Disclamer: Naruto and all character is belong Masashi Kishimoto

Sasuhina, Gaahina fanfiction

Ooc, typo, dldr

.

.

.

Sambil memegang gagang koper ditangan kiri dan pundak yang menggendong tas yang menjadi tempat barang-barang yang tersisa untuk Hinata bawa dari rumah yang sedang dia tatap dengan sedih dan terluka itu, Hinata lagi-lagi hanya bisa menghembuskan nafasnya. Rumah dengan pagar coklat tinggi itu telah menjadi tempat yang penuh kenangan selama 21 tahun hidupnya, rumah itu tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, rumah nyaman dengan taman luas yang senantiasa dirawat oleh ibunda Hinata yang memang gemar berkebun. Menjalani hidup hanya bertiga dirumah itu tidak pernah membuat Hinata merasa kesepian, dia selalu merasa bahagia karena mendapat kasih sayang yang cukup dari orang tuanya. Meskipun saat kecil Hinata merasa kesepian hingga meminta seorang adik pada orangtuanya, tapi hal itu tak berjalan lancar. Ibunya mengalami keguguran saat mengandung adiknya diusia tujuh bulan sehingga mengakibatkan sang ibunda tidak bisa lagi mengandung. Semenjak saat itu Hinata tidak pernah lagi meminta hal yang macam-macam pada kedua orang tuanya, selama hidupnya dia terus berusaha menjadi anak manis yang penuh kesopanan, kelembutan, dan anak yang selalu menjadi alasan kedua orangtuanya tersenyum, karena Hinata merasa bersalah atas apa yang terjadi pada ibunya. Tapi kedua orang tuanya tidak pernah sekali pun menyalahkannya, mereka memberikan seluruh kasih sayang pada Hinata sebagaimana anak satu-satunya.

Dengan langkah berat Hinata mulai berjalan menjauhi rumah yang sudah diberi segel disita itu secara perlahan. Pikirannya mulai berkelana, bagaimana saat ini dia harus menghadapi kehidupan ini sendirian tanpa seorang pun, meskipun mayat kedua orangtuanya belum ditemukan tapi sangat kecil kemungkinan mereka masih hidup. Hinata hanya memiliki sedikit tabungan dengan uang cetak didalam tasnya, karena rekening tabungannya pun ikut dibekukan oleh pihak perusahaan Uchiha Enterprise. Dengan uang yang ada Hinata harus mencari tempat kontrakan kecil dengan harga sewa yang murah.

Setelah berjam-berjam berjalan dan manaiki bus kota mengikuti instingnya Hinata akhirnya mendapatkan sebuah kamar kontrakan kecil yang cukup jauh dari rumahnya, Hinata bersyukur sang pemilik membolehkan Hinata membayar setengahnya terlebih dahulu dan membayar sisanya dua minggu kemudian, karena sebagai penyewa seharusnya Hinata membayar full untuk sewa kamar satu bulan dihari pertama. Tapi harga sewa itu belum termasuk biaya listrik yang akan dimatikan lima hari lagi jika belum membayar, jadi Hinata harus menghemat uang dan segera mencari kerja.

Setelah membereskan barang-barangnya yang hanya sedikit, Hinata tertegun sendirian di ruang tengah kamar tersebut. Ruangan ini hanya memiliki satu kamar tidur kecil, ruang tengah yang kecil pula, dan kamar mandi sempit, tapi ini semua cukup bagi Hinata yang hanya tinggal sendirian. Pikirannya melayang pada teman-temannya dikampus saat ini, pasti mereka sedang sibuk mengerjakan Tugas Akhir. Ya Hinata seharusnya adalah mahasiswi semester 8 jurusan Hubungan International, tapi sehari sebelum daftar ulang Hinata menerima surat gugatan dari perusahaan Uchiha Enterprise juga berita yang menayangkan bahwa kapal perusahaan yang sedang ayahnya gunakan dinas meledak dan jatuh tenggelam di pesisir laut Korea Selatan. Hinata yang mendengar hal itu hanya bisa menangis ditemani pembantunya yang bekerja untuk keluarga Hyuga, entah sudah berapa banyak air mata yang mengalir memikirkan nasib kedua orangtuanya. Teman-temannya mencoba menghubungi Hinata dan datang kerumahnya tapi Hinata selalu menghindar karena takut dia akan menangis lagi jika melihat tatapan prihatin dari teman-temannya. Dan juga dia tidak siap jika ditanya mengenai Ayahnya yang telah melakukan kecurangan pada perusahan Uchiha Enterprise. Biarlah saat ini dia menanggung semua ini sendirian, dia hanya tidak ingin menggangu konstrasi teman-temannya yang harus fokus mengerjakan tugas akhir mereka sebagai syarat mendapat title sarjana dari Tokyo University. Dengan pemikiran kalut yang terus mengganggunya, membuat Hinata jatuh tertidur.

