Disclamer: Naruto and all character is belong Masashi Kishimoto
Sasuhina, Gaahina fanfiction
Ooc, typo, DLDR
.
.
.
"Tidak merindukanku?"
"Heh... Jangan bermimpi Tuan Uchiha!" Balas Hinata sambil mendengus kesal pada pria yang sudah tak diragukan lagi adalah pria yang selalu membuat Hinata kesal.
Sasuke hanya tersenyum kecut mendengar jawaban Hinata. Satu tangannya yang sekarang bebas tiba-tiba menggebrak dinding di samping kepala Hinata, lalu Ia sandarkan lengannya pada dinding di atas kepala Hinata dan Ia majukan wajahnya hingga dahi Sasuke hanya berjarak 3 cm di atas dahi Hinata. Gadis itu sedikit terkejut atas tindakan Sasuke dan ia mendongak menatap wajah Sasuke yang sudah berubah menjadi serius disertai dengan tatapan mata tajamnya.
"Bermimpi? Kau sebut aku bermimpi. Kurasa itu kau Nona Hyuga, gadis sepertimu bermimpi untuk bisa bersama Jaksa tebar pesona itu, seharusnya kau sadar siapa dirimu. Apakah keluarga Hyuga masih memiliki nama baik? Lihatlah dirimu saat ini, kau kira pria dengan keluarga baik-baik seperti itu akan menerimamu. Naif sekali."
Hinata tertegun mendengar hinaan Sasuke tentang dirinya dan itu membuat hati Hinata seolah teremas akan perkataan tajam pria menyebalkan itu, bahkan Hinata menarik nafas dalam-dalam meredakan sakit yang menggumpal pada tenggorokannya, dengan suara pelan dan bergetar Hinata mencoba menjawab Sasuke.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Aku tahu kau mungkin membenci seluruh orang yang bernama Hyuga, tapi kau tidak berhak menjatuhkan harga diriku terus menerus. Kenapa kau menilai diriku serendah itu? Aku tahu, aku hanya seorang gadis miskin yang ingin kau permainkan seenaknya. Tapi bisakah kau untuk tidak menghina nama keluargaku, jika Ayahku tahu kau berkata seperti tiu dia akan sedih. Seburuk apapun Ayahku dimatamu dia adalah orang yang paling menjaga martabat keluarganya." Tanpa disadari Hinata telah mengalirkan setetes air mata yang terjatuh di atas pipinya, dan Hinata cepat-cepat mengalihkan pandangannya dari tatapan mata tajam Sasuke karena dia tidak bisa menghapus air matanya.
Untuk sejenak Sasuke terdiam melihat raut wajah terluka Hinata, tapi dengan cepat ia kembalikan fokusnya dan menggunakan tangannya yang tidak menahan kedua tangan Hinata untuk meraih dagu gadis itu agar menatapnya kembali. "Hentikan tangisanmu karena aku tidak membutuhkannya. Sepanjang apapun kau menjelaskan kebaikan ayahmu, itu tidak akan bisa mengembalikan kepercayaanku, dan aku tahu kau itu miskin jadi aku tidak perlu diingatkan kembali."
Dengan gusar Hinata menggerakkan kepalanya agar terlepas dari tangan Sasuke. "Lalu sebenarnya apa maumu kesini?!" Ucap Hinata dengan nada setengah menjerit menahan kesal, ditambah jarak tubuh mereka yang terasa semakin melekat.
"Pertanyaan bagus." Seringai Sasuke, kemudian Ia lebih majukan wajahnya dan berbisik begitu dekat pada telinga Hinata, hingga Hinata merasa sedikit geli karena merasakan hembusan nafas Sasuke. "Di dunia ini semua bisa berubah, begitu pula hidupmu. Dan aku bisa merubahnya, karena kau tahu semua pria hanya menginginkan satu hal dari gadis sepertimu. Serahkan dirimu padaku dan mungkin aku akan mempermudah tuntutanku pada ayahmu, tapi asal kau tahu aku juga bisa dengan mudah merenggut apapun dari dirimu." Dengan sengaja Sasuke menggesekkan bibirnya pada telinga Hinata, kemudian bergerak ke pipi dan turun ke leher jenjang Hinata, memberikan stimulasi agar gadis keras kepala ini menyerah pada dirinya, dan pria itu kembali menyeringai senang karena mendengar helaan nafas keras Hinata. Setelahnya Sasuke kembali menatap wajah Hinata, tapi dia mengerutkan keningnya karena justru bukan wajah pasrah Hinata yang Ia lihat, melainkan mata memerah dengan wajah yang menahan amarah.
"Kalau begitu lakukanlah." Ujar Hinata dengan nada manantang dan Sasuke hanya mengamati mendengar perkataan gadis ini. "Lakukanlah apapun yang kau mau pada diriku disini! sekarang juga! Dan kau akan melihat kematianku, karena ayah dan ibuku lebih baik mati daripada melihat putrinya menjadi pelacur terutama untuk pria sepertimu." Mata Hinata semakin memerah dengan butiran air mata yang coba ia tahan.
Mendengar perkataan Hinata, Sasuke mengeraskan rahangnya dan benar-benar menatap dengan tajam wajah Hinata, tapi kemudian justru pria itu hanya mendengus geli.
"Nona Hyuga, kau tidak akan mau mati jika sudah merasakan diriku. Sebaiknya hati-hati dengan ucapanmu, karena aku bisa saja mengabulkannya." Jawab Sasuke dengan nada meremehkan.
