Disclamer: Naruto and all character is belong Masashi Kishimoto
Sasuhina, Gaahina fanfiction
Ooc, typo, dldr
.
.
.
.
"Terima kasih." Hinata menampilkan senyumnya sambil menerima pembayaran sekotak pizza dari pelanggan yang dia antarkan ke rumahnya. Setelah memastikan uang yang diterimanya sesuai dengan pesanan ia segera pamit dan kembali mendekati motor pengantar pizza. Sebelum menaiki kembali motornya Hinata mengecek kembali catatan yang ada di dalam saku seragamnya kemana lagi pizza harus diantar, ada dua pesanan yang sudah dia antarkan dan ini pesanan terakhir yang ada didaftarnya saat berangkat. Matanya dengan refleks melotot saat mengetahui alamat Uchiha Enterpriselah tujuan selanjutnya pizza itu harus diantar, dengan raut wajah gundah dan kesal Hinata meremas kertas itu lalu dengan asal dimasukan kembali ke dalam sakunya. Sebenci apapun dia harus kembali ke tempat itu, tapi demi pekerjaannya dia tidak bisa mengelak. Dengan bibir yang mengerucut cemberut Hinata menaiki motornya kembali dan melaju menuju kantor Uchiha Enterprise. Hinata hanya berharap dia tidak akan bertemu dengan orang-orang menyebalkan itu lagi terutama pria itu, ya pria yang sekarang adalah musuh terbesarnya, Uchiha Sasuke.
Kali ini Hinata memakai topinya demi sedikit menyamarkan siapa dirinya, ia harap semua orang disana tak akan menyadari kehadirannya. Setelah melewati pintu kaca berganda itu Hinata tidak perlu lagi bertanya pada resepsionis karena pizza ini dipesan oleh orang dari lantai 35. Dengan perasaan yang cemas dan detak jantung yang terus berdetak tak karuan Hinata berusaha bersikap senormal mungkin. Sesaat setelah Hinata keluar dari lift yang membawanya ke lantai 35, pintu dari arah lain ikut terbuka dan menampilkan beberapa orang pria berjas. Astaga! Seketika hati Hinata langsung merasa tegang saat menyadari salah satu pria yang keluar dari pintu itu adalah Uchiha Sasuke, dengan segera Hinata lebih menurunkan posisi topinya sehingga siapapun akan sulit melihat wajahnya. Setiap langkah yang Hinata ambil mendekati beberapa pria itu membuat kakinya bergetar seperti jeli, kantung pembungkus pizza itu terus ia remas dengan kecang demi menyalurkan kegugupannya.
Yang Hinata tidak sadari adalah ketika ia berpapasan dengan beberapa pria itu, ada seseorang yang mendengus geli dan bergumam "gadis bodoh" pada dirinya. Setelah melewati orang-orang itu Hinata mempercepat langkahnya menuju meja dengan tulisan "Sekretaris Direktur", dengan masih menunduk ia bertanya tentang pesanan pizza yang dibawanya.
"Permisi, saya ingin mengantarkan pizza yang dipesan dari lantai 35." Sang sekretaris yang bernama Shizune itu menatap heran pada orang di hadapannya yang terus menundukan kepalanya, saat ia akan mengambil kotak pizza itu tiba-tiba telepon di mejanya berdering.
"Oh tunggu sebentar." Ucapnya pada Hinata. Sambil terus menunduk Hinata mengamati sekretaris tersebut sedang menerima telepon yang entah dari siapa. Setelah menutup teleponnya Shizune mengembalikan perhatiannya pada Hinata.
"Anda diminta mengantarkan pizza ini langsung ke ruangannya, silahkan langsung masuk saja ke ruangan yang sebelah sana." Sang sekretaris menunjuk pintu yang berada cukup jauh di belakang Hinata.
"Baiklah, terima kasih." Setelah itu Hinata langsung berbalik dan berjalan mendekati pintu dengan tulisan Presiden Direktur di atasnya. Setelah mengetuk pintunya seseorang dari dalam sana mempersilahkan Hinata masuk.