Keesokan harinya Hinata berangkat mengelilingi daerah ini untuk mencari kerja, dan tak terasa Hinata sudah berputar-putar menanyai beberapa toko, sampai pada akhirnya dia melihat sebuah toko Pizza yang sedang ramai memasang lowongan pekerjaan sebagai driver pesan antar. Hinata sempat ragu karena biasanya pekerjaan itu untuk laki-laki, tapi tidak ada salahnya mencoba, karena saat ini dia hanya bermodalkan ijazah SMA maka hanya pekerjaan seperti inilah yang dapat dia lamar. Dengan ragu-ragu Hinata menanyakan pada salah satu pegawai pria yang kebetulan melewatinya.

"Permisi, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Ya Nona, ada apa?"

"Apakah toko Pizza ini sedang membuka lowongan pekerjaan?" Sang pegawai menatap heran pada gadis didepannya ini, apakah nona ini tidak membaca yang dibutuhkan itu driver pesan antar.

"Ya benar Nona, tapi itu menjadi pengantar pesanan, dan untuk waiter sudah penuh. Jadi maaf sekali pekerjaan itu tidak cocok untuk Anda." Ucap sang pegawai memberikan senyum sopan.

"Ta-tapi aku mau menjadi driver. Aku bisa mengendarai motor atau pun mobil, dan aku pun memiliki surat izin yang sah, kau bisa mengeceknya aku membawanya sekarang." Hinata berkata dengan semangat sambil berusaha membuka dompet dari dalam tasnya.

"Maaf nona, itu hanya untuk pria. Silahkan mencari lagi ditempat lain, gadis seperti Anda tidak cocok untuk pekerjaan seperti itu." Sang pelayan mulai gugup dan lelah meladeni gadis ini, hal itu juga karena managernya mulai menatap kearahnya seolah bertanya tentang situasi apa yang sedang terjadi. Sehingga sang manager mendekati kedua orang tersebut.

"Permisi Nona, saya adalah Asuma, manager toko pizza ini. Ada hal yang bisa saya bantu untuk Anda?" Dan dengan isyarat mata, manager itu pun menyuruh pegawainya kembali bekerja.

"Selamat siang Tuan, saya Hinata Hyuga. Saya ingin melamar pekerjaan di toko ini sebagai driver pesan antar apakah bisa?" Hinata menatap dengan penuh harap pada sang manager.

"Benarkah? Anda sudah membaca iklan lowongan kerja didepan sana?"

"Sudah, dan disana tidak tertulis mencari pegawai lelaki jadi saya mencoba mengajukan diri." Setelah pernyataan Hinata membuat sang manager berfikir, apakah gadis ini sedang berbohong tapi itu tidak terlihat sama sekali dan dia mulai berfikir jika ini adalah kesalah pegawainya dalam membuat lowongan pekerjaan.

"Tapi sebenarnya aku memang ingin mencari pegawai laki-laki untuk pekerjaan itu."

"Tuan kumohon ijinkan aku bekerja disini, aku janji aku bisa bekerja secepat pria. Semua syarat yang kau minta aku bisa penuhi. Kumohon, ini adalah toko kesepuluh yang aku datangi, aku sangat butuh uang saat ini Tuan." Penjelasan memelas Hinata membuat sang manager jadi tidak tega pada gadis ini, dengan menghembuskan nafas dan mengusap kepalanya akhirnya sang manager mengizinkan Hinata bekerja di toko pizza ini.