"Kalau begitu lakukan, apa kata-katamu hanya bualan? Pria sepertimu yang selalu mendapatkan apapun dari lahir, cepat atau lambat akan merebut semua yang kau mau. Jadi lakukanlah sekarang sebelum lebih banyak orang yang tersakiti, hancurkan diriku hingga titik dimana kau tidak bisa menghancurkannya lagi!" Dengan wajah yang tetap berusaha terlihat menantang, Hinata mencoba menyembunyikan keadaan detak jantung dan tangannya yang terasa sangat gemetar akan perkataanya sendiri. Entah keberanian dari mana dirinya berkata seperti itu pada pria jahat dihadapannya ini. Mungkin karena adrenalin dan perasaan muak terus menerus diperlakukan seenaknya oleh pria Uchiha ini.
Seketika tangan Sasuke langsung menarik Hinata untuk masuk ke dalam kamar gadis itu dan melepaskan tarikannnya dengan sedikit keras di kamar Hinata. Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada dan mulai mengamati Hinata dari atas ke bawah dengan begitu intensi, sementara yang diamati hanya menunggu dengan cemas sambil merundukan wajahnya dan mengusap-usap pergelangan tangannya yang sedikit memerah dan cukup pegal karena ditahan terus menerus oleh tangan kuat Sasuke. Hinata menelan ludahnya dengan susah payah karena takut pada apa tindakan Sasuke selanjutnya.
"Kalau begitu lakukanlah, buka pakaianmu dan tatap aku." Ucap Sasuke datar dengan dingin.
Merasa Hinata hanya diam saja, Sasuke kembali berbicara sedikit tegas.
"Hyuga lihat aku, dan buktikan seberapa besar keberanianmu." Ucapan Sasuke membuat Hinata menggigit bibirnya dengan keras, dengan tangan yang sangat bergetar Hinata mencoba mengangkat tangannya. Rasanya begitu berat untuk melakukan apa yang pria itu minta, Hinata tidak rela menjatuhkan harga dirinya sendiri, tapi pria ini memaksanya berbicara seperti itu. Dengan perlahan Hinata mengangkat wajahnya untuk kembali bertatapan dengan mata tajam menawan itu dan tangannya terangkat sangat perlahan untuk meraih ujung kaos putihnya. Dalam hati dia berdoa semoga pria ini tiba-tiba terkena serangan jantung saja, apapun Ya Tuhan tolong aku dari keadaan ini doanya dalam hati. Sementara Sasuke menunggu dengan tidak sabar dan akan melangkah mendekati Hinata, saat tiba-tiba dering ponselnya berbunyi.
"Tck!" dengan kesal Sasuke maraih ke dalam saku celananya dan mengangkat telepon dari seseorang yang sudah sangat mengganggunya. "Ada apa?" Ucapnya to the point.
"Apa?! Kau yakin?"
"Baiklah, aku akan segera menyusulmu." Kemudian dengan cepat Ia masukan kembali ponselnya ke dalam saku. Dan atensinya ia kembalikan pada gadis Hyuga dihadapannya yang bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tapi ketika melihat tatapannya lagi, kembali wajah itu berubah dingin menatapnya.
"Jangan senang dulu Hyuga, sekarang kau benar-benar memiliki hutang yang perlu kau bayar padaku." Dengan perlahan Sasuke kembali berjalan mendekat pada Hinata yang hanya bisa dengan perlahan memundurkan langkahnya, saat Sasuke telah berada tepat dihadapan Hinata wajah pria itu maju untuk mendekati bibir Hinata, tapi dengan segera wajah Hinata mundur menghindari serangan dari Sasuke. Melihat wajah Hinata yang menjauhinya Sasuke hanya terkekeh geli meremehkan.
"Nona Hyuga, jaga milikku sampai aku mengambilnya sendiri darimu. Dan jangan berfikir lagi kau bisa bersama pria lain." Mendengar ucapan Sasuke, Hinata hanya bisa mengerutkan keningnya. Dan itu menjadi kesempatan Sasuke untuk mencuri ciuman dari Hinata dengan cepat sehingga Hinata hanya bisa tertegun dengan masih membuka matanya tanpa bisa bergerak sama sekali. Tapi yang dilakukan Sasuke hanyalah mencium ujung hidung Hinata, sehingga membuat Hinata merasa aneh. Pria itu melepaskan kecupannya dan segera berbalik, tapi dilangkah pertama ia kembali berhenti dan berbalik menatap Hinata.
"Oh iya, kurasa kau besok perlu mencari pekerjaan baru." Dan segera Ia kembali membalikan badannya.
"Apa? Tunggu!" Dengan reflek tangan Hinata menahan lengan Sasuke agar tidak segera pergi. Dengan tatapan memohon Hinata menatap Sasuke. "Jangan ganggu bisnis keluarga Ichiraku. Mereka orang baik dan tidak ada urusannya dengan masalah kita."
Mendengar nada permohonan Hinata, kembali Sasuke membalikan badannya. "Kau harus memohon dengan benar Nona, jika ingin permintaanmu dikabulkan."
"Tuan Uchiha, a-aku mohon. Biarkan usaha Tuan Ichiraku tetap berjalan. Kau pasti masih mememiliki si-sisi baik dalam hatimu untuk tidak menggangu kehidupan orang tua itu." Dengan suara pelan dan susah payah Hinata mengatakan itu meskipun lidahnya terasa aneh untuk mengakui bahwa Sasuke adalah orang baik. Dan tanpa dia sangka kini bibirnya benar-benar mendapat serangan brutal bibir Sasuke, kedua tangan Sasuke menangkup pipi Hinata disaat bibirnya dengan gencar menikmati bibir indah Hinata. Tangan Hinata bergerak meremas kemeja Sasuke bermaksud untuk mendorong pria itu tapi karena dirinya sudah lemas akan semua kondisi yang pria itu ciptakan, Hinata hanya dapat terus meremas dengan perlahan kemeja biru muda yang priai itu kenakan.
