Orange
Disclaimer : Karakter milik Eiichiro Oda
Nami mengendarai motor besarnya, dia menahan rasa sesak di dadanya dan melaju kemana arah angin membawanya. 3 jam kemudian dia memutuskan untuk berhenti diatas pegunungan.
Di depannya adalah tebing yang tepat dibawahnya lautan. Bunuh diri? Tidak, Nami tidak sebodoh itu merelakan nyawanya hanya untuk pria yang dicintainya mungkin dia akan merelakan nyawanya melayang jika Sanji yang meminta nya.
Sesulit apapun kehidupannya, sebesar apapun masalah yang dihadapinya, Nami tidak pernah terpikir untuk melakukan bunuh diri. Dia hanya ingin menenangkan pikiran dan juga tubuhnya.
Dia memarkirkan motornya kemudian duduk bersandar melihat kedepan, mendengar suara ombak yang menghantam bebatuan dibawah sana dan langit yang perlahan menunjukan warna khas senja.
Matahari perlahan turun seolah tenggelam dalam lautan.Tak ada pemandangan seindah ini selain Italia, pikirnya.
Lima menit kemudian suara dari handphone yang menandakan ada panggilan masuk terdengar. Nami membuka seleting kantung di jaket kulitnya, mengeluarkan benda persegi panjang itu dan menerima panggilan setelah tahu siapa yang menelfonnya.
Seseorang dengan nama yang menggunakan huruf negara lain, 'カリーナ'
'Moshi-Moshi.. Nami?'
"Hmm.. ada apa Carina?" Nami menggunakan bahasa yang sudah lama tidak ia gunakan. Bahasa yang dia kuasai selain Inggris dan Italia, adalah Jepang.
'Aku sudah bicara kepada bos-ku, dan dia sangat senang jika kau memutuskan untuk menandatangani kontrak dengan perusahaan kami.'
Nami terdiam sejenak, kemudian Carina melanjutkan
'Bagaimana? Kau yakin meninggalkan Italia dan kembali ke Jepang?'
Selama setengah menit Carina hanya mendengar suara ombak seketika ia tahu bahwa Nami sedang berada di dekat pantai.
"Baiklah, beri aku waktu seminggu untuk mengurus urusanku disini setelah itu aku akan langsung ke Jepang dan menandatangani kontrak."
'Baiklah. Apapun masalahmu ceritakan ketika sudah sampai disini, aku tidak mau mendengarnya dari telfon lagi.'
Kemudian panggilan itu berakhir. Nami menghela napas panjang, helaan napas lelah? Bukan, itu adalah helaan napas lega. Nami menundukan kepalanya, mengurai rambut panjangnya sehingga menutupi keseluruhan wajahnya.
'tes'
'tes tes'
Kemudian tetesan itu deras mengalir dari pipinya. Dia menangis, lagi...
Sampai berapa kali-pun dia mengusap dengam kedua tangan air matanya tetap tidak berhenti keluar.
"INI TERAKHIR KALI AKU MENANGISIMU, BRENGSEK!!!" Dia tiba-tiba berteriak sambil mendongak ke langit kemudian terduduk di atas rerumputan, menangis tersedu-sedu.
Matahari sepenuhnya tenggelam dalam lautan, langit menjadi gelap dan bulan muncul sempurna, menerangi bumi dengan sinar malu-malunya.
Sudah tiga hari berlalu sejak berakhirnya hubungan Nami dengan Sanji. Nami baik-baik saja, dia sudah kehabisan air mata. Dia sudah muak menjadi lemah hanya bisa menangis, terkadang dadanya terasa sesak tapi bisa diatasi.
Dia sudah memberitahu kedua sahabatnya, Robin dan Vivi tentang berakhirnya hubungannya dengan Sanji. Tidak seperti ekspetasi Nami, Robin dan Vivi merasa bangga bukan marah. Padahal sebelumnya mereka marah kepada Nami karena menyerah sebelum berjuang, lima tahun memanglah bukan waktu yang singkat.
Apartemen ini saja masih dipenuhi kenangan oleh Sanji sehingga akhirnya dia memutuskan untuk menaruh barang barang Sanji ke box dan mengirimnya ke apartemen mantan kekasihnya itu.
Sudah tiga box penuh dengan barang Sanji dan Nami memasukan kemeja putih polos pemberiannya kepada Sanji saat dia ulang tahun.
Mereka memang tidak tinggal bersama karena Nami tidak ingin merepotkan Sanji yang sudah sibuk dengan pekerjaannya sebagai kepala chef hotel bintang lima tetapi mereka menghabiskan banyak waktu di apartemen milik Nami.
'ding dong'
Nami POV
'ding dong'
Itu pasti Robin atau Vivi, aku menutup box terakhir itu dan membuka pintu.
