Orange

Disclaimer : Semua Karakter milik Oda Eiichiro


Sudah hampir sebulan setelah pertemuannya dengan Ace, Sanji mulai merasakan hal yang aneh. Dia jadi lebih sering melihat Doflamingo dan anak buahnya, dia merasa seperti diawasi. Peringatan yang diberikan oleh pewaris kerajaan mafia terlintas di kepalanya.

'Jangan bersembunyi dibalik Donquixote Doflamingo, dia adalah kandidat yang paling mungkin menyerahkanmu ke keluarga Vinsmoke.'

Rasa curiga mulai tersebar di dalam dirinya, ditambah dengan frekuensi betapa seringnya ia bertemu dengan kakak sang pacar. Sanji sudah memikirkan kemungkinan bahwa Donquixote mengetahui identitas aslinya dan berharap jika Violet tidak tahu dan tidak terlibat di dalamnya. Namun ekspetasi tetaplah ekspetasi, tidak selalu sesuai dengan kenyataan di depan mata.


Sanji POV

"Sanji, bagaimana kalau besok kita berlibur ke Inggris?" Violet mengajukan pertanyaan tetapi terdengar seperti permintaan di telingaku, dia menyandarkan tubuhnya di dadaku. Aku bisa merasakan belaiannya di perut tengahku, berputar merasakan otot perutku dengan seksama.

Sudah seperti rutinitas di pagi hari, aku menghentikan tangannya dan kemudian mengkesampingkan dirinya dari atasku. Aku duduk di pinggir ranjang, berbalik badan tak menghadap kearahnya.

Aku tak bisa melihat ke wajahnya langsung, tidak setelah pemikiran negatifku terhadap dirinya dan kakak lelakinya. Aku tak bisa menghilangkan prasangka burukku.

"Aku tak bisa, pekerjaanku banyak." Aku menolak ajakannya untuk berlibur, aku tak sepenuhnya berbohong tentang pekerjaanku namun tak sepenuhnya benar. Meski aku sibuk tapi sebenarnya bisa mengajukan cuti.

Tak ingin mendengar keluhannya aku langsung pergi ke kamar mandi, menghidupkan shower dan membiarkan diriku terkena pancuran air dari atas. Sensasi air yang dingin mengguyur dari atas kepala hingga ujung kakiku sedikit merilekskan pikiran yang saling berkecamuk di dalam kepalaku.

Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tak mau kembali kepada keluarga sialan itu, setelah mereka menyiksaku, mengabaikan dan menganggapku seperti sampah setiap harinya kini mereka menginginkanku kembali? Jangan membuatku tertawa, Judge Vinsmoke sialan itu seolah memiliki diriku hanya karena darahnya mengalir di tubuhku.

Apa aku harus kabur ke negara lain dan bersembunyi sampai mereka menyerah mencariku? Dengan Violet? Aku ragu dia ingin melarikan diri bersamaku dan hidup sederhana dan sembunyi-sembunyi. Violet biasa hidup mewah dan di manjakan, dia ingin dikenal dan dilimpahi kekayaan, jikalau Violet setuju pergi bersamaku aku tidak yakin Donquixote Doflamingo tidak mengutus anak buahnya untuk mencari adik kesayangannya ke seluruh pelosok dunia.

Germa 88, Donquixote Doflamingo dan keluarga mafia D belum lagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Entah kenapa semenjak aku bersama Violet selalu saja terjadi sesuatu yang menganggu pikiranku.

Disaat seperti ini biasanya aku bisa menenangkan diri dengan aroma jeruk dari wanita bersurai oranye itu, wanita yang sangat kurindukan sekarang. Aku membuat keputusan yang salah, seharusnya aku tak mengakhiri hubungan kami, seharusnya aku menyembunyikan hubunganku dan Violet sehingga dia tak pergi dariku.

Aku tahu ini egois, namun aku tak bisa jika berjauhan dengan Nami. Wanita dengan senyum hangat dan berhati lembut, wanita yang selalu memaafkan segala kesalahan yang telah kuperbuat.

Benar, Nami adalah wanita berhati baik dia pasti akan memaafkanku jika aku memohon kepadanya kan? Aku harus menemuinya. Frank bilang Nami ada di Jepang, aku akan segera menuju kesana, menemuinya dan akan mendapatkannya kembali.


