Something Lost

Story by : Me

Disclamer : Masashi Kishimoto

Rate : T+

Pairing : Gaara S x Hinata H x Shikamaru N

Genre : Drama, Hurt

Warning : So Many Typo, OOC, Cerita tidak jelas dan sebagainya

.

.

.

"Siapa kau sebenarnya?" tanyanya tajam pada Hinata yang sudah membeku seperti ini.


Chap IV

Mana mungkin aku bisa melihat bintang bersinar

Jika kau sudah mengambil cahayanya...

Aura ruangan pertemuan mendadak senyap, Gaara terus menatap tajam Hinata seakan menuntut hak atas pertanyaannya tadi.

"Siapa kau sebenarnya?" lagi, pertanyaan yang sama yang dilontarkan Gaara.

Hinata membeku, ia meremas ujung roknya tanda ia sedang gugup.

"Sa-saya... sekretaris presdir Yahiko." ucap Hinata sambil menunduk.

Gaara mendengus sarkasme, ia menyilangkan kakinya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa "Kau mengerti jelas arah pertanyaanku nona." sahutnya sambil melipat kedua tangannya.

"Ma-maafkan atas kelancangan saya Sabaku-sama, saya mencari tahu mengenai profile anda agar saya bisa membantu mempermudah presdir Yahiko dalam menjalankan kerjasama dengan anda." jawab Hinata berbohong.

Gaara tertegun.

Ia terdiam sesaat, rasanya ia familiar dengan nada suara gadis ini, terlebih dadanya seakan tertusuk duri tajam saat mendengar namanya diucapkan dengan begitu formal 'Sabaku-sama'.

Kenapa dadanya bereaksi lain jika namanya diucapkan begitu formal oleh Hinata.

"Sajikan kembali kopi yang berbeda untuk presdir Gaara." ucap Iruka pada Yoora dan berhasil mengurai ketegangan yang ada di ruangan ini.

Hinata mendesah lega.

. . .

Aku mengutuk diriku sendiri, untuk setiap kata yang membuatmu menangis.

Jalan raya yang padat dengan kendaraan di jam pulang kerja seperti ini membuat Hinata lebih senang untuk berjalan kaki hingga ke tempat pemberhentian bis di rute kedua untuk menghindari macetnya lalu lintas di jam pulang kerja seperti ini.

Ia menenteng tasnya dengan tangan kanannya, rambutnya ia biarkan tergerai sempurna.

Tess...

Setetes air hujan jatuh mengenai pipi pulamnya, ia mengadahkan sebelah tangannya keatas untuk merasakan tetesan hujan seperti kebiasannya. Raut wajahnya mendadak murung, merasakan air hujan seperti ini kembali membuatnya mengingat kenangan lamanya.

Dulu, saat ia dan Gaara masih di tingkat sekolah menengah.

Flasback

Saat itu suasanya tidak jauh berbeda dengan saat ini, Hinata berlari sekuat tenaga dengan pakaian rumah seadanya padahal saat itu suhu di Jepang benar-benar dalam keadaan minus.

Nafasnya terengah, berlari di tengah derasanya hujan dengan jarak yang bisa di bilang sangat jauh jika dilalui hanya dengan berjalan kaki.

Seluruh tubuh Hinata bergetar, nafasnya terasa putus di tenggorokannya, Hinata terengah, matanya sembab memandang sayu pada lelaki muda yang berdiri kaku di depan gerbang masuk mansion mewah Sabaku.

Gaara muda saat itu hanya mematung melihat kekasihnya berlari dengan kondisi seperti ini. "Gaara-kun..." panggil Hinata.

Suara Hinata seakan membuat kesadaran Gaara kembali, ia terlonjak kaget melihat Hinata seperti ini "Hi-hinata!" dengan sedikit berteriak ia berlari mendekap pada kekasihnya "Kenapa di saat hujan kau keluar dengan pakaian seperti ini?!" lagi Gaara berteriak pada kekasihnya yang berada tepat di hadapannya, dengan tergesa ia membuka jaket yang ia kenakan dan menyelimuti tubuh kekasihnya.

"Ga-gaara-kun... ba-bagaimana ini? Ibu Karura... kenapa seperti ini?" Hinata meracau tidak jelas, ia memeluk kekasihnya ini ditengah derasnya hujan.

"A-aku... aku tidak tahu Hinata, aku tidak tahu, aku takut sekali." ucap Gaara sambil membalas erat pelukan kekasih hatinya ini.