Setelah mereka kehabisan nafas, akhirnya Sasuke melepaskan tautan bibir mereka. Dan disaat mereka masih mencoba kembali menormalkan pernafasan masing-masing Sasuke berkata. "Persiapkan dirimu untuk nanti karena aku sekarang harus pergi." Setelahnya kedua tangan Sasuke turun untuk mengusap kedua lengan Hinata dari atas pundak terus turun hingga kedua jari-jari mereka berpisah satu sama lain, dan Sasuke segera berbalik dan keluar dari kamar sewa Hinata.
Setelah suara pintu tertutup, Hinata langsung menjatuhkan dirinya diatas kasur kamarnya. Tangannya langsung memegang dadanya yang terasa berdetak begitu cepat, dengan nafas yang terengah-engah Hinata berusaha menjernihkan pikirannya dari semua kejadian yang baru saja ia lewati bersama pria egois itu. Dengan frustasi Hinata mengusap rambut panjangnya, kenapa jadi dia yang memiliki hutang konyol pada pria itu. Karena kesal pada diri sendiri Hinata memukuli kepalanya.
"Bodoh, bodoh, bodoh. Kenapa aku harus mengatakan hal-hal seperti itu? Pria itu benar-benar jahat, kenapa bisa-bisanya jadi membalikkan keadaan." Kedua tangannya menutupi wajahnya karena bingung harus bagaimana lagi menghadapi pria macam Uchiha Sasuke, dan dengan kesal Hinata memukul kasurnya.
"Sekarang bagaimana jika dia semakin mengganggu hidupku?"
.
.
.
Dengan langkah cepat Hinata berjalan menuju kedai ramen tempat kerjanya. Hatinya merasa campur aduk karena takut pria menyebalkan itu melakukan hal yang buruk pada tempat kerjanya, tapi akhirnya Hinata bisa bernafas lega karena keadaan kedai ramen Ichiraku baik-baik saja. Dia sempat mengira pria itu akan membeli tanah dan merobohkan bangunan itu, sungguh pemikiran itu membuat Hinata tidak bisa tidur dengan tenang.
Setelah memasuki kedai ramen Hinata segera menyapa Tuan Ichiraku dan istrinya yang sedang merapihkan bahan-bahan ramen, kemudian Hinata masuk ke dalam pantry dan mengambil peralatan kebersihan lalu kembali ke depan untuk membersihkan lantai.
Saat Hinata telah membersihkan setengah ruang makan, tiba-tiba pintu kedai ramen itu berbunyi menandakan ada seseorang yang masuk. Meskipun biasanya pintu kedai ramen tidak pernah berbunyi karena selalu dibiarkan terbuka jika sudah buka, tapi ini masih pukul 9 pagi dan kedai ramen dibuka satu jam lagi, ini berarti ada pelanggan yang masuk saat kedai ramen masih tutup. Dengan pandangan bingung Hinata melirik pada seorang wanita dengan tubuh tinggi semampai, rambut pirang bergelombang, dan juga pakaian formal yang begitu elegan. Dengan anggunnya sang wanita duduk disalah satu kursi kedai ramen itu dan menyimpan tas Gucci berwarna hitamnya di atas meja, dengan sopan Hinata menyimpan terlebih dahulu peralatan kebersihannya sebelum menghampiri sang wanita.
"Maaf Nona, kedai ramen kami buka 1 jam lagi dan sekarang kami masih mempersiapkan bahan makanannya, jadi menunya belum bisa dipesan." Ucap Hinata sopan.
Sang wanita sedikit melirik kearah Hinata lalu membuka kaca mata hitamnya. "Mobilku mogok, jadi aku ingin menunggu disini. Berikan saja menu sarapan untukku."
"Emm… Sepertinya kami tidak menyediakan itu, kami kedai ramen Nona. Menu nasi juga belum matang." Ujar Hinata dengan senyum sesal.
"Kalau begitu berikan saja aku ocha hangat."
"Baiklah." Jawab Hinata dengan senyum senang, setidaknya pelanggannya itu pengertian. Dengan segera Hinata kembali ke pantry untuk mengambil pesanan pelanggan anehnya itu, di dalam pantry sang Nyonya Ichiraku memberikan tatapan tanya tentang pelanggan itu dan hanya dibalas gelengan kepala oleh Hinata.
Saat Hinata membawakan nampan berisi ocha hangat, dilihatnya wanita itu tengah sibuk dengan berbagai dokumen diatas meja. Dan Hinata mengerti wanita ini adalah seorang pebisnis yang sibuk.
"Silahkan Nona." Ucap Hinata sopan sambil meletakan ocha hangatnya. Tapi tidak sengaja dia menjatuhkan sebuah dokumen sehingga dengan cepat Ia ambil, namun seketika Ia tertarik dengan dokumen itu karena itu berbahasa Perancis. Dan itu adalah salah satu bahasa yang Ia senangi sebagai mahasiswa Hubungan Internasional.
"Ouh Anda akan meluncurkan produk baru Anda di Perancis?" Dengan reflek Hinata bertanya.
"Kau mengerti dokumen itu?" Tanya sang wanita heran.