Ketika Hinata sudah memasuki ruangan itu dia sedikit tertegun dengan keindahan di dalamnya karena hampir seluruh dindingnya terbuat dari kaca yang memanjang hingga kelangit-langit, dari ketinggian ini Hinata dapat melihat pemandangan memukau dari gedung-gedung tinggi kota Tokyo dengan arsitektur indah yang memanjakan mata. Pengamatannya terhenti karena melihat seorang pria yang sedang mengetik sesuatu di laptopnya dengan sedikit menunduk, tapi Hinata kembali tercengang saat melihat tulisan apa yang ada dimeja kerja besar dan mewah itu. Disana tertulis "Uchiha Sasuke Presiden Direktur Uchiha Enterprise", hati kecil Hinata langsung menjerit memprotes keadaan yang sedang dia alami, kenapa harus pria itu, akankah hari ini menjadi hari sial baginya. Hinata berfikir apakah pria itu dengan sengaja melakukan ini untuk menjebaknya atau ini hanya kebetulan, tapi pria ini hanya terus mengerjakan sesuatu pada laptopnya, merasa ia diabaikan dan juga karena keinginannya ingin segera pergi dari sini Hinata berdeham.
"Ehem... Permisi, saya mengantarkan pizza pesanan Anda." Ucap Hinata dengan menatap pada lantai marmer dibawahnya, masih mencoba menyembunyikan wajahnya.
"Hn." Hanya suara itu yang keluar dari Sasuke. Apa? Maksudnya apa dua huruf konsonan itu?! Dalam hati Hinata ingin saja melemparkan pizza ini ke atas kepala pria itu. Merasa bingung akhirnya Hinata kembali berbicara.
"Emm... Baiklah aku tinggalkan pizzanya di meja ini, aku akan meminta bayarannya pada sekretaris Anda di luar." Saat Hinata akan berbalik keluar ruangan itu, sebuah suara menghentikannya.
"Kemarikan, simpan pizzanya di mejaku." Akhirnya pria itu berbicara sedikit lebih jelas meskipun tatapannya tetap pada layar laptopnya. Dan hati Hinata kembali merutuki permintaan Sasuke. Dengan langkah ragu Hinata mulai mendekati meja pria itu sambil tetap menundukan kepalanya. Dapat Hinata lihat saat ini Sasuke memakai jas abu-abu dan kemeja putih yang tetap memberikan kesan gagah dan menawan. Sungguh kenapa pria ini tidak bisa terlihat biasa-biasa saja rutuk Hinata dalam hati.
Dengan perlahan kotak pizza itu ia simpan disebelah laptop Sasuke yang masih pria itu beri perhatian, tapi saat Hinata akan mengangkat tangannya dengan cepat tangan kiri Sasuke memegang pergelangan tangan kiri Hinata membuat dia terdiam tak bisa menjauh dari Sasuke.
Secara perlahan dan bersamaan kedua wajah itu terangkat dan mulai menatap masing-masing mata berbeda warna namun indah orang yang ada di hadapannya. Si wanita yang menatap dengan bingung dan kesal seolah berkata "apa yang kau lakukan? Lepaskan aku brengsek!" dan sang pria yang menatap tajam dengan sejuta makna yang sulit dipahami. Hingga Sasuke lah yang memecah keheningan atas aksi tatap menatap itu.
"Kau tadi meminta bayaran, berapa yang kau mau?" dengan mengangkat dagunya Sasuke berbicara dengan kesan menantang. Kening Hinata mengkerut, tentu saja seharga pizza yang dia pesan apa pria ini bodoh.
"890 yen." Ucap Hinata pelan sambil berusaha melepaskan tangannya, tapi cengkraman Sasuke sangat kuat.
"Tck… Bukan harga itu yang aku tanyakan." Sasuke mulai bangkit dari kursinya dengan masih mencekal pergelangan tangan kiri Hinata.
"Yang aku tanya adalah berapa harga tubuhmu, Hyuga." Dan Sasuke secara tiba-tiba melepaskan topi yang Hinata kenakan hingga jatuh kelantai. Hinata dengan refleks mendongak ke arah Sasuke dan menatap tajam penuh amarah pada mata tajam Sasuke, apa-apaan pria ini! Dan dengan cepat Hinata mulai menarik tangannya kasar dan beteriak kearah Sasuke.
"Apa kau gila?! Lepaskan tanganku!" tapi cengkraman tangan itu sulit sekali untuk dilepas dan mulai membuat lengan Hinata memerah.
"Gila bukanlah kata untuk mendeskripsikan diriku, dan kau telah memberikan jawaban yang salah." Dengan cepat Sasuke memutari meja kerjanya dan membawa Hinata untuk duduk di sofa coklat besar di tengah ruangan itu. Dengan tetap memberontak minta dilepas Hinata dipaksa untuk duduk di sebelah Sasuke.
"Lepaskan tanganku, dasar pria gila! Sebenarnya apa yang kau mau dariku Hah?" Hinata benar-benar kesal dengan tingkah Sasuke kali ini, pria ini sungguh kurang ajar. Berani-beraninya dia bertanya hal merendahkan seperti itu.