Mereka berdua terisak dalam derasnya hujan, kabar buruk di hari dengan cuaca yang sama buruknya menambah lengkap penderitaan Sabaku Gaara.

Perusahaan besarnya mendadak harus kehilangan beberapa anak perusahaanya untuk mencegah defisit keuangan yang terus menurun dalam beberapa bulan terakhir ini, hal inilah yang membuat kesehatan Karura Sabaku memburuk.

Seperti sebuah bola salju yang terus bergulir dan semakin membesar, puncaknya adalah kemarin saat perusahaan benar-benar diambang kehancuran, Karura Sabaku jatuh dan mendadak tak sadarkan diri.

Hingga akhirnya, ibu kandung dari Sabaku Gaara ini harus memutuskan hubungannya dengan dunia fana ini, ia meninggal dunia dirumah sakit besar di Manhattan Amerika.

Dan saat kabar itu sampai di telinga Hinata, ia tanpa berpikiran apapun berlari dari rumahnya. Hanya satu tujuannya, hanya satu yang bisa ia pikirkan dalam kepalanya.

Bagaimana dengan kekasihnya? bagaimana perasaan belahan jiwanya saat ini.

"Outoto kembalilah ke kamar, ganti bajumu... kita akan melakukan penyambutan jenazah ibu, pesawatnya sudah lepas landas sejak pagi dari Manhattan dan Iruka bilang ia akan tiba 1 jam lagi, bergegaslah ganti pakaianmu... kau juga Hinata, masuklah." ucap Kankuro sambil menyentuh lembut pundak adik nya ini.

"Hinata, berjanjilah... kau tidak akan pernah meninggalkanku dalam keadaan apapun."

"Ne, aku berjanji Gaara-kun."

Flasback Off

Tess... Tes...

Tetesan hujan terasa semakin deras, Hinata tersadar dalam lamunannya dan segera berlari kecil menuju halte bis tujuannya.

Ponsel dalam tasnya berbunyi.

Gurat wajah Hinata seketika mengembang melihat nomor pemanggil yang ditampilkan dalam layar ponselnya.

"Ya, Shikamaru-kun?" jawab Hinata cepat.

'Kau masih di kantor?' tanyanya dari ujung panggilan sana.

"Tidak, aku sedang di halte dalam perjalanan pulang."

'Perlu kujemput?' lagi, Shikamaru bertanya.

Sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum lebar Hinata menjawab "Tidak usah Shikamaru-kun, kau ada piket malam bukan? aku hanya perlu naik bis satu kali saja."

Terdengar desahan nafas pasrah dari ujung panggilan sana 'Baiklah, kabari aku jika sudah dirumah.'

"Um." respon Hinata sambil menganggukan kepalanya.


Sementara itu di tempat lain, diwaktu yang bersamaan. Gaara Sabaku berdiri menghadap jendela besar penthouse miliknya, tarikan nafas nya terasa jelas beban besar yang ada dipikirannya.

"Hinata, siapa kau sebenarnya?" tanya Gaara pada dirinya sendiri.

"Kenapa perasaanku selalu bereaksi aneh jika melihat dirimu?" lagi, seperti orang bodoh ia terus bertanya pada dirinya sendiri.

"Hinata Nara?" Gaara kembali bergumam, ia benar-benar merasa pening dikepalanya "Tujuanku kembali ke negara ini adalah mencari gadis Hyuga itu, kenapa sekarang aku terperangkap pada situasi seperti ini dengan seorang Nara?" Gaara terus bertanya ambigu pada dirinya sendiri.

Ia mengambil ponsel yang di letakkan diatas mejanya, jarinya terus bergerak, menyentuh layar ponsel mencari kontak yang ia butuhkan saat ini untuk dihubungi "Iruka, cari tahu segala sesuatu tentang sekretaris presdir Yahiko, latar belakangnya, pendidikannya serta semua hal tentang dirinya, cari tahu dan laporkan kepadaku."

Tuuuuttt

Panggilan telpon diputus oleh Gaara ia kembali mendesah dan berjalan menuju laci mejanya, tangannya terulur mengambil sebuah botol obat.

Botol obat yang berisi pil tidur.

Walaupun tubuhnya benar-benar butuh di istirahatkan, tapi Gaara tidak akan bisa tertidur begitu saja, bahkan Gaara sering sekali tidak tidur berhari-hari walaupun ia sangat ingin tertidur, tapi mata dan pikirannya seakan tidak mengijinkannya tertidur dan berakhir bermimpi buruk dengan hadirnya gadis Hyuga dalam setiap tidurnya.

