Disclamer: Naruto and all character is belong Masashi Kishimoto
Sasuhina, Gaahina fanfiction
Ooc, typo, DLDR
.
.
.
Di ruang kerja dengan ukuran cukup besar namun berkesan dingin dan gelap karena dekorasi ruangan yang diberi warna hitam dan peralatan yang sama berwarna gelap, terdapat dua orang pria dewasa berbeda status yang sedang berdiskusi dengan serius.
"Jaksa itu berhasil selamat."
Mendengar kalimat itu seseorang yang duduk di balik kursi kulit hitam besar yang membelakangi anak buahnya itu, langsung mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia kesal atas hasil kinerja anak buahnya yang tidak bisa menyingkirkan orang yang bisa saja menggagalkan rencananya.
"Seperti apa keadaannya?" Terdengar nada dingin dari balik kursi besar hitam itu, sementara sang anak buah mulai merasakan bulir-bulir keringat dingin mengalir dari dahinya karena Ia merasakan gugup setengah mati telah gagal melaksanakan misi dari bosnya.
"Di-dia hanya mengalami luka kecil di kepalanya dan da-dapat beraktivitas seperti biasa." Balas sang anak buah dengan nada gemetar. Setelah mendengar penjelasan anak buahnya, seseorang tersebut membalikan badannya lalu menumpukan kedua tangan yang saling bertautan ke atas meja untuk berpikir tindakan selanjutnya yang akan dia lakukan.
"Cari cara lain untuk menyingkirkan Jaksa itu." Sang bos langsung menatap tajam anak buah di depannya yang menundukan kepala. Alhasil kata-kata sang bos berhasil mengangkat wajah tegang itu untuk balik menatap wajah majikannya.
"Tapi jika kita melakukan percobaan yang kedua, Jaksa itu akan semakin sadar jika nyawanya sedang diincar dan bisa saja dia mulai melakukan jebakan untuk menyerang balik kita."
Lalu terdengar tawa membahana dari sang majikan mendengar penjelasan anak buahnya, setelah beberapa saat raut wajahnya kembali berubah menjadi semakin serius dengan menata tepat pada mata anak buahnya itu. "Lalu apa kau bilang aku harus berdiam diri membiarkan Jaksa itu membongkar semua yang telah aku lakukan hah? Aku tidak akan membiarkan semua perjuanganku sia-sia hanya karena anak muda bodoh itu. Dan sialnya sekarang si tua Hiashi berhasil selamat." Terdengar suara hantaman meja akibatan kepalan tangan sang majikan, dan anak buah itu hanya dapat diam menanti reaksi selanjutnya dari sang bos.
"Aku ingin sekarang kau dan anak buahmu pergi untuk menyingkirkan kedua pria itu secepatnya, buat kematian mereka senatural mungkin dan aku tidak ingin mendengar kegagalan lagi darimu." Sang Bos mengakhiri kalimatnya dengan senyum penuh makna yang terlihat mengerikan.
"Baik Bos, kami akan melaksanakan tugas dengan baik kali ini." Setelahnya sang anak buah membungkuk lalu pamit keluar dari ruangan dengan nuansa gelap itu.
.
.
.
Hinata hanya dapat menggenggam kedua tangan di atas pangkuan pahanya sambil terus melihat keluar jendela mobil yang sesungguhnya hanya menampilkan aliran air hujan yang cukup deras. Dirinya terus mencoba untuk menyamankan diri duduk di kursi mewah mobil Porsche Panamera ini, tapi hal itu selalu gagal jika mengingat siapa pria yang berada di sebelahnya saat ini. Uchiha Sasuke setelah melakukan pemaksaan terhadapnya agar mengikuti pria itu memasuki mobilnya yang entah akan pria itu bawa kemana dirinya, hanya terus sibuk dengan ponsel pintarnya selama 10 menit setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil mewah ini.
Hinata hanya sesekali melirik pada Sasuke dengan raut wajah kesal, lalu beralih melirik ke depan melihat seorang supir yang berumur sekitar 40an yang memberikan senyum ramahnya untuk Hinata dari kaca spion dalam dan hanya dibalas oleh Hinata senyum seadanya karena suasana hatinya saat ini benar-benar memburuk akibat pria menyebalkan a.k.a Uchiha Sasuke. Kenapa pria itu selalu bisa memaksa Hinata untuk melakukan apa yang pria itu mau, dan bahkan di makam ibunya pria itu tak berniat untuk mendoakan sang ibunda sama sekali. Sungguh pria tidak tahu diri rutuk Hinata dalam hati.
"Apa kau sudah membeku sehingga tak bergerak sedikit pun?" Suara tanya meremehkan Sasuke tak membuat Hinata mengalihkan pandangannya pada pria itu. Sepertinya pria itu telah selesai dengan apa pun urusannya karena sebelumnya dia terlihat begitu serius.
"Apa ada hewan juga yang memasuki telingamu sehingga kau sekarang tuli eh?" Sasuke kembali melemparkan pertanyaan bodoh --pikir Hinata-- dengan nada meremehkannya, tapi kali ini pria itu bergerak mendekat pada Hinata dan berusaha menyibak rambut lurus indigonya bermaksud benar-benar ingin melihat telinga Hinata. Karena kesal dengan tingkah Sasuke, Hinata menghempaskan tangan Sasuke yang berusaha menyibak rambutnya tapi kini justru tangan Hinatalah yang tertangkap oleh tangan kuat Sasuke sehingga dengan reflek Hinata mengalihkan pandangannya menatap kearah wajah dengan hidung sempurna itu.
