Orange 

Disclaimer : Karakter milik Eiichiro Oda


Hari ini terasa lebih damai dari hari-hari sebelumnya, Luffy duduk dengan mengangkat satu kaki membuat dirinya merasa nyaman meskipun sedari tadi dia hanya memikirkan Nami dan pulang kerumah. Dia tak pernah begini sebelumnya, tidak sebelum Nami datang dihidupnya. Harinya menjadi lebih berwarna dan dia selalu berharap untuk tetap hidup keesokan harinya hanya untuk bersama gadis oranye itu.

Anak buahnya merasa heran dengan sang Bos muda ini, dalam sehari dia dapat berubah dari yang setiap harinya wajahnya selalu gelap dan mengeluarkan aura mencekam kini dia terlihat lebih santai namun serius. Membuat bawahannya tidak terlalu canggung dan takut. 

Apalagi seorang Roronoa Zoro, sahabat sekaligus pengawal dari Bos muda, Luffy. Selama bertahun-tahun menjadi sahabatnya, baru kali ini Zoro melihat Luffy menjalin hubungan serius dan sangat menyayangi serta menjaga seorang wanita. 

Luffy menatap lurus kedepan melihat pemandangan yang biasa baginya namun mungkin bagi orang biasa adalah hal yang membuat mual. Di ruangan dengan penerangan remang-remang namun masih dapat terlihat dua orang pria bersurai pirang dan hitam diikat menggantung seperti patung salib penuh luka dan darah mengalir dari perut dan kaki mereka.

Kuku-kuku kaki mereka telah terlepas semua, darah masih mengucur dengan cukup deras. Pria berambut pirang menatap penuh kebencian sementara pria satunya menunduk bergetar ketakutan.

Bos muda itu mengangkat tangannya membuat bawahannya yang tadi memukuli dan menyiksa kedua pemuda sejak sejam yang lalu berhenti melakukan kegiatan keji itu.

"Bukankah kalian sudah paham akan konsekuensinya dengan menjual barang haram itu ke wilayahku?" Luffy bertanya dengan nada suara datar. 

"Cih!!" pria pirang itu meludah kearah Luffy namun tidak sampai karena jarak mereka cukup jauh dan posisinya berada di bawah seperti.

Tanpa menunggu perintah dari Bos-nya, Zoro menuruni anak tangga yang hanya memiliki lima anak tangga dan enam langkah sampai di depan kedua pria yang digantung itu. Dia menarik salah satu dari tiga katananya, keluarlah katana legendarisnya yang bernama Sandai Kitetsu dalam hitungan detik setelah pedang itu keluar dari sangkarnya mulut dari pria pirang itu robek tertebas oleh Zoro.

Dia berteriak kesakitan dan darah mengucur begitu deras lebih deras dibanding ketika kuku kaki mereka dicabut. Dalam teriakannya sepertinya dia menyumpah serapah mengutuk Zoro namun dia tidak peduli, dia melihat lidah pria itu di lantai dan tersenyum puas dan kembali berdiri disamping Luffy dengan wajah bangga.

"Wah tebasanmu terlihat rapih seperti biasa, Zoro." Puji Luffy seraya memperhatikan luka tebasan pria pirang itu.

Seorang bawahan Luffy datang dan membisikan sesuatu kepadanya, Luffy menyeringai. 

"Sepertinya kita akan pulang sangat awal hari ini. Hubungi rumah, kita akan sampai disana dalam 30 menit." Sang Bos muda beranjak dari duduknya, seluruh bawahannya berdiri tegak dan membungkuk 90 derajat ketika dia melangkah. 

"Tu-Tunggu!!"

Luffy berhenti melangkah namun tidak berbalik menghadap seseorang yang menghentikannya, tidak perlu sampai membalikan badan hanya untuk seekor serangga mungkin begitu pikirnya.

"Me-Mereka mengetahui kau memiliki wanita, dan mereka akan menargetkan wanitamu. A-Aku bisa mencegah mereka agar tidak menyentuhnya." Pria bersurai hitam menawarkan kesepakatan. Luffy terdiam. 

Untuk tiga puluh detik ruangan itu benar-benar sunyi sampai terdengar gelak suara tawa yang cukup kencang, yang mana tawa tersebut berasal dari Luffy sendiri, pria yang ditawarkan sebuah kesepakatan.

"Ogasawara Shun, untuk seorang pewaris keluarga Yakuza otakmu cukup bodoh, hm." Luffy menolehkan kepalanya sedikit, meliriknya dari ujung mata.

