Disclamer: Naruto and all character is belong Masashi Kishimoto
Sasuhina, Gaahina fanfiction
Ooc, typo, DLDR
.
.
.
.
Hinata menyeka keringat yang mengalir cukup banyak dari dahinya, hari ini cuaca cukup panas bagi orang-orang yang melakukan aktivitas terus menerus di luar ruangan. Terutama bagi Hinata yang kini sedang menawarkan selebaran-selebaran iklan kedai ramen Ichiraku, untunglah setelah dipecat dari toko pizza ada paman baik hati yang langsung mau menerimanya bekerja. Dengan senyum yang terus terpatri di bibir manisnya Hinata tanpa lelah menawarkan selebaran iklan tersebut pada setiap orang yang lewat di depan kedai ramen ini berharap mereka mau singgah dan membeli sesuatu. Toko ramen ini tidak terlalu besar dan hanya dikelola oleh sepasang suami istri yang sudah lanjut usia, meskipun Hinata tahu penghasilan dari kedai ramen ini tidaklah terlalu besar bahkan sangat pas pasan dengan biaya kamar sewanya tapi Hinata senang karena Tuan dan Nyonya Ichiraku sangatlah ramah dan baik kepadanya bahkan Hinata merasa diperlakukan seperti seorang anak oleh mereka. Setelah pengunjung cukup ramai Hinata beralih ke dalam untuk membantu mengantarkan pesanan dan membersihkan meja yang telah digunakan.
Tuan Ichiraku hanya dapat tersenyum melihat seorang gadis muda yang cantik dengan penuh keramahan dan semangat mengantarkan pesanan kepada setiap tamu, anehnya dia merasa hari ini para pelanggan pria lebih banyak berdatangan dari hari biasanya, mungkin Hinata membawa semacam daya tarik bagi para pelanggannya karena saat pertama kali bertemu dengan gadis itu Tuan Ichiraku bisa merasakan bahwa gadis ini sangat butuh bantuan sehingga meskipun Ia tidak terlalu membutuhkan pegawai tapi nalurinya berkata bahwa gadis ini bisa bekerja dengan baik.
Setelah kedai ramen itu tutup Hinata izin pamit pulang dan dengan baiknya Tuan Ichiraku memberikan sedikit imbalan padanya, Hinata mensyukuri dalam hati karena Ia sedang sangat menghemat pengeluarannya.
"Terima kasih paman, bibi. Selamat beristirahat."
"Sama-sama Hinata, hati-hati di jalan ini sudah malam."
"Tenang saja, aku pasti akan selamat untuk bekerja di sini lagi besok." Dan sepasang suami istri itu hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Hinata, lalu gadis itu membungkuk dan keluar dari kedai ramen Ichiraku.
Dalam perjalanan pulang Hinata melihat berapa uang yang didapatnya, tidak terlalu banyak tapi ini lumayan untuk tambahan membayar uang sewa kamarnya. Dan Hinata tersadar jika hari ini dia belum makan, meskipun terus menerus meminum air putih tapi perutnya sudah tidak bisa lagi diajak berkompromi, sehingga Hinata berhenti disalah satu toko untuk membeli sebungkus roti. Saat dia akan memasukan potongan roti itu ke dalam mulutnya Hinata mendengar rintihan suara kucing dan dilihatnya ada seekor kucing yang berbaring tertelungkup dengan luka-luka dibeberapa bagian tubuhnya. Merasa iba akan kondisi kucing itu Hinata mendekatinya dan memberikan sebelah rotinya untuk si kucing, dan ternyata benar saja kucing ini juga kelaparan karena roti itu langsung dilahapnya dengan cepat. Hinata mengelus kepala si kucing dengan tatapan sedih, hatinya tidak tega melihat kucing ini luka-luka dan kelaparan. Hinata seakan melihat gambaran hidupnya saat ini, hatinya yang luka menyadari semua orang kini membenci nama keluarganya, sebenarnya Ia sendiri selalu bertanya bisakah Ia menjalani hidup ini sendirian dengan terus seperti ini dan apa yang harus ia lakukan jika memang ayahnya bersalah, tapi sebisa mungkin Hinata menghilangkan fikiran negative itu dari dirinya dan terus berdoa atas keselamatan kedua orang tuanya dimana pun mereka berada saat ini. Hinata mulai bangkit dan menjauhi si kucing, tadinya Hinata ingin mengurus kucing itu tapi Ia berfikir agar membiarkan hidup si kucing bebas saja karena ia juga belum tentu dapat mengurusnya dengan baik.
Saat bangkit tadi Hinata merasakan kepalanya berdenyut nyeri, entah mengapa akhir-akhir ini dia mudah merasa lelah serta matanya terlihat sedikit sembab, Hinata tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya tapi dia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia tidak boleh sakit dan harus berjuang hingga kasus ayahnya selesai. Setelah sampai di depan pintu kamar sewanya, tangannya menggali ke dalam tas selempangnya mencari kunci kamar tersebut tapi lagi-lagi pusing itu menderanya dan terpaksa Hinata memijat sebentar kepalanya. Tangan Hinata berpegangan pada handle pintu karena dia mulai merasa kepalanya berkunang-kunang, pandangannya mulai kabur dan pusing kembali menyerang kepalanya lalu tanpa dapat ditahan tubuhnya limbung terjatuh ke lantai, matanya mengerjap berusaha untuk terbuka tapi hal itu justru membuat dirinya seakan tertarik dalam kegelapan hingga tanpa Ia sadari seseorang mendekatinya setelah kedua kelopak mata putihnya benar-benar tertutup.
.
.
.