Terdengar suara kekehan kecil dari Sasuke. "Apa wajahku semenakutkan itu sehingga kau menatapku seperti itu?" Merasa mendengar pertanyaan bodoh lagi Hinata dengan segera membalikan wajahnya untuk kembali menatap jendela mobil, tapi sayang pergerakannya selalu kalah cepat dengan pria arogan itu. Dan kini dagunya sukses ditahan oleh jari-jari Sasuke agar wajah Hinata dapat terus menatapnya.
Dengan tanpa mengeluarkan suara apapun Hinata hanya dapat mengerutkan keningnya pertanda murka pada pria ini. Dan itu justru menimbulkan suatu kesenangan bagi Sasuke yang bisa mempermainkan emosi Hinata. "Apa kau ingin aku cium saat ini juga di belakang supirku?" Ucap Sasuke serius dengan nada setengah bercanda untuk menakuti gadis ini. Hinata yang mendengar pertanyaan frontal Sasuke hanya dapat membuka sedikit mulutnya tidak percaya dan melirik takut-takut kearah depan karena malu jika sampai sang supir mendengarnya, hingga akhirnya batas kesabaran Hinata sudah habis.
"Berhentilah bermain-main dan katakan kenapa kau ingin membawaku pergi?" Ucap Hinata dengan perlahan dan penuh penekanan.
Sang pria yang ditanya dengan nada mengancam seperti itu hanya mengangkat alisnya kemudian ia melepas tautannya pada dagu Hinata. Sasuke kemudian menyamankan duduknya kembali kearah depan dan melipat kakinya, bagi Hinata mungkin ini adalah tingkah aneh tapi sikap seperti ini biasa Sasuke lakukan jika pria itu harus berpikir karena sejujurnya pria itu tidak memiliki alasan yang kuat untuk membawa gadisi ini pergi secara paksa selain memang karena melihat kondisi Hinata yang akan terkena hujan, dan mungkin perasaan posesifnya itu tiba-tiba muncul karena melihat pria lain yang juga bertingkah ingin melindungi gadis ini.
Hinata hanya dapat menarik nafas dalam-dalam meredakan perasaan yang ingin meledak-ledak memarahi pria ini, hingga akhirnya dengan tiba-tiba Sasuke mengambil satu tangan Hinata dan mengamatinya dengan serius. Pria itu menyimpan tangan Hinata ditengah-tengah kedua tangannya dan menggesek-gesekan tangan itu seolah memberikannya kehangatan dan Hinata hanya dapat terdiam sambil menatap bingung tingkah Sasuke.
"Ehem… yah harus kukatakan aku turut berduka cita atas kematian ibumu. Meskipun keluargamu begitu, dia tetap adalah ibumu." Jeda sesaat sebelum Sasuke melanjutkan.
"Ahh ya, dan kau itu kedinginan, jadi hentikanlah sikap dinginmu itu. Dan apakah kau benar-benar gadis bodoh, kenapa kau tidak mencari tempat berteduh saat tahu hujan akan turun? Apa kau ingin menggoda pria dengan baju basahmu?"
"Bisakah kau berhenti berbicara sinis padaku?" Sahut Hinata dengan nada pelan beserta lirikan kesalnya. Dan kini pria itu justru mengambil satu tangannya lagi untuk ia hangatkan, dan hati kecil Hinata mengakui jika ini adalah gerakan yang membuatnya nyaman.
"Kau memiliki tangan yang kecil." Komentar Sasuke dengan tiba-tiba dan melakukan gerakan seolah membandingkan dengan tangannya, dan Hinata diam-diam sedikit mengangkat senyumnya melihat tingkah Sasuke.
"Tentu saja kau itu pria, jangan membandingkan dengan tanganku." Hinata bergerak untuk menarik tangannya dari sentuhan Sasuke, namun pria itu tidak membiarkan tangan Hinata menjauh darinya dan Sasuke tiba-tiba kembali berbicara.
"Dan juga halus." Hinata seketika merona mendengar pengakuan itu dari Sasuke.
"Kau terlihat seperti gadis manja. Apa kau tidak pernah mengurus rumah dan memasak?" Dan pertanyaan itu sukses membuat raut wajahnya cemberut kembali.
"Tentu saja aku pernah, bahkan aku melakukan semua kebutuhanku sendirian. Dan tentu saja aku bisa memasak Tuan Uchiha." Jawab Hinata sebal. Namun jawaban itu justru memunculkan senyum kecil di wajah Sasuke.
"Baiklah, karena saat ini aku lapar, maka kau harus memasak untukku sebagai pertanggung jawaban atas ucapanmu."
"Apa? Aku tidak mau." Jawab Hinata cepat.
"Oh kurasa kau tidak bisa menolak Nona Hyuga, sekarang aku menculikmu dan kau tidak bisa keluar dari mobil ini." Ujar Sasuke senang. Dengan raut wajah kesal Hinata dengan cepat menarik tangannya dari genggaman Sasuke lalu dia majukan tubuhnya dengan berpegangan pada punggung kursi depan untuk berbicara pada supir Sasuke.
"Tuan kumohon, tolong hentikan mobil ini dan buku pintunya untukku. Aku harus pergi ke suatu tempat, kumohon aku tahu kau memiliki hati yang baik." Iba Hinata dengan nada yang terdengar begitu manis di telinga Sasuke, dan pria itu hanya bisa terkekeh melihat tingkah Hinata, sementara sang supir hanya bisa menatap ragu-ragu pada wajah Hinata.
