Disclamer: Naruto and all character is belong Masashi Kishimoto

Sasuhina, Gaahina fanfiction

Ooc, typo, DLDR

.

.

.

Hinata tanpa sadar mengeratkan rangkulan kedua tangannya pada pundak Toneri, karena sikap Sasuke yang seolah sengaja mengumbar kemesraan dengan gadis berambut merah muda itu Hinata seakan ingin melakukan hal yang sama pada pria dihadapannya ini. Sehingga Hinata lebih mendekatkan wajahnya dengan wajah Toneri dan kini mereka benar-benar bertatapan begitu dekat, Hinata memasang senyum terbaiknya dan sesekali melirik kearah Sasuke, jika penglihatan Hinata benar maka kini raut wajah Sasuke seolah memancarkan aura gelap disekelilingnya dan Hinata menyukai situasi ini. Sambil tetap mengeratkan rangkulannya Hinata mulai berbicara dengan nada perlahan pada Toneri.

"Monsieur Milkova, un bel homme comme vous obtiendrait facilement une femme sans avoir à attendre, je suis juste une fille ordinaire. Peut-être que nous serons mieux adaptés au travail. (Tuan Milkova, lelaki tampan seperti Anda tentu akan dengan mudah mendapatkan seorang wanita tanpa harus menunggu, aku hanyalah seorang gadis biasa. Mungkin kita akan lebih cocok untuk urusan pekerjaan.)" Merasakan perubahan gestur Hinata yang menerima sentuhannya, Toneri menyeringai dan mulai menurunkan sentuhan tangannya mendekat pada pinggul Hinata.

"Je ne pense pas. Nous aurons beaucoup de matches dans d'autres choses, et maintenant je peux le sentir. Tu sais que ton corps est si juste dans mes bras. (Kurasa tidak. Kita akan memiliki banyak kecocokan dalam hal lainnya, dan saat ini aku sudah bisa merasakannya. Kau tahu tubuhmu begitu pas berada dalam pelukanku.)" Merasakan pelukan Toneri yang tiba-tiba memaksa tubuh mereka semakin mendekat membuat Hinata mulai ketakutan, astaga mungkin pria ini sangat mudah dipancing dan Hinata harus cepat-cepat menjaga jarak. Hinata berusaha mendorong pria ini secara perlahan tapi kedua tangan pria ini seolah semakin mencengkram pinggangnya.

"Je pense que notre travail se déroulera sans heurts si nous continuons à agir comme-- (Kurasa pekerjaan kita akan berjalan lancar jika kita tetap bersikap seperti--)" Belum sempat Hinata menyelesaikan ucapannya, tubuhnya tiba-tiba tertarik dan kini dia telah berada dalam dekapan pria yang berbeda. Dengan tersentak Hinata cepat-cepat mendongak untuk melihat siapa orang yang dengan tidak sopannya menariknya atau dalam hal ini telah menyelamatkannya dari jeratan taring buaya, dan sialnya kini dia berada dalam jeratan singa yang lebih buas.

"Excusez-moi, il est temps de changer de partenaire. Ma belle amie sera heureuse d'être votre partenaire de danse. (Permisi, ini saatnya untuk berganti pasangan. Teman cantikku ini akan dengan senang hati menjadi pasangan dansa Anda.)" Dengan posisi yang masih memeluk Hinata, Sasuke berbicara dengan tegas dan cepat pada Toneri sehingga Toneri yang semula akan marah kembali menelan umpatannya saat Sakura mengibaskan rambutnya dan dengan cepat mengambil tangan Toneri lalu membawanya menjauh dari Sasuke dan Hinata. Seolah tidak terjadi apa-apa Sasuke mulai menempatkan tangannya pada Hinata untuk posisi berdansa dan mulai menggerakan tubuh mereka berdua, Hinata yang mau tak mau telah didekap dengan cukup erat itu harus menggerakan badannya. Hanya suara dengusan tidak percaya yang bisa Hinata keluarkan atas perilaku Sasuke.

Sesaat setelah tubuh mereka sudah bersentuhan, Hinata seolah merasakan ada aliran listrik yang menjalar disekujur tubuhnya dan suasan disekitar mereka seolah tiba-tiba berubah semakin intim.

"Menikmati aksimu?" Tanya Sasuke pelan sambil merapatkan pipinya pada Hinata sehingga seolah mereka saling berbisik satu sama lain. Hinata melirik sinis sekilas pada mata obisidian Sasuke yang dibalas pria itu dengan datar.

"Aku tidak mengerti pertanyaanmu. Yang kutahu kaulah yang tiba-tiba memulai aksi dengan menarik paksa lenganku." Dan arah pandangan Hinata kembali ke depan.

