Orange
Disclaimer : Karakter milik Eiichiro Oda
Flashback mode (Sebelum Zoro ke London)
Luffy masuk kedalam kamar tergesa-gesa terkesan sangat tidak sabaran namun setelah dia di dalam dirinya menjadi sedikit lebih tenang karena melihat sang wanita bersurai oranye terlelap dalam balutan selimut futon, kedua pelayan yang ia tugaskan untuk membantu Nami berdiri di sudut ruangan dengan wajah tertunduk takut akan amarah sang tuan.
Namun, tak ada bentakan ataupun suara meninggi. Sang tuan hanya meminta mereka untuk keluar dari kamar, benar-benar tak ada rasa marah atau kesal di nada perintahnya tetapi sedikit terkesan sedih.
"Tinggalkan kami."
Kedua pelayan itupun keluar dari dalam kamar dan tidak lupa untuk menutup pintunya. Nami menahan napasnya saat Luffy mulai mendekatinya, dia takut Luffy marah kepadanya. Namun bukan ocehan ataupun bentakan yang diterima sang pria bersurai hitam legam ini duduk disebelahnya, mengangkatnya dengan lembut dan perlahan. Menyandarkan kepala sang gadis di pundak lebarnya.
Nami sedikit terkejut saat Luffy mengangkatnya, kemudian mendudukannya di paha dan tangan kirinya membawa kepala Nami bersandar di pundak. Nami merasa lebih nyaman ketika usapan lembut terasa di punggungnya.
Nami POV
Jantungku terasa berdetak dengan kencang saat mendengar langkah kaki yang tergesa-gesa dan semakin mendekat, aku tahu bahwa itu adalah suara langkah kaki Luffy. Aku takut dan adrenalinku semakin bertambah saat langkah kakinya terdengar sudah di depan pintu.
Ia berdiri sebentar di depan pintu sebelum akhirnya membuka dan masuk kedalam kamarku. Maeko dan Ayame berdiri di ujung ruangan sambil menundukan kepala mereka dalam-dalam, aku takut Luffy akan marah padaku namun aku lebih takut dia akan marah kepada mereka berdua. Mereka tidak salah apa-apa, sakit kepalaku ini dikarenakan oleh rasa penasaranku sendiri.
"Tinggalkan kami." Suaranya terdengar datar dan parau sepertinya ia tidak minum air lagi hari ini. Luffy memiliki kebiasaan terlalu fokus bekerja hingga tidak sempat makan dan minum. Maeko dan Ayame keluar dari ruangan dan menutup pintu, untung saja Luffy tidak marah kepada mereka namun aku harus mencegahnya untuk memecat kedua pelayan yang sudah sangat baik kepadaku.
Aku menahan napasku saat Luffy mendekat, aku bersiap-siap untuk menerima amukannya namun lima menit berlalu Luffy tak melakukan apapun. Dia hanya duduk diam dan menatapku. Aku menunduk takut saat mata kami tak sengaja bertemu.
Dia mengangkatku, tepatnya menarik pinggangku dengan satu tangannya dan mendudukanku di pahanya. Sementara tangan satunya membawa kepalaku untuk bersandar di pundaknya. Usapan yang kurasakan di pundak membuatku merasa rileks, akupun mengaitkan tanganku di leher Luffy.
Kami berdiam cukup lama menikmati kehangatan yang kami dapatkan, aku bisa merasakan hawa Luffy sudah cukup tenang lalu akupun bersuara.
"Luffy..." Panggilku, tanpa menghentikan usapannya di punggungku dia menjawab.
"Hmm?"
"Kepalaku tiba-tiba sakit itu bukan sa-"
"Aku tahu, aku tidak akan menyalahkan Maeko-san dan Ayame-san. Ini juga bukan salahmu, Nami." Dia memotong perkataanku namun aku tidak kesal, aku malah senang dia sangat mengerti diriku. Aku akan kesal jika dia marah kepada mereka berdua dan bukan kepadaku.