Tapi hari ini, ia benar-benar lelah, tubuhnya benar-benar butuh diistirahatkan.

Obatanya bereaksi,

Dan Sabaku Gaara terlelap sunyi dalam tidur malamnya.

.

.

.

.

'Lepaskan aku brengsek! Dia didalam sana! Aku harus menyelamatkannya!'

'Brengsek kalian semua! Lepaskan aku!'

'AAAAARRRGGGHHHHH… Hyugaaaaaaa!'

Desahan nafas memburu memenuhi ruangan kamar besar Sabaku Gaara, nafasnya terengah tak beraturan, ia menekan-nekan dadanya jantungnya berdegup dan terasa menusuk lebih dalam.

Sinar mentari pagi menembus ruangan ini, seharusnya terasa hangat. Namun Gaara, ia merasa seperti terbakar di pagi ini.

Lagi,

Mimpi yang sama...

"Brengsek!" umpat Gaara ia berlalu menyibakkan selimut besarnya dan bergegas membersihkan diri di pagi yang seharusnya terasa cerah ini.


"Ne, Hinata..."

"Ya bu?" Sahut Hinata dari dalam kamarnya dan berlalu menghampiri Yoshino.

"Apa kau bisa mampir ke tempat kakakmu sebentar?" tanya Yoshino sambil sibuk menata meja untuk menyiapkan sarapan.

"Bisa bu...!" Sahut Hinata riang.

"Ne, ne... kenapa kau senang begitu Hinata?" tanya Shikaku tiba-tiba.

"Hahahaa, antarkan ini padanya... dia bahkan tidak sempat pulang sama sekali untuk sekedar mengganti pakaiannya." sahut Yoshino dengan tawa riangnya.

"Oke bos!" ucap Hinata dengan riangnya, ia... benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.

Karena ada alasan yang membuatnya bertemu dengan kakak angkatnya, tentu saja Hinata bahagia.

. . .

Sama seperti hari-hari kemarin, walau Jepang masih di selimuti hujan namun di pagi ini terasa berbeda. Angin yang berhembus terasa sangat menyegarkan dan meneduhkan hati yang gundah.

Seperti Hinata.

Walaupun kemarin, saat pertemuannya dengan Gaara telah mengubah sebagian kebahagiannya menjadi ketakutan, tapi... pagi ini terasa sedikit berbeda.

Hinata percaya, dengan melihat kakak laki-lakinya bisa membuat perasaan hatinya menjadi lebih baik, ia bersenandung kecil sambil tersenyum melihat sepatu yang ia kenakan.

Sepatu manis pemberian Shikamaru Naara.

"Permisi, apakah saya bisa bertemu dengan dokter Shikamaru?" tanya Hinata pada bagian reception rumah sakit.

"Apakah nona sudah buat janji dengan dokter Shikamaru?"

Hinata menggeleng lembut "Belum."

"Maaf nona, jika ingin bertemu dengan dokter Shikamaru anda harus membuat janji terlebih dahulu." ucap reception itu menjelaskan.

"Sa-saya... adiknya." ucap Hinata akhirnya.

Reception itu terlihat terkejut dengan ucapan Hinata, ia menunduk dan meminta maaf "Ma-maafkan saya nona, saya... saya sambungkan terlebih dahulu keruangan beliau." ucap nya kikuk.

"Baiklah." ucap Hinata.

Hinata lagi-lagi tersenyum, ia benar-benar banyak tersenyum di awal hari ini.

.

.

.

"Hinata...!"

Dan sang pemilik nama bereaksi otomatis mencari sumber suara yang memanggil namanya.

"Shi-shikamaru-kun." respon Hinata.

Nafas Shikamaru sedikit berat, ini wajar... ia berlari dari ruangannya, Shikamaru benar-benar terkejut dengan panggilan dari bagian reception bahwa adiknya sedang menunggunya.

"Ada apa?"

Hinata menjawab dengan menyerahkan paper bag pada Shikamaru "Ini, ibu memintaku untuk mengantarkannya padamu."

"Hn, terima kasih." balas Shikamaru sambil menerima paper bag nya matanya berubah fokus pada sepatu yang dikenakan Hinata "Apakah sepatunya pas?"

Hinata mengangguk sebagai jawaban.

