24/Agustus/2020


Hero Without Weapon—

By: Abidin Ren

Summary: Naruto yang merupakan seorang murid SMA biasa, harus terpanggil ke dunia lain setelah dirinya menemukan sebuah buku tua. Bukannya disambut dengan baik, dia malah dianggap penyusup dan dijebloskan ke dalam penjara, pada hari pertama dirinya tiba di dunia tersebut. Kehidupan beratnya pun dimulai saat itu juga.

Disclaimer: [Naruto] © Masashi Kishimoto | [Tate no Yuusha no Nariagari] © Aneko Yusagi | Dan Semua Karakter Milik Pengarangnya Masing-masing.

Saya tidak mengakui kepemilikan atas semua karakter yang muncul dalam cerita ini. Saya hanya meminjamnya, tanpa ada niat sedikitpun untuk merugikan pihak manapun.

This Story Created by Me

Genre: Isekai — Adventure — Fantasy — Romance(?).

Pair: [Naruto & ?]

Rated: T+

Warning: Alternate Universe! (AU!), Magic Game World System! Martial Arts(?), OOC(s)(?), Semi-Canon & Out of Canon, And Many More. [Mengambil Sedikit Elemen Kekuatan dari Fate Series].

.

Naruto's PoV

.

Happy Reading, Minna-san~

Enjoy It~

Please Like, Favorite, and Review!

.


[Arc I]: Pemanggilan Pahlawan Suci


[Chapter 2]: Takdir yang Aku Miliki di Dunia Ini


Opening: MADKID — Rise (Opening dari Anime Tate no Yuusha no Nariagari Season 1 Bagian Pertama)


Aku menatap Sang Raja yang ada di depanku dengan ekspresi kurang meyakinkan.

Tunggu sebentar, sepertinya aku salah dengar. "Maaf, Yang Mulia, bisa Anda ulangi lagi?"

Raja mengembuskan napasnya pelan, lalu merilekskan duduknya. Kedua matanya menutup. "Kau akan ditahan dengan dasar tuduhan, karena menyusup ke kerajaan dan menyamar menjadi salah satu Pahlawan Suci."

Jadi, aku tidak salah dengar tadi? Tapi, ini tidak masuk akal! Aku juga salah satu pahlawan yang terpanggil, bukan? Kenapa aku malah akan berakhir di penjara? "Tapi, Yang Mulia! Saya memang salah satu Pahlawan Suci yang terpanggil ke dunia ini! Dan bersama Empat Pahlawan Suci lainnya, kami berlima seharusnya ditakdirkan untuk melawan Gelombang Kehancuran, 'kan?"

Ya, itulah yang aku yakini, atau setidaknya untuk sekarang. Aku sendiri juga belum yakin, apakah aku ini juga termasuk ke dalam Pahlawan Suci yang terpanggil untuk melawan Gelombang Kehancuran atau bukan. Aku bahkan tak tahu Senjata Legendaris apa yang aku punya untuk memenuhi syarat seperti yang dikatakan raja. Armor di dadaku ini? Entahlah, karena belum ada bukti pasti bahwa armor ini juga masuk ke dalam Senjata Legendaris di dunia ini.

"Kalau memang benar, buktikan … Senjata Legendaris apa yang kau punya!"

Aku terdiam saat mendengar balasan dari raja. Itulah masalahku saat ini. Sial!

Melihatku yang hanya diam, Sang Raja membuka matanya. Tatapannya … sedikit berbeda dari sebelumnya. Dia menatapku seolah-olah aku adalah seorang kriminal, penjahat yang pantas mendapat hukuman.

Tunggu dulu, apa-apaan dia itu?!

"Hm, kenapa hanya diam?"

Aku tidak tahu harus berkata seperti apa untuk membalasnya.

"Kalau begitu, perkataanku tadi memang benar, bahwa kau adalah penyusup!"

Raja ini menentukan seenaknya saja! Dia memutuskan sesuatu tanpa memikirkan semua hal dari perkataanku tadi!

Aku menatap sekeliling saat mendengar segala bisikan dari orang-orang yang ada di dalam sini. Tatapan mereka semua … sama. Ya, sama seperti Si Raja itu. Mereka memandangku dengan pancaran mata merendahkan, jijik, marah, mencemooh, dan segala lainnya. Semua itulah yang dapat aku tangkap dari mata mereka yang melihatku di sini.

"Heh~ kau ingin terkenal dengan cara menyamar menjadi pahlawan? Lucu sekali."

Aku menatap Pahlawan Tombak yang berbicara tadi. Kalau aku tidak salah ingat saat kami tadi sedikit berbicara …, namanya adalah Kitamura Motoyasu. "Apa maksudmu berbicara seperti itu, hah?!"

"Oh? Kau tidak terima?" Senyum meremehkan dia berikan kepadaku. Cih, mentang-mentang dia membawa julukan Pahlawan Tombak, dia pikir, dia bisa mengatakan hal tadi dengan seenaknya, ya?

"Tentu saja aku tidak terima!" Aku juga punya harga diri, kau tahu?!

"Terus, apa yang ingin kau lakukan?"

Aku mengalihkan pandanganku kepada pemilik suara baru tadi. Namanya Kawasumi Itsuki, Sang Pahlawan Busur. Apa dia juga ingin menghinaku?

"Kau bukanlah siapa-siapa di sini."

"Itu benar. Apa kau ingat perkataan dari Raja? Di sini hanya ada Empat Pahlawan Suci, yaitu kami, yang ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia ini. Tak ada yang namanya pahlawan kelima di sejarah dunia ini, ingat?"