Sasuke mengambil posisi duduk mengamati wajah gadis yang tak sadarkan diri di hadapannya ini, tangannya terulur untuk menyingkirkan beberapa helai rambut yang menghalangi wajah Hinata, ibu jari Sasuke mulai mengelus pipi chuby itu dengan perlahan, mata kelamnya terus mengamati kondisi sang gadis yang terlihat sangat lemah. Dengan gerakan mata Sasuke memerintahkan anak buah yang berdiri di sampingnya untuk membuka pintu kamar Hinata, jangan heran darimana Sasuke bisa mendapatkan kunci kamar Hinata karena itu hal yang mudah untuk Ia lakukan. Setelah pintu kamar itu terbuka dengan perlahan kedua tangan Sasuke merangkul kepala dan belakang lutut Hinata lalu dengan perlahan dia bangkit berdiri bersama Hinata dalam rangkulannya dan mulai memasuki kamar tersebut.
"Panggil dokter." Ucap Sasuke pada anak buahnya dengan pandangan yang masih fokus menatap wajah Hinata, dengan hati-hati Ia membaringkan gadis itu di atas kasur. Sambil menunggu dokter pribadinya Sasuke mengelus surai lembut itu dengan perlahan, meskipun gerakan tangannya tenang tapi itu tidak menggambarkan apa yang sedang melanda hatinya. Melihat gadis ini terbaring dengan sangat rentan memunculkan suatu rasa sakit dan perasaan tercubit dalam hatinya, Sasuke tidak tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini tapi satu hal yang dia tahu bahwa dirinya ingin melindungi gadis ini dengan seluruh jiwa raganya serta menempatkan gadis Hyuga ini ke dalam pelukannya agar tehindar dari segala mara bahaya. Kemudian ibu jarinya beralih untuk mengelus bibir gadis itu, dapat Ia rasakan bibir itu menjadi sedikit kering dan Ia periksa denyut nadinya pun sangat lemah. Sasuke mengeraskan rahangnya karena seketika Ia merasakan gejolak amarah yang sangat besar pada dirinya sendiri, Sasuke sadar dia sendirilah yang telah menempatkan Hinata pada kondisi seperti ini, tangannya terkepal kuat mencoba meredam amarahnya sendiri. Apa yang harus Ia lakukan agar dirinya dapat menjaga gadis ini lebih baik.
Tak berapa lama kemudian, seorang dokter wanita dengan rambut hitam dan mata merahnya datang menghampiri Sasuke. Dia adalah Kurenai dokter pribadi keluarga Uchiha. Menyadari dokternya telah tiba Sasuke bergeser untuk memberikan ruangan pada sang dokter untuk memeriksa Hinata.
"Periksa dia, berikan vitamin apapun padanya agar gadis itu tidak sakit." Dengan nada datar Sasuke memerintah dokter itu, meskipun nada kekhawatiran tetap terdengar dalam suaranya. Dengan cekatan sang dokter mengeluarkan stetoskopnya lalu mulai mendengarkan detak jantung Hinata, mengukur tekanan darahnya, dan mengarahkan senter pada kedua mata gadis itu setelah itu dia menyuntikan sesuatu pada Hinata. Sementara Sasuke hanya memperhatikan dalam diam di sudut kamar sambil bersandar dan menyilangkan kedua tangannya.
"Bagaimana kondisinya?"
Sebelum menjawab, dokter Kurenai hanya bisa menghela nafasnya pelan. "Gadis ini bisa saja terkena busung lapar, tubuhnya sedang mengalami Malagizi. Dia sangat kekurangan asupan protein dan vitamin, kurasa pola makannya tidak benar, jika terus seperti ini dia akan mudah merasa lelah. Anak buahmu bilang gadis ini pingsan, itu karena anemia dan akan bertambah parah jika pola makannya tidak berubah. Aku sudah menyuntikan Vitamin kalium dan kalsium, itu akan membuat tubuhnya lebih kuat untuk sementara." Setelah itu dokter Kurenai menuliskan resep dan memberikan beberapa vitamin yang saat itu dibawanya.
"Hn, baiklah kau boleh kembali." Ucap Sasuke pelan lalu hanya dibalas dengusan oleh Kurenai, dasar Uchiha berucap terima kasih pun sangat sulit. Jika bukan karena keluarganya sudah menjadi dokter pribadi keluarga Uchiha selama bertahun-tahun dia tidak akan mau datang ke tempat asing dimalam-malam begini.
"Baiklah, tugasku memang sudah selesai. Tapi Sasuke bukankah gadis ini putri dari Hyuga Hiashi? Aku tidak tahu apa hubungan mu dengan gadis ini, yang aku tahu kau begitu membenci ayahnya. Kuharap kau bisa memperlakukan gadis ini dengan lebih baik, bukan salah gadis itu ayahnya melakukan kecurangan dan jangan biarkan gadis itu hidup dengan keadaan seperti ini." Setelah itu Kurenai menatap sekilas dengan senyum simpati pada Hinata lalu menganggukan kepalanya pada Sasuke dan keluar dari kamar sewa Hinata. Sasuke yang mendengar perkataan dokter itu hanya bisa diam sambil mengamati keadaan Hinata, tubuhnya mulai mendekat dan duduk disebelah gadis itu.
"Gadis bodoh," Ucap Sasuke kesal lebih pada dirinya sendiri.
Kepala Sasuke merunduk untuk berbicara lebih dekat dengan Hinata dan mengamati dalam-dalam gadis yang membuat pikirannya tidak karuan ini. "Kenapa kau sangat keras kepala, lihatlah apa yang telah kau lakukan pada dirimu sendiri. Apa yang akan kau perjuangkan jika dirimu seperti ini, apa kau mau mati konyol hanya karena kelaparan? Ini tidak lucu, dimana gadis yang menantangku dan ingin menjadikanku musuh?" Tangan Sasuke bergerak membuai lagi pipi gadis itu, rona merah yang biasanya mucul di kedua pipinya kini menghilang karena gadis itu terlihat pucat.
