Orange

Disclaimer : Semua Karakter milik Oda Eiichiro


Roronoa Zoro, pria keturunan tulen jepang itu tiba di bandara kota London khusus untuk pemilik private jet mendarat. Dia mengenakan kimono pria berwarna hitam dengan ukiran naga benang perak serta ketiga pedang katana yang bersarang di pinggangnya. Lelaki bersurai hijau itu terlihat berjalan santai menuju pintu keluar diikuti kedua anak buahnya yang mengekori kemana dia melangkah. Namun, bukan rahasia umum lagi bahwa ia merupakan seorang yang buta arah. Dia selalu tersesat, kedua pria ber-jas hitam di belakangnya tidak berani menegurnya, mereka masih sayang nyawa.

Mereka terus berjalan tiada henti selama 10 menit untuk mengitari bandara karena Zoro tidak dapat menemukan pintu keluar.

"ARGH..! TIDAK BISAKAH KALIAN MENUNJUKAN JALAN?!" dia berbalik dan membentak kedua anak buahnya. Kedua pria ber-jas itu seketika berdiri tegak dengan wajah ketakutan, was was karena bos bersurai hijau mereka ini bisa saja dalam sekejap menarik pedangnya dan menebas kepala mereka.

"Tidak sabaran dan masih buta arah seperti dulu ya, Zoro-san." celetuk seorang wanita. Zoro melihat wanita itu, matanya membulat. Tak pernah dia bayangkan bahwa akan bertemu dengan seseorang yang dulu pernah ada di hidupnya, seseorang yang dia anggap sudah menghilang tanpa jejak dan yang dia tidak bisa temukan. Sekarang orang itu berdiri dihadapannya.

Tubuhnya menjadi sedikit lebih sintal namun terlihat memiliki otot yang kuat, rambut panjangnya telah hilang tergantikan dengan rambut hitam sepundak dengan beberapa helai berwarna ungu yang dahulu berwarna merah. Masih dengan tas gitar yang sama, kayu, berwarna hitam dan banyak stiker. Tapi, yang paling terpenting dia masih memakai anting yang sama dengan Zoro, tiga anting di satu telinga. Sebenarnya yang memberikan anting itu kepadanya adalah wanita itu.

"Ka-"

"Ya, aku Mei. Tetapi disini namaku adalah Michelle, putri dari Big Mom yang akan memandumu di kota London ini." suaranya terdengar datar dan tanpa perasaan, hal itu membuat Zoro merasa lega dapat mendengar suaranya dan kesal secara bersamaan karena tak menemukan kehangatan yang dulu lagi. Zoro tak tahu harus berkata apa, dia hanya menatap intens wanita di hadapannya ini. Entah dia harus bersyukur atau malah menyesal dengan misi ini.

"Ikut aku." Mei langsung berbalik ke arah berlawanan dan berjalan kearah keluar yang benar. Di pintu keluar sudah terdapat mobil limosin berwarna hitam dengan dua mobil jeep besar di depan dan belakangnya. Dua orang lelaki yang lagi-lagi memakai jas hitam yang Zoro percaya adalah pengawal atau anak buah dari Big Mom menunggu di depan pintu limosin.

Seorang dari mereka langsung membukakan pintu ketika Mei mendekat.

"Kalian pengawal dari Jepang, ikut mobil jeep yang dibelakang." katanya tanpa menoleh kebelakang, Mei masuk terlebih dahulu kemudian Zoro mengikuti. Mereka duduk berhadap-hadapan. Kendaraan sudah berjalan selama 10 menit namun tak ada yang membuka obrolan. Zoro terlalu bingung untuk membuka pembicaraan dan Mei jika benar dugaannya dia tidak sudi berbicara dengan Zoro. Setelah kejadian lima tahun yang lalu. Zoro melukai gadis itu, bukan secara fisik namun batin.

Namun rasa bersalahnya lebih besar dari pada rasa bingungnya, Zoro akhirnya membuka pembicaraan.

"Aku tidak tahu kalau kau adalah putri dari Big Mom." dan tidak pernah bisa menemukan asal-usulmu tambahnya dalam hati. Baginya Mei adalah seorang yang misterius. Mereka bertemu disaat muda, disaat mereka masih belum matang. Mereka saling berbagi kehangatan, berbagi cerita keseharian masing-masing. Mereka dahulu adalah sepasang kekasih yang saling pengertian.

Zoro tak pernah bertanya tentang masa lalu Mei dan sebaliknya wanita itu juga tak pernah bertanya kepadanya tentang masa lalu Zoro. Mereka saling memahami walau tidak terlalu banyak mengetahui tentang diri mereka masing-masing.