"Ya kurang lebih seperti itu, aku dulu mengambil jurusan Hubungan Internasional. Dan kami setidaknya wajib mengerti lima Bahasa, dan di proposal ini tertulis bahwa Anda harus bekerja sama dengan beberapa model yang ada disana untuk peluncuran produk bulan depan."
"Kalau begitu duduklah, ada yang ingin aku tanyakan padamu."
"Maaf tapi saya harus melanjutkan pekerjaan." Tolak Hinata sopan.
"Tenang saja, aku nanti yang akan berbicara pada bosmu." Ujar sang wanita menawarkan dengan senyumnya. Dengan ragu-ragu Hinata melirik ke belakang pada Tuan Ichiraku yang sedang membersihkan peralatan makan dan pria itu hanya memberikan anggukan dengan senyum tanda persetujuan sehingga dengan tenang Hinata bisa duduk dihadapan wanita elegan ini.
"Perkenalkan aku Yamanaka Ino, kau bisa memanggilku Ino saja. Meskipun kurasa aku lebih tua beberapa tahun darimu, tapi aku tidak ingin dipanggil dengan hal-hal yang membuatku merasa tua." Ujar Ino sambil menjulurkan tangannya dan segera dibalas oleh Hinata. "Senang berkenalan dengan Anda. Saya Hinata Hyuga."
"Nah Hinata, boleh aku memanggil nama depanmu?" Dan dijawab anggukan oleh Hinata.
"Begini aku baru bekerja selama dua minggu sebagai manajer produksi, dan aku diberi tanggung jawab untuk melakukan ekspansi produk fashion kami ke Perancis. Kau tahu produk 'Flashy'?"
"Ya tentu saja, itu salah satu produk favoriteku juga. Astaga berarti perusahaan Anda sudah sangat besar, dulu aku perlu menabung untuk membeli produk-produk itu." Jawab Hinata malu-malu.
"Syukurlah kau menyukai produk perusahaanku. Nah masalahnya adalah aku belum menemukan asisten yang tepat untuk proyek ini, karena kau tahu dia harus lancar berbahasa asing terutama untuk urusan bisnis. Jadi Hinata maukah kau bekerja sama denganku? Waktuku tidak banyak untuk melakukan perekrutan, dan aku percaya padamu."
"Astaga, kau berencana merekrutku bekerja. Tapi ini mendadak sekali, dan Ino sayangnya aku tidak menyelesaikan kuliahku. Kurasa aku tidak memenuhi syarat untuk pekerjaan itu." Mendengar penjelasan Hinata, membuat Ino memberikan tatapan tanya.
"Kau mahasiswa semester berapa?"
"Tujuh."
"Oh ayolah, mahasiswa semester tujuh adalah orang yang siap untuk direkrut bekerja. Untuk masalah persyaratan kita bisa bahas nanti, saat ini aku benar-benar membutuhkan bantuanmu. Aku kesulitan menterjemahkan semua dokumen ini, meski kau tahu didunia ini ada alat penerjemah tapi itu membuat arti yang keliru terutama masalah bisnis seperti ini. Aku ingin kau membantu menjadi penerjemahku saat kita melakukan perjanjian, dan memahami dokumen-dokumen ini. Aku merasa kau bisa bekerja dengan baik, dan aku percaya padamu." Ino menutup kalimatnya dengan senyum profesional yang berusaha membujuk seseorang.
"Harus kuakui tawaranmu sangat menarik. Tapi aku juga memiliki pekerjaan disini, dan aku harus meminta izin pada—"
"Kau kuberi izin nak." Tiba-tiba Tuan Ichiraku memotong ucapan Hinata sambil memberikan senyuman mendukungnya. Dan itu membuat Ino tersenyum pula, dan melemparkan senyum terima kasihnya pada Tuan Ichiraku dari tempat duduknya.
"Baiklah, Hinata. Ini kartu namaku, kuharap kau memikirkan penawaranku dengan baik. Aku menunggumu datang ke kantorku besok." Ucap Ino sambil menyerahkan kartu namanya dan langsung diterima oleh Hinata, kemudian dia berdiri sambil membereskan dokumen-dokumennya dan akan menyerahkan uang pada Hinata.
"Aah tidak perlu, ini gratis untuk pelanggan pertama." Ucap Hinata menolak dengan sopan.
"Kalau begitu terima kasih. Aku tunggu kabarmu." Setelahnya Ino berbalik dan keluar dari kedai ramen Ichiraku.
Tiba-tiba terdengar suara Nyonya Ichiraku dari belakang Hinata. "Waaah, Hinata ini kesempatan bagus untukmu. Kau harus menerimanya ya. Bekerjalah dengan lebih layak, kau harus menggunakan ilmumu itu. Kami akan selalu mendukungmu disini." Kemudian wanita tua itu meraih tangan Hinata, memberikan gadis ini semangat.
"Nyonya terima kasih juga telah mau membantuku, aku tidak tahu lagi pada siapa jika bukan Anda dan Tuan Ichiraku yang menolongku. Aku akan berusaha untuk selalu membantu usaha Anda." Ucap Hinata tulus.
"Jangan merasa berhutang budi, kau juga sudah bekerja dengan baik. Kau akan selalu diterima disini, jaga kesehatanmu dan kami ingin melihat kau menjadi orang yang sukses."
"Terima kasih Nyonya." Ujar Hinata dengan mata berkaca-kaca, setidaknya ada orang yang masih menyayanginya di dunia ini. Tuan Ichiraku hanya menatap dengan haru interaksi antara Hinata dan istrinya, dia ikut merasakan sedih karena istirnya telah kehilangan sosok anak satu-satunya.