Kami kembali terdiam. Kali ini aku memikirkan apakah aku harus memberi tahunya tentang seorang pria yang ada dalam ingatanku atau tidak. Hatiku sedikit sakit saat mengingat rupa dari pria bersurai pirang itu.
Perasaan yang familiar kurasakan saat mengingatnya, sama seperti perasaan yang kurasakan pada saat bersama Luffy namun tiba-tiba perasaan yang aneh dan tidak mengenakan aku tidak tahu apa artinya ini. Untuk sekarang sepertinya aku tidak usah memberitahu Luffy, nanti saat kondisinya lebih baik dari sekarang aku akan menjelaskannya.
Sepertinya aku harus bertanya kepada Robin dan Vivi, entah kenapa firasatku mengatakan bahwa mereka tahu siapa pria bersurai pirang yang ada dalam ingatanku itu.
"Aku merasa sangat lega melihatmu baik-baik saja, sebelumnya aku sangat panik ketika tak melihatmu menyambutku di halaman depan." Dia mengencangkan pelukannya di pinggangku dan meletakan kepalanya di dadaku. Aku merasakan seperti ada kupu-kupu di perutku dan panas di wajahku.
Aku juga sangat senang melihat kau sangat meng-khawatirkanku, Luffy. Aku mengusap dengan lembut puncak kepalanya, berharap dia tahu bahwa aku tidak apa-apa dan juga aku merasa lega dia tidak menyalahkan siapapun karena kondisiku sekarang dan terutama aku harap dia tidak menyalahkan dirinya sendiri.
"Luffy, maafkan aku."
"Ssstt.. ini bukan salahmu, jangan bersedih." Aku merasa lega dan bersalah secara bersamaan, aku menutupi fakta bahwa aku dapat mengingat kejadian di masa lalu. Aku tak ingin Luffy khawatir. Tanpa terasa aku meneteskan air mata dan mengenai puncak kepalanya. Luffy langsung duduk tegak, mengangkat kepalanya dari dadaku dan menatapku. Dia mengusap air mata di pipiku dengan kedua tangan besarnya, rasanya hangat dan nyaman.
Aku tak ingin dia melepaskannya dari wajahku, kutahan dengan kedua tangan agar dia tidak menariknya. Aku ingin perasaan ini tertanam di dalam hatiku agar kelak aku tidak akan melupakan apapun, aku ingin mengingat ini selama aku hidup, perasaan ini aku tidak ingin melupakannya.
Luffy mencium puncak kepalaku dengan lembut, kemudian keningku dan terakhir hidungku. Cukup lama ia melakukannya secara berurutan dan setiap dia melakukan itu maka semakin lembut dan semakin penuh dengan perasaan cinta di setiap kecupannya. Aku memejamkan mata menikmati kasih sayang yang ia berikan sampai akhirnya aku tenggelam dalam kegelapan, tertidur dalam dekapannya.
Nami POV End
Luffy POV
Dalam hidupku yang sudah hampir 30 tahun baru kali ini kurasakan rasa ketakutan yang amat sangat, aku tak takut ketika terkepung oleh musuh bersenjata lengkap, aku tak takut ketika interpol, FBI, CIA ataupun lembaga pemerintah manapun mengejar dan menjadikanku buronan. Namun perasaan ketakutan ini sangat besar, Nami sudah menjadi pengaruh besar di dalam hidupku kehilangannya sama saja kehilangan alasanku untuk hidup.
Pembicaraan dengan kakekku tadi tidak terlalu kuperhatikan, dari inti ceritanya dia menginginkan aku untuk segera mengambil alih klan Monkey. Aku tidak sempat memikirkan hal lain selain melihat kondisi Nami sehingga aku meng-iyakan saja. Nami tertidur dalam dekapanku, matahari sudah tak terlihat lagi di langit cukup lama digantikan oleh sinar bulan purnama yang cukup terang.
