29/Januari/2021
—Hero Without Weapon—
By: Infinity'D.'Emperor
Summary: Naruto yang merupakan seorang murid SMA biasa, harus terpanggil ke dunia lain setelah dirinya menemukan sebuah buku tua. Bukannya disambut dengan baik, dia malah dianggap penyusup dan dijebloskan ke dalam penjara, pada hari pertama dirinya tiba di dunia tersebut. Kehidupan beratnya sebagai Pahlawan Armor pun dimulai saat itu juga.
Disclaimer: [Naruto] © Masashi Kishimoto | [Tate no Yuusha no Nariagari] © Aneko Yusagi | Dan Semua Karakter Milik Pengarangnya Masing-masing.
Mini Slight with [Fate Series] © TYPE-MOON.
Saya tidak mengakui kepemilikan atas semua karakter yang muncul dalam cerita ini. Saya hanya meminjamnya, tanpa ada niat sedikit pun untuk merugikan pihak mana pun.
This Story Created by Me
Genre: Isekai — Adventure — Fantasy — Romance(?) — Harem(?).
Pair: [Naruto & ?]
Rated: T+ (M untuk adegan kekerasan dan kata-kata kasar!)
Warning: Alternate Reality! (AR!), Martial Arts, OOC(s)(?), Semi-Canon & Out of Canon, And Many More. [Mengambil Sedikit Elemen Kekuatan dari Fate Series]!
.
[—Naruto's PoV!—]
.
Happy Reading, Minna-san~
Enjoy It~
Please Like, Favorite, and Review!
.
[Arc I]: Pemanggilan Pahlawan Suci
[Chapter 4]: Penuh akan Kelicikan, Negeri Ini Benar-benar Busuk!
Opening: MADKID — Rise (Opening dari Anime Tate no Yuusha no Nariagari Season 1 Bagian Pertama)
Setelah kekalahanku dari Motoyasu, aku diseret oleh beberapa prajurit yang datang setelah kejadian itu. Aku digiring ke istana dengan pakainku yang sudah tak berbentuk—maksudku, Chain Plate Armor-ku yang telah hancur.
Pintu ruangan aula pertemuan—yang sebenarnya adalah ruangan sang raja—ada di depanku. Beberapa ksatria di sekelilingku, dan tentu saja Motoyasu berdiri di depanku secara membelakangiku. Pintu besar itu terbuka tepat di bagian tengahnya, diikuti terdengarnya suara decitan keras yang khas.
Aku berjalan masuk saat tubuhku didorong oleh seorang ksatria. Di dalam sini sangat ramai, dan aku dapat merasakan tatapan menusuk yang ditujukan padaku, itu berasal dari mereka semua. Mereka memandangku seolah-olah aku adalah penjahat, kriminal yang harus mendapat hukuman berat. Aku merasa bingung dengan situasi ini, tapi satu hal yang sudah kupastikan, aku merasa de javu dengan kejadian sekarang. Ya, sensasi ini … hampir seperti yang kurasakan saat pertama kali aku tiba di dunia ini.
"Aduh! Sakit, woi!"
Lututku membentur lantai ruangan ini. Entah siapa pun yang mendorongku barusan, awas saja kau. Tidak hanya itu, para prajurit juga mulai menahan gerakanku menggunakan tombak yang mereka bawa. Aaaah! Sebenarnya, apa yang terjadi?!
Aku kembali memperhatikan sekitar. Raja dan ajudannya ada di dalam sini, mereka terlihat serius sedang membicarakan sesuatu. Lalu, ternyata Motoyasu sudah berdiri bersama dua Pahlawan yang lain, yaitu Ren dan Itsuki, lengkap dengan Party mereka masing-masing. Apa ada sebuah pengumuman penting, hingga para Pahlawan Suci dipanggil semua? Tapi, aku tidak melihat keberadaan Naofumi di mana pun di dalam sini. Lalu—
"Myne!"
—di saat aku tengah dalam kebingungan, teriakanku keluar begitu saja seperti itu. Disana, aku melihat Myne berdiri di belakang para Pahlawan, atau lebih tepatnya, berdiri di belakang Motoyasu. Tubuhnya bergetar, dan ketika aku memanggil namanya, Myne langsung semakin menyembunyikan dirinya di belakang Motoyasu secara ketakutan. Apa yang terjadi padanya?
"Myne! Syukurlah kau di sini! Sangat kebetulan sekali, karena aku juga sedang mencarimu tadi—"
"Diamlah kau, Kriminal!"
"Hah?" Aku menatap bingung Motoyasu yang baru saja berteriak.
"Sadarilah keadaanmu sekarang ini, dan jangan bertingkah layaknya orang bodoh!" Kenapa dengannya? Motoyasu menunjukku dengan tatapannya yang semakin marah, dan tentu saja ini semakin membingungkanku.
"Apa maksudmu?"
"Kau …, jangan bilang, kalau kau sudah lupa dengan kejadian tadi malam, Bajingan!"
"Bajingan? Jangan bicara ngawur!" Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Motoyasu. "Justru kaulah yang jangan berbelit-belit! Kalau kau tahu sesuatu, katakan saja, dan jangan membuatku semakin pusing!"
"Keparat satu ini …!"
Dapat kulihat dengan jelas urat-urat kemarahan Motoyasu menonjol di sepanjang pelipisnya. Huh, jangan kira yang merasa marah cuma kau saja—aku juga marah karena perbuatanmu tadi, Sialan! Kau lupa sudah menghancurkan Chain Plate Armor-ku?! Itu harganya cukup mahal, Bodoh!
"Aku tidak ingin membuang banyak waktu, jadi langsung saja kita mulai. Silakan, Petualang Myne Sphere, untuk memberikan kembali kesaksiannya." Apa maksud dari perkataan Sampah barusan? Kesaksian tentang apa?
—Dan pada saat rasa bingung tengah melandaku, aku menyadari …, bahwa ruang pertemuan tersebut mulai terasa seperti sebuah ruang pengadilan.
"Hiks, Hiks …, Pa-Pahlawan Armor mabuk berat, dan d-dia menarik saya ke jalanan lorong yang ge-gelap. D-Dia … memojokkan saya, lalu dia …, dia menekan saya ke bawah, dan …."
"Apa?" Tunggu, apa maksud dari ucapan Myne?
"Dia mendorong saya dan berkata, 'Malam masih panjang, Sayang ….'. Lalu, pa-pakaian saya disobek olehnya, dan saya—hiks, hiks! Uwaaah …!"
Myne menangis tersedu-sedu di belakang Motoyasu, dan dia mengarahkan jarinya yang gemetaran ke arahku sambil berkata, "Saya mencoba menjerit sekeras yang saya bisa, tapi d-dia langsung melakukan hal kasar pada saya, mem-membuat saya tidak bisa berbuat a-apa-apa. S-Saya hanya bisa meratapi keadaan saya pada saat itu yang sudah te-ternodai olehnya. Saya, ak-kuuu …! Hiks! Hiks!"
"Huh?"
Apa yang dia bicarakan? Tadi malam, tepat setelah Myne pergi meninggalkanku begitu saja, aku langsung tidur. Itu sebabnya aku tidak ingat apapun. Aku merasa kasihan melihat dia menangis, tetapi aku masih mencoba mencerna apa yang sedang terjadi di sini.
"Apa yang kau bicarakan, Myne? Aku langsung tidur setelah kita selesai makan malam!" Bagaimana Myne bisa berkata bohong seperti itu tentangku?
"Bahkan setelah mendengar perkataan Myne-san, kau masih saja mengelak?"
"Kau memang yang terburuk, Naruto."
"Huh?"
Itsuki memasang wajah jijik, sementara Ren menatapku dingin, ketika keduanya berkata demikian. Mereka bahkan tidak percaya juga padaku?
"Inilah kenapa, kemarin aku tidak mengizinkanmu untuk pergi dengannya, Myne! Setelah kau mendapat perlakuan buruk dari Naofumi, kau pada akhirnya juga mendapatkan hal yang sama dari Naruto, 'kan? Maafkan aku karena kali ini aku terlambat menyelamatkanmu, Myne …."
"Hiks, hiks! Tidak, justru sayalah yang harusnya meminta maaf karena tidak mendengarkan perintah Anda, Motoyasu-sama. Saya sungguh menyesali keputusan saya untuk membantu Pahlawan Armor."
Ugh, di saat seperti ini, bisa-bisanya mereka melakukan hal seperti itu. Maksudku, apakah memang perlu si Motoyasu memeluk Myne untuk hanya sekedar menghiburnya? Dan juga, kenapa mereka membuat akulah yang terlihat paling bersalah di sini?! Sial.
Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku saat mereka berdua berbicara tadi. "Tunggu dulu, apa maksudmu tentang Naofumi?" Kenapa Motoyasu membawa-bawa nama orang yang bahkan sedang tidak berada di ruangan ini?
"Hm? Apa kau tidak tahu tentang berita yang baru-baru ini menyebar, Naruto-san?" Kenapa kau menatapku penuh curiga seperti itu, Itsuki?
"Mana kutahu!" Aku baru saja keluar ke kota kemarin, jadi aku tidak mengerti apa yang mereka maksudkan. Aku benar-benar kekurangan informasi saat ini.
"Heh, intinya, Naofumi juga melakukan kejahatan yang sama sepertimu saat ini. Dia melakukan pelecehan terhadap Myne, tapi beruntung Motoyasu berhasil menyelamatkannya sebelum kejadiannya bertambah lebih buruk." Seperti biasa, Ren selalu berbicara dengan dingin. Apa dia tidak bisa bersikap sedikit lebih santai?
