Orange
Disclaimer : Karakter milik Eiichiro Oda
Luffy POV
Sudah seminggu Nami di rawat, selama itulah aku selalu menemaninya. Aku datang saat matanya terbuka dan pergi saat matanya terpejam. Aku harus mengganti jadwal pekerjaanku.
Ace dan tunangannya, Hancock, sudah kembali ke Italia dua hari lalu. Mereka menunda keberangkatan untuk memastikan Nami tidak apa-apa. Keluargaku cukup baik menerima keputusanku, satu tonjokan dari Ace, jitakan dari tunangannya, tendangan dari kakekku, ocehan dari Ayahku dan Ayah Ace serta cemoohan Sabo.
Mereka menyukai Nami, Ace dan Hancock menganggap Nami sebagai adik kandung. Nami sangat manis kata mereka dan ya aku sangat mengakui itu, Kakekku datang berkunjung sekali dan dia juga menyukai Nami karena dia sangat ramah. Ayahku belum bertemu tapi mereka akan segera bertemu, dengan keluarga besarku malah.
Hari ini adalah hari terakhirnya di rumah sakit, Torao bilang keadaan Nami sudah stabil dan tidak ada komplikasi tetapi ingatannya mungkin akan kembali jika melihat sesuatu yang dapat membuatnya teringat akan masa lalu dan hal itu dapat menyebabkan rasa sakit. Maka dari itu dia bilang padaku untuk selalu memantaunya.
Kubuka tirai dari jendela kaca besar kamar ini, sinar matahari yang belum terbit sepenuhnya memasuki ruangan membuatnya lebih hangat dan terang.
"Luffy..." panggilnya dengan suara sedikit serak, ah menyukai keseluruhan dari dirinya. Aku mendekatinya, duduk bersandar disampingnya. Perlahan dia mendekat, meletakan kepalanya di dadaku. Dengan senang hati aku menyambutnya, melingkarkan lenganku di pundaknya, dan tangan satunya menarik pinggangnya lebih mendekat menghapus jarak.
"Kau merasakan sesuatu yang tidak nyaman?" Aku memastikan bahwa dia baik-baik saja pagi ini sama seperti pagi-pagi sebelumnya.
"Hmm.. aku merasa sangat nyaman." jawabnya seraya menenggelamkan wajahnya lebih dalam di dadaku. Aku menyukai sensasi saat napas lembutnya mengenai kulitku, terasa hangat dan nyaman. Membuatku tersadar bahwa aku masih hidup.
"Hari ini kau sudah boleh pulang."
Dengan antusias dia langsung duduk tegak menghadapku dengan mata yang berkilau-kilau senang.
"Benarkah? Sudah boleh pulang? Aaaa, aku senang sekali akhirnya keluar dari ruangan ini." Dia tersenyum lebar, sejak dua hari lalu dia sangat ingin keluar dari ruangan ini tentu saja kularang.
"Tapi, apa aku punya tempat tinggal? Kau bilang aku baru kembali dari Italia.." Wajahnya menjadi kecewa menyadari bahwa dia tidak ada tempat tinggal.
Aku menceritakan tentang dirinya, tentu saja tidak semua karena aku baru tahu sedikit tentangnya saat itu. Tentu aku mengarang kalau kami bertemu di Italia dan menjalin hubungan jarak jauh setahun yang lalu, kemudian dia kemari untuk menemuiku tetapi sisanya aku ceritakan yang sebenarnya.
Tentang dirinya ke Jepang untuk bekerja juga, dan temannya Carina. Ugh, wanita satu itu benar-benar mengancamku. Jinbei memberi tahu detail tentang Nami tak lama setelah aku memberi tahu kebohongan kecil kepadanya, atau kurasa itu kebohongan besar.
Carina adalah satu-satunya yang dia kenal di Jepang, aku menghubunginya dan memberitahu keadaan Nami serta diriku yang merencanakan sesuatu. Dia terlihat sangat marah dan akan memukulku tetapi dia urungkan.