Luffy POV

Hari ini aku akan pergi untuk menemui Buggy bersama dengan Usopp. Hatiku terasa berat untuk meninggalkan Nami, banyak hal yang harus kusiapkan sebelum pergi. Aku memperkuat penjagaan untuk Nami, serta menyewa mercenary untuk mengawasi dan menghabisi orang-orang yang berani mengawasi ataupun mencari tahu tentang wanitaku itu.

Setelah seminggu semenjak kejadian Nami pingsan aku meminta dokter wanita dari rumah sakit D untuk menetap di kediaman kami takut-takut sakit dikepalanya kembali kambuh ketika aku tidak ada di sisinya.

Sore ini aku menunggu seseorang yang berarti untuk Nami untuk datang kemari dan berharap dapat menemani Nami agar tidak kesepian. Aku duduk di gazebo halaman depan dibawah pohon sakura yang mulai memunculkan bunganya karena memasuki musim semi, sementara Nami membuatkanku camilan di dapur.

Aku sudah berusaha melarangnya namun karena aku tak bisa menuruti permintaannya untuk menghabiskan waktu ketika malam natal dia merajuk dan meminta hal lain kepadaku. Dia memintaku untuk tak melarangnya berbuat apapun di rumah. Aku menyutujuinya karena di rumah aman untuk pergi kemanapun sehingga dia lebih sering menghabiskan waktunnya untuk belajar memasak dan membuatkanku makananan.

Dia juga memintaku untuk tak berlama-lama pergi bekerja, bagaimana aku bisa menolak permintaannya disaat wajah manisnya hanya ditujukan untukku belum lagi matanya yang sangat bersinar. Aku tak bisa menolaknya dan tak akan bisa, jika ia memintaku untuk terjun ke dasar tebing aku akan melakukannya untuk Nami. Aku akan melakukan apapun untuk membuatnya senang.

"Luffy-san?" suara seorang wanita menyadarkanku dari lamunanku tentang Nami, suara itu bukanlah suara dari wanitaku.

"Carina-san…" Aku berdiri dari dudukku

"Silahkan.." aku mempersilahkannya untuk duduk di kursi depanku. Dia mengangguk kemudian duduk setelah menaruh kopernya di pinggir.

"Anda tidak perlu memanggilku dengan 'san' cukup Luffy saja." Aku memulai pembicaraan. Carina adalah sosok yang dianggap seperti kakak oleh Nami, setelah menjalankan pemeriksaan latar belakang memang benar saat di panti asuhan Carina yang mengurusi Nami seperti adik sendiri namun sayang sekali mereka harus berpisah ketika Nami diangkat oleh keluarga dari Amerika.

"Saya tidak bisa begitu, apalagi dengan tuan muda keluarga klan Monkey." Carina masih berbicara formal kepadaku, hahh kurasa memang susah dengan posisiku ini,

"Baiklah, aku tak akan memaksa."

Kemudian hening, sepertinya kami saling diam karena memikirkan bagaimana cara yang baik untuk memulai pembicaraan. Ini seperti aku takut kalau berkata sesuatu yang menyinggungnya sehingga membuat Nami kesal denganku dan dia juga sepertinya takut berkata sesuatu yang membuatku tersinggung dan marah kepadanya atau Nami.

"Seperti yang kubicarakan dengan anda sebelumnya di telepon, aku ingin anda menemani Nami selagi aku tidak ada disini. Aku tak ingin Nami kesepian dan aku juga ingin dia semakin dekat dengan anda, karena jika dia banyak berinteraksi dengan orang yang ia kenal di masa lalu ingatannya akan kembali." Aku menjalaskan secara rinci tentang alasanku mengundangnya tinggal disini untuk beberapa hari.

"Apa anda tidak keberatan tentang itu?"

Aku tahu apa yang dimaksudnya. Dia bertanya apakah aku tidak keberatan jika Nami mendapatkan ingatannya kembali, sejujurnya aku juga tidak tahu. Apakah aku akan siap ketika Nami mengingat segalanya? Aku terlalu menikmati hari-hariku bersamanya sehingga tak pernah memikirkan secara serius tentang hal ini.

Aku tak bisa menjawabnya, tetapi jika aku harus menjawabnya sekarang juga aku pasti akan berkata tidak, aku tidak siap.

