Orange

Disclaimer : Karakter milik Eiichiro Oda


Sanji mencoba untuk tidak memikirkan mantan kekasihnya yang memiliki lekukan tubuh bagus dan berambut oranye seperti jeruk matang. Dia berusaha untuk tidak membandingkannya dengan kekasihnya yang sekarang sedang merajuk.

"Violet, aku harus bekerja malam ini. Ada tamu VVIP yang memesan restoran hotel malam ini dan mereka memintaku sebagai Head Chef untuk memasak dan memastikan makanan mereka sempurna." Sanji mencoba untuk merayu kekasihnya namun sepertinya Violet masih saja merajuk dan tidak mau melihat Sanji.

Dia melipat tangan di dadanya dan melihat keluar jendela apartemen sementara Sanji duduk di single sofa sambil memijat pelipis kepalanya. Sikap keras kepala Violet membuatnya sakit kepala, Sanji belum pernah merasakan sakit kepala sesering ini.

Violet adalah penyebab seringnya kepala Sanji terasa berdenyut dan sakit. Hal kecil akan dibuatnya menjadi masalah besar, dia menyukai gadis bersurai hitam itu bukan hanya karena bentuk tubuhnya yang tak kalah dari Nami tapi juga karena kepribadiannya yang menyenangkan.

Sanji bertemu dengannya disebuah kelab malam yang cukup ternama di Italia, tadinya dia hanya akan minum-minum sedikit bersama temannya sampai akhirnya dia bertemu Violet. Dia adalah wanita yang menyenangkan dan pandai menari, ketika Sanji berbicara dengannya seolah dia tak pernah kehabisan topik.

Mereka saling menggoda sampai akhirnya Sanji mengetahui bahwa Violet adalah adik temannya Donquixote Doflamingo. Entah bagaimana mereka berakhir disebuah hotel dan terbangun tanpa sehelai pakaian, mereka sudah pasti tahu apa yang terjadi malam itu.

Sanji ingin mengakhirinya dengan one night stand tapi Violet tidak menginginkannya, dia mengetahui bahwa Sanji masih memiliki hubungan dengan Nami tapi dia tidak peduli. Sifat tak pantang menyerahnya ini membuat Sanji menyukainya.

Awalnya dia akan mengakhiri dengan Violet setelah sebulan namun dua bulan sudah berlalu dan dia semakin terperangkap dalam jeratan Violet. Dia merasa lebih hidup dengan Violet, seolah harinya tak pernah datar tidak seperti kehidupannya dengan Nami.

Dengan Nami seperti hidup tak memiliki tantangan, dia akan setuju dengan apapun yang Sanji katakan dan menurutinya. Ketika ia sedang tak ingin beradu argumen atau mendapat masalah maka Nami akan berdiam dan menghiburnya. Ketika Sanji tak ingin bertemu dengannya maka Nami akan menurutinya dan tidak akn menemuinya.

Namun di keadaan seperti ini dengan Violet membuatnya mengingat masa-masa menenangkan dengan Nami. Dia teringat bagaimana Nami akan memahaminya dan menunggunya sampai selesai dengan pekerjaan.

"Terserah kau, Violet. Aku ada pekerjaan yang harus kuselesaikan, kau ingin pergi atau tetap disini aku tidak peduli."

Akhirnya Sanji memutuskan untuk pergi. Dia mengambil jasnya diatas kursi dan keluar dengan menutup pintu apartemen cukup keras. Dia sudah habis kesabaran. Bukan kali ini saja mereka bertengkar karena pekerjaan Sanji yang memang terkadang harus bekerja di malam hari apalagi ketika ada tamu penting di restoran.

Sebagai kepala koki di restoran hotel bintang lima dia harus menuruti perintah dari pemilik hotel dan tamu penting bahkan dia akan menghidangkannya secara pribadi. Sanji adalah koki yang cukup terkenal dikalangan menengah keatas, masakannya adalah salah satu hidangan terbaik dan terlezat.