"Hyuga awas kalau kau sakit lagi, aku sendiri yang akan menyeretmu untuk makan di rumah ku." Setelah itu bibir Sasuke bergerak untuk mencium kening Hinata cukup lama, kemudian dia angkat wajahnya untuk kembali menatap Hinata dan dia tidak bisa menahan saat bibir ranum Hinata seolah memanggil untuk dijamah olehnya hingga akhirnya dia pertemukan kedua bibir itu cukup lama, bukan ciuman panas dan menggelora, Sasuke hanya menempelkan bibirnya pada bibir Hinata cukup lama hingga dia puas. Setelahnya dia hanya tersenyum kecil memikirkan perbuatannya, jika gadis ini mengetahui perbuatannya pasti rambut kerennya ini sudah dijambak. Dengan mengusap rambut Hinata untuk terakhir kalinya Sasuke bergerak menyelimuti gadis ini lalu berdiri dan memandang Hinata untuk beberapa saat sebelum akhirnya berbalik untuk keluar dari kamar sewa Hinata.
.
.
.
"Eemmhh…" Hinata bangkit duduk dari kasurnya dan langsung memegang kepalanya, masih terasa pusing meskipun sudah tidak seperti semalam. Dilihatnya jam di atas dinding kamarnya yang menunjukan pukul 6 pagi, untunglah dia tidak telat bangun untuk bekerja. Tapi ketika kepalanya melirik kesamping kanan kasurnya dia terkejut karena melihat ada sekeranjang penuh buah-buahan, sebuah kotak susu dan jus instan besar, serta obat-obatan. Hinata mengerutkan keningnya menatap semua itu, siapa yang menyimpan ini dikamarnya, seingatnya dia pingsan di depan kamar sewanya semalam. Dan ingatan itu berhasil membuat dirinya terlonjak, lalu siap yang membawanya masuk ke dalam kamar, dia langsung memeriksa keadaan pakaiannya dan akhirnya bisa mengeluarkan nafas lega. Untunglah tidak ada yang berubah dari pakaiannya dia hanya takut ada orang yang macam-macam dengan dirinya, apa pemilik kamar sewanya yang telah berbaik hati melakukan semua ini. Kebingungannya sedikit terjawab dengan secarik kertas yang ada di keranjang buah itu, dengan rasa penasaran Hinata membaca tulisan yang ada disana "Jangan mati konyol hanya karena kelaparan."
Hinata mendengus geli membacanya, orang macam apa yang menulis kata-kata seperti ini. Tapi Hinata mulai termenung, memangnya dirinya sakit apa hingga tulisan ini berkata seperti itu, diraihnya obat-obatan yang ada dan mulai membaca khasiatnya. Setelahnya Hinata hanya bisa menundukan kepalanya, dia merasa kecewa terhadap dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga kesehatannya padahal ia sudah berjanji pada kedua orang tuanya agar bisa melewati semua ini. Nanti dia akan bertanya pada pemilik kamar sewanya, siapa orang yang sudah berbaik hati menolongnya. Setelahnya Hinata mulai bangkit dan beranjak ke kamar mandi. Yang Hinata tidak tahu masih banyak lagi bahan makanan yang tersimpan di lemari-lemari kecil ruang tengahnya, dan itu bahkan akan cukup untuk makan Hinata selama seminggu.
.
.
.
Saat jam kerjanya akan berakhir seorang pria mendatangi Hinata dan berkata bahwa dia adalah pengacara yang ditugaskan mendampingi Hinata menghadapi kasus ayahnya, meskipun Hinata hanya sebagai seorang saksi dan penanggung tapi dia tetap perlu pengacara untuk membantu meringankan tuduhan terhadap Ayahnya. Mereka akhirnya berbicara disalah satu meja di kedai ramen Ichiraku, untunglah para pelanggan sudah mulai pulang.
"Nona Hyuga, perkenalkan saya Hatake Kakashi. Saya ditugaskan Pengadilan Negeri Tokyo untuk mendampingi Anda dalam menangani kasus Ayah Anda." Melihat raut wajah khawatir Hinata dengan cepat Kakashi melanjutkan.
"Tenang saja saya tidak akan meminta imbalan apapun pada Anda, pengadilan sudah memberikan tugas ini pada saya." Dan akhirnya dapat Kakashi lihat senyum lega dari gadis ini.
"Ah begitukah? Aku senang mendengarnya. Tapi darimana Anda tahu saya bekerja disini?"
"Oh itu karena saya kemarin mengikuti Anda keluar dari rumah Anda. Saya mendapatkan alamat rumah Anda dari Kantor Kejaksaan, tapi saya memutuskan untuk mendatangi Anda hari ini karena kemarin ada beberapa pekerjaan yang masih harus saya selesaikan."
"Apakah Anda yang menolong saya kemarin?" Ucap Hinata antusias, setidaknya dia tidak akan pusing memikirkan siapa yang menolongnya, karena setelah bertanya pada pemilik kamar sewanya pun dia justru tidak mengetahui ada orang yang datang mengunjungi Hinata. Apa jangan-jangan pria itu? Tidak! Hinata menggelengkan kepalanya keras-keras, tidak mungkin pria jahat itu yang melakukannya dan kenapa dia harus teringat kembali pria menyebalkan itu rutuk Hinata dalam hati.
Sang pengacara mengerutkan keningnya melihat tingkah Hinata. "Saya tidak tahu menolong seperti apa yang Anda maksud, tapi hari ini ya saya akan menolong Anda dan itu bukanlah kemarin."
"Ah begitu, baiklah. Maafkan saya bertanya hal-hal yang aneh."
"Tidak apa-apa, baiklah ini peraturan yang berhak dan tidak saya lakukan selama mendampingi Anda menangani kasus ini." Kakashi menyerahkan pada Hinata bundelan dokumen mengenai peran dan fungsinya.