"Baiklah, kita ke ruanganku. Jika semua syaratnya terpenuhi kau bisa bekerja mulai besok. Dan jangan bekerja dengan memakai rok." Ucap sang manager sambil melirik pakaian Hinata yang memakasi dress biru laut selutut. Dengan raut wajah kaget dan juga bahagia Hinata mengucapkan terima kasih beberapa kali dan membungkukan badannya. Setelahnya mereka menuju ruangan sang manager.

Dengan senyum yang masih mengembang Hinata keluar dari pintu toko Pizza itu dan menikmati semilir angin sejuk dimusim semi yang menerbangkan beberapa helai rambutnya. Hinata saat ini sedang bahagia karena setidaknya dia sudah memiliki pekerjaan untuk membayar sewa kamarnya, dengan senyum yang terlampau indah itu ada beberapa orang yang memperhatikan Hinata namun aja juga yang menatap aneh padanya karena melihat seorang gadis sendirian tersenyum begitu sumringah di trotoar tepat didepan pintu masuk toko pizza dan membuat beberapa pelanggan lain terpaksa keluar masuk dengan sedikit susah. Sampai suara seseorang berhasil menghentikan senyum konyolnya.

"Hey Nona begeserlah kau mengahalangi jalan."

Ucapan seseorang tersebut langsung membuat senyum Hinata terhenti dan dengan sedikit kikuk dia memohon maaf pada beberapa pelanggan kemudian segera melanjutkan jalannya. Sambil mendekap topi dan seragam kerjanya, dia melirik pada jam tangan pemberian sahabatnya Kiba, saat ini sudah pukul 17.00, sudah cukup sore dan Hinata mulai menyadari bahwa dirinya merasa sangat lapar karena semenjak meninggalkan rumah keluarga Hyuga kemarin Hinata belum makan sama sekali. Dengan mengusap perutnya yang lapar Hinata berfikir harus makan apa untuk mengobati laparnya, karena sungguh dia bingung saat ini uangnya hanya tinggal sedikit sekali. Saat Hinata melirik pada mesin minuman disisi kiri jalan Hinata memutuskan sebaiknya minum air putih saja yang banyak mungkin itu bisa mengurangi laparnya hitung-hitung diet pikirnya. Padahal selama ini Hinata tidak pernah melakukan yang namanya diet sama sekali, karena tubuhnya tidak pernah tumbuh kesamping.

Saat akan memasukan koin kedalam mesin minuman tiba-tiba ponsel Hinata yang berada didalam tas berdering, tapi dia merasa heran karena tidak terdapat nama pengenalnya, dengan ragu-ragu dia mengangkatnya.

"Halo..."

"Halo benarkah ini dengan Nona Hyuga Hinata?"

"Ya benar, saya sendiri. Dengan siapa saya berbicara?"

"Saya bagian adminstrasi dari Kejaksaan Negeri Tokyo, Anda hari ini diminta datang untuk memberikan beberapa keterangan terkait kasus Ayah Anda."

"Oh begitu baiklah sekarang aku akan segera kesana."

"Terima kasih Nona, kami tunggu kehadiran Anda."

"Baiklah sama-sama." Setelahnya Hinata mengembalikan lagi ponselnya kedalam tas dan mengurungkan niat membeli air minum, uangnya harus ia gunakan untuk menaiki bus menuju kantor kejaksaan.

25 menit kemudian dia sudah berada di halaman depan Kejaksaan Negeri Tokyo, Hinata segera masuk dan menanyakan pada salah seorang petugas yang berjaga disana mengenai kepentingannya, dengan berbaik hati sang penjaga mengantarkannya menuju salah satu ruangan Jaksa tersebut.

"Silahkan Nona duduk terlebih dahulu disini, saya akan menyuruh asisten Jaksa Sabaku untuk memberitahu bahwa tamunya sudah datang." Dengan senyum yang terlalu lebar Hinata merasa risih pada penjaga tersebut, sehingga hanya dibalas anggukan kecil dan senyum secukupnya oleh Hinata.