"Tenang, jangan terburu-buru aku memiliki penawaran yang menarik untukmu." Ucap Sasuke sambil memperhatikan wajah murka Hinata yang duduk di sampingnya.
"Aku tidak membutuhkan penawaran apapun darimu, aku hanya ingin uang pizza ini. Cepatlah! Aku harus segera kembali bekerja." Jawab Hinata ketus.
"Kalau kau mau uangmu, maka kau harus mendengarkan perkataanku." Dengan wajah yang masih menahan kesal Hinata tidak memiliki pilihan lain selain sedikit mengangguk, dan Sasuke pun mulai melonggarkan cengkramannya.
"Hyuga, lihat aku!" Ucap Sasuke tegas karena Hinata mengalihkan pandangannya kearah lain. Dengan ogah-ogahan akhirnya Hinata menatap Sasuke dengan tatapan kesal. Dan sialnya Hinata merasakan degupan jantungnya berdetak tak karuan lagi, sekarang wajah mereka benar-benar berhadap-hadapan. Hinata harus membasahi bibirnya lagi karena rasa kering yang selalu tiba-tiba muncul jika menatap Sasuke. Hinata tak bisa menahan untuk tak memperhatikan lebih teliti wajah pria di hadapannya ini. Satu hal lagi yang Hinata ketahui ternyata bulu mata Sasuke cukup lentik untuk seorang pria, dan terdapat tahi lalat yang sangat kecil disudut kiri bibir atasnya. Ya tuhan itu justru menambah keseksian pria ini. Hinata bahkan harus menelan sedikit ludahnya karena tatapan yang Sasuke berikan untuknya.
Sasuke hanya mendengus geli melihat tatapan Hinata. "Hyuga seharusnya kau sedikit menurunkan egomu itu, aku tahu sekarang hidupmu dibatas kesengsaraan. Jadi sebaiknya kau menerima penawaranku ini." Hinata membalasnya dengan raut wajah tanya kearah Sasuke. Tangan Sasuke kembali mengencangkan cengkramannya pada pergelangan tangan Hinata saat melihat seolah bibir merah muda gadis ini memohon untuk diciumnya secara kasar. Sasuke membayangkan akan seberapa nikmat bibir gadis itu saat ia memakannya nanti.
"Jadilah wanitaku, maka hidupmu akan berubah." Ucap sasuke pelan dan datar dengan masih terus menatap lekat wajah Hinata.
Mulut Hinata sedikit terbuka atas pernyataan Sasuke, jujur ia sangat terkejut mendengar penawaran gila pria ini. Tapi ketika tersadar dari rasa keterkejutannya hanya suara tawalah yang dapat ia keluarkan.
"Astaga... Hah. Apa aku tidak salah dengar? Tuan Uchiha kurasa kau benar-benar harus pergi ke rumah sakit jiwa, apa kau tidak sadar kau baru saja menawarkan untuk membeli diriku?"
"Dengan penuh kesadaran aku mengerti atas ucapanku. Dan aku tidak main-main. Kau hanya perlu menyetujuinya, menandatangi kontrak itu, dan aku akan mengurusmu dengan layak. Kau hanya perlu memanjakanku setiap aku pulang ke rumah, maka barang apapun bisa kau beli. Bukankah ini penawaran yang sangat menarik? Dan tentu kau tahu, kau pun bisa merasakan tubuhku." Mata Sasuke mulai memandang Hinata dengan tatapan yang menggoda, yang mungkin jika wanita lain aku langsung menjawab ya dengan sangat keras. Tapi ini Hinata, dan pria itu mulai membuat takut dirinya, lelaki ini memang gila atau dia memang benar-benar bajingan yang mengira Hinata akan mau menerima tawaran seperti itu hanya demi sebuah kehidupan yang lebih layak.
"Maka akupun akan menjawab serius, dengar Tuan Uchiha yang memiliki akal sehat. Aku tidak akan pernah mau menerima penawaran konyolmu, aku lebih baik mati kelaparan daripada harus menjadi budakmu, atau apa kau bilang tadi wanitamu? Sungguh menjijikan." Dengan itu Hinata segera berdiri dan menjauh dari Sasuke, tapi pria memang selalu lebih cepat sehingga dengan mudah Sasuke menarik kembali Hinata sehingga sekarang membuat gadis itu menjadi terbaring di sofa dan Sasuke dengan cepat naik ke atasnya lalu sedikit menduduki perut Hinata agar gadis ini tidak bisa pergi kemana-mana. Kedua tangan Hinata dicekal oleh satu tangan Sasuke yang disimpan diatas kepala gadis itu. Sebelum Hinata sempat menjerit Sasuke sudah membungkam bibir ranum gadis itu dengan bibir tipis sensualnya. Sasuke mencium Hinata dengan dalam dan basah, mencoba meraup seluruh bibir ranum Hinata kedalam pautan bibirnya. Menekan bibir atas Hinata dengan kedua bibirnya lalu berganti dengan bibir bawahnya, memperdalam kecupannya berusaha menikmati rasa manis alami yang dihasilkan bibir gadis itu, lalu secara tiba-tiba Sasuke berhenti dan melepaskan tautan bibirnya sehingga sedikit meninggalkan untaian benang saliva.