"Aku tahu apa yang sedang berusaha kau lakukan, dan seharusnya kau berterima kasih padaku. Karena sebentar lagi kau mungkin akan mejadi korban pelecehan pria manja itu."

"Jangan sembarangan menilai orang, mungkin dia lebih baik darimu Tuan Uchiha." Bisik Hinata pelan.

"Tidak pernah menghadiri kelas olahraga saat harus bertanding Anggar denganku, memanggil ayahnya saat dia cidera bermain bola, dan hanya mengandalkan wajah cantiknya untuk mendapatkan uang. Tidakkah itu manja?" Tanya Sasuke sambil menaikan alisnya. Hinata yang mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepala di tatap oleh Sasuke, oke mungkin mereka pernah satu sekolah entah itu dimana.

"Oke baiklah hentikan membicarakan orang lain." Ujar Hinata memperingati.

"Baiklah kalau begitu aku akan membicarakan dirimu. Kau terlihat menakjubkan malam ini Nona Hyuga." Hinata yang sedang mengerlingkan matanya secara reflek menatap kearah mata Sasuke. Merasa Hinata yang hanya menatapnya saja, Sasuke kembali mengucapkan perkataanya dengan lebih perlahan dan menatap mata Hinata lebih intens.

"Kau… Terlihat… Luar biasa." Dan Hinata seakan dibuat tak berkedip atas pernyataan Sasuke yang tidak pernah terpikirkan akan keluar dari pria semacam itu. Hingga akhirnya dia bisa mengendalikan dirinya kembali.

"Syukurlah kau mengakuinya." Ucap Hinata dengan malu-malu dan bernada serak, karena siapa gadis yang tidak akan gugup setengah mati jika dipuji seperti itu sambil dirangkul begitu dekat. Ditambah aroma yang menguar dari tubuh Sasuke yang sejenis citrus dan kayu manis menambah kesan gentleman pada pria ini.

"Hinata Hyuga." Ucap Sasuke perlahan dengan nada yang begitu khidmat di samping telinga Hinata, seolah nama Hinata adalah sebuah doa yang selalu Sasuke panjatkan.

"Aku telah mendapatkanmu." Kini suara serak Sasukelah yang terdengar seolah terus berusaha menggoda Hinata.

Hinata sampai harus menggigit bibir menahan debaran didadanya, juga karena bulu-bulu halus yang berdiri mendengar suara serak Sasuke. Tapi Hinata tidak mau begitu saja terbuai, pria ini bisa saja hanya mempermainkannya. "Kenapa kau mendekatiku? Tidakkah kau malu bersama gadis yang kau sebut sudah tidak memiliki nama baik."

"Aku tidak pernah peduli tentang perkataan orang. Selama itu hal yang aku inginkan, aku bisa mendapatkannya dimana pun."

"Kau berkata seolah aku adalah barang yang bisa kau ambil seenaknya." Ucap Hinata sedih. Melihat tatapan seperti itu dari mata Hinata, Sasuke justru berbisik lebih dekat pada Hinata.

"No, you're priceless Miss Hyuga." Setelahnya Sasuke menyandarkan kedua kening mereka agar saling besentuhan dan tanpa mereka sadari, kedua mata mereka menutup mencoba menikmati saat-saat dimana mereka bisa sejenak berhenti memikirkan masalah hidup mereka. Hingga akhirnya Hinata kembali membuka matanya.

"Kenapa kau menginginkan aku? Bukankan gadis cantik tadi lebih baik untukmu."

"Aku tidak tahu apa yang membuat diriku begitu menginginkanmu, mungkin karena kau seperti medan magnet yang terus menarikku mendekat padamu. Dan ternyata aku salah, ternyata kau bukan hanya sekedar batu magnet. Kau adalah poros duniaku yang tidak akan bisa aku tinggalkan." Kali ini Hinata benar-benar tertegun mendengar pernyataan Sasuke, tidakkah pria itu sadar mereka adalah musuh. Hati Hinata seolah berteriak ingin menerima semua rasa yang Sasuke ungkapkan tapi Ia takut ini hanyalah sebuah permainan.

"Apa kau mabuk Tuan Uchiha?" Tanya Hinata ragu-ragu, yang hanya dibalas senyuman kecil oleh Sasuke.

"Kau tidak akan mau melihat saat aku mabuk Nona Hyuga. Dan jika aku mabuk lalu kau ada didekatku, dirimu tidak akan bisa berjalan untuk seminggu." Dan perkataan tersirat Sasuke mampu membuat Hinata tiba-tiba merasa panas.