Dengan sedikit ragu Hinata mendudukan dirinya disofa hitam diruangan Jaksa ini, Hinata lihat ruangan ini masih cukup rapih dan seperti baru untuk ukuran seorang Jaksa yang menurutnya selalu berkutat dengan dokumen-dokumen tebal undang-undang, terdapat meja kerja besar berwarna hitam, beberapa lemari, satu set sofa, dan beberapa piagam penghargaan. Hinata harap Jaksa ini memang benar-benar bisa mengungkap apa yang sebenarnya terjadi, dan Hinata harus menyiapkan hatinya apapun hasil keputusannya nanti, jika memang Ayahnya bersalah itu berarti dia akan menerima denda juga dari pengadilan, sedangkan hutang pada perusahaan Uchiha Enterprise pun masih tersisa 20%.

Setelah menunggu sekitar 10 menit, tiba-tiba seorang pria memakai kemeja bergaris biru vertical masuk ke dalam ruangan dengan langkah cepat hingga tak menyadari adanya Hinata, Hinata langsung berdiri dan mengamati pria ini. Sang pria langsung membuka lemari dan mengeluarkan beberapa dokumen kemudian membaca di meja kerjanya dengan posisi sedikit membungkuk. Merasa diabaikan Hinata akhirnya berdeham untuk menarik perhatian pria tersebut.

"Maaf Tuan, apakah saya bisa bertemu Jaksa Sabaku?"

Seketika kepala sang pria langsung mendongak dan mendapati seorang gadis manis sedang berdiri dengan canggung di depannya. Gaara mengamati gadis itu berusaha tersenyum dengan sedikit dipaksakan, tapi jika Gaara boleh jujur dengan senyum seperti itu pun gadis itu sudah sangat cantik. Tunggu! tersadar dengar pikiran melanturnya Gaara menegakkan badan dan bertanya pada gadis tersebut.

"Apa kau putri Hyuga Hiashi?"

"Benar, saya kesini karena diberitahu bahwa saya perlu memberikan keterangan."

Gaara kemudian berjalan memutari meja kerjanya dan menghampiri gadis Hyuga tersebut. Lalu mengulurkan tangan untuk berjabatan.

"Perkenalkan saya Sabaku Gaara, saya Jaksa yang bertanggung jawab untuk menangani kasus ayah Anda. Terima kasih atas kedatanganmu Nona Hyuga." Ucap Gaara sambil menatap mata Hinata, dan dibalas uluran tangan serta anggukan oleh Hinata.

"Sama-sama Tuan Sabaku-san."

"Silahkan duduk." Ucap Gaara yang dia ikut dengan duduk disofa sebelah Hinata.

"Sebelumnya saya ingin menyampaikan bahwa perusahaan Uchiha Enterprise telah mengirimkan bukti-bukti atas gugatannya pada ayah Anda, dan masih dalam tahap penyelidikan oleh orang-orang kami. Karena itu, kami meminta kehadiran Anda disini untuk memberikan keterangan dan bukti-bukti yang mungkin Anda miliki atas masalah ayah Anda. Karena Anda disini sebagai saksi, jadi meskipun anda adalah putrinya, pengadilan telah memutuskan bahwa semua ucapan anda harus berdasar fakta demi kelancaran penyelesaian kasus ini. Apa anda mengerti Nona Hyuga?"

"Ya saya mengerti Tuan Sabaku-san. Jadi jika ada ingin mendengar fakta tentang ayah saya, maka saya akan mengatakan bahwa beliau adalah orang yang tegas, tapi beliau adalah sosok ayah terbaik yang bisa saya gambarkan sebagai seorang ayah. Dia selalu penuh kasih sayang pada keluarganya dan penuh tanggung jawab. Dia sudah bekerja di Uchiha Enterprise selama 20 tahun, dan lima tahun terakhir ini dia diangkat sebagai General Manager. Semua sikapnya tidak pernah ada yang mencurigakan, beliau selalu berbagi keluh kesahnya saat sedang berkumpul bersama keluarga. Dia tidak akan menyembunyikan hal besar dari aku dan ibuku."

Melihat kesungguhan dari kata-kata gadis dihadapannya ini, Gaara sebagai seorang Jaksa yang dibekali sedikit ilmu psychology tahu bahwa ucapan gadis ini 90% adalah kebenaran, Gaara setidaknya merasakan perasaan gadis dihadapannya ini yang harus mengurusi semua masalah ayahnya disaat kedua orangtuanya tidak ada.