"Kau pikir aku tidak tahu tingkah kalian? Memberitahu Donquixote Doflamingo tidak membuatku takut, dia bukanlah masalah serius." 

Ogasawara Shun, pria muda penerus keluarga Yakuza klan Ogasawara terdiam. Tubuhnya yang tadi bergetar karena kedinginan kini semakin bergetar hebat karena ketakutan. Dalam hidupnya tak pernah dia merasa setakut ini, seketika dia menyesali perbuatannya yang berani mengusik wilayah klan Monkey. Kalau tahu begini dia tidak akan melakukannya namun bisa apa sekarang, nasi telah menjadi bubur.

Hal yang telah terjadi tidak bisa ditarik lagi, dia merasa bahwa hari ini adalah hari terakhirnya hidup di dunia ini. Keluarganya masih memiliki penerus, sang adik yang masih di bangku Sekolah Menengah Atas pasti akan menggantikannya. 

"Kalau kau pikir keluargamu aman kau salah, seluruh keluarga Ogasawara telah tiada, kau yang terakhir." 

Matanya membulat mendengar perkataan dari sang Bos muda keluarga klan Monkey. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia berharap hal yang dia dengar adalah salah, dia berharap keluarganya baik-baik saja. 

"Selamat tinggal, Ogasawara." Dengan begitu  Luffy melanjutkan langkahnya keluar dari ruang eksekusi itu.


"Hm.. ini aneh." ujar Luffy sembari menatap layar ponselnya. Kini Luffy dan Zoro berada dalam mobil menuju rumah. Sedari tadi dia mengecek ponselnya, tak ada telfon dan pesan singkat yang mana sangat aneh. Biasanya setelah dia mengabari rumah bahwa dia akan pulang maka Nami akan menelfon atau mengiriminya pesan namun sampai sekarang tidak ada kabar darinya.

"Apa yang aneh?" tanya Zoro, dia bertanya karena menurutnya tak ada hal aneh yang dirasakan. Jika terdapat hal aneh pasti Zoro yang terlebih dahulu mengetahui karena instingnya yang kuat. 

"Nami, dia tidak mengirim pesan ataupun menelfonku." 

Zoro mengerang kesal karena Bos-nya benar-benar dikendalikan oleh perasaan, bukannya dia tidak pernah merasakan perasaan seperti Luffy. Percayalah seorang Zoro yang workaholic pernah merasakannya, terlalu paham malah. 

Pria bersurai hijau itu menyandarkan tubuhnya dan menatap ke jalanan dengan tatapan kosong, pikirannya sudah melayang memikirkan masa lalunya. Saat dia baru bergabung dalam keluarga Yakuza Monkey, dia memiliki seorang yang dia sayangi mendekati cinta. 

Dia melindunginya, memberinya perhatian namun sepertinya memang gadis itu memiliki banyak lubang yang harus dipenuhi dan Zoro menyerah. Dia tidak bisa memenuhi kebutuhannya. 

"Hei, tenanglah sedikit." tegur Zoro berharap Luffy dapat sedikit lega namun hal itu malah membuatnya lebih khawatir. Seketika Zoro menyesali perkataanya dan berharap Nami baik-baik saja, jika wanita itu terluka secara tidak sengaja maupun di sengaja dia tidak bisa membayangkan bagaimana Luffy akan mengamuk dan menghancurkan apapun yang mengganggunya.


Sementara di kediaman Luffy dan Nami sudah ramai dikarenakan Kakek dari Luffy, Bos besar Monkey D Garp sudah tiba. Dokter pribadi keluarga D, Trafgal Law juga sudah memeriksa wanita bersurai oranye yang sedang beristirahat di futon. Nami mengalami sakit kepala karena ingatannya yang menghilang datang secara tiba-tiba ataupun ketika dia ingin mencoba mengingat sesuatu.

Hal ini wajar untuk seorang pasien yang amnesia untuk merasakan sakit di kepala, dia harus berhati-hati dalam menjelaskan kepada sang tuan rumah saat ia kembali. Namun, hal yang membuatnya merasa terkejut dan sedikit tidak percaya adalah seorang Monkey D Garp datang kemari untuk menjenguk sang pasien. Sejak kapan seorang Bos besar keluarga yakuza memperdulikan wanita? 