"Hei." Sapa Robin singkat kemudian langsung memasuki apartemen, Frank menyusul dibelakangnya membawa kotak kue serta bungkusan lainnya yang kutebak adalah makanan.
"Hei juga, kau tidak bilang Frank akan ikut." Aku menutup pintu dan membuntuti Robin. Frank langsung menuju dapur kecilku, meletakan barang-barang bawaannya diatas konter.
"Kau pikir siapa yang akan mengantarkan box-box itu ke apartemen Sanji? Aku dan Vivi tidak sudi, tentu saja nanti aku menyuruh Frank dan Kohza." Robin mendudukan dirinya dengan nyaman di sofa ruang tengah, seraya menendang-nendang kecil box di lantai.
"Hehe, kukira kau ingin berteman dengan Violet. Keluarganya cukup berpengaruh, eh Kohza sudah kembali dari Turki?"
Aku menyingkirkan ketiga box itu ke pinggir agar tidak menghalangi jalan. Tak lama Frank menyusul ke ruang tengah dan duduk disamping Robin.
"Vivi memintanya untuk kembali, kau tahu dia tidak bisa ditinggal lebih dari sebulan. Kohza juga sangat menuruti Vivi, dia akan mulai bekerja di perusahaan cabang Italia mulai esok." Jelas Robin, aku mengangguk-angguk mengerti. Kemudian duduk di karpet bulu ruang tengah, meletakan daguku diatas meja kopi pendek dan menghela nafas.
"Aku masih belum menyiapkan apa-apa untuk ke Jepang."
Aku memutuskan untuk pindah ke Jepang, tempat dimana aku tumbuh sampai usia 10 tahun. Jepang tempat yang indah dan aku ditawari pekerjaan yang cukup menggiurkan, sebagai desainer pakaian brand terkenal. Setidaknya aku tidak menjadi desainer tunggal seperti disini.
"Kau yakin? Namamu sudah terkenal disini sebagai desainer, disana kau di kontrak perusahaan, kau akan mendesain bersama desainer lain, hal itu akan menghalangi kreatifitas-mu." Ujar Frank.
Memang benar, disini aku sudah mulai dikenal usaha selama lima tahunku tidak sia-sia namun semakin lama aku disini semakin aku tidak bisa menghilangkan dirinya dari pikiranku.
"Tidak apa-apa, Frank. Di Jepang aku tidak sendirian, aku akan bekerja bersama Carina."
"Benar, pergilah dari Italia. Kau mungkin akan menemukan pangeran berkuda putih disana~" goda Robin. Aku menggeleng-geleng tidak menyutujui.
'ding-dong'
"Ah, itu pasti Vivi." aku bersiap untuk berdiri tapi Frank menghentikanku.
"Biar aku saja." Frank berdiri terlebih dahulu dan membukakan pintu.
"Frank mencoba menghentikanku pergi, pasti karena kau tadi malam menangisiku lagi kan?"
"Yah, aku merasa akan sangat kehilanganmu, Nami. Kau sudah seperti adik kandungku."
Aku tersenyum sendu. Robin memang sudah seperti kakak untukku dan Vivi sudah seperti adik bungsu kami.
"Awh, kakak Robin~" aku menggodanya. Dia terkekeh, "Hentikan, itu menggelikan."
"Namiiiii~" Vivi langsung menyerangku, dia memelukku erat dan tak mau melepaskanku.
"Vivi, longgarkan sedikit aku ke-kesulitan bernapas."
"Tidak mau, kita sudah seminggu tidak bertemu dan Nami dua hari lagi berangkat ke Jepang. Vivi akan sangat merindukan Nami."
"Iya-iya aku juga akan merindukan Vivi."
Kami berbincang ringan untuk beberapa saat kemudian sudah memasuki jam makan siang, kami makan bersama lunch box yang dibawakan oleh Robin dan Frank. Di sela makan siang kami juga masih berbincang dan tertawa karena lawakan receh Frank.
Kekasih dari Robin itu memang pintar melawak dan juga otaknya berfungsi sangat sempurna. Frank memiliki pekerjaan sebagai Arsitektur terkenal dengan sentuhan midasnya. Sementara Robin merupakan Arkeolog terbaik di dunia, dia berhasil menemukan tempat bersejarah yang orang lain tak bisa temukan.
Vivi adalah putri, maksudku benar-benar putri. Dia keturunan dari keluarga kerajaan Inggris meski tidak berada di barisan pewaris atas tetap saja dia seorang Putri kerajaan dan kekasihnya Kohza adalah pewaris perusahaan minyak yang memiliki cabang perusahaan lainnya tersebar hampir di seluruh dunia.