"Sial!" Sanji mengumpat mencoba menenangkan dirinya dari rasa kesal kepada kekasihnya dan terjebak lampu merah saat dia sedang terburu-buru.

Jika Violet adalah Nami pasti sekarang Sanji sudah berada di hotel dan memasak hidangan spesial dan kembali ke apartemen dengan tenang karena ada seseorang yang menunggunya.

Sekarang Nami sudah tidak ada lagi di kehidupannya, bahkan dia tak tahu kabarnya lagi semenjak berakhirnya hubungan mereka sebulan yang lalu.


Sanji POV

Sedari tadi ponselku tak berhenti berdering, tadi sous chef menelfonku terus menerus dan sekarang Violet. Aku sudah tidak peduli lagi, aku hanya ingin menyelesaikan pekerjaanku, merokok dan pulang untuk tidur. Sudah cukup kegilaan hari ini.

Akhirnya lampu merah berubah menjadi hijau, aku melanjutkan perjalananku ke hotel berusaha untuk tidak memikirkan amukan Violet lagi. Wanita itu benar-benar sesuatu, sifat tak mau mengalahnya membuatku pusing bukan main.

Kalau itu Na–

Argh, aku memikirkan wanita berambut oranye itu lagi. Jika kupikir lagi kenapa aku mengakhiri hubunganku dengannya? Itu karena aku sangat terpikat dengan Violet, dengan sifatnya.

Tunggu dulu, Nami dulu juga memiliki sifat yang menarik. Dia penuh semangat, bertekad kuat dan selalu berusaha untuk menang. Perubahan sifatnya mulai terjadi dua tahun yang lalu, saat kami bertengkar hebat dan hampir putus. Sekarang kami sudah benar-benar berakhir, dia tak pernah menghubungiku dan tidak ada aktivitas di sosial medianya. Seolah-olah dia menghilang begitu saja, ini terasa tidak nyata.

Hari ini genap sebulan kami tidak bertukar kabar dan bodohnya ya aku masih mengharapkan dia menelfonku saat mabuk atau menangis karena rindu tapi tidak. Tidak ada sama sekali.

Aku sudah sampai di depan hotel, aku tidak langsung turun. Aku memeriksa ponselku, Violet sudah berhenti menghubungiku, terkadang dia bisa menjadi sangat-sangat pemaksa dan memakai kekuasaannya sebagai adik dari bos mafia terbesar kelima di Italia.

Kubuka galeri tempat menyimpan gambar dan video, kubuka album tersembunyi–memasukan angka-angka yang merupakan tanggal aku dan Nami jadian.

Photo-photo dan video yang menampilkan wajah tersenyum dan surai oranye langsung muncul. Ada lebih dari 200 photo dan 100 video, tentu hal ini tidak di ketahui Violet. Jika dia tahu aku masih menyimpan hal-hal tentang Nami dia akan menggila dan menghancurkan apapun di hadapannya.

Kutekan salah satu gambar lalu di layar ponselku muncul wajah cerahnya, senyuman menawah, memakai bikini dan kaca mata di puncak kepala surai oranye nya. Dengan latar pantai indah saat sunset.

Ah, dia benar-benar cantik dengan keunikannya tersendiri.

Kugeser ke kanan dan sebuah video terputar otomatis.

"Sanji, cepat kemari cukup mengambil foto nya!" pekik Nami kegirangan, dia menarik tangan Sanji untuk lebih dekat ke ombak.

"Aku sedang merekammu." jawab Sanji.Nami hanya tertawa senang kemudian memeluk pinggang Sanji, videonya terguncang dan menjadi gelap karena tertutup oleh tangan.

"Kalau begitu kau pasti ingin merekam yang ini." Nami mencium Sanji dengan lembut dan pelan, tak ada paksaan dan tergesa-gesa di ciumannya.