"Carina?!" pekikkan bahagia dari Nami membuat kami menghilangkan atmosfer yang berat setelah pertanyaan dari Carina. Aku melihatnya bersama dengan dua pelayan kepercayaanku Ayame dan Maeko. Nami membawa nampan yang terdapat kue stroberi yang masih berbentuk bulat diatas piring besar dan juga pisau pemotong kue. Ayame membawa satu set teh dan Maeko membawa piring kecil.

Nami memposisikan dirinya duduk disampingku setelah menaruh nampannya di tengah meja, Maeko dan Ayame juga meletakan nampan mereka di meja.

"Luffy, kau tidak bilang kalau Carina akan kemari jadi aku hanya membawa dua gelas dan dua piring." Dia memukul pelan lenganku, aku yang dipukul malah merasa senang. Segala bentuk skin ship yang dia berikan aku akan terima dengan senang hati.

"Saya akan membawakan gelas dan piring, Nona Nami." Ayame dengan sigap menanggapi Nami, inilah kenapa aku menganggap Ayame dan Maeko terpercaya mereka benar-benar paham dan sangat menyayangi Nami.

"Terimakasih, Ayame-san." Dia tersenyum senang, kurasa aku jatuh cinta lagi setiap melihat senyumnya yang menghangatkan. Ayame mengangguk kemudian pergi ke dapur untuk mengambil gelas dan piring.

Nami beralih menatap Carina dengan gembira sehingga dia menarik tangan kanan Carina dan menggenggamnya dengan kedua tangan. Nami memang belum sepenuhnya mengingat masa lalunya dengan Carina tetapi dia sangat senang ketika kami membahas Carina atau ketika dia menemuinya.

"Carina-nee!" panggilnya dengan nada suara yang aku bisa merasakan kegembiraannya sehingga aku harus menahan senyumku.

"Iya, ada apa Imouto-ku tersayang?" Carina menanggapi dengan penuh kasih sayang, aku bisa melihatnya dari matanya yang melembut dan penuh ketulusan.

"Hehe.." Nami bertingkah seperti anak kecil dan lagi ya aku menyukai sisi ini darinya. Rasanya setiap hari ada sisi baru yang dia tunjukan dan aku menyukai semuanya bahkan ketika dia menuntut lebih kepadaku. Dia menuntut perhatian lebih dariku dan aku menyukainya.

Dia melihat kearahku dengan tatapan memohon dan berkata, "Boleh aku duduk disamping Carina-nee?"

"Tentu saja." Jawabku cepat, aku tak kuasa melihat tatapannya jika aku tidak segera menyetujuinya aku takut menyerangnya dengan ciuman saat itu juga. Dia langsung tersenyum sumringah dan beralih tempat duduk kemudian memeluk Carina dari samping dan meletakan kepalanya di dada Carina.

"Kau tidak berubah, Nami." Carina tersenyum, dia membelai puncak kepala Nami dengan penuh kasih sayang seperti seorang Ibu yang sedang memanjakan anak perempuannya.

Kami menghabiskan waktu bersama dengan membicarakan masa kecil Nami di panti asuhan, kemudian meminum teh dan memakan kue buatan Nami. Tak terasa kami sudah menghabiskan waktu selama dua jam dan waktu sudah menunjukan pukul 17.15.

Usopp mendekat dengan beberapa anak buahnya di belakang.

"Luffy-sama, sudah waktunya." Aku mengangguk kemudian berdiri dari dudukku.

"Nami, aku akan kembali tiga hari lagi saat aku tidak disini jangan kemana-mana tanpa pengawal dan tunggu aku seperti anak baik, hm?" Nami tak menjawab, dia berdiri dan langsung memelukku dengan erat seolah tak mau melepaskanku.

Aku tak berdaya sehingga membalas pelukannya dan menciumi keningnya beberapa kali berusaha untuk membuatnya merelakanku untuk pergi sebentar.

"Tiga hari itu waktu yang sebentar, Nami. Kau tak akan sadar ketika aku kembali karena Carina-san akan menemanimu disini."

Bohong, tiga hari adalah waktu yang lama kurasa akan kuperpendek jangka waktu negosiasi dengan Buggy. Aku tidak tahan sehari saja tanpa aroma tubuh Nami, namun demi keselamatan Nami aku harus bisa memaksa diriku untuk menjauh selama tiga hari saja.