—Eh, tunggu. Myne kemarin bercerita kepadaku, kalau pada awalnya dia berada di Party Naofumi, tapi sekarang sudah berpindah ke Party-nya Motoyasu karena suatu alasan yang tidak mau dia ceritakan. Jadi, inikah masalahnya? Tapi, apa itu benar? Aku tidak menyangka kalau Naofumi adalah orang yang seperti itu. Ini sangat mengejutkan, karena kupikir dia adalah tipe orang yang penuh akan perhitungan di setiap apa yang akan dia lakukan. Dunia ternyata benar-benar luas, huh?
Aku mulai menyadari sesuatu. "Kalau begitu, bukankah bisa saja yang melakukan hal keji pada Myne tadi malam adalah Naofumi lagi? Myne sedang berada di tempat gelap, jadi pasti dia salah orang, hingga akhirnya dia mengira itu adalah aku!"
Benar. Alasanku ini sangat masuk akal. "Myne! Ayolah, katakan sesuatu! Katakan, kalau semua ini hanyalah kesalahpahaman!"
"Kyaaa! Tidak! To-Tolong jangan dekati aku!" Myne segera berteriak saat aku sedikit keluar dari lepasan kekangan beberapa prajurit.
"Bajingan! Jangan berani kau mendekati Myne lagi!" Motoyasu segera bertindak layaknya dirinya seorang tokoh baik yang melindungi Myne dari bahaya—yaitu aku! Ini membuatku semakin frustasi.
Aku sedikit memberontak saat prajurit menarikku. Aku juga mendengar suara gemerincing uang saat tubuhku dikunci di lantai ruangan ini.
"Itu kan …?!"
Kepalaku mendongak saat mendengar suara langkah mendekatiku. Tangan Motoyasu mengambil sekantong uang yang terjatuh barusan. Itu adalah uang yang Myne tinggalkan tadi malam, dan aku berencana untuk mengembalikannya jika kami bertemu kembali.
"Sudah kuduga! Ini uang Party-ku yang seharusnya dibawa Myne. Kenapa kau bisa memilikinya, hah?!"
Di kantong kain itu memang memiliki motif tombak—khas Party milik Motoyasu, jadi tentu saja aku tak akan mengelak dengan cara mengakui kepemilikan uang yang sedang dibawa Mototasu saat ini.
"Aku tadi berencana—"
"Ah, Motoyasu-sama! Ma-Maaf karena saya belum memberitahu Anda soal ini. Saya takut jika Anda marah mendengarnya, maka dari itu saya tidak berani menceritakannya. Saya sebenarnya … kehilangan uang Party kita setelah kejadian buruk yang menimpa saya tadi malam. Pasti Pahlawan Armor yang mengambilnya dari saya setelah me-menodai saya. Hiks, hiks!"
"Jadi begitu? Kau benar-benar yang terburuk, Naruto!"
Apa?! Cerita karangan dari mana itu?! "Mana mungkin aku melakukan itu! Myne, katakanlah pada orang-orang di sini, kalau semua yang kau katakan tadi itu tidaklah benar!"
"Tidak perlu mengelak lagi, Kriminal! Kami semua sudah tahu kejahatanmu!"
"Jangan menyela perkataanku, Motoyasu! Aku tidak sedang berbicara denganmu!" Cih, kalau kupikir-pikir lagi, Motoyasu yang paling merepotkan dibandingkan yang lain. Dia sedari tadi mengganggu saja. Apa dia tidak bisa diam sebentar saja?
"Lalu, apa maksudmu dengan kejahatanku? Bukankah kemarin aku sudah bilang padamu, kalau 'Raja' disanalah yang sudah mengakuiku sebagai salah satu dari Pahlawan Suci, hm?"
—Uwaah! Aku ingin muntah saat memanggilnya begitu! Sial! Tapi, aku paling tidak harus memanggilnya dengan hormat sekarang ini, agar orang-orang di sini tidak semakin menggila—meskipun aku sendiri sangat tidak ingin melakukannya!
Aku menekan perutku agar sarapanku tidak terbuang percuma. "Intinya, tentu saja tuduhanmu tidak akan berguna. Mana ada pahlawan yang melakukan kejahatan, bukan?"
"OMONG KOSONG! Satu-satunya jawaban atas pertanyaanmu barusan, sudah jelas adalah dirimu sendiri!"
Motoyasu sangat keras kepala. Aku menatap Sampah. "Raja! Aku tidak—"
"Diam!"
Hah, dia bahkan tidak mau mendengarkan penjelasanku lebih dulu. Sampah memasang ekspresi lelah sambil mengusap wajahnya. "Tindakan penyerangan seksual apapun yang dilakukan oleh warga kerajaanku, entah itu orang barbar maupun pahlawan, mereka tetap akan dihukum sangat berat!"
"APA?!"
"Ketahuilah, bahwa Kerajaan Melromarc sangat menjunjung tinggi derajat wanita, dan tindakan pemerkosaan adalah suatu kejahatan yang tidak bisa dimaafkan di sini. Maka dari itu, bisa saja jika ini akan berakhir dengan kematian untuk Anda, Yuusha-sama." Apa-apaan itu?! Ajudan Raja menjelaskan hal tadi dengan senyuman yang terlihat puas di wajahnya, seolah-olah dia baru saja mengejekku!
Eh? Tunggu sebentar. Naofumi tidak ada di sini, apa artinya … dia sudah dihukum mati …?! Aargh! Aku tak 'kan mengakuinya! Aku tak akan menerima hukuman yang bahkan aku sendiri tidak pernah melakukan kejahatan tersebut!
"Tapi, aku tidak melakukannya! Aku yakin, pasti ini semua hanyalah kesalahan!"
"Kesalahan? Bahkan setelah semuanya yang terjadi, kau masih tidak mau mengakui dosamu? Melihatmu saat ini, benar-benar mengingatkanku pada si Brengsek Naofumi itu!"
"Pada saat kami pertama kali melihatmu, kami memang sudah menduga, kalau kau berbeda dengan kami, para Pahlawan yang terpanggil. Dan yang dikatakan Motoyasu-san benar, kau bertingkah seperti Naofumi-san kemarin. Sangat menjengkelkan saat aku melihat penjahat yang tidak mau mengakui kesalahannya."
"Hm, itu benar. Di hari pertama saja kami sudah bisa melihat kejahatan yang kau lakukan. Mungkin saja, kau dan Naofumi sudah bersekongkol untuk melakukan hal keji ini pada Myne, 'kan? Aku tak percaya, kalian berdua ternyata sangat busuk."
Gigiku saling bergertakkan. Mereka bertiga sama saja, tidak ada yang mau memercayaiku! "Kalau begitu, apa bukti kalian, jika memang akulah yang melakukan itu, hah?!"
Aku bahkan belum pernah bicara dengan Naofumi lagi sejak keluar dari penjara, dan Ren seenaknya bilang aku bersekongkol dengannya? Jangan bercanda!
Amarahku meluap dengan deras, bahkan darahku sendiri terasa mendidih sekarang ini!
"Kau masih menanyakan bukti?!" Motoyasu mengangkat tinggi kantong uang miliknya. "Inilah bukti yang sangat jelas, Bajingan! Kau mengambil uang Party-ku yang dibawa Myne, setelah kau selesai memerkosanya!"
APA?! Aku justru ingin mengembalikan uang itu pada Myne lagi karena dia sendiri yang tadi malam pergi meninggalkannya begitu saja, tahu!
AAAAAARGH! SIAL!
Aku merasa ingin meledak sekarang! Mereka semua menuduhku tanpa memastikan kebenarannya terlebih dulu!
"Ehem. Sebelum kita membahas ini lebih lanjut, ada laporan yang baru saja kuterima." Sampah berkata setelah seorang ksatria membisikkan sesuatu kepadanya—yang entah apa itu, karena aku sendiri tak terlalu memperhatikan mereka tadi. Matanya menjadi tajam saat menatapku, dan sungguh … aku merasakan firasat buruk, hingga pada titik di mana aku sangat tidak ingin mendengar apa yang selanjutnya akan dia ucapkan.
"Laporan itu berisi, 'Ada seseorang di kota yang melakukan semua hal tanpa membayarkan uangnya sedikitpun, dan segala perbuatannya itu diatas-namakan karena dirinya merupakan Pahlawan Suci'. Juga, ada beberapa orang di kota mengaku, kalau mereka diancam akan dibunuh jika tidak meyerahkan semua uang yang mereka miliki …."
Apa lagi sekarang? Perampok di kota? Apa memang sebegitu rendahnya keamanan kota ini? Sangat menggeli—
"…. Dan ciri-ciri dari orang yang melakukan kejahatan itu, sangat cocok dengan Pahlawan Armor!"
—kan. Tunggu … dulu ….
"Hah?!"
Lagi-lagi aku yang disalahkan! Kenapa terus aku?! Apa orang-orang negeri ini buta, hingga mereka tidak bisa membedakan setiap orang di sekitarnya?! Lagipula, bukankah mereka sendiri yang menetapkan aturan, bahwa para Pahlawan Suci mendapatkan hak khusus
—Yah, paling tidak, begitulah yang dikatakan Myne padaku, dan aku melakukan hal tersebut. Tapi, kalau sampai mengancam orang hanya untuk mendapatkan uang, aku tak pernah melakukannya, bahkan sejak aku tiba di dunia kalian ini!
"Nah, kau dengar itu? Itu sudah menjadi tambahan bukti yang sangat kuat, kalau kemarin malam, memang kaulah yang sudah memerkosa Myne!"
"Benar, kau tak akan bisa mengelak lagi, Naruto-san, karena bahkan orang-orang di kota ini telah menjadi korban kejahatanmu."
"Kau dan Naofumi memang sudah rusak, Naruto."
"Kalian bertiga …!"
Hah, hah! HAH!