Aku ingin terus dalam posisi seperti ini namun sayang tubuhku sudah merasa mati rasa dan tidak bisa diajak kompromi maka aku menidurkan Nami di futon dan menarik selimutnya sampai dengan atas dadanya. Aku memandangi wajah tenangnya, wajah sehabis menangisnya terlihat sangat cantik namun aku lebih suka saat dia tertawa. Karena ketika dia tertawa duniaku mendadak menjadi lebih terang dan berwarna seolah aku ingin hidup sehari lagi bersamanya.
Perasaan tenangku mendadak menjadi mendidih mengingat kejadian siang tadi, Donquixote Doflamingo benar-benar membuatku kesal. Berani sekali dia mengganggu urusan kami, akan kubuat dia merasakan akibatnya karena telah berani mengganggu keluarga D.
Sanji Vinsmoke, pria itu terpaksa harus dibawa ke Germa secara paksa dan harus menjauh dari Nami. Aku tahu hal ini terlihat egois namun aku benar-benar tidak menginginkan Nami teringat kepada pria pirang itu atau skenario terburuknya adalah dia kembali ke pelukan pria brengsek itu. Jika bisa ingin rasanya aku hilangkan dia dari dunia ini namun hal itu hanya akan memperburuk keadaan.
Meski aku rela melakukan apapun demi Nami aku tidak ingin menyeret orang-orangku ke masalah ini. Aku harus menyelesaikannya sendiri. Memastikan Nami tidur dengan nyaman, aku mengecup keningnya sekilas kemudian keluar dari kamarnya. Untuk pertama kalinya Nami tertidur di kamarnya tetapi aku pasti akan tidur di sampingnya. Aku tak ingin ketika ia terbangun dan aku tidak disana untuknya.
Aku memasuki ruang kerjaku, di dalam sana sudah menunggu para orang kepercayaanku. Aku duduk di bantalan tengah, setelah itu mereka juga baru duduk saling berhadapan.
"Selamat malam, Goshujin-sama." sambut mereka sembari membungkukan badan dengan posisi duduk. Aku hanya mengangguk menanggapi mereka dan berkata
"Angkat kepala kalian." secara bersamaan mereka duduk dengan tegak menatap lurus kedepan menungguku untuk berbicara.
"Usop, apakah kau sudah menyelesaikan tugas dariku?" Tanyaku sambil menatap pria dengan rambut keriting yang memakai kupluk beserta kaca mata ski yang terpajang di kepalanya.
Usop membungkuk sebentar dan menjawab pertanyaan dariku.
"Jalur perdagangan senjata ke Rusia sudah saya amankan sesuai perintah, Goshujin-sama."
Usop memang tak pernah mengecewakanku, setiap tugas yang kuberikan kepadanya selalu dapat ia selesaikan memang butuh proses untuk mendapatkan yang diinginkan dan ia ahlinya dalam merencanakan sesuatu.
Dia termasuk salah satu orang terpercaya dan juga sahabatku selain Zoro, aku dipertemukan dengannya setelah Zoro.
"Kurasa kau sudah mendengar situasi terkini dari Zoro, bukan begitu?."
Usop hanya mengangguk mantap.
"Apakah ada cara selain kekerasan untuk membawa putra dari Judge Vinsmoke itu?"
Ia tampak berpikir dengan keras, memikirkan cara terbaik untuk keluar dari masalah yang serba salah ini.
"Ada. Namun anda tidak akan menyukai rencana saya." Jawabnya sambil menatapku serius dan aku tahu saat dia melihatku seperti itu maka aku memang benar-benar tidak akan menyukai rencana itu.
"Cari cara lain kalau begitu."
"Kalau begitu, kita culik Sanji Vinsmoke," terdapat jeda sedikit sebelum ia meneruskan
"...namun sebelum itu kita harus menyingkirkan rintangan."
"Jika maksudmu Don-"
"Bukan hanya mereka yang perlu kita waspadai, Luffy-sama." potong Usop. Aku menaikan alisku, heran dan penasaran.