Ditatapnya gadis di bawahnya ini yang terengah-engah dengan wajah memerah menerima serbuan brutal bibirnya yang tiba-tiba, tatapannya semakin fokus pada bibir Hinata yang menjadi sedikit bengkak atas ulahnya. Harus Sasuke akui rasa gadis ini memang sangat nikmat, bahkan dalam posisi ini Sasuke merasa gairahnya langsung bangkit seketika. Tapi saat ia melihat mata gadis ini yang memerah dengan pancaran amarah dan takut disaat bersamaan, membuat Sasuke sedikit tidak tega hingga akhirnya gadis itu mulai berbicara.
"A-apa yang i-ingin kau lakukan padaku?" Tanyanya dengan nada sedikit bergetar.
"Aku hanya melakukan apa yang sudah ingin aku lakukan padamu dihari pertama kita bertemu." Sasuke masih terus menatap lekat-lekat menelusuri seluruh wajah Hinata.
"Kau pria brengsek, lepaskan aku!" Tangan Hinata mulai memberontak lagi.
"Hyuga, tenanglah kau tidak perlu bersikap jual mahal padaku. Aku tahu apa yang kau lakukan pada Jaksa itu, jangan kira dengan menggoda Jaksa itu dengan tubuhmu kau bisa memenangkan persidangan ini. Berusahalah bermain secara adil, karena aku pun begitu."
"Apa yang kau katakana? Sialan! Lepaskan aku!" Dengan perlahan wajah Sasuke mendekati lagi wajah Hinata, dengan raut wajah takut Hinata menutup matanya lagi. Tapi Sasuke justru mendekatkan bibirnya pada telinga Hinata.
"Dengar Nona Hyuga, suatu hari kau akan menyesal telah menolak penawaranku. Dan kau akan mengemis padaku untuk menerima tubuhmu, sampai pada akhirnya kau ketagihan bercinta denganku. Dan pada saat itu tiba, aku dengan sangat senang melihat raut wajah mengemismu."Ucapan Sasuke diakhir kecupan singkat pada pipi Hinata, setelah itu Sasuke bangkit dari atas tubuh Hinata sambil menyelipkan uang pada saku seragam kerjanya, membuat gadis itu langsung membuka matanya karena merasakan kecupan singkat Sasuke pada pipinya. Setelah melihat pria itu sudah bangkit dari atas tubuhnya dan sedang duduk mengamati Hinata dengan senyum meremehkan, Hinata segera loncat untuk bangkit berdiri menjauhi Sasuke.
Dengan tatapan tajam dan mata memerah Hinata mengambil topinya yang tergeletak dilantai dan langsung berlari keluar dari ruangan Sasuke. Meninggalkan Sasuke yang menyandarkan tubuhnya sambil merentangkan kedua tangannya pada kepala sofa, pria itu menatap langit-langit kantornya dengan senyum puas yang terpatri dibibir seksinya.
Beberapa saat setelah debaman pintu yang tertutup cukup keras, pintu itu terbuka kembali dengan menampilkan sesosok pria dengan rambutnya yang diikat ke atas. Shikamaru menatap heran pada Sasuke yang tersenyum-senyum sendiri dan juga pegawai pizza yang menabraknya tadi dilorong.
"Ada apa dengan kau dan pegawai tadi?" Tanya Shikamaru bingung dan mendudukan dirinya di sofa depan Sasuke.
"Tidak ada, hanya sedikit memberikan pelajaran." Ucap Sasuke tidak acuh. Kemudian duduknya berubah tegak dan menatap Shikamaru dengan padangan yang serius lagi. "Bagaimana Shikamaru apa kau menemukan kemajuan dari penyelidikanmu?"
"Tidak terlalu banyak perubahan, seperti yang kau tau saat pertama kali ini terungkap, semua dokumen persetujuan pencairan dana atas proyek baru kita itu memang sudah terbukti ditanda tangani Hyuga Hiashi karena dia yang bertanggung jawab sebagai manager lapangan proyek ini. Dan juga aliran dana yang dia terima, waktunya memang tepat setelah dana itu dicairkan. Tapi aku akan menyelidiki kenapa dia hanya mengalirkan dana pada satu rekening, seharusnya untuk menutupi aksinya dia bisa melakukan pencucian uang pada beberapa aset miliknya." Penjelasan Shikamaru sepenuhnya sudah menarik perhatian Sasuke. Benar juga ini terlalu mudah ditebak untuk tindakan korupsi.