"Baiklah Nona Hyuga, saya sangat mengerti bahwa sebagai anak anda harus mendukung orangtuanya. Sekarang silahkan isi formulir ini sebagai bukti telah bersedia menjadi saksi dalam kasus ayah Anda. Kami akan berusaha sebaik mungkin mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi, tapi saya harap jika memang ayah Anda terbukti bersalah Anda siap menerima segala keputusan pengadilan."

Menatap kedalam manik amethys itu, membuat Gaara sedikit tertegun, seakan mengetahui bahwa gadis itu sedang merasakan kesedihan dan kehampaan yang mendalam. Dari gestur tangan yang terus meremas tasnya, Gaara tahu gadis ini sedang gelisah.

"Baiklah Tuan Sabaku-san, tapi bolehkah saya menyampaikan sesuatu?" Ucap Hinata pelan.

"Silahkan saja."

"Saya percaya pada Anda. Jadi saya mohon tolonglah bantu saya dalam mengatasi kasus ini, saya mohon untuk berjuang mengungkap kebenaran yang terjadi. Karena dalam hati kecil saya, saya tahu bahwa ayah saya tidaklah bersalah. Saya hanyalah seorang gadis yang saat ini hidup sendirian, yang berusaha melawan sebuah perusahaan besar dengan besarnya kekuasaan mereka. Maka tolonglah biarkan saya percaya pada Anda bahwa di Jepang saya masih bisa mendapatkan keadilan yang sesungguhnya." Tak terasa bahwa mata Hinata mulai berkaca-kaca dan memerah, menyadari dirinya akan menagis Hinata mengalihkan perhatiannya dan dengan cepat mengusap setetes air mata yang tidak bisa ia cegah untuk keluar.

Menyadari suasana yang berubah menjadi melankolis seperti ini, Gaara berdeham untuk menetralkan suasan hatinya yang ikut bergemuruh melihat bagaimana emosionalnya gadis ini.

"Nona Hyuga." Ucap Gaara pelan, membuat gadis Hyuga itu kembali menatapnya.

"Kau bisa percaya padaku." Gaara berkata dengan sungguh-sungguh sambil menatap lekat pada manik amethys dihadapannya ini. Dan detik itu juga Gaara seperti bersumpah pada dirinya sendiri bahwa apapun yang terjadi dia harus menyelesaikan kasus ini dengan baik.

Mendengar seseorang degan ucapan bersungguh-sungguh seperti itu membuat Hinata terharu dan menggit bibirnya untuk meredakan emosinya, ditengah seluruh masalah yang sedang ia hadapi bolehkah ia percaya bahwa ada satu orang yang dapat ia andalkan untuk menolongnya.

"Terima kasih Tuan Sabaku-san." Ucap Hinata tak kalah tulus membalas Gaara.

Setelahnya Gaara mengajukan beberapa lagi pertanyaan untuk melengkapi investigasinya.

Setelah diskusi yang cukup lama, akhirnya Hinata keluar dari gedung Kejaksaan. Ternyata hari sudah mulai gelap dan rintik-rintik hujan mulai turun. Sayangnya Hinata tidak membawa payung dan halte bus letaknya satu blok dari sini, ingin tetap tinggal digedung ini tapi Hinata lihat para pegawai juga sudah mulai berhamburan pulang mengenakan kendaraan pribadinya, dengan terpaksa Hinata bersiap-siap berlari menuju pintu gerbang demi meminimalisir air hujan yang mengenai tubuhnya. Tapi saat Hinata mulai berlari kecil menuju gerbang...

TINNNNNNNN

Haahhh... Dengan tangan bergetar yang mendekap tubunya sendiri dan mata tertutup rapat Hinata berhenti ditengah area parkir gedung Kejaksaan karena ada suara klakson mobil yang berbunyi kearah dirinya, Hinata fikir dia akan tertabrak dan terpental tapi nyatanya tubuhnya hanya berdiri kaku. Hal ini terjadi karena dengan bodohnya dia tidak melihat-lihat terlebih dahulu bahwa akan ada mobil yang akan keluar gerbang.