"Big Mom, Buggy dan Crocodile."
Big Mom dan Buggy memang sering mencari-cari keributan dengan kami tapi Crocodile? Ada apa dengannya?
"Goshujin-sama, ada hal yang ingin saya beritahukan." Zoro berbicara, aku beralih menatapnya. Lalu melambaikan tangan mempersilahkan dia berbicara.
"Garp-sama telah menghubungi Big Mom, beliau mengatakan bahwa keluarga Big Mom akan keluar dari masalah ini bahkan membantu kita."
Aku mencium sesuatu yang mencurigakan ketika Big Mom ingin merencanakan sesuatu seperti ini, seolah mereka menginginkan imbalan.
"Mereka menginginkan imbalan seperti apa?"
"Mereka ingin membuat perjanjian dengan Germa bukan dengan pihak kita."
Gerakan cerdas, mereka membantu kami dan ketika semua usai mereka akan berbalik menyerang.
"Ini hal yang bagus, Luffy-sama." Usop memberikan pendapatnya.
"Dimanakah hal bagusnya, Usop?"
"Kita bisa membuat aliansi baru, Germa akan berhutang kepada kita ketika mereka membuat perjanjian dengan Big Mom kita juga akan membuat perjanjian dengan Germa sehingga nantinya Germa dan Big Mom tidak bisa melakukan hal yang membahayakan kita." Dia menarik napas panjang kemudian kembali menjelaskan
"Untuk Buggy dia masih memiliki hutang kepada kita pada saat kita menyelamatkannya dari sergapan Doflamingo, Crocodile bisa diancam dengan hal yang Jinbei dapatkan. Kita bisa membuat aliansi dengan empat orang sekaligus."
Seperti yang kuharapkan dari Usop, dia selalu bisa menemukan jalan terbaik.
"Baiklah, untuk Big Mom akan kuserahkan kepada Zoro, aku dan Usop akan mengurus Buggy dan Jinbei mengurus Crocodile."
"Ha'i!" Jawab mereka bersamaan.
"Baiklah, sudah larut silahkan kalian kembali ke tugas masing-masing. Esok saat dini hari Usop kau yang akan memberikan arahan kepada mereka."
Aku beranjak dari dudukku, mereka semua langsung berdiri tegak dan berbungkuk 90 derajat saat aku berjalan keluar ruangan.
Mari kita bertarung mati-matian, Doflamingo. Kita lihat siapa yang akan tertawa di akhir, meski aku harus mati kau juga harus hilang dari dunia ini. Emosiku meluap-luap selama perjalanan menuju kamar Nami.
Namun saat memasuki kamar dan melihat wajah damainya emosiku langsung tenang, aku berganti pakaian terlebih dahulu baru setelah itu tidur di sebelahnya. Aku meletakan kepalanya di lenganku, kami saling berhadapan. Aku memandangi wajah cantiknya dan tersenyum, kurasa aku sudah gila, ya Nami benar, aku gila karenamu.
Aku tidak bisa kehilanganmu, Nami. Aku tidak peduli jika aku mati jika bisa melihat senyummu sekali lagi. Aku tak ingin memejamkan mata namun memelukmu seperti ini sangat nyaman bagiku, mataku mulai berat dan akhirnya terlelap.
Luffy POV End
Author Note :
Karena masih ada yang nungguin, gak enak kalau kelamaan up nya dan mumpung lagi gak kena Writer's Block. Makasih banget yang udah nungguin gue up, pembaca setia. Btw, gue mau buat server discord untuk kalian pembaca ff. Servernya masih dalam proses, nanti setelah selesai gue bakalan share. Harapannya gue buat discord itu sih karena gue sering kena Writer's Block kita bisa saling bertukar inspirasi dan sharing-sharing tentang fanfiction. Oke, gitu aja sih. Sampe ketemu minggu depat guys.. or not..Best Regard With Love,Chezzell,Saturday, 20 Febuary 2021.