Myne, kenapa kau berbohong mengenai hal ini? Bukankah kita teman? Kau adalah orang pertama yang memperlakukanku dengan baik di dunia ini, setelah semua orang tidak ada yang mau percaya kepadaku. Kaulah satu-satunya yang kupercaya di sini, tapi … kenapa kau berbuat jahat kepadaku?
—Ketika aku menatap Myne yang kembali dipeluk Motoyasu, pada saat itulah, saat dia merasa tidak ada yang melihatnya, Myne … menjulurkan lidahnya padaku!
Deg! Deg! Deg!
Rasanya kedua mataku semakin menjadi panas. Selain itu, darahku juga terasa mendesir dengan deras! Aku bahkan dapat merasakan detak jantungku yang kian berpacu cepat! Tubuhku …, tubuhku juga terasa dipenuhi oleh rasa kemarahan sekarang!
HAH! Hah, hah …! GAAH!
Jadi begitu. Aku mulai menyadari sesuatu. Dia telah … menipuku!
Kalau kuingat-ingat, sedari awal kedatanganku di dunia ini, memang tidak ada seorang pun yang percaya kepadaku. Mereka bahkan menipu serta menjebakku! Hanya karena muncul Myne yang langsung percaya padaku sebagai Pahlawan Suci, hal ini membuat kewaspadaanku terhadap mereka sedikit menurun. Harusnya aku tidak boleh seperti ini!
Kenapa juga aku harus langsung percaya kepadanya? Dia itu ada di Party Motoyasu, dan harusnya aku curiga dengan mereka! Dia pasti menawarkan bantuan kepadaku juga hanya ingin melihat seperti apa kekuatanku saja! Dan setelahnya, si Pelacur itu pasti memberitahukan segalanya tentangku kepada Motoyasu!
Aku … bodoh! Seharusnya aku langsung menyadari ini dari awal!
"GHAAH! Menyingkir dariku!" Aku mendorong semua prajurit yang mengunci pergerakanku. Beberapa dari mereka ingin menangkapku lagi, tapi belum sempat mereka menyentuhku, tubuh mereka terhempas ke belakang sedikit—seolah ada sesuatu tak kasat mata yang mendorong mereka. Sepertinya, itu tadi karena kekuatan yang keluar dari bola permata putih di Senjata Suciku—armor kecil ini.
"Jadi, tujuan kalian dari awal memang ingin menjebakku, 'kan?"
Benar, karena aku datang terlambat ke dunia ini, serta alasan tidak masuk akal tentang hanya adanya Empat Pahlawan Suci saja, hingga inilah yang kudapatkan! Aku muak dengan mereka semua! Mereka sama saja! Negeri ini sudah busuk! Merekalah definisi dari sampah yang sebenarnya!
"Maaf, Yang Mulia, sepertinya kita telah salah melakukan pemanggilan para Pahlawan Suci, yang pada akhirnya … kita malah memunculkan dua Kriminal di Kerajaan Melromarc."
"Mau bagaimana lagi? Kita juga tidak akan tahu, seperti apa orang yang akan kita panggil sebagai Pahlawan Suci ke dunia kita ini untuk melawan Gelombang nantinya, 'kan?"
"Hai'! Apa yang Anda katakan memang benar, Yang Mulia. Tapi, dengan kejadian ini, tetap saja kita mengalami kerugian yang besar."
Raja dan ajudannya sepertinya kurang puas dengan apa yang mereka dapatkan. Jika seperti ini akhirnya, aku lebih baik memilih untuk tidak terpanggil ke Isekai! Oh, Isekai …? Hah! Maaf, sedikit kuralat—ini bukanlah Isekai …! Inilah yang dinamakan Neraka yang ssesungguhnya
"Aku ingin kalian mengembalikanku—"
"Jangan pernah berpikir untuk kembali ke dunia asalmu, Bajingan! Setelah semua kejahatan yang kau lakukan, kau tak akan pernah mendapatkan apa yang kau inginkan!"
"Apa maksudmu, Motoyasu?" Si Brengsek itu malah memalingkan wajahnya?! Dia pasti tidak mau menjawab pertanyaanku! Sial!
Aku menatap Sampah, dan seolah mengerti, dia kemudian berucap, "Hmm. Maaf saja, kalau kau berniat meminta kami untuk mengirimmu kembali ke dunia asalmu, itu tidak bisa kami lakukan sekarang. Kami tak akan bisa melakukan pemanggilan Pahlawan Suci lagi, sampai semua Pahlawan saat ini terbunuh."
Aku yakin, Motoyasu, Ren, dan Itsuki sudah mengetahui hal ini, itu terbukti karena mereka tampak biasa saja setelah mendengarnya.
"Jadi, kau mau memenjarakanku lagi, sampai semua Gelombang Kehancuran di sini selesai, begitu?"
"Tidak, fakta bahwa kau juga memiliki Senjata Suci, serta termasuknya kau sebagai Pahlawan Suci yang terpanggil, semua itu tidak akan pernah berubah. Jadi, kekuatanmu sangat dibutuhkan nantinya. Sama seperti Pahlawan Perisai, kau kubiarkan untuk meningkatkan level, dan kau juga harus bertarung untuk melawan Gelombang Kehancuran saat dibutuhkan!"
Jadi, aku akan tetap di sini, bertarung melawan Gelombang bersama orang-orang seperti mereka?! Bagus! Lengkap sudah penderitaanku di Neraka ini!
"Terima kasih atas kemurahan hatimu itu!" Aku membalasnya dengan sarkas. Persetan dengan mereka yang menatapku dengan hina karena berbicara seperti itu pada raja mereka semua. Aku sudah tak punya urusan di sini, jadi aku lebih baik segera pergi dari tempat menjijikkan ini.
"Kami akan memanggilmu saat Gelombang Kehancuran sudah mendekat, dan pada saat itu, kau harus datang membantu! Tapi sebelum kau pergi, ingatlah ucapanku ini; 'Kejahatanmu sudah tersebar luas, jadi jangan harap kau bisa hidup tenang di kerajaanku ini'!"
Aku berhenti berjalan saat mendengar suara Sampah. Cih, bahkan setelah semua yang dia katakan padaku tentang ucapan omong kosongnya, dia masih berani mengatakan itu?! "Aku tahu itu! Kau tak perlu mengatakannya secara berulang kali!"
Clink!
Ah, iya, aku ingat uang yang diberikan Sampah padaku kemarin. "Ini 'kan, yang kalian maksud? Kalau kalian memang sangat menginginkannya, makan saja semuanya!"
Aku mengambil kantong uang milikku yang masih kubawa. Karena kemarin aku hanya menggunakannya untuk membeli [Chain Plate Armour], jadi aku yakin di dalamnya masih ada kurang-lebih sekitar 500 silver. Aku melempar kantong uang itu ke atas, dan semua koin itu tepat jatuh berhamburan di tengah-tengah ruangan aula ruang raja ini.
"Apa-apaan perbuatanmu ini?!"
Aku hanya mengabaikan teriakan Motoyasu dan yang lainnya, lalu pergi meninggalkan tempat itu. Aku berjalan keluar istana melewati gerbang depan, dan menuju ke jalanan. Kerumunan di sisiku langsung menepi, begitupula dengan mereka yang mulai menunjukku seraya berbisik-bisik. Ya, aku sadar bahwa rumor jelek tentangku sudah menyebar di [Kota Kastil] ini, dan jika Naofumi memang sama sepertiku; dijebak oleh para orang-orang menjijikkan di dunia ini, aku yakin … pasti keadaan seperti inilah yang tengah dia rasakan.
Dunia ini mengerikan. Aku bahkan langsung merasa mual hanya dengan memikirkan kerajaan menjijikkan ini.
—Dan dengan begitu, pada hari keempat, tepat pada saat aku baru saja memulai petualanganku, aku kehilangan segalanya. Semua Kehormatan, kepercayaan, bahkan uang, aku sudah tidak memiliki itu semua.
.
.
—Hero Without Weapon—
.
.
Hampir satu minggu berlalu sejak kejadian itu. Aku sendiri hanya tinggal di sekitaran luar [Kota Kastil], dan selama itu pula, aku tak pernah berpikiran untuk melakukan hal lain selain menaikkan levelku. Yah, aku sering melawan [Orange Balloon] yang menyerangku, tapi aku masih berada di level 1. Sangat merepotkan karena statistik serangku ini yang rendah, jadi tidak banyak monster kuat yang dapat kukalahkan hanya dengan modal pukulan saja.
Entah kapan [Gelombang Kehancuran] selanjutnya akan datang, tapi aku harus sesegera mungkin memperkuat diriku dengan cara meningkatkan levelku. Aku harus bisa bertahan di dunia menjijikkan ini sampai aku bisa kembali ke dunia asalku. Jadi karena itulah, aku sekarang berjalan di padang rumput untuk berburu monster.
"Uryaa!"
Mengingat kejadian saat aku ditipu dan dijebak oleh mereka, membuat kemarahanku kembali muncul ke permukaan. Aku melampiaskan segala emosi gelapku pada monster balon lewat pukulan dan tendanganku. Butuh waktu sekitar 5 menit untuk aku bisa mengalahkan monster itu, jadi ini hanya masalah tentang waktu saja. Aku terus berburu monster seharian itu sampai malam tiba, dan membiarkan armorku menyerap beberapa [drop item] kulit balon dari Orange Balloon maupun Yellow Balloon.
[Level Up!]
[Anda sekarang naik ke Level 2!]
[Orange Small Armor: Persyaratan terpenuhi!]
[Yellow Armor: Persyaratan terpenuhi!]
…. Semua notifikasi itu muncul di layar bidang pandangku. Bahan yang diserap armorku sepertinya sudah cukup banyak untuk membuka dua armor baru, jadi sisa barang jarahan kulit balon tadi kusisihkan untuk kujual kapan-kapan.