Keesokan harinya Hinata mendatangi Kantor Mitzuko Inc. yakni tempat dimana Ino bekerja. Sambil berjalan mengikuti seorang pegawai yang akan mengantarkanya ke ruang kerja Ino, Hinata terus menarik-narik roknya kebawah karena terasa terus terangkat ke atas pahanya, mungkin rok ini juga sudah kekecilan. Beberapa orang memperhatikannya dengan tatapan tanya, ada yang berbisik-bisik karena mungkin mereka mengetahui kasus keluarga Hyuga, dan ada pula beberapa laki-laki yang mencuri-curi pandang pada betis mulusnya yang cukup terekspos. Sambil tetap berjalan dengan tenang, Hinata merutuk dalam hati apakah semua pria di dunia ini sangat mesum?!
Akhirnya Hinata bisa bernafas lega setelah pegawai ini mempersilahkan dirinya masuk ke dalam ruangan dengan pintu kaca itu. Setelah masuk Hinata bisa melihat Ino sedang duduk di meja kerjanya sambil mengerjakan sesuatu pada laptopnya, Hinata tersenyum mengamati dekorasi ruangan yang mengambil tema scandinavia dengan dominasi warna putih dan furniture yang juga kebanyakan berwarna putih, serta banyak bunga-bunga yang terpajang untuk menghiasi ruangan ini.
"Ehem… Selamat pagi Ino." Ucap Hinata agar Ino memberikan atensi padanya. Dengan segera Ino mengangkat wajahnya dan memandang Hinata.
"Aah kau sudang datang, silahkan duduk." Ino segera beranjak dari meja kerjanya dan mendekati Hinata, merekapun saling berjabat tangan kemudian duduk di sofa putih.
"Terima kasih atas kehadiranmu Hinata, kuharap kita bisa bekerja sama dengan baik. Mulai saat ini kau akan bekerja sebagai asistenku terutama hal-hal yang terkait dengan pihak Perancis untuk proyek kali ini."
"Sama-sama Ino, terima kasih juga telah percaya padaku. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membantumu."
"Baiklah, sekarang ikut aku. Aku ingin menunjukan ruang kerjamu. Kuharap itu akan membuatmu nyaman." Ucap Ino kemudian berdiri yang diikuti Hinata untuk berjalan kesebuah ruangan yang berada disebelah ruangan Ino. Setelahnya mereka masuk ke sebuah ruangan yang lebih kecil dari ruangan Ino, namun tetap ruangan itu masih kental dengan unsur scandinavianya dan memberikan rasa nyaman bagi penggunanya.
"Kau suka? Jika ada hal yang ingin kau rubah bilang saja padaku, aku akan memanggil pihak logistik untuk mengurusnya." Ujar Ino sambi mengamati ekspresi Hinata.
"Ya aku suka, tidak apa-apa seperti ini juga sudah terlihat nyaman." Ucap Hinata memberikan senyum cerianya pada Ino.
"Baiklah, mulai hari ini semua telepon untukku akan melalui teleponmu, dimejamu sudah terdapat daftar nomor ekstensi untuk setiap departemen di perusahaan ini. Dan nomor ekstensiku adalah 131, di mejamu juga suda terdapat beberapa dokumen yang perlu kau terjemahkan, ketik ulang dan berikan salinanya padaku. Ada hal yang ingin kau tanyakan?"
"Bisakah aku menerima kontrak kerjaku? Aku perlu mempelajarinya juga."
"Baiklah, nanti akan kuambilkan. Sekarang selamat bekerja, pukul 1 siang aku ada rapat. Tolong catat saja jika ada pesan yang penting untukku oke?"
"Baik aku mengerti." Kemudian Ino berbalik kembali ke ruang kerjanya, dan Hinata mulai berjalan ke jendela besar yang menampilkan pemandangan gedung-gedung tinnggi di Kota Tokyo. Bibirnya terangkat menampilkan senyum indah seorang gadis Hyuga, dalam hati ia berdoa semoga pekerjaan ini akan membuat keadaanya lebih baik, tangan Hinata terangkat untuk mengusap jendela besar itu dan tiba-tiba pikirannya melayang pada seorang pria yang juga memiliki ruang kerja dengan penampilan gedung-gedung besar kota Tokyo. Pria yang sudah mengambil ciumannya dua kali tanpa seizinnya, pria yang selalu membuat aliran darah Hinata berpacu cepat saat menatap manik tajamnya. Jari Hinata bergerak untuk menyentuh bibir peachnya dan bayang-bayang saat pria Uchiha itu membuainya langsung memenuhi pikiran Hinata, seakan merindu pada sentuhan paksa dan lembut pria itu namun akal rasionalnya berkata untuk berhenti memikirkan pria itu.
"Huuhh… Fokus Hinata, jangan buang waktumu untuk memikirkan pria brengsek itu." Setelahnya Hinata segera duduk di balik meja kerjanya, menyalakan komputernya, dan mulai mempelajari dokumen kerjasama berbahasa Perancis itu.
Saat sedang mengetik ulang dokumen ini, Hinata teringat jika Gaara membatalkan janji temu mereka karena dia harus pergi ke suatu tempat, tapi resepsionisnya bilang jika itu untuk keperluan kasus ayahnya juga. Hinata jadi penasaran kemana Gaara pergi, kenapa firasatnya berkata akan ada sesuatu yang Ia ketahui? Pengakuannya mengenai kemana ayahnya pergi pada tanggal 29 belum bisa membuktikan apa-apa karena bisa saja ayahnya pergi ke beberapa tempat hari itu.
