"Hajar!"
"APA?!" tanya Shikamaru untuk memastikan kembali fungsi indera pendengarnya tapi Gaara malah berlari ke arah musuh dengan kalimat.
"HAJAR MEREKA-HIAAAAAA!"
"KAU GILA!" Semua orang membeku di tempat masing-masing karena takut tapi kemudian bibir mereka terbuka lebar.
Bagaimana tidak? Gaara bergerak dengan sangat gesit sekali melewati para sumo yang menghalang jalannya. Lelaki itu mendarat dengan sempurna dalam posisi berlutut.
Kini, perhatian semua sumo tertuju padanya.
"LARI KALIAN SEMUA!" Tenggorokan Gaara terasa kering karena teriakan tapi tidak ada satupun yang bergerak dari tempat masing-masing.
Langit bergerumuh, yang awalnya terang menjadi gelap dan tidak diperlukan waktu yang lama setetes demi setetes air jauh semakin deras membasahi bumi.
"…"
"Mereka pergi…" Masih belum ada yang bergerak meskipun tubuh mereka telah basah kuyup. Perhatian mereka sepenuhnya tertuju pada para sumo yang bergegas pergi.
"Tidak mungkin!" Sakura membekap bibirnya dengan kedua tangan.
Gaara berdiri, lelaki itu menatap teman-temannya yang perlahan saling menatap. Seutas senyuman hadir di bibirnya.
"Mereka takut air?!"
"Kyaaaahhh!" Hinata dan Sakura bersorak. Mereka terus meloncat kecil hingga akhirnya saling berpelukan.
"Kita selamat!" Tubuh Shikamaru terjatuh ke lantai. Lelaki itu mengambil nafas panjang hingga akhirnya senyuman bahagia hadir di bibirnya. Persetan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka berhasil selamat sungguh sebuah keajaiban.
"Kita selamat!" Naruto bak terhipnotis. Senyuman Hinata yang selalu dia rindukan membuat dirinya ikut tersenyum.
"Kyaaahh kita selamat!"
DEG
Naruto berhenti bernafas. Hinata meloncat-loncat kegirangan dan berakhir meloncat ke dalam dekapannya. Senyuman di bibinya melebar, Naruto melingkarkan kedua tangannya ke punggung Hinata dan memeluknya sangat erat.
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.
202DIE
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
202DIE by Authors03
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 9
.
.
.
Brackk!
Backkk!
Keringat menetes dari dahi Naruto.
"Diam! Aku bisa." Naruto menyela sebelum Sakura sempat mengeluarkan satu katapun. "Aku bisa." Sekali lagi Naruto menghantam sekuat tenaga rantai borgol menggunakan batu besar di kedua tangannya.
"Hati-hati dengan tangan kami." Hinata mengingatkan karena takut pada wajah Naruto yang sudah seperti akan membunuh seseorang.
"Tapi terlalu awal untuk menyimpulkan bahwa mereka takut kepada air." Gaara berpikir keras. Mengapa mereka pergi? Gaara mencoba mendapatkan jawabannya.
"Dunia cukup aneh sekarang, mereka yang pergi karena hujan bisa berarti banyak hal." Sakura ikut berpikir keras. Sesaat gadis itu menyentuh mata kakinya.
"Apa kau terluka?" Gaara bersimpuh tepat di depan Sakura.
"Tidak, kurasa hanya karena aku takut. Kakiku terasa lebih berat." jawabnya jujur. Karena takut, ia bahkan tak bisa bernafas dengan benar.
"Itu kenapa kau tidak boleh berlagak hebat." Shikamaru mengambil duduk di antara Gaara dan Sakura.
"Takut itu wajar." jawab Sakura sambil memberikan tatapan tajam.
"Biarkan aku memeriksanya." Sakura mengangguk singkat sebagai jawaban dan dia biarkan Gaara menanggalkan sepatu hitamnya.
"Hmm…" Shikamaru bergumam sambil menopang dagunya di atas lutut. Matanya melihat kaki dan wajah Sakura secara bergantian.
…
15.21
"Aku penasaran di mana semua orang." Di dalam mobil mereka semua berada. Sesuai Rencana, tujuan mereka adalah ke hutan untuk mengecek keadaan di dalam sana. Hinata mengamati dari kaca mobil dan dia tidak melihat seorangpun.
DEG
Hinata tersentak ketika tangannya menyenggol tangan Naruto di sampingnya.
"Geser. Geser." Shikamaru mendorong Naruto untuk melebarkan tempatnya duduk.
"Jangan mendorong!" Sakura mengulurkan tangan menarik kesal surai nenas Shikamaru untuk membuatnya duduk dengan tenang.
