Orange
Disclaimer : Karakter milik Eiichiro Oda
22 Desember.
Nami POV
Akhirnya setelah kurang lebih 15 jam di dalam pesawat akhirnya aku dapat menginjakan kaki di negeri kelahiranku, Jepang.
Tentu tak ada yang menyambutku di bandara, Carina juga tak kuperbolehkan karena aku tahu dia pasti sibuk bekerja apalagi di hari senin seperti ini. Aku langsung mengambil koperku dan mencari taksi.
Setelah mendapat taksi aku tidak langsung menuju hotel yang sudah di booking oleh Carina untukku, aku menuju panti asuhanku dulu.
Tempatnya masih sama, di perbukitan, aku harus berjalan menaiki bukit karena mobil taksi tak bisa memasuki jalan setapak ini. Panti asuhan itu masih terlihat kurang lebih sama namun terawat. Masih banyak anak-anak bermain di tamannya, aku masuk menyapa pengurus panti ini yang mana bukanlah ibu pengurusku dulu. Nojiko, aku sangat mengingat nama itu.
Dia adalah perempuan yang lebih tua dariku dan dia sudah seperti kakakku. Setelah aku di adopsi kami hilang kontak dan aku sangat merindukannya, apa dia masih di Jepang? Bisakah aku menemukannya? Aku harus menemukannya.
Setelah berkeliling sebentar aku memutuskan untuk pulang, ke hotel karena tubuhku sudah terlalu lelah apalagi setelah di dalam pesawat untuk waktu yang lama.
Aku berhenti di lampu merah, menunggu giliran untuk menyebrangi jalan. Di depan sana ada sebuah cafe sebelum pulang sebaiknya aku mengisi tenaga terlebih dahulu.
'Ah, apa sandwich disini enak? Pasti tidak seenak buatan San-, apa yang sedang kupikirkan. Hentikan Nami, berhenti memikirkan lelaki itu. Jangan terus terusan terikat oleh janji lama yang kau buat dengannya, sudah cukup dia menderita bersamamu.'
'Biarkan dia bahagia, lupakan dia, Nami.' Aku terus mengatakan itu dalam hati seraya menyebrangi jalan tanpa melihat lampu lalu lintas.
Tiba-tiba tubuhku di tabrak oleh sesuatu yang keras, aku terpental cukup jauh dan kepalaku mendarat terlebih dahulu.
'Ah, sangat perih.'
Rasa sakit semakin kuat terasa di kepalaku, mataku mulai memburam.
'Sanji, lupakan... Sanji...'
dan akhirnya gelap menguasai diriku.
Nami POV End
Luffy POV
Kenapa tak ada sehari saja rasa tenang kurasakan, selalu saja ada masalah tidak disana tidak disini. Kenapa orang-orang tidak bisa hidup damai, ya kurasa kami bukan orang-orang biasa.
Masyarakat Jepang menyebut kami Yakuza, sementara diluar Jepang mereka menyebut kami Mafia. Yah, tidak salah sih. Kakekku memanglah Yakuza dan Ayahku adalah Mafia di bagian Eropa sana.
Aku antara dipaksa dan keinginan sendiri untuk menjadi penerus keluarga Yakuza ini di Jepang. Sudah lima bulan aku di sini dan masih belum terbiasa dengan suasananya.
Mungkin karena aku kurang bersosialisasi dengan banyak orang, tidak bukan dengan banyak orang tapi dengan orang normal. Selama sepuluh tahun aku hanya bersosialisasi dengan mantan tentara, pembunuh bayaran, mantan agen CIA dan sejenisnya di kapal.
"Kenapa mereka tidak bisa tenang untuk sehari saja? Aku lelah.." kataku mengeluh.
"Hei, hei, kau tidak boleh mengeluh begitu di depan bawahanmu, Tuan Muda Luffy." Balas Ace, kakak sepupuku dan orang yang paling kuhormati. Portgas D Ace adalah orang yang paling bijaksana dan bertanggung jawab yang pernah kutemui. Dia yang mengemudikan mobil dan aku duduk di kursi sebelahya.