'Sepertinya Nami sudah menempatkan dirinya di hati keluarga Luffy.' pikir sang dokter muda itu. Dia menyelesaikan tugasnya dengan memberikan satu suntikan penahan rasa sakit dan memerintahkan pelayan untuk memberi Nami makan dan minum obat ketika dia sudah terbangun dari tidurnya kemudian dia bergabung dengan Garp untuk minum teh dibawah pohon sakura yang tak berbunga karena musim dingin di pekarangan depan sambil menunggu sang tuan rumah kembali.

Tak ada pembicaraan yang terlalu serius, hanya membahas kondisi tentang Nami serta Luffy. Bukan rahasia lagi jika seluruh anggota keluarga D memiliki suatu penyakit yang susah disembuhkan. Bukan kanker ataupun penyakit bawaan, hanya penyakit mental yang terkadang sulit untuk dikendalikan. Trafgal adalah dokter serba bisa, dia bisa menyembuhkan penyakit tubuh serta seorang psikiater. 

"Untuk Nami aku bisa memahaminya, benturan di kepala dan amnesia tentu saja akan membuat dia merasa sakit untuk mengingat. Bagaimana dengan Luffy?" Garp menuangkan sake di gelasnya sendiri dan meminumnya dalam satu tegukan. 

"Luffy sudah membaik namun saya yakin dia membuat Nami sebagai penahannya, dia membuat sebuah batasan. Namun, ketika batasan itu di putuskan secara paksa maka pasti akan membuatnya  kehilangan kendali." 

"Jadi, maksudmu kita harus selalu membuat Nami di sisinya?" 

"Benar sekali, Garp-sama. Tetapi, tidak secara paksa. Ketika kita memaksakan untuk mengurungnya maka hal itu juga akan berpengaruh kepada Luffy, bukannya dia membatasi diri maka akan terjadi sebaliknya dia akan memaksakan suatu kehendak dan secara berlebihan." 

Garp menghela napasnya. Dia merasa lelah, usianya sudah tidak muda dan rasa ingin melepaskan ini semua semakin besar namun dia tidak bisa lari dari tanggung jawab. Dia harus membuat Luffy siap dengan apa yang akan dia hadapi kedepannya, dia harus melindungi dan memberikan jalan yang mulus kepada cucunya. Ace sudah matang dan siap berkeluarga, dia memiliki sifat ayahnya yang sangat bertanggung jawab. Sabo, meski bukan cucu kandungnya dia juga menyayanginya seperti darah daging sendiri, Sabo juga sudah mantap dengan pekerjaannya sebagai pedagang senjata. Cucu terakhirnya, Luffy yang sangat sulit untuk diatur bahkan ayahnya menyerah membuatnya menurut. Dia memiliki karakter yang unik namun tidak negatif terkadang Garp berpikir bahwa jalan di gelapnya dunia bawah tidak cocok dengan Luffy.

Luffy seperti mendiang ibunya, memiliki karakter yang cerah namun tidak naif, baik hati namun tidak bodoh. Menyeretnya ke dunia bawah adalah keputusan yang sedikit Garp sesali.

Tak lama yang dibicarakan sudah kembali, dia masuk kedalam terburu-buru mengabaikan anak buah kakeknya yang menyambutnya dengan sangat sopan dan Zoro mengekori di belakangnya. Dia langsung menuju Garp dan Trafgal setelah melihat mereka. 

"Torao? Kenapa kau kemari? Apakah Nami terluka?! Dimana dia?!" Dia bertanya bertubi-tubi ketika Trafgal akan membuka mulut tangan Garp mengangkat menghentikan Trafgal berbicara lebih lanjut. Dia memutuskan untuk berbicara berdua dengan cucunya, sebuah pembicaraan yang serius. 

"Tinggalkan aku dan Luffy, aku ingin bicara berdua dengannya." Perintah Garp, anak buahnya termasuk Trafgal dan Zoro pergi menuju entah depan gerbang atau berjaga di gerbang belakang kalau-kalau terdapat gangguan yang tidak diinginkan. 

Wajah Luffy masih memancarkan rasa cemas, dia duduk disamping kakeknya. Dalam hidupnya baru kali ini merasakan rasa yang sangat ketakutan bahkan saat dirinya dikepung oleh sepuluh mafia bersenjata lengkap dia tak gentar. Garp menyadari dan dengan tenang meletakan gelas sakenya di depan Luffy dan menuangkannya, Luffy langsung meminumnya tanpa perlu diperintah. Rasa hangat melalui tenggorokannya setidaknya dapat membuat tubuhnya rileks sebentar sebelum kembali menegang mengingat Nami belum juga keluar dari rumah untuk menyambutnya seperti biasa.