"Saya akan meminta beberapa keterangan dari Anda, dan saat Anda dipanggil penyidik untuk memberikan keterangan saya bisa menemani jika Anda mau, saya akan berusaha mengumpulkan bukti-bukti untuk menyangkal gugatan mereka, tapi penyelidikan yang saya lakukan akan terbatas karena yang lebih memiliki akses penyelidikan adalah Jaksa. Tapi disamping itu saya hanya bisa berusaha meringankan gugatan yang diberikan pengandilan. Jika Ayah Anda memang dinyatakan bersalah maka Anda sebagai ahli waris akan menanggung denda dari gugatan Uchiha Enterprise dan denda pengadilan, saya akan berusaha meringankan denda itu atau kita bisa melakukan perjanji ulang dengan pihak Uchiha Enterprise, lebih bagus jika kita bisa mendapatkan kesepakatan tanpa Anda harus membayar utang Ayah Anda." Sambil mendengarkan penjelasan panjang lebar yang Kakashi paparkan Hinata mempelajari dokumen yang Kakashi serahkan, Hinata hanya berharap dengan adanya pengacara ini akan memudahkan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada ayahnya.
"Saya pun berharap begitu, meskipun pihak Uchiha terlihat sulit untuk diajak kooperatif. Tapi saya percaya pada seseorang yang akan mengungkap kasus ini dengan baik." Ucap Hinata menampilkan senyumnya meskipun dia ragu bekerjasama dengan perusahaan Uchiha Enterprise akan berhasil mengingat pemiliknya saja selalu membuatnya kesal setengah mati, tapi dilain pihak hatinya merasa sedikit tenang karena ada seorang pria yang telah Hinata berikan kepercayaan menyelesaikan kasus ini.
"Senang mendengarnya Nona Hyuga. Baiklah ini kartu nama saya, Anda bisa menghubungi saya jika mengetahui hal-hal lain mengenai kasus ayah Anda. Jika ada waktu sebaiknya Anda datang ke kantor saya untuk membahas ini." Kakashi akhirnya berjabat tangan dengan Hinata sebelum pergi meninggalkan gadis itu. Dan Hinata kembali beranjak untuk membersihkan beberapa meja, setelah seluruh meja telah selesai Ia bersihkan telepon dari saku belakang celana jeansnya tiba-tiba berdering dan dengan cepat ia mengangkatnya. Lagi-lagi nomor tidak dikenal.
"Halo." Sapa Hinata ramah, meskipun tidak mengetahui siapa yang meneleponnya.
"Halo, apa kabar Hinata?" Suara disebrang sana membuat Hinata tertegun sesaat.
"Ya, siapa ini?"
"Apa kau melupakan suaraku?" Hinata mulai berfikir cepat dan senyum langsung mengembang lagi di bibirnya.
"Ah Tuan Jaksa, oh maaf maksudku Gaara. Aku sejauh ini baik-baik saja dan masih hidup, bagaimana kabarmu?"
"Seperti yang kau bilang aku pun harus hidup untuk menyelesaikan kasus ini, jadi aku dalam keadaan sehat jika itu yang kau khawatirkan." Di seberang sana Gaara tersenyum atas perkataannya pada gadis ini.
"Aah Gaara kau masih mengingatnya, maafkan aku atas perkataan tidak sopanku itu. Aku senang mendengar kau sehat dan itu bukan karena kau harus menyelesaikan kasus ini, sungguh aku tidak bohong." Tanpa sadar Hinata mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya seolah berkata janji pada Gaara yang sama sekali tidak bisa pria itu lihat.
"Tenanglah Hinata, aku tidak akan marah padamu hanya karena itu. Ada hal yang lebih penting daripada memarahimu." Dan Gaara mengeluarkan kekehan tawanya.
"Benarkah, ada apa? Apa aku harus memberikan keterangan lagi?"
"Ya ini mengenai bukti baru yang aku dapatkan."
"Sungguh? Apa kau berhasil membuktikan ayahku tidak bersalah?" Hinata langsung berharap bahagia dan jantungnya langsung berdegup cepat menanti kabar dari Gaara.
Diseberang sana senyum Gaara sedikit memudar mendengar begitu antusiasnya gadis ini, tapi sayang dia belum bisa memberikan kabar gembira.
"Sebaiknya kita bertemu saja, kau harus mengetahui hal ini secara jelas." Mendengar jawaban Gaara senyum Hinata mulai pudar sepertinya ini bukan kabar yang baik.
"Baiklah, setelah selesai bekerja aku akan ke kantor kejaksaan."
"Tidak, tidak. Jangan ke sana." Ucap Gaara cepat membalas Hinata.
"Oh baiklah, dimana sebaiknya aku menemuimu?"
"Emm begini saja, beritahu aku kau sekarang berada dimana biar aku yang menjemputmu. Aku tahu tempat yang layak untuk kita berdiskusi, karena ini akan memakan waktu yang cukup lama jadi kurasa kita butuh tempat yang nyaman."
"Apa aku harus menelepon pengacaraku? Dia baru menemuiku tadi dan katanya aku sebaiknya didampingi olehnya untuk penyelidikan selanjutnya."
"Eh itu em ya memang sebaiknya seperti itu, tapi kau tau ini sedikit menyangkut masalah pribadi ayahmu. Kurasa kau tidak ingin membagi-bagikan informasi ini pada orang lain."
"Gaara kau aneh, dia pengacaraku sudah seharusnya dia mengetahui semuanya."
Terdengar helaan nafas diseberang sana. "Begini saja besok kau dan pengacaramu mendatangi kantorku, tapi sekarang aku perlu memberikan sesuatu padamu secara personal. Apa kau bisa?"
"Apa ini tentang kasus ayahku?" Tanya Hinata mulai merasa aneh.
"Y-Ya tentu, aku tidak akan mengganggumu jika bukan untuk urusan itu." Hinata hanya dapat tertawa kecil mendengar kegugupan di suara Gaara.
"Baiklah, 30 menit lagi aku selesai bekerja. Kau bisa mendatangiku di Kedai Ramen Ichiraku."
"Baiklah, sampai bertemu disana Hinata."
"Sampai bertemu Gaara."
.
.
.
Dengan debaran jantung yang tak menentu Gaara mencoba mengatur pernafasannya, akan sangat tidak lucu jika Hinata menyadari Gaara salah tingkah di hadapannya. Sambil menenangkan dirinya Gaara kembali mengecek penampilannya pada kaca di dalam mobilnya, merapihkan sedikit rambutnya dengan tangan dan tiba-tiba Gaara mendengus pada dirinya sendiri, tidak sadarkah dia sudah bertingkah sangat aneh karena gadis itu.