"Aku tahu kau adalah tuan muda dari Yakuza klan Monkey, Nami dia—memiliki masalah di Italia. Aku tidak ingin dia kembali hancur kurasa tak apa jika dia melupakannya, hanya satu yang kupinta darimu. Tolong jangan sakiti Nami, apapun yang terjadi kau akan selalu di sisinya."
Tanpa dia mengancamku aku juga akan melakukan hal itu. Aku juga tentu saja sudah mengetahui alasan sebenarnya dari Nami pergi dari Italia dan menuju Jepang, bukan hanya karena pekerjaan tapi dia menghindari seseorang. Seorang lelaki sialan yang merupakan mantan kekasihnya—berselingkuh. Mengingatnya membuatku kesal, pria bodoh itu bukannya merasa bersyukur mendapatkan bidadari dihadapanku ini.
Aku mengusap puncak kepalanya lembut.
"Kau akan tinggal bersamaku tentu saja, Nami. Kau suka rumah tradisional Jepang? Atau kau lebih suka tinggal di apartemen?."
Lekukan dibibirnya kembali terukir, dia langsung memelukku erat.
"Aku suka rumah tradisional Jepang! Terimakasih, Luffy."
Nami... aku senang dia sudah tidak malu-malu lagi, diawal dia takut, malu dan ragu tapi kali ini dia yang memelukku terlebih dahulu. Kehangatan ini sudah lama tidak pernah kurasakan.
Aku membalas pelukannya, mengusap-usap kepalanya dan sesekali mencium keningnya. Demi wanita ini akan kusingkirkan apapun yang menghalangi, akan kuhancurkan siapapun yang membuatnya menangis dan akan kudapatkan apapun yang membuatnya senang.
Luffy POV END
Nami POV
Semenjak aku tersadar di kamar rumah sakit ini hal pertama yang kulihat saat bangun adalah Luffy dan hal terakhir yang kulihat sebelum menutup mataku adalah dia.
Luffy selalu menemaniku dari dini hari hingga malam, saat aku tertidur dia pergi untuk bekerja. Aku belum menanyakan pekerjaannya karena aku masih malu dan sedikit merasa aneh. Bagaimana tidak aneh, terbangun berbaring dengan infus dan tidak mengingat apapun.
Bahkan aku tidak mengingat namaku sendiri, untung saja tidak ada masalah dengan kepintaran dan kemampuan bahasaku. Aku bisa berkomunikasi dengan tiga bahasa meski terkadang hal itu terjadi begitu saja, ketika seseorang berkata dengan bahasa inggris maka aku juga akan menjawab dengan bahasa yang sama dengan spontan.
Memori pertama yang kuingat adalah Luffy memberitahuku tentang namaku, namanya dan status kami. Entahlah, awalnya aku tidak terlalu percaya bahwa kami bertunangan karena tidak ada cincin di jari kami tapi Luffy bilang itu karena kami menjalin hubungan jarak jauh maka dari itu saat aku menemuinya disini, di Jepang kami akan menyelenggarakan pesta pertunangan dan bertukar cincin.
Masih terasa aneh bagiku meski dia sudah menjelaskan alasannya. Luffy terlihat begitu sabar menanggapiku, dia tidak pernah marah meski terkadang aku menatapnya tidak percaya. Dia selalu disisiku dan sebagian dari diriku memaksa untuk mempercayainya sepenuhnya meskipun dia berbohong. Hal itu disebut orang-orang sebagai insting. Ya, instingku mengatakan bahwa Luffy tidak berniat untuk menyakitiku dia ingin melindungiku.
"Luffy..." Panggilku kepadanya, dia berbalik dan memandangku dengan senyum diwajahnya. Aku mendudukan diriku. Dia berjalan kearahku dan duduk di pinggir kasur, hal yang selalu dia lakukan ketika aku baru bangun. Dia akan menanyakan bagaimana kondisiku dan semacamnya.