"Kau bilang tadi dia menerima aliran dana, aku ingin kau menyelediki akun siapa yang mengirimkannya uang, jika bukan akun rekening perusahaan."
"Sudah, itu memang bukan akun dari rekening perusahaan karena sebelumnya perusahaan telah memutasikannya pada bagian keuangan yang bertanggung jawab untuk proyek ini, itu dari akun rekening baru yang departemen itu buat untuk menampung dana proyek ini." Kemudian Shikamaru mengeluarkan dokumen-dokumen transaksi sebagai bukti penjelasannya.
"Dan kau tahu Sasuke, pegawai yang bertanggung jawab mengelola akun itu, telah memberikan penjelasannya padaku." Alis Sasuke terangkat menatap Shikamaru tanda bertanya atas apa yang dia ketahui.
"Manajer keuangan itu bilang dia sudah dipaksa oleh Hyuga Hiashi untuk mentransfer dana awal itu ke akun rekening pribadi Hyuga Hiashi. Dan dia siap untuk menjadi saksi yang memberatkan tuduhan pada Hyuga Hiashi." Mendengar penjelasan Shikamaru membuat rahang Sasuke mengeras karena marah, tangannya terkepal dan dengan seketika ia berdiri lalu melempar vas bunga diatas meja hingga hancur berantakan membentur lantai dengan suara keras yang memekakan telinga. Kemudian ia bergerak untuk mencengkramkan tangannya dengan keras pada pinggiran meja kerjanya, penjelasan Shikamaru kembali membuatnya murka pada sosok Hyuga Hiashi, Sasuke tidak menyangka lelaki yang selama ini ia percaya dan ia segani akan berbuat seperti ini pada perusahaannya. Hati kecilnya berharap bahwa dugaannya pada pria itu akan salah, hal ini membuat dia teringat kembali pada putri semata wayang pria itu, Hyuga Hinata. Gadis yang tadinya Sasuke akan beri perhatian lebih karena telah berhasil menarik rasa penasarannya. Tapi kemudian fakta yang ada membuat hatinya ingin membalaskan kekesalannya pada gadis itu.
Dengan langkah cepat Hinata memasuki toilet yang pertama kali ia lihat setelah keluar dari kantor pria brengsek itu. Dengan kasar ia membuka salah satu bilik kamar mandi kemudian duduk dan membungkuk menenggelamkan kepalanya untuk meredamkan tangisnya yang langsung saja keluar. Hinata menangis dengan isakan yang cukup kencang, hatinya sakit dan pikirannya selalu teringat tindakan kurang ajar Sasuke pada dirinya, pria itu membuat tubuhnya panas dingin karena kesal dan membuat dirinya merasakan hal yang tidak bisa ia jelaskan karena belum pernah ia rasakan sebelumnya. Pria gila macam apa yang bertindak seperti akan memperkosa seorang gadis di kantornya sendiri, meskipun mungkin saja ruangannya kedap suara tapi pasti diruangan itu ada CCTV. Apa pria itu juga tidak malu jika dia ketahuan pegawainya, tapi mungkin ini persepsi salah Hinata karena di bawah meja Sasuke ada tombol yang dengan mudah pria itu atur untuk mematikan dan menghidupkan CCTVnya.
Dengan teriakan terakhir yang sangat kencang kedalam pahanya, Hinata mengeluarkan kefrustasiannya. Dan tanpa sadar gadis ini sudah menangis cukup lama, setelah tangisannya sudah tidak keluar lagi gadis itu kembali duduk tegak dan dengan kasar menghapus jejak air mata yang ada di pipinya. Dengan wajah penuh amarah ia menyumpahi pria gila, brengsek, kurang ajar, bajingan dan sumpah serapah lainnya agar pria itu tidak akan pernah hidup tenang setelah hari ini. Pria itu bahkan mencuri ciuman pertamanya, yang dengan sangat Hinata sesali harus ia akui bahwa memang ciuman pria itu sangat memabukan bahkan Hinata hampir saja terlena jika Sasuke tidak berhenti, dengan perlahan tangannya mengusap bibirnya yang menjadi sedikit bengkak akibat ulah pria itu. Tapi usapannya terhenti jika mengingat kembali masalah apa yang sudah ditimbulkan pria itu, oh ya tuhan!