Dengan masih memegang punggung kursi depan, kepala Hinata langsung menengok ke belakang dengan cepat dan kembali menatap sinis pada wajah Sasuke. "Apa yang kau tertawakan? Aku benar-benar harus pergi ke suatu tempat, ada hal lebih penting yang harus aku urus dibandingkan perut laparmu dan semua permainan konyolmu ini."
Kedua tangan Sasuke langsung menarik pinggang Hinata agar gadis itu kembali duduk disisinya, dan dengan cepat satu tangannya merangkul pundak Hinata agar gadis itu tidak bisa pergi lagi kemana-mana. "Aku menertawakan tingkah konyolmu, Tuan Ebisu adalah pegawaiku dan dia tidak akan menuruti perintah selain dariku. Jadi sebaiknya kau diam seperti ini karena aku sedang tidak bermain-main—" sedikit jeda sebelum Sasuke melanjutkan ucapannya dan kini ia berbicara sambil menghirup aroma dari rambut Hinata. "kecuali jika kau ingin bermain denganku untuk berbagi kehangatan, dengan senang hati aku akan melakukannya untukmu."
"Dasar pria mesum." Sahut Hinata dengan mencoba melepas rangkulan tangan Sasuke namun tidak bisa.
"Aku berubah mesum jika didekatmu, jadi berhati-hatilah denganku." Hinata hanya bisa melipat kedua tangannya dan kembali menatap kearah jendela mendengar perkataan menggoda Sasuke. Dia tidak habis pikir pada pria ini, apakah pria itu tidak tahu dia masih sedih setelah menguburkan ibunya, dan pria ini begitu saja datang mengganggu ketenangan hidupnya. Hinata pun masih merasa bersalah pada Gaara karena meninggalkan pria itu begitu saja, padahal selama ini pria itu sudah begitu baik membantunya.
Hinata mulai mengeluarkan suaranya kembali saat ia memperhatikan mobil ini telah memasuki kawasan perumahan elit, dan sekarang dirinya mulai was-was. "Sebenarnya kau membawaku kemana?" Tanya Hinata sambi menatap Sasuke curiga.
"Ke rumahku." Jawab Sasuke tenang dengan posisi bersandarnya dan masih merangkul Hinata. Dengan mulut yang sedikit terbuka Hinata menatap Sasuke tidak percaya, tidak mungkinkan pria itu akan membawanya ke rumah keluarga Uchiha. Jika disana ada orang tua atau keluarganya, Hinata bisa sekarat karena para Uchiha pasti akan mati-matian menghina dia atas kasus ayahnya.
Mobil Porsche Panamera itu akhirnya berbelok memasuki sebuah gerbang putih tinggi yang telah dibuka oleh penjaga rumah. Setelah mobil berhenti, sang supir terlebih dahulu membukakan pintu untuk Hinata dan Sasuke keluar sendiri.
Setelah mobil hitam itu pergi, Hinata hanya dapat mengamati dalam diam halaman rumah Sasuke. Sepanjang jalan untuk mobil, di kanan dan kirinya terdapat taman luas dengan pemandangan yang begitu hijau dan menyejukan mata, lalu perhatian Hinata alihkan pada sebuah rumah mewah dengan gaya elegan dan minimalis yang didominasi oleh warna putih dan kaca-kaca tinggi menjulang memperlihatkan isi rumah tersebut. Ini tidak seperti mansion Uchiha yang Hinata tahu, dan Hinata pikir pria bujangan seperti Sasuke akan lebih suka untuk tinggal di sebuah apartemen atau penthouse di pusat kota Tokyo.
"Ayo masuklah." Ajak Sasuke, dan itu berhasil menghentikan Hinata dari kegiatan mengaguminya. Dengan ragu Hinata menatap ke arah Sasuke. "Apa keluargamu tinggal disini?" Tanya Hinata pelan.
"Tidak, ini rumahku bukan rumah keluarga Uchiha." Sasuke akhirnya berjalan terlebih dahulu untuk membukakan pintu rumahnya. Hinata sebenarnya tidak tenang memasuki rumah ini, karena ini sama saja seperti masuk kedalam perangkap musuh, tapi melihat gerbang yang sudah tertutup akan kecil kemungkinan Hinata bisa kabur dari sini. Dengan perlahan kakinya melangkah kedalam rumah berlantai marmer putih gading itu, dan sekali lagi matanya harus terpana melihat dekorasi rumah yang begitu menawan, semuanya terlihat mewah namun sederhana. Dan di tengah ruang tamu itu terdapat satu set sofa putih yang terlihat begitu lembut, karpet beludru, perapian, dan beberapa nakas antik.
Hinata segera melepas mantel pemberian Gaara dan menggantungnya di dekat pintu masuk, lalu segera mengikuti Sasuke ke sisi lain ruangan. Hinata memperhatikan Sasuke yang telah melepas jas dan mantel hitamnya lalu pria itu menggulung lengan kemejanya hingga kesikut, dia mempersilahkan Hinata untuk duduk di salah satu kursi bar dapur dan Sasuke menyerahkan teh untuk Hinata.
"Minumlah, kurasa kau masih kedinginan."
Dengan ragu Hinata menerimanya. "Terima kasih." Jawab Hinata pelan sambil terus memperhatikan Sasuke.