Terdapat jeda yang cukup panjang sebelum akhirnya Mei menghela napas kasar dan menatap balik Zoro tepat dimata. Tak ada rasa apapun lagi dimatanya.

"Karena kita tak pernah memberi informasi apapun, aku juga tidak masalah dengan hal itu. Terimakasih berkat kau dahulu yang meninggalkanku saat aku sangat membutuhkan pertolongan, kini aku kembali ke keluarga besarku. Hidup normal yang kuidamkan kini hanya mimpi semata."

Mei memiliki cita-cita menjadi musisi, membuat lagu, menyanyikan lagu buatannya dan hidup dari hasil lagunya. Dia pandai bermain alat musik dan memiliki suara yang unik. Namun kini berkat Zoro cita-cita itu tak kesampaian.


Zoro POV

Aku tidak menyangka karenaku lah Mei- ah sekarang bernama Michelle tidak bisa menggapai cita-citanya. Rasa bersalah menyelimutiku diikuti dengan kenangan-kenangan bersama kami yang langsung terlintas di kepalaku.

Saat itu usia kami masih 20 tahun, masa muda. Tak lama setelah aku bergabung dengan kelompok yakuza, aku dan dia bertemu di jalanan Kabuki. Saat itu dia sedang terburu-buru dan tidak sengaja menabrakku, meski begitu dia sempat meminta maaf terlebih dahulu sebelum akhirnya berlari memasuki pub bawah tanah. Aku yang sedang tersesat dan kehilangan rekan kerjaku akhirnya mengikuti dia masuk ke pub itu.

Ternyata pub itu adalah tempat dimana band-band rock yang terkenal dikalangan anak muda, dan dia berdiri di atas panggung dengan gitar listrik hitam penuuh coretan spidol putih dan stiker dengan gambar yang vulgar. Dia memegang mic dengan tangan kirinya, tanpa basa-basi dia memulai dengan teriakan khas rocker sebagai tanda dimulai lagu mereka.

Aku terpaku, tanpa kusadari aku menatapnya tanpa berkedip seperti takjub akan suara beserta wajah datarnya saat bernyanyi meski begitu nyanyiannya penuh emosi. Sama seperti liriknya, suaranya dipenuhi dengan perasaan benci, marah dan sedih atas penilaian sepihak dari orang-orang dewasa. Pantas saja mereka terkenal dikalangan anak-anak sekolah ini yang melanggar jam malam seperti ini.

"Kau masih saja membawa tas gitarmu kemana saja." Kataku seraya melihat tas gitar yang berada tepat di sampingnya.

"Ya, isinya bukan gitar lagi melainkan SPR-2." balasnya, aku menahan rasa sesalku. Aku tak akan terlihat lemah di depannya. Hal itu tidak adil baginya, aku tak bisa bersikap seolah aku menyesal setelah melakukan hal yang menyakitkan kepadanya.

Tak ada lagi pembicaraan lagi, rasa canggung, bersalah serta malu membuatku tak berani untuk menanyakan bagaimana kabarnya setelah hubungan kami berakhir. Satu hal yang tak berubah darinya adalah tak banyak bicara dan selalu terlihat tenang, dia pandai menyembunyikan perasaan. Aku berusaha untuk tidak melihat kearahnya dan sibuk dengan pedang-pedangku.

Lima menit kemudian kami tiba disebuah gedung besar dan tinggi, namun aku langsung menyadari bahwa gedung ini bukanlah hotel. Tanpa memberitahuku apa-apa Mei keluar dan berjalan masuk kedalam dengan santai menghiraukan anak buahnya yang berbaris rapih menyambutnya, aku mengekori saja.

Kami masuk kedalam sebuah lift, aku melihatnya menekan tombol dengan angka 100 yang berarti kami akan naik ke lantai seratus kemudian dia mengelurkan walkie talkie dan kartu yang aku tidak tahu apa fungsinya. Aku mencoba mengajaknya untuk bicara lagi,

"Me- maksudku Michelle, mari kit-"

Sebelum aku menyelesaikan perkataanku dia memotong dengan cepat.

"Kita bicara setelah pekerjaan selesai, bersikap profesional."

Pekerjaan? Segera setelah aku turun dari pesawat? Aku memang dikirim untuk melakukan misi namun tak kusangka segera aku menginjakkan kaki di London. Garp-sama memberikan misi kepadaku untuk menyelidiki apakah informan kami benar bahwa Germa 66 dan Doflamingo akan bertemu di kota ini. Kota London merupakan wilayah dari Charlotte Linlin atau biasa dikenal dengan Big Mom.