Aku menyandarkan kepalaku di dadanya, dia memelukku dan membawaku lebih mendekat kearahnya, kubiarkan rasa hangat dari tubuh dan tangannya mengalir. Aku menikmatinya dan merasa nyaman, seminggu selalu bersamanya membuatku sudah tidak canggung lagi apalagi berstatus tunangannya, aku menginginkan kasih sayang darinya.
"Kau merasakan sesuatu yang tak nyaman?" Tepat seperti dugaanku, dia selalu perhatian denganku.
"Hmm... aku merasa sangat nyaman." Aku menenggelamkan wajahku di dada bidangnya. Tubuh luffy kurus tapi ototnya sangat keras dan aku suka sentuhan tangan besarnya.
"Hari ini kau sudah boleh pulang." Katanya, aku langsung melepas pelukan dan duduk dengan tegak antusias dan senang akhirnya aku bisa keluar dari ruangan ini.
"Benarkah? Sudah boleh pulang? Aaaa, aku senang sekali akhirnya keluar dari ruangan ini." Aku tersenyum lebar, sejak dua hari aku sangat ingin keluar dari sini. Luffy bahkan tidak mengijinkanku keluar dari ruangan ini. Aku tidak sabar untuk bertemu Carina lagi.
Luffy menemukan kami, dia bilang Carina adalah satu-satunya temanku di Jepang. Kami satu panti asuhan saat masih kecil dan entah bagaimana bisa bertemu kembali di Italia saat fashion show.
Carina juga bilang bahwa aku mempunyai sahabat di Italia, sahabat yang sudah seperti keluarga. Namanya adalah Robin dan Vivi serta tunangan dari Robin yaitu Franky dan kekasih Vivi, Kohza.
Sepertinya aku familiar dengan nama mereka tapi tidak mengingat wajah dan hal-hal apa saja yang sudah kami lakukan bersama. Masa laluku benar-benar kosong dan disinilah aku, tak memiliki ingatan dan juga tempat tinggal.
"Tapi, apa aku punya tempat tinggal? Kau bilang aku baru kembali dari Italia.."
"Kau akan tinggal bersamaku tentu saja, Nami. Kau suka rumah tradisional Jepang? Atau kau lebih suka tinggal di apartemen?."
Senyumku langsung terukir setelah mendengar bahwa aku akan tinggal bersamanya. Aku memeluknya erat.
"Aku suka rumah tradisional Jepang! Terimakasih, Luffy."
Aku bisa merasakan usapan lembut di kepalaku dan kecupan hangat di dahiku. Aku senang saat Luffy melakukan itu, rasanya seperti kekosongan diriku terisi, aku merasa sangat di sayang olehnya. Selain dari Luffy aku juga bisa merasakan bahwa keluarganya juga sangat menyayangiku, Ace dan Hancock memperlakukanku seperti adik kandung mereka dan kakek Luffy juga sangat perhatian kepadaku.
Setelah di periksa kembali oleh Dokter Trafgal Law dan dia berkata bahwa aku sudah baik-baik aja serta dipersilahkan untuk keluar dari rumah sakit aku langsung bersiap, berganti pakaianku.
Saat berganti aku menemukan banyak pakaian yang cukup mahal dan beberapa dress yang tidak memiliki brand hanya dengan inisial N. Apakah ini pakaian yang ku desain? Luffy bilang aku adalah seorang desainer pakaian.
Kuputuskan untuk memakai lapisan dalam sweater cukup tebal, rok hitam sepaha, lalu mantel musim dingin bertangan panjang dan panjangnya sampai pahaku kemudian agar tidak terlalu merasa kedinginan di kakiku, aku memakai stoking hitam yang cukup tebal, kupluk coklat dan sepatu boots sampai bawah lututku.
