Orange

Disclaimer : Karakter milik Eiichiro Oda


Luffy POV

Sudah sebulan kami tinggal bersama dan Nami selalu menempel kepadaku sesampainya aku dirumah setelah bekerja. Dia sudah tahu mengenai pekerjaanku, keluargaku dan orang-orang yang bekerja kepadaku tetapi dia terlihat biasa saja. Bukan, dia berusaha untuk menerimaku apa adanya.

Dia tak bertanya tentang hal yang kulakukan saat bekerja karena aku sesungguhnya tidak menyukai pekerjaan kotorku. Aku lebih suka berdagang senjata yang sedikit lebih kotor dibanding menjadi Yakuza.

Nami menyiapkan bak mandi, makan malam dan futon untukku, setelah mandi kami makan malam bersama di meja tatami.

"Luffy, hari ini aku belajar memasak sup ikan pedas!" Katanya bersemangat sembari membuka tutup mangkok besar penuh sup ikan dengan kuah berwarna merah. Tampilannya sangat menggoda begitupula dengan aromanya pasti rasanya juga sama.

"Kau tidak perlu melakukan ini, Nami."

"Kenapa? Kau tidak suka? Kau melarangku bekerja dan aku di rumah seharian sementara kau pergi bekerja. Aku ingin membantu!"

Dia mengerucutkan bibirnya kesal, membuang wajahnya tak ingin menatapku. Aku senang dengan reaksinya yang menggemaskan seperti ini, aku tidak ingin dia bekerja dengan kondisi yang belum stabil. Kepalanya terkadang berdenyut secara tiba-tiba dan terasa menyakitkan baginya.

Kuambil tangan kanannya dengan tangan kiriku, tangan dengan bekas goresan jarum dan benang menandakan dia pekerja keras sebelum ingatannya hilang, tangan yang begitu kecil bagaimana bisa kulepaskan begitu saja.

"Nami.."

Dia masih tidak mau menatapku.

"Kau tahu aku malah menyukai dirimu yang merajuk seperti itu 'kan? Aku juga menyukai setiap hal kecil yang kau lakukan, mulai sekarang aku tidak akan melarangmu melakukan hal seperti ini lagi, hm?"

Baru dia mau menatapku dan tersenyum senang, ah betapa aku ingin mengecup bibirnya yang menggemaskan itu. Sadarlah Luffy! Kau masih belum boleh melakukan hal itu, dasar bodoh.

Kami makan dalam diam, sesekali Nami meletakan lauk di mangkuk nasiku. Dia selalu selesai makan lebih dulu dan menungguiku selesai yang mana cukup lama karena aku termasuk pemakan yang banyak.

Ini adalah mangkuk nasi kelimaku, dia meletakannya tepat di meja depanku sambil tersenyum yang aku tidak mengerti.

"Kenapa kau tersenyum seperti itu?"

"Kau makan seperti anak kecil membuatku menginginkan anakku sendiri."

"UHUK! UHUK!"

Argh, tenggorokanku terasa sangat menyakitkan. Nami langsung menyodoriku dengan gelas berisi air putih, aku meneguknya sampai habis. Siapa saja akan terkejut dengan pernyataan tiba-tiba begitu kan? Bukannya aku tidak mau, tentu saja aku mau memiliki anak bersamanya namun jalan itu masih jauh dan aku berusaha untuk lebih dekat.

"Kau tidak mau?" Dia menunjukan raut kecewa aku menggeleng keras dan berkata "Tidak-tidak, tidak mungkin aku tak menginginkannya."

"Jadi kau mau?" Seketika matanya bersinar dan aku meneguk salivaku gugup.

"Ya, tentu nanti setelah kita menikah."

"Jadi kapan kita menikah?"

"!!!"

Dia mengangkat tangan kanannya memperlihatkan cincin emas putih dengan berlian di tengahnya, cincin pertunangan kami yang mengingatkanku saat kami membelinya di toko perhiasan dan bertukar cincin di depan sahabatnya. Ya, sahabat Nami yaitu Robin dan Vivi. Setelah ponselnya dibenarkan terdapat banyak panggilan tak terjawab dan pesan dari mereka.