"Jangan melakukan aktifitas berbahaya dan jangan terluka." Pesannya seraya melepaskan pelukan eratnya dengan enggan. Dia menunduk tak mau menatapku, aku tahu dia merasa kecewa tetapi aku harus melakukan ini demi kami berdua, demi masa depan kami.

Aku menarik dagunya keatas agar dia dapat mendongak melihatku, matanya berkaca-kaca. Aku membelai bibir bawahnya lembut kemudian memberikan kecupan singkat. Sepertinya hal tersebut tidak cukup baginya sehingga Nami melingkarkan tangan di leherku dan menciumku cukup dalam.

Semua orang termasuk Carina membuang muka menjaga privasi kami, tak kusangka Nami akan seberani ini ketika ada sosok kakaknya disini namun seperti biasa aku juga menyukai sisinya yang binal ini.

Setelah berciuman cukup lama akhirnya dia dapat melepasku. Matanya sudah tidak berkaca-kaca lagi sebagai ganti dia tersenyum lebar yang malah membuatku enggan untuk pergi, Nami kau adalah kelemahan terbesarku, kau tahu itu 'kan?

Aku mencium keningnya, kemudian kedua matanya dan terakhir hidung mancungnya. Menyingkirkan anak rambutnya yang menutupi wajah kebelakang telinganya aku membisikan sesuatu yang membuatnnya seperti kepiting rebus dan pergi menuju bandara untuk melakukan perjalanan bisnis.

"Kau tersenyum sangat lebar, Luffy." Celetuk Usopp di perjalanan kami menuju bandara yang membuatku semakin senang.

"Aku tidak sabar menunggu tiga hari lagi."




Nami POV

Puff! Aku bisa merasakan panas menjalar dari leher sampai wajahku, kurasa aku merona hebat saat ini setelah bisikan Luffy. Ah, bagaimana ini? Aku tidak tahu harus berbuat apa, aku merasa salah tingkah dan linglung.

"Nami, kau tidak apa-apa?" Carina-nee menarik tangan kiriku untuk membuatku terduduk di sampingnya kamudian dia menaruh telapak tanganya di dahiku merasakan temperatur tubuhku.

"Hei, kau terasa panas, apa kau terkena demam?"

Aku hanya menjawab dengan gelengan kemudian menggenggam tangan Carina-nee yang tadi di dahiku, aku kemudian menatapnya dengan malu-malu. Apakah aku harus bertanya hal ini kepada Carina-nee? Aku harus siap-siap 'kan? Lagi pula ini adalah pertama kalinya kami akan melakukan hal itu.

"Nami, kau baik-baik saja?!" Carina-nee terlihat panik, aku harus melakukan sesuatu agar dia tidak khawatir. Aku tersenyum malu-malu.

"Onee-chan, apa yang harus kulakukan?"

"Apa maksudmu?" tanyanya kebingungan. Aku mendekat kepadanya dan berbisik tepat di telinga kanannya.

"Luffy bilang sepulangnya ia dari perjalanan bisnis kami akan melakukan sex untuk pertama kalinya."

Setelah berbisik seperti itu aku menjauh dan melihat wajahnya yang memerah yang membuatku merasa lebih malu dan menutup wajahku dengan kedua tangan. Namun tak lama aku bisa merasakan tangan Carina-nee menarik tanganku yang menutupi wajah maluku dan berkata.

"Tenang saja, serahkan hal ini pada Nee-chanmu. Aku akan memberikan saran!" dia terlihat bersemangat dan bertekad. Aku sudah tak merasa malu lagi kemudian mengangguk dengan mantap. "Baik, terimakasih Carina-nee!"


Author's Note:

Disini gue mau berterimakasih kepada satu orang yang sampai sekarang menunggu gue update cerita ini. Terimakasih kepada Rere, karena review yang lu tinggalkan di setiap chapternya gue merasa lebih termotivasi dan semangat untuk lanjut. Meski chapter ini gak panjang besok-besok gue usahakan sering-sering update. 

Thanks, all. Please leave review and likes, see you next chapter. 

Best Regards,

Chezzell, 

Monday, 30 August 2021.