.
.
.
"Kau sudah menghubungi mereka?" Tanya Sasuke dari posisi berdirinya sambil memandang keluar pada jendela besar ruang kantornya, biasanya Ia akan melakukan hal seperti ini jika ada hal yang perlu Ia pikirkan. Sementara orang yang diajaknya bicara ada di belakangnya.
"Ya Jaksa itu sudah bergerak, sekarang tinggal tugas kepolisian dan jaksa itu untuk menyelidiki penyebab pesawat itu meledak. Tapi aku juga mengirimkan beberapa orangku untuk mengawasi penyelidikan itu. Seperti yang kau lihat tadi malam bentuk pesawat itu sudah benar-benar hancur, sehingga kondisi Tuan Hyuga cukup parah, karena sayangnya warga di pesisir korea itu belum memiliki akses telekomunikasi yang cukup cepat sehingga baru bisa menginfokan anak buahku kemarin. Setidaknya mereka sudah merawatnya cukup baik, tapi tetap saja kita perlu menunggu keputusan dokter untuk tindak lanjut terhadap kondisi Tuan Hyuga. Dan Nyonya Hyuga sudah teridentifikasi meninggal sejak dua minggu yang lalu." Penjelasan panjang dari Shikamaru membuat Sasuke segera berbalik, dan kembali duduk di kursinya.
"Cari tahu penyebab pesawat itu bisa meledak, aku ingin semua teknisi yang melakukan perawatan pada pesawat Uchiha Enterprise diselidiki. Shikamaru aku mulai merasakan kejanggalan pada Tuan Shii, cara dia menjelaskan sebagai saksi tidak menggambarkan sosok seorang Hyuga Hiashi. Aku tidak tahu apakah ini hanya permainan seseorang yang menjadikan Hyuga Hiashi sebagai korban, atau pria itu memang benar-benar telah melakukan korupsi, karena semua bukti terus mengarah pada pria itu." Sasuke berucap dengan nada frustasi lalu dia menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya dan melonggorkan ikatan dasinya. Kemudian dia teringat sesuatu.
"Dia sudah mulai bekerja?" Sekarang nada Sasuke mulai berubah antusias. Dan Shikamaru langsung mengerti dia siapa yang Sasuke maksud.
"Ya, dia bekerja sebagai asisten Yamanaka Ino di Mitzuko Inc. Ini detail informasi untuk perusahaan itu." Ucap Shikamaru sambil menyerahkan sebuah map ke atas meja Sasuke. Dengan segera Sasuke mempelajarinya isinya, dan senyumnya langsung mengembang.
"Shikamaru, kumpulkan dewan direksi 30 menit lagi. Aku ingin membahasa tentang ikan yang perlu diberi makan." Mendengar ucapan Sasuke, Shikamaru hanya bisa menggelengkan kepala karena sudah bisa menebak apa yang ingin Sasuke lakukan.
.
.
.
Ini adalah hari kedua Hinata bekerja dan Ia sedang berjalan di lorong kantor Mitzuko Inc, orang-orang sudah tidak memberikan tatapan yang aneh-aneh pada Hinata karena semuanya terlihat begitu sibuk di pagi hari ini, hanya ada beberapa pria dari departemen keuangan yang menyapanya dengan godaan bodoh.
"Hai, selamat pagi Hinata. Namamu benar-benar indah, pagi hari ini semakin cerah setelah aku melihatmu."
"Hinata, kalau kau perlu teman makan siang. Ajak aku saja oke? Aku tahu tempat makan yang nyaman untuk kita berdua." Dan pria ini menambah kerlingan mata pada Hinata, dan Hinata hanya bisa membalasnya dengan senyum terpaksa, Hinata sepertinya harus kuat menghadapi godaan-godaan itu karena mereka bekerja di lantai yang sama.
Setelah membuka ruangan Ino karena ingin memberika segelas kopi hangat dipagi hari, yang Hinata temukan hanyalah ruangan kosong tak berpenghuni. Setaunya Ino tidak memiliki jadwal rapat pagi ini, dan biasanya wanita itu sudah datang. Dengan mengedikan bahunya Hinata kemudian menyimpan cup kopi itu di atas meja Ino, beharap Ino datang sebelum kopinya digin.
Setelah duduk di dalam kantornya, Hinata mulai mengecek kembali hal-hal yang masih perlu dipersiapkan untuk fashion show produk baru musim semi 'Flashy' yang akan digelar nanti malam. Dia perlu mengkonfirmasi ulang kehadiran para investor dan memastikan semua banner yang dipesan telah dipasang. Saat ia sedang mengetik email, telepon kantornya berdering. Dan menampilkan panggilan dari resepsionis.
"Nona Hyuga, ada telepon dari Tuan Toneri Milkova. Tapi Nona Yamanaka sedang melakukan rapat dengan para manajer yang lain."
"Tidak apa-apa sambungkan saja denganku." Balas Hinata.
"Baiklah tunggu sebentar."
Tut tut…
"Bonjour, Monsieur Milkova, avec Hinata Hyuga ici. Tout ce que je peux vous aider avec? (Selamat pagi Tuan Milkova, dengan Hinata Hyuga disini. Ada yang bisa saya bantu?)"
"Ah, tu peux discuter du français hein? Très fluide. (Ah, Anda bisa berbahas Perancis ya? Lancar sekali.)"