"Kurasa aku butuh udara segar." Ucap Hinata berusaha melepaskan rangkulannya pada Sasuke.

"Ikut aku." Dan kini justru tangannya seolah tidak bisa lepas dari tarikan Sasuke yang mencoba membawanya keluar dari aula pesta. Pria itu mengarahkan Hinata untuk pergi menuju taman belakang hotel yang sudah dihias dengan lampu-lampu cantik mengikuti dekorasi aula pesta, dan sebelum keluar Sasuke menyempatkan mengambil gelas dan sebotol sampanye.

Sasuke terus menuntut Hinata menuju jalan setapak yang membawa mereka pada gazebo terbuka dimana terdapat beberapa sofa dan bantal yang telah dihias lampu-lampu tumbler sehingga semakin indah berpadu dengan warna-warni bunga saat malam hari. Setelahnya Sasuke menuangkan sampanye ke dalam gelas dan menyerahkannya pada Hinata.

"Tidak, terima kasih. Aku tidak mau meminum cairan seperti itu, terutama didekatmu." Sehingga Sasuke hanya menaruh gelas itu pada meja di dekatnya dan akan mulai meminum cairan itu langsung dari botolnya. Saat ujung botol itu telah sampai di bibir Sasuke dengan cepat Hinata merebutnya dan menyimpan di belakang tubuhnya.

"Astaga, apa kau gila? Aku tidak mungkin membiarkan pria sepertimu meminum cairan seperti itu saat kita hanya berbicara berdua di luar sini." Ujar Hinata kesal.

"Kau takut dengan ucapanku?"

"Tentu saja. Wanita mana yang akan membiarkan pria mesum sepertimu mabuk di sekitar mereka."

"Kebanyakan wanita mungkin akan lebih senang jika mereka berhasil menghilangkan akal sehatku."

"Aku bukanlah wanita kebanyakan seperti yang kau kenal. Dan sebenarnya kenapa kau bisa ada di sini?" Mendengar pertanyaan Hinata, Sasuke hanya bisa menyeringai.

"Kau menyukai pekerjaanmu?" Tanya Sasuke pelan dengan menyelidik.

Hinata mengerutkan keningnya bingung. "Y-ya, tentu saja. Setidaknya itu hal yang aku bisa. Dan aku memiliki bos yang baik." Ucap Hinata mengangkat bahunya.

"Apa gadis berambut pirang itu bekerja dengan baik?" Hinata kembali mengerutkan keningnya dengan pertanyaan Sasuke yang tiba-tiba menanyakan kinerja Ino, tentu saja dia atasan Hinata justru kinerja Hinatalah yang perlu dipertanyakan.

"Tentu saja, Ino adalah pekerja keras." Ujar Hinata ragu.

"Kalau begitu dia bisa tetap memiliki pekerjaannya." Ujar Sasuke enteng. Seolah Hinata dihantam kesadaran, mulut Hinata terbuka dengan satu tangan yang mencoba menutupinya.

"Astaga, jangan katakan kau adalah orang yang telah mengakuisisi Mitzuko Inc.?"

"Sayangnya adalah ya." Ujar Sasuke sambil memasuk kedua tangannya ke dalam saku celananya. Hinata langsung memutar matanya karena jengah dengan perilaku pria ini.

"Oke, aku mengerti. Dengan begini kau bisa dengan mudah memecatku atau bahkan memfitnahku seperti apa yang terjadi dengan ayahku."

Mendengar nada menyindir Hinata, dengan segera Sasuke menarik lengan Hinata hingga dada mereka saling bertubrukan. "Dengar Nona Hyuga, aku bukanlah orang yang memfitnah ayahmu karena itu bukanlah sebuah fitnah. Dan bisakah kau percaya saja pada apa yang aku lakukan untukmu?"

"Tidak aku tidak bisa percaya padamu. Kita adalah musuh jika kau ingat. Dan aku merasa bahwa kau hanyalah menginginkan tubuhku untuk kesenanganmu, kau akan dengan mudah berganti wanita disaat banyak wanita lain yang lebih sempurna dariku." Hinata berkata dengan nada frustasi dan sendu.

Satu tangan Sasuke merangkum wajah Hinata untuk merasakan kelembutan gadis rapuh ini, sehingga kini mereka bertatap-tatapan dengan Hinata yang sedikit berkaca-kaca.

"Kau tidak tahu, jika aku tidak pernah menginginkan sesuatu seperti aku ingin memilikimu." Dengan perlahan-perlahan ibu jari Sasuke bergerak di atas pipi Hinata dan Hinata hanya bisa terdiam menyelami arti tatapan Sasuke.

"Sial, aku ingin menciummu saat ini juga." Dan dapat Hinata rasakan deru nafas Sasuke semakin memburu.