Ha~ah, dunia ini benar-benar mirip seperti game, meski aku sendiri cukup sadar bahwa ini sebenarnya adalah dunia nyata.
Sepertinya, setelah aku naik ke level 2, aku sudah bisa menggunakan kedua armor itu. Aku mencoba membuka [Buku Senjata].
[Buku Senjata] adalah tempat tercatatnya semua jenis dan nama monster yang telah kami, para Pahlawan, kalahkan. Tentu saja setiap senjata baru akan terdaftar di sini.
[Small Armor (Legendary Weapon):
Kemampuan terbuka: Defense +3]
[Orange Small Armor:
Kemampuan belum terbuka
Bonus equip: Defense +2]
[Yellow Armor:
Kemampuan belum terbuka
Bonus equip: Defense +3]
Hm? Kemampuan belum terbuka? Apa maksudnya itu? Aku memutuskan untuk melihat [Menu Bantuan].
[Peningkatan Senjata dan Pembukaan Kemampuan]:
[Peningkatan Senjata artinya bahwa Senjata Suci yang saat ini Anda pakai dapat berubah ke bentuk yang lain. Jika Anda memegang senjata tersebut, sambil menggambarkan akan jadi seperti apa senjata tersebut, maka senjatanya akan berubah menjadi bentuk yang diinginkan.
Kemampuan Senjata mengacu pada skill yang bisa dikeluarkan hanya ketika Anda menggunakan senjata yang sedang dipakai. Setelah kemampuannya terbuka, maka bonus equip-nya akan selamanya ada, meski Anda sedang tidak menggunakan senjata tersebut.]
[Bonus Equip]:
[Bonus Equip merupakan kemampuan khusus yang bisa digunakan saat senjata Anda dipakai. Jadi, jika sebuah senjata memiliki kemampuan Air Strike Bash, kemampuan itu bisa digunakan selama senjata itu dipakai. Jika sebuah senjata memiliki "Bonus Equip: Attack Up 3", statistik attack milik penggunanya akan meningkat sebesar 3 saat senjata tersebut dipakai.]
Aku paham. Jadi, asalkan kemampuan sudah terbuka, aku bisa menggunakan skill dari senjata tertentu meski aku memakai senjata yang berbeda. Lalu …, cara mengubah Senjata Legendaris hanya perlu membayangkannya saja, ya? Aku mencoba mengubah armorku menjadi [Orange Small Armor].
Tiba-tiba muncul semacam embusan angin pelan, dan armorku mulai diselimuti cahaya. Setelahnya, armorku pun berubah menjadi warna oranye, seperti sedang dibungkus oleh kulit balon. Hm, statistik defensif-ku bertambah 2, sama seperti yang kulihat di rincian tadi.
"—Eh? Tunggu sebentar." Aku mencari sesuatu di [Buku Senjata], dan aku menemukan apa yang kucari.
[Class Series Armor]. Seri ini pertama kali kulihat saat aku di dalam penjara, namun sampai sekarang aku masih tidak begitu paham apa ini. Aku menekannya … tapi tidak bisa dibuka.
"Sepertinya ini terkunci."
Apa … aku bisa menggunakannya? Saat bersama Sampah, [Assassin Armor] muncul begitu saja, tapi aku tidak tahu apakah aku saat ini bisa menggunakannya lagi atau tidak, mengingat levelku baru 2. Yah, aku akan mencobanya saja.
Aku memegang armor di dadaku, lalu membayangkan [Assassin Armor] di pikiranku. Sama seperti kejadian sebelumnya, lalu setelahnya armorku pun berubah menjadi sebuah syal hitam yang menutupi hidung dan mulutku.
"Ap—Ooohhh …! YES!"
Ternyata bisa kugunakan! Yah, karena aku tidak bisa membuka [Class Series Armour] di Buku Senjata, jadi aku tidak tahu syarat level yang dibutuhkan untuk bisa menggunakan ini.
Aku membuka layar status-ku, dan …
"APA?!"
… aku benar-benar tidak bisa menutupi keterkejutanku! Semua statistikku melesat jauh sangat tinggi! Ini …, ini mungkin hampir setara dengan semua statistik yang harusnya berada di level 20! Tidak, tapi bisa saja lebih dari itu!
Saat pertama kali menggunakan [Assassin Armor], aku memang belum sempat mengecek semua statusku. Aku sungguh tak menyangka jika akan jadi setinggi ini perubahannya!
Setelah itu, aku mencoba berburu monster lagi. Kali ini aku menggunakan dua dagger yang hanya bisa kugunakan saat aku memakai [Assassin Armor]. Hmm, mungkinkah ini yang disebut sebagai [Special Effect]? Sepertinya begitu.
Sraaash! Pop! Pop! Pop!
Suara balon yang meletus mengiringi setiap gerakanku menebas semua monster itu. Aku bergerak sangat cepat, melompat, dan kembali menebas dua Yellow Balloon secara bersamaan. Aku berlari ke kanan, menuju gerombolan monster balon ….
[….]
[….]
[Anda: Mendapatkan Exp +5]
[Anda: Mendapatkan Exp +19]
[Anda: Mendapatkan Exp +8]
[Level Up!]
[Anda sekarang naik ke Level 3!]
[….]
…. Semua notifikasi itu muncul secara terus-menerus di layar bidang pandangku.
"Hebaaat!"
Semua monster balon dapat kukalahkan hanya sekali tebasan dengan belati ini! Berkat statistik serang-ku yang tinggi, aku mencapai level 3 dalam waktu singkat! Bahkan, perjuanganku selama satu minggu ini hampir seperti sia-sia saja. Jujur, fakta ini membuatku sedikit frustasi.
…. Dan setelahnya, tepat ketika kurang-lebih sekitar 5 menit setelah aku menggunakan [Assassin Armor], semuanya kembali seperti semula; armorku berubah menjadi [Small Armor] dengan sendirinya tanpa aku inginkan. Dan ketika aku ingin menggunakan [Assassin Armor] lagi, hal ini tidak bisa kulakukan.
Satu hal yang kupahami, bahwa [Assassin Armor] akan menjadi semacam doping kekuatan untukku. Dan dari kejadian ini sudah kutetapkan satu hal, bahwa [Assassin Armor] akan menjadi kekuatan tersembunyi milikku dalam keadaan genting. Ini adalah kartu As milikku! Ya, aku tak bisa menggunakannya secara sembarangan.
.
.
.
Meninggalkan padang rumput, pagi-pagi sekali aku berjalan menuju kota. Pelacur itu pernah bilang, kalau aku bisa menjual semua kulit balon ini, dan karena aku perlu uang, jadi aku tentu harus menjual semua drop item atau barang jarahan ini di Kota Kastil.
Sejak kejadian "itu", aku sebenarnya tidak ingin pergi ke kota. Melihat serta mendengar orang-orang yang mengataiku hanya membuatku merasa mual saja. Karena itu juga, aku jarang sekali masuk kota, dan lebih memilih untuk menghabiskan sebagian besar waktuku di hutan.
"Kau yang disana, bocah dengan armor!"
"Hm?"
Itu adalah pria si pemilik toko senjata. Seingatku, namanya adalah Erhard. Dia memanggilku, kebetulan saat aku berjalan di depan tokonya. Apa yang dia mau dariku?
"Kemarilah! Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu!"
Aku hanya mengikutinya masuk ke dalam tokonya tanpa ada niat membantah sedikitpun. Tempatnya masih sama seperti saat aku masuk pertama kali di sini. Hm? Tunggu, itu kan—?!
"Naofumi …?"
Benar, seseorang yang berdiri di dalam toko ini adalah Sang Pahlawan Perisai, Iwatani Naofumi. Apa yang dilakukannya di sini?
"Oh? Ternyata kau. Apa maumu?"
Dia … terlihat berbeda dari terakhir kali kami bertemu. Aku tidak begitu yakin karena apa, tetapi matanya memancarkan kebencian yang entah ditujukan kepada siapa.
"Tidak ada. Kau sendiri, sedang apa kau di sini?"
"Aku baru saja selesai menjual kulit balon, jadi kuputuskan untuk sekedar mampir ke mari."
Aku berdiri di sampingnya saat kami bertukar kata. Aku sadar, bahwa ini adalah pertama kalinya kami berdua berbicara satu sama lain, juga bertemu kembali setelah aku dipenjara di hari pertama. Perhatianku teralihkan pada Pak Tua. "Jadi …? Kau perlu apa denganku?"
Seolah Pak Tua mengerti maksudku, dia mulai berbicara. "Yah, aku sudah mendengar berita tentang kalian berdua."
Apa? Dia memanggilku ke mari hanya untuk itu? "Cih, kau juga tak percaya padaku?" Kepalan tanganku mengerat saat mataku menatapnya tajam.
"Ya ampun, jangan berpikir yang buruk dulu tentangku, Bocah." Pak Tua menggaruk kepalanya sambil menghela napas lelah. "Kau lihat orang di sampingmu itu? Dia juga mengalami hal yang sama denganmu—lebih tepatnya, satu hari sebelum kau."
Sama sepertiku? "Jadi, Naofumi, apa kau juga difitnah oleh si Pelacur itu?"
"Ya. Aku juga sudah mendengar berita tentangmu. Heh, mencoba disingkirkan oleh kerajaan yang memanggil kita. Sepertinya, kita mengalami hal buruk yang sama, ya?"
"Begitulah."
Aku tahu itu. Aku sangat tidak menyukai semua perbuatan menjijikkan orang-orang dari kerajaan ini, jadi aku tetap tak akan pernah melupakannya! Lihat saja nanti, akan seperti apa reaksi mereka setelah aku menjadi kuat! Mereka akan mendapat balasan yang setimpal atas perbuatan mereka sendiri!