Barisan kalimat tadi berasal dari Si Pahlawan Pedang, Amaki Ren. Hanya dengan mendengar suaranya yang begitu dingin, dapat kusimpulkan kalau dia itu tipe orang yang selalu sombong. Ya, aku yakin akan hal itu. Hm, kalau dilihat-lihat, dia sepertinya memang yang paling muda di antara kami berlima.

Aku sedikit melirik pada Iwatani Naofumi, Pahlawan Perisai. Sedari tadi, hanya dia saja yang diam. Tidak seperti tiga pahlawan lain yang sedang memojokkanku, dia hanya mengamati saja, seperti tak ingin ikut terlibat masalah ini. Aku belum bisa mengira seperti apa sifatnya saat ini, tetapi aku juga harus waspada terhadapnya. Kita tidak tahu seperti apa sifat asli setiap orang, bukan?

Mataku menatap tajam mereka semua. "Jadi …, hanya karena aku sendirian di sini, kalian berniat mengeroyokku?"

"Mengeroyok? Hahaha ...! Cukup aku saja juga bisa menyingkirkanmu!" Si Tombak Sialan itu benar-benar tahu bagaimana cara membuatku kesal ternyata! Kalau begitu, mungkin aku bisa memberinya sedikit pelajaran.

"Kau—!"

"Cukup!"

Aku segera menghentikan langkahku. Dapat kulihat raja memijit pelipisnya. Entahlah, mungkin dia hanya merasa pusing ketika mendengar perdebatan singkat kami tadi. "Penjaga, cepat bawa dia ke penjara!"

Apa?! "Tungg—"

Beberapa suara dentingan pedang membuat bibirku kembali tertutup rapat. Aku dapat melihat semua penjaga sudah mengelilingiku dengan pedang teracung ke arahku. Ini buruk.

"Yang Mulia, saya …."

"Jangan maju lagi!"

"Cukup sampai di situ saja!"

"Ya, berhenti di situ!"

Aku dapat melihat Ren, Motoyasu, dan Itsuki maju ke depan. Mereka seperti berniat menjaga raja ketika melihat diriku sedikit melangkah maju.

Gah, sialan! Kalian tidak perlu sok seperti itu, oi! Memangnya aku terlihat seperti ingin membunuhnya, hah?! Aku cuma ingin berbicara lagi dengan raja. Haah …! Sifat mereka benar-benar membuatku kesal saja. Cih, mereka bahkan tidak pantas untuk dipanggil sebagai pahlawan karena sikap yang seperti itu.

'Aku harus meluruskan masalah ini, kalau tidak, aku mungkin akan berakhir buruk nantinya.' Aku menatap raja, dan … aku langsung terdiam. Matanya … seperti menunjukkan kepuasan. Puas? Tapi, karena apa? Aku mulai memperhatikan sekitar kembali. Orang-orang yang memandangku tidak suka, lalu juga para pahlawan yang sepertinya sangat mendukung setiap perintah raja. Mereka sama saja. Sepertinya …, tidak ada yang mau membelaku di sini.

Aku menatap raja, dan saat dia merasa kalau tidak ada yang memperhatikannya, dia tersenyum kepadaku. Kedua mataku melebar sempurna ketika melihat itu. Senyumannya … adalah sesuatu yang sangat aku benci! Senyuman dari orang yang sangat licik! Jadi, dia sudah merencanakan semua ini, dan sedari awal dia memang berniat menajatuhkanku? Pikirannya benar-benar buruk. Dasar Raja Sampah!

Tunggu, sampah? Sepertinya, aku pernah membaca ini. Tapi, di mana ya? Hm … ah, iya!

Benar, di buku tua itu! Ya, disana juga disebutkan, kalau raja dari kerajaan tersebut adalah Raja Sampah yang mengeluarkan wewenang sesuka hatinya. Oke, ini semua masuk akal. Sedari awal, aku sepertinya sudah dijebak oleh rencananya, dan digiring ke dalam permainannya. Tidak peduli sebanyak apapun aku memberikan alasan, Si Sampah itu pasti juga tidak akan pernah memedulikannya

Menggunakan cara licik adalah sesuatu yang sangat aku benci, karena aku selalu menjunjung tinggi kejujuran di setiap pertandingan beladiri yang kulalukan. Tapi, dia telah melakukan hal itu padaku, dan tentu saja aku tidak terima! Semua ini membuatku muak! Amarah mulai keluar dari dalam perutku. Dapat kurasakan …, kalau perasaan marah saat ini menggelora besar di dalam hatiku.

"Aku mengerti sekarang. Dari awal, kehadiranku di dunia ini memang tidak pernah diharapkan oleh siapapun di sini, 'kan?"

Aku menunduk. Emosiku benar-benar seperti ingin meledak sekarang.

"Ya, memangnya siapa yang butuh kau?"

"Kami berempat sudah lebih dari cukup untuk melawan Gelombang Kehancuran yang akan datang nantinya."

"Hm, benar."

"Diam kalian!"

Aku tidak tahan mendengar ocehan mereka bertiga. Cih, mereka bertiga adalah yang terburuk! Aku sangat ingin menghajar mulut dari ketiga Pahlawan Sialan itu!

"Apa?! Berani sekali kau—"

Motoyasu langsung terdiam saat aku menatapnya penuh amarah. Entah karena apa, wajahnya juga tampak sedikit terkejut. Yah, terserah, lagipula … aku juga tidak peduli. Aku lalu beralih menatap raja yang memandang rendah kepadaku. Ekspresinya sungguh memuakkan!