Hinata langsung bangkit berdiri dan keluar dari kamar mandi itu. Setelah itu memasuki lift dan turun kembali menuju loby, dengan sedikit berlari gadis itu pergi meninggalkan gedung Uchiha Enterprise menuju parkiran motornya, dia sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaannya manajernya pasti akan marah padanya. Ayolah dia baru beberapa hari bekerja di sana, jika hasil kerjanya jelek bukan tidak mungkin dia akan segera dipecat.
Setelah Hinata sampai di parkiran toko pizza, Hinata segera menerobos pintu masuk dan mencari letak manajernya berada. Hinata akan memohon maaf sebanyak apapun yang pria itu mau asal dia tidak dipecat, tapi ketika melihat pandangan teman-teman kerjanya yang prihatin padanya membuat harapannya pupus, terutama ketika teman kerjanya yang memiliki rambut bercepol dua bernama Tenten menunjukan gerakan satu jari yang melintang di lehernya dengan raut wajah sedih sambil menatap Hinata, membuat Hinata semakin tidak memiliki harapan.
"Kau sudah ditunggu di ruangannya, Hinata." Ucap rekan prianya yang lain. Langkah Hinata menjadi semakin pelan, firasat buruk sudah memenuhi fikirannya.
Setelah membuka pintu kantor manajernya, sang bos sudah berdiri di pinggir meja kerjanya sambil melipat kedua tangannya melihat kearah Hinata dengan pandangan datar.
"Tu-tuan Asuma, maafkan saya. Saya bisa jelaskan apa yang terjadi." Ucap Hinata sedikit bergetar sambil meremas bajunya.
"Tidak perlu menjelaskan apa-apa Hinata. Kurasa kau sadar sudah 4 jam kau meninggalkan pekerjaanmu, tentu kau tahu bahwa toko pizza ini masih kekurangan pekerja pesan antar, dan kau pergi selama itu tanpa ada kabar sama sekali." Ucapan Asuma yang tadinya akan tegas dan memarahi gadis ini berubah hanya menjadi nada kecewa, melihat raut wajah gadis ini juga cukup kacau.
"Kumohon Tuan, jangan memecatku. Beri aku kesempatan sekali lagi." Kedua tangan Hinata terkepal menyatu tanda memohon dengan bibir yang terus ia gigit menahan isakannya keluar.
"Huffhh… Hinata sebenarnya aku cukup puas atas kinerjamu, kau sopan, cekatan, dan memiliki semangat kerja. Tapi tindakanmu ini membuat toko pizza membatalkan banyak sekali pesan antar, tentu kau tahu pengaruhnya pada penilaian konsumen. Jadi dengan berat hati aku harus memberhentikanmu, ini aku beri kau sedikit insentif atas kerja kerasmu selama lima hari ini." Asuma mengulurkan tangannya menyerahkan amlop berisi uang pada Hinata.
Dengan mata yang berkaca-kaca Hinata ragu-ragu menerima amplop ini. "Terima kasih Tuan, ta-tapi kenapa? Padahal aku hanya bekerja selama beberapa hari."
"Entahlah, aku hanya merasa kau adalah gadis yang baik. Maafkan aku atas keputusan ini, kau tahu pesan antar sangatlah berpacu pada waktu, jika aku tidak tegas memberikan peraturan aku takut karyawan yang lain akan lalai juga pada pekerjaannya."
Mendengar penjelasan sang manjer membuat Hinata bisa menerima keputusannya. "Ya Tuan saya mengerti, memang sudah seharusmya Anda bersikap seperti ini sebagai seorang manajer. Sekali lagi terima kasih." Lalu Hinata membungkukan badannya, menyerahkan topi kerjanya, lalu membuka seragam kerjanya karena Hinata memakai baju dalaman lagi berwarna putih polos. Sebagai ungkapan simpatinya Asuma menepuk pundak Hinata, yang dibalas Hinata dengan senyuman. Setelah itu Hinata keluar dari ruangan Asuma untuk berpamitan pada karyawan yang lain.
Hinata berpamitan pada para koki di pantry, para waiter, dan yang lainnya. Setelah Hinata keluar toko itu ada beberapa pegawai yang mengatakan bersimpati, tapi ada pula yang memang menyalahkan tindakan Hinata, dan bagi para pria berotak mesum justru membicarakan bentuk tubuh Hinata yang tercetak cukup jelas karena pakaian polos putih dengan lengan pendek itu. Tentu saja pakaian itu hanya berfungsi sebagai dalaman dan ukurannya pasti akan sangat pas di badan.
"Astaga, ternyata tubuh Hinata memang sangat menggoda. Sial, seharusnya dari kemarin aku sudah meminta nomor teleponnya."