"Jangan." Ucap Hinata pelan. Tapi detik berikutnya sentuhan bibir basah Sasukelah yang Hinata rasakan melumat bibirnya. Dengan tergesa kedua tangan Sasuke menahan wajah Hinata, sehingga dengan mudah serangan bibirnya berhasil menggigit bibir bawah Hinata dan menarik bibir atas Hinata menggunakan kedua bibirnya. Sasuke terus memperdalam ciumannya hingga tubuh Hinata terdorong kebelakang dan saat pinggang Hinata sudah tertahan tembok yang sebatas pinggangnya membuat Sasuke melepaskan tautan bibir mereka. Dengan nafas yang masih memburu Sasuke berusaha berbicara pada Hinata.

"Kau membuatku tidak bisa menahan diri."

Sementara Hinata yang mendapat terus serangan seperti ini hanya bisa berujar pasrah. "Aku tidak ingin terus diperlakukan seperti ini, kumohon biarkan aku menjalani hidup seperti biasa." Hinata segera menjauhkan tubuhnya dari Sasuke, tapi lagi-lagi pria itu mencekal pergelangan tangan Hinata agar mencegahnya menjauh.

"Aku tahu kau mulai merasakan sesuatu untukku."

Dengan posisi yang masih membelakangi Sasuke, Hinata berujar lirih. "Perasaan apapun yang aku rasakan untuk seseorang, akan kutahan sebelum kasus ayahku terselesaikan. Tolong… Hargai keputusanku." Setelahnya Sasuke hanya bisa melepaskan tangan Hinata dan membiarkan gadis itu menjauh.

Sasuke hanya bisa mengusap rambutnya gusar dan kembali menyambar botol sampanye yang sedari tadi terabaikan.

.

.

.

Hinata dengan cepat menutup pintu yang mengarah pada halaman hotel dan menyandarkan tubuhnya disana sambil menenangkan pernafasannya. Entah harus seperti apa dia bersikap jika didekat Sasuke. Hingga kesadaran Hinata kembali dan matanya meneliti dimana posisi Ino berada, dia sudah berada diluar cukup lama dan Ino pasti mencarinya.

Saat Hinata sedang berjalan untuk mengambil minuman tiba-tiba seseorang menyenggolnya dan untunglah ternyata itu Ino.

"Hinata, kau dari mana saja? Ayo Tuan Milkova sudah menunggu kita diruang rapat, saatnya dia membuat keputusan." Ajak Ino sambil menarik tangan Hinata.

"Maaf Ino, tadi aku butuh udara segar. Kuharap Tuan Milkova tidak menunggu terlalu lama."

"Ya kuharap juga orang Perancis memiliki kesabaran yang tinggi. Sekarang waktunya kau membantuku dan berusaha membujuknya agar menyetujui kontrak kita."

"Baiklah, aku akan berusaha semampuku."

.

.

.

Hinata sedang merapihkan dokumen-dokumen diruangannya dan akan meng-copy kontrak kerjasama yang telah ditanda tangani oleh Toneri tadi malam. Untunglah pria itu masih memiliki suasana yang baik setelah apa yang dilakukan Sasuke padanya, walaupun Hinata harus rela memberikan nomor pribadinya pada Toneri agar pria itu mau menandatangani kontrak ini. Saat Hinata sedang menunggu hasil copyannya selesai dering ponsel Hinata terdengar. Itu adalah nomor Gaara dan entah kenapa perasaannya tiba-tiba merasa tidak enak.

"Halo Gaara." Ucap Hinata lembut.

"Hinata, tolong segera temui aku di Medical Center Tokyo. Kedua orang tuamu telah ditemukan." Ucap Gaara dengan nada panik.

"A-aapa? Astaga syukurlah. Bagaimana keadaan mereka?" Hinata tidak bisa menahan rasa kebahagiaan keluar dari suaranya.

"Sulit menjelaskannya melalui telepon, kuharap kau bisa segera datang. Maaf aku tidak bisa menjemputmu, karena aku harus mengecek beberapa hal." Ucap Gaara menyesal.

"Tidak apa-apa Gaara. Baiklah aku akan segera kesana. Terima kasih atas informasinya." Ucap Hinata penuh syukur.

"Ya sama-sama. Hati-hati di jalan Hinata." Setelahnya sambungan telepon terputus, dan Hinata melihat pada jam dinding di ruangannya. 30 menita lagi jam kerjanya selesai mungkin Ino akan mengijinkannya untuk pulang lebih dulu karena keadaannya sedang mendesak. Segera Hinata memasuki ruangan Ino lalu meminta izin dan untunglah setelah dijelaskan mengenai apa yang terjadi, Ino segera menyetujuinya dan berdoa agar semua baik-baik saja.