"Kalau memang aku tidak dibutuhkan di sini, berarti aku bebas melakukan apapun, 'kan?" Aku tidak peduli lagi dengan orang-orang yang menatap marah ke arahku karena tidak berbicara dengan sopan kepada Si Raja Sampah. Bah! Siapa juga yang mau hormat kepada orang seperti Si Sampah itu?!

"Hm, ya, itu benar." Si Sampah menjawabnya dengan biasa.

Baguslah. Kalau begitu, aku sudah tidak punya urusan lagi di sini. Lebih baik aku pergi. Siapa juga yang peduli tentang bagaimana nasib negeri ini nantinya. Mau negeri ini nantinya jatuh ke dalam neraka pun aku sudah tak peduli.

"Tapi …" aku kembali mendengar suara milik Si Raja Sampah saat aku hampir berjalan meninggalkan tempat ini, "… kau akan tetap dihukum masuk ke dalam penjara!"

Hoo~ jadi dia masih belum mau melepaskanku, ya? Tapi baiklah, kalau memang ini adalah permainan yang sudah kau siapkan, aku akan mengikutinya. Tunggu saja, bagaimana diriku nantinya saat aku sudah kembali ke sini lagi!

Setelah itu, tanpa melakukan perlawanan lagi, aku digiring penjaga menuju penjara dari [Kerajaan Melromarc].

.

.

Hero Without Weapon—

.

.

"Terus jalan!"

Di sinilah aku saat ini, berjalan di dalam lorong penjara dari Kerajaan Melromarc dengan dua penjaga yang mendorongku terus sedari tadi dari belakang. Tempat ini gelap dan juga lembab. Bahkan, penerangannya hanya menggunakan obor yang sudah diletakkan di dinding dengan jarak yang sama satu sama lainnya. Sungguh, seumur aku hidup, baru pertama kalinya aku berada di tempat seperti ini. Ini benar-benar tidak menyenangkan.

Aku melirik dua penjaga di belakangku. 'Kenapa juga aku harus berakhir di tempat seperti ini?!'

Ya, aku sedari tadi diam karena aku memang sedang memikirkan rencana untuk bisa lepas dari penjagaan mereka, lalu kabur keluar. Kalian pikir saja, kenapa juga aku harus menerima hukuman, yang bahkan aku sendiri tidak pernah melakukan kesalahan itu? Menyusup? Menyamar? Yang benar saja! Aku yang diseret ke dunia mereka dengan tanpa persetujuanku, lalu tiba-tiba berakhir di penjara karena suatu alasan yang tidak berdasar?! Raja negeri ini benar-benar memuakkan!

Klang!

"Cepat masuk ke dalam!"

Aku menatap sel penjara di depanku yang pintunya sudah terbuka. Tersenyum sesaat, aku mulai memikirkan kembali rencana yang sudah kususun sedari tadi. Ya, inilah saatnya!

Aku berjalan pelan ke depan. Saat aku hampir memasuki pintu sel penjara, aku pun berhenti dan langsung melesatkan tendangan lurus ke belakang. Hal itu sepertinya membuat kedua penjaga tadi terkejut karena serangan tiba-tiba dariku.

Tendanganku berhasil ditahan oleh satu penjaga dengan menyilangkan kedua tangannya, dan hal itu hanya membuatnya mundur dua langkah.

Tunggu, apa?! Aku yakin tendanganku tadi seharusnya bisa membuatnya terpental, tapi kenapa dia hanya menerima efek seperti itu? Apa tendanganku jadi melemah?

"Apa-apaan ini?! Jangan melawan, kalau kau tidak ingin terluka, Nak!"

Aou menggeleng sekali, mencoba menghilangkan pikiran tadi. 'Itu bisa dipikirkan nanti. Yang pasti, aku harus bisa keluar dari tempat ini!' Aku harus fokus pada tujuanku saat ini, yaitu kabur!

Aku berlari kecil mendekati penjaga lainnya yang tampak masih terkejut, lalu melakukan tendangan ke arah kepala samping kirinya. Saat aku merasa seranganku hampir mengenainya, ternyata tendanganku meleset karena ke-seimbangan-ku menjadi goyah. Sial, padahal aku hampir berhasil!

Suara tubuhku yang jatuh menghantam lantai penjara adalah apa yang menghampiri gendang telingaku. Dan setelahnya, aku merasakan kalau tubuhku dikunci penjaga yang hampir berhasil kuserang tadi, sehingga membuatku tidak bisa bergerak lagi saat ini.

"Tidak perlu berlagak sok kuat, Bocah. Kau bisa saja terluka, kalau kau melakukan lagi hal seperti tadi." Aku menatap penjaga yang tadi menahan tendanganku. Dia berjongkok di depanku dengan senyuman meremehkan yang terpampang jelas di wajahnya. Apa-apaan senyumanmu itu, hah?! Aku bisa menghajarmu sekarang kalau kau mau!

"Cepat lepaskan aku!"

Aku bergerak memberontak, berusaha melepaskan kekangan penjaga di atasku, tetapi tidak berhasil. Percuma, entah mengapa, aku merasa lemah saat berada di dunia ini. Kekuatanku terasa berkurang dibandingkan diriku yang biasanya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan tubuhku?!

Si Penjaga Sialan itu menepuk-nepuk pelan pipiku beberapa kali, seolah memberikan ejekan, lalu ia menyuruh penjaga yang mengekangku tadi untuk membawaku ke sel tahanan. Tubuhku dilemparkan ke dalam penjara dengan keras olehnya seolah aku ini karung beras. Meskipun begitu, entah mengapa … aku tidak merasakan sakit sama sekali begitu menghantam lantai penjara.

Dengan cepat, aku bangkit, lalu berlari menuju pintu sel tahananku.