Setelah merasa siap Gaara keluar dari dalam mobil di area parkiran depan kedai ramen yang Hinata tadi sebutkan. Matanya mencoba menyisir dimana keberadaan sang gadis yang selama beberapa hari ini dengan sukses selalu memenuhi pikirannya, kemudian matanya menangkap pergerak seorang gadis cantik yang sedang membenarkan ikatan rambut ekor kudanya di dekat jendela pintu masuk. Hari ini gadis itu memakai kaus putih polos dengan garis ungu pada ujung lengan pendeknya yang dipadukan dengan celana jeans hitam, dan sialnya dengan penampilan sederhana itu saja Gaara kembali terpana melihatnya, bahkan Gaara harus menahan nafasnya saat melihat leher putih jenjang Hinata cukup terekspose dan sialnya lagi celana jeans yang dipakai Hinata menambah kesan seksi pada pinggul gadis itu yang memang bisa dibilang sangat aduhai, apa gadis ini keturunan keluarga Kardashian?
Dengan langkah pelan Gaara mulai mendekati gadis itu dari belakang.
"Hai Hinata." Ucap Gaara pelan, dan seketika membuat sang gadis berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya. Dengan senyum yang menghiasi bibirnya Hinata membalas sapaan Gaara.
"Hai Gaara, kau ternyata sudah datang. Apa kau mau meminum sesuatu dulu? Ocha buatan paman Ichiraku sangat enak." Ucap Hinata sambil mempromosikan tempat kerjanya, tapi Gaara tidaklah menjawab pertanyaan Hinata pria itu justru terus menatap dirinya tertegun. Kemudian Hinata membuat bunyi dengan menjentikan jarinya sehingga suaranya bisa menyadarkan Gaara.
"Gaara jadi apa kau mau minum dulu?"
"Aah tidak perlu Hinata, aku tadi baru saja membeli minum." Sial aku berbohong lagi, rutuk Gaara dalam hati.
"Oh baiklah jika kau ingin langsung pergi, aku pamit pada bosku dulu ya." Gaara hanya mengangguk sambil matanya mengikuti gerakan gadis itu masuk ke dalam kedai, dilihatnya Hinata pamit pada sepasang orang tua yang sepertinya suami istri itu. Sang suami yang menepuk kepala Hinata dan seolah bergumam terima kasih, lalu sang istri yang dipeluk oleh Hinata kemudian dia memegang kedua tangan Hinata dan sesekali melirik pada Gaara yang hanya dapat Gaara balas anggukan dan senyum sopan. Lalu sang istri berbicara pada Hinata yang membuat Hinata tertawa kecil dengan rona merah di pipinya, apa yang mereka bicarakan pikir Gaara.
Setelahnya Hinata menghampiri Gaara yang langsung diikutinya keluar dari kedai Ramen itu. Mereka berjalan beriringan menuju mobil Gaara.
"Hinata, bolehkah aku tahu apa yang kalian bicarakan disana? Karena jujur aku merasa akulah bahan pembicaraan itu." Hinata yang mendengarnya hanya tekekeh kecil.
"Kurasa kau tidak mau mendengarnya."
"Tidak aku ingin tahu apa itu." Tiba-tiba Gaara memegang tangan Hinata dan membuat langkah mereka terhenti lalu sedikit menarik Hinata agar berhadapan dengannya, Hinata yang tiba-tiba merasakan langkahnya terhenti langsung menatap kearah Gaara.
"Gaara itu tidaklah penting."
"Itu penting jika menyangkut tentangmu." Ucap Gaara serius, Hinata yang mendengarnya cukup terkejut dan hanya dapat membalas dengan menatap mata Gaara dalam diam, beberapa saat kemudian akhirnya Hinata mulai berbicara.
"Tuan Ichiraku kira kau itu pacarku, dan istrinya bilang meskipun kau tampan aku tidak boleh mudah percaya pada pria yang memiliki tato." Hinata hanya dapat menunduk menyembunyikan rona merah di pipinya. Untuk sesaat Gaara hanya dapat terdiam mendengar penjelasan Hinata hingga akhirnya dia tersenyum sendiri mendengarnya dan mulai melepaskan tangan Hinata. Yah setidaknya sudah ada orang yang mengakui jika dia terlihat cocok dengan Hinata pikir Gaara bahagia, meskipun memang tatonya terkadang membuat beberapa orang sedikit tidak merasa nyaman dan meragukannya bekerja sebagai seorang jaksa.
"Hinata maafkan aku sudah memaksamu berbicara." Ucap Gaara pelan yang menyadari Hinata kini terus menunduk.
"Eemm, tidak apa-apa. Maafkan aku juga jika ucapanku membuatmu merasa tidak nyaman." No girl you wrong! Teriak Gaara dalam hati.
"Tidak apa-apa Hinata, ayo silahkan masuk ke dalam mobilku." Gaara bergerak membukakan pintu penumpang untuk Hinata. Melihat kelakukan sopan Gaara, akhirnya Hinata kembali mengangkat wajahnya dan tersenyum tanda terima kasih pada Gaara, setelahnya Gaara mengikuti Hinata masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya ke tempat tujuannya.
.
.
.
Setelah turun dari mobil Gaara, Hinata hanya bisa ternganga melihat kemana pria ini membawanya. Di depannya kini terdapat sebuah restaurant Perancis yang sangat mewah dengan tulisan "FAVEURS" besar yang terbuat dari lampu, restaurant itu bernuasa sangat elegan dengan warna hitam yang mendominasi dan lampu-lampu cantik yang menghiashi setiap sudutnya.