"Hentikan." Karena dorongan tadi membuat samping badan Hinata semakin berdempet dengan Naruto.
"Jangan menarikku sial!"
"Ah! Sakit!" Mata Sakura melebar. Shikamaru membalas menarik rambutnya.
"Ck!" Naruto mengulurkan tangannya melingkari Hinata, menjaga gadis itu dari dorongan yang Sakura lakukan.
"Jauhkan tan-"
"Jika aku mengakuinya sekarang, apakah kamu mau mendengarkan aku?" Kontak mata mereka bertemu dikala Naruto menyela.
…
"Biarkan saja mereka" Gaara menahan pundak Toneri dikala lelaki itu ingin berbalik. "Mereka tidak akan pernah berhenti." katanya menginggatkan.
"Sial! Lepaskan rambutku sakit!" Toneri melihat Shikamaru dan Sakura saling menarik dengan Hinata dan Naruto di antara mereka, saling menatap.
"Hinata…" panggil Toneri tapi ketika Hinata hendak menoleh, satu telapak tangan Naruto menahan gerak wajahnya. Tangan besar itu membuat wajah Hinata tetap mengarah padanya.
"Jangan melihatnya." pinta Naruto dikala mata mereka kembali terkunci. "Aku mengakui aku memang salah, tidak ada yang bisa aku lakukan untuk menghilangkan fakta itu ta-"
"Jika begitu maka tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan." Hinata memutuskan kontak matanya dengan Naruto, dia menatap kosong ke depan.
"Kamu benar tapi aku tetap ingin berbicara, Hinata." Hinata tak merespon membuat Naruto terdiam cukup lama.
"Kamu benar, aku lelaki brengsek. Aku berbohong padamu, dengan sengaja dan sadar melakukan hal yang kau khawatiran yang menyebabkanku berakhir di kamar dengan perempuan asing."
DEG
Mata Sakura dan mulut Shikamaru terbuka lebar. Acara saling menjambak terhenti karena perhatian mereka seutuhnya tertuju pada Naruto.
"What the fuck?" Shikamaru menatap tak percaya Naruto dan pengakuannya.
Pengakuan itu membuat Hinata menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangan, tidak ingin mendengarkan lebih banyak lagi apa yang keluar dari bibir Naruto tapi lekaki itu menarik tangannya, memaksa Hinata untuk mendengarkan lebih jauh lagi.
"Hinata, dengarkan aku"
"Kau tidak harus memaksanya!" Toneri memutar badan dan menarik tangan Naruto, mencoba menjauhkannya dari Hinata.
"Hei, tolong tenanglah." Kali ini Gaara yang bersuara. Mobil berhenti karena gerakan Toneri sedikit menguncang setir.
"Hina-"
"Hentikan!" Hinata menepis tangan Naruto. Tanpa mau berbicara, dia membuka pintu mobil tapi Sakura melarangnya.
"Kau mau ke mana?" Sakura menarik tangan Hinata untuk menjauhkannya dari pintu mobil.
"Lepaskan aku!"
"Hinata, Kau hanya perlu dengarkan aku." Naruto menarik Hinata agar kembali duduk dengan tenang tapi gadis itu tak mau menurut.
"Aku bilang diam, sialan!" pekiknya marah. "Aku tidak mau membahasnya!" Tangan kecilnya mendorong Naruto tapi lelaki itu masih tak menyerah untuk membuatnya mendengarkan.
"Aku tak melakukannya."
"Kau bohong! Kau pembohong!" Sekali lagi Hinata menutup kedua telinganya menggunakan kedua tangan.
"Hinata…" Punggung naruto yang sebelumnya tegang, melunak. Hinata menutup kedua matanya dengan rapat. "Aku memang hampir melakukannya tapi aku tidak!" Kedua tangan Hinata kini terkepal sangat erat. "Jangan menyakiti dirimu." Naruto menarik tangan Hinata ingin melindungi telapak tangannya dari tajam kuku Hinata tapi gadis itu mendorongnya dan kembali dalam posisi yang sama.
"Hentikan, Naruto! Mengapa kau dengan sengaja membawa topik itu lagi." Marah Sakura.
"Aku hanya ingin menjelaskannya!" jawab Naruto cepat. "Salahkah aku?"
"Kau tidak punya apapun untuk dijelaskan padaku." Hinata akhirnya bersuara. Mata bulannya menatap lantang mata Naruto untuk menyembunyikan kesedihan yang ingin keuar. "Aku melihatnya … Aku melihat kau dan dia tanpa pakaian sama sekali."
.
.
TO BE CONTINUE
Eh semalam ga up ya. Semoga suka byee