Carina juga membenarkan bahwa mereka berdua adalah sahabat Nami maka dari itu seminggu yang lalu aku mengundang mereka berdua bersama dengan pasangannya untuk datang ke Jepang menengok Nami.

Sebelumnya aku menjelaskan kepada mereka tentang kondisi Nami dan mereka tidak menerimanya. Mereka menganggap aku memanfaatkan kondisi hilang ingatan Nami, membuatnya mempercayai bahwa aku adalah tunangannya. Aku mengakuinya, aku memanfaatkan kondisinya namun aku juga mengakui bahwa aku jatuh cinta pada pandangan pertama dan aku berjanji untuk menjaga dan melindunginya.

Akhirnya Robin dan Vivi menyetujui hubungan kami serta memperingatiku.

'Aku tidak peduli kau berasal dari keluarga mafia atau yakuza jika kau membuat Nami menangis atau terluka aku akan memerangimu dan Vivi adalah putri kerajaan. Tentu dia memiliki kekuasaan yang bisa saja menghancurkanmu.'

Robin mengancamku dengan sungguh-sungguh. Bahkan tanpa ancaman darinya aku memang sudah mengecamkan dalam diriku untuk selalu melindunginya.

"Saat waktunya tiba, Nami.." Aku menyelesaikan makanku, aku menggenggam tangannya berjalan menuju kamar mandi meninggalkan bekas makan malam kami agar para pelayan rumah ini membereskannya. Membersihkan wajah dan menyikat gigi kemudian mengantarnya ke kamar untuk beristirahat.

Seperti sudah kebiasaan dia akan berbaring di futon yang cukup besar menampung dua orang, aku menarik selimut untuk menutupinya sampai leher dan duduk disebelahnya menunggunya sampai terlelap.

"Luffy..." Dia menarik kimono bagian lenganku.

"Tidurlah disampingku." Mintanya, ini bukan yang pertama kalinya dia memintaku untuk tidur bersamanya dan pasti tidak akan kubiarkan menjadi terakhir kalinya.

"Aku tak ingin membuatmu tidak nyaman, aku akan tidur di kamar sebelah." Jawabku, meski aku tahu diriku pasti akan menurutinya.

"Aku tidak mau sendirian."

Aku menyerah. Nami ada kelemahanku, bahkan jika dia memintaku untuk menembak diriku sendiri aku akan melakukannya jika itu bisa membuatnya senang.

Aku berbaring disampingnya, menarik selimut kami sampai perutku. Secara otomatis Nami mendekatiku, menempatkan kepalanya di lengan kiriku yang terlentang sebagai bantalnya dan memelukku.

Tangan kananku mengusap puncak kepalanya dan sesekali aku mengecup singkat keningnya.

"Dua hari lagi natal, aku ingin merayakannya bersamamu."

"Tak masalah, kau mau merayakannya dimana?."

Dia mendongak menatapku, aku menunduk sedikit. Senyum terukir di wajah cantiknya.

"Aku ingin berjalan-jalan di kota bersamamu."

"Baiklah."

"Tapi tanpa pengawal." Kali ini dia meminta dengan serius, Nami tidak suka diawasi apalagi di jaga oleh pengawalku yang kini keamanan dirumah kugandakan yang berarti lebih banyak pengawal dirumah ini.

"As you wish, My Princess." aku mencium puncak kepalanya cukup lama, dia kembali menunduk menenggelamkan wajah cantiknya di dadaku. Aku mengeratkan pelukan kami dengan tangan kananku, tak lama Nami sudah terlelap.

"Pastikan agar Nami tidak menyadari kehadiran pengawal saat kami pergi dua hari lagi, kau sudah boleh beristirahat, Zoro."

Aku berbicara kepada pengawal pribadi sekaligus sahabatku, Roronoa Zoro. Kami sudah bersama sejak remaja, mengalami suka duka bersama dan juga dia sangat ahli dalam menyembunyikan diri serta berpedang. Dia sudah seperti samurai pada jaman edo.

