yah ... Seperti yang kalian lihat, mereka putus karena suatu masalah."
"Masalah ... apa?" Toneri tak bisa menahannya, rasa ingin tahu mulai mengganggu pikirannya.
Sakura masih belum menjawab. Dia hanya menatap Toneri dan kemudian memberikan senyuman tipis. "Aku tidak berhak mengatakannya."
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.
202DIE
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
202DIE by Authors03
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 8
.
.
.
Matahari mulai muncul dan menerangi bumi. Untuk mereka yang masih berada di gedung, dibangunkan oleh rasa takut dan kekhawatiran.
06.54
Dia yang tengah duduk di atas lantai dengan mengikat tali sepatu malah termenung. Tenggelam dalam pikirannya.
"Apakah aku terlalu kejam?" Itulah yang sedang menggangu pikirannya tapi egonya masih terlampau kuat untuk bisa mengalahkan rasa perduli itu.
"Hinata," Hinata mengangkat kepalanya menatap siapa yang memanggil. "Mereka sudah menunggu." Itu Sakura, dia berdiri di ambang pintu.
"Uhm." gumam Hinata. Dengan segera dia menyelesaikan acara mengikat tali sepatu.
...
"Mengapa kau di sini?" Yang merasa di ajak bicara mendelik tajam, tak senang pada pertanyaan yang dilontarkan gadis bersurai pink yang baru saja menghampiri.
"Terserah padaku." Jawab Shikamaru tajam.
"Di mana Naruto, dia tak ikut?" Hinata mencoba tak merespon pada nama yang disinggung tapi diam-diam dia memainkan jari-jarinya di atas perut.
Shikamaru menunjuk dengan dagunya membuat Hinata dan Sakura memutar badan, menoleh ke arah yang Shikamaru tunjuk.
"Apa ini?!" Hinata tersentak. Ketika tubuhnya berbalik, Naruto entah sejak kapan di belakangnya dan dia memborgol tangan kanan Hinata.
Ceklik
"Aku tidak akan membiarkanmu dalam bahaya." Perbuatannya, bagaimana caranya berbicara. Hinata membeku menatapnya bagaikan tersihir. "Aku juga tidak ingin kamu menyesali ucapanmu, jadi aku tak akan pergi." Ketika kontak mata mereka bertemu, Naruto memberikan senyuman yang sangat tulus.
Ceklik
"Apa ini?!" Mata Naruto membulat dengan sempurna, syok bukan main. Sisi borgol yang lain yang harusnya memborgol tangan kirinya malah berakhir dengan memborgol tangan kanan Toneri, lelaki itu merebutnya dengan cepat.
"Wow amazing." Shikamaru tidak tahu harus merespon seperti apa. Naruto tampak syok dan marah.
FLASHBACK
.
"Besok, aku tidak ikut." Kuatnya tubuh lelaki itu roboh di sisi kasur yang lain membangunkan Shikamaru yang tertidur pulas. Dengan setengah sadar Shikamaru mendudukkan dirinya.
"Ada apa?" tanyanya penasaran. Naruto tak tampak seperti akan membiarkan Hinata pergi bersama lelaki lain tapi mengapa dia berubah pikiran? Apa yang Hinata katakan padanya?
"Hinata mengatakan jika aku ikut besok, dia akan melarikan diri." Naruto menjawab tanpa mengangkat wajahnya yang sudah tenggelam di atas bantal.
"Mau aku bantu?"
"Kamu tidak bisa membantu." jawaban Naruto membuat Shikamaru menahan tawa.
"Kau benar tapi aku menemukan sesuatu yang bagus sesaat sebelum aku tertidur pulas."
Dengan cepat Naruto bangkit, dia menatap Shikamaru. "Katakan padaku." pintanya.
"Aku tidak tahu mengapa benda ini bisa ada di sini." Shikamaru merogoh sesuatu dari bawah bantal yang sebelumnya ia gunakan.
Naruto terdiam. Dia melihat jelas borgol yang temannya lemparkan. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan dengan itu, bukan?" Naruto mengangguk sebagai jawaban.
"Kau benar-benar teman baikku!" Satu sudut bibir Shikamaru tertarik naik.
"Bukan hanya itu. Tolong pakai kesempatan ini untuk memperbaiki hubungan kalian, jika kau benar-benar masih mencintainya. Setidaknya buat dia tak lagi membencimu."
.
FLASHBACK END
Hancur
Hancur sudah rencana Naruto yang sudah sangat brilian.
"Apa kau gila ingin memborgol Hinata denganmu?" Suara Toneri membuat Naruto yang masih membeku menoleh secara perlahan.
"Gila? Tapi kau memborgolnya denganmu?!" pekiknya marah.
"Aku … tak sengaja. Borgolnya licin." Toneri menjawab asal. Sejujurnya dia tak tahu apa alasannya.
"Shikamaru, berikan aku kuncinya!" pinta Naruto. "Ini tidak bisa. Aku tidak mau!" pekik Naruto tak terima. Ia harus mengambil kesempatan ini untuk berbaikan dengan Hinata tapi hancur sudah. Kesempatan emasnya direbut begitu saja.
"Etto..." Apa yang harus Shikamaru katakan? Dia menggaruk pangkal hidung dengan jari telunjuk. "Aku tak merasa seperti memiliki kuncinya."
"Tidak! Tidak!" Naruto mencengkram kedua pundak Shikamaru sambil terus mengguncangnya. "Berikan aku kuncinya! Berikan!" paksanya.
"Ini bukan masalah besar, tolong hentikan." Gaara menyelip memisahkan Naruto dan Shikamaru.