Garp-sama meminta secara khusus kepada Big Mom untuk membantuku dalam misi, untuk mengkonfirmasi dan kalau bisa menghentikan pertemuan dan mengamcam mereka.

"Raven in, Eagle, Pheonix check in." Dia berbicara melalui walkie talkie tak menunggu lama dia langsung mendapat jawaban.

"Eagle in position, tergeting on sniper one."

"Pheonix in position, targeting on sniper two."

"Raven going up, stay in position don't pull the triger yet."

Kami sampai di lantai 100, Mei keluar dan langsung menuju pintu darurat dia menaiki tangga satu lantai dan sampai disebuah pintu yang kutebak menuju atap. Dia menempelkan kartu di sensor kemudian pintunya terbuka. Tanpa menunggu lagi dia keluar menuju atap, mengambil posisi berlutut dan membuka tas gitarnya yang berisi rangkaian senapan SPR-2 yang terkenal akan senapan jarak jauh yang mematikan.

Dia merangkainya dengan lihai hingga terbentuklah senjata mematikan itu, dia memasang scope dan mengaturnya agar target terbidik dengan jelas. Aku menggunakan teropong yang berada di sampingnya. Aku berusaha untuk menyamakan penglihatan teropongku dengan scope senjatanya, akhirnya aku menemukan apa yang kucari.

Judge Vinsmoke dan Doflamingo, si tua Germa itu benar-benar tak bisa menepati janji dan Doflamingo sialan itu sepertinya tidak sabaran sekali untuk menyerahkan putra keempat dari Vinsmoke. Setahuku Germa 66 juga menawarkan kerja sama dengan Big Mom, mungkin karena itulah sang bos besar mafia London membantu kami untuk menghentikan pertemuan antara mereka. Karena akan menyusahkan jika mereka membentuk aliansi.

"Pihak mana yang akan kau beri peringatan?" Pertanyaan pertamanya adalah tentang siapa yang harus dibunuh pertama benar-benar tidak terduga.

"Eagle ask permission to shot"

"Cepatlah, Samurai. Kami tidak punya banyak waktu, bisa-bisa mereka lebih dulu meneken perjanjian."

Garp-sama tidak memberitahu akan berpihak ke siapa namun aku tahu pihak mana yang paling menguntungkan.

"Beri peringatan kepada Doflamingo."

"Eagle, Pheonix shot the sniper now!" Setelah mengatakan itu mereka secara bersamaan menarik pelatuk, dua sniper anak buahnya berhasil melumpuhkan sniper milik Germa 66 dan Doflamingo sementara Mei berhasil menembak tepat di kepala sang pengawal Doflamingo. Menyebabkan kegaduhan terjadi di ruangan hotel itu, aku bisa melihatnya dari teropong, aku menyeringai. Namun hal ini belum selesai, Mei menghubungi seseorang dari ponsel sekali pakainya.

"Tuan Judge Vinsmoke? Anda mendapat salam dari Big Mom dan juga Garp D Monkey, saya harap anda mengerti arti dari salam ini." Dia memutuskan panggilan kemudian melemparkan ponsel itu dari atas sini.

"Kurasa kau perlu memberi tahu, Garp-sama." Belum sempat aku membalas perkataanya, Mei sudah membereskan perlengkapannya dan turun dengan cepat sampai-sampai aku tak bisa menyusulnya. Saat aku akan memasuki elevator yang sama, secara sengaja dia menutupnya. Aku tidak sempat menekan tombol lift.

Sialan! Apakah dia akan lari lagi dariku? Aku sangat ingin berbicara dengannya tentang beberapa hal. Aku, Roronoa Zoro dalam hidupku baru sekali merasakan perasaan seperti ini. Perasasan gelisah yang tak beralasan. Namun aku tidak boleh lengah, aku menghubungi Garp-sama untuk memberitahu situasi saat ini. Setelah itu aku dan anak buahku diantarkan menuju hotel tempat kami tinggal sementara di London, tak ada kabar lagi dari Mei selama seminggu.

TBC


Author Note:

Maaf banget baru update, soalnya gue kena writers block udah itu pas lagi nulis chapter ini eh error malah gak kesimpen jadinya langsung bad mood dan ide berenti. Jadi, disini Mei atau Michelle adalah OC (Original Character) gue. Disini gue bikin dia salah satu dari banyak anak Big Mom. Bisa dibilang OC gue ini adalah Y/N wkwkwk, husbu gue Zoro dan gue jujur gak sudi berbagi Zoro ama karakter One Piece yang lain /plak

Anyway, gue berharap bisa upload chapter ke-10 dalam minggu ini. See u guys next week... or not...

Best Regards,

Chezzell

Monday, 15 Febuary 2021.