Zoro tak mengatakan apapun namun aku bisa melihat bayangan dari balik pintu berlalu. Dia sengaja tak membalas perkataanku takut Nami terbangun.

Aku melonggarkan dekapanku, memastikannya bernapas stabil. Aku tak bisa terlelap begitu saja seperti dahulu sebelum aku bertemu Nami, kini aku selalu memikirkan bagaimana aku akan bereaksi saat ingatannya kembali. Saat dia mengetahui bahwa aku berbohong dan dia mengingat mantan kekasih brengseknya itu.

Sanji Vinsmoke, pria playboy yang kabur dari keluarganya itu benar-benar sampah. Dia pasti menyesal sekarang membiarkan Nami keluar dari kehidupannya dan akan kupastikan dia tidak bisa mendapatkan Nami kembali.

Aku harus extra hati-hati sekarang ini, selalu memantau kondisi Nami kalau-kalau ingatannya kembali dan melindunginya dari musuh-musuh kami. Keluarga Vinsmoke bukan ancaman lagi sekarang setelah mereka meminta bantuan untuk mencari atau membawa Sanji kepada mereka. Donquixote Doflamingo-lah yang menjadi ancaman, dia melindungi Sanji Vinsmoke dan bersamaan ingin menyerahkannya kepada keluarga Vinsmoke agar mereka dapat bekerja sama.

Jika mereka bekerja sama maka keluarga D akan sedikit kesulitan dan aku tidak ingin hal itu terjadi karena bisa membahayakan Nami juga.

Doflamingo dan Sanji Vinsmoke harus dipisahkan kemudian serahkan pria brengsek itu kepada keluarganya setelah itu bukan urusanku lagi dan keluarga Vinsmoke harus menepati janji jika tidak akan kuhancurkan sekalian agar tidak menghalangiku di kemudian hari.

Ace belum memberikan kabar mengenai hal ini, apakah aku harus turun tangan? Tidak, aku percaya kepada kakak sepupuku itu. Dia pasti bisa menyelesaikannya dengan sempurna.

Memikirkan hal yang belum tentu akan terjadi ini membuatku sedikit sakit kepala, aku memejamkan mata mencoba untuk terlelap. Aroma menyenangkan dari Nami membuatku tenang dan akhirnya bisa terlelap.


Aku membuka mataku, mencoba untuk mengusir rasa kantuk. Nami sudah terbangun dan duduk disampingku, dia menyambutku dengan senyum hangatnya. Aku sangat menyukai senyumnya, membuat hariku dimulai dengan kebahagian yang sebelumnya belum pernah kurasakan. Aku sangat bahagia saat ini dan aku tak akan melupakan rasanya.

"Luffy... ayo bangun. Ini sudah pagi, kau harus bersiap berangkat aku sudah menyiapkan pakaianmu dan bak mandi." Katanya dengan suara lembut, dia menyingkirkan anak rambutku yang menutupi mata dan membelai puncak kepalaku dengan pelan. Aku menyukai sensasi setiap sentuhan yang diberikan olehnya. Seperti tidak ada puasnya dan tidak pernah bosan dengan sentuhan tangan kecil dan lembutnya.

"Ayoolaaah~" dengan nada suara merajuk. Aku langsung membuka mataku sepenuhnya dan bangkit dari tidurku perlahan duduk bersandar di pundaknya. Membiarkan rambut oranye-nya di wajahku.

"Aku mencintaimu." ucapku dengan suara serak karena baru saja terbangun kemudian dengan cepat mengecup lehernya, menggigit pelan meninggalkan tanda merah yang jelas di lehernya kemudian buru-buru masuk ke kamar mandi sebelum dia meledak.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Lima.

"LUFFY!!!"