Hinata dengan langkah terburu-buru keluar dari gedung Mitzuko Inc, dan menghentikan taxi secepat yang Ia bisa. Dalam perjalanan Hinata menyatukan kedua tangannya dan tidak berhenti berdoa demi keselamatan kedua orang tuanya, air matanya tidak bisa ditahan untuk tidak keluar saking khawatirnya terhadap kondisi kedua orang tuanya.

Setelah sampai di rumah sakit Hinata segera mendatangi ruang ICU sesuai informasi dari resepsionis mengenai keberadaan pasien bernama Hyuga. Dan bisa Hinata lihat dilorong ICU sudah ada Gaara dan beberapa pria yang terlihat seperti polisi sedang membicarakan sesuatu, dengan segera Hinata menghampiri Gaara.

"Gaara, bagaimana kondisi kedua orang tuaku? Aku ingin bertemu mereka." Dengan lirikan mata Gaara menyuruh orang-orang itu untuk membiarkan mereka berdua terlebih dahulu.

"Hinata duduklah dulu." Dengan perlahan Gaara mencoba memegang kedua lengan Hinata, dan dapat Gaara rasakan tubuh gadis ini benar-benar bergetar.

"Astaga, kau baik-baik saja? Tubuhmu benar-benar begetar. Tenanglah." Setelah mereka duduk Gaara menggenggam kedua tangan Hinata, mencoba menguatkan gadis ini.

"Gaara tolong katakan sesuatu mengenai keadaan orang tuaku." Ucap Hinata dengan nada lirih. Gaara yang mendengarnya seakan langsung ikut merasakan kesedihan dan kepanikan gadis ini. Dengan menarik nafas panjang Gaara mencoba menjelaskan pada Hinata sebaik mungkin agar gadis ini tidak semakin sedih.

"Ayahmu masih dalam keadaan kritis di ruang ICU. Dokter bilang dia mengalami banyak patah tulang dan bagian bawah tubuhnya mendapat luka bakar cukup parah, tapi dia sudah ditangani dengan baik. Kita akan menunggu kabar selanjutnya dari dokter." Hati Hinata terasa teriris mengetahui keadaan ayahnya yang begitu terluka parah, dia sangat ingin memeluk ayahnya sekarang juga. Matanya tidak bisa berhenti mengeluarkan butiran-butiran kecil kristal bening penanda kepedihannya.

"La-lalu bagaimana keadaan ibuku?" Tanya Hinata perlahan. Gaara tiba-tiba berdiri sambil menggenggam satu tangan Hinata.

"Ikut denganku." Hinata akhirnya mengikuti langkah Gaara yang entah akan membawanya kemana, tapi perasaannya tidak enak saat melihat menuju ruangan apa Gaara membawanya. Dan dengan kepasrahan hati Hinata mulai berbicara pada Tuhan untuk mengikhlaskan apapun yang terjadi pada ibunya. Setelah mereka memasuki ruangan itu, Hinata diajak untuk mendekati sebuah ranjang dengan sesosok tubuh yang telah ditutupi kain putih. Dengan tangan bergetar Hinata mencoba membuka kain yang menutupi wajah seseorang itu, dan alangkah terkejutnya saat ia melihat tubuh ibunya sudah dipenuhi dengan luka bakar. Sehingga isakan pun tidak bisa lagi Hinata tahan untuk keluar.

Melihat gadis didepannya ini hampir saja limbung terjatuh, Gaara dengan cepat menyandarkan tubuh Hinata ke dalam pelukannya dan membiarkan gadis itu terisak keras. Gaara biarkan Hinata mencengkram kemeja hijaunya untuk menyalurkan rasa sedih gadis ini. Sekuat apapun Hinata menahan untuk tidak menangis tapi ia tidak kuat saat membayangkan ibunya yang cantik dan penuh kasih sayang, sudah terbujur kaku dengan keadaan yang cukup mengenaskan. Sambil berusaha meredakan isak tangisnya, Hinata hanya berdoa semoga ibunya mendapat tempat yang terbaik di sisi Tuhan.

.

.

.

Setelah mengantar Hinata pulang ke rumahnya, Gaara kembali ke kantor kejaksaan dan mengadakan kembali rapat bersama asisten dan beberapa pihak kepolisian untuk menyelidiki bukti-bukti dari pecahan pesawat yang ditumpangi Tuan dan Nyonya Hyuga.