Klang! Klang! Klang!

"Cepat keluarkan aku dari sini! Aku tidak melakukan kesalahan sama sekali!"

"Ya, ya, seperti itulah semua penjahat berbicara. Mereka akan terus berkata tidak bersalah, dan membela dirinya sendiri untuk menunjukkan segala kebenaran dirinya. Aku sudah terbiasa melihat bajingan-bajingan seperti kalian semua."

"Tsk!" Aku menatap tajam kedua penjaga itu. Gigiku saling bergertak karena kekesalanku yang sudah memuncak. Mereka ini …!

Sepertinya akan percuma saja berbicara dengan mereka.

"Hehehe, ekspresi yang bagus." Tawamu itu sungguh memuakkan, Sialan!

"Heh, kau hanya perlu duduk diam di sini, dan menunggu sampai hukuman dari Raja Aultcray dijatuhkan kepadamu."

Setelah itu, kedua Penjaga Sialan itu berjalan pergi meninggalkanku sendirian di sini.

Klang!

Aku menendang pagar besi sel penjara di depanku. "Padahal tadi aku hampir berhasil kabur."

Aku menatap borgol besi yang mengunci kedua tanganku, "Sial, aku tidak memperhitungkan borgol ini yang membuat keseimbanganku saat melakukan tendangan tadi menjadi tidak stabil." Argh, payah sekali!

—Lagi-lagi begitu, aku tidak merasakan sakit pada kakiku meski sudah menendang besi di depanku sekuat tenaga. Aneh sekali.

Aku berjalan, lalu mendudukkan diriku di tengah-tengah lantai sel ini. Mataku menatap langit-langit tempat ini, mencoba menerawang kembali apa yang sudah terjadi tadi ….

Semua perkataan mereka, dan segala bayang-bayang perbuatan mereka kepadaku tadi kembali berputar di dalam otakku.

…. Gah! Mengingat itu semua membuatku kesal saja. Ini juga, aku tadi seharusnya sudah keluar kalau saja tidak ada borgol sialan ini!

"…" Aku terdiam saat teringat tentang buku cerita yang kutemukan tidak lama ini.

"Catatan Lima Senjata Suci, kah?" Aku menggumamkan judul buku itu.

Gara-gara buku itu, aku jadi terkirim ke dunia lain. Apakah cerita buku tua itu memang kenyataan, ya? Yah, memang, hampir ada kesamaan antara dunia ini dengan buku tua yang kutemukan itu. Tapi, kenapa aku malah berakhir seperti ini?! Bukankah aku termasuk dalam Lima Pahlawan seperti di buku itu, ya? Aku kembali menghela napas setelah memikirkan hal tadi.

"Senjata Legendaris, kah?" Aku kembali mengingat perkataan dari Si Sampah.

Armor kecil ini aneh, aku bahkan tidak bisa melepasnya. Terlebih lagi, ukurannya hanya menutupi dada bagian atasku saja. Selain itu, untuk apa batu permata bundar putih di bagian tengah armor ini? Aku tidak begitu yakin jika kegunaannya cuma sebatas aksesoris.

Ukiran serta permata di armor ini mengingatkanku pada senjata-senjata yang dibawa mereka berempat. Menurutku sama persis. Hm, apa memang ini sebenarnya adalah Senjata Legendaris? Hah~ aku tidak tahu bagaimana cara membuktikannya. Seandainya aku tahu benda apa ini sebenarnya, mungkin mereka semua akan percaya ucapanku.

"Huh? Apa ini?"

Ada semacam … ikon kecil berwarna putih yang melayang di depanku. Aku mencoba untuk lebih fokus melihatnya agar tahu apa itu, lalu …

Biip!

… suara itu muncul, bersamaan dengan sebuah layar hologram besar yang menutupi seluruh bidang pandangku! "Woaah, apa ini?"

[Nama: Namikaze Naruto

Kelas: Pahlawan Armor Lv. 1

Perlengkapan: Small Armour (Legendary Weapon), Another World Clothes.

Keterampilan: - (Tidak ada)

Sihir: - (Tidak ada)]

"Wow, apa ini? Ini hampir mirip seperti character's status dalam sebuah video game!"

Tunggu, status …? Ehm, kalau tidak salah, sebelum aku memasuki ruangan Si Raja Sampah, aku mendengar beberapa dari mereka sedikit membicarakan ini. Sepertinya, inilah yang tadi mereka bicarakan, ya? Oke, jadi status inilah yang akan menunjukkan semua informasi diriku di dunia ini.

"Cih, mereka bahkan tidak memberitahuku apa-apa soal ini!"

Mereka benar-benar buruk. Aku tidak diberi tahu apapun tentang segala sistem yang ada di dunia ini. Mungkin di antara pahlawan yang lain, akulah yang paling minim segala pengetahuan di dunia ini.

Aku mengabaikan semua pikiran itu, dan mulai memperhatikan layar statusku. "Hm, dari semua statistik yang kumiliki, hanya stat Vit yang paling tinggi." Stat Vit di sini sepertinya adalah Vitality. Ini sepertinya menunjukkan seberapa besar poin ketahanan tubuh yang kumiliki. Mungkin karena inilah aku tidak merasakan sakit sama sekali ketika tubuhku tadi dilempar ke dalam penjara ini.

Tapi, ada satu hal yang membuatku tertarik. [Small Armour (Legendary Weapon)]. Ya, dengan ini sudah jelas, kalau armor milikku ini juga termasuk dalam Senjata Legendaris. "Kalau saja mereka mengetahui ini …."

