18/Agustus/2021
—Hero Without Weapon—
By: Abidin Ren
Summary: Naruto yang merupakan seorang murid SMA biasa, harus terpanggil ke dunia lain setelah dirinya menemukan sebuah buku tua. Bukannya disambut dengan baik, dia malah dianggap penyusup dan dijebloskan ke dalam penjara, pada hari pertama dirinya tiba di dunia tersebut. Kehidupan beratnya sebagai Pahlawan Armor pun dimulai saat itu juga.
Disclaimer: [Naruto] © Masashi Kishimoto | [Tate no Yuusha no Nariagari] © Aneko Yusagi | Dan Semua Karakter Milik Pengarangnya Masing-masing.
Mini Slight with [Fate Series] © TYPE-MOON.
Saya tidak mengakui kepemilikan atas semua karakter yang muncul di dalam cerita ini. Saya hanya meminjamnya, tanpa ada niat sedikit pun untuk merugikan pihak mana pun.
This Story Created by Me
Genre: Isekai — Adventure — Fantasy — Romance(?) — Harem(?)
Pair: [Naruto & ?]
Rated: T+ (M untuk adegan kekerasan dan kata-kata kasar!)
Warning: Alternate Reality! (AR!), Martial Arts, OOC(s)(?), Semi-Canon & Out of Canon, And Many More. [Mengambil Sedikit Elemen Kekuatan dari Fate Series]!
.
[—Naruto's PoV!—]
.
Happy Reading, Minna-san~
Enjoy It~
Please Like, Favorite, and Review!
.
[Arc I]: Pemanggilan Pahlawan Suci
[Chapter 5]: Rekan? Di Depan Mataku, Dia Hanyalah Sebuah Alat
Opening: MADKID — Rise (Opening dari Anime Tate no Yuusha no Nariagari Season 1 Bagian Pertama)
Siang hari, aku saat ini berjalan di jalanan kota. Seperti biasa, orang-orang di sini langsung menepi dari jalanan setelah mereka melihatku. Tapi yang membedakan hari ini dengan hari-hari sebelumnya adalah, mereka tidak hanya menunjukkan raut ketakutan terhadapku, tetapi juga marah. Tidak, rasa kemarahan, kebencian, dan hal lainnya itu saat ini tidak tertuju kepadaku, melainkan kepada seseorang yang sedang berjalan di belakangku.
—Jeanne d'Arc.
Ya, itulah nama dari gadis yang baru saja kutemui beberapa saat yang lalu. Meskipun sebenarnya aku sudah melihatnya sejak sekitar satu minggu lebih kemarin, tapi aku baru mpat berbicara dengannya tadi.
Aku sedikit menoleh ke belakang. Jeanne sedari tadi berjalan sambil menunduk, sepertinya ia kurang nyaman karena mendapat tatapan tidak mengenakkan dari sekitarnya. Dia pasti masih ketakutan akan perbuatan yang dia terima dari warga Kota Kastil. Aku memakluminya, aku beberapa kali juga sempat menyaksikan kejadian itu.
Aku melihat ada seorang anak kecil lewat ekor mataku. Dia melemparkan sebuah tomat pada Jeanne, tetapi aku berhasil menangkapnya tepat sebelum mengenai wajah gadis ini. Jeanne terkejut akan reaksiku. Sebenarnya lemparan tadi harusnya mudah untuk dihindari oleh Jeanne. Aku tak mengerti kenapa dia hanya diam saja. Apa dia sengaja membiarkan tomat itu untuk mengenainya?
Aku mencengkeram tomat tadi hingga pecah, mengotori tangan kananku. Lalu aku menatap tajam anak kecil tadi, membuatnya gemetaran ketakutan.
Kuangkat tangan kananku yang berlumuran warna merah tomat, sementara kepalaku menoleh ke sekeliling. "Aku akan mengatakan ini satu kali saja kepada kalian semua!"
Setelah mendengar suaraku, perhatian mereka kini langsung terfokus kepadaku.
"Jika ada di antara kalian yang berani mengganggunya lagi …," Aku menunjuk Jeanne menggunakan tanganku yang lainnya. Beberapa dari mereka yang yang paham dengan apa yang aku maksud, langsung memasang ekspresi seolah mereka baru saja menelan pil pahit, "… maka persiapkan diri kalian untuk berurusan denganku!"
"Eh?!"
Kenapa Jeanne yang paling terkejut setelah mendengar deklarasiku? Aneh sekali. Dia menatapku seolah-olah jika pendengarannya telah membohonginya.
Kakiku kembali melangkah, meninggalkan warga yang berbisik-bisik entah apa itu. Tapi, hanya dengan melihat ekspresi mereka, aku bisa tahu apa yang mereka pikirkan setelah aku mengatakan kalimat tadi. Takut, marah, dan tidak percaya, itulah yang bisa kutangkap.
"A-Anooo, Tuan?"
"Apa?"
Aku tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang saat Jeanne memanggilku.
"Kenapa … tadi Anda berbicara seperti itu?"
"Apa maksudmu? Aku sudah bilang, kalau aku akan melindungimu dari perbuatan mereka semua, 'kan? Dan sebagai gantinya, kau akan membantuku untuk mencapai tujuanku. Apa aku salah?"
"Ti-Tidak sama sekali! Anda memang mengatakan hal itu sebelumnya …."
"Baguslah kalau kau masih mengingatnya."
Dan tanpa perbincangan yang berarti lagi, kami terus berjalan hingga tiba di toko senjata milik Pak Tua.
"Kau rupanya, Bocah Armor."
Seperti biasa, si pemilik toko menyambutku dengan senyuman lebarnya ketika melihatku memasuki tokonya. Dia berdiri di balik meja konternya. Ekspresinya berubah saat menyadari Jeanne muncul dari belakangku. "Oh? Bukankah dia …?"
"Begitulah." Aku yakin Pak Tua sudah mengenal Jeanne, jadi aku tak perlu berbicara panjang lebar kepadanya.
"Jadi, kau memutuskan untuk menolongnya?"
"Aku lebih suka, jika kau mengatakannya sebagai kerja sama, Pak Tua." Aku mengoreksi kata yang barusan dia ucapkan. "Kami hanya melakukan hubungan timbal-balik yang saling menguntungkan. Itu saja."
Benar, aku sama sekali tidak berniat menolong Jeanne. Dari yang kudengar, dia memiliki kekuatan besar, dan dia bisa menggunakan senjata—suatu hal yang tidak bisa kulakukan tanpa [Assassin Armor]-ku. Aku memanfaatkan Jeanne? Terserah jika kalian berpikiran seperti ini tentangku, karena itulah kenyataannya. Asalkan dia bisa berguna untukku, maka aku juga akan melakukan apa pun untuknya.
…. Akan kulakukan segala cara, agar aku bisa bertahan di dunia ini, dan kembali ke dunia asalku. Itulah tujuanku saat ini yang telah kutetapkan.
"Yah, terserahlah apa yang mau kau katakan. Jadi, ada yang kau butuhkan saat ini? Tidak mungkin 'kan, kau datang ke mari hanya untuk mengunjungiku?"
Perkataan Pak Tua selalu tepat sasaran. "Bisa kau berikan senjata pada gadis ini? Anggarannya sekitar 6 silver." Aku mengatakan itu sambil menunjuk Jeanne menggunakan ibu jariku.
"Astaga, kau yakin dengan ini, Bocah? Kau mau membuatnya melawan monster lagi? Ah, terserahlah. 6 silver, 'kan?" Pak Tua memasang ekspresi keberatan, tetapi dia tetap menyiapkan barang yang kubutuhkan.
Aku menaruh 6 silver di atas mejanya. "Oh, ya, apa kau masih punya baju atau jubah yang bisa dipakai olehnya?"
"Tentu, aku masih memilikinya. Aku akan memberikannya gratis untukmu."
Pak Tua menaruh tiga buah pisau, yang secara berurutan adalah; pisau perunggu, pisau baja, dan pisau besi.
Sepertinya, harganya berubah berdasarkan cara penanganannya. Aku menyuruh Jeanne untuk mencoba memegangnya. Dia terlihat kebingungan, tapi tetap melakukan apa yang kukatakan.
"Kurasa yang ini sesuai untukmu."
"Ini baju yang kau minta!" Si pemilik toko kembali dari belakang. Dia melemparkan pakaian tersebut padaku, dan kutangkap.