"Dari enam penumpang pesawat, empat diantaranya adalah awak pesawat termasuk pilot dan pramugari. Tapi hanya dua orang yang selamat yaitu Tuan Hiashi Hyuga dan co-pilot, namun sayangnya tadi siang aku sudah mendengar kabar jika co-pilot juga sudah meninggal. Jadi dalam kasus ini Tuan Hyugalah satu-satunya yang bisa memberikan penjelasan, tapi kita juga belum tahu kapan dia akan sadar, jadi karena persidangan menunggu hasil penyelidikan kita aku ingin kalian semua mencari bukti-bukti apapun yang bisa mengungkap kasus ini." Gaara memberikan arahan pada tim penyelidikannya lalu meminta sang asisten melanjutkan penjelasannya.

"Oke, aku sudah melakukan pengintaian pada Tuan Shii beberapa hari belakangan ini, tidak ada yang terlalu mencurigakan tapi ada satu kejadiaan yang perlu kita amati." Kemudian Darui mengeluarkan sebuah foto yang dia dapat ke atas meja. "Dalam foto itu, dia berpapasan dengan seseorang yang mengenakan topi dan mantel panjang sehingga wajah orang itu tidak bisa terlihat jelas, dan bukan hanya berpapasan tapi mereka seperti melakukan suatu kontak yang cukup lama. Dan aku curiga orang itu ada hubunganya dengan kasus ini." Kini arah pandangan semua orang tertuju pada foto yang disimpan Darui.

"Aku minta dua orang dari kalian terus amati setiap pergerakan Tuan Shii. Jika ada hal yang aneh segera panggil aku. Mengerti?" Gaara memberikan perintah pada pihak kepolisian yang segera dibalas "siap" oleh mereka.

.

.

.

Saat ini Gaara sedang berada dalam mobilnya untuk menemani Hinata melakukan pemakaman ibunya, tapi tiba-tiba dering ponselnya berbunyi dan dengan menggunakan ear phone wireless yang terhubung dengan ponselnya Gaara segera menjawab.

"Ya, ada apa?"

"Gaara kau harus segera kemari, Tuan Shii sedang melakukan pertemuan dengan pria misterius itu lagi."

"Tck… Baiklah smskan aku alamatnya." Lalu Gaara segera menutup sambungannya, dan ia harus menghembuskan nafas kesal karena sepertinya akan terlambat untuk menemani Hinata di pemakaman. Tapi tugas ini juga penting demi gadis itu.

Setelah sampai diposisi yang rekannya informasikan yaitu di sebuah restoran jepang yang padat di pinggir jalan pada hari sabtu seperti ini, Gaara segera memakai topi dan kacamata hitam dengan duduk terpisah dari dua rekan kerjanya. Dengan masih memakai ear phone wireless nya Gaara berusaha untuk tetap berkomunikasi dengan kedua rekannya.

Gaara segera melirik pada Tuan Shii yang seolah menjatuhkan alat makannya dan bila diperhatikan lebih jauh pria itu juga memasukan hal lain yang ada di bawah meja kedalam saku jasnya sebelum kembali bangkit duduk. Setelahnya Tuan Shii dan pria misterius itu berdiri lalu berjabat tangan dan mereka mulai berjalan keluar dari restaurant itu.

Dengan lirikan mata Gaara memerintahkan kedua rekannya untuk mengikuti mereka, tapi di depan pintu restaurant kedua pria itu berpisah dengan arah jalan yang berlawanan. Gaara langsung berbicara melalui ear phonenya, ia akan mengikuti Tuan Shii sedangkan kedua rekannya akan mengikuti pria misterius itu. Dengan menjaga jarak aman Gaara berjalan dibelakang Tuan Shii yang hampir selalu hilang dari pandangan matanya karena banyaknya orang yang berlalu lalang di trotoar, dan Gaara semakin mempercepat langkahnya pula saat Tuan Shii mulai berjalan dengan tergesa-gesa. Dalam hati Gaara berkata ini benar-benar suatu kejanggalan, serta pertemuan Tuan Shii dengan pria itu di restaurant yang cukup ramai semakin menimbulkan pertanyaan, seharusnya mereka menyembunyikan sebisa mungkin kontak diantara mereka jika memang itu adalah sebuah rahasia.

Dan sekarang Tuan Shii benar-benar menghilang dari pandangannya, dan Gaara hanya bisa berdecak kesal. Saat Gaara maju kesisi trotoar untuk mengamati jalanan di seberangnnya tiba-tiba seolah ada yang mendorongnya dengan begitu keras hingga Gaara terjatuh ke tengah jalan raya yang sedang ramai, dan dari ujung matanya dia bisa melihat ada mobil yang melaju kencang ke arahnya.