Aku menggeleng keras. Tidak, itu percuma saja, meskipun mereka tahu, mereka juga akan tetap menghinaku, dan berkata bahwa armor milikku ini bukanlah senjata. Pikiran mereka itu licik, aku sudah sangat menyadari itu. Jadi, mereka mungkin punya banyak alasan untuk menyangkal jawabanku nantinya.

Hanya karena armorku ini bukan senjata yang dapat "memberikan luka", mereka seenaknya saja merendahkanku, bahkan sampai mengataiku kalau aku bukanlah salah satu dari Lima Pahlawan Suci yang dipanggil. Tapi, lihatlah sekarang! Status milikku sudah membuktikan, kalau armor kecilku ini juga termasuk Senjata Legendaris! Mengingat semua perkataan mereka tadi membuat hatiku menjadi panas.

Aku merasakan kebencian besar dari dalam diriku tumbuh karena mereka yang telah merendahkanku. Hanya karena persoalan tentang senjata, mereka sampai menyingkirkanku dari posisiku di dalam Lima Pahlawan Suci. Andai saja aku punya senjata …. Ya, benar, kalau aku bisa memakai senjata …!

"Huh?!"

—Tunggu sebentar, aku merasakan kalau ada sesuatu yang sedang meluap dari dalam tubuhku.

"Ugh, apa ini?"

Ini cuma perasaanku, atau memang area di sekitar tubuhku muncul semacam asap gelap? Aku tidak begitu yakin karena mataku sedikit berkabut. Secara samar, aku seperti melihat kalau armor di dadaku sedang memancarkan aura aneh yang sangat besar. Juga, ada semacam perasaan kuat yang seperti menarik tubuhku untuk jatuh. Badanku terasa sangat berat sekali sekarang. Ini …, ugh, apa sebenarnya ini?!

[Class Series Armor: Persyaratan Terpenuhi!]

Kata-kata itu muncul di dalam otakku, bersamaan dengan rasa sakit yang begitu luar biasa menyerang kepalaku! "Aaargh!"

Selama beberapa menit, aku terus berteriak kesakitan. Aku tidak memikirkan kalau teriakkanku ini bisa mengganggu orang lain di sini atau tidak, karena aku yakin … tidak ada seorangpun lagi di dalam penjara ini. Ya, karena itulah, aku mulai berteriak sekencang yang aku mau—

"AAAARRRGGGHH …! GAAAAAAHH! UWAAaaaaaghh! Hah, hah, hah! AAAAAAGGGH …!"

—Entah apa maksudnya kata-kata tadi, aku sendiri juga kurang mengerti. Setelah barisan kata tadi menghilang dari dalam kepalaku, tubuhku sudah kembali normal. Meskipun begitu, aku masih dapat merasakan sakit di kepalaku. Ugh, ini masih mending dibandingkan hal tadi, rasa sakitnya sedikit mereda.

Aku dapat merasakan …, kalau mataku tiba-tiba terasa lebih berat setiap saat waktu kian berlalu. Dan sebelum aku menyadari apa yang terjadi pada tubuhku selanjutnya, hanya kegelapan yang memenuhi penglihatanku.

Tentu saja aku mengerti. Waktu itu aku ternyata pingsan dalam waktu yang lama ….

.

.

Hero Without Weapon—

.

.

Sudah dua hari berlalu sejak kejadian itu, yang artinya, aku sudah berada di dunia ini selama tiga hari. Selama di dalam penjara, aku menggunakan waktu yang kumiliki untuk memelajari segala hal tentang Senjata Legendaris milikku ini. Disana juga disediakan [Menu Bantuan] untuk memudahkan para pahlawan agar lebih memahami aturan setiap senjata milik kami.

Aku masih memikirkan tentang arti dari kata-kata, "Senjata yang sudah ditentukan berdasarkan Hero Class masing-masing". Apa ini semacam senjata yang dapat kami gunakan sudah ditentukan dari awal berdasarkan sistem dunia ini? Maksudku, senjata yang bisa kugunakan berdasarkan apa yang kudapatkan pertama kali terpanggil ke dunia ini, 'kan? Mungkin seperti itu ….

Kalau begitu, apa artinya ini aku cuma bisa menggunakan armor milikku? Atau, aku bisa menukarnya dengan senjata lain? Tapi, berdasarkan pengalamanku bermain video game, aku tidak pernah menemukan aturan tentang pemain yang dapat memukar senjata utama mereka. Aku tau hal seperti itu adalah illegal. Yah, semoga saja di sini tidak ada aturan yang semacam itu, karena ini tentu akan sangat merepotkanku jika aku tidak bisa mengganti senjata.

Lalu, disana juga menyediakan [Buku Senjata]. Dikatakan bahwa itu adalah semacam daftar tempat berkumpulnya monster-monster yang sudah kami kalahkan dan kami serap ke dalam Senjata Legendaris. Aku masih belum tahu bagaimana caranya membuka kumpulan senjata-senjata itu. Apa ada semacam cara khusus, ya?

Yah, sebenarnya masih banyak hal yang tersedia di dalam fitur status milikku, tapi aku tidak punya waktu untuk memeriksa semuanya ….

Oke, kembali ke awal cerita. Sekarang, aku dibawa oleh beberapa prajurit untuk menemui Si Sampah. Kata prajurit, Sampah sudah menentukan hukuman untukku. Entah apa itu, karena mereka tidak menjelaskan lebih lanjut. Ah, iya, aku cukup berterima kasih kepada mereka, karena meskipun aku ditahan, mereka masih tetap memberiku makanan. Yah, meski itu tidak bisa dibilang makanan. Maksudku, rasanya begitu aneh, seperti bentuk telur gulung namun memiliki cita rasa asam jeruk. Kata prajurit, makanannya cukup populer di sekitar kerajaan. Aku tidak begitu mengerti selera orang-orang di dunia ini, tapi aku juga tidak terlalu peduli.