"Kau akan ke kantor? Aku ambil kunci mobil dahulu, kau tunggu disini." titah Shikamaru.

"Ti-tidak usah Shikamaru-kun, aku akan naik bis dari halte depan rumah sakit." tolak Hinata.

"Jangan menolak, tunggu disini sebentar... aku akan mengantarmu ke kantor." ucap Shikamaru sambil berlalu kembali ke ruangannya.

"Ba-baiklah..." ucap Hinata pasrah.

Bahkan, jika aku terlahir kembali suatu saat nanti...

Aku hanya akan berharap satu hal.

Bertemu lebih awal dengan mu, menjadikan diriku satu-satunya di hatimu.

Hanya ada keheningan namun terasa nyaman bagi mereka berdua, untuk Hinata dan Shikamaru. Mobil yang dikendarai Shikamaru melaju perlahan di pagi hari di pusat kota Tokyo.

Tanpa sadar Hinata terus memandang lekat wajah Shikamaru Naara, ada guratan di sekitar matanya, 'Pasti lelah sekali' ucap Hinata dalam hati, menjadi ahli neurologi dalam usia muda terlebih sudah menjadi professor dalam usia yang bisa dikategorikan terlalu muda, wajar... Shikamaru beberapa tahun ini banyak sekali menghabiskan waktunya di rumah sakit.

"Bisa kau alihkan arah pandangmu Hinata? aku butuh konsentrasi saat menyetir."

Deggg

Ucapan Shikamaru menyadarkan Hinata, ia mengepalkan erat jari-jarinya saat sedang gugup.

"Kenapa kau terus memperhatikanku?" lagi, Shikamau bertanya pada Hinata.

"A-aku, karena aku tidak tahu harus melihat kemana."

"Hinata..." ucap Shikamaru. Ia menggantung kalimatnya, sambil menjentikkan jari-jarinya pada stir mobil.

"Ya" jawab Hinata.

"Apa kau bisa makan malam denganku malam ini?"

"Ma-makan malam?" Hinata balik bertanya padanya. Dan Shikamaru hanya mengangguk sebagai jawabannya.

"Ba-baiklah... " jawab Hinata.

"Aku akan menjemputmu jam 7 malam nanti."

Yang aku tahu, kau tidak bisa tentukan kemana larinya hati

Tadinya aku berfikir, Mungkin getaran hatiku akan berkurang sering berjalannya waktu, namun ternyata akhirnya aku sadari..

Semua itu hanya alasanku agar aku bisa terus berada disisi mu...

Hinata.

Mobil Shikamaru berhenti mulus didepan lobby gedung Suna Corp. Shikamaru bergegas turun dan membukakan pintu untuk Hinata.

Hinata tersenyum sangat lembut "Te-terima kasih Shikamaru-kun."

Dan Shikamaru hanya menarik ujung bibirnya membentuk senyum kecil, ia meletakkan tangannya di kepala Hinata dan menyentuh rambut Hinata serta mengelusnya perlahan "Jangan lupa diminum suplemen yang aku berikan, masukklah... aku akan menjemputmu jam 7 malam nanti."

"Ne, ba-baiklah, semoga harimu menyenangkan Shikamaru-kun." ucap Hinata sambil menundukkan kepalanya.

Cuppp

Hinata mematung, rasanya ada ribuan kupu-kupu yang keluar dari dalam perutnya.

Shikamaru mendekat padanya dan mencium keningnya perlahan.

Ini...

Bukan mimpikan?

"Masuklah Hinata... diluar udara semakin dingin."

Hinata, hanya bisa mengangguk sebagai respon. Tubuhnya terasa kaku dan tanpa menoleh kebelakangan lagi, Hinata terus masuk kedalam gedung Suna Corp. Ia malu, jelas saja. Seluruh darahnya rasanya berpusat di kedua pipinya, pipi pulam Hinata memerah merona.

Dan Shikamaru hanya mendengus geli, ia perlahan meninggalkan gedung ini dan kembali ke rumah sakit.

Meninggalkan gedung ini dan meninggalkan rasa sakit pada seorang pria yang tanpa disengaja sedari tadi berdiri mematung mengamati interaksi mereka berdua.

Seorang pria yang tidak pernah bisa mengekpresikan perasaaan hatinya dengan benar, seorang pria yang saat ini sedang merasakan sakit di dadanya, ia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.

Sebenarnya siapa Hinata itu?

Kenapa melihatnya berinteraksi dengan pria lain harus membuat Sabaku Gaara merasa panas di seluruh tubuhnya?