"Emm, yah, mungkin kalian sebaiknya menyingkirkan ekspresi kalian saat ini. Itu … akan menakuti semua pelangganku yang datang nantinya. Kalian mengerti maksudku, 'kan?"
"Ya, ya."
Aku barusan sempat melirik Naofumi, sepertinya dia juga sedang memikirkan sesuatu yang berbahaya, terlihat jelas dari ekspresinya tadi. Tapi, aku tidak tahu apa itu.
"Yah, jujur saja, Bocah Armor, aku kemarin sebenarnya sudah curiga dengan perempuan yang bersamamu."
"Maksudmu?"
"Asal kau tahu, melihat apa yang sudah terjadi pada Bocah Perisai, aku mulai berpikir kalau perempuan itu pasti akan melakukan sesuatu yang sama padamu—seperti yang dilakukannya pada Bocah Perisai ini."
"Hah?! Kalau kau tahu apa yang akan terjadi padaku, kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?!" Apa Pak Tua ini sengaja ingin melihatku difitnah?
"Aku hanya ingin memastikannya terlebih dahulu, apa perempuan itu benar-benar licik atau tidak, Bocah."
"Kalau begitu, selamat! Kau sudah mengetahuinya, setelah berhasil menjadikanku sebagai umpanmu!" Aku membalasnya dengan sarkas.
"Ya ampun kau ini. Paling tidak, kita sudah tahu 'kan, kalau kalian berdua ternyata tidak bersalah?"
"Tapi tetap saja! Sekarang lihatlah! Aku yang malah jadi menderita di sini!"
"—Tenanglah, Naruto."
Aku melirik Naofumi yang menyela pembicaraanku dengan Pak Tua.
"Kau pasti paham betul; orang-orang di Istana itu sudah busuk. Meskipun kau mengetahui bahwa kau akan difitnah oleh mereka, dan kau berhasil selamat dari rencana itu, aku yakin … mereka akan mencari cara lain untuk menjatuhkanmu."
Guh! Apa yang dikatakan Naofumi memanglah benar. Sedari awal, kedatanganku di dunia ini tidak pernah diharapkan oleh mereka. Jadi, pada akhirnya aku tetap akan mendapat perlakuan seperti ini nantinya.
"Hanya karena aku merupakan Pahlawan Perisai; Pahlawan yang terlemah di antara semuanya, aku dijatuhkan sampai seperti ini. Bahkan, melihatmu yang juga sama sepertiku; seorang Pahlawan Suci yang dibuang, benar-benar membuat kepercayaanku pada kerajaan ini semakin habis tak bersisa!"
Cengkeraman tangan Naofumi mengerat, bahkan aku dapat merasakan kebencian miliknya menguar, sampai-sampai bisa kurasakan dari tempatku berdiri.
Aku tak akan menceramahinya atau apa, karena kami berdua merasakan hal yang sama. Aku bisa tahu, bahwa kebencian kami berdua terhadap orang-orang yang menjebak kami sangatlah besar. Sebagai Pahlawan Suci yang terpanggil untuk melawan [Gelombang Kehancuran], bukannya disambut dengan baik, tapi kami berdua malah difitnah melakukan kejahatan! Tentu saja, hal ini tidak bisa dimaafkan begitu saja!
"Ya sudah, cuma itu yang ingin kukatakan. Aku pergi duluan, ya."
Naofumi pergi begitu saja tanpa berbicara apa-apa lagi. Suasana hatinya sedang buruk, jadi aku akan membiarkannya saja.
Aku menatap Pak Tua. "Ngomong-omong, apa aku boleh menanyakan sesuatu?"
"Tentang apa?"
"Kau kenal dengan gadis yang selalu mendapat perlakuan buruk di kota?"
"Seorang gadis …?" Pak Tua mengelus janggutnya sambil berpikir. "Maksudmu, gadis berambut pirang yang ada di pinggiran kota itu?"
"Ah, iya itu. Kau tahu kenapa dia diperlakukan seperti itu?"
Beberapa hari ini aku selalu melihatnya diperlakukan dengan buruk oleh warga kota, tapi aku tidak tahu apa alasannya. Juga, aku sendiri tidak mau bertanya kepada orang-orang seperti mereka.
"Memangnya kenapa? Apa kau kasihan kepadanya?"
"Kasihan? Bah! Mana sudi aku mengasihani orang-orang di kerajaan ini!" Aku yakin, kalau semua orang di sini sama saja. Mereka semua pasti licik, dan aku membenci orang-orang seperti mereka!
"Emm, yah … aku salah karena menanyakan hal seperti ini padamu."
Baguslah kalau kau mengerti.
"Kalau aku tidak salah ingat, gadis yang kau maksud itu juga ikut saat pertarungan melawan Gelombang Kehancuran sebelumnya, kira-kira seminggu yang lalu. Aku dengar, kalau dia berhasil mengalahkan banyak monster saat itu. Tapi, beberapa hari setelah Gelombang Kehancuran berakhir, ada rumor buruk tentangnya."
"Rumor buruk? Seperti apa isi rumornya?"
"Aku tidak begitu mengerti, tapi yang jelas, banyak orang yang mengatakan kalau gadis itu memiliki sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Hanya itulah yang kudengar."
Sesuatu yang aneh? Aku tidak begitu mengerti apa maksudnya, lagipula … keadaan dunia ini juga bisa dibilang aneh jika dibandingkan dengan dunia asalku. "Yah, tidak apa-apa. Terima kasih karena sudah mau bercerita, Pak Tua."
"Sama-sama."
Aku teringat tentang tujuanku tadi pergi ke kota. "Oh, ya, Pak Tua, kau tahu tempat di mana aku bisa menjual semua drop item ini?" Aku menunjukkan barang jarahan kulit Orange Balloon yang kukumpulkan selama ini.
"Hm? Oh, kau tinggal pergi ke toko yang ada di ujung jalan sana. Aku yakin, dia pasti akan membelinya." Pak Tua menunjuk pintu sambil berkata seperti itu.
"Makasih, kalau begitu."
"Tunggu sebentar!"
"Apa lagi?" Aku berbalik ketika aku baru saja ingin meninggalkan tokonya.
"Kau terlihat menyedihkan jika hanya memakai pakaian seperti itu. Ini, ambillah!"
Aku saat ini memang hanya memakai pakaian pelapis yang biasa digunakan sebelum memakai armor. Yah, tepat setelah kejadian itu, aku sebenarnya berniat mengambil pakaian dunia asalku yang sudah kusimpan. Tapi, aku ternyata kehilangannya, dan sepertinya ada yang mencurinya ketika aku berada di kastil saat itu. Tentu saja, aku tak tahu siapa orang yang mencurinya.
"Berapa harganya?"
"Aku sebenarnya hanya ingin mengosongkan gudangku saja, tapi kalau kau ingin membayarnya, 5 bronze saja sudah cukup."
"Baiklah. Aku akan membayarnya nanti." Dengan segera, aku mengganti pakaian pelapisku dengan pakaian lengan pendek warna merah dan celana panjang hitam. Aku juga tidak lupa mengenakan jubah merah yang diberikan Pak Tua.
Setelahnya, aku pergi ke toko yang dimaksudkan Pak Tua. Pemilik toko itu sadar akan siapa aku, dan membeli semua drop item-ku tanpa ada masalah. Dia membeli dua lembar kulit balon seharga 1 bronze. Yah, aku sudah mendengar tentang reputasi Naofumi dan "serangan balon" miliknya, jadi pemilik toko ini tidak ingin mengambil resiko yang sama dariku. Itu bagus. Sepertinya, aku harus berterima kasih pada Naofumi tentang ini, karena berkat dia … aku tidak perlu bersusah payah untuk bernegosiasi dengan orang ini tentang harga penjualan .
Aku kembali ke toko Pak Tua untuk membayar hutangku dari pakaian yang tadi ia berikan, lalu aku pergi menuju keluar kota.
.
.
.
"Hyaaah! Rasakan ini!"
Aku baru saja keluar kota setelah aku tadi menyempatkan diriku untuk pergi ke restoran. Entah saat itu ada yang mengerjaiku atau gimana, aku sama sekali tidak bisa merasakan apa-apa pada makanannya. Rasa makanannya sangat hambar sekali.
Lalu saat ini, aku berjalan di hutan untuk kembali berburu monster, tapi kuputuskan berhenti di tempat ini karena aku melihat Naofumi. Sepertinya, setelah dia tadi meninggalkan toko senjata milik Pak Tua, dia pergi untuk leveling.
Aku berjalan mendekatinya. Dia sepertinya sedang melampiaskan segala kemarahannya pada para monster balon itu. "Kau sering berburu monster di daerah sini, Naofumi?"
Aku sebenarnya tidak bermaksud untuk mengejutkannya, tetapi Naofumi malah terlihat kesal karena aku yang bicara secara tiba-tiba di belakangnya. Dia berdecak sebentar, lalu menjawab, "Ya, begitulah. Kau sendiri?"
Aku menatap sekilas pada balon yang diinjak Naofumi sampai meletus saat dia menjawab perkataanku. Aku tidak tahu kenapa wajahnya tiba-tiba mengerut, seolah dia baru saja menemukan hal yang aneh di penglihatannya.
"Tentu saja, karena aku tinggal di sekitar sungai yang ada disana." Naofumi mengikuti arah yang kutunjuk.
"Benarkah? Kenapa kita tidak pernah sekalipun bertemu sebelumnya?"
"Karena mungkin saja, kita selalu mengambil jalan yang berbeda setiap kali berburu. Jadinya, kita tak pernah berpapasan."
"Masuk akal."
Aku duduk di bawah pohon yang berada di dekatku, menunggu Naofumi mengumpulkan barang-barang drop item-nya.