Dan sekarang, di sinilah aku, berdiri dengan kedua tangan yang masih diborgol, dengan Sampah yang duduk tenang di singgahsananya. Hanya sekedar informasi, kalau cuma ada kami berdua saja di dalam ruangan ini. Ya, cuma aku dan Si Raja Sampah, karena semua prajurit sudah disuruh keluar olehnya. Entah karena apa, aku juga tidak tahu.

"Jadi ...?"

—Aku langsung bertanya saja. Jujur, lebih baik kalau aku cepat menyelesaikan ini, lalu pergi keluar.

"Melihat dari keadaanmu yang bisa berlagak tenang, berarti kau sudah mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya, 'kan?"

Oh? Aku terkejut karena cara bicaranya sangat berbeda dari dua hari kemarin. Ya, dia berbicara dengan nada tenang, tidak seperti kemarin yang selalu merendahkan orang lain. Apa dia salah makan saat sarapan pagi tadi? Aku mengabaikan itu dan lebih memilih untuk memikirkan perkataannya barusan;

'Mengetahui diriku yang sebenarnya?' Hm, tunggu dulu, apa mungkin …?!

"…. Maksudmu, tentang fakta bahwa aku juga merupakan seorang pahlawan di sini?"

"Jadi, kau memang sudah mengetahui cara untuk membuktikannya, ya?"

—Apa-apaan tanggapannya itu? Dia tidak terkejut sama sekali? Mataku sedikit melebar. Tunggu dulu, itu berarti …?!

"Kau juga sudah mengetahuinya sedari awal, 'kan?"

Ini masuk akal. Tidak mungkin dia punya rencana seperti itu, kalau dia sendiri tidak tahu identitasku. Lalu, aku menatapnya tajam saat melihat dia hanya mengangguk singkat. Raja ini benar-benar memuakkan! Dia ternyata memang sudah menjebakku!

"Jujur saja, aku dulu tidak pernah percaya pada ramalan tentang Pahlawan Kelima, namun ketika kuperhatikan lebih lanjut, benda itu …."

Dia berhenti bicara setelah menatap armor perak di dadaku. Tanpa alasan yang jelas pun, dia tiba-tiba menjadi gugup. Apa masalahmu sebenarnya, hah?!

"Kalau begitu, apa tujuanmu melakukan ini semua terhadapku?" Kepalan tanganku mengerat saat bertanya seperti itu, "Bukankah keberadaan Pahlawan Suci sangat diperlukan untuk melawan Gelombang Kehancuran?"

Tidak peduli seperti apapun alasannya, keberadaan kami benar-benar sangat diperlukan untuk mempertahankan negeri ini. Tapi, kenapa dia malah membuatku seolah-olah adalah kriminal, kalau dia sendiri sudah tahu bahwa aku juga seorang Pahlawan Suci, hah?!

"Kemarin sudah kubilang 'kan, kalau negeri ini hanya bisa memanggil empat Pahlawan Suci?" Sampah itu masih saja berkata seperti kemarin. Lalu, aku ini apa?! Sepertinya, pembicaraan ini akan percuma untuk dilanjutkan.

"…" Aku mencoba untuk mendengarkan ucapan dari Si Sampah lebih dulu, jadi aku memilih untuk diam saja saat ini.

Si Sampah melanjutkan, "Keberadaanmu di sini adalah suatu anomali. Jadi, aku melakukan hal seperti kemarin untuk menutupi fakta kalau kau adalah pahlawan, agar Negeri Melromarc tidak menjadi kacau."

Apa maksudmu dengan anomali? Jadi, keberadaanku di sini adalah suatu ketidakwajaran? Rencana licik apa lagi yang sedang kau mainkan, hah?! Jangan bermain-main denganku!

"Aku tak peduli dengan bualanmu itu. Sekarang katakan, apa yang akan kau lakukan terhadapku?" Aku akan pikirkan maksud dari ucapannya tadi lain kali saja. Sekarang, aku hanya perlu menyelesaikan permasalahanku dengannya.

"Karena keberadaanmu adalah suatu bahaya yang mungkin saja bisa mencelakai Negeri Melromarc, awalnya aku berencana untuk mengeksekusimu!"

Deg! Deg! Deg!

Jantungku berdetak cepat saat mendengar untaian kata berusan yang keluar dari mulutnya.

—Apa? Membunuhku …?! Yang benar saja!

Mataku sedikit berkabut. Perasaan ini kembali muncul ….

Ya, perasaan benci kepada orang-orang dari negeri ini yang telah merendahkanku! Aku benci kepada mereka. Ya, mereka yang tidak percaya kepadaku, tidak percaya akan diriku yang merupakan pahlawan!

Dan sekarang …, dia bahkan ingin membunuhku?! Sampai akhir pun …, apa memang tidak ada orang di dunia ini yang percaya kepadaku?!

"Hah, hah! Hah! UGH!"

Jantungku semakin berdetak lebih cepat dibanding biasanya. Entah kenapa, mendengarnya yang berniat membunuhku, hal ini membuatku jadi putus asa. Jadi, hanya sampai sini sajakah kehidupanku …?

[PERINGATAN!]

Suara itu terus berulang kali berputar di dalam kepalaku.

Berisik! Tidak bisakah seseorang menghentikan suara-suara itu?!

[PERINGATAN!]

[PERINGATAN!]

[PERINGATAN!]