"Aku akan kembali ke Italia besok, bagaimana? Kau sudah mulai terbiasa bukan di Jepang?."
"Terbiasa apanya, Aniki. Hampir setiap minggu ada saja Yakuza dari klan lain yang mengganggu, hidupku lebih tenang saat menjadi penjual senjata,"
aku menghela napas sebelum melanjutkan "Ah, aku merindukan kapalku, Tousand Sunny~ bagaimana kabarnya?."
"Kapalmu dipakai oleh Sabo, dia sedang menjalankan misi yang Ayahmu berikan."
Sabo adalah kakak sepupuku satunya, dia adalah yang tertua kedua diantara kami tiga sepupu. Aku, Ace dan Sabo adalah saudara. Saat aku masih berumur 7 tahun sementara mereka berumur 10 tahun, Ace mencuri botol sake di lemari kakek dan kami saling bertukar sake. Dalam tradisi Jepang bertukar sake berarti terikat atau menandakan bahwa persaudaraan sudah terbentuk meski tidak ada hubungan darah.
"Tak masalah." jawabku singkat, lalu kami kembali dalam suasana hening. Aku melihat percikan darah di sepatuku, bahaya kalau sampai orang biasa lihat, kuusap dengan tisu. Perutku mulai bergejolak menandakan diriku sudah merasa lapar, saat lapar adalah waktu dimana diriku menjadi lebih menyebalkan dari biasanya.
"Ace, cepatlah aku sudah lapaar!" Rengekku, dia mengemudi seperti siput, lama sekali.
"Sabar sebentar Luffy."
Aku mendengus sebal dan melipat tanganku di depan dada. Handphone-nya bergetar, kurasa tunangannya menelfon. Dia mengalihkan pandangan sebentar dari jalanan dan melihat layar handphone nya.
'Ckiiit' 'Braak'
Dia mengerem mobil dengan kejut. Untung saja aku punya reflek yang bagus jadi tanganku bisa menahan guncangan dan kepalaku tidak terbebtuk dasbor.
"Shit, kurasa aku menabrak seseorang." Katanya. Mataku membulat terkejut, tanpa ba-bi-bu lagi aku keluar dari mobil dan melihat seorang perempuan dan rambut berwarna oranye. Darah sudah mengalir di sekitar kepalanya.
"Cepat ambil barang bawaannya, kita bawa ke rumah sakit D!." Aku mengangkat perempuan itu, dia terasa cukup ringan. Ace membukakan pintu belakang, aku menidurkannya dengan pelan di kursi belakang. Kemudian kami langsung menuju rumah sakit D, rumah sakit keluarga kami untung saja cukup dekat.
Setelah sampai perempuan itu langsung dirawat oleh para dokter dan perawat, aku dan Ace menunggu di lobi. Dokter pribadi keluarga kami, Trafgal Law, keluar dari bilik dan menemui kami.
"Tidak ada pendarahan dalam di kepalanya, namun dia harus menerima jahitan sedikit di kepala belakang dan sisanya goresan sedikit di lengan dan kaki."
Ace menghela napas lega, dia akan sangat merasa bersalah jika terjadi hal yang buruk kepada perempuan itu. Walau kami tidak ragu membunuh tetapi kami tidak membunuh perempuan dan anak kecil.
"Baiklah, lakukan saja yang terbaik untuknya dan pindahkan dia ke kamar VVIP, Torao." Kataku kepadanya. Dia mengangguk mengerti dan kembali mengurusi perempuan itu.
"Ayo bawa barang-barang perempuan itu ke kamarnya." Ace mengangguk, dia membawa koper dan tas tangan milik perempuan oranye itu. Tasnya adalah barang branded dan cukup mahal, bisa kusimpulkan dia berasal dari kalangan menengah keatas dan dilihat dari ukuran kopernya yang cukup besar dia baru saja tiba di Jepang atau akan melakukan perjalan keluar Jepang.
Kami duduk di sofa kamar pasien yang lebih seperti kamar hotel itu, kasur king size dan peralatan lengkap lainnya.