"Sial…" Umpat Gaara keras dan karena Gaara memiliki gerak reflek yang cepat Ia langsung berguling menjauhi mobil itu dan untunglah mobil-mobil lainnya segera menghentikan mobil mereka dengan mendadak. Orang-orang mulai berhamburan kejalan untuk melihat keadaan Gaara yang dahinya sedikit lecet dan berdarah saat tadi jatuh terdorong, dengan masih posisi tertelungkup Gaara memukul jalan raya dengan kesal.

"Sial, ada yang berusaha menggagalkan penyelidikan."

.

.

.

Dengan penuh khidmat Hinata menutup mata dan menyatukan kedua tangannya sambil berdoa dengan sungguh-sungguh pada Tuhan disamping makam ibunya. Kini ibunya telah dengan sempurna kembali pada sang pencipta dan Hinata tak hentinya memanjatkan doa agar ibunya mendapat tempat terbaik di dunia yang lain, dengan posisi merunduk beralaskan lututnya pada rumput air mata Hinata satu per satu tak pernah terlepas dari indahnya manik amethyst itu. Ditemani semilir angin yang menerbangkam beberapa helai rambutnya Hinata mencoba menikmati kesunyian ini dengan berusaha berbicara pada ibunya. Dengan perlahan kelopak mata putih itu terbuka menampilkan tatapan nanar penuh kesedihan yang menatap pada nisan ibunda terkasihnya. Hyuga Hinari, satu nama yang selama dua puluh satu tahun ini telah menemani Hinata dalam segala kondisi kehidupannya, satu nama yang selalu menjadi sumber kebahagiannya, satu nama yang akan selalu ia kenang dan akan menjadi alasannya untuk terus bertahan di dunia ini.

Hanya beberapa orang saja tadi yang menemaninya kepemakaman, temasuk Ino dan teman-teman sekantornya saat ini yang memberikan beberapa karangan bunga. Adapula Tuan dan Nyonya Ichiraku, teman-teman ayah dan ibunya tidak ada yang datang karena mungkin berita itu telah benar-benar membuat mereka tidak ingin mengenali keluarganya, serta teman-teman Hinata pun tidak ada yang hadir karena kedatangan tubuh kedua orang tuanya sudah tidak diberitakan lagi. Dan kini hanya dirinyalah sendirian disini, di pemakaman yang begitu luas dengan memakai gaun hitam selutut. Kesunyian yang terasa begitu menenangkan sekaligus menyakitkan, Hinata bisa mendengar begitu lirihnya dedaunan yang tersapu angin dan semilir angin yang menggetarkan jiwanya. Dengan perlahan tangan Hinata meraba pada tanah merah makam ibunya.

"Ibu, terima kasih atas segala yang telah kau berikan untukku selama ini. Terima kasih atas segala kebaikan yang telah kau ajarkan padaku, terima kasih karena aku telah terlahir dari seorang ibu yang begitu hebat sepertimu, kau memberikan sebuah kebahagian yang tak ternilai dalam hidupku. Beristirahatlah dengan tenang, karena namamu akan selalu terkenang dihati setiap orang yang mencintaimu. Aku berjanji akan menjaga ayah dengan baik, dan membuat ibu disana tersenyum melihat kebahagiaan ayah bersamaku disini. Disaat seperti ini aku seolah ingin menyusul ibu agar aku bisa merasakan ketenangan, tapi aku tahu tugasku disini belum selesai. Aku berjanji akan mengembalikan nama baik ayah dan ibu, sehingga setidaknya aku bisa menjadi anak yang berbakti untuk kalian. Selamat jalan, aku mencintaimu ibu." Dan tanpa dapat dicegah air mata Hinata menetes membahasahi tanah merah makam ibunya, dan tiba-tiba saja langit berubah menjadi mendung dan tiupan angin menjadi semakin kencang. Terdengar beberapa kali gemuruh dari langit dan Hinata sadar seharusnya ia segera beranjak dari makam ini jika tidak ingin terkena dinginnya air hujan yang seakan akan berlomba keluar dari langit. Mungkin langit juga merasakan kesedihan yang ia rasakan.