Sanji bisa merasakan rasa cinta Nami kepadanya sangat tulus dan besar.Sanji mengarahkan ponselnya dengan sudut yang tepat sehingga terekam aksi ciuman cinta mereka. Sanji membalas ciuman Nami dengan lembut dan tulus juga, mereka berciuman cukup lama sampai 3 menit lebih. Kemudian video itu berakhir dengan Nami yang terkekeh dengan senang.

Sialan! Sekarang aku menyesali keputusanku. Sudahlah, kurasa setelah ini aku akan minum-minum sampai sangat mabuk. Aku keluar dari mobilku kemudian memberikan kuncinya kepada petugas valet dan langsung menuju restoran hotel yang berada di lantai dua puluh lima.

Masuk kedalam ruangan khusus milikku dan berganti pakaian dengan cepat, memakai topi dan masker aku sudah siap untuk memasak.

"Maaf, apa aku sangat telat?." Suasana dapur sangat sibuk dan soes chef-ku terlihat kepayahan.

"Tidak, tamu baru tiba lima menit lalu, Chef."

"Baiklah, mari bekerja semuanya!."

"Si, Chef!."*

Aku mulai memberikan perintah kepada para juru masak lainnya dan tentu saja aku yang memasak masakan utama-nya. Mereka tidak memesan makanan pembuka jadi pertama langsung makanan utama.

Aku memasak ayam parmigiana dan fettucini alfredo sesuai pesanan, setelah sentuhan terakhir aku menaruhnya di troli. Mereka minta di rekomendasikan minumannya dan tak ada yang menolak jika disajikan anggur merah chianti. Anggur merah yang berkualitas tinggi dan ternama, untung saja kemarin aku berhasil mendapatkannya karena stok di restoran sudah habis. Soes chef meletakan dua gelas anggur di troli, setelah kuperiksa sekali lagi kututup dengan penutup.

"Soes Chef, kupercayakan untuk dessert kepadamu. Buatlah tiramisu dua slice selagi aku menemani mereka makan." Aku keluar dengan troli menuju tamu VVIP berada. Mereka memilih di tengah pinggir jendela dengan pemandangan yang sangat indah. Pemandangan kota di malam hari, aku juga sering memandang keluar jendela ketika restoran tutup dini hari dan dua kali bersama Nami.

Setelah cukup dekat akhirnya aku bisa mengenali mereka berdua, sang pria dengan jas hitam, kemeja putih tak berdasi dan dua kancing atas yang tak di kancingkan itu adalah Portgass D Ace, Putra dari Gol D Roger yang merupakan bos mafia nomor satu di Italia–tidak mungkin Dunia dan Portgass D Ace adalah pewarisnya.

Wanita yang bersamanya tentu saja tunangannya, Boa Hancock seorang model papan atas. Pantas saja pemilik restoran bersikeras bahwa aku harus yang memasak, tentu dia tidak ingin mencari masalah dengan pewaris keluarga mafia nomor satu.

"Selamat malam, Tuan Portgass dan Nona Boa." Kataku berusaha untuk menjaga sopan santun, mereka melihat kearahku dan tersenyum tipis tidak memberikan tanggapan lain.

"Namaku adalah Sanji dan aku adalah Head Chef dari restoran hotel Acxell ini."

"Tidak usah kaku, Sanji. Panggil saja aku dengan Ace dan wanita cantik di depanku ini dengan Hancock."

"Ara-ara, kau berusaha merayuku tapi jawabanku tetan TIDAK, Ace."

Sepertinya mereka sedang bertengkar kecil, aku tersenyum tipis–memaklumi. Kutahan diriku untuk menghidangkan makanan mereka sampai sedikit mereda.

"Ayolah, Hancock. Kau tidak ingin melihat Nami?."

Apa?! Nami? Mataku langsung membulat mendengar namanya tapi aku tidak boleh menunjukan rasa keterkejutanku atau apapun membuatku menjadi chef yang suka ikut campur dan kemungkinan membuat mereka kesal.

"Aku ingin melihat my sweet Nami tapi tidak kuijinkan kau pergi sendirian. Kau harus menungguku selesai dengan pemotretan kemudian kita berdua pergi menemuinya dan Luffy."