Di tas tanganku terdapat alat make up, aku mencoba memakai make up. Saat merias wajahku aku merasa khawatir akan hasilnya yang mengerikan tetapi saat sudah selesai kurasa hasilnya bagus. Natural dan tidak terlalu pucat, kurasa kemampuan meriasku cukup bagus meski aku lupa ingatan namun tanganku bisa secara natural melakukannya.
"Nami, kau sudah selesai?" Luffy mengetuk pintu kamar mandi.
"Sudah, tunggu sebentar aku akan segera keluar." Aku merapihkan barang-barangku, memasukannya ke tas-ku dan keluar dengan koper di tanganku.
Luffy melihatku dengan mulut ternganga dan matanya menelitiku dari atas kebawah secara berulang. Matanya seperti menunjukkan bahwa dia terpesona olehku dan itu membuatku malu. Aku menunduk mencoba menutupi rasa maluku.
Dia tersadar kemudian langsung mengambil alih koperku.
"Jangan bawa yang berat-berat." Setelah mengambil koperku dia memberikannya kepada salah satu dari dua lelaki kekar memakai jas hitam dibelakangnya. Aku belum pernah melihat mereka sebelumnya, kurasa mereka bukan teman ataupun keluarga Luffy.
Seperti mengerti kemana arah pemikiranku saat melihat dua orang dibelakangnya, Luffy langsung memberitahuku.
"Mereka adalah pengawalku."
Pengawal? Kenapa Luffy butuh pengawal? Apakah Luffy seorang yang penting untuk negara sampai-sampai dia memiliki pengawal? Atau dia orang yang sangat kaya? Tebakan terakhirku adalah bahwa Luffy memiliki pekerjaan yang berbahaya sampai-sampai dia harus memperkerjakan pengawal.
Tunggu dulu, jika kupikir-pikir dia lebih mendekati ke kemungkinan kedua, yaitu orang yang sangat kaya. Pertama ini adalah rumah sakit swasta milik keluarganya, Dokter Trafgal adalah dokter pribadi keluarganya, aku dirawat di kamar VVIP, Luffy bisa bekerja kapanpun semaunya dan memiliki pengawal. Ya, kurasa kemungkinan kedua lebih tepat.
"Akan kujelaskan nanti di perjalanan." Dia melingkarkan tangan kekarnya di pinggangku, setelah berpamitan singkat dengan Dokter Trafgal kami berjalan menuju tempat parkir.
Kedua pengawal Luffy mengikuti dengan patuh. Aku merasa sedikit tidak nyaman, Luffy menyingkirkan anak rambut di leherku dengan tangan satunya yang bebas. Kemudian mengecup leherku cukup lama dan entah mengapa sedikit terasa seperti tercubit. Jangan-jangan dia memberikanku Kissmark dileherku?!
"Luffy?!" Aku langsung mengusap bekas kecupannya di leher, "Kau–,"
"Aku memberikanmu tanda." Potongnya dan memberikan cengiran khasnya. Aku kagum dengannya yang tak merasa malu dan sangat lancar memberikanku kissmark saat kami dalam posisi berjalan. Ah, aku pasti memerah!
Saat sampai di tempat parkir sudah ada 3 mobil Marcedes Benz yang menunggu beserta pengawal tambahan Luffy. Di urutan paling depan empat orang lelaki , di mobil tengah satu seorang lelaki dan satunya seorang perempuan dan di mobil terakhir dua orang lelaki.
Mereka memakai jas hitam yang sama seperti dua pengawal sebelumnya dan berbaris dengan rapih di samping mobil. Jika begini aku memikirkan bahwa kemungkinan terakhir tentang Luffy mungkin benar.
Aku gugup, tubuhku menegang saat kami semakin mendekat ke mobil. Mereka dengan cekatan membungkuk 90 derajat kemudian membukakan pintu belakang mobil tengah. Seolah sudah biasa Luffy melewati mereka tanpa melirik dan membantuku masuk kedalam mobil.