"Ayo kemari." Ujar Gaara sambil berjalan memasuki pintu ganda restaurant tersebut. Karena Gaara yang terus berjalan membuat Hinata tidak bisa bertanya kenapa pria ini malah membawanya kesini. Hinata merasa aneh karena sepertinya Gaara telah mereservasi meja untuk mereka karena dengan cepat seorang pelayan mengantar mereka pada meja yang tempatnya tidak terlalu banyak dilalui orang-orang. Ketika Gaara menarik sebuah kursi untuk Hinata duduk, membuat dirinya tidak bisa menolak dan terpaksa segera duduk. Setelah Gaara duduk disebrangnya sang pelayan dengan cekatan membukakan serbet untuk mereka berdua dan menyimpannya di pangkuan Hinata lalu menuangkan minuman bening ke dalam gelas Kristal untuk mereka berdua, dari aromannya Hinata bisa tahu itu adalah wine.
Setelah selesai menuangkan minuman, sang pelayan undur diri untuk mengambil makanan pembuka mereka, astaga bahkan makanan mereka telah dipesan oleh Gaara. Dengan pandangan menyelidik Hinata menatap Gaara, sambil mengamati keadaan di restaurant ini kedua tangannya Ia genggam di atas meja kemudian ia menumpukan dagunya diatas itu, dan mulai menatap Gaara mencoba mencari tahu apa maksud Gaara melakukan semua ini.
"Gaara, apa kau sedang berusaha mengajakku berkencan?" Tanya Hinata bingung.
"Hinata tenanglah aku hanya ingin mengajakmu makan terlebih dahulu sebelum kita membahas urusan itu." Ucap Gaara mencoba tersenyum menenangkan.
"Gaara aku tidaklah lapar, dan aku tidak mau makan di sini. Apa kau tidak lihat semua orang yang makan di sini menggunakan kemeja dan gaun, lihatlah pakaianku aku tidak pantas ada disini."
"Hinata siapapun bisa makan disini, tidak ada aturan kau harus memakai pakaian apa."
"Baiklah, karena aku tidak mau makan langsung saja katakan apa sebenarnya yang ingin kau perlihatkan padaku." Ucap Hinata menuntut.
"Hinata tenanglah, kita bisa membicarakan ini pelan-pelan." Mendengar perkataan Gaara, Hinata menutup matanya sambil mengehembuskan nafas lalu dengan cepat berdiri dan menyimpan serbetnya ke atas meja.
"Maaf Gaara, aku menemuimu bukan untuk makan dan berbicara secara perlahan. Jika kau ingin memberikan sesuatu padaku kita bertemu besok dengan aku didampingi pengacaraku. Permisi." Hinata segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari restaurant yang seolah mengolok dirinya betapa tidak cocoknya dia berada di dalam sana. Melihat Hinata yang pergi menjauh Gaara dengan panik langsung mengeluarkan uang dan menyimpannya di atas meja lalu dengan cepat berusaha mengejar Hinata, sang pelayan yang melihat kepergian Gaara berusaha memanggilnya tapi itu tidaklah membuat Gaara berhenti, karena pria itu melangkah dengan cepat agar tidak kehilangan Hinata.
Setelah Gaara berhasil keluar dari pintu restaurant itu dengan panik Ia melirik ke kanan dan ke kiri berusaha menemukan Hinata, dan untungnya gadis itu terlihat berjalan ke arah kanan yang langsung dengan cepat dikejar oleh Gaara. Dan dengan susah payah akhirnya Gaara berhenti tepat di depan Hinata dengan nafas yang memburu.
"Hah… hah… Hinata kumohon berhenti dulu. Maafkan aku lagi atas sikapku ini." Hinata yang melihatnya hanya menatap kearah lain dalam diam, dia ingin menghidar dan melalui Gaara tapi dia tahu pria ini tidak akan membiarkannya begitu saja.
"Hinata kumohon maafkan aku, dan bicaralah padaku." Mendengar nada permohonan Gaara akhirnya Hinata memutuskan untuk berbicara pada pria ini, tidak lucu juga jika mereka berdebat di pinggir jalan.
"Gaara apa kau sadar kau sudah melakukan hal seperti ini padaku dua kali? Dan aku tidak suka diperlakukan tiba-tiba seperti ini."
"Ya aku tahu, aku memang bodoh Hinata."
"Gaara bukan--"
"Tidak aku memang bodoh karena aku terlalu pengecut untuk mengatakan bahwa aku ingin mengajakmu berkencan. Tolong maafkan pria bodoh ini."
Hinata terkejut mendengar pengakuan pria di hadapannya ini, dan jantungnya langsung berdetak cepat. Apa maksud Gaara berkata seperti itu padanya. Apa pria ini menyukainya? Tapi kenapa?
"Ga-Gaara… Kau…" Hinata sulit untuk mengatakan maksudnya sehingga akhirnya Gaara memegang tangannya kembali.
"Kumohon jangan pergi dulu, sekarang aku akan benar-benar menunjukanmu sesuatu." Dengan cepat Gaara melihat sekelilingnya, mencari tempat apa yang cukup nyaman bagi mereka berbicara disaat seperti ini dan untunglah tidak jauh dari situ ada taman bermain anak-anak yang cukup diterangi lampu karena saat ini matahari sudah terbenam. Karena Hinata yang hanya diam saja membuat Gaara menarik tangannya untuk duduk disalah satu kursi taman bermain itu.
Setelah mereka duduk bersisian akhirnya Gaara mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya dan memperlihatkannya pada Hinata.
"Hinata, aku ingin tahu apa kau mengenal tulisan tangan ini?" Mata Hinata melirik pada secarik kertas dibungkus plastik di hadapannya, dengan pandangan tanya ia menjawab kearah Gaara.
"Ya aku tahu, itu tullisan tangan ayahku. Apa artinya itu?" Mendengar jawaban Hinata, Gaara hanya dapat tersenyum sedih.