Aku memberikan pakaian dan pisau besi itu kepada Jeanne, lalu mendorongnya ke tempat bilik ganti pakaian. Setelah menunggu sebentar, dia keluar. Hmm, pakaiannya kebanyakan berwarna biru-gelap, terlihat mencolok saat siang hari. Yah, biarlah. Selain itu, dia masih terlihat kotor, terutama di bagian rambut pirangnya itu. Jujur, yang ini sedikit menggangguku.
"Kau nanti sebaiknya mandi di sungai tadi." Ada sebuah sungai di padang rumput, lokasi yang sudah kutetapkan sebagai tempat tinggalku. Sungai itu mengalir melewati kerajaan ini, terpecah menjadi tiga anak sungai, dan aku selalu mengalihkan perburuanku ke arah sana. Seperti yang kalian tahu, disana terdapat banyak ikan, jadi itu bisa mengurangi biaya makan malamku.
"…. Baik."
"Nah, sekarang …" Aku mengeluarkan seekor Orange Ballon dari balik jubah merahku. Aku sempat menangkapnya tadi sebelum memasuki kota, "… coba kau serang monster ini dengan pisau itu."
"…?!"
Kenapa dia seterkejut itu? Apa ada yang salah dengan perkataanku? "Ada apa? Kenapa kau hanya diam saja?"
"Saya … tidak bisa melakukannya."
HAH?! Apa-apaan itu?! Dia pasti bercanda! "Apa maksudmu? Bukankah kita sudah melakukan kesepakatan sebelumnya?"
"Itu memang … benar."
"Kalau begitu, angkat pisaumu, dan serang monster balon ini!"
"Ta-Tapi …."
Ck, dia keras kepala sekali. Ini sangat menyebalkan!
Jeanne tiba-tiba menunduk ketakutan. Dia sepertinya sadar akan ekspresi marahku. Pak Tua sendiri hanya memandang kebingunan pada kami dari balik konternya.
"Jadi, apa maumu sekarang? Kau membantah perintahku, apa kau berniat untuk berkhianat?"
Jeanne menggeleng dengan keras beberapa kali. "Tidak! Bu-Bukan seperti itu! Anda sebelumnya bilang, bahwa saya hanya harus membantu Anda untuk mencapai tujuan Anda. Tapi, saya tidak pernah berpikir jika artinya itu, saya harus membunuh … monster …."
Begitu, ya? Karena itu, sebelumnya dia menerima dengan mudah pada tawaranku untuk membantuku, hm? Mungkin, aku harus menjelaskan lebih lanjut padanya tentang situasi menyebalkan yang kualami.
Aku berjalan mendekati kotak kayu yang berisi banyak pedang. Aku menatap Jeanne, yang juga sedang memperhatikanku.
"Lihat ini baik-baik."
Aku mengambil satu pedang disana. Tapi tak berselang lama, muncul percikan listrik kecil, dan pedang tadi terlempar dari tanganku, kemudian jatuh di lantai toko ini.
Jeanne hanya berekspresi bingung melihatnya, seolah ia masih belum mengerti.
"Aku tidak bisa menggunakan senjata selain armor di dadaku ini, tapi aku perlu meningkatkan levelku untuk bersiap melawan gelombang yang akan datang. Karena itulah, kau yang bisa menggunakan senjata, sangat kubutuhkan untuk membantuku meningkatkan level."
Aku tidak bisa asal membiarkan siapapun untuk masuk ke dalam Party-ku—tidak setelah apa yang kualami akibat dari Pelacur itu! Aku bisa mencoba hal ini pada Jeanne karena dia telah mengalami hal buruk yang sama sepertiku dan Naofumi. Tapi meskipun begitu, aku masih belum bisa memberikan kepercayaanku padanya.
Setelah mendengar perkataanku, Jeanne bertingkah gugup. "Meskipun Anda bilang begitu, saya sebenarnya … tidak bisa bertarung sama sekali …."
"…"
Baiklah, aku tidak tahu harus membalasnya seperti apa sekarang. INI TIDAK LUCU SAMA SEKALI!
Aku berjalan mendekati si pemilik toko, dan menggebrak pelan mejanya. "Oi, Pak Tua! Kau sebelumnya tidak berbohong padaku saat menjelaskan tentang kekuatan yang dimilikinya, 'kan?!"
"Jaga sopan santunmu saat berbicara dengan orang yang lebih tua darimu, Bocah."
"Terserah, dan jangan kau abaikan pertanyaanku."
"Dasar kau ini …." Pemilik toko mendesah panjang.
"Yah, aku yakin waktu itu melihatnya ikut bersama rombongan para petualang yang akan melawan gelombang." Dia melirik tempat berdirinya Jeanne. "Tapi, aku tidak benar-benar melihatnya ikut bertarung—yang kudengar tentangnya hanyalah rumor saja. Kau pasti paham maksudku, 'kan?"
Aku tidak melihat kebohongan sedikit pun dari apa yang dikatakan Pak Tua. Jadi, apa gadis ini berbohong kepadaku?
Aku berbalik, menatapnya, dan hal itu disambut olehnya dengan gemetaran ketakutan di sekujur tubuhnya.
"Kau baru saja mendengar apa yang dikatakan Pak Tua. Sebaiknya kau tidak berbohong, karena itu percuma."
Jeanne kembali menggeleng keras berulang kali. "Saya tidak berbohong! Saya … memang ikut dalam pertarungan melawan monster-monster beberapa minggu sebelumnya. Tapi, saya hanya melakukan ba-bantuan kecil, semacam membawakan senjata-senjata mereka ataupun memberikan obat-obatan bagi yang terluka." Dia mengatakan itu secara panik saat aku menatapnya curiga.
"—Setidaknya …, itulah yang dapat saya ingat …." Kedua matanya mengerling saat mengakhiri ucapannya.
Yang dapat dia ingat, huh? Aku tidak mengerti apa maksudnya itu, tapi terserahlah. Sepertinya akan percuma jika kami melanjutkan perdebatan ini, jadi lebih baik segera menuju intinya saja.
"Ingat, kita sudah melakukan kesepakatan! Suka atau tidak, kau harus terus membunuh monster untukku agar levelku bisa terus bertambah!"
Tubuh Jeanne terus bergetar ketakutan saat dia mendengarkan semua kata-kataku. Lalu, wajahnya berubah pucat seketika kala aku melanjutkan penjelasanku,
"—Dan jika kau masih mau menolak ini, maka jangan salahkan aku kalau aku akan menendangmu ke kerumunan warga kota, hingga akhirnya kau mendapat perlakuan buruk seperti sebelumnya dari mereka!"
Aku tidak peduli meski dia tidak bisa bertarung, asal Jeanne bisa menggunakan senjata, dan bisa membuatku menaikkan level, maka itu sudah cukup. Aku yakin, dengan terus bertarung melawan monster, maka kemampuan Jeanne akan meningkat dengan sendirinya. Jadi pada akhirnya, semua masalah ini hanya tergantung pada waktu saja.
"Nah, sekarang … pilihannya ada padamu." Aku mengarahkan ke depan monster yang ada di tangan kananku.
—Jika dia membunuh Orange Ballon ini, maka kuanggap dia menerima semua perkataanku sebelumnya. Tapi jika dia tetap diam, berarti tak ada alasan lagi bagiku untuk terus membawanya bersamaku.
Jeanne tetap berdiri diam sambil menunduk. Aku tak melihat sedikit pun ia bergerak, bahkan meski hanya menggeser kakinya.
"Cepat putuskan! Kau hanya membuang-buang waktuku saja!"
"Bocah, kau …." Si pemilik toko bergumam dari balik meja konternya. "Aku tidak mengerti, entah kerajaan ini yang sudah rusak, atau isi kepalamu itu yang memang sudah busuk."
"Ya, ya, simpan saja ucapanmu itu untuk nanti setelah kau melihat semua yang akan terjadi."
Perhatianku kembali fokus pada Jeanne yang mengangkat pisau besinya.
"Saya …."
Jeanne mencoba menenangkan dirinya, mengumpulkan keberanian. Dia tiba-tiba berlari, kemudian menikam Ballon di tangan kananku.
Pop!
[Anda: Exp. +1]
[Jeanne d'Arc: Exp. +1]
Beberapa notifikasi muncul di layar bidang pandangku. Sebelumnya aku sudah memasukkan nama Jeanne di daftar Party-ku, jadi dengan begitu, kami berdua akan dapat berbagi Experience Point yang telah kami dapat. Hal ini sama ketika aku bersama dengan Naofumi kemarin.