"Hah… Kau memang bodoh. Aku tentu saja sudah memintanya dari kemarin, dia itu memang cantik dari pertama kali aku melihatnya."
"Kalau begitu aku minta."
"Heh enak saja, ini hanya untukku." Dan kedua pria itu tiba-tiba mendapat pukulan nampan di kedua kepala mereka dengan cukup keras karena ulah Tenten.
"Dasar para pria mesum. Sana antar pesanan itu, jangan berpikiran kotor saat sedang bekerja." Lalu Tenten meninggalkan kedua pria itu dengan delikan tajam matanya, dan para pria itu hanya balik menatap sinis Tenten.
Dengan gerakan lunglai dan juga lesu Hinata membuka pintu kamar sewanya, setelah itu dia langsung mencari saklar lampu kamarnya. Setelah lampu menyala Hinata menyimpan tasnya diatas meja di ruang tengahnya dan duduk untuk meluruskan kakinya yang cukup pegal atas aktivitasnya seharian ini, tapi tiba-tiba lampu seluruh kamarnya mati sehingga kamar Hinata benar-benar gelap. Hinata hampir saja berteriak, tapi dia teringat perkataan pemilik kamar sewanya. Ini adalah hari kelima Hinata tinggal disini dan dia belum membayar sewa listriknya, ya ampun padahal dia dipecat bekerja tapi sewa listrik tetap harus dibayar. Lalu dia teringat uang yang diberikan bosnya, Hinata hanya berharap uang itu cukup untuk membayar sewa listrik.
Tangan Hinata pun bergerak-gerak berusaha mencari handphonenya yang berada di dalam tas, ia ingin menyalakan senter untuk mengambil lilin. Setelah ia dapatkan handphonenya, ia kemudian bangkit untuk mencari lilin di dalam laci, mengeluarkannya beserta bensi dan mulai berusaha menyalakan lilin itu di atas sebuh kaleng besi, setelah lilin berhasil dia nyalakan seketika lampu kamarnya kembali lagi menyala, astaga ini membuatnya bingung, sebenarnya apa yang terjadi dengan kamarnya. Dengan pikiran bingungnya Hinata mematikan lilinnya kembali dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, biarlah dia besok akan mendatangi kantor pembayaran sewa listrik agar semuanya jelas. Meskipun Hinata cukup bingung kenapa listriknya menyala lagi bahkan sampai ia tidur dan mematikan lampu kamarnya kembali.
"Jaksa Sabaku." Ucap Gaara sambil menunjukan kartu tanda pengenalnya sebagai Jaksa kepada sekretaris yang berjaga di luar ruangan General Manager.
"Aku kesini untuk menyelidiki ruangan Hiashi Hyuga, ini surat perintahnya." Gaara menyimpan amlop coklat dengan kop Kejaksaan Tokyo di atas meja sang sekretaris. Setelah disetujui, Gaara dan rekannya Darui mulai memasuki kantor kosong tersebut, memang semenjak kasus ini terungkap ruangan Hiashi Hyuga diperintahkan untuk dikosongkan selama masa penyelidikan, jabatan itu pun diserahkan pada manajer lain terlebih dahulu.
Gaara mulai melangkahkan kakinya ke dalam ruangan berukuran 25 meter persegi itu, kantor itu dilengkapi beberapa furniture kantor pada umumnya namun lebih banyak pernak-pernik berbau tradisional Jepang yang menghiasinya. Gaara dan rekannya mulai membuka beberapa folder arsip, lemari arsip, meja kerja, catatan kecil, buku-buku, dan lain sebagainya. Ada beberapa dokumen lagi yang mereka akan ambil sebagai kepentingan penyelidikan.
"Gaara, kau harus melihat ini." Ucapan Darui membuat kegiatan Gaara yang sedang membaca sebuah dokumen terhenti. Dia mendekati Darui yang sedang menatap ke dalam sebuah laci, disana terdapat sebuah amplop tebal yang biasanya untuk menyerahkan uang. Dan benar saja setelah dibuka isinya ternyata beberapa ratus ribu Yen, tapi bukan hal itu yang membuat Gaara tertarik melainkan sebuah catatan kecil di dalamnya. Didalam catatan itu terdapat tulis "Untuk Tuan Shii, atas jasanya." Sontak hal ini mengejutkan mereka berdua karena hal ini bisa menjadi bukti baru untuk mengungkap kasus ini. Tentunya mereka sudah tahu siapa Tuan Shii ini, dia adalah pihak yang mentransfer dana perusahaan ke rekening pribadi Hyuga Hiashi dan sudah menyatakan diri sebagai saksi yang dipaksa oleh Hiashi.