"Baiklah-baiklah, setelah pemotretan-mu lusa kujemput dengan helikopter dengan begitu kita lebih cepat ke bandara dan terbang ke Jepang."

"Aku setuju."

"Baiklah, maaf menunggu chef Sanji. Kau sudah bisa menghidangkannya." Aku mengangguk mengerti dan membuka penutup makanan lalu menaruh ayam parmigiana di meja bagian Hancock dan pettucini alfredo di meja bagian Ace. Tidak lupa dengan minuman mereka, dua gelas biasa dan dua gelas anggur kususun rapih kemudian mengisinya dengan air putih biasa dan anggur merah.

Mereka mulai makan dengan tenang, aku mundur dua langkah menunggu tanggapan mereka apakah memuaskan atau tidak, ada tambahan atau dikurangi. Selama lima menit mereka berdua makan dalam diam, setelah hidangan sudah habis setengah Ace mulai berbicara.

"Masakanmu sangat memuaskan, Sanji Vinsmoke."

"Terimaka–apa?" Kali ini aku benar-benar terkejut dan tak bisa menutupinya. Dia baru saja memanggil namaku namun dengan nama belakang yang sangat kubenci dan tidak kupakai. Kenapa dia bisa tahu? Apakah dia sengaja kemari karena mengetahuinya?

"Tenang saja, aku kemari bukan karena tahu kau bekerja disini. Ini sebuah kebetulan, kemarin aku bertemu dengan keluarga Vinsmoke, pangeran Germa." Dia menghentikan acara makannya dan mengusap mulutnya dengan tisu.

"Ayahmu, Judge Vinsmoke mencarimu dan dia meminta bantuan kepada keluarga D untuk menemukanmu, tak disangka aku malah bertemu denganmu disini."

Aku menatapnya curiga, pernyataan darinya tidak bisa kutelan mentah-mentah lagipula dia dari keluarga D yang penuh dengan siasat tersembunyi.

"Sepertinya kau tidak percaya, ya tidak apa..." dia menggantung perkataannya untuk meminum anggur merah, meneguknya sampai habis.

"aku tidak akan memberitahu keberadaanmu kepada mereka, dan sebaiknya berhenti berlindung dibalik sosok Donquixote Doflamingo, dia adalah kandidat yang paling mungkin menyerahkanmu ke keluarga Vinsmoke untuk mendapat keuntungan." lanjutnya.

Mereka tidak mencariku selama lima tahun, kenapa baru sekarang? Tidak, kenapa mereka bahkan mencariku setelah lima tahun tak memperdulikanku.

"Ace, aku pikir kita harus ke fashion show besok untuk membelikan Nami pakaian, aku sangat menginginkan memberikan hadiah kepada adikku."

Aku kembali tenang ketika nama Nami disebut, apakah Nami yang mereka bicarakan sama seperti Namiku? Aku tidak bisa menanyakannya, tidak setelah situasi tadi. Aku malah akan membuat Ace kesal dan dia menyerahkanku kepada keluarga Vinsmoke. Mustahil jika dia kemari hanya dengan tunangannya, pengawal bersenjata lengkap miliknya pasti berjaga bahkan pasti sniper handal mereka saat ini ada di suatu gedung mengintai musuh, jika ada sesuatu mencurigakan dan bang! berakhir sudah kehidupan.

"Hahaha baiklah-baiklah, aku juga ingin memberikannya hadiah. Aku tidak punya adik perempuan dan kau anak satu-satunya, tentu Nami bisa dikatakan adik kesayangan kita."

"Bagaimana kabarnya, ya? Apa Luffy menjaganya dengan baik? Aku khawatir sejak pagi tadi dia belum mengirimiku pesan."

Apakah aku bisa menyingkirkan pemikiran bahwa Nami yang mereka bicarakan adalah seseorang yang kukenal? Nami mereka memberi kabar dengan teratur kalau begitu Nami yang kukenal bukan Nami yang mereka berdua bicarakan.