"Saya …."
"Hm?"
Aku tidak terlalu mendengar suaranya.
"Saya … ingin tetap bersama Anda, Tuan …." Dia mengangkat wajahnya, menatapku penuh permohonan.
"Setidaknya, kau masih berguna untukku saat ini, jadi akan kuizinkan kau ikut bersamaku. Kuharap, kau dapat semakin berkembang nanti, karena jika tidak … kau akan kutinggalkan."
Mukanya menjadi pucat, dan dia mengangguk secara kaku. "Ba-Baik, saya mengerti, Goshoujin-sama …."
Setelah kupastikan bahwa Jeanne mungkin tak akan mengkhianatiku, jadi ini bisa sedikit membuatku lega. Aku yakin dia tak memiliki siapa-siapa lagi, karena itulah dia rela tetap mau ikut denganku, meski Jeanne paham kalau dirinya cuma kuanggap sebagai alat saja.
Keperluanku di toko Pak Tua sudah selesai, jadi aku berniat meninggalkan tempat ini. Sebelum benar-benar keluar dari pintu, aku mendengar suara Pak Tua,
"Kehidupanmu di dunia ini baru saja dimulai, Bocah Armor, jadi ke depannya nanti, hidupmu pasti akan jauh lebih berat."
Entah dia bermaksud menyindirku atau memberi nasehat, jadi aku hanya membalas sekenanya saja, "Ya, ya, terserah!"
.
.
—Hero Without Weapon—
.
.
Aku dan Jeanne sekarang pergi menuju toko untuk menjual barang-barang yang telah kukumpulkan; drop item monster dan juga obat herbal yang telah kubuat sendiri.
Yah, membentuk Party dengan Naofumi ternyata tidak buruk juga. Dia yang mengajariku cara untuk meracik obat-obatan ini, dan karena hal itu lebih menguntungkan untuk dijual ketimbang drop item dari monster, jadi ini membuatku lebih cepat untuk mendapatkan banyak uang.
"Ini uangmu, Pahlawan."
"Terima kasih."
2 perak dan 45 perunggu? Wow, ini sedikit lebih banyak dari penjualanku kemarin.
"Sepertinya, kemampuanmu dalam membuat obat mulai semakin meningkat."
"Benarkah?" Pria dari toko Apotek itu mengangguk.
"Ya, kualitasnya mulai semakin bagus saja setiap kali kau menjual obatmu padaku."
—Itu bagus. Jika ini terus berlanjut, maka aku tidak perlu lagi mencemaskan uang yang kumiliki.
"Mana yang lebih menguntungkan, antara menjual obat-obatan dan bahan herbal secara langsung?" Aku bertanya padanya.
"Jika melihat keadaan dunia saat ini, yang kemungkinan terus-menerus akan dihantam Gelombang Kehancuran, menurutku obat yang sudah jadi adalah pilihan terbaik."
"Karena akan lebih mudah digunakan semua orang, ya?"
"Tepat sekali."
Kami berdua terus berbincang-bincang. Ia berbaik hati memberiku peralatan membuat obat, seperti cobek dan penumbuknya. Ada juga barang seperti: timbangan, termos, dan lain sebagainya. Katanya sih, dia ingin mengosongkan gudangnya. Juga, dia berpikir bahwa benda ini akan lebih berguna jika kubawa.
"Benda-benda itu sudah tua dan susah digunakan. Aku tidak tahu berapa lama lagi itu bisa bertahan sebelum akhirnya rusak."
"Terlihat cukup bagus bagi pemula sepertiku."
Aku berpikir jika aku membeli barang-barang yang masih baru, mungkin itu akan mahal. Aku berterima kasih pada pemilik Apotek.
Setelah merasa cukup akan informasi mengenai berbagai macam obat darinya, aku memutuskan untuk pergi dari toko pria itu. Mungkin, kapan-kapan aku akan coba untuk membuat obat lain, selain yang sudah pernah kubuat saat ini.
Matahari sudah sedikit tergelincir menuju barat, jadi aku berniat pergi menuju padang rumput untuk menaikkan level. Ya, maunya sih begitu, tapi ….
Kruyuuukk~
"Ah!"
Jeanne memalingkan wajahnya ke samping dengan pipi merona ketika ketahuan perutnya berbunyi.
"Ayo cari makan dulu."
"Umm, baik …."
Dia langsung jujur kalau berurusan dengan makanan. Yah, itu bagus, karena aku tidak mau melakukan perdebatan konyol lagi, seperti sebelumnya.
Kalau dia memang lapar, akan kubelikan makanan. Tidak ada gunanya memiliki pisau yang tumpul, jadi kita harus selalu mengasahnya agar ketajamannya tetap terjaga. Sama halnya dengan Jeanne, kalau dia berburu monster dalam keadaan lapar, maka kami tak akan bisa mendapatkan banyak buruan, dan itu nantinya malah akan berimbas pada keuanganku.
Aku mencari tempat makan yang kelihatan murah, lalu kami memasuki sebuah restoran terdekat. Tempatnya begitu ramai, beberapa orang memasang ekspresi tidak suka saat melihat Jeanne, tapi semua itu langsung berubah tatkala aku menatap balik mereka dengan tajam. Sepertinya, perkataanku sebelumnya yang ingin melindungi Jeanne, sudah menyebar dengan cepat ke telinga warga kota.
Aku segera duduk. Tak lama kemudian, seorang pelayan menghampiri tempat mejaku. "Aku pesan makanan paling murah di sini. Kau mau makan apa?" Aku bertanya pada Jeanne yang masih diam.
"Eh?! Saya juga?"
"Bukankah kau lapar?"
"Tidak, saya hanya …." Dia menggeleng, mencoba menyangkal suara perutnya yang kembali bergemuruh. Ada apa dengannya? Sebelumnya saat aku bilang mau cari makan, dia kelihatan senang.
Hm? Dia terus melirik orang di samping meja kami. "Tolong sama kan saja pesanannya dengan orang di sebelah." Aku menunjuk makanan yang kumaksud.
"Eh, Goshoujin-sama …?!"
"Baik. Semuanya jadi 12 bronze." Si pelayan mengabaikan pekikan Jeanne, dan tetap menulis apa yang sudah kukatakan. Aku memberinya uang pas, dan dia segera kembali ke belakang.
"Kenapa kau terus berdiri? Duduklah."
"Ah, ba-baik."
Beberapa saat menunggu, akhirnya makanan kami datang. Aku mulai menyantap makan siangku. Aku melirik Jeanne yang hanya diam menatap makanan di depannya. "Makanlah."
"Tapi …."
"Apa? Kau ingin makan yang lain?"
"Tidak. Hanya saja …."
"Apa? Kita datang ke restoran untuk makan, ingat?"
"Iya. Saya cuma berpikir, kita datang ke sini karena Anda ingin makan sesuatu, Tuan."
Huh? Apa masalah gadis ini, sih? Aku tidak mengerti. "Tentu saja aku lapar, dan kau juga, 'kan? Sudahlah, cepat makan saja."
"…. Kenapa?"
Hah~ dia ini memang keras kepala. "Setelah ini, kita akan meningkatkan level, jadi kau harus punya tenaga untuk melawan monster nanti."
Jeanne mengedipkan matanya dua kali, bingung. Tapi, dia kemudian mengangguk. "Uhm, saya mengerti."
Ia mengambil sendok, dan mulai memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.
"Bagaimana rasanya?"
"Ini … enak sekali!"
Aku tidak tahu apa dia berbohong soal ini atau tidak, karena jujur saja … aku tidak merasakan apa pun pada makanan di depanku. Aku melihat orang-orang di sekitarku, mereka terlihat begitu menikmati makanan mereka. Apa aku sedang dikerjai?
Jeanne memakan makanannya dengan lahap, wajahnya juga terlihat sangat bahagia. Mungkin itu karena dia sudah lama tidak memakan sesuatu yang seperti ini. Hah, melihat ini saja aku sudah yakin, kalau makanan yang dia makan memang enak. Dia sangat jujur jika menyangkut soal makanan.
—Jadi, aku mulai menyadari sesuatu, bahwa memang ada yang tidak beres dengan tubuhku. Setelah kejadian di mana Myne yang mengkhianatiku, aku benar-benar sudah tak bisa lagi menikmati semua hal yang kumakan. Semua terasa begitu hambar bagiku.
.
.
.