"Apa?" Tanya Sasuke aneh.
Dengan mengedikan bahu Hinata menjawab. "Tidak, hanya saja. Aku tidak bisa mengerti jalan pikiranmu. Kau terus membuatku bertanya-tanya." Mendengar pernyataan Hinata, Sasuke merunduk untuk memajukan badannya dan bertumpu dengan kedua sikut pada meja dihadapan Hinata.
"Lalu apa itu pertanyaanmu?" Tanya Sasuke pelan dan menatap tepat kearah netra Hinata. Ditatap sedekat ini lagi membuat Hinata canggung dan mengalihkannya dengan memegang cangkir teh panas dengan kedua tangannya lalu merunduk.
"Entahlah," bisik Hinata. "Kau selalu membuatku bertanya, apa yang kau rencanakan untukku. Karena disaat yang sama kau bisa menjadi pria yang begitu kejam tapi kau juga terus memberikan perhatian untukku, lalu aku mulai berpikir jika aku menganggap semua ini tulus akankah aku siap jika kau hanya ingin mempermainkan aku." Hinata mulai mengangkat pandangannya dan menatap Sasuke dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Tangan Sasuke meyingkirkan cangkir dari genggaman Hinata dan ia ganti dengan genggaman hangat tangannya. "Kau hanya perlu percaya bahwa aku menginginkanmu." Bisik Sasuke dengan tatapan yang semakin intens.
"Menginginkan tubuhku?"
"Sebuah tubuh dengan jiwa Hinata Hyuga di dalamnya." Dan lagi perkataan Sasuke berhasil membuat Hinata merasakan debaran jantung yang berpacu menyesakkan dada. Tapi apakah Hinata tahu bahwa Sasuke juga merasakan jantungnya terpompa dengan kecepatan yang begitu menggila, entah perasaan apa yang Sasuke rasakan karena dia sebelumnya tidak pernah mengejar wanita seperti ini. Jika pun ada yang cukup sulit Sasuke dapatkan, dipertemuan ketiga pasti gadis itu sudah menyerahkan dirinya pada Sasuke. Namun gadis ini berbeda, dia rapuh sekaligus kuat secara bersamaan dan mata Sasuke tidak pernah bosan menatap pada wajah meneduhkan dan cantik alami yang seolah selalu bisa menarik atensi semua orang.
"Lalu bisakah kau berhenti membenci keluargaku jika kau menginginkan aku?" Ucap Hinata perlahan dengan membalas tatapan Sasuke sama dalamnya.
"Itu hal yang berbeda, setiap orang harus mendapat balasan atas perbuatannya. Tapi satu hal yang harus kau percaya, aku tidak akan membuatmu terluka." Jawab Sasuke pasti.
"Tapi semua ini membuatku terluka, aku ingin menghentikannya dan memulai hidupku dengan tenang."
"Maka berdirilah disampingku, dan kau akan lihat apa yang ingin aku lakukan untukmu." Kini suara Sasuke terdengar lebih pelan namun dengan tatapan yang dengan sepenuh hati.
Dengan perlahan Hinata melepaskan genggaman Sasuke dan menyudahi aksi tatap menatap itu. Kemudian dia turun dari kursi bar dan memutari meja untuk melihat kondisi dapur Sasuke. Tubuh Sasuke berbalik lalu tetap bersandar pada meja bar sambil memperhatikan pergerakan Hinata.
"Baiklah, karena kau bilang tadi lapar. Kurasa aku bisa memasakan sesuatu untukmu, bolehkah aku membuka lemari es mu?" Dengan anggukan pelan Sasuke menjawab. Hinata membuka lemari es dua pintu itu dan mulai memperhatikan bahan makanan dalam lemari es Sasuke yang tidak terlalu banyak, tapi ini masih lumayan untuk seorang pria sepertinya.
"Emm… kau punya kaldu, tofu, dan bayam. Baiklah kurasa aku bisa membuat sup miso." Dengan cekatan Hinata mengambil berbagai bahan makanan dan mulai menyalakan kompor gas. Lalu mulai memotong-motong kecil tofu, bayam, dan bumbu-bumbu untuk menumis tofu.
"Kau membutuhkan bantuan?" Tanya Sasuke mendekati Hinata yang kini sedang mengaduk kaldu.
"Emm, tidak. Ini makanan yang cukup mudah dibuat. Dan aku tidak ingin kau kenapa-kenapa, karena aku tidak mau dituntut telah membahayakan nyawan seorang Uchiha Sasuke hanya karena memasak." Ejek Hinata dengan nada canda.
"Apa kau baru saja menyindirku?" Sahut Sasuke.
"Oh maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu Tuan Uchiha, aku hanya mengungkapkan kekhawatiranku." Ucap Hinata dengan masih sibuk mengaduk kaldu.
"Benarkah kau mengkhawatirkanku? Bukankah itu bagus untukmu, jika kau bisa dengan mudah membahayakanku." Kini Sasuke berkata tepat dibelakang tubuh Hinata, meskipun badan mereka tidak beresentuhan.