"Ngomong-ngomong, kau sudah ada di level berapa?" Aku menanyakan itu pada Naofumi ketika dia duduk di sampingku.
"Level 6."
Begitu, ya? Itu setengah dari milikku. "Aku baru level 3."
"Kita pasti sudah tertinggal cukup jauh dari mereka bertiga, 'kan?" Yang dia maksud pasti Ren, Motoyasu, dan Itsuki.
"Ya, kau benar." Aku menjawab itu secara singkat.
Ini akan menyusahkan jika kami berdua seperti ini terus. Maksudku, aku sadar jika statistik attack milikku dan Naofumi itu rendah, meski itu berbanding terbalik dengan statistik defense kami yang sangat tinggi. Yah, itu memang berguna agar kami tidak perlu takut memikirkan tentang rasa sakit lagi. Namun tetap saja, hal ini cukup merepotkan karena kami tidak bisa menciptakan damage yang besar kepada lawan.
Sebagai contoh adalah ketika aku melawan Motoyasu, perbedaan level kami cukup besar, bahkan pertahananku tidak cukup untuk menahan segala serangannya. Pokoknya, kami harus cepat-cepat meningkatkan level!
"Oh, ya, apa kau tidak memiliki anggota Party, Naofumi?" Aku baru menyadari hal ini. Sejak dari toko senjata, aku hanya melihat Naofumi sendirian, tentu saja ini membuatku heran. "Bukankah kita diperbolehkan untuk merekrut orang lain ke dalam Party?"
"Hah?! Setelah semua yang terjadi pada kita, kau masih menanyakan hal itu?! Jangan bercanda! Aku katakan padamu, Naruto, bahwa aku tak akan pernah memercayai seorangpun lagi dari dunia ini! Apalagi jika mereka memiliki jenis kelamin yang sama dengan Pelacur itu! Aku … akan berjuang sendirian sampai semua [Gelombang Kehancuran] di sini berakhir! Ingat itu!"
Aku tak menyangka kalau dia akan sampai semarah itu hanya karena aku menanyakannya. "Ya, kau benar. Maafkan aku. Aku tak akan menanyakan hal itu lagi padamu."
Kalau kuingat-ingat, tadi sebelum dia meninggalkan toko milik Pak Tua, Naofumi terlihat sangat marah. Kebenciannya bahkan dapat kurasakan dengan jelas. Sepertinya, setelah dia ditipu oleh si Pelacur itu, dan melihatku yang juga mengalami hal sama dengannya, ini membuat rasa kepercayaan dalam dirinya kepada orang-orang di sini sudah tidak ada. Aku … yah, aku memang tak bisa menyalahkan jalan pikirannya. Bagaimana pun juga, semua masalah milik Naofumi bermula karena si Jalang itu—Myne! Ya, begitupula yang terjadi denganku, meski si Sampah sempat ikut andil sedikit di dalamnya!
Aku menggaruk kepalaku, bingung ingin melakukan apa sekarang ini. Jika dipikir-pikir, karena kami berdua mengalami hal buruk serupa, ini membuat kami seperti memiliki cara berpikir yang sama pula. Yah, atau mungkin … ini cuma perasaanku saja? Entahlah.
"Aku punya ide!" Aku tiba-tiba berseru seperti itu, membuat Naofumi yang masih dalam keadaan kurang baik, menoleh padaku.
"Ide? Seperti apa idemu?"
"Bagaimana jika kita membuat Party sendiri?! Kita berdua; kau dan aku—tentu saja, beginilah ide yang kumaksud!"
"Percuma." Naofumi mengalihkan pandangannya lagi, kali ini dia mengecek sesuatu di perisai miliknya.
"Maksudmu?" Aku kurang mengerti perkataannya. Percuma? Kita bahkan belum mencobanya sama sekali!
"Kuberitahu intinya saja. 'Jadi, jika kita berpetualang secara bersama, itu hanya akan membuat perkembangan kita semakin lambat'. Begitulah yang kuketahui dari legenda di dunia ini. Lagipula, di [Buku Panduan] sudah ada peringatannya. Coba saja kau cek."
Aku mengikuti perintah Naofumi dan menekan [Buku Panduan]. Aku mencari sesuatu, menekannya, lalu …
Bip!
… suara itu muncul, diikuti oleh sebuah layar yang memenuhi bidang pandangku.
[Perhatian!]
[Jika ada Pahlawan Suci lain di sekitar Anda yang Anda anggap sebagai teman, maka itu akan memberikan keuntungan kepada kalian. Namun sebaliknya, jika di sekitar Anda ada Pahlawan Suci lain yang Anda anggap sebagai lawan, maka itu akan memberikan kerugian kepada mereka saja, sekaligus memberikan keuntungan bagi Anda seorang.]
Hm? Aku tidak menemukan apa yang dimaksud Naofumi barusan, justru ini jauh berbeda dengan apa yang dia katakan. Apa ada yang salah, ya?
Aku memberitahu Naofumi tentang apa yang kutemukan, dan seperti yang sudah kutebak, dia sendiri merasa bingung seperti aku.
"Ini aneh. Coba kau lihat milikku."
[Peringatan!]
[Senjata-senjata Suci dan pemilik mereka akan mengalami efek yang merugikan, jika mereka bertarung bersama.]
[Perhatian!]
[Disarankan bagi para Pahlawan Suci dan senjatanya untuk digunakan secara individual serta terpisah.]
—Tadi itu adalah apa yang ada di [Buku Panduan] milik Naofumi.
Ternyata apa yang tadi dikatakannya benar. Jadi, apa milikku lah yang rusak? Kami berdua masih belum bisa memastikannya.
"Hmm, jadi begitu. Pasti inilah alasannya hal itu tadi bisa terjadi …."
Naofumi menggumamkan itu sambil memasang ekspresi berpikir keras di wajahnya. Apa yang dia katakan, coba? Aku tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Naofumi.
"Maksudmu? Bisa kau berkata lebih jelas sedikit, Naofumi?"
Dia menggeleng. "Bukan apa-apa. Hanya saja … aku teringat sesuatu saat kau tadi mendekatiku, ketika aku sedang melawan Orange Balloon."
Oh, maksudnya pasti awal-awal tadi aku datang ke tempat ini.
"Tadi, setelah aku mengalahkan Balon itu, aku mendapat dua kali lipat Exp., dari yang biasanya kudapatkan. Awalnya, kupikir ada kesalahan sesuatu pada pemberitahuan milikku, tetapi sepertinya …."
"Sepertinya apa? Jangan berbicara menggantung seperti itu! Kau hanya membuatku penasaran saja!"
"Yah, sepertinya … ini ada hubungannya denganmu. Kau paham? Tentang apa yang baru saja kau tunjukkan padaku. Nah, itulah yang kumaksud!"
Hm, memberi keuntungan bagiku dan Pahlawan Suci lain yang kuanggap sebagai teman, kah? Apa itu yang dia maksud? Yah, karena aku dan Naofumi mendapat perlakuan buruk yang sama dari dunia ini, tentu saja ini membuat kami berdua secara tidak sadar, langsung menjadi dekat. Kami saling mengerti dengan keadaan yang telah menimpa kami. Aku memang percaya bahwa kami bisa menjadi rekan yang hebat nantinya.
"Lalu, bagaimana dengan mereka bertiga? Apa mungkin ada perbedaan lain di setiap aturan para Pahlawan Suci?" Aku menanyakan hal itu, karena sepertinya Naofumi lebih mengenal mereka.
"Tidak. Aku yakin sekali kami berempat memiliki kesamaan dalam hal ini, karena kami sudah memastikannya dulu."
"Begitu, ya?" Ini membingungkan. Ada banyak hal rumit yang perlu kupelajari dari dunia ini.
—Setelahnya, aku dan Naofumi pun melanjutkan diskusi kami bersama-sama, sekaligus saling bertukar informasi apapun yang kami miliki masing-masing.
Ada banyak hal yang kuketahui dari cerita Naofumi, mulai dari dia yang ternyata sama sepertiku ketika dipanggil dari dunia asalnya; yaitu lewat dari sebuah buku. Berbeda dengan kami berdua, Naofumi mengatakan, kalau Motoyasu, Itsuki, dan Ren, terpanggil ke dunia ini setelah mereka meninggal. Yah, itu terdengar sedikit umum bagi orang-orang yang dipindahkan ke Isekai, seperti contohnya dari beberapa light novel yang pernah kubaca dulu.
Naofumi juga pada hari pertama langsung percaya kepadaku sebagai Pahlawan Suci ketika mendengar cerita kejadian yang kulalui hampir mirip seperti dirinya. Namun sepertinya masih ada perbedaan siginifikan di antara kami berdua. Ya, itu tentang buku yang kami temukan. Di buku yang ditemukan Naofumi, hanya ada Empat Pahlawan Suci saja disana, berbeda dengan di buku yang kutemukan, menyebutkan bahwa ada Lima Pahlawan Suci.
Sama seperti yang dikatakan Sampah, buku milik Naofumi hanya menyebutkan keberadaan dari Empat Senjata Suci; Pedang, Tombak, Panah, dan Perisai. Disana tidak menyebutkan, atau paling tidak, sedikit membahas keberadaan tentang Armor milikku. Memang ini sedikit terdengar aneh, karena meskipun jalan cerita di buku kami berdua sangatlah sama persis, hanya perbedaan tentang total terpanggilnya Pahlawan Suci lah, yang membedakan inti dari semua masalah ini.
…. Setelah diskusi itu, aku pun kembali mengingat ucapan si Sampah tentang diriku yang disebut olehnya sebagai Anomali. Seberapa banyak apapun aku memikirkannya, aku tetap masih belum bisa menemukan arti dari perkataannya itu.
.
.
—Hero Without Weapon—
.
.