Setelah makan siang, sesuai dengan apa yang kurencanakan, kami pergi menuju ke padang rumput. "Baiklah, kita mulai dari area sekitar sini saja. Monster di sini tidak terlalu kuat, jadi kau tidak perlu takut. Aku akan melindungimu."
"Baik …?" Nadanya terdengar sedikit bingung bagiku.
Aku berjalan-jalan, hingga menemukan rerumputan setinggi lutut yang bergerak-gerak. Itu pasti para Ballon! "Bersiaplah, mereka datang!"
Jeanne menyiapkan pisau besinya. Para Ballon melompat ke arah kami, jadi kami berdua mulai mempersiapkan diri.
Berkat point defense-kuyang tinggi, jadi aku tidak merasakan sakit saat mereka menggigiti seluruh tubuhku. Dan sebaliknya, monster-monster ini tak mendapat dampak yang begitu buruk, tidak peduli seberapa banyak aku mendaratkan pukulan dan tendanganku pada mereka, semua ini karena point attack milikku yang sangat rendah.
Aku melirik tempat Jeanne berada, dia terlihat kesulitan untuk menyerang para Ballon. Jangankan melawan, aku bahkan belum melihat dia mendaratkan serangan satu kali pun.
Aku mencengkeram erat satu Ballon yang menggigit bahu kiriku, lalu menariknya. "Jeanne!"
Dia menoleh, dan kupegang Ballon tadi di depanku menggunakan kedua tangan. "Serang sekarang!"
Dia awalnya kebingungan, tetapi mulai mengerti dengan apa yang kumaksudkan tidak lama setelahnya. Dia berlari, kemudian menghunuskan pisaunya pada monster itu.
[Anda: Exp. +2]
[Jeanne d'Arc: Exp. +3]
"Bagus, mulai sekarang, kita akan menggunakan cara itu. Akan kutangkap dulu mereka, baru kau serang. Ini pasti akan memudahkanmu, 'kan?"
"Hai' …."
Monster Ballon memanglah lemah, namun kecepatan dan kegesitan mereka tidak bisa dianggap remeh. Bagi seorang pemula, sangatlah sulit untuk dapat menyerang mereka.
Kami terus berburu hingga jam 3 sore. Aku selalu mengawasi setiap gerak-gerik Jeanne, dan aku tidak menemukan sesuatu yang aneh sampai saat ini. Apa … aku sudah bisa mempercayainya?
—Tidak, tidak, ini masih terlalu dini untuk memutuskannya. Aku akan mengawasinya sedikit lebih lama lagi; aku tak ingin kejadian Myne kembali terulang.
"Hyaah!"
Jeanne baru saja mengalahkan Yellow Ballon, bisa dibilang kalau dia sudah semakin ahli menggunakan pisaunya itu. Tapi tetap saja, banyak gerakan percuma yang dia lakukan, dan itu membuat staminanya cepat terkuras habis.
Aku sudah sering berlatih ilmu bela diri, jadi aku tahu gerakan efektif apa yang harusnya dilakukan di setiap situasi yang kualami. Yah, sepertinya … ini memang kali pertama dia melakukan hal-hal semacam ini. Sama dengan sebelumnya, Jeanne awalnya masih terlihat ragu untuk membunuh monster-monster ini, gerakannya juga sangat kaku sekali. Dia tidak berbohong soal berkata tentang dirinya yang tidak bisa bertarung, jadi lain kali aku berniat untuk mengajarinya sesuatu agar dia bisa melindungi dirinya sendiri saat berburu monster.
Aku kembali fokus pada kegiatanku sebelumnya, membiarkan beberapa kulit balon terserap ke armorku, dan pada akhirnya aku mendapat armor baru.
[Red Balloon Armor: Persyaratan terpenuhi.]
[Red Balloon Armor:
Kemampuan belum terbuka
Bonus equip: Defense +4]
Ketika aku sibuk dengan perisaiku, seseorang berjalan menghampiriku.
Tap tap tap ….
"Oh, Naofumi?"
Dia adalah Iwatani Naofumi, sang Pahlawan Perisai.
"Ternyata kau di sini, aku tadi mencarimu, kau tahu? Apa hari ini kau tidak meningkatkan level?"
Ah, benar, aku lupa untuk memberitahu Naofumi lebih dulu. Kami berdua seharusnya hari ini meningkatkan level bersama sebagai Party, tetapi karena aku terlalu fokus untuk mengawasi Jeanne, aku jadi tidak sempat menemuinya lebih dulu. "Maaf soal itu, aku sedang berburu monster dengan Jeanne, sekaligus mengawasinya seharian ini."
Wajah Naofumi mengerut. "Jeanne? Siapa yang kau maksud?"
"Dia, perempuan yang ada disana itu." Naofumi mengikuti arah jari telunjukku.
"Kau bercanda?!" Naofumi tiba-tiba berteriak seperti itu dengan ekspresi wajahnya yang mengeras.
"Hm?" Kenapa dengannya, sih?
"Urgh, maksudku, kau … membantuk Party dengan perempuan itu, salah satu orang dari penduduk negeri ini?!"
"Iya, itulah yang sudah kuputuskan."
"Kau memang tidak waras, Naruto!"
"Hah?! Apa-apaan ucapanmu itu?!"
Sial, mana bisa aku menerima hinaannya itu. Sebelumnya kami sudah sempat berbicara, dan aku tahu kalau Naofumi memiliki tujuan yang sama sepertiku, yaitu dia ingin kembali ke dunia asalnya.
"Biar kutegaskan satu hal; Jika kita berdua ingin bertahan hidup di dunia ini, maka kita butuh kekuatan untuk dapat mengalahkan monster-monster di gelombang nanti!"
"Dan karena itulah, kau meminta bantuan warga di sini? Kau sangat menyedihkan sekali." Dia berkata dengan wajah sinis. Ugh, itu memang terasa sedikit menyakitkan bagiku.
"Kami hanya bekerja sama, melakukan hubungan timbal-balik yang saling menguntungkan." Aku mengoreksinya, seperti yang kulakukan pada Pak Tua saat di toko senjata.
"Dan perlu kau tahu, Naofumi, aku tidak asal meminta orang lain untuk bergabung ke Party-ku. Jeanne berbeda, dia diasingkan oleh warga kota ini, jadi kupikir dia dapat memahami perasaan kita berdua, orang yang dibuang!"
"Baiklah, terserah jika itu maumu. Aku akan bertahan di Dunia Busuk ini tanpa meminta bantuan siapa pun, apalagi pada orang-orang di kota itu. Satu-satunya yang kupercaya saat ini hanyalah diriku sendiri, jadi aku tak akan melakukan hal yang sama sepertimu!"
Kami berdua memang sudah memiliki keputusan dan rencana masing-masing, jadi kami tak akan saling memberikan nasihat atau semacamnya, asalkan perbuatan yang kami berdua lakukan tidak merugikan pihak lain.
"Begitu, kah? Sepertinya, kita tidak akan bertemu lagi dalam waktu dekat, ya?" Naofumi sangat membenci orang-orang negeri ini, apalagi jika itu adalah perempuan. Tentu saja, jika aku yang sedang bersama Jeanne sering bertemu dengannya, ini hanya akan membuatnya kembali teringat akan kejadian memuakkan itu.
Naofumi mulai berjalan meninggalkanku saat ia menyadari jika Jeanne terus mengawasi kami berdua sedari tadi. "Kau tahu tempat di mana harus mencariku, jika kau sudah dibuang oleh perempuan bernama Jeanne itu, Naruto."
"Heh, sangat lucu, Naofumi." Aku membalasnya dengan kedutan di ujung bibirku. Memang terdengar menyebalkan, tapi akan kuanggap tak pernah mendengar kata-katanya tadi.
Aku sangat yakin kalau Jeanne tak 'kan pernah berani melakukan itu. Memangnya, dia mau kembali menderita akibat warga kota?
Sejujurnya, aku bahkan cukup kaget ketika sadar bahwa aku sempat merasa marah ketika Naofumi mengatakan hal buruk soal Jeanne. Kenapa aku sampai mengatakan hal itu?
Setelah punggung Naofumi menghilang dari pandanganku, aku berbalik, hanya untuk mendapati Jeanne yang berjalan mendekatiku. "Siapa orang yang berbicara dengan Anda tadi, Goshoujin-sama?"
"Hmph, sebut saja … kalau dia adalah orang yang mengalami hal buruk sama sepertiku."