"Tentu saja aku mengkhawatirkanmu, aku tidak pernah berfikir untuk—" Ucapan cepat Hinata segera terhenti, saat dia menyadari apa arti ucapannya. Hinata menggigit bibirnya sendiri untuk merutuki kebodohannya, karena secara tidak langsung dia sudah menyatakan bahwa ia peduli pada Sasuke. Dengan sedikit tersentak Hinata menahan suara terkejut yang keluar saat ia merasakan bahwa kini jemari Sasuke tengah menyisir rambutnya dan menyampirkan rambut panjang Hinata hanya pada pundak sebelah kirinya. Dengan perlahan jemari Sasuke mengusap kedua lengan atas Hinata, dan bibir pria itu mendekati telinga Hinata. Tubuh Hinata seketika meremang saat nafas Sasuke berhasil menggelitik tengkuk lehernya yang kini terekspose.
Dengan nada rendah Sasuke berkata. "Jika kau sadar, kau telah mengungkapkan isi hatimu untukku. Jadi sebaiknya biarkan aku untuk menuntunmu menjadi milikku." Dan setelahnya kecupan basah pada lehernya lah yang Hinata terima, Sasuke seolah memberikan stimulasi secara perlahan dengan memberi kecupan-kecupan kecil disepanjang garis leher Hinata sehingga Hinata merasa tidak bisa berrontak atas aksi yang Sasuke lakukan, tangan dan tubuhnya seolah lemas seketika dan Hinata tidak menyadari jika Sasuke telah mematikan kompor gas.
"Memilikimu disini, adalah hal yang selalu kubayangkan." Kini kedua tangan Sasuke telah mengajak tangan Hinata untuk bertautan sementara bibirnya terus menyusuri pundak, leher, pipi, dan kini dia dengan sengaja sedikit menggigit ujung telinga Hinata. Tanpa sadar Hinata terus mengeluarkan suara helaan napas yang terdengar seperti desahan bagi Sasuke.
"Kau boleh terus menolakku, tapi tubuhmu tidak bisa mengingkarinya." Kedua tangan Sasuke yang bertautan dengan tangan Hinata ia bawa kedepan untuk memeluk Hinata, tidak membiarkan gadis ini lari dari dalam pelukannya. Karena suasana yang Sasuke ciptakan tanpa sadar kepala Hinata telah bersandar pada pundak pria itu, dan kini wajah memerah mereka telah saling berhadap-hadapan dengan derus napas yang sama-sama tak beraturan. Dengan wajah memerah dan lemas Hinata terus menatap kedalam mata obisidian Sasuke tanpa berucap sepatah kata pun, sementara Sasuke dengan perhatian dan kilatan nafsu dimatanya terus memperhatikan wajah Hinata.
"Kau menginginkanku." Bisik Sasuke dengan tatapan intensnya dan mendekatkan kedua ujung hidung mancung mereka, dan Hinata kesulitan untuk tetap menjaga matanya tetap terbuka.
"A-aku ti-dak…" Jawab Hinata serak dengan susah payah, hingga akhirnya bibir Sasuke berhasil meraup seluruh bibir manis dan lembab itu kedalam mulutnya dan Hinata hanya bisa menutup matanya. Hinata tidak tahu apa yang saat ini terjadi dengan tubuhnya, tapi disaat situasi seperti ini mengontrol diri adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Dan Hinata semakin terlena akan aroma maskulin yang terus menyerang indra penciumannya karena aroma Sasuke begitu nikmat untuk dirasakan.
Ciuman Sasuke begitu pelan dan basah, dengan suara kecupan yang sesekali terdengar dari kedua bibir yang sedang beradu itu, kini lidahnya turut berpartisipasi mengajak Hinata merasakan nikmatnya bermain lidah bersamanya. Ciuman itu terus membuat mereka larut dengan pemikiran masing-masing, hingga tanpa mereka sadari intensitas peraduan mulut mereka menjadi semakin dalam, cepat, dan sedikit kasar. Sasuke mencium Hinata hingga membuat bibir gadis itu membengkak dan lebih memerah.
Hinata tidak sadar kenapa saat ini dia bisa sampai berbaring disofa putih empuk di ruang tengah Sasuke. Rambutnya terurai memenuhi sofa dengan Sasuke diatas tubuhnya dengan menggunakan lutut dan sikutnya agar tidak menekan Hinata. Ciuman mereka terus berlanjut bahkan kini semakin panas, Hinata mengeluarkan erangan nikmat tertahan saat lidah Sasuke benar-benar bermain dengan begitu lihainya. Hinata bahkan bisa merasakan jika saat ini bagian tubuh bawahnya mulai merasakan kelembaban, entahlah kegiatan ini seolah membuatnya tidak bisa berhenti. Meskipun dengan kesadaran yang tinggal sedikit Hinata menyadari jika ini adalah hal yang salah untuk ia lakukan bersama pria ini.
Sasuke merasakan seolah bibir Hinata adalah candu yang harus ia nikmati sepuasnya saat ini juga, seluruh tubuhnya seolah bergerak dan meneriakan betapa ia menggilai tubuh gadis ini. Saat dirasa Hinata sudah mulai kehabisan nafas, dengan segera ciumannya bergerak menuju leher Hinata dan tanpa sadar ia membuat tanda kemerahan dileher mulus nan wangi gadis Hyuga ini.
"Aaah…" Hinata sedikit melenguh saat dirasa ciuman Sasuke membuatnya sedikit sakit dan linu. Tapi kemudian pria itu mengobatinya dengan ciuman lembut yang begitu nyaman, dan terus terjadi beberapa kali seperti itu hingga Hinata rasakan tangan Sasuke bergerak kebelakang punggunya dan mulai menurunkan retseleting gaun hitam selututnya, dan Hinata juga menyadari bahwa kini gaun hitam itu telah benar-benar naik pada pinggangnya karena tangan Sasuke yang terus meraba-raba pahanya. Entah harus bersyukur atau tidak, Hinata mengenakan celana pendek untuk dalamannya.