Aku diam antara gugup dan terkejut dengan keadaan ini. Mungkin karena aku tidak terbiasa, kulirik Luffy dia terlihat tenang dan tentu saja segera mengetahui aku curi pandang kepadanya. Dia tersenyum padaku dan aku memalingkan wajahku kearah jendela mobil, malu karena ketahuan meliriknya.
"Nami..."
Dia memanggil namaku dan menggenggam tangan kananku. Aku menoleh padanya,
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya tanpa melihatku balik, dia menunduk melihat tanganku yang di genggamnya. Dia tiba-tiba memancarkan kesedihan di matanya dan aku tidak suka Luffy yang selalu tersenyum padaku bersedih seperti ini.
"Aku tidak apa-apa, Luffy!" jawabku dengan riang dan tersenyum lebar padanya, mendengar jawabanku dengan nada riang dia langsung melihatku dan tersenyum perih padaku.
"Kenapa, Luffy? Aku tidak apa-apa, jangan bersedih seperti itu, hm?"
"Aku takut kau kecewa padaku saat mengetahui kebenarannya, Nami. Aku yakin kau pasti merasa takut saat melihat banyaknya pengawalku."
"Luffy, aku tidak akan kecewa padamu. Aku mungkin hilang ingatan dan tidak tahu apa-apa mengenaimu sekarang, tapi diriku dulu yang mengenalmu pasti tidak kecewa. Kalau kau tidak mau memberitahu apapun kepadaku, aku tidak akan memaksa."
Keheningan berlangsung cukup lama, akhirnya Luffy menatapku dengan tatapan meyakinkan dan mulai menjelaskan kepadaku.
"Aku adalah penerus keluarga Yakuza." dengan itu dia memberi tahu detail tentang pekerjaan dan keluarganya secara menyeluruh.
Dia adalah putra dari Monkey D Dragon, seorang bos mafia Italia dan cucu dari Monkey D Garp. Sementara kakaknya yang kutemui sebelumnya, Portgas D Ace, juga seorang Mafia. Dia menceritakan bahwa keluarganya secara turun temurun bekerja dalam dunia bawah yang gelap dan kotor.
Aku cukup terkejut namun tak terlalu karena aku bisa menebak dengan banyaknya pengawal dan kekayaan Luffy, aku senang dia mau terbuka denganku.
"Bukankah itu hal yang hebat? Aku tahu bahwa pekerjaanmu bukanlah hal yang mulia namun kau tidak berpura-pura baik dan merampas kekayaan orang lain semacam politisi korup." Kali ini aku yang menggenggam tangannya dengan kedua tanganku.
"Aku lebih suka kau yang jujur seperti ini dibanding politisi pembohong, aku tidak suka pembohong."
Dia tersenyum tapi aku tahu matanya terlihat sedih dan kecewa, ada apa Luffy? Bukankah aku sudah bilang bahwa aku menerimamu apa adanya tapi kenapa kau masih terlihat sedih.
Aku memeluknya, menarik kepalanya untuk bersandar di dadaku dan mengusap kepalanya lembut, hal yang selalu dilakukannyaa untuk menenangkanku. Dia menurut dan mengaitkan tangannya di pinggangku.
Aku tidak tahu hal apa yang membuatnya bersedih seperti ini tapi satu hal yang kutahu, aku akan membuatnya bahagia. Aku tidak suka melihatnya bersedih seperti ini. Luffy seperti matahari bagiku dan aku tidak akan membiarkan matahariku redup.
Nami POV ENDAuthor Note*
Akhirnya chapter ini bisa selesai, sempat stuck dan malah dapet ide buat chapter 5 tapi stuck juga jadi pindah ke chapter 4 dan sebisa mungkin di selesaikan. Terimakasih yang sudah dukung dan baca fanfic ini, sampai berjumpa di chapter selanjutnya, segera.
Wednesday, 12 August 2020.
Chezzell