Aku sudah menceritakan tentang keadaanku dan Naofumi di dunia ini kepadanya. Dijebak dan disingkirkan oleh orang-orang negeri ini. Kurasa, Jeanne menatap simpati padaku waktu itu, sangat tulus tanpa ada kebohongan yang disembunyikan.
"Uhmm …." Dia menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.
"Ada apa?" Aku bertanya, menganggap bahwa jika ada yang sedang mengganggu pikirannya.
"Ti-Tidak ada, hanya saja … kami belum pernah bertemu sebelumnya, tapi saya bisa merasakan jika orang tadi sangat … marah terhadap saya, entah karena apa alsannya, saya pun tidak tahu."
Itu wajar jika Jeanne merasa demikian, aku sendiri melihat kalau tadi Naofumi terus memelototi Jeanne dari kejauhan. "Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu, tenang saja."
"Anda … yakin dengan itu?"
"Ya."
Tidak mungkin Naofumi langsung menyerang Jeanne tanpa alasan yang jelas. Meskipun kami baru kenal, tapi aku sangat tahu bahwa Naofumi hanya akan melawan balik pada orang-orang yang mengganggunya saja. Asal Jeanne tidak mengusiknya, kupikir Naofumi tidak akan macam-macam padanya.
Aku melihat langit semakin menggelap, jadi aku bersiap menuju lokasi yang biasanya kujadikan tempat tidur di malam hari. "Ayo kembali."
"Baik."
.
.
—Hero Without Weapon—
.
.
Entah ini mungkin cuma perasaanku saja, tapi malam tadi terasa begitu lama sekali bagiku.
Aku semalaman hampir tidak tidur sama sekali, salah satu alasannya memang karena aku mencoba meracik obat baru dengan menggunakan beberapa tumbuhan yang sudah kutemukan. Selain itu, tadi malam Jeanne sepertinya terus bermimpi buruk. Dia tidur dengan tidak tenang sama sekali, terus bergerak-gerak, dan wajahnya terus-menerus mengeluarkan keringat dingin. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya dia lihat di mimpinya, mungkin tentang perlakuan buruk yang dia terima dari warga kota? Apapun itu, ini yang membuatku terus terjaga hingga hampir pagi. Aku semalaman memegang erat tangannya karena cuma itulah saat dia jadi tenang waktu tidur.
Aku mengucek mataku beberapa kali. Sinar matahari benar-benar mengganggu tidurku yang sangat kurang.
"Tuan …?"
Aku bangkit dari tiduran di atas rerumputan. Kepalaku terasa pusing. "Oh, ternyata kau. Ada apa?"
Jeanne berdiri di depanku dengan ekspresi ragu. "Ah, tidak. Maaf, jika saya mengganggu tidur Anda, hanya saja … saya cuma ingin tahu, di jam berapa Anda biasanya memulai aktivitas?"
Hm? Apa maksudnya coba, dia bertanya seperti itu? Aku melihat ke atas—
"OH, ASTAGA! Jam berapa sekarang?!" Aku baru sadar jika mataharinya sudah setinggi itu!
"Eh? Uhm, sekitar pukul 9 lebih, mungkin?"
Aku menggeleng frustasi mendengar jawaban Jeanne. Jarang-jarang aku bangun terlambat seperti ini.
"Jadi saya memang mengganggu tidur Anda?! Maafkan saya!" Dia membungkuk ke arahku secara ketakutan. Kenapa sih, dia kan tidak salah.
"Tidak, tidak, justru aku berterima kasih karena kau sudah membangunkanku." Hah~ tidak ada kesempatan untuk meningkatkan level pagi tadi. Aku membuang waktuku yang sangat berharga. Sial.
Aku pergi mencuci mukaku di sungai terdekat, lalu kembali mendekati Jeanne. "Ayo cari makan, kau pasti sudah lapar, 'kan?"
"Soal itu …."
Aku mengikuti gerakan jarinya yang menunjuk ke samping saat dia berbicara. Disana ada beberapa buah serta tubuh kelinci yang sudah dikuliti.
"Kau yang menangkap mereka?"
"Benar. Saya pikir, mungkin Anda merasa lapar saat bangun nanti, jadi saya pergi sebentar untuk mencari buah-buahan, tapi secara tidak sengaja saya juga menemukan monster itu."
Tunggu dulu. "Kau bilang, mereka adalah … monster?"
Jeanne mengangguk singkat. "Hai'."
Monster kelinci, ya? Sejauh ini, monster-monster yang sebelumnya pernah kutemui hanyalah monster berbentuk balon, jamur, dan telur. Aku belum pernah melihat yang seperti ini. Entah di mana Jeanne bisa menemukannya, tapi kemungkinan monster jenis ini ada di kedalaman hutan.
Sebenarnya, ada sesuatu yang mengganggu pikiranku sedari tadi. "Bagaimana caramu mengalahkan mereka?"
—Jika kuingat-ingat lagi saat di toko senjata, Jeanne terlihat ragu menyerang monster Balon. Dan kemarin saat bersamaku berburu monster, dia bahkan kesulitan untuk mengenai monster yang dilawannya. Tidak mungkin 'kan, dia mengalahkan mereka seorang diri?
"Ah, saat itu karena terkejut dengan kemunculan Usapill yang tiba-tiba, saya terjatuh dan tidak ingat apa pun setelah itu. Ketika bangun, saya menemukan kedua Usapillini sudah mati, jadi tanpa berpikir lagi saya sesegera mungkin mengulitinya."
Astaga, dia pingsan saat ada monster di dekatnya?! Aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku, tapi syukurlah dia baik-baik saja. "Kau benar-benar ceroboh. Lain kali, jangan pernah pergi sendirian lagi, mengerti?"
Jeanne tiba-tiba menunduk, menunjukkan ekspresi penyesalan. "Maaf soal itu."
"Tidak perlu minta maaf …." Aku mengelus kepalanya berulang kali, karena memang tubuhku sedikit lebih tinggi beberapa inchi darinya. "—Justru, akulah yang harusnya berterima kasih, karena kau sudah mau repot-repot mencari makanan seorang diri demi aku."
"…?!"
Kenapa dengannya? Wajahnya tiba-tiba jadi memerah. Tapi biarlah. Aku berjalan menuju makanan yang sudah dikumpulkan Jeanne.
"Sama-sama, Goshoujin-sama."
Meskipun masih ada yang terasa janggal ketika mendengar penjelasannya, entah kenapa aku tidak bisa mencurigainya sama sekali. Yah, terserahlah.
[Usapill], itulah nama monster di depanku. Aku bingung harus memasaknya seperti apa, jadi kuputuskan untuk langsung memanggangnya saja menggunakan api. Sembari menunggu daging kelinci itu matang, aku dan Jeanne memakan berbagai macam buah di situ bersama-sama.
Masih ada beberapa bagian tubuh Usapillyang tersisa, jadi aku membiarkan armor milikku untuk menyerapnya. Ada armor baru yang muncul disana, tetapi materialnya sepertinya masih kurang untuk dapat membukanya. Aku melanjutkan acara makanku, sementara kedua mataku terus terfokus pada layar yang mengambang di depanku.
.
.
.
Selesai sarapan—yang mungkin bisa dikatakan sudah sangat terlambat, aku memutuskan untuk melakukan penjelajahan di hutan. Monster telur dan jamur biasanya muncul di sekitaran sini. Aku tahu, karena sebelumnya aku dan Naofumi sudah pernah berkeliling sampai ke tempat ini saat kami masih membentuk Party.
"Hyaaah!"
Slash! Sraashh!
Sepertinya Jeanne dalam keadaan suasana hati yang bagus hari ini. Dia terlihat lebih bersemangat ketimbang kemarin, dan entah kenapa … dia semakin cepat saja mengalahkan monster-monster itu, bahkan aku saja hampir tidak pernah mendapat kesempatan untuk maju melindunginya. Apa ini cuma perasaanku saja, ya? Tidak mungkin 'kan, kemampuan Jeanne meningkat pesat cuma dalam sejari? Intinya, di depan mataku, dia terlihat berbeda dengan Jeanne yang kemarin—bukan dalam artian yang sebenarnya, tentu saja.
Tapi ini bagus sih, jika begini terus, maka kami akan mendapat banyak buruan untuk dijual, dan pada akhirnya pemasukanku akan semakin bertambah banyak. Memang terdengar egois jika aku hanya memikirkan tentang diriku sendiri, tapi beginilah caraku untuk bertahan hidup sekarang.