Ace mengangkat gelas wine-nya, aku menuangkan kembali mengisinya sampai setengah. Dia menatapku sebentar sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya kepada sang tunangan.

"Mereka pasti baik-baik saja, kudengar mereka bahkan tidur bersama sejak tinggal bersama. Luffy benar-benar kebingungan hahaha.."

"Apa mereka sudah 'melakukan' itu?" tanya Hancock dengan tersipu, tawa Ace makin menjadi.

"Tidak-tidak, mereka belum 'melakukan' itu karena Luffy mencoba untuk mengenal lebih dalam dan dia mencoba menahan godaan itu tiap malam hahaha... aku bisa membayangkan ekspresi Luffy haaa sangat lucu hahaha.."

Mereka membicarakan Monkey D Luffy, Putra dari Monkey D Dragon seorang penjual senjata ternama dan cucu dari Monkey D Garp kepala keluarga yakuza nomor satu Jepang. Keluarga D memang sejak dahulu selalu menjadi yang terhebat dalam dunia bawah. Sabo satu-satunya yang tidak menyandang nama tengah D tetapi dia merupakan sosok penting di keluarga mereka.

"Kau sudah selesai?." Ace bertanya kepada tunangannya, Hancock mengangguk setelah meneguk air putih dan mengelap mulutnya.

"Baiklah, kami tidak butuh makanan penutup. Sampai jumpa lain kali–mungkin saja, Sanji."

Setelah mengatakan itu mereka berdiri dan keluar dari restoran bersama pengawal yang tidak kusadari duduk di meja belakangku.

Hariku benar-benar sialan, dimulai dari amarah Violet, merindukan Nami dan sekarang ditambah dengan diburu oleh keluarga Vinsmoke. Aku benar-benar butuh alkohol.

Aku membubarkan juru masak lainnya, berganti pakaian dan bergegas menuju bar terdekat.

Setelah sampai bar aku langsung menuju meja bartender dan meminta segelas besar penuh bir. Segelas besar bir itu langsung habis, tidak cukup. Bir tidak akan membuatku mabuk.

"Vodka." kataku kepada bartender, dia mengangguk dan mengambilkan gelas ukuran kecil.

"Lebih besar." Dia mengeluarkan gelas berukuran sedang.

"Tidak, lebih besar lagi." Akhirnya kutemui gelas yang pas, kurasa 500ml.

"Isi sampai penuh." Dia mengisinya sesuai permintaanku, setelah penuh kuteguk semuanya seperti aku meminum air putih. Setelah habis sensasi panasnya baru terasa di tenggorokan dan rongka mulutku.

"Isi lagi." Aku bisa merasakan tatapan dari orang-orang namun aku tidak peduli, aku hanya ingin mabuk–sangat mabuk malam ini.

Gelas demi gelas habis kuteguk, kurasa sekarang aku sudah sangat mabuk karena pandanganku mulai kabur dan kepalaku berdenyut sakit tapi aku menikmatinya.

Aku harus tahu kabar Nami sekarang juga, kukeluarkan ponsel dari kantung celanaku dan kutelfon Nami. Aku tidak peduli jika dia mengangkat atau menolak, aku ingin tahu bahwa dia masih ada dan tidak menghilang.

"Nomor yang anda tujui tidak terdaftar, mohon memeriksa nomor kembali."

Nami kau kemana?! Kuhubungi Frank, dia pasti tahu. Tiga kali tanpa respon akhirnya Frank menerima panggilanku.

"Sanji! Ini dini hari dan kau menelfonku?! Ada apa aku masih jet lag!"

"Frank, di‐hik mana Nami? Hik.."

"Kau mabuk?"

"Katakan dimana Nami?!" Aku mulai menaikan nada bicaraku.

"Maaf Sanji, Aku tidak bisa memberitahumu. Robin akan membunuhku jika kulakukan."