Itu dia teriakannya setiap pagi yang membuatku bersemangat memulai hari, terkekeh sebentar aku mulai membersihkan diriku terlebih dahulu kemudian masuk ke bak mandi berisi air hangat yang telah Nami siapkan seperti biasanya. Setiap bertambah hari kami bersama semakin dalam rasa cintaku kepadanya, aku takut jiwa posesifku menguasai.

Setelah berendam selama lima menit aku mengeringkan tubuhku dan rambutku, memakai pakaian yang telah di siapkan Nami. Kemeja putih, jas hitam serta warna celana senada dengan jas dan dasi silver bergaris-garis hitam.

Dasinya hanya kukalungkan, sengaja agar Nami yang memasangkannya dengan benar. Semenjak kehadiran Nami aku tidak memerlukan pelayan lagi untuk membantuku berpakaian, aku menyukai perhatian darinya.

Dengan wajah memerah dia membenarkan dasiku, sementara aku memasang senyum nakal dan memeluk pinggangnya.

"Hentikan senyuman mesum-mu itu." Bukannya berhenti tersenyum malah makin menjadi. Nami sangat menggemaskan saat malu.

"Tuan muda, Tuan Zoro sudah menunggu di depan." Kata seorang pelayan dari balik pintu kamar, Nami mencoba melepaskan diri tapi kutahan dengan mudah.

"Suruh dia menunggu sebentar."

"Luffy, lepaskan. Kau akan telat jika tidak sarapan dengan cepat." Dia masih terus meronta namun aku tidak berniat untuk melepasnya semudah itu.

"Berikan aku ciuman pagi terlebih dahulu." Wajahnya semakin memerah, kemudian dia memejamkan mata. Nami masih terlalu malu dan canggung melakukan hal intim terlebih dahulu membuatku yang ingin mendominasi dirinya semakin senang.

Seperti biasa aku mencium keningnya terlebih dahulu kemudian kedua matanya bergantian, menggigit hidung mancungnya pelan, kedua pipinya dan terakhir memberikan kissmark disisi satunya.

Aku membelai puncak kepalanya lalu menarik rambut panjangnya dan mencium ujung rambutnya.

"Jadilah anak baik seperti biasa, hm? Aku tidak akan sarapan hari ini karena akan kuusahakan kembali awal. Tunggu aku, Nami." Menariknya mendekat aku mendekapnya, menghirup aroma tubuhnya kemudian melepaskan pelukan kami setelah beberapa menit.

"Kau selalu memelukku di pagi hari padahal aku belum mandi."

"Aku lebih suka wangi tubuhmu yang natural." Setelah dia memberikan senyuman manisnya aku berbalik menggeser pintu. Langkahku terhenti ketika dia menahanku dengan menarik lengan jas belakang.

"Jangan terlalu lama atau aku akan merasa kesepian." Dia menunduk menutupi semburat di wajahnya. Ini kali pertamanya dia menghentikanku untuk pergi dan mengakui bahwa dia akan merasa kesepian ketika aku kembali telat. Membuatku merasa bersalah dua hari yang lalu aku pulang larut malam.

"Aku berjanji akan kembali sebelum matahari terbenam." Dia melepaskanku lalu dengan cepat masuk kembali ke kamar dan menutup pintunya. Aku tak bisa menahan senyuman senang di wajahku.

Kuyakin wajahku terlihat bodoh saat ini terlihat dari raut wajah para pelayan yang kulewati di lorong menungguku untuk keluar dari kediaman agar bisa melayani Nona mereka. Sengaja kuperintahkan jangan mengganggu saat aku dan Nami sedang berduaan.

"Wajahmu terlihat mengerikan, Goshujin-sama." Ujar Zoro sambil memperlihatkan ekspresi seperti melihat hal yang menjijikan.

"Zoro, kau akan tahu perasaanku saat kau menemukan cinta sejatimu."

"Menggelikan mendengar perkataan seperti itu dari Tuan Muda Yakuza, Luffy.

"Hehe, ayo berangkat aku ingin pulang awal hari ini." Aku berjalan keluar gerbang dan masuk di kursi penumpang bersama dengan Zoro. Dia memang pengawal pribadiku tapi dia juga sahabatku, kami saling mengenal 7 tahun lalu. Saat kami masih berusia 18 tahun dan aku menyelamatkannya dari pengeroyokan.