"Kerja bagus."
Dia tersenyum senang saat aku memujinya. Aku membiarkan monster jamur dan monster telur terserap ke Armorku, sampai cukup untuk membuka armor baru. Sisanya, aku menyimpannya saja, karena item drop berbentuk cangkang telur dan potongan jamur itu bisa dijual, sama seperti kulit balon.
[Loomush Armor: Persyaratan terpenuhi.]
[Eggug Armor: Persyaratan terpenuhi.]
Kami melanjutkan penjelajahan. Semakin banyak monster balon, telur, dan jamur yang mendekati kami berdua, tapi itu semua bisa aku dan Jeanne atasi dengan mudah. Kami terus mencoba untuk meningkatkan kerja sama kami, dan Jeanne sendiri semakin bisa beradaptasi lebih baik menggunakan pisau besinya itu.
Kami menemukan monster baru kali ini, meski sebenarnya mereka masih sejenis dengan monster-monster sebelumnya. Benar, yang membedakan mereka hanya warna di tubuh mereka saja. Kami mengalahkan mereka semua dengan cepat, dan aku membiarkan mereka terserap ke bola kristal putih di armorku, lalu banyak ikon armor baru muncul di layar statusku.
[Bluemush Armor: Persyaratan terpenuhi.]
[Greenmsh Armor: Persyaratan terpenuhi.]
[Blue Eggug Armor: Persyaratan terpenuhi.]
[Sky Eggug Armor: Persyaratan terpenuhi.]
Semua bonus equip-nyamasih terkunci, dan tidak ada satu pun dari armor-armor ini yang memberikan penambahan statistik kepadaku. Contohnya, bonus equip di situ ada yang bernama [Resep Sederhana 1], [Pengenalan Tumbuhan], bahkan [Memasak +1] juga?
Apa-apaan ini? Mereka seperti hanya memberikan kemampuan kerajinan saja padaku. Astaga~
Apa mungkin, ini ada hubungannya dengan material apa saja yang terserap ke Armorku, ya? Jika begitu, berarti aku harus mencari monster yang kuat untuk mendapatkan material yang bagus dan membuka armor hebat.
Kemudian, [Keterampilan Peracikan +1], ya? Untuk yang satu ini, sepertinya bonus equip-nya masih berguna untukku saat membuat obat-obatan baru nanti.
Aku melihat Jeanne yang sedang bermain-main dengan kupu-kupu. Serangga itu hinggap di jarinya beberapa menit yang lalu, dan Jeanne terus menatapnya dengan takjub. Sepertinya dia terpukau akan keindahan corak di kedua sayap kupu-kupu itu.
Dia menoleh ke arahku ketika sadar jika terus kuperhatikan. "Apa kita akan melanjutkan perjalanan sekarang, Goshoujin-sama?"
"Tidak, lanjutkan saja istirahatmu. Aku juga tidak terburu-buru, kok." Jeanne mengangguk singkat sebagai tanggapannya.
…. Setelah keluar dari hutan, ternyata ada jalanan yang menuju ke sebuah desa. Myne juga pernah memberitahuku soal ini dulu. Aku benci mengakuinya, tapi Pelacur itu ternyata tidak bohong padaku tentang ini.
Selain itu, aku sadar kalau stamina Jeanne selalu cepat terkuras habis, jadi aku harus pintar-pintar menyempatkan waktu istirahat untuknya agar tubuhnya tidak terbebani, daripada akhirnya malah akan merepotkanku saja, bukan? Maka karena itulah, aku dan Jeanne pun memutuskan untuk istirahat sebentar di sini, sebelum pergi menuju desa di depan kami yang masih lumayan memakan waktu.
Ngomong-ngomong, Jeanne sudah naik ke Level 6, padahal kemarin dia masih Level 5! Sial, dia naik level begitu cepat, yang mana aku sendiri butuh waktu hampir dua minggu untuk mencapai level dia saat ini. Ah, iya, aku juga sedikit lagi akan naik ke Level 8.
Setiap kali naik level, maka poin statistik kami juga akan dinaikkan. Dan statistik defense-kulah yang sekarang paling banyak di antara statistikku yang lain. Di dunia ini, poin-poin semacam ini sepertinya sangat memengaruhi semua orang, dan itu juga berlaku untukku yang sudah memasuki Isekai ini. Inilah alasan kenapa aku tidak bisa mengalahkan para penjaga ketika mereka membawaku ke penjara waktu itu.
Juga, karena statistik attack-kurendah, aku sangat bergantung pada Jeanne untuk mengalahkan para monster. Tapi, seperti yang kubilang sebelumnya, Jeanne mudah cepat lelah karena dia memiliki statistik stamina yang lumayan sedikit.
Swwuuuushh!
Angin tiba-tiba berembus dengan kencang. Dan entah kenapa, aku merasakan bulu di leher belakangku berdiri. Aku benar-benar tidak menyukai perasaan merinding seperti ini.
"Goshoujin-sama!"
Jeanne berdiri sambil menunjuk ke arah hutan di belakangku. Dari arah hutan, terdengar sesuatu, yang aku sendiri tidak yakin apa itu.
"Apa itu?" Aku tidak terlalu berharap jika Jeanne akan membalas perkataanku, karena dia pasti di posisi yang sama sepertiku—Ya, tidak tahu apa-apa.
Hanya untuk memastikannya saja, aku berdiri, kedua mataku masih melihat intens ke depan, seolah jika aku bisa melihat ke kegelapan hutan. Tapi aku tidak bisa melihat apa pun. Hutan itu memang lebat, bahkan sinar matahari saja tidak banyak yang bisa menembus ke dalamnya. Aku menyuruh Jeanne untuk sedikit menjauh dari area hutan demi kebaikannya. Aku bisa tahu bahwa ada suatu bahaya disana, entah apa pun itu. Aku juga mulai mengambil langkah mundur.
Drap drap drap!
Suara itu semakin keras terdengar, seperti sesuatu yang bergerak cepat! Tak berselang lama, dari hutan di depan kami berdua, muncul—
"Lizardman!" Jeanne langsung berteriak begitu, seolah dia sangat mengenal baik makhluk di depannya.
"Lizardman?"
"Benar, Goshoujin-sama, saya yakin itu!"
Aku pernah melihat monster jenis mereka di game, maupun light novel yang pernah kubaca. Dan jika tidak salah, mereka harusnya adalah jenis monster yang selalu bergerak dalam kelompok. Tapi, di depan kami saat ini, dia hanya sendirian—Seekor Lizardman dengan kulit berwarna merah, seperti yang sedang kalian bayangkan.
"Lalu, apa yang dilakukannya di sini?"
"Seingat saya, Lizardman adalah monster yang muncul saat gelombang sebelumnya terjadi …."
Jadi begitu, ya. Aku pernah mendengar, bahwa memang baik dari pihak Ksatria kerajaan maupun para Petualang, mereka tidak benar-benar sanggup untuk melawan Gelombang Kehancuran sebelumnya. Dan setelah gelombang berakhir, tidak sedikit pula monster-monster pada saat itu yang berhasil melarikan diri, kemudian bersembunyi di berbagai lokasi yang berbeda di dunia ini ….
"Dan salah satu monster yang melarikan diri itu, sekarang berada di depan kita, huh?" Aku sangat berharap, jika Lizardman itu benar-benar sendirian saja di sini, tidak berkelompok. Aku tidak begitu yakin, apa aku dan Jeanne sanggup mengalahkannya, jika mengingat level kami saat ini masih sangatlah rendah.
"Goshoujin-sama, Anda … baik-baik saja?"
Sial, aku tidak bisa menyembunyikan keteganganku, dan Jeanne sepertinya menyadarinya. "…. Dengarkan aku, kau harus pergi dari sini, sekarang juga!"
"Ap—? Ta-Tapi, kenapa?"
"Aku masih membutuhkanmu untuk bertarung di Gelombang nanti, jadi kau tidak boleh mati di sini, paham?"
"Lalu, ba-bagaimana dengan Anda?"
"Aku akan mengulur waktu sebentar …, kemudian kabur menyusulmu jika ada kesempatan."
"Eh …?"
Jangan memasang ekspresi sedih begitu, Jeanne! Dasar, dia menatapku seolah jika aku tidak akan berhasil selamat dari monster itu.
Gah! Bagaimana pun juga, monster itu berbahaya. Aku baru saja melihat angka 14 di atas kepalanya, menunjukkan tinggi Level yang dia miliki. Itu dua kali lipat dari levelku saat ini, tahu!
