Orange

Disclaimer : Karakter milik Eiichiro Oda


Robin POV

Bukannya aku tidak tahu Frank berbohong padaku malam itu, dia berbohong tentang merevisi desain kliennya. Dia bertemu dengan Sanji dan aku tidak suka dengan hal itu. Sudah tiga hari dari malam itu, aku masih belum bisa membawa pembicaraan yang menjurus namun aku harus melakukannya hari ini.

Besok adalah malam natal, aku tidak mau bertengkar saat malam natal jadi mau tidak mau aku harus menyelesaikan masalah ini sekarang.

Dengan keadaan Nami yang sedang hilang ingatan aku tidak mau membuatnya mengingat hal yang menyedihkan kalau bisa dia tidak usah mengingat masa lalu lagi. Meski hal itu membuatnya melupakan tentang persahabatan kami bertiga, selama aku dan Vivi masih mengingat Nami kurelakan ingatannya menghilang.

Ingatan tentang pria brengsek itu sebaiknya tak kembali kepadanya. Sanji tidak boleh menemui Nami dan sebaliknya aku akan menghalangi Nami bertemu dengan Sanji.

Aku mengikat rambutku kemudian masuk kedalam ruangan khusus tempatnya membuat maket dan menggambar, bisa dibilang tempat kerjanya di rumah.

Dia menghentikan pembuatan maketnya saat mendengar pintu terbuka, aku balik menatapnya datar setelah menutup pintu.

"Ro-Robin? Ada apa? Tidak biasanya kau masuk ke ruang kerjaku, apakah ini hal penting?" Aku bisa merasakan bahwa dia merasa gugup dan takut. Sejak awal aku mengenalnya, Frank adalah pembohong yang buruk. Dia tidak bisa menyembunyikan sesuatu tanpa membuat orang curiga dan aku adalah seseorang yang sensitif serta memiliki instuisi yang kuat.

"Ya, ini hal penting." Dia meletakan palunya diatas meja kotak besarnya. Frank mendekat mencoba menggenggam tanganku namun kutepis, aku menghindari sentuhannya dan memposisikan diri duduk di sofa disamping pintu masuk.

Dia pasti langsung mengerti bahwa ada hal yang membuatku marah kepadanya, yang membuatku tak mau disentuhnya. Frank pasti mengetahui bahwa aku sudah tahu tentang pertemuannya dengan Sanji.

"Robin..." Aku berusaha untuk tidak menatapnya, saat aku melakukan itu pasti akan meleleh dan merasa tidak tega untuk memarahinya. Dia berlutut di depanku dan menunduk. Sepertinya dia benar-benar merasa bersalah atas apa yang dia lakukan dan sepertinya dia memberitahu Sanji tentang keberadaan Nami.

"Apa kau memberitahunya?." Frank mengangguk, kepalanya masih menunduk memandangi karpet hitam lantai. Aku menghela napas berat kemudian mengambil napas dalam-dalam.

"Kemarilah, Frank." Kutarik lengannya pelan, dia berdiri dan duduk di sampingku. Masih tetap menunduk. Aku menarik kepalanya untuk bersadar di pundakku, rasa bersalah dan marah bercampur. Aku merasa kasihan melihatnya sedih seperti ini dan kesal karena dia memberitahu si brengsek itu tentang keberadaan sahabat yang sudah seperti adik kandungku.

Aku yakin Luffy D Monkey akan melindunginya tetap saja aku merasa khawatir. Mengingat Sanji selama ini menutupi identitasnya yang merupakan putra dari keluarga Vinsmoke. Nami pastinya tidak tahu mengenai hal ini.

"Kita harus mencegah Sanji bertemu dengan Nami, kau harus berjanji padaku untuk bersamaku untuk mencegah hal mengerikan itu terjadi."

"Tentu.." dia menjawab lirih kemudian kami saling bertukar suhu tubuh cukup lama dan aku mulai menjalankan rencanaku.

Robin POV END


Violet POV

Aku selalu mendapatkan apapun yang kuinginkan sejak dulu. Kedua orangtuaku memanjakan dan selalu menurutiku begitu juga dengan kakak lelakiku, Donquixote Doflamingo begitu menyayangiku dan akan melakukan apapun yang kukatakan.

Malam itu aku bertemu dengannya, lelaki jangkung dengan surai pirang dan wajah yang tampan. Dari sisi manapun kau melihat wajahnya tanpa celah, tubuhnya juga jangkung dan cukup berisi namun aku melihat anting yang seperti cincin di telinga kirinya, kurasa dia sudah memiliki kekasih namun aku tidak peduli. Itu bukan kali pertama aku melihatnya namun dia tidak pernah melihatku. Aku yang sangat penasaran dan menginginkannya membuat kakakku mencari tahu secara pribadi tentang pria itu.

Tak disangka bahwa pria pirang itu adalah teman dari kakakku yang malah memudahkanku untuk mendapat informasi. Namanya Sanji Vinsmoke namun dia menyembunyikan identitasnya sebagai anak ke-empat dari keluarga Vinsmoke. Dia bekerja sebagai Chef di restoran hotel bintang lima dan memiliki kekasih bersurai oranye bernama Nami. Lingkup pertemanannya tidak terlalu luas. 