"Baiklah, Darui cukup untuk hari ini. Ayo kita kembali, aku akan memeriksa tulisan tangan ini." Ucap Gaara sambil membawa beberapa dokumen keluar dari ruangan itu dan diikuti Darui. Dalam hati Gaara mulai merasa was was, jika memang tulisan ini terbukti hasil tulisan tangan Hiashi berarti motif uang ini adalah untuk membayar jasa orang tersebut atas penggelapan dana yang dia lakukan. Apakah Gaara harus menelepon gadis itu kembali atas bukti yang baru ia temukan ini, entahlah Gaara merasa bimbang. Sejujurnya hati kecilnya dia ingin membuktikan bahwa memang ayah gadis itu tidaklah bersalah, tapi jika buktinya sudah sangat kuat mau bagaimana lagi.
"Apa kita perlu menyuruh orang untuk mengawasi Jaksa itu?" Tanya Shikamaru pada Sasuke yang sedang mengamati pergerakan Gaara pada layar CCTV di laptop Sasuke.
"Tidak perlu, biarkan dia bekerja sesuai keinginannya. Aku hanya ingin menilai seberapa hebat kemampuannya mengungkap kasus ini." Sebenarnya apa hebatnya Jaksa itu pikir Sasuke dalam hati, dan ini bukanlah pertanyaan yang menyangkut pada kinerja Jaksa itu dalam mengungkap kasus ini, tapi lebih kepada apa hebatnya pria itu hingga bisa langsung dekat dengan Hinata. Ya tentu saja Sasuke selama ini selalu mengawasi setiap gerak gerik Hinata, setelah pertemuan rapat pemegang saham itu orang suruhan Sasuke selalu melaporkan seluruh kegiatan gadis Hyuga itu padanya. Oleh karena itu, tidak heran Sasuke dengan sengaja memesan pizza dari lokasi yang cukup jauh dari kantornya, dan Sasuke tentu tahu bahkan gadis itu belum membayar tagihan listrik kamar sewaannya.
"Hey, bung ayolah ini sudah malam. Apa kau tidak mau pulang? Seberapa lama pun kau memandangi tulisan itu mereka tidak akan berubah. Itu memang hasil tulisan tangan Hiashi Hyuga." Darui hanya menggerutu pada Gaara yang tidak mau diajak pulang padahal dia sudah mengantuk. Sebagai asisten Jaksa sebenarnya dia tidak perlu terus menerus bersama Gaara tapi Jaksa muda ini sudah bekerja terlalu keras.
"Pulanglah duluan Darui, masih ada beberapa dokumen yang perlu aku teliti." Ucap Gaara sambil menampilkan sedikit senyumnya pada sahabatnya itu.
"Huaahhhh…" Ucap Darui menguap. "Baiklah bos, aku duluan. Jangan terlalu memaksakan dirimu dalam kasus ini oke?" Ucap Darui mengingatkan.
"Tentu, terima kasih untuk hari ini." Ucap Gaara.
"Ya tak masalah." Setelah itu Darui berbalik dan berjalan keluar ruangan Gaara sambil melambaikan tangannya dan bergumam "sampai nanti."
Setelah kepergian Darui, Gaara kembali lagi mengamati bukti yang ada di atas mejanya. Tadi sore hasil Forensik tulisan tangan ini sudah keluar dan memang terbukti ini tulisan tangan Hyuga Hiashi, meskipun maksud dari tulisan ini masih bias tapi ini bisa menjadi salah satu bukti yang sangat kuat. Gaara hanya heran mengapa buktinya terasa mudah didapat dan juga pihak Uchihah Enterprise tidak mengirimkan ini sebelumnya ke kantor Kejaksaan. Dengan berbagai spekulasi yang memenuhi pemikirannya, Gaara kembali teringat gadis dengan permata amethyst itu. Sepertinya dia harus kembali memanggil gadis itu untuk menanyakan hal-hal tentang dana yang mungkin dia tahu dari ayahnya. Tapi sedang apa gadis itu? pikir Gaara, hati kecilnya seakan menjerit bahwa ia ingin bertemu kembali dan melihat senyum manis gadis Hyuga itu lagi. Dan tanpa disadari bibirnya melengkung membentuk senyum memukau seorang Sabaku No Gaara kala mengingat seorang Hyuga Hinata.
Tbc
Welcome... :)
Maaf jika ada yang merasa kebingungan untuk bab ini, saya hanya seseorang yang sedang belajar dalam mengungkapkan kata-kata. But thanks to everyone whose have support this story until now. I'm nothing without you guyss...
By Chichiyulalice