"Ghrrrr!"
Gawat! Monster itu sepertinya sudah menyadari keberadaan kami berdua. Dia menatap ke arah kami dengan aura permusuhan yang dapat kurasakan dengan jelas.
"Ap—!"
Dia tiba-tiba berlari sangat cepat menuju kami!
Braaash!
Hah, hah, hah! Sial, itu tadi hampir saja! Beruntung aku sempat menarik Jeanne bersamaku saat melompat ke belakang.
Aku bisa mendengar geraman tidak suka Lizardman itu. Dia mengangkat kaki depannya—atau mungkin tangan kanannya? Gah, terserahlah apa sebutannya! Pokoknya, dia membawa sebuah pisau disana, sepertinya dia cukup ahli memakai senjata.
"Cepat pergi, Jeanne!"
Aku kembali berteriak saat melihat monster itu mulai mendekat. Dia menusukkan pisau itu kepadaku, tapi berhasil kutepis tangannya, membuat serangannya berbelok. Aku dengan cepat menendang dadanya, membuatnya mundur beberapa langkah.
"Kenapa …?"
"Apa maksudmu?" Aku melirik sebentar ke belakang. Aku tidak tahu ekspresi Jeanne karena wajahnya menunduk saat ini. Setelahnya, aku kembali fokus pada Lizardman.
"Kenapa Anda berusaha begitu keras sampai sejauh ini? Kenapa Anda … tidak—hiks!—membiarkan saja saya di sini, menjadikan saya umpan, kemudian—hiks!—Anda pergi menyelamatkan diri Anda saja?!"
Astaga, jangan bercanda di saat seperti ini, lah! Dan lagi, untuk apa dia menangis?!
"Ini bukanlah duniaku, dan satu-satunya keinginanku hanyalah agar aku bisa kembali ke dunia asalku. Tentu saja, keberadaanmu akan sangat membantuku untuk mencapai tujuanku, jadi aku harus selalu memastikan bahwa kau akan tetap baik-baik saja ketika bersamaku! Bukankah aku sudah memberitahumu tentang ini berulang kali, hah?!"
"Lalu bagaimana jika Anda malah terbunuh lebih dulu sebelum berhasil kembali ke dunia asal Anda, Goshoujin-sama?"
"Kau tidak perlu khawatir. Aku cukup yakin dengan pertahananku, jadi aku tak 'kan mati dengan mudah. Untuk saat ini, kau hanya perlu berpikir untuk menyelamatkan dirimu saja, mengerti?!"
Aku bergerak maju, meninggalkan Jeanne di belakang. Aku juga mengubah Senjata Suci-ku menjadi [Iron Armor] yang sebelumnya sudah pernah terbuka. Armor ini menutupi bagian dada, punggung, serta kedua pundakku, jadi ini pasti bisa menahan tusukan pisaunya itu. Yah, semoga saja benar.
"Gahhrrr!"
Aku menangkap pergelangan tangannya yang ingin menusukkan lagi pisaunya padaku, lalu memberinya sebuah pukulan tepat ke kepalanya.
Bugh!
"Guh!"
Sial! Kulitnya benar-benar keras! Tanganku yang kugunakan untuk menyerangnya bahkan terasa sakit sekali!
Aku melihat Lizardman itu menggeleng-gelengkan kepalanya, mungkin dia sedikit merasa pusing akibat pukulanku—
"Kehh!"
Lizardman ini …! Aku membiarkan kewaspadaanku sedikit menurun! Aku bahkan tidak sadar kalau dia akan menggigitku. Tangan kiriku mengeluarkan darah, itu kugunakan agar wajahku tidak dilumat oleh monster di depanku. Gah! Dia tidak mau melepaskan gigitannya!
"Go-Goshoujin-sama!"
Tunggu dulu. Jeanne masih diam di belakangku? Kupikir, dia sudah lari karena aku tadi menyuruhnya begitu. "Apa yang kau tunggu lagi?! Cepat pergi dari sini, Jeanne!"
"…"
Dia benar-benar keras kepala!
"Tidak! Saya … tidak akan meninggalkan Anda!"
"Huuuh …?!"
Aku dengan cepat menoleh ke belakang. Jeanne berdiri disana, matanya benar-benar menunjukkan keseriusan atas apa yang diucapkannya barusan. Aku tidak tahu harus berbicara seperti apa untuk menanggapi pernyataannya. 'Dia …, dia bercanda?! Apa dia memang ingin mati di sini?! Kenapa Jeanne tidak mau menuruti perkataanku, sih?!'
"Jika Anda berniat untuk tetap tinggal, maka saya juga akan melakukannya!"
"Kau memang bodoh!"
"Terserah Anda mau bicara seperti apa!" Jeanne tanpa pikir panjang, langsung berlari ke depan sambil menyiapkan pisau besinya.
Aku sebenarnya masih kesal karena dia mengabaikan perintahku, tapi aku tidak akan membuang begitu saja kesempatan untuk mengalahkan monster ini. Dengan tanganku yang masih digigit oleh Lizardman, aku segera berpindah posisi berdiri di belakangnya, dan lehernya yang panjang itu, aku kunci pergerakannya.
Jeanne paham dengan rencanaku tanpa aku harus memberinya komando. Setelah berada di depan Lizardman, dia menusukkan pisaunya tepat ke jantung monster ini.
"Rrrraaaaagh …!"
Ughh, teriakan nyaringnya membuat telingaku sakit sekali! Oh, tanganku terlepas dari gigitannya—!
"Guaaah!" Monster itu bahkan masih bisa menendangku sekeras ini, meski kondisinya sudah begitu?! Tubuhku terlempar cukup jauh darinya. Ugh, pe-perutku terasa keram akibat tendangannya.
Crraaashh!
Eh? A-Ah, aku mendengar suara yang begitu memilukan. Jangan bilang—
"Kyaaaa!"
Itu tadi suara Jeanne!
"Apa kau—" Aku ingin memanggilnya, tapi suaraku tercekat di tenggorokan, seolah ada sesuatu yang sedang mencekik leherku ….
Saat itu aku menatap ke depan, aku dapat melihat banyak sekali cairan merah yang berhamburan di udara. Tubuh Jeanne sendiri tergeletak di tanah rerumputan. Tidak butuh waktu lama, untuk aku dapat memahami situasinya, dan entah kenapa … kedua mataku terasa memanas pada saat itu juga. "—JEANNE!"
Sial, sial, sial! Inilah kenapa aku tadi menyuruhnya untuk lari saja! "Menjauhlah darinya kau, Dasar Monster!"
Mendengar suaraku, Lizardman itu kini berpaling padaku. Pisau milik Jeanne masih menempel di dadanya. Sepertinya, tusukan yang tadi dilakukan oleh Jeanne kurang dalam, sehingga hal itu gagal untuk membunuhnya. 'Hanya butuh satu kali dorongan pada pisau itu, maka Lizardman ini pasti akan mati!'
"Hei! Kau mendengarku atau tidak, hah?! Menjauh darinya!" Lizardman itu kembali meraung dengan keras, sebelum akhirnya berlari sangat cepat ke arahku. Baiklah, satu kali momentum yang pas, maka ini semua akan berakhir!
Aku menguatkan kuda-kuda [Moa Seogi]-ku. Pukulan Taekwondo adalah pilihan yang kuambil untuk serangan terakhirku. Aku hanya punya satu kesempatan, dan ini tidak boleh meleset. Kulitnya terlalu keras untuk kupukul, jadi aku akan mengincar bagian pisau milik Jeanne itu yang masih menancap.
—Tepat saat aku memikirkan rencanaku, Lizardman itu ternyata sudah ada beberapa langkah di depanku. Dia menyiapkan cakarnya sebagai ganti pisaunya yang sudah hilang entah ke mana. Aku tidak yakin Iron Armour-ku bisa menahan cakarnya atau tidak, jadi aku akan berusaha sebisa mungkin agar tidak boleh sampai terkena itu. Baiklah, ini dia …!
"Sial …!"
Hampir saja! Cakar itu hampir mencabikku! Dan itu cuma tinggal berjarak beberapa centi saja di depan wajahku! Kau membuat adrenalinku terus bertambah saja, Sialan!
Tepat setelah aku mengambil langkah mundur untuk menghindari cakaran monster ini, aku melihat celah untuk menyerangnya. Sebelum jarak kami bertambah semakin jauh, aku segera menarik tubuhku lagi ke depan, sementara tangan kananku yang terkepal erat, bersiap melancarkan [Momtong Jireugi].