Sambil masih menutup mata dia mendengar bahwa ada suara pintu mobil yang dibuka lalu ditutup kembali dengan cukup keras. Tiba-tiba dia merasa kedua lengannya digenggam tangan seseorang.

"Astaga, Nona Hyuga. Kau baik-baik saja? apa ada yang terluka?"

Dengan perlahan Hinata membuka kembali matanya karena mendengar suara khawatir seseorang yang tidak asing baginya. Dan ternyata benar hal pertama kali yang dilihatnya adalah raut wajah Gaara yang khawatir, dan tentu tangan yang sedang memegang kedua lengan atasnya adalah Gaara, dengan masih syok Hinata mencoba menjawab.

"Y-ya ak-aku tidak apa-apa."

Melihat para pegawai lain yang akan pulang memperhatikan kearah mereka, Gaara mencoba menarik gadis Hyuga tersebut untuk masuk kedalam mobilnya.

"Sebaiknya kau masuk dulu ke dalam mobilku, ayo hujannya akan semakin deras."

"Ta-tapi aku akan pulang dengan bus."

"Kalau begitu biar aku yang mengantarmu ke halte bus." Gaara berharap gadis ini mau mengikutinya karena baju mereka terus terkena basah.

"Ba-baiklah."

Dengan menghembuskan nafas lega, akhirnya Gaara segera menuntun gadis Hyuga itu memasukin kursi penumpang mobilnya. Sehingga tak berapa lama kemudian mobil Gaara sudah melaju bersama dengan mobil lainnya dijalan utama.

Setelah beberapa keheningan waktu didalam mobil Gaara, akhirnya Hinata angkat bicara.

"Maaf atas tindakan cerobohku." Ucap Hinata sedikit menunduk sambil menggenggam kedua tangan diatas pangkuannya.

Terkekeh kecil Gaara menjawab. "Tidak apa-apa, aku mengerti semua orang juga pasti akan langsung berlari saat hujan datang terutama jika tidak membawa payung." Gaara sedikit berbohong agar gadis ini tidak merasa bersalah, tentun saja Gaara tidak akan melalukan itu dia selalu membawa payung dalam tasnya sesuai ajaran ibunya.

"Tapi saya jadi merepotkan Anda, dan terima kasih juga sudah berhenti tepat pada waktunya, saya tidak tahu apa yang terjadi jika Anda terlambat."

"Tenang saja, jangan terlalu difikirkan. Sebenarnya aku juga salah karena tadi sedang melamun." Ucap Gaara jujur, sebenarnya salah gadis itu juga karena Gaara sedang melamunkan gadis disampingnya ini.

"Aah... Tuan Sabaku-san jangan melamun saat sedang menyetir itu berbahaya. Kau harus tetap hidup untuk menyelesaikan kasus ayahku."

Gaara yang mendengar penjelasan gadis itu langsung tertawa. Astaga apa benar gadis itu baru saja berbicara seperti itu padanya, padahal Gaara kira gadis itu menghawatirkan dirinya.

"Kenapa anda tertawa?" Tanya Hinata bingung, sambil tersenyum melihat sikap Gaara.

"Tidak apa-apa, penjelasamu itu. Baru pertama kali aku mendengar kata-kata seperti itu dari seseorang."

Sepertinya Hinata menyadari bahwa ada yang salah dari kata-katanya.

"O-oh maaf bukan maksud aku seperti--..."

"Tidak apa-apa. Itu bukanlah kesalahan, kau justru membuatku bahagia. Terima kasih." Ucap Gaara pelan menatap mata Hinata. Dan Hinata tertegun atas apa yang Gaara ucapkan. Menyadari tatapanya cukup lama bagi seseorang yang sedang menyetir Gaara segera mengalihkan atensinya kembali kejalan.

"Oh ya, bisakah kau tidak memanggilku Tuan Sabaku?, cukup Gaara saja. Boleh?"

"Tapi... Emm baiklah Gaara-san." Dan dibalas senyuman lagi oleh Gaara kearah Hinata. Sepertinya karena gadis ini, frekuensi tersenyum Gaara jadi lebih sering.

"Oh ya Hinata-san, dimana lokasi rumahmu?"

"Aku tinggal di distrik Adachi."