"Tulisan itu adalah salah satu bukti yang bisa memperkuat tuduhan atas tindakan Ayahmu, karena tulisan itu terdapat didalam amlop berisis uang yang diduga untuk menyuap orang ketiga yang membantu ayahmu. Aku menemukannya di kantor ayahmu." Mendengar penjelasan Gaara, kedua tangan Hinata hanya bisa menutup wajahnya, kepalanya tertunduk sedih mendengar pernyataan Gaara mengenai ayahnya.
"Gaara, apa itu berarti ayahku memang bersalah?" Tanya Hinata dengan pilu.
"Entahlah Hinata, tapi sejauh ini aku memang belum menemukan bukti bahwa Ayahmu tidak bersalah. Aku ingin bertanya satu hal lagi padamu, apa pada tanggal 29 bulan lalu Ayahmu bersamamu atau kau tahu dia pergi kemana?"
Mendengarnya Hinata berpikir sebentar sebelum menjawabnya. "Seingatku itu adalah hari sabtu dan memang perusahaan Uchiha Enterprise libur. Biasanya jika ia sedang tidak sibuk kami sekeluarga akan berkebun ke ladang strawberry milik teman ayah, tapi hari itu… hari itu…" Hinata dengan keras berusaha mengingat kejadian hari itu. "Kurasa hari itu ayah izin pergi, aku lupa untuk bertemu siapa dan berkunjung kemana, yang jelas hari itu ayah tidak bersamaku dan ibuku di rumah." Setelah menjawab pertanyaan Gaara, dengan hati-hati Hinata kembali menatap Gaara apakah pernyataanya itu berdampak baik atau buruk.
Melihat Gaara yang seolah memberikan senyum simpati, membuat Hinata murung. Mungkinkah ayahnya memang melakukan tidakan itu? Tidak tidak, dia tidak percaya ayahnya bisa berbuat seperti itu.
"Katakan, sekarang apa dugaanmu." Ucap Hinata pelan dengan nada bergetar.
"Hinata jika kau bilang ayahmu tidak bersamamu, berarti ucapan saksi yang mengaku telah dipaksa oleh ayahmu untuk mentransferkan uang itu memang benar. Dia berkata bahwa ayahmu menemuinya untuk menandatangi kontrak pencairan dana itu, dan itu memang tanggal dimana ayahmu menandatanganinya." Mendengar perkataan Gaara matanya mulai memerah dan sengatan air mata mulai menyerang matanya, Hinata mengigit bibirnya menahan air mata yang seolah berlomba ingin keluar dan tanpa dapat Ia tahan satu-persatu butiran kristal bening itu menuruni pipinya, mencoba menutup mulutnya dengan kedua tangan tapi ia tidak bisa menahan isakan keluar dari mulutnya. Hatinya sakit mendengar kenyataan ini, Ia tidak percaya ayahnya yang selama ini menjadi panutannya akan bertindak seperti itu. Hinata mencoba menarik nafas panjang meredakan perasaan sesak dalam dadanya tapi justru suara isakanlah yang keluar.
Gaara yang seakan dapat merasakan kepedihan Hinata dengan perlahan menggerakan tangannya meraih pundak Hinata agar kepala gadis itu bisa bersandar di bahunya, dan Hinata tidak bisa menolak sikap Gaara karena saat ini dia memang sangat butuh sandaran di hidupnya. Hinata menyembunyikan wajahnya di bahu Gaara dan mulai terisak lebih keras, sekarang apa yang harus Ia lakukan untuk menjaga nama baik keluarganya, semua orang akan merendahkan nama ayahnya, ia seakan hilang harapan untuk membuktikan bahwa ayahnya tidaklah bersalah. Apa lagi yang harus ia lakukan untuk melindungi ayahnya, orang yang ia sayangi, kedua orangtuanya yang sangat ingin ia temui dan peluk saat ini juga, pikirannya kini melayang pada saat-saat keluarganya berkumpul bersama, saat melihat wajah haru di wajah kedua orang tuannya karena Hinata lulusan terbaik sekolahnya, saat ayahnya dengan penuh kasih sayang mencium kening ibunya dan dirinya. Dan perasaan itu kembali lagi, perasaan sakit memikirkan jika memang kedua orang tuanya sudah tiada, tidak Hinata tidak ingin menerima kenyataan itu.
Mendengar isakan gadis ini menjadi lebih kencang Gaara membiarkan jasnya basah oleh air mata Hinata. Biarlah untuk sesaat dia menjadi sandaran gadis sebatang kara ini, Gaara harusnya lebih bersyukur dan sering mengunjungi rumah orang tuannya karena dia masih diberikan keluarga yang lengkap hingga saat ini. Beberapa saat kemudian dengan masih menahan isakannya Hinata mengangkat wajahnya dari atas bahu Gaara.
"Ga-Gaara, ma-maafkanku aku. Ja-jasmu jadi basah."
"Biarkan saja Hinata, jasku mudah dibersihkan, tapi sakit di hatimu tidak akan mudah disembuhkan." Dengan perlahan ibu jari Gaara menghapus jejak-jejak air mata dari pipi mulus itu, dipandanginya iba gadis di hadapannya ini, Gaara seolah memprotes keadaan kenapa gadis sebaik ini harus mengalami nasib buruk ini.
"Berhentilah menangis, wajah cantikmu tidak cocok berurai air mata seperti ini." Gaara akhirnya berdiri dan menawarkan tangannya pada Hinata, dengan tatapan bingung Hinata menatap uluran tangan Gaara.
"Kemarilah Hinata, aku akan membuat suasana hatimu lebih baik." Gaara memberikan senyum terbaiknya agar gadis itu bisa merasa lebih baik, akhirnya Hinata menerima uluran tangan Gaara dan menjabatnya erat. Setelah Gaara yakin gadis itu menerimanya Gaara menarik gadis itu ke salah satu wahana bermain di taman itu, Gaara memberitahu Hinata agar dia menaiki komidi putar sederhana dengan beberapa besi ditengahnya sebagai tempat berpegangan saat nanti wahana itu berputar. Dengan mata yang masih sesekali mengeluarkan air Hinata berusaha mengikuti apa yang disarankan Gaara, pria itu dari bawah mulai menggerakan wahana itu secara perlahan sehingga Hinata berputar di atas komidi putar itu.