Pisau yang masih menancap itu, bergerak semakin jauh menusuk jantungnya. Suara daging yang terkoyak, mulai menyerbu masuk ke gendang telingaku. Aku bahkan untuk sesaat, merasa ngilu sendiri mendengar suara semacam ini. Di depanku, si Lizardman memuntahkan banyak darah, dan tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang sebentar, lalu pada akhirnya ambruk di tanah rerumputan.
"Haah~ aku beruntung bisa—Tunggu, bagaimana keadaan Jeanne?!" Ini bukan saatnya merasa senang atas kemenanganku! Aku segera mendekati Jeanne yang sepertinya tidak sadarkan diri.
"Darahnya terus keluar dari luka di lengan kanannya, ini bisa gawat kalau dibiarkan saja!"
Aku segera memberinya pertolongan pertama untuk menghentikan pendarahan di lengannya agar Jeanne tidak kehilangan darah lebih banyak lagi. Pokoknya, aku harus segera membawanya ke desa yang ada disana, mungkin salah satu warga punya sesuatu yang dapat mengobati luka Jeanne.
"Ghrooaaah!"
—Tepat ketika aku ingin menggendong tubuh Jeanne, aku mendengar suara teriakan itu. Aku bisa merasakan beberapa keringat dingin mulai memenuhi wajahku. Bahkan tanpa menoleh ke belakang sedikit pun, aku bisa tahu dari apa suara tadi berasal. Inilah yang kutakutkan sedari awal!
Memberanikan diri untuk membalikkan badan, suaraku yang bergetar pun langsung meluncur begitu saja keluar, "Oi, oi, oi. I-Ini sangat tidak lu-cu sekali …."
Disana, di sa-samping mayat Lizardman yang sudah kukalahkan, berdiri tiga—tidak, tapi empat Lizardman yang lain! Sudah kuduga, mereka ini memang tipe monster yang selalu hidup berkelompok! Pasti, mereka tadi memang sengaja bersembunyi terlebih dulu di dalam hutan, dan menunggu waktu yang tepat untuk muncul, lalu memojokkanku. Mungkin saja, mereka tidak menyangka jika salah satu teman mereka berhasil kubunuh, jadi mereka memutuskan untuk menampakkan diri sekaligus.
"Aku pasti akan terbunuh jika tidak lari dari mereka." Setelah menggumamkan itu, aku berbalik lagi; bersiap untuk langsung kabur sambil menggendong tubuh Jeanne—
"Eh?!"
—tapi itu tidak kulakukan. Aku cuma bisa terdiam, berdiri dengan ekspresi wajah kebingungan mengarah ke depan.
Aku tidak bisa menemukan tubuh Jeanne di mana pun! Padahal beberapa saat tadi, dia masih ada di sini. Bagaimana bisa dia tiba-tiba menghilang—?
Sraash! Jrash! Craasssh!
"Uwwaarhgg!"
"Gh-Ghrooaah!"
"Raaagh!"
"Gaa-aaargh!"
—Apa-apaan itu?! Monster-monster itu saling meraung lagi, tapi yang ini tidak seperti sebelumnya. Su-Suara mereka, itu terdengar bahwa mereka sedang kesakitan. Samar-samar dalam raungan mereka, aku juga mendengar suara tubuh yang terpotong, juga … suara … tawa senang? Akh, aku tidak yakin untuk yang terakhir itu.
Beberapa menit berlalu, aku masih saja diam tanpa melakukan apapun, dan suara-siara tadi mulai berhenti terdengar olehku. Sekarang sepi, sunyi yang membuatku kembali merasa tidak nyaman. 'Apa yang terjadi sekarang?'
Aku sangat penasaran, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di belakangku, tetapi tubuhku sepertinya tidak berkemauan hal yang sama. Hanya mendengar suara mengerikan yang tadi terjadi di belakangku saja, itu sudah membuat sekujur badanku membeku ….
"Percuma saja jika begini terus!"
Mengabaikan rasa takut yang tengah melandaku, aku memberanikan diri untuk berbalik, mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Lizardman-lizardman itu. Aneh saja, karena mereka sejak tadi tidak segera menyerangku.
"Apa yang—Hoek!" Sarapanku tadi hampir saja keluar lewat mulutku kalau saja aku tidak sesegera mungkin menekan perutku.
Tidak, tidak, tidak! Aku benar-benar menyesal karena sebelumnya berkeinginan untuk melihat ini! Di depanku, 4 Lizardman lain yang beberapa menit tadi masih dalam keadaan baik-baik saja, kini … mereka semua sudah mati—terbunuh dalam keadaan yang sangat mengerikan!
Bagian-bagian tubuh, organ dalam, maupun darah mereka, semua itu berceceran di mana-mana, seolah jika semua itu bukanlah sesuatu yang berharga. Selain itu, ada satu hal yang membuatku terkejut ….
Di antara potongan-potongan tubuh monster yang bergeletakan, di situ berdiri seseorang. Pakaiannya yang berwarna biru-gelap, masih terlihat sangat kontras sekali dengan cahaya waktu sore seperti ini. Hanya melihat sekilas pada lekuk tubuhnya saja, aku bisa langsung mengetahui jika dia adalah seorang perempuan. Sementara rambut pirangnya yang diikat model anyam menjulur ke bawah, membuatku teringat pada seseorang yang kukenal baru-baru ini. Tapi yang membuatku tidak yakin apakah benar itu memang dia adalah … aura yang dikeluarkan tubuhnya terasa berbeda sekarang.
"Mustahil …."
Kejadian mengejutkan yang mendatangiku terus-menerus sejak tadi, kini semakin membuat kepalaku terasa pusing.
"Kau—"
Perempuan itu menghadap ke arahku, menatap senang padaku. Tangan kanannya memainkan sebuah pisau dengan lincah, membuat darah yang masih menempal di pisau jadi terciprat ke segala arah.
"Yoo~ apa Anda baik-baik saja, ettoo …" dia terlihat kebingungan untuk sesaat. Setelahnya, perempuan itu memiringkan kepalanya ke samping, lalu sudut bibirnya sedikit terangkat; tersenyum—tidak, tetapi menyeringai! Ya, sebuah seringai yang berisi akan rasa kepuasan! Apalagi dengan beberapa noda darah menghiasi wajahnya, hal itu tak luput membuatku merinding tidak karuan, "… Goshoujin?"
Dia memanggilku seolah sedang bermain-main. Tidak ada kegugupan seperti sebelum-sebelumnya.
Cara serta nada yang digunakannya, benar-benar berbeda dengan yang biasanya aku tahu. Kepribadiannya … terlihat seperti seseorang yang lain!
"—Jeanne?!"
Bersambung
[A/N]:
Aaaaah, halo? Adakah yang masih ingat dengan Author satu ini? Bagus kalau enggak ada, wkwk. Entah kapan terakhir kali aku Up fic, 3 atau 4 bulan yang lalu kayaknya.
Nih chapter udah ketulis lama sebenernya, dan tinggal satu bab terakhir doang padahal selesai. Aku-nya aja yang nunda-nunda nulis, pada akhirnya malah melar sampe sekarang, wkwk. Maaf aja kalau chap kali ini terlihat aneh, aku udah lama gak nulis serta baca-baca novel, jadi emang hasil chapter kali ini terasa kurang memuaskan, terutama untukku sendiri. Wkwk.
Hmm, cuma itu aja dulu lah yang bisa kukatakan di Note kali ini. Udah lama kagak nulis A/N, jadinya aku bingung mau bahas apa lagi di sini. Kalau emang ada yang buat kalian bingung, tulis aja di kotak review, nanti kubahas di chap depan kalo aku inget. Ataupun, bisa aja jawaban dari pertanyaan kalian sudah kumasukin secara langsung ke dalam cerita di tiap chapter-nya.
Oh ya, meskipun sedikit telat, aku mau mengucapkan, "Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-76!"
"Tidak perlu banyak mengeluh tentang kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, tetap ikuti saja arahan dari mereka. Jangan protes tentang ketidakadilan negara Indonesia, tetapi ingat-ingatlah, kontribusi apa saja yang sudah kalian berikan kepada negara ini."
Yah, segitu aja. See you next time, Brother and Sister!
.
.
.
Tertanda. [Abidin Ren]. (18/Agustus/2021).