"Benarkah, berarti arah rumah kita searah. Kalau begitu sekalian saja aku mengantarmu pulang." Diam-diam Gaara mengigit lidahnya sendiri karena ia berbohong lagi, sebenarnya tidak benar-benar berbohong karena Gaara hanya perlu memutar saja tapi itu jalan yang lebih jauh dari biasanya.

Hinata yang mendengarnya merasa kaget. "Benarkah Gaara-san? Itu tidak perlu, sungguh aku akan turun dihalte depan sana saja."

"Ayolah tidak baik menolak pertolongan seseorang. Lagi pula sekarang hujannya jadi lebih deras, menunggu dihalte pun anginnya akan cukup kencang." Ucap Gaara membujuk.

Setelah memikirkan perkataan Gaara akhirnya Hinata menyetujuinya, karena itu ada benarnya juga.

"Ba-baiklah. Terima kasih sekali lagi."

Sepuluh menit kemudian mereka hampir setengah jalan saat Gaara tiba-tiba mengajak Hinata berhenti ke suatu tempat.

"Hinata-san jika kita berhenti dulu di rumah makan, apa kau tidak keberatan? Aku belum makan malam dan di apartemenku tidak ada apa-apa."

"Oh, tapi aku sedang tidak lapar."

"Tapi kurasa kau belum makan malam juga."

"Tapi aku tidak lapar, silahkan Gaara-san makan dulu. Aku akan turun saja dihalte bus dekat sini."

"Kau serius?" Tanya Gaara memastikan.

Keruueeeekkkk

Dan sialnya saat itu juga suara perut Hinata mengeluarkan protesnya meminta diisi karena sudah ditelantarkan seharian lebih. Dengan malu Hinata menutup mata dan mengalihkan pandangan ke kaca jendela mobil Gaara. Berusaha menahan cengirannya, akhirnya Gaara berdeham.

"Kurasa makan malam adalah pilihan terbaik." Setelahnya Gaara langsung membelokan mobilnya ke area parkiran salah satu rumah makan. Dan mau tidak mau Hinata harus menurut karena tidak bisa mengelak lagi, dengan sedikit perasaan kesal dalam hatinya Hinata memarahi perutnya karena tidak mau diajak berkompromi menutupi aktingnya. Tapi dia juga merasa bersalah karena menelantarkan keadaan perutnya, jika dia sakit siapa sekarang yang akan mengurusnya.

Setelah masuk dan memilih tempat duduk, seorang pelayan menghampiri mereka dan menyerahkan buku menu pada masing-masing orang tersebut. Dan sedihnya setelah melihat harga-harga makanan ditempat ini Hinata mengurungkan niatnya untuk membeli makanan, semua harga makanan di tempat ini diluar batas harga yang Hinata sisihkan untuk makannya hari ini. Tapi jika dia tidak memesan akan malu pada Gaara.

"Nona, apa yang akan anda pesan?" Ucap sang pelayan wanita.

"Emm, aku akan memesan lemon tea saja."

Gaara mengerutkan kening mendengarnya. "Apa kau mau menyamakannya saja dengan pesananku?" Gaara fikir Hinata kebingungan mencari menu yang cocok untuknya, karena mungkin ini pertama kalinya gadis ini ke sini.

"Tidak, tidak. Aku memang hanya ingin minum saja. Kau tahu seorang gadis kan biasanya tidak makan malam, aku sedang... aku sedang diet. Ya! Itu dia, setiap gadis kan terkadang melakukan diet." Hinata berkata semeyakinkan mungkin agar terlihat dirinya tidak kelaparan. Dan dengan isyarat mata meminta sang pelayan mengiyakan saja perkataan Hinata dan segera pergi membawa pesanan Gaara. Yang justru dipandang aneh oleh sang pelayan.

"Baiklah, jika tidak ada pesanan lain. Saya akan segera kembali lagi dengan pesanan Tuan dan Nona." Lalu sang pelayan segera berbalik dan pergi menuju pantry.

Hinata yang ditatap Gaara dengan pandangan menyelidikan, berusaha mempertahankan senyumnya yang justru membuat Gaara semakin merasa aneh. Tiba-tiba Gaara berdiri dan izin untuk ke kamar mandi.