Malam itu di bar yang sama seperti sebelumnya aku melihatnya mata kami bertemu dan aku tersenyum menggoda padanya dan menggerakan tubuhku dengan lihai menari di dance floor mengikuti aliran musik. Dia menatapku terus menerus, wajahnya memerah kurasa dia sudah mabuk. Kesempatan seperti  ini harus kumanfaatkan maka dari itu aku mendekatimu, menggodamu dan akhirnya kau tergoda. Aku membawamu kedalam lebih jauh dan mengikatmu dengan jaringku agar kau bisa selalu disisiku, kau harus menjadi milikku seutuhnya.

Setelah gadis oranye itu pergi dari Italia kukira hidupku akan semakin mudah namun tidak. Aku tahu Sanji masih memikirkan tentangnya, terkadang melamun dan melihat ponselnya sembunyi-sembunyi dariku. Dia masih belum menghapus jejak-jejak dari mantannya secara sepenuhnya dan hal itu membuatku kesal bukan main.

Aku tahu dia mabuk berat semalam dan malah menginap di hotel bukan kembali ke apartemen, aku mengambil ponselku diatas meja dan menelfon kakakku. Jari telunjuk tangan kananku tak bisa diam dan mengetuk-ngetuk meja konter marmer. Kakakku baru mengangkat setelah bunyi 'tut' ketiga dan aku langsung memanggilnya dengan panik.

"Kakak!" 

"Ada apa, Violet? Apa kau dalam masalah? Apa Sanji menyakitimu?" 

Aku terdiam sejenak, memikirkan apa yang harus kulakukan untuk menghilangkan rasa yang tidak nyaman ini. Aku merasa marah, sedih dan juga khawatir secara bersamaan. Haruskah kuleyapkan saja selamanya gadis sialan itu? Tapi hal itu malah akan membuat Sanji merasa lebih sedih dan tidak bisa melupakannya. Belum saatnya gadis itu hilang, pertama aku harus tahu dimana keberadaannya agar aku bisa menjauhinya dari kekasihku.

"Aku ingin kakak mencari tahu keberadaan dari Nami, mantan Sanji."

"Kau yakin? Dia sudah pergi bukan? Untuk apa menghabiskan waktu untuk hal yang tidak berguna."

"Kakak ini permintaan dariku! Kumohon!" Aku mulai menggigiti jariku, kebiasaan saat kusedang panik dan takut. Terdengar suara dengusan berat darinya, kuharap kakakku menyetujuinya dengan begitu aku bisa mencoba untuk tenang sedikit.

"Baiklah, tapi Violet aku ingin memintamu melakukan sesuatu sebagai gantinya-"

"Katakan, akan kulakukan apapun!" Aku langsung memotong pembicaraanya, aku perlu mendengar bahwa kakakku menyetujui melakukan permintaanku.

"Baiklah-baiklah, Violet akan kucarikan gadis oranye itu. Sudah tenangkah dirimu?" Aku menghela napas lega. "Sudah, kakak." Jawabku. 

"Sekarang sebagai imbalannya aku ingin kau selalu berada di dekat Sanji, selalu tempatkan dia disisimu dan jangan lengah. Keluarga Vinsmoke mencarinya dan meminta bantuan kepada keluarga D dan aku tidak berniat untuk menyerahkan Sanji kepada keluarga D. Aku yang harus menyerahkannya secara langsung kepada keluarga Vinsmoke dan meminta kalian untuk dinihkahkan, dengan begitu kekuasaanku semakin meluas dan mendapat keuntungan."

Aku mendengarkan dengan cermat perintah dan arahan dari kakakku, dia memanglah cerdas namun kecerdasannya tertutupi dengan kelicikan yang mengalir di urat nadinya. Asalkan aku bisa memiliki Sanji seutuhnya aku akan melakukan apapun yang kakakku perintahkan.

"Baiklah, aku mengerti." Panggilan kami berakhir, tak lama Sanji kembali dengan keadaan setengah sadar. 

Aku langsung berlari kearahnya dan memeluknya erat. Aku butuh kehangatan dari sentuhannya, aku butuh ketenangan darinya.

"Maafkan aku, Sanji. Aku berjanji tidak akan kekanakan lagi, aku mencintaimu." Bau alkohol yang pekat masih tercium dari tubuhnya. Dia balas mendekapku lebih dalam kemudian mengecup keningku, ini dia. Aku butuh kehangatannya yang seperti ini.

"Aku juga merasa bersalah kepadamu, Violet. Mari kita hidup bahagia bersama, aku akan melupakan Nami seutuhnya. Aku mencintaimu." 

Lalu kami berpelukan cukup lama seolah tidak ingin berpisah meski hanya sekilas, aku menyukainya. Sangat menyukainya sampai-sampai aku rela membunuh diriku hanya agar dia berada disisiku selamanya.

TBC


Author Note : Sebenernya pengen buat cerita dari sisi Violet lebih panjang lagi karena karakternya penting dalam ff ini tapi keburu ke-block idenya. Disini gue mau minta maaf sebagai author ff ini kalau updatenya lama dan sedikit karena kesibukan kulen (kuliah onlen). Ini baru kelar uts makanya bisa ada waktu untuk nulis lagi, semoga kita ketemu di update minggu depan. Tetap jaga kesehatannya semuanya.

Best Regards,

Chezzell 

Monday, 2 November 2020.