Kini Sasuke berhasil meloloskan bagian atas gaun Hinata dari kedua tangan gadis itu, sehingga saat ini bentuk gaun itu menumpuk pada pinggang Hinata. Dalam hati Hinata mulai merasa takut dan ragu saat ciuman Sasuke turun dari lehernya dan menuju pangkal atas payudara Hinata yang menyembul dari balik cup bra berwarna hitam yang ia kenakan, karena--hell yah-- semua orang tahu betapa indah dan besarnya kedua payudara gadis Hyuga itu. Kini Hinata merasakan benar-benar tegelitik geli dan seperti ada ribuan kupu-kupu di atas perutnya saat ciuman Sasuke mencumbu dengan sedikit keras bagian atas payudaranya.
Tangan Sasuke mulai melancarkan aksinya dengan mencoba membuka pengait bra hitam Hinata, tapi menyadari itu Hinata merasa seolah belum siap jika bagian pribadinya ini ditatap oleh orang lain terutama pria, jadi tanpa sadar Hinata mencengkram pundak Sasuke sedikit keras. Itu membuat Sasuke mendongak menatap Hinata dari kegiatan menikmati payudara gadis ini, dan Hinata hanya bisa membalasnya dengan gelengan lemah. Tapi seakan tidak menghiraukan peringatan Hinata, Sasuke kembali melanjutkan aksi mencumbunya dan kembali berusaha membuka pengait bra itu. Hinata kali ini benar-benar merasa was-was dan tidak bisa menerima keputusan pria itu untuk membuka branya.
"Tidak, Sash… Sasuke. Hentikan." Dan Sasuke benar-benar sulit untuk Hinata alihkan perhatiannya, jadi dengan segala kekuatan yang masih ia miliki, Hinata mencoba mendorong Sasuke serta menggerak-gerakan kakinya.
"Sasuke, Hentikan!" Ucap Hinata keras dan kini berhasil membuat pria itu berhenti dan menatap kearah Hinata. Dengan segera Hinata mendorong tubuh Sasuke mundur meskipun hanya berhasil sedikit dan ia cepat-cepat bangkit lalu menjauh dari sofa. Dengan tangan gemetar ia mecoba membenarkan pakaiannya yang sudah tak beraturan secepat mungkin, dan kini ia hanya bisa terduduk di atas karpet beludru putih gading dengan nafas memburu dan menundukan kepalanya. Ia tidak habis pikir dengan dirinya sendiri hingga bisa terlena begitu saja oleh rayuan Sasuke yang selama ini selalu ia mati-matian sangkal. Hinata tahu jika tadi dia tidak bisa menahan dirinya, mungkin setelah ini pria itu akan dengan lebih parah menghina dirinya sebagai wanita murahan, dan pemikiran itu membuat hatinya sakit sekaligus mata yang tiba-tiba terasa tersengat. Ia lelah dan benci pada keadaan ini, kenapa begitu sulit untuk bisa menikmati kebersamaan dengan seorang pria. Hinata begitu takut jika pria itu hanya memanfaatkannya, apakah salah jika ia ingin merasakan kebahagian dari seorang pria. Tapi Sasuke tidak bisa berhenti menggodanya dan Hinata merasa lelah terus lari dari segala sikap yang sejujurnya hati kecil Hinata ingin ia terima.
"Hinata…" Ucap Sasuke pelan, dan inilah pertama kali pria itu memanggil nama kecilnya, ada perasaan hangat yang menjalar dalam hatinya tapi ia harus ingat sebenarnya siapa pria itu.
"Tidak, kumo Maaf atas semua ini, jadi kumohon berhentilah memperlakukanku seperti ini. Aku-- aku tidak akan sanggup jika semua ini hanya permainanmu, jadi carilah wanita lain untuk bersenang-senang, seharusnya aku tidak berada disini dan menikmati semua ini." Tanpa sadar air mata Hinata telah mengalir tanpa suara.
"Maaf." Dengan satu kata terakhir Hinata segera berdiri dan berlari keluar dari pintu rumah Sasuke tanpa sekali pun berbalik. Dengan sekuat tenaga ia berlari menuju gerbang ditengah hujan yang masih mengguyur bumi dengan sedikit deras, Hinata dengan baju dan rambut yang mulai dibasahi air hujan memohon dengan sangat pada penjaga rumah agar gerbang itu segera dibuka. Sang penjaga hanya menatap Hinata dengan bingung, namun akhirnya keiinginan Hinata dikabulkan. Dengan penuh syukur ia mengucapkan terima kasih pada sang penjaga dan segera berlari dari rumah Sasuke.
Melihat Hinata yang tiba-tiba berlari keluar dari rumahnya, membuat Sasuke benar-benar tertegun tak mengerti akan sikap gadis itu. Apa semua sikapnya benar-benar terlihat seperti sebuah acting? Dia tidak mengerti lagi bagaimana caranya agar gadis itu dapat percaya padanya. Sebenarnya hati Sasuke terenyuh mendengar kata maaf gadis itu, tapi apa yang ingin ia minta maaf, disini Sasuke yang salah. Sasuke tiba-tiba tersadar jika Hinata berlari disaat hujan masih cukup deras dan gadis itu bahkan tidak tahu ia berada dikawasan apa.