"Maafkan saya Presdir, tidak ada yang istimewa dari Hinata Nara, ia sudah bekerja lebih dari 4 tahun di Suna Corporation dan baru-baru ini dia dipromosikan menjabat sebagai ketua sekretaris disana, Hinata Nara sama sekali tidak ada hubungannya dengan anda presdir."

Laporan dari Iruka menjelaskan tidak ada yang istimewa dari sekretaris itu, tapi kenapa... Gaara tetap merasa ada sesuatu pada gadis itu. Perasaan yang terkadang menyakitkan, tetapi membuatnya nyaman di saat yang bersamaan.

"Apa ada masalah presdir?" ucapan Iruka membuat kesadaran Gaara kembali.

Ia menarik dalam nafasnya "Tidak ada." sambil melanjutkan langkahnya memasuki gedung Suna Corp.

Iruka memejamkan matanya sesaat, melihat sinar menyakitkan dari mata Sabaku Gaara saat memandang Hinata tadi, membuat Iruka semakin merasa bersalah karena sudah memberikan informasi yang tidak benar padanya.

Tapi, memang hanya ini yang bisa ia lakukan agar semuanya berjalan baik-baik saja.

Tinggg

Suara dentingan pintu lift yang terbuka membawa Gaara pada lantai teratas di gedung ini, memasuki ruangan presiden direktur otomatis melewati ruangan sekretaris di gedung ini.

"Presdir Yahiko sudah menunggu anda diruangannya, mari saya antar kedalam." ucap Sakura menyambut Sabaku Gaara.

Tidak ada yang tahu, mungkin hanya Iruka yang bisa merasakan perubahan mood dari atasan yang sudah bersamanya lebih dari belasan tahun ini.

Mood Gaara tiba-tiba berubah menjadi buruk, melihat Hinata dan lelaki tadi membuat sebagian pikirannya tidak pada tempatnya, bahkan saat Yahiko menjelaskan sesuatu Gaara sama sekali tidak memperhatikannya.

"Bagaimana menurut anda Gaara-sama?" pertanyaan Yahiko yang tiba-tiba membuat lamunan Gaara menjadi buyar.

"Yahiko... ada satu permintaan dariku." dan bukannya menjawab, Gaara balik melontarkan kalimat padanya.

"Ne, baiklah... apapun itu, saya akan berusaha untuk memberikannya Gaara-sama."

"Aku menginginkan ketua sekretaris mu menjadi sekretaris untuk perusahaanku, apakah bisa?" tanya Gaara langsung pada pointnya.

"Ma-maksud anda?"

Dan bukan hanya Yahiko saja yang terkejut, Iruko Umino yang sedari tadi terus memperhatikan perubahan sikap dari presdir nya ini benar-benar terkejut dengan permintaan absurd dari atasannya ini.

"Ya, Hinata Naara... gadis itu, aku memintanya menjadi sekteraris ku."

Dan,

Siapa yang tahu... Takdir yang tercipta selalu melingkupi mereka, walaupun sekuat apapun untuk mengubahnya, seperti air yang mengalir... walaupun terhalang batu dan tanah, ia selalu jatuh mengalir ke dataran yang lebih rendah.

Seperti itulah takdir.

-tbc-

Gomenne,

Gommenasai Minna-san...

Ini benar-benar telat, dan jujur chap Iv ini memang tidak sepenuhnya selesai sesuai ekpektasi saya. Tapi, karena fict ini sudah terlalu lama makanya terpaksa saya up.

Semoga tidak mengecewakan yah... dan semoga masih ada yang mau membaca fict ini, gomenne... baru di chap depan saya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari reader perihal Gaara dan masa lalunya akan dijelskan di chap V, setelah ini saya tidak akan mau menjanjikan apa-apa lagi, menjanjikan update Fict lain atau sebagainya, karena situasi sekarang ini lebih menyebalkan dari pada saat masa-masa menyusun skripsi.

Tapi, fict ini pasti akan saya selesaikan dan tidak akan sepanjang Fillers Heart kok, untuk yang defluentibus follis saya discontinued terlebih dahulu.

Jika ada yang ingin memberi kritik maupun saran saya terima dengan senang hati.

Sekali lagi, terima kasih buat yang sudah review, membaca review dari kalian benar-benar menyenangkan.

Sekali lagi, hontou ni gommenasai...

Oyasuminasai.

Intan.