Tiga hari berlalu, dan sejak diskusiku dengan Naofumi, kami akhirnya memutuskan untuk membuat Party berdua. Seperti yang dia asumsikan, ternyata kami memang mendapat keuntungan karena bersama—persis seperti yang dikatakan di [Buku Panduan] milikku.
Kami meningkatkan level bersama, juga kadang mengumpulkan uang. Ternyata, selain menjual drop item, aku baru tahu kalau Naofumi menjual obat-oabtan. Yah, itu memang ide yang bagus, mengingat akan datang [Gelombang Kehancuran], jadi pasti barang seperti ini akan sangat dibutuhkan oleh warga sekitar.
"Oi, oi! Menyingkir dari sini! Cepat! Dia sudah datang!"
"Ah! Tolong maafkan aku! Aku tidak sengaja! I-Ini, tolong ambil saja uangku! Dan tolong segera pergilah dari sini!"
"Aku tidak butuh uangmu, Sialan!"
Aku membentak orang yang baru saja menyenggolku. Kau pikir aku gila pada uang? Aku bisa mencari uang sendiri tanpa harus meminta milikmu!
—Yah, berbeda dengan Naofumi yang selalu dihina, banyak warga kota ini yang malah takut kepadaku. Hal itu dikarenakan banyak rumor yang mengatakan, bahwa aku sudah banyak membunuh orang. Bahkan, hanya beberapa warga kota saja yang masih berani kuajak bicara. Selebihnya? Mereka langsung menjauh ketika melihat aku datang mendekati mereka! Warga kota ini sangatlah tidak sopan!
Seperti tadi contohnya, orang yang tidak sengaja menabrakku langsung memberikan semua uangnya, berharap agar dia tidak kusakiti! Aargh! Ya ampun! Aku sudah bosan dengan semua kesalahpahaman ini!
Aku membutuhkan informasi, tapi jika tidak ada orang yang mau kuajak bicara, apa yang bisa kudapat?!
"Ah, halo, Yuusha-sama! Aku lihat kau sedang kesusahan."
"Apa mau kalian?"
Aku berhenti di lorong gelap, di belakang bangunan kota, ketika aku mendengar ada yang mengajakku bicara. Mereka berjumlah tiga orang.
"Kami lihat, kau sedang kesusahan, jadi kami mau menawarkan bantuan kepadamu."
"Benar, benar! Anggap saja ini hari keberuntunganmu!"
"Tepat sakali! Kihihi!"
Jangan berlagak sok baik kepadaku! Kalian pikir, aku tidak bisa melihat sorot mata licik kalian tadi saat mendekatiku, hah?!
"Aku tidak butuh bantuan kalian. Pergilah sana!" Aku membalikkan tubuhku, membelakangi mereka.
"Apa?! Jangan sombong kau!"
"Dasar! Kau orang yang tak tau diuntung!"
"Ya sudah. Gak perlu basa-basi lagi! Cepat serahkan saja semua uang yang kau punya!"
Heh, akhirnya kalian membuka topeng asli kalian. "Kalau memang itu yang kalian mau, katakan saja dari awal. Omong kosong kalian hanya akan membuang waktuku saja, paham?"
Mereka benar-benar menjijikkan.
"Ini! Ambil saja kalau kalian bisa menangkapnya!" Aku mengeluarkan sekantong uang, lalu melemparnya ke atas. Mereka bertiga tertawa cekikikan. Dasar bodoh.
Dengan gerakan cepat, aku langsung menendang orang di kiriku, membuat dia menghantam dinding di belakangnya. Dua orang yang lain terkejut dan ingin menyerangku, tapi itu sudah terlambat. Aku melakukan sapuan bawah, membuat orang yang mendekatiku terjatuh, lalu aku melanjutkan dengan manghantam dagu orang terakhir menggunakan tendanganku.
"Maaf, tapi sepertinya ini bukanlah hari keberuntungan kalian." Aku menangkap sekantong uang milikku yang kulemparkan tadi, lalu menyimpannya.
Ini terlalu mudah untuk menjatuhkan mereka. Memang itu tak akan melukai mereka karena aku yakin seranganku tidak berdampak apa-apa, tapi paling tidak … itu pasti membuat mereka kesakitan karena terjatuh dengan keras.
"Bangsat! Rasakan ini!"
Orang yang kuserang pertama mengeluarkan sebuah pisau dan ingin menusukku dengan itu, tapi belum sempat dia mengenaiku, muncul semacam aura tipis di sekelilingku dan membuat orang itu terlempar menjauhi dariku. Heh, dasar bodoh. Senjata SuciSuci secara otomatis akan merespon jika ada suatu bahaya yang mendekatiku, dan dengan sendirinya akan melindungiku dari bahaya tersebut.
"Sial! Ayo pergi dari sini!"
Pergilah sejauh mungkin sana, selagi kalian masih punya kesempatan untuk hidup, Brengsek!
"Mereka hanya ingin memanfaatkanku." Kejadian ini malah membuatku teringat pada si Pelacur itu yang pada awalnya bersikap baik kepadaku. Tapi pada akhirnya aku malah ditipu. Sudah kuduga, tidak ada yang beres sama sekali dengan orang-orang dari dunia ini! Mereka busuk semua!
"Pertahananku tinggi, tapi seranganku rendah. Karena seranganku rendah, aku tak bisa mengalahkan monster. Jika mereka tak bisa kukalahkan, levelku tidak akan pernah naik. Dan karena levelku tidak naik, seranganku juga akan selalu lemah!"
Inilah yang namanya lingkaran setan!
Aku hanya bisa menjadi kuat saat aku menggunakan [Assassin Armor], tapi ada batasan waktu untuk menggunakannya. Aku tidak bisa menggunakannya secara sembarangan. Sangat merepotkan.
Aku berjalan meninggalkan tempat itu ….
.
.
.
"Hiks, hiks! Hiks!"
Hm? Sepertinya aku mendengar suara dari balik semak itu. Aku mendekatinya untuk mengecek apa itu sebenarnya.
Di situ ada seorang gadis dengan rambut panjang berwarna pirang yang sangat kusam, terlihat kotor seperti tidak pernah dirawat selama berbulan-bulan. Mata berwarna kecubungnya terlihat kosong, bahkan hampir seperti tak ada cahaya sedikitpun disana. Jujur, aku tak pernah mencium aroma kematian yang sangat pekat sebelumnya, jika dibandingkan dengan apa yang dikeluarkan oleh gadis ini.
"Kau …."
Tentu aku ingat, dia adalah orang yang sama, dengan orang yang kulihat beberapa hari yang lalu di kota—lebih tepatnya, pada malam itu, ketika aku baru saja keluar dari penjara. Dia juga gadis yang kumaksud ketika aku bertanya kepada Pak Tua pemilik toko senjata beberapa hari sebelumnya.
Seakan baru sadar jika ada aku di sampingnya, dia menoleh secara bingung, sebelum akhirnya ekspresi ketakutan muncul di wajahnya.
"Ah! Ti-Tidak! Tolong ampuni aku!"
Melihat dia ketakutan sambil mengesot ke belakang membuatku puas. Bagaimana pun juga, dia memiliki jenis kelamin yang sama dengan Pelacur itu, jadi ini membuatku senang saat dia takut kepadaku. Heheh ….
—Tapi biarlah, aku tak punya urusan dengannya, jadi aku berniat untuk segera pergi dari sini.
"An-Anda … tidak ingin memukul saya?"
Aku berhenti melangkah sambil menoleh ke belakang. "Maksudmu aku?"
Dia mengangguk secara kaku, terlihat ragu-ragu. Sepertinya, dia sudah sedikit tenang, meski aku dengan jelas masih bisa melihat ketakutan dari sorot matanya.
"Untuk apa aku melakukannya?"
Dia hanya memiringkan kepalanya seolah bingung dengan apa yang baru saja kukatakan, tanpa ada niat sedikitpun menjawabku. Gah! Ini hanya akan membuang waktuku saja!
"Ma-Maafkan saya!"
Dia ketakutan lagi. Sepertinya, dia melihat perubahan ekspresi kesalku tadi. "Tidak apa-apa. Aku tak marah padamu."
Kruyuuk~ ….
"A-Ah!"
Dia memegang perutnya sambil menunduk, seolah sedang menahan rasa laparnya.
Aku bisa mendengar suara perutnya barusan. Sepertinya dia kelaparan. Jika kuingat, dia selalu mendapat perlakuan buruk di kota, dan tak pernah ada yang mau memberinya makanan ketika dia memintanya. Apa boleh buat.
"Ayo, ikuti aku!"
Dia kembali memiringkan kepalanya. Aku hanya mengabaikan itu, dan langsung berjalan. Meskipun pada awalnya ia ragu, gadis itu tetap mengikutiku dari belakang.
Aku pulang ke tempat tinggalku—lebih tepatnya, ini hanyalah hutan dekat sungai yang biasanya kugunakan untuk tidur di malam hari.
"Makanlah." Aku memberinya ikan yang kubakar tadi pagi. Ya, ini ikan yang biasanya kutangkap di sungai yang ada di sebelahku.
Dia kembali menatapku bingung.
"Kenapa? Bukankah kau lapar? Atau kau … tidak suka dengan makanan ini?"
"A-Ah, tidak, bukan begitu maksud saya!"
"Kalau begitu, makanlah ini."
"…. Bolehkah?"
"Tentu saja. Cepat makan!"
"Uhm, terima kasih, Tuan."
"Ya."
Dia memakan ikan itu dalam waktu yang singkat?! Ya ampun, aku heran, sudah berapa lama dia tidak makan sih?!
"Pelan-pelan saja kau makannya. Aku masih punya banyak ikan di sini."
"Ha-Hai', Tuan!"