Dan benar saja, sesaat kemudian air hujan telah membasahi bumi dengan cepat. Namun perasaan aneh dirasakan Hinata, Ia tidak merasakan basah sedikitpun pada tubuhnya. Dan instingnya sebagai seorang manusia merasakan bahwa ada seseorang dibelakangnya. Lalu ketika kepala Hinata telah menengok kebelakang Hinata benar-benar dikejutkan bukan hanya atas kedatangan seseorang tetapi dua orang pria yang masing-masing memegang payung besar hitam dan melindungi Hinata dari air hujan yang berjatuhan. Dengan mata yang masih berkaca-kaca Hinata dapat melihat disebelah kirinya adalah Gaara yang kini mengenakan perban kecil dipelipisnya. Hinata tahu pria ini berjanji akan menemaninya melalui pemakaman, tapi Hinata pikir ada sesuatu yang terjadi sehingga pria ini datang terlambat. Lalu Hinata alihkan pandangannya ke sebelah kanan, disana berdiri sesosok pria dengan raut wajah dinginnya tapi kali ini Hinata dapat melihat tatapan khawatir dari mata tajam itu. Hinata tidak menyangka Sasuke akan hadir ke makam ibunya.

Dapat Hinata lihat Gaara menjulurkan tangannya membantu Hinata untuk bangkit dari posisinya duduk, saat Hinata akan menerima uluran tangan Gaara tiba-tiba saja tubuhnya sudah tertarik berdiri dan berada dalam pelukan posesif Sasuke. Sebelum Hinata sempat menolak Sasuke sudah terlebih dahulu membisikan sesuatu pada telinga Hinata sehingga gadis itu tidak bisa menolak.

"Tetap dipelukanku atau Mitzuko Inc. akan kuhancurkan."

Menyadari Hinata yang hanya menunduk saja dipelukan pria yang seenaknya memeluk gadis itu, Gaara merubah tatapan lembutnya menjadi mengintimidasi pada pria yang ia ketahui adalah pemilik Uchiha Enterprise itu. Dan sialnya pria itu justru balas menatapnya dengan pandangan menantang pada Gaara, kini aura diantara mereka bertiga benar-benar tegang ditambah gemuruh langit dan hujan yang terus turun dengan deras.

"Kau tidak bisa memaksanya." Ujar Gaara dingin.

"Aku tidak memaksanya, Hinata sudah seharusnya pergi bersamaku." Ucap Sasuke tak kalah dingin pada pria berambut merah itu dan mengeluarkan seluruh aura mengancamnya seolah berkata kau tidak memiliki hak apapun atas gadis ini.

Mendengar penjelasan pria sombong ini, Gaara hanya dapat mengerutkan keningnya dan beralih kembali menatap Hinata. "Hinata benarkah kau ingin bersama pria ini? Pria yang telah menuntut ayahmu dan mengambil seluruh asetmu?"

Mendengar pertanyaan Gaara, Hinata tidak tahu harus menjawab apa, dirinya juga bingung dengan keadaannya saat ini, tapi kekuasaan Sasuke tidak bisa Ia remehkan.

"Gaara… tidak apa-apa. Aku bisa menjaga diriku, terima kasih telah datang." Ujar Hinata lebih seperti bisikan sambil menatap Gaara dengan mata memerahnya. Sebenarnya dalam hati Hinata, dia tidak ingin lemah seperti ini diancam oleh Sasuke. Dia ingin bersama Gaara karena pria itu yang telah berjanji akan menemaninya di pemakaman, tapi ancaman Sasuke juga tidak bisa Ia abaikan, pria itu bisa saja membuat ribuan orang tidak memiliki pekerjaan besok.

Mendengar jawaban Hinata, Sasuke menyeringai dan seolah menertawakan Gaara, kemudian ia lebih eratkan lagi pelukannya pada Hinata. "Kau dengar sendiri Tuan Sabaku? Sekarang biarkan kami pergi."

"Tunggu." Sebelum Sasuke berhasil membawa Hinata pergi, Gaara dengan cepat melepaskan mantelnya dan memasangnya pada pundak Hinata.

"Setidaknya aku tidak akan membiarkan Hinata kedinginan, sekarang pergilah. Hinata hati-hati di jalan." Dan Gaara mencoba memberikan senyum meyakinkan pada Hinata yang menatapnya sedih karena harus pergi dengan pria lain saat dia sudah memiliki janji.

"Terima kasih, Gaara." Ucap Hinata perlahan sekaligus seolah mengucapkan permohonan maaf. Dan setelahnya Sasuke kembali membawa Hinata berjalan meninggalkan Gaara sendirian ditemani payung hitamnya, Gaara terus mengamati kedua orang itu hingga diujung jalan Sasuke membukakan pintu untuk Hinata memasuki mobil hitam mengkilapnya, sampai mobil itu melaju dan tidak terlihat lagi dari pandangan Gaara.

Tbc

Yuhuu siapa nih yang udh maksa" up cpt wkwkwk... :D

Gpp sih selagi ada waktu dan ini spesial untuk ulang tahun my lovely gorgeous chara Hinata Hime...

I'm so adore to this chara, just can't explain how happy me can be Hinata Centric...

See yaa... *

By Chichiyulalice