"Sial." Umpat Sasuke, lalu segera berdiri dan berlari keluar meyusul Hinata. Sasuke bisa lihat gadis itu sedang berbicara pada penjaga rumahnya dan dalam hati ia berharap penjaganya itu tidak membiarkan Hinata keluar dan Sasuke harus kembali mengutuk dalam hati saat dengan mudah gerbang itu terbuka. Tanpa memperdulikan apapun, Sasuke langsung berlari menuju gerbang dan membiarkan kemejanya ikut basah terkena hujan. Dengan kecepatan lari seorang pria, Sasuke berusaha mengejar Hinata, setelah keluar dari gerbang rumahnya dengan panik Sasuke menatap ke sekeliling mencari gadis bergaun hitam. Tapi nihil, tak ada seorang pun di depan gerbang rumahnya selain pemandangan dari gerbang-gerbang tinggi rumah lain dan taman. Di tengah guyuran hujan dengan frustasi Sasuke menjambak rambutnya dan meneriakan nama Hinata.
"Hinata….!" Teriak Sasuke seperti orang hilang akal. Saat ini ia tidak mempedulikan apapun, jika ada tetangganya yang mengira ia gila. Biarlah, mungkin ia memang sudah gila karena gadis itu.
Hinata bersembunyi dibalik tembok rumah besar diseberang sebelah kiri rumah Sasuke. Ia mencoba menyembunyikan dirinya disini, karena ia tahu jika ia berlari pasti Sasuke dapat mengejarnya, dengan mencoba menahan isakannya ia melihat Sasuke khawatir karena pria itu terus meneriak-neriakan namanya. Sebenarnya ada perasaan bersalah dalam hatinya meninggalkan pria itu seperti ini, tapi Hinata tidak ingin terus berada dalam kungkungan khayalan yang Sasuke ciptakan. Dengan menahan nafas ia semakin menyembunyikan dirinya saat Sasuke terlihat akan mengambil jalan kearah dirinya, namun kemudian ia bisa bernafas lega saat Sasuke berlari menuju arah sebaliknya dengan keadaan pakaian yang sudah sangat basah begitu pula dengan dirinya.
.
.
.
Hinata berlari-lari kecil di sepanjang koridor rumah sakit agar segera sampai di ruang inap ayahnya, tidak ia pedulikan tatapan orang-orang yang menatap dirinya aneh karena keadaan baju dan rambutnya yang basah. Setelah berhasil lolos dari pandangan Sasuke, Hinata tanpa pikir panjang terus berlari hingga keluar dari perumahan elit itu dan untunglah halte bus cukup dekat sehingga ia langsung mengunjungi rumah sakit karena khawatir sudah terlalu lama meninggalkan ayahnya sendirian. Biarkan urusan dengan pria itu ia selesaikan nanti, kini yang terpenting adalah ayahnya.
Hinata menatap kearah celah pada jendela biru laut ruang ICU ayahnya, saat ini dokter sedang melakukan pemeriksaan untuk ayahnya dan bahkan ia belum bertemu ayahnya sama sekali. Hinata terus menyatukan kedua tangannya sambil berdoa semoga dokter bisa memberikan kabar baik mengenai ayahnya.
Tak berapa lama kemudian, dokter pun keluar dengan didampingi dua orang suster. Sang dokter yang melewati Hinata segera Hinata tahan untuk menanyakan keadaan ayahnya.
"Dokter, permisi. Saya putri dari Hyuga Hiashi. Saya ingin menanyakan kondisi ayah saya?"
Sang dokter sekilas melihat catatan yang dibawakan oleh suster disampingnya sebelum menjawab Hinata, untuk sesaat pandangan terkejut dokter itu muncul melihat kondisi Hinata. "Sejauh ini ayah anda telah melakukan 3 kali operasi untuk membersihkan luka-lukanya agar mencegah infeksi luka dalam, namun karena ayah anda adalah pasien yang jatuh dari pesawat maka patah tulang yang dialaminya cukup parah. Tulang bahu kananya bergeser, tulang pinggang patah, dan ada sebagian kecil tulang penyambung kaki atas dan bawah yang hancur. Tapi untunglah tidak ada luka serius pada bagian kepala ayah anda, namun Ayah anda juga mengalami luka bakar yang cukup parah pada bagian kaki, jika luka itu tidak juga sembuh setelah diberi antibiotik maka kaki ayah anda harus diamputasi."
"Diamputasi?" Tanya Hinata pelan tidak percaya. "Tidak adakah cara lain dokter? Kumohon jika luka itu masih memiliki kesempatan untuk sembuh jangan biarkan itu terjadi." Ucap Hinata dengan pandangan memohon.
"Kami akan berusaha sebaik kami, karena antibiotik yang digunakan adalah cairan khusus, dan juga ayah anda perlu segera melakukan operasi kembali untuk memperbaiki struktur tulang-tulang yang bergeser." Jawab pria berusia 50 tahunan itu.
"Harus berapa kali lagi ayah saya operasi dokter?"
"Untuk luka separah ini, biasanya pasien harus melakukan 12-15 kali operasi agar tubuhnya dapat benar-benar pulih kembali. Jika Anda sudah mendatangi pegawai administrasi kami dan menyatakan siap untuk melaksanakan operasi, kami akan segera melakukannya."