"Merci, si cela vous plaît, vous pouvez laisser un message parce que Mlle Yamanaka tient une réunion. (Terima kasih, jika berkenan Anda bisa meninggalkan pesan karena Nona Yamanaka sedang melaksanakan rapat.)" Ucap Hinata ramah.
"Dis-moi que je suis en route pour le Japon. Je signerai le contrat si je me sens en forme après avoir vu le défilé Flashy ce soir. (Sampaikan aku sedang dalam perjalanan ke Jepang. Kontraknya akan kutanda tangani, jika aku merasa cocok setelah aku melihat fashion show Flashy nanti malam.)"
"D'accord, je vais dire à mon patron. Que votre voyage plaise à M. Milkova, nous nous réjouissons de votre présence à Tokyo. (Baiklah, pasti saya sampaikan pada atasan saya. Semoga perjalanan Anda menyenangkan Tuan Milkova, kami menanti kehadiran Anda di Tokyo.)"
"Jusqu'à rencontrer, Ma bella."
"Jusqu'à rencontrer, Monsieur Milkova."
Kemudian sambungan pun ditutup. Setelahnya Hinata mendengar pintu kantor disebelahnya terbuka, itu pasti Ino pikir Hinata. Segera Hinata beranjak dari kursinya untuk menemui Ino. Setelah membuka pintu kantor Ino, dia melihat Ino terlihat sibuk.
"Ino ada pesan dari Tuan Milkova."
"Simpan saja pesannya di mejaku, aku harus menyiapkan hal lain."
"Ino ada apa? Semua orang terlihat sibuk."
"Hinata perusahaan kita sudah diakuisisi, dan pemilik barunya menginginkan perampingan jabatan. Aku harus memberikan laporan-laporan ini pada Direktur. Sungguh aku tidak mengerti orang ini, dengan tiba-tiba mengakusisi perusahaan kita, memang kita kekurangan sponsor untuk launching produk kita. Tapi dia tidak perlu meminta semua laporan hari ini juga kan?!" Dengan kesal Ino segera meraih beberapa ordner untuk dibawanya kembali ke ruang rapat.
"Adakah yang bisa aku bantu?" Tanya Hinata menawarkan.
"Tolong cek saja persiapan launching kita di lapangan, beri tahu aku jika ada hal yang tidak bisa kau tangani. Kita bertemu kembali pukul 2 sore, nanti kau ikut denganku ke salon kita harus berdandan secantik mungkin untuk malam ini. Oke?"
"Baiklah. Semangat Ino." Ucap Hinata memberikan senyum manisnya.
"Terima kasih. Aku pergi dulu." Balas Ino dan kembali meninggalkan ruangannya.
.
.
.
Kini Hinata dan Ino telah berada di dalam mobil mewah yang dikendarai supir pribadi Ino untuk menghadiri lauching produk musim semi Fleshy. Mereka terlihat sangat cantik dengan gaun hitam satin yang membalut kedua lekuk tubuh mereka dengan sempurna, Hinata mengenakan gaun hitam panjang dengan tipe one shoulder sehingga satu pundak mulusnya terekpose cukup jelas, dan Ino yang mengenakan gaun hitam dengan tipe turtle neck tanpa lengan tapi benar-benar mengekspose punggungnya, dan mereka memiliki belahan gaun disepanjang paha kanan mereka. Sebenarnya ini terlalu terbuka untuk Hinata, tapi Ino yang memilihkannya jadi dia mau tidak mau harus menerimanya.
"Hinata bisa kau beri tahu pesan dari Tuan Milkova, aku lupa membaca note darimu."
"Dia bilang akan menghadiri fashion show ini untuk menilai apakah Ia tertarik untuk menjadi ambassador produk Fleshy di Perancis, jika dia tertarik setelah ini dia akan menandatangi kontrak kerja samanya."
"Baguslah, aku ingin kau membantuku membujuknya. Keahlian bahasamu bisa membantu dia lebih nyaman, karena jika Tuan Milkova menjadi ambassador produk kita pamornya bisa mem-branding produk kita lebih cepat, yang aku khawatirkan dia juga ditawari oleh perusahaan Dior untuk ambassador baju musim ini."
"Huffhh… Aku harap semua ini berjalan lancar." Ujar Hinata gugup. Ino yang mendengarnya hanya tersenyum kecil.
"Rileks saja, nikmati pesta ini. Aku yakin produk kita lebih layak untuk diiklankan. Setelah fashion show berakhir kita bisa berdiskusi dengannya."
Sepuluh menit kemudian mereka telah sampai di ballroom hotel diadakannya fashion show dan mereka segera menuju aula panggung fashion show. Selama fashion show mata Hinata tidak berhenti terpana melihat semua busana yang begitu memanjakan matanya, Hinata duduk dibarisan paling depan di sebalah kiri pangung bersisian dengan Ino, meskipun dia begitu menikmati fashion show dia tidak lupa dengan tugasnya sebagai asisten Ino yang perlu mencatat beberapa hal yang Ino sampaikan dan dia berusaha bersikap seprofesional mungkin saat diperkenalkan dengan beberapa kolega Ino.
Setelah semua seri busana dipertunjukan para tamu undangan dipersilahkan memasuki sisi lain aula untuk pesta para pejabatan perusahaan dan para model. Mata Ino meneliti kesegala penjuru ruangan mencari seorang pria yang ingin ditemuinya, tapi tiba-tiba terdengar seorang pria yang menyapa dari arah belakang mereka.