Suara seperti alarm bahaya meraung terus-menerus di dalam kepalaku. Untuk sesaat, aku merasa takut dengan apa yang akan terjadi, dan …

[[Class Series Terbuka]:

Assassin Armor—

Keterampilan belum terbuka

Bonus Equip: Steal (Exp, Stat, SP, MP), Unlock, Wind Cutter, High Step

Efek Khusus: Penggunaan pisau belati/dagger, kecepatan meningkat (rendah)]

… lanjutan dari kata-kata peringatan tadi segera muncul di layar penglihatan milikku. Aku tidak tahu apa maksudnya. Tapi, aku seperti merasakan, kalau ada semacam kekuatan yang sedikit meluap dari dalam batu permata putih yang ada di tengah armor milikku.

Batu permata putih di armor perak kecilku ini, tiba-tiba bercahaya terang. Hal ini tentu saja membuatku dan Si Sampah terkejut. Setelah cahaya tadi meredup, terlihat kalau saat ini aku memakai semacam syal berwarna hitam yang menutupi mulut dan hidungku. Pakaianku yang lain tidak berubah sedikitpun, masih sama dengan pakaian dari dunia asalku, yaitu kaos merah polos yang tertutupi oleh jaket kulit hitam, lalu celana panjang warna hitam pula. Armor kecil di dadaku menghilang entah ke mana, dan di kedua samping pinggangku terdapat semacam pisau belati berwarna perak dengan dihiasi batu permata putih bundar yang terletak di antara pegangan dan bilah belati itu.

Tunggu dulu, apa ini? Apa armorku berubah menjadi … belati? Aku bingung tapi … biarlah, itu bisa kupikirkan nanti saja.

Aku menatap Si Raja Sampah yang masih terkejut. "Jadi, kau ingin membunuhku?"

Aku berjalan pelan mendekatinya. Aku mengangkat kedua tanganku yang masih terborgol, lalu menggunakan salah satu skill atau keterampilan yang baru saja kupelajari.

[Skill [Unlock] digunakan!]

[Borgol (biasa) terbuka!]

Borgol tadi terjatuh setelah terlepas dari kedua tanganku. Hoo~ skill yang cukup berguna. Aku menggerakkan kedua pergelangan tanganku yang terasa pegal karena sudah memakai itu selama hampir tiga hari.

"Tunggu sebentar! Aku belum selesai berbicara!" Aku merasakan perasaan puas ketika melihat raut panik yang dikeluarkannya.

Aku berhenti berjalan, lalu memiringkan sedikit kepalaku. "Oh? Jadi, masih ada lanjutannya, ya?" Aku menanyakan itu dengan nada seolah bermain-main.

Aku menarik kedua belati di pinggangku, lalu memainkannya sebentar. Yah, hanya untuk jaga-jaga saja kalau dia melakukan sesuatu, "Kalau begitu cepat katakan, dan jangan melakukan sesuatu yang aneh, ataupun memanggil penjaga di luar! Kita hanya berdua saja di sini, jadi aku bisa membunuhmu dengan cepat kalau aku mau."

"Kau …!" Dia menggeram saat aku mengancamnya. Heh, dasar bodoh.

"Kalau kau berani melakukan itu, kau juga tidak akan bisa keluar dari sini dengan selamat, Yoroi (Armor)!" Tentu saja aku tahu hal itu, makanya aku tadi cuma menggertak. Aku sedikit tertawa karena memikirkan kebodohannya tadi. Level-ku masih 1 sekarang ini, tentu saja itu akan merepotkanku, kalau aku harus melawan prajurit sebanyak itu. Apalagi, stasistik serangku masihlah rendah saat ini. Aku juga paham dengan batasanku sendiri, kau tahu?

Mencoba mengabaikan hal itu, aku kembali menaruh dagger tadi di pinggangku. Yah, aku tidak tahu dari mana benda ini berasal, tetapi aku sangat berterima kasih karena berhasil menggertak Si Sampah hanya dengan menggunakan benda ini saja.

"Ehem, yah, mengingat bahwa kau juga seorang pahlawan, maka bantuanmu pasti sangat dibutuhkan untuk melawan Gelombang Kehancuran nantinya. Jadi, aku akan membiarkanmu hidup, dan kau harus memberikan kekuatanmu untuk mengatasi Gelombang saat dibutuhkan!"

Heh, sudah kuduga, keberadaanku sebagai pahlawan pasti sangat memengaruhi saat terjadi Gelombang Kehancuran nanti. "Jadi intinya, kau membiarkanku untuk menaikkan level-ku, dan menyuruhku untuk bertarung melawan Gelombang, begitu?"

"Ya!"

"Kalau aku tidak mau?"

"Kau …! Armor!" Dia berteriak marah sambil menunjukku. Hahaha, aku suka saat melihatnya marah. Ini hiburan tersendiri untukku, kalian mengerti?

"Kenapa juga aku harus menuruti perkataan dari orang yang sudah melakukan hal licik kepadaku, hm?" Aku tidak peduli dengan tujuannya tadi, yang katanya ingin membuat negeri ini agar tidak kacau karena kemunculan dari Pahlawan Suci Kelima atau apalah itu. Dia sudah menjebakku, dan itu tak akan bisa kumaafkan dengan mudah! Lagipula, kenapa hal ini harus dirahasiakan dari umum? Bukankah bagus, kalau ada tambahan pahlawan lagi? Ini akan memudahkan saat melawan gelombang, bukan?

"Lagipula, apa untungnya aku—"

Aku berhenti berbicara, dan langsung menangkap sebuah kantong dari kain berwarna coklat yang baru saja dilemparkan oleh Sampah kepadaku. Terdengar bunyi gemerincing uang logam saat aku sedikit melempar-lemparnya ke atas. Ya, aku tahu apa ini. "Berapa totalnya?"