"Kau hubungi Hancock dan yang lainnya. Aku akan menunggui perempuan ini serta bawakan aku makanan."
Ace keluar kamar, dia tak pernah menabrak sesuatu apalagi seseorang. Ini adalah kali pertamanya wajar saja jika Ace sedikit kebingungan, yah kami tidak pernah membunuh seseorang dengan tidak sengaja.
Aku melihat keluar jendela kaca besar ini, terlihat pemandangan bangunan-bangunan yang lebih pendek dan salju yang turun dengan cukup lebat. Ini adalah salju pertamaku di Jepang.
Kurasa aku penasaran dengan wajah perempuan dengan rambut seperti jeruk itu, aku mendekatinya yang sedang menutup mata tidak sadar diatas kasur. Menyingkap beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya akhirnya aku dapat melihat wajahnya dengan jelas. Satu kata yang langsung terpikir olehku saat melihat wajahnya.
'Cantik'
Dia benar-benar cantik, kurasa wanita tercantik yang pernah kutemui walau beberapa kali tunangan dari Ace mengenalkanku dengan teman sesama modelnya tapi tetap wanita ini yang tercantik. Meski pucat tetap saja terlihat cantik, untung saja wajahnya tidak tergores aspal.
Aku menginginkannya, aku harus memiliki wanita ini apapun akan kulakukan asal mendapatkannya.
Perutku berbunyi, ya kita awali dengan mengisi perutku ini dulu. Aku kembali mendudukan diriku di sofa, melirik tas milik wanita oranye itu. Kubuka tasnya dan mengambil dompetnya, aku langsung menemukan kartu identitas dan paspornya.
"Nami, 23 tahun, warga kenegaraan ganda yaitu Amerika-Jepang, ah dia baru saja mendarat di Jepang dari Italia dan..."
Aku mendapati kartu namanya, " seorang desainer."
Hmm, menarik. Aku menemukan surat izin mengemudinya juga, dia bisa mengendarai mobil dan motor. Kurasa infomasi dasar itu sudah cukup untuk mencari tahu latar belakang lengkapnya dan untuk menghubungi keluarganya. Kutaruh barang-barangnya ke tempat semula dan menghubungi seseorang dari handphone-ku.
"Jinbei.."
"Ya, aku ingin kau mencari tahu sesuatu, latar belakangnya, anggota keluarga serta teman-temannya."
"Namanya Nami, usia 23 tahun, tinggal di Italia dan memiliki rambut oranye oh, dan dia seorang desainer."
'Akan selesai malam ini, bos.'
Aku langsung mengakhiri panggilan, bertepatan dengan itu Ace masuk dengan membawa plastik berisi makanan. Langsung kuserbu sesaat plastik itu mendarat di meja.
Aku sudah menghabiskan satu kotak sushi dan masih ada dua lagi, Ace sangat tahu bahwa satu atau dua kotak bagiku tidaklah mengenyangkan. Saat aku sudah menghabisi setengah dari kotak kedua sushiku terdengar suara samar.
"Ugh..."
Perempuan oranye itu sudah sadar. Aku berdiri, berbalik melihat tepat kearahnya yang perlahan membuka mata tanpa melepaskan kotak sushi dari tanganku.
Ace langsung mendekati kasurnya.
"Hei, Orange kau sudah bangun?." Dia masih belum bisa membuka matanya sepenuhnya, kepalanya mungkin merasa sakit karena dia meletakan tangannya di pelipis.
"Luffy jangan tidak sopan seperti itu. Nona, apa anda merasa kesakitan? Luffy panggil dokter!."
"Eeeh? Tapi aku kelaparan."
Ace dengan cepat keluar dari kamar dan memanggil Torao. Aku mendekati kasur, kemudian dia membuka mata sepenuhnya. Mencoba untuk bangun. Aku langsung menaruh kotak sushiku di meja kecil sebelahnya dan membantu perempuan bernama Nami itu duduk menyandar.