Zoro saat masih sekolah dulu sangat terkenal dengan temperamental-nya yang singkat. Disulut sedikit dia langsung meledak, banyak orang menantangnya namun tak pernah bisa menang satu lawan satu.

Saat pengeroyokan itu terjadi untung saja aku sedang lewat tidak lebih tepatnya aku tersasar karena aku tak bisa menghapal jalanan di Jepang saat itu. Aku tak pernah lama tinggal disini maka dari itu selalu kehilangan arah saat pergi sendirian.

Sejak saat itulah aku dan Zoro menjalin pertemanan, lalu dia bergabung di keluarga Yakuza kakekku setelah dia lulus dan bekerja menjadi pengawalku dua tahun kemudian.

"Aku hampir lupa, Kakekmu menghubungi beliau akan mampir ke rumahmu nanti sore. Kemungkinan dia ingin mengajak kalian tinggal di kediaman utama."

"Kenapa dia malah menghubungimu sih? Aku kan cucunya."

"Kau tidak akan menjawab panggilannya kan, lagi pula kau yang bersikeras ingin tinggal di rumah lain kerena ingin bersama Nami berdua saja."

Aku hanya bisa menunjukan cengiran khasku, kebiasaan saat seseorang menebak dengan tepat keinginanku. Zoro berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Yah, pokoknya aku ingin pekerjaanku cepat selesai dan pulang ke pelukan Nami.

Luffy POV End


Nami POV

Setelah Luffy pergi, dua pelayan wanita bernama Ayame dan Maeko datang dan membantuku. Mereka selalu melakukannya saat Luffy sudah tidak ada, apa memang disengaja? Kurasa aku harus menanyakannya hari ini.

Ayame menyiapkan bak mandiku dan Maeko membantu melepaskan kimono-ku.

Aku memang sedikit kesulitan memakai dan melepas pakaian tradisional Jepang ini namun aku suka memakainya. Sangat nyaman dan memiliki pola yang indah, warna-warnanya juga sangat bagus.

"Maeko-san, apa Luffy sengaja membuat kalian membantuku setelah dia pergi?." Maeko dengan cekatan melepaskan lapisan terakhir dari pakaianku dan melipatnya dengan rapih. Aku memakai jubah mandiku.

"Ya, Luffy-sama memerintahkan kami untuk melayani Nami-sama setelah dia keluar dari kediaman." Dia menuntunku untuk masuk ke kamar mandi dimana Ayame sudah menunggu dan sudah menyiapkan bak mandi air hangat. Aku duduk di kursi kecil dan membuka jubah mandiku seperti biasa.

"Padahalkan aku bisa sendiri, kenapa dia menyuruh kalian membantuku. Aku bukan anak kecil." Mereka tidak mengatakan apapun namun saling menatap satu sama lain kemudian tetap menjalankan tugas mereka. Ayame membersihkan tangan kananku dan Maeko tangan kiri, mereka sangat berhati-hati seperti tidak ingin membuat tubuhku lecet sedikitpun.

"Kalian berdua harusnya tidak usah melayaniku, aku jadi tidak enak." Aku menunduk melihat lantai kamar mandi yang penuh busa saat ini. Aku takut mereka melakukan ini karena perintah Luffy dan mereka tak bisa membantahnya, aku tidak suka memaksa orang.

"Tidak-tidak Nami-sama, pekerjaan kami sebagai pelayan adalah melayani Tuan kami dan anda adalah tunangan Tuan kami tentu kami harus melayani anda sama seperti melayani Tuan kami." Jawab Ayame, aku sedikit tersipu mendengar kata tunangan. Aku menyukai kata itu tapi sangat sulit menyembunyikan rasa senangku.