Setelah Gaara menjauh, Hinata menghembuskan nafasnya dengan panjang akibat gugup karena pandangan mata Gaara. Sebenarnya Hinata sadar jika Gaara terlihat tidak percaya atas alasan dietnya tadi, tapi jika ia bilang tidak memiliki uang untuk makan atau berbohong dompetnya tertinggal akan sangat tidak etis pada seseorang yang baru sehari bertemu. Dengan murung Hinata menundukan kepalanya dan mengusap-usap perut ratanya, seolah meminta maaf karena hari ini mereka hanya makan malam dengan lemon tea.

Mengalihkan rasa sedihnya, Hinata mengamati suasana restauran ini, tempatnya nyaman dengan warna putih gading yang memancarkan kesan minimalis yang elegan, kurisnya pun sangat nyaman pantas harga makananya mahal dan Gaara pasti memang menyukai suasana ini. Jika kedua orangtuanya ada mungkin Hinata akan mengajak mereka untuk makan disini.

Beberapa saat kemudian Gaara kembali dan tersenyum kearah Hinata, yang dibalas senyum tanya oleh Hinata.

"Kau tidak lama." Ujar Hinata.

"Ya kamar mandinya kosong, jadi bisa lebih cepat." Jawab Gaara, yang dibalas anggukan oleh Hinata. Lalu tak berapa lama kemudian sang pelayan mengantarkan pesana mereka. Tapi yang membuat Hinata bingung adalah pelayan tersebut menyajikan dua buah hot plate tenderloin beef ke atas meja mereka.

"Maaf, kami hanya memesan satu makanan." Ucap Hinata mengingatkan.

"Oh Nona, itu karena Tuan Sabaku adalah member tetap restauran kami. Dan poinnya sudah mencapai untuk mendapat free satu menu makanan jadi kami menyajikannya."

"O-oh begitu."

"Silahkan menikmati makanannya." Ucap sang pelayan lalu segera kembali pergi.

Hinata hanya terdiam menatap makanan yang sungguh menggugah selera dihadapannya ini, tapi Hinata masih ragu karena bisa dibilang meskipun ini gratis dia berhutang pada Gaara.

"Ayo Hinata-san makanlah, kuharap jadwal dietmu bisa pindah kehari lain. Sayang jika makanan ini tidak jadi dimakan."

Dengan ragu-ragu akhirnya Hinata mengambil peralatan makannya. Tapi karena Gaara yang terus memberikan senyum tulus seolah berkata kau harus makan dengan lahap, akhirnya Hinata pun menikmati makan malamnya berdua bersama pria yang baru dia temui hari itu.

Mobil Mercedes silver Gaara akhirnya berhenti di depan gang menuju kamar sewa Hinata.

"Terima kasih untuk semuanya Gaara-san."

"Sama-sama, terima kasih juga karena telah menemaniku makan malam Hinata-san."

Ada jeda beberapa saat sebelum Hinata melanjutkan berbicara.

"Gaara-san, aku tahu Anda berbohong di restauran tadi. Maaf bukannya aku lancang, tapi untuk makananya aku sangat berterima kasih. Tapi aku tau sebenarnya itu bukanlah makanan gratis, itu berarti aku memiliki utang pada Garaa-san," dengan sedikit terkekeh kecil Hinata berbicara kembali.

"Sepertinya aku memang tidak pandai berakting, Anda mungkin tau jika aku memang tidak memiliki uang untuk membeli makanan tadi. Tapi jangan khawatir aku akan melunasinya secepat setelah aku memiliki uang."

"Hinata tapi kau tidak per--"

Sebelum Gaara sempat mendebat, Hinata segera bergegas membuka pintu mobil Gaara.

"Tidak ada tapi, sekali lagi terima kasih." Ucap Hinata sambil membuka pintu mobil Gaara dan menoleh memberikan senyum selamat tinggal untuk Gaara.

Gaara terdiam mengamati gadis itu sampai sosoknya menghilang dari pandangan Gaara, dengan senyum bodoh yang terpasang diwajah Gaara, dia kembali melajukan lagi mobilnya.

Tbc

Welcome back... Thank you for everyone who has supporting me, commenting, and voting. I try as much as I can to write all of my imagination. Hope you enjoy and love this guys... :)

By Chichiyulalice