"Di bagian mana kau merasa sakit?" tanyaku padanya, dia melihatku kebingungan. Ya tentu saja siapa yang tidak kebingungan setelah ditabrak sampai tidak sadarkan diri kemudian terbangun di kamar rumah sakit seperti hotel ini. Dia pasti mengira telah diculik.
"Kau siapa?." Pertanyaan klasik, tapi aku bingung menjawab apa. Jika kujawab 'kami menumburmu di jalan dengan mobil' pasti dia tidak akan memberikanku kesempatan untuk mendekatinya. Belum sempat aku menjawab dia sudah bertanya lagi
"Aku siapa?"
Hah? Apa katanya?
HAH?!
Dia hilang ingatan! Apa yang harus kukatakan saat seperti ini? Sebuah ide yang sangat gila terlintas di pikiranku. Ide yang akan membuatku dihajar oleh Ace tapi aku sangat ingin melakukannya.
"Kau Nami, dan aku Monkey D Luffy, tunanganmu."
Ah, habislah aku. Ace pasti akan menghajarku. Maafkan aku Ace tapi aku benar-benar ingin memilikinya.
Kulihat reaksinya, dia tidak bereaksi untuk beberapa detik. Setelah lebih dari semenit untuk memproses perkataanku dia akhirnya paham.
Wajahnya memerah, aku tidak tahu kenapa tapi aku menyukainya. Wajah tersipu malu seperti itu membuatku semakin gemas dan jatuh cinta padanya.
'Brak'
Pintu terbuka dengan kuat, Ace dan Torao langsung berlari masuk. Torao memeriksa Nami dan aku menyeret Ace keluar untuk membicarakan hal yang telah kulakukan. Aku yakin 100 persen dia tidak akan menyukainya.
Luffy POV END
25 Desember
Sanji POV
Aku tahu ini mungkin terdengar sangat gila tapi aku mengkhawatirkan Nami. Aku belum
mendengar kabarnya lebih dari seminggu, pesanku tak pernah di balas, panggilanku tak pernah diangkat dan sahabatnya, Robin dan Vivi memblokir kontak-ku.
Saat Frank dan Kohza membawa kotak-kotak berisi barang-barangku yang berada di apartemen Nami aku sudah khawatir. Aku bertanya kepada mereka kenapa Nami tidak ikut jawaban mereka membuatku tak bisa bertanya lagi.
"Kenapa? Sekarang kau peduli dengannya setelah menyelingkuhinya selama 3 bulan?"
"Kau mau melihatnya menangis? Aku tidak tahu kau ini seorang sadistic atau pria brengsek biasa."
Frank dan Kohza benar-benar membuatku tak bisa berkata apa-apa. Mereka sudah memperingatiku saat Violet mendekatiku, tidak, semua wanita yang mendekatiku mereka selalu berkata untuk menjaga hatiku untuk Nami seorang.
Entahlah, aku merasa diriku sangat terikat dengan Nami, terikat oleh janji yang kubuat dan itu membuatku sesak dan ingin menjauh dari Nami. Saat aku bersama Violet rasanya aku bisa bernapas lega tapi kenapa sekarang aku merasa sedikit sesak.
Apa Nami benar-benar tidak apa-apa tanpa diriku? Apa dia bisa hidup tanpaku? Memikirkannya membuatku merasa kesepian. Aku terus memikirkannya sampai akhirnya aku melihat wanita dengan rambut hitam panjang terlelap dengan nyaman tanpa sehelai benang-pun.
Benar, aku sudah memutuskan untuk bersama wanita ini. Wanita yang bisa membuatku bernapas.
Kutarik selimut yang turun dari pundaknya untuk menutupi tubuhnya, kemudian memposisikan diriku untuk mencoba tidur kembali.
'Kuharap kau bisa melupakanku, Nami'
Sanji POV END
TBC
Susah untuk bayangin sifatnya Luffy karena dia orangnya sulit di tebak. Sebisa mungkin karakternya tidak out of character. Terimakasih sudah mengikuti fanfic ini, sampai bertemu di chapter selanjutnya.Tuesday, 28 July 2020.Chezzell.