Hinata menelan dengan susah payah setelah mendengar ayahnya harus dioperasi sebanyak itu, tapi itulah jalan keluarnya. Meskipun ia tidak tahu sama sekali bagaimana ia akan membayar biaya operasi itu, Hinata hanya dapat mengangguk yakin pada dokter dan mengucapkan terima kasih banyak, kemudian dokter itu pun pamit pergi. Saat ini kondisi ayahnya masih sangat rentan sehingga Hinata belum boleh memasuki ruang ICU, dengan pemikiran kalut Hinata mencoba mendudukan dirinya pada kursi pengunjung yang disediakan. Kedua tangannya saling mengelus demi sedikit menghilangkan hawa dingin yang kini mulai benar-benar dirasakannya. Saat ini Hinata harus bertanya pada petugas administrasi berapa seluruh biaya operasi yang harus ia tanggung, apapun—apapun akan ia lakukan agar ayahnya bisa pulih kembali.
Saat Hinata akan beranjak dari kursinya, dari arah depan datang seorang pria dengan rambut peraknya yang Hinata kenali sebagai pengacara ayahnya, Hatake Kakashi. Sehingga pria itu meminta untuk duduk kembali.
"Nona, anda baik-baik saja?" Tanya Kakashi memastikan keadaan Hinata yang basah kuyup.
"Ah iya, tadi saya tidak membawa payung ke sini." Ucap Hinata sekenanya.
"Maaf Nona Hyuga karena telat mendatangi anda dan ayah anda. Aku sudah diberi tahu mengenai kondisi ayah anda, syukurlah beliau masih bisa selamat. Aku juga turut berduka cita atas kematian ibu Anda." Ucap Kakashi memberikan senyum simpatinya.
"Tidak apa-apa. Terima kasih juga telah datang Tuan Hatake." Balas Hinata dengan mencoba tetap tersenyum manis meskipun pikirannya sedang resah.
"Aku hanya berharap ayah anda dapat pulih dengan segera sehingga kasus ini bisa terungkap dengan lebih jelas dan bisa saja ayah anda akan lolos dari tuntutan itu jika pengakuannya sesuai dengan fakta dilapangan. Aku memiliki bukti baru yang mungkin bisa meringankan ayah Anda, aku sudah menyelidiki keberadaan ayah anda pada tanggal 29 bulan lalu itu. Dan memang benar seperti apa yang anda katakan ayah anda hanya mendatangi kantor imigrasi hari itu untuk memperpanjang paspornya, jadi tidak mungkin jika Tuan Shii menyatakan bertemu ayah Anda pada hari itu. Estimasi kepergian ayah anda dari kantor imigrasi hingga pulang ke rumah anda seperti yang aku lihat pada cctv gerbang rumah anda sesuai waktu tempuh yang seharusnya, sehingga ayah anda tidak pergi mengunjungi tempat lain lagi."
"Iya memang hari itu ayah pulang tidak terlalu sore dan sikapnya pun seperti biasa, ayahku akan memakan kue yang biasa ibuku buat saat akhir pekan dan kami akan mengobrol di halaman belakang hingga senja."
"Tapi jika melihat kondisi ayah anda, aku akan mencoba meminta surat pernyataan dari dokter yang menyatakan bahwa keadaan ayah anda perlu penangan khusus dari dokter sehingga jaksa selaku penyidik bisa mempertimbangkan untuk menghentikan penyidikan. Aku akan meminta tenggat waktu, jika dalam waktu yang diajukan jaksa ayah anda belum sadar juga aku akan meminta surat permohonan penarikan penyelidikan. Dan kita tinggal mengurus ganti rugi kepada pihak Uchiha Enterprise."
"Syukurlah jika ayahku memang tidak perlu ditahan, tapi sebenarnya aku juga ingin tahu apakah benar ayahku melakukan kasus ini karena hingga hari ini aku sama sekali tidak mempercayainya. Dan aku ingin membuktikan pada semua orang jika pendapat mereka mengenai ayahku salah, dan pihak Uchiha Enterprise tidak pantas mengambil aset keluargaku."
"Jika seperti itu kita harus membiarkan hingga penyedik menemukan bukti yang kuat untuk melayangkan tuntutan atau bahkan mengungkap pihak lain yang terlibat. Itu semua tergantung Anda sebagai ahli waris, tapi jika memang nanti ayah anda terbukti bersalah anda juga akan mendapat gugatan secara perdata untuk membayar denda pada pengadilan dan pada Uchiha Enterprise. Jika sudah pada tahap itu maka aku hanya bisa sedikit membantu untuk bernegosiasi agar pihak Uchiha Enterprise meringankan tuntutan dendanya."
Mendengar penjelasan itu Hinata hanya terdiam, semua ini terasa serba salah. Pertama darimana ia mendapat semua uang itu untuk membayar operasi dan denda jika memang ayahnya terbukti bersalah, tapi jika kasus ini tidak diungkap maka seumur hidup dirinya dan ayahnya akan terus menerus dipandang sebelah mata jika memang bukan ayahnya yang melakukan kasus ini. Saat ini Hinata benar-benar ingin bertemu Gaara untuk mengetahui apakah bukti yang ada membuat ayahnya akan dituntut oleh pengadilan, tapi jika memang terbukti bersalah haruskah ia memohon pada Sasuke untuk mencabut tuntutannya karena kondisi ayahnya yang seperti ini?
TBC
Welcome back, sorry ya digantung cukup lama... But I'm in exam now. Hope this chap make you satisfied...
Ditunggu Voment kaliannnnn... *
By Chichiyulalice