"Kenapa kalian begini?! Aku kehilangan kekasih dan sahabatku! Aku merindukan Nami! Aku ingin kabarnya! Frank, tolonglah! Hik!"

"Kirimkan lokasimu, aku akan kesana."

Sanji mengakhiri panggilan dan mengirimkan lokasi bar ini kepada Frank tentu dengan bantuan barista yang menunjukan lokasi yang benar.

"Segelas lagi."

"Tapi Tua–"

"Tak ada tapi, tuangkan!."

"Baiklah."

Barista itu menuangkan kembali vodka namun tidak penuh, hanya setengah gelas. Dia tidak ingin pelanggannya mati karena alkohol kurasa.

Aku menunggu Frank dengan harapan dapat mengetahui keberadaan dan kabar dari Nami.

Sanji POV End


Frank POVRobin pasti akan membunuhku jika mengetahui aku menemui Sanji, untung saja dia masih di shower aku bisa keluar diam-diam.

Kupakai coat-ku dan kunci mobil

"Mau kemana kau?"

Robin keluar dari kamar mandi dengan jubah handuknya, aku meneguk air liur. Sial! Apa yang harus kukatakan?! Aku meneguk saliva gugup karena harus berbohong.

"Atasanku meminta revisi desain, aku harus menyelesaikannya di kantor sekarang."

"Bukankah kau cuti? Kenapa harus dikantor? Kau masih jet lag jangan bekerja dulu."

Aku menyukainya saat khawatir begini namun disaat yang tidak tepat. Akan sulit bagiku berbohong jika sangat jujur khawatir kepadaku. Namun, Sanji ketika mabuk benar-benar berbahaya. Dia bisa saja terbunuh karena minum alkohol berlebihan, aku harus menghentikannya.

"Hanya sebentar, sayang. Kau tidurlah terlebih dahulu esok pagi aku akan terbangun bersamamu di kasur." Aku mencium keningnya kemudian dengam cepat keluar apartemen.

"Cepatlah kembali!"

Aku bisa mendengar teriakannya saat pintu tertutup. Maafkan aku, Robin. Tapi keadaan Sanji benar-benar memperihatinkan. Dengan cepat namun tidak terburu-buru aku mengendarai mobilku menuju bar.

Saat sampai aku langsung dapat menemukan Sanji, dia duduk di bar bartender dengan menunduk. Beberapa wanita yang sudah sama mabuknya dengam dia mencoba mencari kesempatan dan menggodanya, aku langsung menuju ke tempatnya.

"Maaf, ladies temanku sudah memiliki kekasih." Mereka pergi dengan wajah masam. Aku mendudukan diri disebelahnya, bartender menghampiri kami.

"Jangan tuangkan lagi kepadanya dan aku tidak ingin minum." dia mengangguk mengerti dan menuju tempat lain.

"Frank! Sahabatku Frank!" Sanji menatapku dan tertawa girang, gawat dia benar-benar sudah mabuk. Aku tidak bisa mengirimnya kembali ke apartemennya atau dia akan mengacau mengatakan sesuatu tentang Nami dan membuat kekasihnya marah.

"Sanji, sudah cukup. Ayo kuantar kau ke hotel." Aku mencoba meraih tangannya tapi langsung di tepis.

"Tidak! Tidak sebelum kau memberitahu kepadaku dimana Nami dan kabarnya! Aku ingin menemuinya."

"Sanji sudah kub–"

"Kumohon dengan sangat kepadamu, Frank. Sebagai sahabat, aku sangat sangat merindukan Nami."

tes

tes

Ah, air mata menetes. Dia menunduk putus asa dan menangis, aku sangat lemah dengan hal seperti ini kurasa aku menyesal tidak mengajak Kohza tadi. Dia bisa mengatasi hal seperti ini dengan baik tidak sepertiku.

"He-Hei hentikan, ja-jangan menangis!."

Dia tak mendengarkan, air matanya masih mengalir dan membasahi celananya di bagian paha.