"Hinata, mau kuberi tahu sebuah cerita tentang masa kecilku." Ucap Gaara mencoba menarik perhatian Hinata, dan dengan perlahan mata Hinata terangkat memperhatikan Gaara yang menggerakan tangannya pada wahana ini. Merasa kediaman Hinata adalah jawaban Gaara mulai melanjutkan ceritanya.
"Kau tahu Hinata, dulu aku ini anak yang sangat susah tidur, sehingga lingkaran hitam disekeliling mataku ini sangat terlihat ditambah kulitku yang memang cenderung pucat. Suatu hari aku duduk di kelas memperhatikan seorang guru dalam keadaan sehat, tapi guru itu tiba-tiba berbicara padaku bahwa aku sangat pucat sehingga dia menyuruhku pulang, aku tidak mau tapi guru itu terus menyuruhku pulang karena dia pikir aku sakit, hingga akhirnya aku menangis karena mengira guru itu takut padaku, tapi hal itu justru selalu menjadi alasanku agar tidak masuk sekolah saat aku sedang malas." Kemudian Gaara mendengar suara tawa lirih Hinata, dengan mata yang masih memerah gadis itu mengeluarkan suara tawa bahagianya. Melihatnya Gaara menjadi ikut tersenyum, Ia bersyukur setidaknya dia sudah bisa membuat gadis itu mengangkat senyumnya kembali. Dengan tiba-tiba Gaara menambah kecepatan putarannya membuat wahana itu berputar sangat cepat sehingga Hinata langsung menjerit.
"Astaga, Gaara hentikan ini terlalu cepat!" Hinata menutup matanya dan kedua tangannya memegang sandaran besi di depannya dengan erat, tapi tiba-tiba Gaara justru meloncat dan ikut masuk ke dalam wahana itu dan berpegangan pada besi yang sama dengan Hinata sehingga kini wajah mereka sangat berhadap-hadapan. Gaara menyeringai melihat gadis ini sangat ketakutan, senyum Gaara melebar karena bisa memperhatikan wajah Hinata dari jarak sedekat ini, bisa Gaara lihat rona merah alami yang selalu terpatri di pipinya, hidup mungil yang lancip, alis yang rapih, bulu mata lentik, ahhh siapa yang tidak akan jatuh cinta pada gadis seperti ini.
Saat Hinata rasa wahananya sudah tidak berputar terlalu cepat dia mulai memberanikan diri membuka matanya, dan hal pertama yang ia lihat adalah senyum menawan dari wajah tampan Gaara. Astaga saat ini wajah mereka terlalu dekat dan jantung Hinata kembali terpompa tak karuan, Ia mencoba menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa kering mendapat tatapan menawan dari Gaara. Tidak bisa Hinata pungkiri bahwa Gaara memanglah tampan meskipun dengan tato di dahinya tapi itu justru menambah kesan menawan pada Gaara. Dan tanpa Hinata sadari Gaara mulai memajukan wajahnya mendekati Hinata, mereka terus bertatapan dengan dalam mencoba menyelami mata masing-masing hingga akhirnya Gaara memiringkan wajahnya dan mendekati bibir Hinata. Napas Hinata saat ini sungguh sangat tidak beraturan, apakah dia harus menerima ciuman ini? Dengan perlahan tangan Gaara terangkat untuk mengelus sisi wajah Hinata dan itu membuat Hinata terbuai. Suasana disekitar mereka menjadi semakin tegang dan Hinata dengan perlahan menutup matanya bersiap menerima sentuhan bibir Gaara. Saat jarak bibir mereka tersisa setengah inci lagi tiba-tiba mata Hinata terbuka.
"Gaara aku sekarang ingat kemana ayahku pergi pada tanggal 29." Sontak ucapan Hinata membuat Gaara membuka matanya juga, dan suasana diantara mereka tiba-tiba menjadi canggung. Gaara yang menegakkan kembali badannya dan Hinata yang mengigit bibirnya karena malu dengan keadaan mereka.
"O-oh benarkah, baguslah." Ucap Gaara salah tingkah mengusap rambutnya dengan tangan. Lalu akhirnya mereka berdua turun dari wahana itu.
"Gaara aku ingat ternyata ayahku pergi ke kantor imigrasi hari itu."
.
.
.
Hinata melambaikan tangannya pada Gaara setelah pria itu melajukan mobilnya kembali menjauh dari jalan menuju kamar sewa Hinata. Bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum bodoh mengingat apa yang baru saja akan terjadi diantara mereka, entahlah yang dirasakan hatinya pada pria itu. Satu hal yang Hinata tahu, Gaara adalah pria baik dan Hinata menghargai kebaikan Gaara itu.
Dengan senyum yang masih ditunjukan oleh bibirnya Hinata membuka pintu kamar sewanya lalu menyalakan lampu pada saklar di sebelah pintunya, tapi sesaat setelah lampu menyala mulut Hinata dibekap oleh seseorang dan punggungnya didorong pada dinding kamarnya lalu kembali tangan seseorang itu mengunci mulutnya. Dengan mata begitu terkejut Hinata melotot melihat seseorang yang ada di hadapannya, pria itu menahan kedua tangan Hinata dan menutup mulut Hinata sehingga Hinata tidak bisa menjerit.
"Jangan menjerit jika mulutmu mau kulepaskan." Ucap seseorang itu. Dengan perlahan kepala Hinata mengangguk dan tangan seseorang itu pun mulai turun dari mulut Hinata. Dengan nada serak karena terkejut Hinata berusaha berbicara.
"K-kau… K-kenapa bisa ada disini?"
"Tidak merindukanku?" Ucap seseorang itu dengan senyum menggodanya.
Tbc
I'm so sorry for being late to up this story, I just can't get comfort to write the plot that I've been made before. But I hope you can enjoy it... :)
Please give more love, and voment pleaseeee...
By Chichiyulalice