Sementara aku hanya seorang desainer pakaian dan interior, lulusan S1 dan yatim piatu. Sejak bayi sampai usiaku 10 tahun aku tinggal di panti asuhan Jepang, sepasang suami istri dari Amerika mengadopsiku, kemudian kami tinggal dengan tentram di Amerika. Sampai ketika usiaku menginjak 15 tahun, ayah tiriku menjadi alkoholik dan sering kali memukuli ibu tiriku. Di suatu malam dia kembali kerumah dalam keadaan mabuk berat dan memukuli ibuku sampai meninggal. Dia masuk penjara dan aku bertemu dengan Sanji. Dia, serta sahabatku Robin dan Vivi membantuku bangkit. Aku memiliki harapan lagi, harapan untuk tetap hidup.
Meski sekarang kami sudah tidak bersama lagi aku masih memiliki harapan untuk tetap hidup, bersama sahabatku tentu saja.
"Nami, hanya tiga kotak ini saja?" tanya Kohza sambil mengangkat salah satu kotak berukuran cukup besar itu.
"Ya, kurasa sudah semua kumasukan kesana. Kalian akan mengantarkannya sekarang?."
"Benar sekali, agar kalian mendapatkan waktu bertiga." Frank bangkit dari duduknya dan mengangkat dua kotak lainnya. Mereka berdua pergi mengantar barang-barang Sanji.
Aku mengisi kembali gelasku dengan wine merah hampir setengah dari gelas, memutar-mutar sebentar dan langsung meminumnya sampai habis.
"Hei, hei, pelan-pelan saja. Kau bisa mabuk." Robin menarik botol wine dari tanganku dan menuangkannya kegelas miliknya, gelasku dan Vivi hanya sedikit saja.
"Tak apa, lagi pula aku ada kalian untuk menjagaku hehe~" aku meminum habis kembali wine di gelasku.
"Bahaya dia sudah mabuk." Vivi menggenggam tanganku.
"Hehe.. sedikit mabuk, aku senang kalian masih bersamaku setelah Sanji pergi."
"Bodoh, tentu saja kami akan selalu disisimu, Nami." Robin menggenggam tanganku yang satunya. Aku tersenyum lebar, kurasa pipiku akan pegal ketika sadar dari mabukku tapi aku tidak bisa menutupi kebahagiaanku karena ada mereka disini. Mereka masih bersamaku, mendukungku.
"Kurasa aku akan menikah tahun depan dengan Frank." dia menunjukan tangan kirinya dengan cincin emas dan berlian bulat di tengahnya.
"Aaaa.. selamat! Kapan Kohza akan melamarku ya? Bagaimana Frank melamarmu? Dengan romantis?." Vivi dan jiwa romansa-nya bersemangat.
"Kau tahu Frank tidak romantis tapi kuakui kali ini dia lumayan romantis, dia menaruh cincinnya di kotak paku. Bayangkan ketika dia sedang membuat replika jembatan, dia memintaku mengambilkan paku di dalam kotak itu. Awalnya aku terkejut karena ada cincin di dalamnya tapi kau tahu aku tidak terlalu paham dengan maksudnya jadi aku memberikannya paku."
Aku mendengus geli, Robin adalah wanita paling tak peka yang pernah kutemui, Vivi menahan tawanya agar dapat mendengar cerita sampai selesai. Robin melanjutkan.
"Kemudian dia meminta paku lagi, paku demi paku kuberikan sampai replika jembatannya terhias oleh paku kayu. Ketika paku itu habis tersisa cincin ini, kemudian aku berikan padanya dia malah memakaikannya di jari manis tangan kiriku dan berkata 'Menikahlah denganku'."
"Huahaha... aku bisa membayangkan betapa merahnya muka Frank apalagi dengan dirimu yang tidak peka." tawa Vivi pecah, aku tertawa geli seraya memegangi perutku yang terasa sedikit sakit karena kebanyakan tertawa.
"Awalnya aku bingung dan melihat jari manisku yang terpasang cincin, lima menit kemudian aku baru sadar dan berkata 'Baiklah, mari menikah'."
"Hahahaha.. sudah cukup perutku sakit." Kataku sambil tertawa terbahak-bahak, Vivi tak lebih baik dariku. Dia sudah tertawa lebih dulu dariku, aku bisa membayangkan wajah tersipu Frank dan wajah polos Robin saat menerima lamarannya.
"Aku pasti akan datang hahaha ke acara pernikahanmu, aku akan menjadi bridesmaid-mu, hik."
Gawat, aku mulai bersendawa yang berarti diriku sudah sangat mabuk dan sebentar lagi aku akan tertidur.
"Aku bahagia kalian selalu ada untukku..."
'bugh'
Kepalaku terbentur meja, tak terasa sakit tapi pandanganku menggelap.
" demi kalian, aku akan tetap hidup..."
dan kegelapan mengambil alih kesadaranku.
TBC
Terimakasih untuk para pembaca yang membaca fanfic one piece pertamaku, tinggalkan jejak seperti fav atau follow atau komen agar author tahu dimana bagian yang kalian suka dan tidak suka.
Monday, 20 July 2020.Chezzell.