"Baiklah-baiklah, akan kuberitahu dimana dan kabar Nami."

Dia langsung mengusap air matanya dan menatapku serius.

"Katakan kepadaku." dia menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali untuk membuatnya tersadar dari mabuk.

"Nami... dia baik-baik saja dan dia berada di Jepang."

"Kenapa dia disana?! Aku harus menemuinya!." Dia berdiri dan hendak pergi. Aku menahannya dan memukul tepat di kepala belakangnya.

"Kau gila?! Inilah kenapa aku tidak ingin memberitahumu! Kau tidak waras, Sanji. Hubungan kalian sudah berakhir dan kau sudah bersama Violet, wanita yang kau pilih! Kau yang mengakhiri hubungan dengan Nami jangan kau sesali hal yang kau putuskan sendiri!" Ocehku.

"A-Aku–"

"Jangan beralasan kau! Hentikan tindakan menggelikanmu ini! Jangan kau sakiti wanita lain selain Nami, ingat dia menginginkan kau membahagiakan Violet. Kau tidak bisa menjaga janji untuk terus bersama Nami tapi kau bisa menepati janji untuk membahagiakan Violet!."

Dia terdiam.

"Jangan macam-macam, Sanji. Jika kau melibatkan diri dengan keluarga mafia aku tidak bisa menolongmu, tolong jangan sampai mereka melibatkanmu kedalam masalah. Nami baik-baik saja tanpamu, dia akan kecewa saat kau malah menyesali keputusanmu."

Dan kau akan patah hati karena dia tidak bisa mengingatmu, dia hilang ingatan Sanji dan aku tidak bisa memberitahumu tentang itu karena kau pasti akan langsung menemuinya.

"Sudahlah, ayo pulang." Aku menyerahkan kartu kepada bartender untuk membayar minuman Sanji. Semoga Robin tidak melihat tagihan kartu kreditku nantinya.

"Ayo, kuantar kau ke hotel."

Dia mengikutiku ke dalam mobil dengan tenang. Kurasa dia merenungi apa yang kukatakan, ya semoga saja dia tidak melakukan hal gila.

Kuantar dia ke hotel, hanya sampai depan pintu utama dan aku kembali ke mobilku. Aku memutuskan untuk pulang secepatnya sebelum Robin terbangun dari tidur namun suara ponselku yang menandakan ada pesan masuk membuatku terhenti. Aku membaca isi pesan itu.

Nami: Frank, ini aku Nami. Maaf jika disana sudah larut, bagaimana penerbangan kalian? Sudah sampai? Salamkan aku kepada Robin, aku sangat menikmati waktu bersama kalian disini. Walau aku tidak bisa mengingat kalian sepenuhnya, kuharap kalian bersabar dan masih mau berteman denganku. Oh, ya aku dan Luffy akan hadir di acara pernikahanmu. Aku bersedia menjadi bridesmaid dan Luffy menjadi bestman, sudah kuberi tahu Robin tapi aku ingin meminta ijinmu juga. Selamat malam dan selamat beristirahat, Frank.

Salam, Nami Luffy.

Kaku sekali Nami, kau tidak pernah mengirim pesan panjang dan kaku seperti ini. Kau biasanya langsung menelfon kami tapi ya aku mengerti keadaanmu dan maafkan aku, Nami.

Frank POV End

TBC


Author Note :Entah kenapa merasa tersemangati karena review dari kalian dan gue mutusin buat langsung lanjut chapter lima untung aja ide ngalir lancar dan bisa di selesaiin malem ini. Semoga chapter ini tidak mengecewakan, maaf kalau cara penulisan dan kata-katanya kurang baku dan gak sesuai KBBI. Terimakasih udah baca fic gue, see you in next chapter.

Sunday, 16 August 2020.

Chezzell.

ps: Si, Chef artinya Iya, Chef atau Baik,Chef dalam bahasa Italia.

p.s.s: ini adalah chapter terpanjang dan tercepat yang pernah author tulis, sampe 3k kata.