"Kami juga sangat senang melayani anda, Nami-sama. Anda sopan, baik hati, selalu meminta tolong padahal anda bisa memerintah kami dan anda sangat dicintai Tuan Muda." Kali ini aku yakin wajahku semakin memerah karena pujian dari Maeko. Mereka lebih tua dariku dan aku yakin mereka pasti punya keluarga.

"Tetap saja aku merasa tidak enak." Ucapku dengan nada rendah. Mereka tetap membersihkan tubuhku kemudian membilasnya dengan shower, setelah itu memintaku masuk ke bal mandi.

Ayame memasukan wewangian saat aku sudah masuk, secara pribadi aku menyukai wanginya. Wangi buah lemon dan jeruk yang aku sukai, Maeko memasukan kelopak bunga mawar.

"Tuan Muda Luffy sangat menyayangi anda, dia tidak membiarkan kami untuk melayani anda saat dia ada disini karena beliau ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan anda." Ayame memulai pembicaraan, dia memberikan senyum simpulnya.

"Ia juga sebenarnya menyukai masakan dan ketika anda menyiapkan bak mandi serta pakaiannya, dia sangat senang." Maeko mendukung pernyataan Ayame. Aku tersenyum senang mendengarnya, ternyata tidak hanya aku yang senang. Luffy juga senang, dia senang meski aku melupakan hal tentangnya.

Aku mencoba untuk mengingat kenangan lama kami, mencoba mengingat bagaimana kami bertemu dan mulai berkencan. Ayame dan Maeko meninggalkanku di kamar mandi sendirian untuk menyiapkan pakaianku.

Kupejamkan mataku, mencoba mengingat hal-hal yang terlupakan. Awalnya tidak terjadi apa-apa namun aku tidak menyerah terus mencoba akhirnya aku mendapat ingatan meski samar.

Meski tak terlalu jelas aku dapat melihat latar belakang pantai dengan pasir putih dan biru air laut. Seorang pria berdiri di pinggiran memegang ponsel yang mengarah padaku, dia terlihat lebih kurus dari pada Luffy. Memakai kemeja lengan pendek yang tak dikancingkan dan celana pantai berpola pohon kelapa.

Aku mencoba untuk mengingat lebih jelas agar mengetahui wajah lelaki itu namun sakit di kepalaku mulai terasa. Kupaksakan untuk melanjutkan, raa sakit di kepalaku makin menjadi. Rasanya seperti otakku tertarik dengan kencang dan sangat nyeri.

Namun penglihatan di ingatanku menjelas, perlahan aku bisa melihat wajahnya. Rambut pirang cerah, alis mata keriting, matanya hanya terlihat di sebelah kiri mata kanannya tertutup poni panjangnya. Dia merekamku dengan tangan kanan dan tangan kirinya memegang sebatang rokok yang sudah habis setengah. Dia tersenyum dan matanya memancarkan perasaan yang kurindukan, kasih sayang.

Kepalaku berdenyut hebat kali ini aku tidak bisa menahan lenguhan kesakitan dari mulutku.

"Argh.." Kubuka mataku dan Ayame terduduk di lantai dengan wajah khawatirnya.

"Nona?! Apakah kepala anda terasa sakit?! Maeko-san! Cepat telfon dokter Trafgal!!." Dia menahan pundakku agar tidak terjatuh tenggelam di bak mandi.

"Ja-Jangan beri tahu Lu-Luffy..." aku memegangi pundak Ayame mencoba menguatkan diriku untuk duduk.

Ingatan kembali masuk, kali ini diriku memanggil nama lelaki itu.

"Sa— piiiip"

Kepalaku berdengun hebat, rasa sakit tak tertahankan. Perlahan genggamanku melemah dan pandanganku merabun.

"San—piiiiip"

Kemudian aku tak bisa merasakan apapun dan pandanganku menggelap.

TBC


Author note:Special Thanks to Rere.Pesan: Terimakasih sudah memberikan review dan penyemangat. Maaf lama updatenya sedikit stuck dan idenya gak ngalir. Makasih sudah baca fanfic aku dan terus tunggu update selanjutnya, see you next chapter.Sunday, 30 August 2020.Chezzell.