"Ada hal yang perlu kakek bicarakan denganmu." kali ini Garp yang meminum sake dari gelasnya, cucu bungsunya menatap dengan rasa cemas namun penasaran. Setelah mengambil napas panjang akhirnya Garp mulai berbicara

"Nami mengalami sakit di kepala karena dia berusaha mengingat atau mungkin teringat akan sesuatu, dia sudah diberikan suntikan penenang rasa sakit serta obat. Nami akan baik-baik saja." Luffy terlihat seperti akan melompat dari duduknya untuk segera menemui Nami namun dia berusaha keras untuk melakukan itu karena kakeknya jelas belum selesai berbicara.

"Aku tahu kau khawatir dengan keadaannya sekarang tapi Luffy kakek perlu memberitahumu hal yang penting..." ada jeda sebentar sebelum dia melanjutkannya, jeda yang dipakainya untuk melihat ke langit yang mendung dan mulai turun butiran salju kecil.

"Usia kakek sudah tidak bisa menampung beban berat ini lagi, setelah urusan dengan keluarga Vinsmoke selesai kau akan mengambil alih sebagai kepala keluarga yakuza klan Monkey. Luffy terdiam mendengar perkataan Kakeknya, dia tahu bahwa beliau sudah berumur dan mulai merasakan sakit ditubuhnya. Sudah seharusnya dia melepaskan tanggung jawab dan menyerahkannya kepada penerus namun Luffy masih berharap bahwa penerus itu bukan dirinya.

Dia mengidamkan hidup biasa seperti orang biasa, pekerja kantoran mungkin? atau membuka toko? Luffy menyukai hal-hal sederhana seperti itu karena dia tidak perlu terlalu khawatir bahwa hidupnya dan orang yang dia kasihi terancam. Sekarang hal itu hanya bisa terwujud dalam mimpinya karena kenyataannya dia tidak bisa menghindari menjadi ketua dari klan Yakuza. 

Luffy mengangguk menyetujui permintaan kakeknya kemudian berdiri dari duduknya cepat-cepat berjalan masuk kedalam rumah untuk melihat kondisi Nami yang sedari tadi sangat ingin dia lakukan. Garp menghela napasnya lega, bukan waktu yang sebentar dia memikirkan bagaimana caranya berbicara tentang hal ini kepada cucu bungsunya belum lagi pemikiran bahwa Luffy akan menolak. Untung saja Luffy lebih condong ke sifat ibunya yang bertanggung jawab, riang dan selalu menolong seseorang yang kesusahan dalam artian dia tidak akan menolak siapapun yang meminta tolong dan hal itu malah membuatnya tak ada lagi di dunia ini. 

Roronoa Zoro mendekati Garp, dia melangkah dengan santai dan berdiri diam disampingnya. Garp meliriknya, anak didiknya kini menjadi pengawal dari cucunya dan juga sahabatnya. Garp lega karena Zoro sangat bisa diandalakan dan selalu melindungi Luffy. 

"Aku memiliki misi untukmu, Zoro." Kata Garp, dia mengangkat botol sake yang tinggal setengah lalu menuangkannya ke gelas kemudian memberikan botol itu kepada Zoro. 

Zoro mengambil botol sake tersebut dan meminumnya sekaligus tanpa berhenti, tegukan demi tegukan sampai botol tersebut kosong. Dia meletakan botol sake kosong itu disamping tempat duduk Garp. 

"Aku terima misinya, Garp-sama." Zoro menyetujui bahkan sebelum mendengar apa misinya, mereka saling memandang dan menyeringai keji. Sepertinya misi kali ini akan membuatnya berolahraga lebih dari pada biasanya. 

TBC.


Author note: Seperti biasa gue ucapkan terimakasih sudah mau membaca ff gue dan selalu support dengan review kalian. Maaf gak bisa tepatin janji update seminggu sekali karena ya sibuk kulen dan juga sering mengalami Writer's Block tapi disini gue berusaha selesaiin chapter ini sekarang juga karena minggu depannya kemungkinan tambah sibuk dan mau UAS. Wah gila sih, kulen gue mejem mejem ae tiba-tiba mau UAS, ya yang masih menempuh pendidikan seperti gue semoga kita diberikan petunjuk oleh Tuhan wkwkwk. Udah sih itu aja, Selamat malam dan jaga kesehatan teman-teman.

Best Regards,

Chezzell

Friday, 27 November 2020.