"Bonne nuit, les filles. Présentez-moi Toneri Milkova. (Selamat malam, gadis-gadis. Perkenalkan aku Toneri Milkova.)" Mendengar suara pria dengan bahasa asing tersebut dengan reflek Hinata dan Ino berbalik dan ternyata disanalah pria yang mereka cari beridiri, Toneri Milkova. Dengan tinggi 190cm, bahu lebar dan tubuh proporsional, bermata biru cerah, dengan rambut putih shaggy, setiap orang yang melihatnya pasti akan langsung tahu bahwa pria ini memanglah model. Dengan wajah tampan aristokrat Perancis, jenis pria seperti ini patut diwaspadai karena pesonanya bisa dengan mudah menjerat wanita.
"Au revoir Monsieur Milkova. Présentez-moi Hinata Hyuga (Selamat Malam Tuan Milkova. Perkenalkan saya Hinata Hyuga.)" Jawab Hinata lancar menggunakan Bahasa Perancis.
"Miss Hyuga, il se trouve que votre visage est aussi beau que votre voix. (Nona Hyuga, ternyata wajah Anda seindah suara Anda.)" Toneri langsung meraih tangan Hinata dan mencium punggung tangannya. Hinata yang diperlakukan seperti itu hanya bisa merona.
"Merci. Vous avez aussi l'air d'un maître charmant. Présentez ceci à mon supérieur Ino Yamanaka, cet Ino est Monsieur Toneri Milkova. (Terima kasih. Anda juga tampil menawana Tuan. Perkenalkan ini atasan saya Ino Yamanaka, Ino ini Tuan Toneri Milkova.)" Toneri pun melempar senyum pada Ino dan bergerak untuk mencium punggung tangan Ino juga.
"Selamat datang di Tokyo Tuan Milkova." Ucap Ino dengan bahasa Perancis yang sedikit Ia bisa. Setelahnya Ino memperkenalkan Toneri pada beberapa petinggi perusahaan Mitzuko Inc dan membicarakan tentang bisnis fahion mereka.
Saat alunan music Jazz terdengar, Toneri mengajak Hinata menuju lantai dansa. Dengan tatapan bertanya Hinata meminta izin pada Ino dan dibalas anggukan oleh Ino yang masih berbincang dengan rekan-rekan kerjanya. Dengan pasrah Hinata menerima ajakan pria ini, sebenarnya Hinata aga risih untuk berdekatan dengan pria yang baru dikenalnya tapi ini adalah clientnya dan dia tidak boleh mengecewakannya.
Dengan ragu-ragu Hinata mulai menempatkan lengannya pada pundak Toneri yang saat itu mengenakan jas putih dengan kemeja putih tanpa dasi. Hinata mencoba memasang senyumnya pada Toneri saat pria itu menempatkan tangannya pada pinggang Hinata.
"Kau sudah memiliki kekasih Nona Hyuga?" Tanya Toneri tiba-tiba saat mereka sudah mulai menggerakan tubuh mengikuti alunan lagu. Mendengar itu entah kenapa pikiran Hinata tiba-tiba melayang pada seseorang yang memiliki tatapan tajam yang bisa membuat tubuhnya panas dingin, dan entah kenapa Hinata seola melihat seseorang itu diruangan ini. Dia seakan melihat Uchiha Sasuke berada di seberang ruangan sedang menatap kearahnya dengan tatapan intens yang selalu pria itu tunjukan untuk dirinya, apa dia sedang berkhayal? Hinata mencoba mengerjapkan matanya tapi pria itu tetap berada disana. Astaga itu benar-benar Uchiha Sasuke dengan kemeja hitam yang melekat sempurna membentuk tubuh atletisnya, tapi kemudian pria itu mengalihkan pandangannya seolah tak melihat Hinata dan pria itu justru bergerak merangkul pinggang seorang wanita cantik dengan rambut merah muda sepundak yang Hinata kenali sebagai salah satu model saat fashion show tadi.
Melihat itu entah kenapa ada sebagian dari hatinya yang terasa tercubit, mungkin pria itu memang tak ingin mengenalinya. Hinata cepat-cepat mengalihkan padangan matanya dan berusaha fokus pada suara Toneri yang memanggil-manggil namanya karena ia belum menjawab pertanyaan pria ini. "Nona Hyuga, Nona Hyuga. Kau baik-baik saja?"
"Ah iya, maafkan saya. Saya sedang tidak ingin berada dalam suatu hubungan, ada hal lain yang harus saya atas saat ini."
"Sayang sekali, wanita cantik seperti Anda pasti banyak pria yang menunggu." Hinata hanya tersenyum kecil mendengarnya, tidak akan ada pria yang menunggunya jika tahu masalah keluarganya.
"Tidak ada yang menunggu saya, Tuan Milkova." Jawab Hinata.
"Kalau begitu, bolehkan aku menjadi pria yang menunggu Anda Nona Hyuga?" Tanya Toneri dengan senyumnya. Dan Hinata justru membanyangkan pria lain yang bertanya seperti itu padanya saat ini, tapi senyum Hinata harus memudar saat melihat Sasuke sedang berbisik pada wanita berambut merah muda itu sambil menatap kearahnya seakan mengolok-olok pada dirinya yang terus menolak pria itu.
Tbc
Hai welcome back to my loyal readers...
Duh sorry ya udh hibernasi hampir sebulan, emang lg hectic bgt wkwkwk (alesan).
Makasih untuk para readers yg udh setia nungguin cerita ini, semoga cerita ini sesuai harapan kalian. Makasih juga yg udh kasih saran dan ingetin masih banyak typonya wkwkwk...
Kutunggu Voment kalian... ;)
By Chichiyulalice