Aku membiarkannya untuk menyelesaikan acara makannya, sementara aku sibuk dengan mengecek beberapa Armor baru yang sudah kubuka setelah menyerap beberapa bahan material. Aku menyadari, ternyata tidak hanya material dari monster saja yang bisa diserap oleh Senjata Legendaris, tetapi barang-barang sekitar kita maupun sesuatu di kehidupan sehari-hari, itu semua dapat diserap. Sebagai contohnya, di sini aku sudah membuka [Leaf Armor], [Fish Armor], dan masih ada yang lainnya. Kedua armor itu memberiku bonus equip skill: [Absorption Ability +1] dan [Fishing Ability +1].
Sepertinya, tak ada satupun upgrade yang tersedia untuk saat ini. Huh, apa kau mempercayainya? Itu tampak seperti senjata tertentu bisa dipakai dan ditingkatkan, berkembang semakin kuat seiring berjalannya waktu.
Aku paham. Itu sama seperti skill dan senjata yang naik level di game online. Dikatakan bahwa untuk mempelajari skill tertentu, kekuatan tersembunyi di setiap senjata kami harus dibangkitkan. Itu tampak sama persis dengan sebuah game. Yah, meskipun aku sendiri sadar, kalau ini adalah dunia nyata.
"Astaga?!"
Aku berteriak seperti itu saat aku baru saja mengecek gadis tadi. Dia menghabiskan semua ikan yang kubakar untuk makan malamku nanti! Aaargh!
"Ah, maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud untuk …."
"Lupakan saja."
Baiklah, abaikan saja itu. Aku akan memikirkan hal lain untuk makan malamku nanti.
"Uhm, sekali lagi … terima kasih, Tuan. Ini adalah kebaikan pertama yang saya terima setelah sekian lama."
"Hm, begitu? Baguslah." Aku sadar akan cara bicaraku yang akhir-akhir ini menjadi buruk, tapi bodo amat lah dengan itu.
…. Yah, aku tidak tahu bagaimana kehidupan gadis ini yang dulu, tapi yang jelas, Pak Tua bilang, kalau kehidupan gadis ini hancur karena adanya rumor buruk yang beredar tentang dirinya setelah Gelombang Kehancuran sebelumnya berakhir. Aku tidak tahu seperti apa kekuatannya, hingga dia bisa mengalahkan banyak monster. Dan yang membuatku bingung, kenapa mereka malah mencoba untuk menyingkirkan gadis ini? Kalau dia punya kekuatan yang hebat, seharusnya kekuatannya dapat membantu saat Gelombang Kehancuran tiba. Apa ada orang yang tidak menyukai keberhasilan gadis ini, hingga seperti inilah yang terjadi?
—Aku teringat pada Pelacur itu, Myne. Dia dulu terlihat sangat tidak suka saat melihat gadis ini, sifatnya langsung berubah 180 derajat! Pasti, dan aku sangat yakin, kalau dia yang sudah menyebarkan rumor itu! Kalau memang benar, berarti sudah ada tiga orang yang menjadi korbannya! Ini membuat kebencianku terhadapnya semakin besar! Sial! Dia memang yang terburuk!
Ugh, aku menyadari gadis itu yang kembali ketakutan saat melihatku, jadi aku segera menghilangkan ekspresi menyeramkanku.
"Kau …, aku dengar dari seseorang, kalau kau memiliki kekuatan yang besar, benar?"
"Eh?!"
Hanya melihat ekspresinya barusan, aku sangat yakin kalau apa yang kukatakan tadi, tepat sasaran. Aku berdiri dan berjalan mengelilinginya sambil tetap mengawasi setiap gerak-geriknya.
"Bukankah kau memiliki jasa yang besar saat Gelombang Kehancuran sebelumnya datang? Tapi akhirnya, kau malah dijauhi semua orang. Kita memiliki satu kesamaan; sama-sama dibuang oleh kerajaan ini!"
"…."
"Kau punya kekuatan, sementara aku punya pertahanan! Aku akan memberimu makanan dan memberimu perlindungan dari orang-orang busuk di kerajaan ini. Tapi di saat yang bersamaan, berikanlah kekuatanmu kepadaku; bantu aku untuk mencapai tujuanku!"
Ya, aku sadar dengan apa yang aku lakukan. Aku mengambil resiko besar untuk memberi sedikit kepercayaanku padanya; orang dari dunia ini yang sudah kuketahui akan kebusukan mereka! Aku belum sepenuhnya percaya kepadanya, tapi ini patut untuk dicoba. Jika dia akan mengkhianatiku di masa depan, maka aku tak akan pernah mengampuninya. Aku akan mengejarnya, dan membunuhnya. Kita lihat saja nanti, siapa yang akan bertahan hingga akhir.
"…. Bagaimana? Apa kau setuju dengan apa yang kutawarkan?"
Aku tidak peduli dengan perkataan warga kota yang mengatakan, kalau gadis ini mendapatkan kekuatan besar dari Iblis. Aku tak begitu peduli soal itu, yang penting dia bisa kugunakan. Aku harus bisa bertahan di dunia ini, sampai aku bisa kembali ke dunia asalku. Aku bahkan mulai mempertanyakan, bagaimana keadaan kedua orang tuaku disana. Apa mereka sadar jika aku tidak ada di rumah? Apa mereka sedang mengkhawatirkanku? Entahlah.
Dia mendongak, mata kecubung miliknya yang tidak ada sedikitpun cahaya, menatapku seolah-olah sedang mencari sesuatu yang sangat dia inginkan di dalam diriku ini. Entah apa itu, aku sendiri tidak tahu.
"…. Apa Anda akan berjanji?"
"Hm?" Aku tidak mengerti.
"…. Apa Anda berjanji, Anda akan selalu melindungi saya?"
"Tentu saja." Aku mengulurkan tanganku kepadanya, memberi sebuah isyarat. "Lalu, bagaimana jawabanmu?"
"Saya …."
Gadis ini menyambut uluran tanganku dengan ekspresi yang masih ketakutan. Sepertinya, perlakuan buruk kerajaan ini sudah sangat parah. "Sa-Saya … akan mencoba yang terbaik, Goshoujin-sama …."
"Tapi ingatlah, aku tak akan pernah mengampuni siapapun yang berani mengkhianatiku! Itu juga termasuk untukmu, paham?"
"…. Saya me-mengerti, Tuan!"
Baguslah kalau begitu. "Siapa namamu?"
"J-Jeanne, Jeanne d'Arc."
Sepertinya, dia satu tahun lebih tua dariku yang baru berumur 17 tahun.
"Aku akan mengandalkanmu nanti."
"Ba-Baik!"
Aku melihat kalau hari sudah semakin siang, jadi aku bersiap untuk pergi ke toko senjata yang ada di kota.
"Ngomong-ngomong, berapa levelmu?"
"Saya saat ini berada … di level 5."
"…?!"
Tunggu dulu. Dia … bercanda, 'kan?! Dia yang sudah mengalahkan banyak monster saat Gelombang Kehancuran sebelumnya, masih berada di level serendah itu?! Kupikir, paling tidak, dia harusnya berada di level 10 ke atas! Tapi ini …?!
—Jika kuasumsikan, saat dia mengikuti pertempuran di gelombang sebelumnya, kemungkinan dia ada di level 2 atau 3! Kalau ini memang benar, aku mulai mempertanyakan, kekuatan apa yang dimiliki oleh Jeanne, hingga dia bisa bertahan saat Gelombang sebelumnya terjadi?
Bersambung
[A/N]:
Yoo! Apa kabar, Semuanya? Ini adalah update-anku di awal tahun 2021. Yah, sedikit lama karena aku masih sibuk di urusan sekolah. Tahu lah kalian, ini masa-masa terakhirku di SMA. Cuma tinggal menghitung beberapa bulan aja sebelum aku lulus.
Oke, masuk kembali ke pembahasan chapter kali ini. Pertama, di sini … JEANNE SUDAH KELUAR …! OH, YEAAAAH!
—Ehem, yah, tolong abaikan saja yang di atas. Wkwk.
Kedua, terima kasih pada akun guest. Aku sepertinya di beberapa chapter kemarin kelupaan untuk menjelaskan bagaimana keadaan kedua orang tua Naruto. Yah, sejauh ini, beberapa cerita di anime, manga, ataupun LN yang sering kubaca dan kulihat, kebanyakan MC-nya pasti punya masalah tersendiri di dunia asalnya, yang pada akhirnya mendapat berkah untuk hidup kedua kalinya di Isekai.—Entah kalau ada yang gak kayak gini konsepnya, aku kurang tahu. Intinya, aku bener-bener kelupaan untuk ngasih sedikit konflik seperti apa yang dimiliki Naruto di dunia asalnya itu. Maafkan aku soal ini. Moga aja plot hole ini gak akan memengaruhi ceritaku untuk ke depannya. Sekali lagi, terima kasih kritiknya.
Ketiga, soal Tokusatsu? Ehm, aku gak terlalu yakin bakal ada yang begituan di sini atau enggak, tapi mungkin kalian bisa membayangkannya sendiri, bagaimana Armor yang akan dimiliki Naruto dari menyerap material setiap Boss Monster di semua Gelombang Kehancuran nantinya. Wkwk.
Mungkin itu aja dariku. Kalau ada yang ingin ditanyakan, silakan kalian menulisnya saja di kotak review. Jika kalian memunyai unek-unek maupun ide yang ingin disumbangkan, kalian juga bisa mencoret-coret di kotak review dari cerita ini.
Terima kasih kepada Reader yang sudah meluangkan waktunya sebentar untuk membaca karya kecilku ini, ataupun bagi kalian yang sudah meninggalkan sedikit kesan kalian di kotak review setelah membaca cerita ini. Sekian~
Special Thanks to Allah SWT.
Tertanda. [Infinity'D.'Emperor]. (29/Januari/2021).