"Ini masalah besar! Ini masalah besar untukku!" Raut wajah Naruto frustasi, seolah kehilangan harapan dan semangat.
"Ayo kita pergi." Hinata beranjak pergi melewati Shikamaru dan Naruto, Toneri mengekorinya bersama Sakura.
"Tidak! Kesempatan emasku!"
...
"Apapun yang terjadi, tetaplah diam."
Sakura mengulang perkataan Gaara di dalam kepalanya. Kata-kata itu terus memutar di kepalanya tidak perduli apa yang sedang dia lakukan. Berjalan dan berjaga dalam posisinya.
Sakura menempelkan ibu jari ke depan bibir ketika Gaara menatapnya. Lelaki itu berada dalam satu garis miring di belakangnya.
…
"Sial." Dalam hati Naruto mengumpat. Karena Toneri, kesempatan emasnya hilang tapi setidaknya Naruto berhasil berada di dekat Hinata untuk berjaga-jaga Toneri mencuri-curi kesempatan. Tugas Naruto harusnya bersama Sakura dan Shikamaru tapi karena dia tak berhenti mengoceh, Gaara bertukar posisi dengannya.
"Tidak ada kunci." Hinata dan Toneri sibuk mencari mobil yang bisa digunakan sedangkan Naruto sibuk melototi Toneri.
BRACKK
"Arggh Sial!"
DEG!
Gaara, Sakura dan Shikamaru dalam formasi segitiga tersentak karena suara yang Naruto ciptakan.
…
"Waktunya tiba." Dalam hati Shikamaru terus berharap rencana mereka akan berjalan dengan sempurna tapi dikarenakan para musuh di sekitar mereka sudah menoleh, rencana B di mulai.
Ketika para musuh berlari ke arah mereka yang seharusnya menemukan mobil, Shikamaru akan membuat suara keras, memancing mereka dan setelah itu Gaara akan melakukan hal yang sama dan kemudian Sakura. Apapun yang terjadi tugas mereka bertiga adalah menjaga ketiga manusia di antara mereka agar tetap aman.
"Gara-garamu." Hinata berbisik pelan sekali tapi tangannya meninju kuat lengan Naruto.
"…" Wajah Naruto masam. Dia menahan sakit dan ringisan dengan cara mengelus lengannya yang tertinju.
"Aku menemukan kunci." Toneri memunggut kunci yang jatuh ke lantai mobil. Dia kemudian berjalan masuk ke dalam mobil bagian setir.
…
"Ini mudah sekali." Shikamaru menahan tawa lucu tanpa sadar. Kedua botol di tangannya berhenti membuat suara dan sumo-sumo yang mendekat ke arahnya mulai berlari ke arah Gaara yang membuat suara tapi-
DEG
Tinjuan melayang membuat tubuh Shikamaru terjatuh dengan bokongnya menghantam lantai. Dia membekap mulutnya dengan kedua tangan tapi sumo di depannya tak kunjung pergi bahkan tidak menoleh ke arah lain.
"Apa ini?" Panik, sumo tadi kembali menyerang. Tubuh Shikamaru berputar ke arah kiri untuk menghindari tangan besarnya. Jelas sekali apa yang sumo itu lakukan bukanlah kebetulan.
Dia … bisa melihat?
Mata Shikamaru menyusuri perut penuh lemak sumo di depannya hingga dia bisa melihat mata merah yang tengah menatap.
"KROOOHHH!" Mulut kecil sumo itu seolah akan terbelah dikarenakan teriakan marah.
"GAAARRAAA!" Shikamaru merangkak dan kemudian bangkit. Dia berlari secepat mungkin menuju Naruto.
"Mana mobil?! Mereka bisa melihat!" Shikamaru muncul dengan menarik pundak Naruto, Hinata yang berdiri di samping mobil turut menoleh.
"Kau tidak boleh kemari, Shika." Hinata mengingatkan tapi pergerakan besar yang mengekori Shikamaru menarik perhatiannya. "Ka-To-To-Toneri keluar dari dalam sana!" Hinata menarik borgol di tangannya.
"KROOHHHHHH!"
BRRAACKKK
"Kyaaahhh!" Mobil penyet seketika karena dua tinju dari sumo tadi, syukur Toneri berhasil keluar dari mobil terlebih dulu.
"Mobil itu bisa menyala!" Frustasi, Toneri menatap tak percaya sang pelaku.
"Mereka bisa melihat! Kau tak dengar?!" Shikamaru mengulangi perkataannya. "Dia bahkan mengeluarkan suara 'Kroohh' padahal sebelumnya tidak!"
"Kalau begitu kau tidak seharusnya memancingnya kemari!"
"Hentikan guys, kita dalam masalah." Gaara dan Sakura ikut mendekat. Bukan hanya mereka, para musuh juga turut mendekat.
"Semua ini karena kalian!" Tangan Shikamaru bergetar begitu juga dengan yang lainnya. Punggung mereka saling menyatu seolah ingin saling melindungi.
"Kita benar-benar terkepung." Tidak ada sedikit cela pun untuk lari, para musuh terus mendekat.
"Mereka seharusnya tidak bisa melihat, bagaimana mungkin?!"
"Pikirkan sesuatu!" pekik Shikamaru. Tangannya memukul-mukul pundak Gaara.
"SEDANG AKU PIKIRKAN!"
.
.
TO BE CONTINUE
Maap ehe semalam ga up sibuk buat pizza sama bola2 kentang. Semoga terhibur
Tiy4 : ehe makasih banyak, saya tersangjung tapi author pastikan up kalau ada! Skrang sukanya maish yg model gini ehe
Sampai jumpa.