"600 keping silver."

600 silver? Aku tidak tahu seberapa banyak ini, tapi ….

"Kau bercanda? Bukankah ini keterlaluan? Kau menyuruhku melawan banyak monster, tapi hanya segini yang kau berikan? Apa kerajaan ini terlalu miskin hingga tidak sanggup—"

"Jaga bicaramu, Armor!" Sepertinya dia orang yang mudah dipancing emosinya. Hiburan yang sungguh menarik untukku. Hahaha! "Itu sama dengan total yang aku berikan kepada pahlawan lain. Untuk selebihnya akan aku berikan setelah kalian mengalahkan gelombang bulan depan nanti."

Aku mengangguk sebagai tanggapannya. "Cukup adil. Baiklah, aku terima kerja sama ini." Setelah itu, aku pun berbalik dan berniat pergi setelah merasa tidak ada keperluan lagi di sini.

"Tapi, ingat kata-kataku ini, Naruto! Kau adalah suatu anomali, dan kalau kau berani melakukan sesuatu terhadap kerajaanku …, aku sendirilah yang akan membunuhmu!"

Aku berhenti berjalan saat mendengar peringatan dari Si Sampah. Aku sedikit menoleh ke belakang, lalu memberinya tatapan terbuas yang bisa kulakukan dari kedua mata safirku ini. "Aku tidak takut dengan gertakanmu, karena pada saat itu terjadi … aku yakin sudah bertambah kuat! Dan mungkin saja, akulah yang lebih dulu akan membunuhmu pada saat itu tiba!"

Kami berdua saling menatap tajam satu sama lain, dan terus seperti itu untuk beberapa detik ke depan. Setelahnya, aku kembali menoleh ke depan, lalu berjalan tanpa memedulikan teriakan marahnya kepadaku dengan menyebut kelasku di posisi pahlawan ….

"Aaaarrmoooorrr …!"

Teruslah seperti itu, Sampah, aku tak 'kan pernah takut padamu. Kau yang hanya Raja tanpa bisa mengangkat sebuah senjata, berkata ingin "membunuhku"? Heh, lucu sekali.

Sebelum aku benar-benar keluar melewati pintu besar dari ruangan milik Si Raja Sampah, aku tersenyum kecil ketika kedua mataku secara tidak sengaja melihat layar status milikku.

[Nama: Namikaze Naruto.

Kelas: Pahlawan Pembunuh Lv. 1

Perlengkapan: Small Daggers (Legendary Weapon), Assassin Armor, Another World Clothes.]

Setelah itu, aku pun mulai pergi ke dunia luar untuk memenuhi takdirku di dunia ini sebagai ... Pahlawan Armor!

Bersambung


[Author's Note]:

Ya-hallo! Aku kembali lagi dengan meng-update fic ini! Sebenernya udah dari kemarin-kemarin sih, ngetik chap ini, tetapi cuma dapet sekitar 1k word karena tabrakan sama kesibukan lain, jadinya berhenti dulu, deh. Dan mumpung dua hari kemarin ini lagi senggang, jadinya aku lanjutin sampai selesai di sekitar 4,6k word ini.

Yah, sebenernya di chap ini aku mau keluarin karakter perempuan yang bakal masuk ke party Naruto, sih. Tapi, karena aku pikir nanti alurnya malah jadi kecepeten, jadinya aku batalin, deh. Ya, mungkin sekitar antara chapter 4 sampai 6 dia bakal muncul. Aku juga mau ngebangun dulu konflik batin Naruto di cerita ini soalnya, makanya aku ubah ide awalku. Untuk siapa perempuannya, aku kasih dikit infonya;

"Dia" ini karakter perempuan dari Benua Eropa, tepatnya Perancis, yang dalam sejarah punya sedikit masalah dengan gereja. Ya, sebenernya gak bisa dibilang punya masalah sih, tetapi ya kurang lebih gitulah. Tenang, ini gak SARA, kok, karena karakter ini juga muncul di anime soalnya. Dia mungkin juga masuk ke dalam waifu paling populer abad ini—ini menurutku, yak. Entah kalo menurut kalian, wkwkwk. Kalo udah gabungin sejarah dan anime, kalian pasti langsung kenal-lah siapa karakter yang aku maksud. Silakan ditebak, wkwkwk.

Oh, iya, sekedar info aja. Sama seperti di fic-ku yang lain, aku juga masukin sedikit elemen Fate Series ke cerita ini, wkwkwk. Lalu, aku juga butuh saran beberapa skill dan efek khusus untuk kekuatan armor Naruto. Memang, ada beberapa skill milik Naruto yang bakal aku samain dengan skill milik Naofumi berhubung mereka berdua dapet perlengkapan yang dikhususkan pada pertahanan. Tapi kalau kalian punya saran, kalian bisa tulis di kotak review ataupun langsung ke PM. Nanti aku coba pikirkan, kalau saran kalian bisa nyambung sama alur ceritaku, maka akan aku gunain nantinya. Terima kasih untuk yang berkenan membantuku.

Mungkin itu aja, sih. Aku ucapkan terima kasih kepada author dan reader yang udah ngasih dukungan berupa review, entah itu yang cuma ninggalin jejak aja. Gak papa kok, aku hargain. Makasih juga kepada silent reader yang udah mau baca cerita kecilku ini. Akhir kata, see you in the next chap, Brother and Sister!

Special Thanks to Allah SWT.

Tertanda. [Abidin Ren]. (24/Agustus/2020).